Anda di halaman 1dari 17

UU N0 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN

PASAL 4-8 N0 36/2009


HAK SETIAP ORANG :
Kesehatan
Akses atas sumber daya
Pelayanan kesehatan yang aman, bermutu dan terjangkau
Menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang diperlukan
Lingkungan yang sehat
Informasi dan edukasi kesehatan yang seimbang & bertanggung jawab.
Informasi tentang data kesehatan dirinya
PASAL 9-13 NO 36/2009
KEWAJIBAN SETIAP ORANG :
Ikut mewujudkan kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
Menghormati hak orang lain
Berperilaku hidup sehat
Menjaga kesehatan orang lain yang menjadi tanggungjawabnya
Ikut jaminan kesehatan

UU NO 44 tahun 2009 TENTANG RUMAH SAKIT


PASAL 32 UU NO 44/2009 :
SETIAP PASIEN MEMPUNYAI HAK :
Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi
Memperoleh layanan kesehatan yg bermutu sesuai dengan standar prosedur dan standar
prosedur opersional.
Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan
materi
Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan

Hak-Hak Pasien (Lanjutan) :


Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginan dan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit
Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion)
yang mempunyai Surat Ijin Praktek (SIP) baik didalam maupun di luar Rumah Sakit
Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya
Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan
medis, alternatif tindakan, risiko komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan
Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang diderita-nya
Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis
Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yg dianutnya selama hal itu tidak
mengganggu pasien lainnya
Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit
Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya
Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang
dianutnya
Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana, dan
Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui
media cetak dan elektronik sesuai dengan ketenetuan peraturan perundang-undangan.

UU N0 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN


PASAL 21-29 NO 36/2009
TENAGA KESEHATAN :
Harus memiliki kualifikasi umum.
Harus memiliki kewenangan yang sesuai dengan keahlian, memiliki izin
Harus memenuhi kode etik, standar profesi, hak pengguna pelayanan kesehatan, standar
pelayanan, SOP
Pemerintah mengatur penempatan untuk pemerataan
Untuk kepentingan hukum ; wajib periksa kesehatan dengan biaya ditanggung negara
Dalam hal diduga kelalaian, selesaikan dengan mediasi terlebih dahulu
PASAL 30-35 NO 36/2009
PASILITAS PELAYANAN KESEHATAN
Harus memenuhi persyaratan dan perizinan
Dalam menghadapi pasien darurat, wajib selamatkan nyawa dan cegah cacat, dilarang menolak
pasien atau meminta uang muka lebih dahulu
Pimpinan harus memiliki kompetensi
Pemda menentukan jumlah dan jenis fasilitas pelayanan kesehatan dan berikan izin
Diatur dengan PP
PASAL 58 UU NO 36/2009
GANTI RUGI AKIBAT KESALAHAN :
1) Setiap orang berhak menuntut ganti rugi terhadap seseorang, tenaga kesehatan, dan/atau
penyelenggara kesehatan yang menimbulkan kerugian akibat kesalahan atau kelalaian dalam
pelayanan yang diterimanya.
2) Tuntutan ganti rugi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak berlaku bagi tenaga kesehatan
yang melakukan tindakan penyelamatan nyawa atau pencegahan kecacatan seseorang dalam
keadaan darurat.
PASAL 64 UU NO 36/2009
UPAYA PEMULIHAN TERTENTU :
1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui tranplantasi organ
dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi,
serta sel punca
2) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1)
dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan
3) Organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun.
PASAL 66 UU NO 36/2009
Transplantasi sel, baik yang berasal dari manusia maupun dari hewan, hanya dapat dilakukan
apabila telah terbukti keamanan dan kemanfaatannya.

