Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH PPDH ROTASI REPRODUKSI HEWAN

BESAR
CALF STILLBIRTH OLEH FAKTOR DISTOKIA MALPOSISI
FETUS

LING SANDRA ARYASTYANI HAJAR AL KAHFI


130130100111013

PROGRAM PENDIDIKAN DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2014

DAFTAR ISI
BAB 1. PENDAHULUAN .............................................................................
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ...........................................................................
1.3 Tujuan...............................................................................................
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA ....................................................................
2.1 Definisi.............................................................................................
2.2 Batasan eutokia dan distokia............................................................
2.3 Faktor faktor distokia ......................................................................
BAB 3. PEMBAHASAN ................................................................................
BAB 4. KESIMPULAN .................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................

3
3
3
4
5
5
7
8
9
15
16

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Proses reproduksi yang berjalan normal akan diikuti dengan
produksi ternak yang baik. Makin tinggi daya reproduksi makin tinggi
pula produktivitas ternak dan begitu pula sebaliknya daya reproduksi yang
rendah karena adanya kemajiran, gangguan pada organ genitalia maupun
gangguan pada proses kebuntingan akan menyebabkan menurunnya
produktivitas ternak. Efisiensi reproduksi yang baik didapatkan ketika
suatu ternak menghasilkan produktivitas yang optimal dan disertai dengan
pengelolaan ternak yang baik. Efisiensi reproduksi yang tinggi akan
mempercepat laju populasi ternak. Adanya gangguan reproduksi
menyebabkan rendahnya efisiensi reproduksi.
Stillbirth atau lahir mati didefinisikan sebagai pedet (calf) yang
mengalami kematian setelah proses partus berlangsung atau kematian
pedet yang terjadi kurang dari 48 jam setelah partus (calving) (Berry et al.,
2007; Bicalho et al., 2007; Gundelach et al., 2009). Dilaporkan angka
insidensi stillbirth mengalami peningkatan setiap tahunnya selama 20
tahun terakhir terjadi peningkatan dari 6% hingga 10,3% di United state
(Berglund et al., 2003). Tahun 1985 hingga tahun 1996 terjadi peningkatan
insidensi angka stillbirth dari 9.5% hingga mencapai 13.2% pada
primipara dan 5 hingga 6.6% pada multipara (Ghavi Hossein-Zadeh et al.,
2008). Distokia merupakan penyebab terjadinya stillbirth dan kematian
pedet paska partus. Oleh karena itu perlu mengetahui pertolonganpertolongan maupun penanggulangan yang dapat dilakukan pada pedet
yang mengalami distokia untuk menghindari terjadinya stillbirth.

1.2.

Rumusan Masalah
1.2.1 Penanganan apa yang diberikan pada induk sapi yang mengalami
distokia akibat malposisi fetus?
1.2.2 Penanggulangan apa yang dapat dilakukan pada fetus paska partus
untuk menghindari stillbirth ?

1.3.

Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui penanganan apa yang diberikan pada induk sapi
yang mengalami distokia akibat malposisi fetus?
3

1.3.2 Untuk mengetahui penanggulangan apa yang dapat dilakukan pada


fetus paska partus untuk menghindari stillbirth ?

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Definisi
Stillbirth atau stillborn didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana
pedet yang telah dilahirkan mengalami kematian pada 24 hingga 48 jam.
Faktor faktor yang meningkatkan angka kejadian stillbirth diantaranya
kondisi distokia, defisiensi trace mineral (hipokalsemia), dan faktor
manajemen.
Distokia merupakan faktor terbesar yang mempengaruhi angka
kejadian stillbirth. Distokia merupakan kondisi induk sapi yang mengalami
kesulitan mengeluarkan fetus saat proses partus (calving) berlangsung
(Toelihere, 2006). Kejadian distokia akan meningkatkan angka kejadian
stillbirth dan kematian pedet selama 30 hari paska partus (Mee, 2004).
Dilaporkan tingkat kejadian distokia meningkat berbanding lurus dengan
adanya assisted birth (kelahiran yang dibantu) dan kejadian distokia lebih
banyak dialami oleh induk primipara dibandingkan dengan induk multipara

