Anda di halaman 1dari 42

BAB 2

TIN JAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Hipertensi


Tekanan darah adalah desakan darah terhadap dinding arteri ketika darah
tersebut dipompa dari jantung ke jaringan. Tekanan darah mirip dengan tekanan air
(darah) di dalam pipa (arteri). Makin kuat aliran yang keluar dari keran (jantung)
makin besar tekanan air terhadap dinding pipa. Jika pipa tertekuk atau mengecil
diameternya (seperti pada arterosklerosis), maka tekanan darah akan sangat
meningkat. Tekanan darah dapat berubah-ubah sepanjang hari, sesuai dengan situasi.
Tekanan darah akan meningkat dalam keadaan gembira, cemas, atau sewaktu
melakukan aktivitas fisik. Setelah situasi ini berlalu, tekanan darah akan kembali
normal. Apabila tekanan darah tetap tinggi maka disebut tekanan darah tinggi atau
hipertensi (Hull, 1996).
Penyakit hipertensi atau yang lebih dikenal penyakit darah tinggi adalah
penyakit kronik akibat desakan darah yang berlebihan dan hampir konstan pada
arteri. Tekanan dihasilkan oleh kekuatan jantung ketika memompa darah. Hipertensi
berkaitan dengan meningkatnya tekanan pada arterial sistemik, baik diastolik
maupun sistolik, atau kedua-duanya secara terus-menerus (Hull, 1996). Hipertensi
merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang adalah 140 mmHg
(tekanan sistolik) dan/atau 90 mmHg (tekanan diastolic) (Joint National Committee
on Prevention Detection, Evaluation, and Treatment of High Pressure VII, 2003).

Tekanan sistolik menunjukkan fase darah yang dipompa oleh jantung dan tekanan
diastolik menunjukkan fase darah kembali ke dalam jantung (Depkes, 2006).
2.2 Epidemiologi Hipertensi
Hipertensi adalah suatu gangguan pada sistem peredaran darah yang
mengganggu kesehatan masyarakat. Umumnya, terjadi pada manusia yang berusia
setengah baya (> 40 tahun). Namun banyak yang tidak menyadari bahwa mereka
menderita hipertensi akibat gejalanya tidak nyata. Pada stadium awal, belum
menimbulkan gangguan yang serius. Sekitar 1,8% - 28,6% penduduk dewasa
penderita hipertensi. Menurut data WHO, di seluruh dunia, sekitar 972 juta orang
atau 26,4% penghuni bumi mengidap hipertensi, angka ini kemungkinan akan
meningkat menjadi 29,2% di tahun 2025. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta
berada di Negara maju dan 639 sisanya berada di Negara sedang berkembang,
termasuk Indonesia (Ana, 2007). Prevalensi hipertensi di Indonesia tercatat mencapai
31,7% dari populasi pada usia 18 tahun keatas dan dari jumlah tersebut 60%
penderita hipertensi akan menderita stroke, sementara sisanya akan mengalami
gangguan jantung, gagal ginjal dan kebutaan (Rikesdas, 2008). Hasil penelitian
Setiawan (2004) didapatkan hasil prevalensi hipertensi di Pulau Jawa adalah 41,9%.
Data Dinas Kesehatan Kota Kediri pada tahun 2010 terdapat 53.732 penderita
hipertensi dan menjadi peringkat ke-2 untuk total kelompok 10 besar data mordibitas.
Di wilayah kerja Puskesmas Sukorame, hipertensi merupakan rangking kedua dari 10
penyakit terbesar yang dilaporkan dengan jumlah 6.351 pasien yang datang berobat
selama tahun 2014. Jumlah kunjungan ke Puskesmas dari semua penyakit adalah