PASAL 69 UU NO 36/2009
(2) Bedah plastik dan rekonstruksi tidak boleh bertentangan dengan norma yang berlaku dalam
masyarakat dan tidak ditujukan untuk mengubah identitas
PASAL 70 UU N0 36/2009
(1) Pengguna sel punca hanya dapat dilakukan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan
pemulihan kesehatan, serta dilarang digunakan untuk tujuan reproduksi.
(2) Sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh berasal dari sel punca embrionik
PASAL 72 UU NO 36/2009
REPRODUKSI :
Setiap orang berhak :
Menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman serta bebas dari
paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah
Menetukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan, dan/atau kekerasan
yang menghormati nilai-nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia dengan norma
agama
Menetukan sendiri kapan dan berapa sering ingin reproduksi sehat secara medis serta tidak
bertentangan dengan norma agama
Memperoleh informasi, edukasi, .dst
PASAL 72 UU NO 36/2009
ABORSI :
1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi
2) Larangan yang dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan :
Indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam
nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik serta dan/atau cacat bawaan, maupun
yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup diluar kandungan, atau
Kehamilan akibat perkosaan yg dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan
3) Tindakan sebagimana yang dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui
konseling dan/atau penasehatan pra tindakan oleh konselor yang kompeten dan berwenang
PASAL 82 UU NO 36/2009
BENCANA :
1) Pemerintah daerah dan masyarakat bertanggung jawab atas ketersediaan sumber daya,
fasilitas, dan pelaksanaan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan berkesinambungan pada
bencana.
2) Pelayanan kesehatan yang dimaksud pada ayat (1) meliputi pelayanan kesehatan pada tanggap
darurat dan pasca bencana.
3) Pelayanan kesehatan sebagaiman dimaksud pada ayat (2) mencakup pelayanan
kegawatdaruratan yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan lebih

lanjut
4) Pemerintah menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan sebagaiman dimaksud pada ayat (1).
PASAL 83 UU N0 36/2009
1) Setiap orang yang memberikan pelayanan kesehatan pada bencana harus ditujukan untuk
penyelamatan nyawa, pencegahan kecacatan lebih lanjut dan kepentingan terbaik bagi pasien.
2) Pemerintah menjamin perlindungan hukum bagi setiap orang sebagaikan dimaksud pada ayat
(1) sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.
PASAL 85 UU NO 36/2009
DARURAT PADA BENCANA
1) Dalam keadaan darurat, fasilitas pelayanan kesehatan , baik pemerintah maupun swasta wajib
memberikan pelayanan kesehatan pada bencana bagi penyelamatan nyawa pasien dan
pencegahan kecacatan.
2) Fasilitas pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana
sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dilarang menolak pasien dan/atau meminta uang muka
terlebih dahulu.
PASAL 90 UU NO 36/2009
PELAYANAN DARAH
1) Pemerintah bertanggun jawab atas pelaksanaan pelayanan darah yang aman, mudah diakses,
dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
2) Pemerintah menjamin pembiayaan dalam penyelanggaraan pelayanan darah.
3) Darah dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun
PASAL 115 UU N0 36/2009
KAWASAN TANPA ROKOK (KTR)
Anatar lain :
Fasilitas pelayanan kesehatan
Tempat proses belajar mengajar
Tempat anak bermain
Tempat ibadah
Angkutan umum
Tempat kerja, dan
Tempat umum dan tempat lain yang ditetapkan
Pemerintah daerah wajib menetapkan kawasan tanpa rokok di wilayahnya
PASAL 117 UU N0 36/2009
DEFENISI MATI :
Seseorang dinyatakan mati apabila fungsi sistem jantung-sirulasi dan sistem pernapasan
terbukti telah berhenti secara permanen, atau apabila kematian batang otak telah dapat
dibuktikan

PASAL 118 UU NO 36/2009


IDENTIFIKASI
Mayat yang tidak dikenal harus dilakukan upaya identifikasi.
Pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat bertanggung-jawab atas upaya identifikasi
sebagaiman dimasud pd ayat (1)
PASAL 122 UU NO 36/2009
BEDAH MAYAT FORENSIK
1) Untuk kepentingan penegakan hukum dapat dilakukan bedah mayat forensik sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
2) Bedah mayat forensik sebagaiman diamksud pada ayat (1) dilakukan oleh dokter ahli forensik,
atau dokter lain apabila tidak ada dokter ahli forensik dan perujukan ke tempat yang ada dokter
ahli forensiknya tidak dimungkingkan
PASAL 125 UU NO 36/2009
Biaya pemeriksaan kesehatan terhadap korban tindak pidana dan/atau pemeriksaan mayat untuk
kepentingan hukum ditanggung oleh pemerintah melalui APBN dan APBD
PASAL 127 UU NO 36/2009
KEHAMILAN CARA NON ALAMI
Upaya kehamilan diluar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah
dengan ketentuan :
Hasil pembuahan sperma dan ovun dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim
istri dari mana ovun berasal
Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu, dan
Pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu
PASAL 128 UU NO 36/2009
ASI EKSKLUSIF :
1) Setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu eksklusif sejak dilahirkan selama 6 (enam)
bulan, kecuali atas indikasi medis.
2) Selama pemberian Air Susu Ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan
masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas
khusus
3) Penyediaan fasilitas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) di-adakan ditempat kerja dan tempat
sarana umum
PASAL 148 UU N0 36/2009
KESEHATAN JIWA
Penderita gangguan jiwa mempunyai hak yang sama sebagai warga negara
Hak sebagaiman dimaksud pada ayat (1) meliputi persamaan perlakuan dalam setiap aspek
kehidupan, kecuali peraturan perundang-undangan menyatakan lain

