Anda di halaman 1dari 2

JANGAN TERKECOH BONUS DEMOGRAFI

Monday, 10 March 2014 01:53

Akhir akhir ini, dengan pengertian mendalam atau setengah tahu, bergulir diskusi tentang
kependudukan di Indonesia. Pengertian yang membawa dampak pada pengembangan
antisipasi pembangunan sosial ekonomi adalah bergulirnya istilah Bonus Demografi yang
konon akan terjadi pada tahun 2020-2030 dimana angka ketergantungan, yaitu proporsi
penduduk yang dianggap berada pada usia produktif dan penduduk yang tidak produktif
mencapai posisi yang paling menguntungkan. Proporsi yang menguntungkan itu akan
bermanfaat kalau pendudk usia produktif mempunyai pendidikan dan ketrampilan yang
memadai serta bekerja atau mempunyai usaha produktif. Kalau mereka mempunyai
pendidikan yang rendah dan tidak produktif, maka keuntungan proporsi yang
menguntungkan itu sesungguhnya tidak ada, atau tidak menguntungkan dan tidak harus
disebut
sebagai
bonus
tetapi
justru
menjadi
masalah.
Menurut penerbitan resmi BPS tentang Proyeksi Penduduk Indonesia, angka
ketergantungan yang terkecil adalah pada periode tahun 2030. Menurut istilah Demografi,
tahun inilah yang dianggap sebagai datangnya Bonus Demografi. Tetapi angka ini
sesungguhnya tidak banyak bedanya dengan asumsi sebelumnya untuk tahun 2015, 2020
dan 2025, yaitu masing-masing sebesar 48,6, 47,7 dan 47,2. Oleh karena itu,
sesungguhnya melimpahnya penduduk usia produktif itu sudah terjadi jauh hari sebelum
tahun 2030, bahkan sudah terjadi sejak keadaan kependudukan di Indonesia mulai
mengalami transisi demografi dimana pertumbuhan penduduk usia dewasa, 15 65 tahun,
melonjak keras gara-gara melambatnya pertumbuhan penduduk usia remaja dan kanakkanak karena keberhasilan program KB di Indonesia. Pada waktu itu pertumbuhan
penduduk dewasa melaju dengan cepat sementara pertumbuhan penduduk lansia juga
bertambah dengan lebih cepat namun jumlahnya relatif masih kecil, pengaruhnya juga
relatif
kecil.
Dari data resmi Proyeksi Penduduk BPS dapat kita lihat bahwa Proporsi Penduduk usia 15
64 tahun mulai tahun 2010 saja sudah diasumsikan berjumlah lebih dari 65,5 persen.
Artinya penduduk produktif sudah harus mendapat perhatian dalam bidang kesehatan dan
KB, pendidikan dan ketrampilan agar sebagian besar dapat diserap dalam lapangan kerja
dalam bidang jasa dan kewirausahaan. Proyeksi itu akan meningkat terus menjadi 67,3
persen di tahun 2015, 67,7 persen di tahun 2020, 67,9 persen di tahun 2025, 68,1 persen
di tahun 2030 dan 67,9 persen di tahun 2035. Angka-angka yang kelihatannya naik relatif
kecil itu, kalau dibaca septintas bisa juga menyesatkan karena angka presentase itu harus
dikalikan dengan jumlah penduduk yang diproyeksikan akan naik terus. Pada tahun 2010
BPS memakai angka jumlah penduduk 238,518 juta yang dinilai banyak pihak sebagai
angka yang under estimate. Dengan asumsi dasar itu angka jumlah penduduk untuk

tahun 2035 hanya menjadi 305,652 juta jiwa yang menurut banyak pihak akan
menempatkan pemerintah di masa depan hampir pasti gagal mengerem pertumbuhan
penduduk, karena akan terbukti bahwa jumlah penduduk di tahun itu akan lebih tinggi dari
proyeksinya.
Apapun proyeksi proporsi penduduk usia 15-64 tahun, angka presentase itu harus dikalikan
dengan jumlah penduduk. Artinya pertambahan jumlah penduduk usia 15-64 tahun akan
sangat tinggi dan tidak perlu ditunggu sampai tahun 2020 atau tahun 2030, penduduk muda
di Indonesia perlu segera diberikan pelayanan kesehatan yang prima, pendidikan dan
ketrampilan yang memadai serta kesempatan kerja yang jauh lebih besar setiap tahunnya.
Pemberitaan akan adanya Bonus Demografi yang disalah-artikan bisa menyesatkan karena
setiap pemangku kebijakan bisa saja menunggu sampai Bonus itu datang. Sementara,
selama bertahun-tahun menunggu atau sibuk mempersiapkan langkah-langkah
menyongsong datangnya bonus, sesungguhnya dewasa ini kondisi penduduk pada
kelompok penduduk muda sudah sangat gawat. Apalagi definisi bekerja tidak
menggambarkan
keadaan
yang
wajar.
Kegawatan itu ditambah lagi dengan asumsi BPS tentang tingkat kelahiran (TFR) yang
memakai angka 2,4 di tahun 2012, padahal menurut beberapa ahli sudah naik menjadi 2,6
atau 2,7 anak, sehingga bisa saja Proyeksi BPS itu menyenangkan pemerintah dewasa ini,
tetapi akan menyesatkan perkiraan karena pertumbuhan penduduknya rendah. Akibatnya,
pertumbuhan dan perkiraan jumlah penduduk di masa depan under estimate dan menjebak
para perencana pembangunan dengan perkiraan tantangan kebutuhan pelayanan
kesehatan, pendidikan dan lapangan kerja yang lebih rendah dari kebutuhan
sesungguhnya. Apalagi pertumbuhan penduduk pencari kerja di masa depan menjadi
terbuka karena adanya penduduk usia kerja dari berbagai negara yang juga mendapat
tekanan penduduk yang sama dan mencari kerja disini. Marilah mengembangkan
pembangunan berwawasan penduduk dan keluarga sekarang juga tanpa menunggu
Bonus Demografi yang bisa menyesatkan. (Prof. Dr. Haryono Suyono, Mantan Menteri
Kependudukan, www.haryono.com)