Anda di halaman 1dari 15

RANCANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA


NOMOR ... TAHUN ...
TENTANG
ARSITEK
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang: a. bahwa setiap orang berhak mengembangkan diri dan memperoleh


manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya
demi meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sebagaimana
dimaksud Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945;
b. bahwa Bangsa Indonesia kaya akan karya cipta dan budaya,
termasuk dibidang arsitektur yang belum mendapatkan
perlindungan dan pengembangan melalui peningkatan profesi
arsitek untuk menghasilkan layanan jasa arsitektur yang berkualitas,
bertanggungjawab dan profesional, yang dilakukan secara
terencana dan terintegrasi;
c. bahwa dalam penyelenggaraan profesi arsitek yang langsung
dirasakan manfaatnya oleh masyarakat menuntut arsitek yang
kompeten, berkualitas, bertanggung jawab dan profesional serta
melindungi identitas budaya dan
hak masyarakat tradisional
sebagai ketahanan identitas dan ciri khas suatu bangsa;
d. bahwa dalam upaya memberikan perlindungan terhadap arsitek,
karya arsitektur, dan masyarakat pengguna arsitektur serta untuk
mengembangkan arsitektur nasional diperlukan suatu aturan
hukum;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana yang dimaksud
pada huruf a, huruf b, dan huruf c perlu membentuk Undang-undang
tentang Arsitek;
Mengingat:

Pasal 18B ayat (2), Pasal 20, Pasal 28C, Pasal 28D ayat (2), Pasal 28I
ayat (3), dan Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945;
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA
dan
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
MEMUTUSKAN:

Menetapkan:

UNDANG-UNDANG TENTANG ARSITEK.

BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Arsitek adalah seorang lulusan pendidikan arsitektur di dalam
maupun di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah Republik
Indonesia yang memiliki sertifikat keahlian dan dinyatakan
kompeten berpraktik dalam bidang arsitektur serta memenuhi
persyaratan berdasarkan ketentuan Undang-Undang ini.
2. Arsitek Tradisional adalah seseorang yang oleh masyarakat
dilingkungannya dianggap memiliki keahlian dan ketrampilan
berdasarkan pengalaman praktik dalam membangun bangunan
berdasarkan tradisi setempat.
3. Arsitek Asing adalah arsitek warga negara asing yang
menjalankan profesinya di wilayah Negara Republik Indonesia
berdasarkan persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.
4. Arsitektur adalah wujud hasil perencanaan dan perancangan di
bidang jasa konstruksi meliputi tata ruang, tata bangunan dan
lingkungan, yang memenuhi kaidah fungsi, konstruksi dan
estetika mencakup faktor keselamatan, kesehatan, kenyamanan,
dan kemudahan.
5. Arsitektur Tradisional adalah wujud hasil perencanaan dan
perancangan tata ruang, tata bangunan dan lingkungan yang
mengandung norma, tradisi dan kearifan lokal warisan budaya
bangsa.
6. Praktik arsitektur adalah rangkaian kegiatan kerja di bidang
arsitektur yang dilakukan oleh arsitek, arsitek tradisional
dan/atau arsitek asing baik yang dilakukan secara orang
perseorangan maupun badan usaha.
7. Sertifikat adalah surat tanda pengakuan terhadap kompetensi
seorang Arsitek untuk menjalankan praktik arsitektur di seluruh
Indonesia.
8. Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan dan
perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh arsitek
dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya.
9. Registrasi adalah pencatatan resmi terhadap arsitek yang telah
memiliki sertifikat kompetensi dan telah mempunyai kualifikasi
tertentu lainnya serta diakui secara hukum untuk melakukan
tindakan profesinya.
10. Lisensi adalah izin bekerja yang diberikan oleh pemerintah bagi
Arsitek yang melakukan praktik arsitektur.
11. Dewan Arsitek adalah lembaga yang bersifat independen untuk
menyelenggarakan undang-undang ini.
12. Pengguna Jasa adalah orang perseorangan atau badan hukum
yang memerlukan layanan jasa arsitek untuk melakukan suatu
pekerjaan arsitektur yang terikat dalam suatu hubungan kerja.

13. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya


dibidang pekerjaan umum.
BAB II
ASAS DAN TUJUAN
Pasal 2
Pelaksanaan profesi arsitektur berasaskan:
a. kemandirian;
b. asas transparansi dan akuntabilitas;
c. keadilan;
d. keselamatan;
e. profesional;
f. kemanfaatan; dan
g. kearifan lokal.
Pasal 3
Undang-Undang ini bertujuan untuk:
a. memberikan kepastian hukum kepada masyarakat dan Arsitek
dalam penyelenggaraan praktik Arsitek;
b. mewujudkan penyelenggaraan pembangunan nasional yang
tertib, tertata dan berkesinambungan;
c. meningkatkan kualitas keahlian dan daya saing Arsitek
Indonesia;
d. memajukan pelestarian dan perkembangan arsitektur Indonesia
sebagai bagian dari budaya bangsa; dan
e. menjaga sumber daya alam nasional, kebhinnekaan dalam
keutuhan Negara Republik Indonesia;

BAB III
PENYELENGGARAAN PRAKTIK ARSITEK
Bagian Kesatu
Arsitek
Pasal 4
(1) Praktik arsitektur meliputi penyediaan jasa secara profesional di
bidang pekerjaan perencanaan, perancangan dan pengawasan
yang berhubungan dengan perencanaan dan perancangan kota,
konstruksi, penambahan, konservasi, restorasi atau perubahan
sebuah bangunan atau kelompok bangunan serta lingkungan
binaan.

(2) Arsitek dalam menyelenggarakan praktik arsitektur hanya dapat


memberikan jasa sesuai dengan bidang keahlian yang
dikuasainya.
(3) Arsitek dalam melakukan pekerjaan perencanaan, perancangan
dan pengawasan dapat bekerjasama dengan bidang keahlian
lain yang terkait dengan arsitektur.
Pasal 5
(1) Arsitek menyelenggarakan Praktik Arsitektur secara orang
perseorangan maupun dalam bentuk badan usaha.
(2) Arsitek yang melakukan praktek rancang bangun harus
menghindari terjadinya konflik kepentingan dan tidak merugikan
masing-masing peran keahlian.
Pasal 6
Arsitek dalam menyelenggarakan Praktik Arsitektur sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dapat melakukan kerjasama
dengan orang perseorangan dan/atau badan usaha lain sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.
Bagian Kedua
Arsitek Tradisional
Pasal 7
(1) Praktik arsitektur oleh Arsitek Tradisional meliputi penyediaan
jasa secara profesional di bidang pekerjaan perencanaan,
perancangan dan pengawasan yang berhubungan dengan tata
ruang, konstruksi, penambahan, konservasi, restorasi atau
perubahan sebuah bangunan atau kelompok bangunan yang
mengandung tradisi dan kearifan lokal warisan budaya bangsa.
(2) Arsitek Tradisional dalam menyelenggarakan praktik arsitektur
hanya dapat memberikan jasa sesuai dengan bidang keahlian
dan lokalitas yang dikuasainya.
(3) Arsitek Tradisional dalam melakukan pekerjaan perencanaan,
perancangan, dan pengawasan dapat bekerjasama dengan
bidang keahlian lain yang terkait dengan arsitektur.
Pasal 8
(1) Arsitek Tradisional menyelenggarakan Praktik Arsitektur secara
orang perseorangan maupun dalam bentuk badan usaha.
(2) Arsitek Tradisional yang melakukan praktek rancang bangun
harus menghindari terjadinya konflik kepentingan dan tidak
merugikan masing-masing peran keahlian.