PASAL 149 UU N0 36/2009


1) Penderita gangguan jiwa yg terlantar, menggelandang, mengancam keselamatan dirinya
dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau keamanan umum wajib
mendapatkan pengobatan dan perawatan di fasilitas pelayanan kesehatan.
2) Pemerintah, pemerintah daerah, & masyarakat wajib melakukan pengobatan dan perawatan di
fasilitas pelayanan kesehatan bagi penderita gangguan jiwa yang terlantar, menggelandang,
mengancam keselamatan dirinya dan/atau orang lain, dan/atau mengganggu ketertiban dan/atau
keamanan umum.
3) Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas pemerataan penyediaan fasilitas
pelayanan kesehatan jiwa dengan melibatkan peran serta aktif masyarakat
4) Tanggung jawab pemerintah dan pemerintah daerah sebagaiman dimaksud pada ayat (2)
termasuk pembiayaan pengobatan dan perawatan penderita gangguan jiwa untuk masyarakat
miskin.
PASAL 150 UU NO 36/2009
1) Pemeriksaan kesehatan jiwa untuk kepentingan penegakkan hukum (visum et refertum
psiciatricum) hanya dapat dilakukan oleh dokter spesialis jiwa pada fasilitas pelayanan kesehatan
2) Penetapan status kecakapan hukum seseorang yang diduga mengalami gangguan jiwa
dilakukan oleh tim dokter yang mempunyai keahlian dan kompetensi sesuai dengan standar
profesi.
PASAL 171 UU NO 36/2009
ANGGARAN :
1) Besar anggaran kesehatan pemerintah dialokasikan minimal sebesar 5% (lima persen) dari
anggaran pendapatan belanja negara (APBN) diluar gaji.
2) Besar anggaran kesehatan pemerintah daerah provinsi, kabupaten/kotadalokasikan minimal
10% dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) diluar gaji
3) Bersaran anggaran kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diprioritaskan
untuk kepentingan pelayanan publik yang besarannya sekurang-kurangnya 2/3 (duapertiga) dari
anggaran kesehatan dalam APBN dan APBD
PERATURAN PELAKSANAAN
2 UU
20 PERATURAN PEMERINTAH
2 PERATURAN PRESIDEN
18 PERATURAN MENKES

UU NO 44 TAHUN 2009 TENTANG RUMAH SAKIT


TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH :
Menjamin pembiayaan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit bagi fakir miskin, atau orang tidak
mampu sesuai ketetentuan peraturan perundang-undangan
Membina dan mengawasi penyelenggaraan Rumah sakit
Memberikan perlindungan kepada Rumah Sakit agar dapat memberikan pelayanan kesehatan
secara profesional dan bertanggung jawab
Memberikan perlindungan kepada masyarakat
Menggerakkan peran serta masyarakat dalam mendirikan Rumah Sakit sesuai dengan jenis
pelayanan yang dibutuhkan masyarakat
Menyediakan informasi kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat .
Menjamin pembiayaan pelayanan kegawatdaruratan di Rumah Sakit akibat bencana dan
kejadian luar biasa.
Menyediakan sumber daya manusia yang dibutuhkan
Mengatur pendistribusian dan penyebaran alat kesehatan berteknologi tinggi dan bernilai tinggi
PASAL 7 UU NO 44/2009
1) Rumah Sakit harus memenuhi persyaratan lokasi, bangunan, prasarana, sumber daya manusia,
kefarmasian, dan peralatan.
2) Rumah Sakit dapat didirikan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, dan Swasta.
3) Rumah Sakit yang didirikan oleh pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (2) harus berbentuk unit Pelaksana Teknis dari Instansi yang bertugas di
bidang kesehatan, Instansi tertentu, atau lembaga daerah dengan pengelolaan Badan Layanan
Umum (BLU) atau Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sesuai dengan ketentuan peratuan
perundang-undangan.
4) Rumah Sakit yang didirikan oleh swasta sebagaimana yang di-maksud pada ayat (2) harus
berbentuk Badan Hukum yang kegiatan usahanya hanya bergerak dibidang perumahsakitan.
PASAL 11 UU NO 44/2009
1) Rumah Sakit sebagaiman dimaksud pada pasal 7 ayat (1) dapat meliputi :
Instalasi air, instalasi mekanikal dan elektrikal, instalasi gas medik, instalasi uap, instalasi
pengelolaan limbah, pencegahan dan penanggulangan kebakaran, petunjuk, standar dan sarana
evakuasi saat terjadi keadaan darurat, instalasi tata udara, sistem informasi dan komunikasi, dan
ambulan.
2) Prasarana sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi standar pelayanan,