34.355 pasien, dengan demikian proporsi kunjungan penyakit hipertensi sebesar


18,5% (Puskesmas Sukorame, 2014)
2.3 Klasifikasi Hipertensi
Tekanan sistolik dan diastolik dapat bervariasi pada tingkat individu. Namun
disepakati bahwa hasil pengukuran tekanan darah yang sama atau lebih besar dari
140/90 mmHg adalah hipertensi (WHO, 1999 dan JNC, 2003).
Hipertensi menurut WHO-ISH tahun 1999 dapat dilihat pada tabel 2.1

Berdasarkan hasil berbagai studi eksperimental, kriteria operasional


hipertensi yang disepakati oleh para ahli adalah TDS 140 mmHg atau TDD 90
mmHg (MacMahon, 1990;WHO, 1996; Brown dan Haydock, 2000). Kriteria ini

digunakan secara luas di seluruh dunia, meskipun TDS (tekanan darah sistolik) 140
mmHg bukanlah nilai batas hipertensi pada semua penderita dewasa. Karena nilai
batas tersebut ternyata dipengaruhi oleh umur dan jenis kelamin secara independen
(Port, et al., 1999). Studi Farmingham menemukan bahwa kriteria hipertensi
meningkat sesuai peningkatan umur dan TDS wanita meningkat lebih cepat daripada
pria (Kodim, 2004).
Berdasarkan penyebabnya, hipertensi dapat dibedakan menjadi 2 golongan,
hipertensi essensial atau primer dan hipertensi sekunder. Hipertensi esensial (primer),
merupakan tipe paling umum, yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya
(idiopatik). Kurang lebih 90% penderita hipertensi tergolong hipertensi essensial
sedangkan 10% tergolong hipertensi sekunder. Sedangkan hipertensi sekunder
memiliki atribut patologis. 10% penderita hipertensi adalah hipertensi sekunder.
Penyebab umum hipertensi sekunder adalah kelainan ginjal (penyempitan arteri
ginjal/penyakit parenkim ginjal), kelenjar endokrin, berbagai obat, disfungsi organ,
tumor dan kehamilan hipertensi, gangguan kelenjar tiroid (hipertiroid), penyakit
kelenjar adrenal (hiperaldosteronisme) (Depkes, 2006).
2.4 Cara Pengukuran Tekanan Darah
Teknik pengukuran yang tepat dan teliti juga harus diperhatikan. Terdapat
dua cara pengukuran yaitu pengukuran oleh dokter atau petugas kesehatan di sarana
pelayanan kesehatan dan pengukuran sendiri di rumah baik dengan alat konvensional
maupun dengan ambulatory blood pressure monitoring (ABPM). Hipertensi tidak
dapat didiagnosis berdasarkan pengukuran tunggal. Penemuan kenaikan pada
pembacaan pertama harus dipastikan paling sedikit dua kunjungan berikutnya pada

satu atau beberapa minggu dengan nilai rata-rata tekanan diastolic 90 mmHg dan
sistolik 140 mmHg/lebih (Lubis, 1989 dan Kaplan 1994). Teknik pengukuran yang
direkomendasikan oleh JNC VI adalah sebagai berikut. Penderita harus duduk
dengan penyangga lengan, bersandar dan sejajar dengan letak jantung. Penderita
tidak boleh merokok dan minum kopi 30 menit sebelum pengukuran. Pengukuran
dimulai setelah penderita istirahat selama 5 menit. Ukuran manset harus sesuai
dengan lengan penderita yang paling sedikit 80% lebar manset harus dapat menutupi
lingkar lengan. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat terdengan bunyi pertama
(korotkoff I), sedangkan tekanan diastolic adalah tekanan darah saat bunyi
menghilang (korotkoff V). Pembacaan dilakukan 2 kali/ lebih dengan waktu antara 2
menit (JNC VI, 1996).
2.5 Patofisiologi
Tekanan darah dipengaruhi oleh curah jantung dan tekanan perifer. Faktor
genetik, aktivasi syaraf simpatis, faktor hemodinamik, metabolisme natrium, faktor
renin, angiotensin, dan aldosteron merupakan faktor-faktor yang telah dibuktikan
mempunyai kaitan dengan peningkatan tekanan darah pada hipertensi (Soeparman et
al., 1994 ; Kaplan, 1990). Pada lanjut usia, perubahan struktural dan fungsional pada
pembuluh perifer bertanggung jawab terhadap perubahan tekanan darah. Perubahan
tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan
dalam relaksasi otot polos pembuluh darah yang pada gilirannya menurunkan
kemampuan distensi dan daya tegang pembuluh darah (Smeltzer S. & Bare B, 2001).
2.6 Diagnosa Hipertensi