Pasal 9
Arsitek Tradisional dalam menyelenggarakan Praktik Arsitektur
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) dapat melakukan
kerjasama dengan orang perseorangan dan/atau badan usaha lain
sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Bagian Ketiga
Arsitek Asing
Pasal 10
(1) Arsitek Asing yang melakukan praktik arsitektur tunduk pada
ketentuan peraturan perundang-undangan.
(2) Arsitek Asing yang melakukan praktik arsitektur di Indonesia
wajib memiliki sertifikat yang telah diregistrasi di negara asalnya.
(3) Arsitek Asing yang melakukan praktik arsitektur wajib melakukan
upaya pelestarian budaya lokal dan perlindungan sumber daya
alam.
(4) Tata cara dan persyaratan praktik Arsitek Asing di Indonesia
diatur lebih lanjut dalam peraturan menteri .
Pasal 11
(1) Arsitek Asing dalam melakukan praktik arsitektur di Indonesia
wajib bekerja sama dengan orang perseorangan Arsitek atau
badan hukum yang memiliki lisensi yang bergerak di bidang
arsitektur.
(2) Arsitek Asing dalam melakukan praktik arsitektur sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memiliki kualifikasi dan
kedudukan yang setara.
(3) Arsitek Asing yang hasil karyanya akan dibangun di Indonesia
harus melengkapi data diri dan/atau badan usahanya untuk
mendapatkan izin praktik yang memenuhi persyaratan
perundang-undangan.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai praktik arsitek asing diatur
dalam Peraturan Menteri.
BAB IV
HASIL KARYA ARSITEKTUR
Pasal 12
(1) Hasil karya arsitek merupakan hak atas kekayaan intelektual.
(2) Hasil karya arsitek sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
didaftarkan memperoleh hak atas kekayaan intelektual sesuai
dengan peraturan perundang-undangan.

Pasal 13
Karya arsitektur tradisional dilindungi oleh negara.

BAB V
HAK DAN KEWAJIBAN
Bagian Kesatu
Hak
Pasal 14
Dalam menjalankan profesinya Arsitek berhak untuk:
(1) mendapatkan sertifikat berdasarkan kualifikasi keahlian dan
kesempatan meningkatkan jenjang keprofesiannya
(2) menggunakan sebutan Arsitek atau sebutan lain dalam bahasa
manapun yang bermakna sama bagi arsitek bersertifikat dan
telah diregistrasi.
(3) mendapatkan informasi, data dan dokumen yang benar dari
pengguna jasa berkaitan dengan pekerjaan yang sedang
ditanganinya.
(4) memperoleh hak atas kekayaan intelektual.
(5) menerima imbalan jasa atas layanan profesi yang diberikan.
Pasal 15
Dalam menjalankan profesi arsitektur, arsitek tradisional mempunyai
hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 ayat (3), ayat (4), dan
ayat (5)
Bagian Kedua
Kewajiban
Pasal 16
Dalam menjalankan profesinya, Arsitek dan Arsitek Tradisional
memiliki kewajiban untuk :
a. Mendahulukan keselamatan manusia, kepentingan masyarakat
luas, keseimbangan alam, dan lingkungan hidup;
b. Menjunjung tinggi nilai-nilai budaya dan pengetahuan arsitektur
atau yang terkait dengannya, serta senantiasa tidak berkompromi
untuk hal-hal yang tidak profesional;
c. Menggunakan seluruh keahlian dan pengetahuan yang
dimilikinya untuk menghasilkan karya terbaiknya dan selalu
mandiri dalam berpikir serta bersikap;
d. Memenuhi standar kinerja dan standar hasil karya Arsitek yang
ditentukan oleh Dewan Arsitek; dan

e. Mengikuti dan menaati semua peraturan perundang-undangan


yang berlaku serta kode etik arsitek dan pedoman tata laku
berprofesi arsitek.
Pasal 17
(1) Arsitek dan Arsitek Tradisional dalam melakukan praktik
arsitektur memiliki tanggung-jawab sosial dan lingkungan.
(2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam peraturan Dewan Arsitek.

BAB VI
STANDARISASI DAN SERTIFIKASI
Bagian Kesatu
Standarisasi
Pasal 18
(1) Seseorang dinyatakan sebagai Arsitek, setelah :
a. lulus dari lembaga pendidikan tinggi arsitektur;
b. memenuhi kualifikasi arsitek melalui program magang profesi
arsitek dan/atau mengikuti program pendidikan profesi
arsitek; dan
c. memperoleh sertifikat keahlian dari Dewan Arsitek.
(2) Pendidikan tinggi arsitektur sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) adalah pendidikan tinggi yang telah terakreditasi sesuai
peraturan perundang-undangan;
(3) Pengaturan lebih lanjut tentang magang profesi arsitek maupun
program pendidikan profesi arsitek sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf b, diatur dengan Peraturan Dewan Arsitek.
Pasal 19
(1) Dalam memberikan layanan jasanya, Arsitek wajib memenuhi
persyaratan minimal hasil karya dari praktik arsitektur menurut
standar kinerja.
(2) Standar kinerja sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun
dan ditetapkan oleh Dewan Arsitek.