keamanan, serta keselamatan dan kesehatan kerja penyelenggara Rumah Sakit.


3) Prasarana yang dimaksud pada ayat (1) harus dalam keadaan terpelihara dan berfungsi dengan
baik.
4) Pengoperasian dan pemeliharaan sarana Rumah Sakit sebagai-mana yang dimaksud pada ayat
(1) harus dilakukan oleh petugas yang mempunyai kompetensi di bidangnya.
PASAL 12 UU NO 44/2009
1) Persyaratan sumber daya manusia sebagaiman yang dimaksud pada pasal 7 ayat (1) yaitu
Rumah Sakit harus memiliki tenaga tetap yang meliputi tenaga medis, tenaga keperawatan,
tenaga kefarmasian, tenaga manajemen Rumah Sakit, dan tenaga non kesehatan
2) Jumlah dan jenis sumber daya manusia sebagaiman dimaksud pada ayat (1) harus sesuai
dengan jenis dan klasifikasi Rumah Sakit
3) Rumah Sakit harus memiliki data ketenagaan yang melakukan praktik atau pekerjaan dalam
penyelenggaraan Rumah Sakit.
4) Rumah Sakit dapat mempekerjakan tenaga tidak tetap dan konsultan sesuai dengan kebutuhan
dan kemampuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan
PASAL 14 UU NO 44/2009
1) Rumah Sakit dapat mempekerjakan tenaga kesehatan asing sesuai dengan kebutuhan
pelayanan.
2) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaiman dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan
dengan mempertimbangkan kepentingan alih teknologi dan ilmu pengetahuan serta ketersediaan
tenaga kesehatan setempat.
3) Pendayagunaan tenaga kesehatan asing sebagaiman dimaksud pada ayat (1) hanya dilakukan
bagi tenaga kesehatan asing yang telah memiliki Surat Tanda Registrasi dan Surat Ijin Praktik.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pendayaagunaan tenaga kesehatan asing pada ayat (1), ayat
(2), dan ayat (3) diatur dengan peraturan pemerintah.
PASAL 19 UU NO 44/2009
1) Berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit dikategorikan dalam Rumah Sakit
Umum dan Rumah Sakit Khusus.
2) Rumah Sakit Umum sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan
kesehatan pada semua jenis penyakit
3) Rumah Sakit Khusus sebagaimana yang dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan utama
pada satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umumr, organ, jenis
penyakit, atau kekhususan liannya.
PASAL 20 UU NO 44/2009
1) Berdasarkan pengelolaan Rumah Sakit dapat dibagi menjadi Rumah Sakit publik dan Rumah
Sakit Privat.
2) Rumah Sakit Publik sebagaiman yang dimaksud pada ayat (1) dapat dikelola oleh Pemerintah,