Diagnosa hipertensi ditegakkan berdasarkan anamesis, pemeriksaan fisik, dan


pemeriksaan penunjang. Anamnesis meliputi keluhan yang sering dialami, lama
hipertensi, ukuran tekanan darah selama ini, riwayat pengobatan dan kepatuhan
berobat, gaya hidup, riwayat penyakit penyerta dan riwayat keluarga. Pemeriksaan
fisik terdiri atas pengukuran tekanan darah, pemeriksaan umum dan pemeriksaan
khusus organ serta funduskopi (Zulkhair, 2000).
Peninggian tekanan darah seringkali merupakan satu-satunya tanda klinis
hipertensi esensial, sehingga diperlukan pengukuran tekanan darah secara akurat.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingginya tekanan darah adalah : faktor
pasien, faktor alat dan tempat pengukuran. Agar didapat pengukuran yang akurat,
sebaiknya pengukuran dilakukan setelah pasien beristirahat dengan cukup, minimal
setelah 5 menit berbaring dan dilakukan pada posisi berbaring, duduk dan berdiri
sebanyak 3-4 kali pemeriksaan, dengan interval antara 5-10 menit. Tempat
pemeriksaan dapat pula mempengaruhi hasil pengukuran. Pengukuran di tempat
praktek, biasanya mendapatkan hasil yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
pengukuran di rumah. Hasil pengukuran lebih tinggi di tempat praktek disebut office
hypertension. Mengingat hal tersebut di atas, untuk keperluan follow up pengobatan
sebaiknya dipakai pegangan hasil pengukuran tekanan darah di rumah. Pengukuran
yang pertama kali belum dapat memastikan adanya hipertensi, akan tetapi dapat
merupakan petunjuk untuk dilakukan observasi lebih lanjut (id.novartis.com).

2.7 Gejala Klinis Hipertensi

Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari bahwa tekanan darah


mereka meniggi. Selain tidak adanya gejala pada orang tersebut, juga disebabkan
oleh sikap acuh tak acuh dari penderita tersebut. Oleh karena itu amat sulit
memotivasi penderita untuk minum obat, apalagi untuk jangka panjang, sedang
penderita tidak merasakan sesuatu gangguan kesehatan. Gejala baru timbul sesudah
terjadi komplikasi pada organ target seperti ginjal, mata, otak, dan jantung. Gejala
klihis dapat berupa rasa lelah, sukar tidur, pusing, sakit kepala, gangguan fungsi
ginjal, gangguan penglihatan, gangguan serebral atau gejala akibat pendarahan
pembuluh darah otak berupa kelumpuhan, gangguan kesadaran bahkan sampai koma.
Penelitian di klinik hipertensi di Paris pada penderita hipertensi yang tidak diobati
ditemukan gejala sakit kepala (40,5%), palpitasi (28,5%), nokturia (20,4%), migren
(20,8%), dan tinnitus (13,8%) (Kaplan,1994).
Ada gejala klinis yang tidak boleh diabaikan karena berhubungan dengan
organ-organ (Smith, 1991 dalam Wahyuni 2000), yaitu serangan pusing, kekakuan,
kehilangan keseimbangan, sakit kepala pagi hari, penglihatan memburuk yang
semuanya secara bersama-sama menunjukkan ada masalah dengan peredaran darah
di otak, kelumpuhan anggota badan, khususnya sebelah badan atau salah satu bagian
muka atau salah satu bagian tangan, kemampuan bicara menurun dan dapat menjadi
peringatan adanya stroke yang jika diobati dapat dicegah, terengah-engah pada waktu
latihan jasmani, dengan rasa sakit pada dada yang menjalar ke rahang, lengan,
punggung atau perut bagian atas menjadi tanda permulaan angina, susah bernapas,
sehingga merasa lebih mudah bernapas jika tidak berbaring datar, dengan gembung
pada kaki, dapat menjadi tanda lain yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi,