Bagian Kedua
Sertifikasi
Pasal 20
(1) Arsitek yang menyelenggarakan kegiatan praktik arsitektur wajib
memiliki sertifikat yang telah diregistrasi.
(2) Sertifikat diberikan oleh Dewan Arsitek melalui penilaian dan
pengujian standar minimum kompetensi.
(3) Registrasi sertifikat Arsitek dilakukan secara nasional oleh
Dewan Arsitek.
(4) Arsitek penanggungjawab izin membangun harus memiliki
lisensi bekerja arsitek sesuai persyaratan peraturan perundangundangan.
(5) Lisensi diberikan oleh pemerintah daerah provinsi atas
rekomendasi Organisasi Profesi Arsitek.
Pasal 21
(1) Sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1)
berlaku di seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
(2) Sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan
terbatas kepada Arsitek yang menjadi anggota Organisasi
Profesi Arsitek.
(3) Tata cara dan persyaratan perolehan sertifikat sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh Dewan Arsitek.
Pasal 22
(1) Sertifikat dinyatakan berlaku pada tanggal yang sama dengan
tanggal diterbitkannya registrasi.
(2) Registrasi setiap sertifikat harus diregistrasi ulang setelah
berakhir masa berlaku registrasi.
(3) Tata cara dan persyaratan registrasi dan registrasi ulang
sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan (2) ditetapkan oleh
Dewan Arsitek.
Pasal 23
(1) Sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20 ayat (1) dapat
dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, apabila:
a. Arsitek yang bersangkutan dijatuhi pidana penjara
berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang
diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih
dan/atau melakukan tindak pidana dibidang arsitektur.
b. Arsitek yang bersangkutan secara medis dinyatakan tidak
sehat jasmani dan/atau rohani yang oleh karenanya tidak
dapat menyelenggarakan praktik arsitektur secara tetap.

(2) Pencabutan sertifikat sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


dilakukan oleh Dewan Arsitek.
Pasal 24
Arsitek memberitahukan setiap
alamatnya kepada Dewan Arsitek.

perubahan

data

pribadi

dan

Pasal 25
Arsitek wajib membubuhkan nomor registrasi dan masa berlaku
sertifikat di setiap:
a. Dokumen kerja untuk karya arsitektur
b. Papan yang menyebutkan rancang bangun di lokasi ;
c. Papan nama atau badan usaha yang diletakkan di kantor tempat
domisili atau alamat
Pasal 26
Setiap orang yang tidak memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 20 ayat (1) dilarang menggunakan identitas berupa
gelar atau sebutan arsitek.

BAB VII
PEMBINAAN DAN PENGEMBANGAN
Bagian Kesatu
Pembinaan
Pasal 27
(1) Pemerintah, pemerintah daerah, Dewan Arsitek, Organisasi
Profesi Arsitek, membina dan mengawasi praktik arsitektur
sesuai dengan tugas, fungsi, dan kewenangannya.
(2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diarahkan untuk:
a. meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan oleh Arsitek
dan Arsitek Tradisional;
b. melindungi masyarakat atas tindakan Arsitek dan Arsitek
Tradisional yang merugikan; dan
c. memberikan kepastian hukum bagi masyarakat, Arsitek dan
Arsitek Tradisional.

Bagian Kedua
Pengembangan
Pasal 28
(1) Arsitek secara terus menerus mengembangkan keahlian
profesinya dengan mengikuti sistem pendidikan keprofesian
berkelanjutan arsitek yang diselenggarakan oleh Organisasi
Profesi Arsitek.
(2) Arsitek tradisional terus menerus mengembangkan keahlian
profesinya melalui penggalian tradisi dan kearifan lokal serta
pelatihan-pelatihan yang diselenggarakan baik oleh pemerintah,
Organisasi Profesi Arsitek maupun pihak yang lain.
(3) Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara penyelenggaraan
pendidikan keprofesian berkelanjutan arsitek sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) disusun dan ditetapkan oleh Dewan
Arsitek.