Pemerintah Daerah, dan Badan Hukum yang bersifat Nirlaba


3) Rumah Sakit Publik yang dikelola oleh pemerintah dan pemerintah daerah sebagaimana yang
dimaksud pada ayat (2) tidak dapat dialihkan menjadi Rumah Sakit Privat.
PASALA 21 UU NO 44/2009
Rumah Sakit Privat sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 20 dikelolah oleh Badan Hukum
dengan tujuan profit yang berbentuk Perseroan Terbatas atau Persero
PASAL 22 UU NO 44/2009
Rumah Sakit dapat ditetapkan menjadi Rumah Sakit Pendidikan setelah memenuhi persyaratan
dan standar RS pendidikan.
Rumah Sakit Pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri setelah
berkoordinasi dengan Menteri yang membidangi urusan pendidikan
PASAL 23 UU NO 44/2009
Rumah Sakit Pendidikan sebagaimana dimaksud dalam pasal 22 merupakan Rumah Sakit yang
menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang pendidikan profesi
kedokteran, pendidikan berkelanjutan, dan tenaga kesehatan lainnya.
Dalam penyelenggaraan Rumah sakit Pendidikan dapat dibentuk jejaring Rumah Sakit
Pendidikan
PASAL 24 UU NO 44/2009
Dalam rangka penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara berjenjang dan fungsi rujukan,
Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas
&kemampuan pelayanan Rumah Sakit
Klasifikasi Rumah Sakit Umum sebagaiman dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
Rumah Sakit Umum kelas A
Rumah Sakit Umum kelas B
Rumah Sakit Umum kelas C
Rumah Sakit Umum kelas D
Klasifikasi Rumah Sakit Khusus sebagaiman dimaksud pada ayat (1) terdiri atas :
Rumah Sakit Khusus kelas A
Rumah Sakit Khusus kelas B
Rumah Sakit Khusus kelas C
PASAL 26 UU NO 44/2009
1) Izin Rumah Sakit kelas A dan Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal
dalam negara diberikan oleh Menteri setelah mendapatkan rekomendasi dari pejabat yang
berwenang di bidang kesehatan pada pemerintah daerah provinsi
2) Izin Rumah Sakit penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) di berikan setelah mendapat rekomendasi dari instansi yang
melaksanakan urusan penanaman modal asing atau penanaman modal dalam negeri
3) Izin Rumah Sakit kelas B diberikan oleh Pemerintah Daerah Provinsi setelah mendapat

rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan Pemerintah Daerah kabiupaten/
kota.
4) Izin Rumah Sakit kelas C dan kelas D diberika oleh Pemerintah Daerah kabupaten/Kota
setelah mendapat rekomendasi dari pejabat yang berwenang di bidang kesehatan Pemerintah
Daerah/Kota
PASAL 29 UU NO 44/2009
Setiap Rumah Sakit mempunyai Kewajiban :
Memberikan informasi yang benar tentang pelayanan Rumah Sakit kepada masyarakat
Memberi pelayanan kesehatan yg aman, bermutu, anti diskriminasi dan efektif dengan
mengutamakan kepentingan pasien sesuai dengan standar pelayanan Rumah Sakit
Memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan pelayanannya
Berperan aktif dalam memberikan pelayanan kesehatan pada bencana, sesuai dengan
kemampuan pelayanannya
Kewajiban Rumah Sakit (Lanjutan) :
Menyediakan sarana dan pelayanan bagi masyarakat yang tidak mampu atau miskin
Melaksanakan fungsi sosial antara lain dengan memberikan fasilitas pelayanan pasien tidak
mampu/miskin, pelayanan gawat darurat tanpa uang muka, ambulan gratis, pelayanan korban
bencana dan kejadian liar biasa, atau bakti sosial bagi misi kemanusiaan
Membuat, melaksanakan, dan menjaga standar mutu pelayanan kesehatan di Rumah Sakit
sebagai acuan dalam melayani pasien
Menyelenggarakan rekam medis
Menyediakan sarana dan prasarana yang layak antara lain sarana ibadah, parkir, ruang tunggu,
sarana untuk orang cacat, wanita menyusui, anak-anak, usia lanjut.
Melaksanakan sistem rujukan.
Menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan
perundang-undangan.
Memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai hak & kewajiban pasien
Menghormati dan melindungi hak-hak pasien
Melaksanakan etika Rumah Sakit
Memiliki sistem pencegahan kecelakaan dan penanggulangan bencana
Melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan secara regional maupun nasional
Membuat daftar tenaga medis yang melakukan praktik kedokteran atau kedokteran gigi dan
tenaga kesehatan lainnya.
Menyusun dan melaksanakan peraturan internal Rumah Sakit (Hospital By Laws)
Melindungi dan memberikan bantuan hukum bagi semua petugas Rumah Sakit dalam
melaksanakan tugas, dan
Memberlakukan seluruh lingkungan Rumah Sakit sebagai kawasan Tanpa Rokok (KRT).
PASAL 30 UU NO 44/2009
SETIAP RUMAH SAKIT MEMPUNYAI HAK :