Gambar 1. Derajat distribusi kejadian distokia pada induk primipara dan


multipara
2.2 Batasan- batasan kelahiran eutokia dan distokia
Kelahiran normal (eutokia) adalah kejadian kelahiran atau partus
dimana fetus telah cukup umur, keluar bersama bersama antara anak (fetus)

dan maternal (induk) dalam kisaran waktu yang normal pada fase 1 dan fase 2
kelahiran dan tanpa mendapat pertolongan manusia. Sedangkan distokia
adalah kesulitan kelahiran yang disebabkan oleh faktor anak (foetalis)
maupun faktor induk (distokia maternal). Pada hewan liar hampir 99% proses
eutokia berlangsung, tatapi pada hewan domestik presentase distokia
mengalami peningkatan dikarenakan domestikasi. Pada sapi Friesian Holstein
angka distokia mencapai 10 hingga 20%.
Tabel 1. Kisaran waktu fase I, II, dan III kelahiran pada ternak
Waktu
Kisaran
Sapi
Rataan
Kesukaran bila >
Kisaran
Domba
Rataan
Kesukaran bila >
Kisaran
Babi
Rataan
Kesukaran bila >
Kisaran
Kuda
Rataan
Kesukaran bila >
Keterangan :
Fase I
Fase II
Fase III

Fase I
(jam)
0,5-24
2-6
6-12
0,5-24
2-6
6-12
2-12
6
6-12
1-4
6-12

Fase II (jam)

Fase III (jam)

0,5-4
0,5-1
Pada pluriparus 2-3
0,5-2
1
2-3
1-4
0,5-1
6-12
10-30 menit
2-3

0,5-8
4-5
12
0,5-8
12
0,5-12
0,5-3
12

:onset kontraksi regular myometrium, pembukaan dinding


serviks
: pengeluaran fetus
: pengeluaran plasenta (foetal membrane)

Proses kelahiran
Fetus yang telah lama dalam uterus akan mengalami stress akibat desakan
keterbatas ruang dalam uterus yang memiliki kapasitas terbatas. Stress ini
akan memicu fetus melepaskan adrenochorticothropic hormone (ACTH)
dimana pelepasan hormone ini akan memicu pelepasan mineralocorticoid dan
glukokortikoid. Keduanya akan menginduksi kontraksi myometrium dan
meningkatkan kepekaan reseptor hormone oksitoksinyang telah ada dalam
aktin myosin otot uterus. Kontraksi uterus semakin kuat akibat keluarnya
PGF2 dari plasenta maternal. Akibat dipermudah oleh adanya hormone
6

relaksin yang dikeluarkan oleh ovarium sejak umur kebuntingan 7 bulan


makan otot dan ligament sekitar pelvic akan menjadi kendor. Efek kerja
sejumlah hormone diatas akan mengakibatkan efek kontraksi uterus.
Stadium stadium kelahiran
Fase I kelahiran terjadi kontraksi pembukaan dinding serviks , stadium
ini terdapat adanya kontraksi perut, dan Rahim yang mula-mula lemah dan
akan mengalami peningkatan dengan frekuensi dan amplitude yang jarang
tetapi akan mengalami peningkatan secara berkesinambungan. Dengan
permulaan frekuensi setiap 15 menit. pada sapi 1 hingga 2 jam sebelum
proses kelahiran kontraksi berlangsung setiap 2,5 menit. akibat kontraksi
peristaltic ini akan memicu pelembekan dan pembukaan dinding serviks atau
dilatasi yang dipicu oleh hormone relaksin (dimana hormone ini dikeluarkan
oleh ovarium semenjak umur kebuntingan 7 bulan). Selain itu pembukaan
dinding serviks uteri dipengaruhi oleh kontraksi dan tekanan dari dinding
myometrium.
Pada fase ini terjadi kolik ringan pada maternal (induk) yang ditandai
dengan peningkatan rasa gelisah, peningkatan nafas dan denyut nadi, dan
penurunan suhu tubuh hingga 1 derajat. Kondisi dilatasi serviks akan memicu
peregangan antara palsenta maternal dan plasenta foetalis. Pada kondisi akan
menginduksi perubahan posisi anak baik pada sapi, kuda dan anjing dimana
anak akan mengalami posture (pembengkokan). Selain dipicu oleh pengaruh
hormonal perubahan posisi anak akan menekan dinding endometrium
selanjutnya jika regangan fetus berjalan baik makan selama 30 menit akan
tampak phalanx dan kuku fetus pada serviks uteri.
Fase II kelahiran terjadi pengeluaran fetus, kondisi akhir fase I akan
memicu straining (mengejan) pada induk kondisi ini ditandai dengan reflek
kontraksi bersama antara otot pada abdominal. Daya rejan ini bersamaan
dengan kontraksi dalam uterus akan berlangsung 4 hingga 8 kali dalam 10
menit. kantong amnion akan pecah akibat daya regangan fetus bersama
dengan adanya pengeluaran oksitoksin sehingga kontraksi akan terus
mengalami peningkatan dan dorongan ke belakan akan semakin kuat dibantu
oleh otot perut makan akan tampak keluar cairan dari vulva (water bag/
7