kegagalan jantung, dan sering bangun tiap malam untuk buang air kecil dan lebih
banyak serta sering mengeluarkan urin selama siang hari dapat menjadi tanda
pertama gangguan ginjal.
2.8 Masalah Hipertensi
Hipertensi adalah keadaan peningkatan tekanan darah yang memberi gejala
yang akan berlanjut untuk suatu target organ seperti stroke (untuk otak) dan penyakit
jantung koroner (untuk pembuluh darah jantung). Dengan target organ di otak yang
berupa stroke, hipertensi adalah penyebab utama stroke yang membawa kematian
yang tinggi (Bustan, 2000). Sekitar 50% penderita hipertensi tidak menyadari adanya
hipertensi sehingga penderita yang dapat diobati dalam arti hipertensinya
terkendalikan dengan baik, hanya sekitar 10-12% (Rahardjo, 1991).
Keadaan hipertensi menekankan jantung bekerja lebih berat untuk memompa
darah, volume jantung membesar dan dinding menipis sehingga akhirnya
menyebabkan gagal jantung, dan terhadap organ mata menyebabkan pendarahan
pada mata sehingga buta dan gangguan lainnya. Komplikasi lain dari hipertensi yaitu
pendarahan, infark cerebral, pendarahan pembuluh darah otak yang berupa
kelumpuhan, gangguan kesadaran bahkan sampai koma, trombosis, retinopati
hipertensif pada mata, nefrosklerosis pada ginjal dan kegagalan faal ginjal (Sadana,
1994; Sidabutar, et.al, 1990).
Masalah utama hipertensi adalah bahwa > 90% hipertensi termasuk golongan
esensial, yaitu yang tidak atau belum diketahui sebabnya.,75% termasuk hipertensi
ringan (diastolik 90-105 mmHg) dan bila digabung dengan hipertensi sedang (105-

115 mmHg) berjumlah > 90% penderita. Keadaan ini mempunyai kaitan dengan
kebijaksanaan tatalaksana terapinya, karena menyangkut jumlah populasi yang besar
dan beban masyarakat yang berat bila terapi tidak direncanakan dengan sesakma
(Rahardjo, 1991).
2.9 Penyebab Hipertensi
Hipertensi digolongkan sebagai penyakit kultur, yaitu penyakit yang terkait
dengan pola hidup kurang gerak (sedentary life style) dan pola makan siap saji yang
mengandung lemak, protein, dan garam tinggi namun rendah serat (dietary fiber)
(Nadesul, 2005). Faktor-faktor yang menyebabkan hipertensi terbagi menjadi dua
bagian yaitu faktor yang dapat dikontrol dan faktor yang tidak dapat dikontrol.
Faktor yang dapat dikontrol antara lain obesitas, dislipidemia, stres, aktivitas fisik,
merokok, konsumsi garam yang berlebihan, dietetik, kebiasaan makan, dan konsumsi
alkohol. Faktor yang tidak dapat dikontrol antara lain umur, jenis kelamin, keturunan
(Hull, 1996; Janssen, et.al, 2002; Karyadi 2000; Bustan & Nur 1999; Sadana 1994),
dan pemakaian pil kontrasepsi pada wanita (Bustan & Nur 1999). Faktor-faktor yang
menyebabkan hipertensi lainnya yaitu suku, kebiasaan berolahraga, dan pendidikan
(Sadana, 1994). Kemudian menurut Kamso (2000), hiperensi berhubungan dengan
perubahan komposisi tubuh, asupan makanan, dan faktor emosi (Kusmana, 1997)
dan gaya hidup. Meningkatnya kematian akibat dari penyakit kardiovaskuler
menurut beberapa ahli dan studi sangat berhubungan dengan perubahan pola makan,
gaya hidup dan faktor stres (Suwandono & Ni Ketut, 1998). Sementara Edi S.N
(1996) mengatakan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap berkembangnya
hipertensi adalah resultansi dari beberapa faktor yakni umur, jenis kelamin,