Menentukan jumlah, jenis, dan klasifikasi sumber daya manusia sesuai dengan klasifikasi
Rumah Sakit
Menerima imbalan jasa pelayanan serta menentukan Remunirasi, insentif, dan penghargaan
sesuai dengan ketentuan perundangan-undangan.
Melakukan kerjasama dengan pihak lain dlm rangka mengembang-kan pelayanan.
Menerima bantuan dari pihak lain sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan
Menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian.
Mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan.
Mempromosikan layanan kesehatan yang ada di Rumah Sakit sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan, dan
Mendapatkan insentif pajak bagi Rumah Sakit Publik dan Rumah Sakit yang ditetapkan sebagai
Rumah Sakit Pendidikan.
PASAL 32 UU NO 44/2009 :
SETIAP PASIEN MEMPUNYAI HAK :
Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di Rumah Sakit
Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien
Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi
Memperoleh layanan kesehatan yg bermutu sesuai dengan standar prosedur dan standar
prosedur opersional.
Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari kerugian fisik dan
materi
Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan
Hak-Hak Pasien (Lanjutan) :
Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginan dan peraturan yang berlaku di
Rumah Sakit
Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain (second opinion)
yang mempunyai Surat Ijin Praktek (SIP) baik didalam maupun di luar Rumah Sakit
Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data medisnya
Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis, tujuan tindakan
medis, alternatif tindakan, risiko komplikasi yang mungkin terjadi, dan prognosis terhadap
tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya pengobatan
Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh tenaga
kesehatan terhadap penyakit yang diderita-nya
Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis
Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yg dianutnya selama hal itu tidak
mengganggu pasien lainnya
Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di Rumah Sakit
Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap dirinya
Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan kepercayaan yang
dianutnya

Menggugat dan/atau menuntut Rumah Sakit apabila Rumah Sakit diduga memberikan
pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata ataupun pidana, dan
Mengeluhkan pelayanan Rumah Sakit yang tidak sesuai dengan standar pelayanan melalui
media cetak dan elektronik sesuai dengan ketenetuan peraturan perundang-undangan
PASAL 33 NO 44/2009
Setiap Rumah Sakit harus memiliki organisasi yang efektif, efisien, dan akuntabel
Organisasi Rumah Sakit paling sedikit terdiri atas Kepala Rumah Sakit atau Direktur Rumah
Sakit, unsur pelayanan medis, unsur penunjang medis, unsur keperawatan, komite medis, satuan
pemeriksa internal, serta administrasi umum dan keuangan.
PASAL 34 NO 44/2009
Kepala Rumah Sakit harus seorang tenaga medis yang mempunyai kemampuan dan keahlian di
bidang Perumahsakitan.
Tenaga struktural yang menduduki jabatan sebagai pimpinan harus berkewarganegaraan
Indonesia.
Pemilik Rumah Sakit tidak boleh merangkap menjadi kepala Rumah Sakit
PASAL 36 NO 44/2009
Setiap Rumah Sakit harus menyelenggarakan tata kelola Rumah Sakit dan tata kelola klinis
yang baik
PASAL 39 UU N0 44/2009
1) Dalam menyelenggarakan Rumah Sakit harus dilakukan audit.
2) Audit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berupa audit kinerja dan audit medis.
3) Audit kinerja dan audit medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan secara
internal dan eksternal
4) Audit kinerja eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan oleh tenaga
pengawas
5) Pelaksanaan audit medis berpedoman pada ketentuan yg ditetapkan oleh Menteri.
PASAL 40 UU NO/2009
1) Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan Rumah Sakit wajib dilakukan akreditasi secara
berkala minimal 3 (tiga) tahun sekali.
2) Akreditasi Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh lembaga
Indefenden baik dari dalam maupun dari luar negeri berdasarkan standar akreditasi yang berlaku
3) Lembaga Indefenden sebagaimana diamksud pada ayat (2) ditetap-kan oleh Menteri
PASAL 43 UU NO 44/2009
1) Rumah Sakit wajib menerapkan standar keselamatan pasien.
2) Standar keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan melalui
pelaporan insiden, menganalisa, & menetap-kan pemecahan masalah dalam rangka menurunkan