ketuban) sehingga dengan peningkatan kontraksi maka kaki dari fetus akan
keluar tetapi masih dalam keadaan terbungkus oleh selaput amnion. Selaput
ini akan sobek seiring dengan keluarnya fetus melalui pelvic inlet.
Fase

III

kelahiran

terjadi

pengeluaran

membrane

fetus

(plasenta).tahapan selanjutnya adalah posisi squatting atau menjongkok dari


maternal untuk mengeluarkan selamput membrane fetus. Gelombang
peristaltic akan didapatkan dari ujung kornua uteri, menuju ke aboral dan
akan memicu kripta endometrium untuk membuka, ketika kripta membuka
akan memicu pelepasan vili korion. Pada kondisi selaput membrane
allantochorion akan tergulung terbalik dari apeks sehingga villi korion akan
tertarik dan lepas dari kripta endometrium. Selain itu kontraksi tetap berlanjut
hingga selaput fetus keluar dari pelvic inlet.
2.3 Faktor- faktor distokia

Gambar 2. Skema klasifikasi dan faktor penyebab terjadinya distokia (dalam


kotak merah) faktor malmalposisi karena kesalahan posisi fetal.

BAB 3. PEMBAHASAN
Proses kelahiran memiliki peran utama untuk menentukan fetus dapat
dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati atau dapat dikeluarkan lalu mengalami
kematian (stillbirth/ stillborn). Pada proses kelahiran distokia akan memiliki
resiko kematian fetus yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelahiran eutokia.
Dilaporkan oleh MCDS (2012) kelahiran distokia dapat menyebabkan fetus lahir
mati (stillbirth) sebanyak 8,4 %. Dimana hal ini dipicu oleh abnormalitas yang
terdapat pada fetal maupun induk (maternal) salah satunya adalah malposisi fetal
(kesalahan posisi fetal terhadap induk) hingga menyebabkan kesulitan fetal keluar
dari pelvis inlet keadaani ini akan memicu beberapa kondisi yang menyebabkan
fetus mengalami kematian setelah dikeluarkan (stillbirth) yaitu kondisi hypoxia
fetalis saat distokia (terjadinya umbilical cord torsion maupun fetus terlalu lama
dalam saluran reproduksi induk), dan trauma saat reposisi fetus saat terjadinya
distokia.