BAB VIII
DEWAN ARSITEK
Bagian Kesatu
Umum
Pasal 29
Untuk mengelola kegiatan kearsitekturan Indonesia dan untuk
tercapainya tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 dibentuk
Dewan Arsitek.
Pasal 30
Dewan Arsitek bersifat nasional dan berkedudukan di ibukota
negara Republik Indonesia.
Pasal 31
(1) Anggota Dewan Arsitek berjumlah 9 (sembilan) orang terdiri
atas:
a. arsitek dari organisasi profesi;
b. arsitek yang ditunjuk Pemerintah;
c. arsitek tradisional;
d. unsur masyarakat;
e. unsur pendidikan tinggi arsitektur; dan
f. unsur pemerintah.
(2) Anggota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh
Menteri atas usul Organisasi Profesi Arsitek.

(3) Pimpinan Dewan Arsitek terdiri dari 3 (tiga) orang merangkap


anggota.
(4) Pimpinan Dewan Arsitek sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
terdiri dari 1 (satu) orang ketua dan 2 (dua) orang wakil ketua.
(5) Pimpinan Dewan Arsitek sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) dipilih oleh Anggota Dewan Arsitek.
Bagian Kedua
Tugas
Pasal 32
Dewan Arsitek mempunyai tugas:
a. mengelola data dan menetapkan kebijaksanaan penerbitan
sertifikat dan registrasi;
b. menyelesaikan perselisihan masalah sertifikasi dan registrasi;
c. menyusun bakuan kompetensi arsitek atas usul Organisasi
Profesi Arsitek;
d. mengesahkan dan menetapkan standar imbalan jasa arsitek;
e. menetapkan kode etik profesi arsitek;
f. menerima pengaduan dan menyelesaikan perselisihan masalah
praktik arsitektur;
g. memberikan teguran dan menjatuhkan sanksi kepada arsitek
yang dinyatakan bersalah;
h. melindungi arsitek dan memberikan bantuan hukum berkaitan
dengan praktik arsitektur;
i. merehabilitasi hak dan nama baik arsitek yang dinyatakan tidak
bersalah oleh pengadilan;
j. secara teratur mengadakan pembinaan keprofesian arsitek dan
praktik arsitektur;
k. secara teratur mengadakan koordinasi dan konsultasi dengan
organisasi profesi berkaitan dengan pembinaan keprofesian
arsitek dan praktik arsitektur; dan
l. Secara berkala mengadakan konsultasi dengan Menteri berkaitan
dengan pembinaan dan pengawasan kegiatan jasa konstruksi
dan praktik arsitektur.
Bagian Ketiga
Pendanaan
Pasal 33
(1) Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal
32 Dewan Arsitek didukung oleh pendanaan yang bersumber dari
kas Dewan Arsitek dan sumber pendanaan lain yang sah.

(2) Pengaturan lebih lanjut mengenai pendanaan sebagaimana


dimaksud pada ayat (1) diatur dalam Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Dewan Arsitek.
Bagian Keempat
Kode Etik
Pasal 34
(1) Kode Etik Arsitek dan Pedoman Tata Laku Berprofesi Arsitek
dibuat dan ditetapkan oleh Dewan Arsitek.
(2) Arsitek dalam menyelenggarakan kegiatan praktik arsitektur
tunduk pada kode etik arsitek dan ketentuan pedoman tata laku
berprofesi arsitek sebagaimana dimaksud pada ayat (1).
(3) Pelanggaran kode etik dan pedoman tata laku sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dikenakan sanksi sesuai dengan
ketentuan yang ditetapkan oleh Dewan Arsitek.
Pasal 35
Ketentuan lebih lanjut tentang mekanisme kerja Dewan Arsitek dan
pelaksanaan Kode Etik dan Pedoman Tata Laku Berprofesi Arsitek
diatur dalam Peraturan Dewan Arsitek.

BAB IX
ORGANISASI PROFESI ARSITEK
Pasal 36
(1) Organisasi profesi arsitek merupakan wadah profesi arsitek yang
bebas dan mandiri.
(2) Organisasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dibentuk dengan
maksud dan tujuan meningkatkan kualitas profesi arsitek.
Pasal 37
Ketentuan lebih lanjut mengenai susunan, tugas, dan fungsi organisasi
profesi arsitek diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah
Tangga organisasi profesi arsitek.