angka kejadian yang tidak diharapkan


3) Rumah Sakit melaporkan sebagaimana diamksud pada ayat (2) kepada komite yang
membidangi keselamatan pasien yang ditetap-kan oleh Menteri.
4) Pelaporan insiden keselamatan pasien sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat secara
anonim dan ditujukan untuk mengoreksi sistem dalam rangka meningkatkan keselamatan pasien.
PASAL 44 UU NO 44/2009
1) Rumah Sakit dapat menolak mengungkapkan segala informasi kepada publik yang berkaitan
dengan rahasia kedokteran
2) Pasien dan/atau keluarga yang menuntut Rumah Sakit dan menginformasikannya melalui
media massa, dianggap telah melepaskan hak rahasia kedokteran kepada umum.
3) Penginformasian kepada media massa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) memberikan
kewenangan kepada Rumah Sakit untuk mengungkapkan rahasia kedokteran kepada pasien
sebagai hak jawab Rumah Sakit.
PASAL 45 UU NO 44/2009
Rumah Sakit tidak bertanggung jawab secara hukum apabila pasien dan/atau keluarganya
menolak atau menghentikan pengobatan yang dapat berakibat kematian pasien setelah adanya
penjelasan medis yang komprehensif
Rumah Sakit tidak dapat dituntut dalam melaksanakan tugas dalam rangka menyelamatkan
nyawa manusia
PASAL 46 UU NO 44/2009
Rumah Sakit bertanggung jawab secara hukum terhadap semua kerugian yang ditimbulkan atas
kelalaian yg dilakukan oleh tenaga kesehatan di Rumah Sakit
PASAL 50 UU NO 44/2009
1) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelolah Pemerintah ditetapkan oleh Menteri.
2) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit yang dikelolah Pemerintah Daerah ditetapkan dengan
Peraturan Daerah
3) Besaran tarif kelas III Rumah Sakit selain Rumah Sakit sebagaiman dimaksud pada ayat (1)
dan ayat (2) ditetapkan oleh Pimpinan Rumah Sakit dengan memperhatikan besaran tarif
sebagaimana dimaksud pada ayat (2).
PASAL 51 UU N0 44/2009
Pendapatan Rumah Sakit Publik yang dikelolah Pemerintah dan Pemerintah Daerah digunakan
seluruhnya secara langsung untuk biaya operasional Rumah Sakit dan tidak dapat dijadikan
pendapatan negara atau daerah.
PASAL 54 UU N0 44/2009
1) Pemerintah dan Pemerintah Daerah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap Rumah
Sakit dengan melibatkan organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan organisasi

kemasyarakatan lainnya sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.


2) Pembinaan dan pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diarahkan untuk :
Pemenuhan kebutuhan pelayanan kesehatan yang terjangkau oleh masyarakat.
Peningkatan mutu pelayanan kesehatan
Keselamatan pasien
Pengembangan jangkauan layanan, dan
Peningkatan kemampuan kemandirian Rumah Sakit
3) Dalam melaksanakan tugas pengawasan, Pemerintah & Pemerintah Daerah mengangkat
tenaga pengawas sesuai kompetensi dan keahliannya.
4) Tenaga pengawas sebagaiman dimaksud pd ayat (3) melaksanakan pengawasan bersifat teknis
medis dan teknis perumahsakitan
5) Dalam rangka pembinaan dan pengawasan sebagaiman dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
Pemerintah dan Pemerintah Daerah dapat mengambil tindakan administrasi berupa :
Teguran
Teguran tertulis, dan/atau
Denda dan pencabutan izin
PASAL 55 UU N0 44/2009
1) Pembinaan dan pengawasan non teknis perumahsakitan yang melibatkan unsur masyarakat
dapat dilakukan secara internal dan eksternal
2) Pembinaan dan pengawasan secara internal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh Dewan Pengawas Rumah Sakit.
3) Pembinaan dan Pengawasan secara eksternal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
oleh badan pengawas Rumah Sakit Indinesia.
PASAL 56 UU N0 44/2009
1) Pemilik Rumah Sakit dapat membentuk Dewan Pengawas Rumah Sakit.
2) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimakud pada ayat (1) merupakan suatu unit non
struktural yang bersifat indefenden dan bertanggung jawab kepada pemilik Rumah Sakit.
3) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit terdiri dari unsur pemilik Rumah Sakit,
organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan tokoh masyarakat.
4) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit berjumlah 5 (lima) terdiri dari 1 (satu) orang
ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota.
5) Dewan Pengawas Rumah Sakit sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertigas :
Menentukan arah kebijakan Rumah Sakit
Menyetujui dan mengawasi pelaksanaan Renstra
Menilai dan menyetujui pelaksanaan anggaran.
Mengawasi pelaksanaan kendali mutu dan kendali biaya
Mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban pasien
Mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit
Mengawasi kebutuhan penerapan etika Rumah Sakit, etika profesi, dan peraturan perundangundangan.