DD

Gambar 3. Beberapa malposisi fetus yang menyebabkan dystocia fetalis dan


hipoksia fetus

A. Situs : longitudinal anterior


Posisi : dorso sacral
Habitus : kaki belakang mengalami penekukan ke dexter
Habitus kaki belakang mengalami penekukan kea rah dexter, pertolongan
pada habitus ini adalah dengan melakukan reposisi dengan traksi bagian
kaki (persendian karpal) yang telah melewati pelvis inlet dengan tali nilon
maupun rantai. Dengan menggunakan Kuhn crutch (tongkat ketiak)
lakukan retropulsi bagian kaki yang mengalami penekukan sehingga ada
gerakan ekstensi. hal ini akan memberikan ruang pada pelvis inlet dan
memungkinkan asisten dapat melakukan traksi pada bagian anterior fetus.
B. Situs : Longitudinal anterior
Posisi : dorso sacral
Habitus : kepala menengadah (upward)
Habitus kepala leher menunduk yang berada diantara kedua kaki depan
dengan fleksi leher yang lebihdalam (fleksi cervico thorax) lebih sering
terjadi pada kuda dibandingkan sapi. Kondisi ini memungkinkan fetus
mengalami stillbirth dikarenakan fetus lebih berpotensi mengalami
hipoksia pada keadaan ini. Pertolongan dapat dilakukan dengan
memfiksasi bagian kaki depan yang keluar dari pelvis inlet menggunakan
tali yang disimpul. selanjtnya, lakukan reposisi bagian kepala dengan
melakukan traksi bagian leher yang menengadah kearah pelvis. Pada titik
terdekat kapala akan berhadapan dengan pelvis, tali sudah bisa digeser
kearah cranial fetus dengan bantuan tangan memegang mandibular lalu
diangkat kearah dorsokaudaldan dengan dorongan tangan pada tubuh fetus
ke cranial induk maka kepala akan mudah dapat dilakukan reposisi. Jika
fetus telah mengalami kematian maka dapat dilakukan fetotomi didaerah
yang mengalami pembengkokan.
C. Situs : longitudinal posterior
Posisi : dorso sacral
Habitus : tidak ada
Keadaan ini menimbulkan hipoksia pada fetus, dikarenakan plasenta
terjepit pada pelvis maternal (induk) atau disebut sebagai umbilical cord
10

torsion,

sehingga fetus tidak mendapatkan suplai oksigen dan darah.

Kondisi ini menyebabkan kematian fetus sebelum proses pertus


berlangsung ataupun terjadi kematian fetus setelah proses partus
berlangsung (stillbirth). Pertolongan pada kondisi ini adalah mengeluarkan
fetus sesegera mungkin untuk memungkinkan fetus dapat mendapatkan
oksigen diluar tubuh induk.
D. Situs : longitudinal anterior
Posisi : dorsosakral
Habitus : penekukan kepala kearah ilial dexter
Kondisi ini akan mengakibatkan kematian fetus jika tidak segera
dilakukan pertolongan kelahiran. Pertolongan dimulai dengan melakukan
fiksasi bagian sendi karpal yang keluar di pelvis outlet, kemudian
dilakukan reposisi dengan fiksasi bagian mandibular yang mengalami
penekukan, dilanjutkan dengan melakukan retropulsi menggunakan Kuhn
crutch dipasangkan pada kaki depan hingga membuat ruang untuk
melakukan ekstensi dan kemudian dilakukan traksi.
E. Situs : longitudinal posterior
Posisi : dorso sacral
Habitus : breech (pembengkokan pada kedua sendi pinggul)
Gejala klinis tampak pada kuda atau sapi akan tetapi berada pada fase I
kelahiran tanpa ada kemajuan ke fase berikutnya. Fase ke II kelahiran pada
habitus ini tidak akan terjadi karena penekukan pada kedua sendi pinggul
fetus akan mengakibatkan penampang pelvis luar fetus menjadi membesar.
Pertolongan

pertama

adalah

melakukan

reposisi

habitus

dengan

memfiksasi bagian ekor dengan tali, setelah itu diadakan retropulsi


menggunakan Kuhn crutch sebelum dilakukan retropulsi disarankan
menggunakan anastesi epidural terlebih dahulu ke tubuh induk. Bersamaan
dengan retropulsi tadi tangan atau tali yang dipegang atau dijeratkan pada
persendian tibio-metatarsal ditarik kearah caudo-dorsal.keadaan ini akan
mengakibatkan bagian persendian ventral mengalami penekukan yaitu
bagian tibio-metatarsal. Pertolongan berikutnya dengan memegang
metatarsal pertengahan sampai distal dan Kuhn crutchdipasang di distal
11