BAB X
PENGADUAN DAN REHABILITASI
Pasal 38
(1) Setiap orang yang dirugikan oleh jasa arsitek dapat mengadukan
ke Dewan Arsitek.
(2) Arsitek yang dirugikan oleh pengguna jasa arsitek dan arsitek
lain dapat mengadukan ke Dewan Arsitek.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pengaduan dan
pemberian sanksi diatur dalam Peraturan Dewan Arsitek.
Pasal 39
(1) Dewan Arsitek melakukan rehabilitasi dan pemulihan hak serta
nama baik Arsitek atas keputusan, sanksi atau hukuman
pelanggaran yang telah dikenakan oleh Dewan Arsitek namun
ternyata dikemudian hari keputusan, sanksi atau hukuman
tersebut tidak berdasar.
(3) Tata cara dan persyaratan tentang rehabilitasi sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diatur lebih lanjut dalam peraturan
Dewan Arsitek

BAB XI
PERAN SERTA MASYARAKAT
Pasal 40
(1) Masyarakat dapat berperan serta dalam melestarikan dan
mengembangkan arsitektur Indonesia sebagai bagian dari
budaya bangsa.
(2) Pelestarian dan pengembangan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dilakukan terhadap hasil karya arsitektur yang berupa
hasil perencanaan dan perancangan tata ruang, tata bangunan
dan lingkungan yang bersifat modern maupun yang mengandung
norma, tradisi dan kearifan lokal warisan budaya bangsa.
BAB XII
SANKSI
Pasal 41
(1) Arsitek Asing yang melakukan praktik arsitektur di Indonesia yang
tidak memiliki sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10
ayat (2) dikenakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun

dan/atau denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,- (dua miliar


rupiah).
(2) Arsitek Asing yang melakukan praktik arsitektur tidak melakukan
upaya pelestarian budaya lokal dan perlindungan sumber daya
alam sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (3) dikenakan
pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp. 2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah).
(3) Arsitek Asing yang dalam melakukan praktik arsitektur di
Indonesia tanpa bekerja sama dengan perseorangan Arsitek
yang memiliki lisensi atau badan hukum sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 11 ayat (1) dikenakan pidana penjara paling lama 5
(lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,(satu miliar rupiah).
(4) Arsitek yang tidak memenuhi persyaratan minimal hasil karya
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (1) dikenakan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau denda paling
banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
(5) Arsitek yang tidak membubuhkan nomor registrasi dan masa
berlaku sertifikat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25
dikenakan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
(6) Setiap orang yang menggunakan identitas berupa gelar atau
sebutan arsitek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26
dikenakan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun dan/atau
denda paling banyak Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah).
BAB XIII
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 42
(1) Pada saat berlakunya UU ini semua peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan arsitek dinyatakan tetap
berlaku sepanjang tidak bertentangan atau belum dikeluarkan
peraturan pelaksanaan baru berdasarkan UU ini.
(2) Seseorang yang telah atau sedang melakukan praktik arsitektur
pada saat undang-undang ini diberlakukan namun belum
memenuhi ketentuan sebagaimana yang diatur dalam undangundang ini, dapat meneruskan praktik arsitektur selambatlambatnya 12 (dua belas) bulan dengan kewajiban memenuhi
ketentuan sesuai dengan yang diamanatkan dalam undangundang ini.
(3) Arsitek yang telah memiliki sertifikat yang diterbitkan organisasi
profesi sebelum tanggal berlakunya undang-undang ini,
selambat-lambatnya 12 (duabelas) bulan sejak tanggal
berlakunya undang-undang ini harus mengajukan perolehan
registrasi kepada Dewan Arsitek.

(4) Arsitek yang sertifikatnya telah dicabut sebelum tanggal undangundang ini berlaku, dan belum mengajukan rehabilitasi dalam
waktu 12 (duabelas) bulan sejak tanggal pencabutan tersebut,
berhak untuk mengajukan perolehan untuk mendapat sertifikat
kembali dengan memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh
Dewan Arsitek.
BAB XIV
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 43
Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan
Undang-Undang ini dengan penempatannya dalam Lembaran
Negara Republik Indonesia.

Disahkan di Jakarta
Pada tanggal ..
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
Ttd
SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

Diundangkan di Jakarta
Pada tanggal .
MENTERI HUKUM DAN HAM
REPUBLIK INDONESIA
Ttd
ANDI MATTALATA