PASAL 57 UU N0 44/2009
1) Pembinaan dan Pengawasan yang dimaksud pada pasal 54 ayat (2) dilakukan oleh Badan
Pengawas Rumah Sakit Indonesia yang ditetapkan oleh Menteri
2) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia bertanggung jawab kepada Menteri.
3) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia merupakan unit non struktural di kementrian yang
bertanggung jawab di bidang kesehatan dan dalam menjalankan tugasnya bersifat indefenden.
4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia berjumlah maksimal 5 (lima) orang
terdiri dari 1 (satu)
5) Keanggotaan Dewan Pengawas Rumah Sakit Indonesia terdiri dari unsur pemerintah,
organisasi profesi, asosiasi perumahsakitan, dan tokoh masyarakat.
6) Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dalam melaksanakan tugasnya dibantu sekretariat
yang dipimpin oleh seorang sekretaris.
7) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia dibebankan
kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.
PASAL 58 UU N0 44/2009
Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia :
Membuat pedoman tentang pengawasan Rumah Sakit untuk digunakan oleh Badan Pengawas
Rumah Sakit Provinsi :
Membentuk sistem pelaporan dan sistem informasi yang merupakan jejaring dari Badan
Pengawas Rumah Sakit Indonesia dan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi, dan
Melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dan
Pemerintah Daerah untuk digunakan sebagai bahan pembinaan.
PASAL 59 UU N0 44/2009
1) Badan pengawas Rumah Sakit dapat dibentuk ditingkat Provinsi oleh Gubernur dan
bertanggung jawab kepada Gubernur.
2) Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi merupakan unit non struktural pada Dinas Kesehatan
Provinsi dan dalam menjalankan tugasnya bersifat indefenden
3) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi terdiri dari unsur pemerintah, organisasi
profesi, asosiasi perumah sakitan, dan tokoh mayarakat.
4) Keanggotaan Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi berjumlah maksimal 5 (lima) terdiri dari
1 (satu) orang ketua merangkap anggota dan 4 (empat) orang anggota
5) Biaya untuk pelaksanaan tugas-tugas Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi dibebankan
kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah
PASAL 60 UU N0 44/2009
Badan Pengawas Rumah Sakit Provinsi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertugas :
Mengawasi dan menjaga hak & kewajiban pasien di wilayahnya
Mengawasi dan menjaga hak dan kewajiban Rumah Sakit di Wilayahnya
Mengawasi penerapan etika Rumah Sakit, etika profesi, dan pertuaran perundang-undangan
Melakukan pelaporan hasil pengawasan kepada Badan Pengawas Rumah Sakit Indonesia

Melakukan analisis hasil pengawasan dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah Daerah
untuk digunakan sebagai bahan pembinaan, dan
Menerima pengaduan dan melakukan upaya penyelesaian sengketa dengan cara mediasi.
PASAL 62 UU N0 44/2009
Setiap orang dengan sengaja menyelenggarakan Rumah Sakit tidak memiliki izin sebagaimana
dimaksud dalam pasal 25 UU N0 44/2009 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 2
(dua) tahun dan denda paling banyak
Rp. 5.000.000.000 (lima milyar rupiah.)
PASAL 63 UU N0 44/2009
Dalam hal tindak pidana sebagaiman dimaksud pada pasal 62 dilkukan oleh korporosi, selain
pidana penjara & denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi
berupa pidana denda dgn pemberatan 3 (tiga) kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud pada
pasal 62
Selain pidana denda sebagaiman dimaksud pada ayat (1), koorporasi dapat dijatuhi pidana
tambahan berupa
Pencabutan izin, dan/atau
Pencabutan status badan hukum
PERATURAN PELAKSANAAN
4 PERATURAN PEMERINTAH
1 PERATURAN PRESIDEN
14 PERATURAN MENKES