tibiafibula. Akan terjadi kekuatan yang berlawanan yaitu mendorong


dengan Kuhn crutch dan mentraksi metatarsal akan membuat kaki
belakang dapat diekstensi. Untuk mendiagnosa kehidupan fetus dapat
dilakukan pemeriksaan jari pada spinchter ani. Jika pertolongan traksi
tidak dapat dilakukan maka dapat dilakukan seksio caesaria.
F. Situs : Vertico oblique
Posisi : ventral dan cephalosacral
Habitus : penekukan kedua persendian pinggul
Kasus ini disebut sebagai Dog sitting position atau oblique verticoventral
sering terjadi pada kuda dikarenakan kaki pada kuda lebih panjang.
Kondisi yang menghambat keluarnya fetus dari pelvis induk adalah kedua
kaki belakang yang masuk ke rongga pelvis. Pertolongan dimana hampir
2/3 kaki depan sudah melewati rongga pelvis dengan 1/3 kaki juga berada
pada cavum pelvis biasanya cairan amnion sudah habis, sehingga perlu
ditambahkan vaselin untuk mempermudah tubuh fetus saat direposisi.
Pertolongan diawali dengan menepatkan Kuhn crutch pada abdominal
ventral menyangga bagian femur untuk dilakukan retropulsi dan dilakukan
traksi pada kedua kaki depan distal metacarpal fetus yang telah mencapai
cavum pelvis.
Terjadi perubahan fisiologis fetus sangat drastis saat proses partus
berlangsung. Hal ini berdampak negatif pada konsentrasi oksigen fetus.
Dimana saat partus berlangsung kontraksi abdominal dan serviks dapat
menghambat suplai aliran darah melalui plasenta, hal ini menunjukkan
bahwa selama proses partus saturasi oksigen pada fetus mengalami
penurunan dari sekitar 20% menjadi 5 %. Selama proses kelahiran fetus
akan mengalami asfiksia neonatal, yaitu kadar oksigen yang rendah,
penurunan suplai darah atau iskemia. Hipoksia dapat berkembang menjadi
anoksia jika terjadi gangguan pada saat proses kelahiran. Anoksia
berkepanjangan seperti saat terjadi kontraksi terus menerus saat distokia
dan hal ini akan menyebabkan kematian fetus
Distokia pada pedet (fetus) akan menimbulkan efek asidosis berat,
dan meningkatkan resiko anoksia dan hipoksia pada fetus. Semakin lama
12

fetus berada dizona transisi dilingkungan uterine dan ekstrauterine,


semakin tinggi kemungkinan terjadinya anoksia, dan hal ini berdampak
terhadap resiko terjadinya asidosis. CNS (Central nervous system) pada
fetus yang mengalami distokia akan memiliki resiko mengalami trauma
sehingga

mengurangi

rangsangan

respirasi.

Trauma

ini

juga

memungkinkan pedet akan mengalami penurunan aktivitas fisik, kesulitan


berdiri atau memiliki kemampuan berdiri yang lambat dibandingkan
dengan pedet yang lahir secara eutokia. Penurunan aktivitas fisik pada
pedet baru lahir akan mengakibatkan penurunan suhu tubuh (hipotermia) .
dalam kondisi ini asupan kolostrum dari induk mungkin tidak terjadi dan
kondisi ini memicu terjadinya lahir mati (stillbirth), atau jika kondisi ini
memungkinkan

pedet

hidup

maka

pedet

tidak

mendapatkan

immunoglobulin yang mencukupi dari induk sehingga pedet yang


dilahirkan distokia akan lebih mudah terinfeksi agen pathogen (Kasari,
1994).
Penanggulangan stillbirth akibat distokia pada pedet yang baru
dilahirkan diantaranya sebagai berikut (Lombard and Garry, 2013).
1. Calving

assistance

(asisten

kelahiran

harus

terlatih,

memiliki

kompetensi untuk menangani distokia, diagnose, dan melakukan


tindakan pertolongan saat distokia berlangsung). Selain mengetahui
teknik pertolongan yang baik saat distokia berlangsung, penting untuk
menerapkan penggunaan prosedur higienis saat melakukan pertolongan,
dan mampu menggunakan peralatan pertolongan kelahiran.
2. Bantuan stimulasi respirasi
Seperti disebutkan sebelumnya, pedet lahir dengan peningkatan kadar
karbon dioksida dalam darah mereka, yang akan memicu kondisi
fisiologis untuk melakukan respirasi; untuk membantu pedet bernafas
setelah keluar dari pelvis induk dapat dilakukan dengan menempatkan
pedet

dengan

posisi

sternal

recumbency.

Posisi

ini

mampu

mengeluarkan cairan amnion yang berada dalam abomasum pedet


sehingga akan memudahkan pedet untuk melakukan respirasi (Lombard
and Garry, 2013).
13

3. Thermoregulasi
Pedet yang baru dilahirkan meregulasi temperature tubuh dengan
katabolisme dari lemak coklat dan juga aktivitas fisik. Hipotermia atau
temperature tubuh dibawah 37 celcius terjadi pada 25 % pedet yang
baru dilahirkan (Mee, 2008). Kehilangan panas tubuh pada pedet yang
baru lahir terjadi oleh beberapa kemungkinan diantaranya adalah ketika
temperature ambient kurang dari temperature tubuh pedet, dan juga
dikarenakan oleh terjadinya evaporasi pada tubuh pedet yang basah dan
juga faktor traumatic saat pertolongan kelahiran berlangsung.
Pertolongan yang dapat dilakukan saat pedet mengalami kehilangan
panas tubuh yaitu dengan menyediakan alas (bedding), maupun dengan
meningkatkan temperature ambient menggunakan heater. Pedet
membutuhkan sumber panas yang normal hingga 24 jam paska partus.
4. Administrasi kolostrum
Administrasi kolostrum pada pedet yang baru dilahirkan akan
mengurangi resiko kematian pedet. Kolostrum akan meningkatkan
sistem immunitas, meningkatkan sirkulasi darah dan energi.

14

BAB 4. KESIMPULAN
Distokia merupakan faktor terbesar terjadinya kondisi stillbirth pada pedet
baru lahir. Terdapat 3 faktor penyebab distokia diantaranya kekurangan asisten
saat pertolongan kelahiran, saluran kealihran induk dan abnormalitas pada fetus.
Faktor fetus merupakan penyebab terbanyak. Pertolongan yang dapat dilakukan
untuk menyelamatkan fetus pada hewan yang mengalami distokia karena
malposisi fetus adalah melakukan reposisi tubuh fetus dengan beberapa tindakan
diantaranya traksi, ekstensi, retropulsi, rotasi dan tarik paksa. Penanggulangan
yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan fetus dari stillbirth adalah persiapan
calving assistance, bantuan respirasi, thermoregulasi, dan administrasi kolostrum.

15

DAFTAR PUSTAKA
Berglund, B., Steinbock, L., Elvander, M. 2003. Causes of stillbirth and time of
death in Swedish Holstein calves examined post mortem. Acta Vet.
Scand. 44: 111-120.
Berry, D.P., Lee, J.M., MacDonald, K.A. Roche, J.R. 2007. Body condition score
and body weight effects on dystocia and stillbirths and consequent effects
on postcalving performance. J. Dairy Sci. 90: 4201-4211.
Bicalho, R.C., Galvao, K.N., Cheong, S.H., Gilbert, R.O., Warnick, L.D., Guard,
C.L. 2007. Effect of stillbirth on dam survival and reproduction
performance in Holstein dairy cows. J. Dairy Sci. 90: 2797-2803.
Gundelach, Y., Essmeyer, K.,Teltscher, M.K., Hoedemaker, M. 2009. Risk factors
for perinatal mortality in dairy cattle: cow and foetal factors, calving
process. Theriogenology. 71: 901-909.
Ghavi Hossein-Zadeh, N., Nejati-Javaremi, N., Miraei-Ashtiani, S.R., Kohram, H.
2008. An observational analysis of twin births, calf stillbirth, calf sex
ratio, and abortion in Iranian Holsteins. J. Dairy Sci. 91: 4198- 4205.
Mee, J..F. 2004. Managing the dairy cow at calving time. Vet. Clin. North Am.
Food Anim. Pract. 20:521546.
Lombard, J. E., Garry F. B. 2013. How to Minimize the Impacts of Dystocia on
the Health and Survival of Dairy Calves . WCDS Advances in Dairy
Technology. 25: 51 - 60

16