keturunan, obesitas, konsumsi garam, alkohol, pemakaian kontrasepsi, geografik dan


lingkungan (Azwar, 1999). Berhubung lebih dari 90% penderita hipertensi
digolongkan atau disebabkan oleh hipertensi primer, maka secara umum yang
disebut hipertensi adalah hipertensi primer (essensial).
2.10 Faktor-Faktor Resiko Hipertensi
1. Faktor Demografi
a. Umur
Pada umumnya tekanan darah naik dengan bertambahnya umur terutama
setelah umur 40 tahun (Depkes, 2006). Sejalan dengan proses pertambahan umur,
resiko seseorang terkena penyakit kardiovaskular meningkat. Hal ini dikarenakan
efisiensi sistem kardiovaskular mengalami penurunan dan masalah-masalah yang
berhubungan dengan fungsi sistem tersebut (Black, 1992; Patel, 1995). Survei
epidemiologi menunjukkan bahwa umur merupakan satu dari prediktor terkuat
terjadinya penyakit kardiovaskular termasuk hipertensi. Faktor resiko penyakit
hipertensi berkembang setelah umur mencapai 45 tahun (Black, 1992).
Tekanan sistole yang cenderung naik seiring pertambahan usia menjadi
penyebab besarnya prevalensi hipertensi pada usia di atas 40 tahun. Peningkatan
tekanan sistolik ini terjadi diawali dengan terjadinya kekakuan pembuluh darah arteri
yang belum berbahaya (Kannel, 1990). Menurut Gutewiller et al., dengan
bertambahnya umur, secara perlahan-lahan akan menghilang kemampuan jaringan
tubuh untuk memperbaiki /mengganti diri dan mempertahankan struktur dan fungsi
normalnya, sehingga akan makin banyak timbul distorsi metabolik dan struktural,
yang disebut sebagai penyakit degeneratif, termasuk salah satunya hipertensi

(Darmodjo, 1999). Orang dengan tekanan darah normal pada usia 55 tahun, 90 %
akan berkembang menjadi hipertensi pada 25 tahun ke depan (US Departement
Health & Human Services, 2003).
Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya umur,
resiko tekanan hipertensi menjadi lebih besar sehingga prevalensi hipertensi di
kalangan usia lanjut cukup tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar di atas
65 tahun. Pada usia lanjut, hipertensi terutama ditemukan hanya berupa kenaikan
tekanan darah sistolik. Sedangkan menurut WHO memakai tekanan diastolik sebagai
bagian tekanan yang lebih tepat dipakai dalam menentukan ada tidaknya hipertensi.
Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur, disebabkan oleh perubahan
struktur pada pembuluh darah besar, sehingga lumen menjadi lebih sempit dan
dinding pembuluh darah menjadi lebih kaku, sebagai akibat adalah meningkatnya
takanan darah sistolik (Depkes, 2006).
Prevalensi hipertensi di Indonesia pada golongan umur di bawah 40 tahun
masih berada di bawah 10%, tetapi di atas umur 50 tahun angka tersebut terus
meningkat mencapai 20% hingga 30%, sehingga ini sudah menjadi masalah serius
untuk diperhatikan (Depkes, 2000). Penelitian yang dilakukan di 6 kota besar seperti
Jakarta, Padang, Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan Makasar terhadap usia lanjut
(55-85 tahun), didapatkan prevalensi hipertensi sebesar 52,5% (Kamso, 2000).
Kelleher, (1992) mendapatkan prevalensi hipertensi pada lansia sebesar 40%. Pada
NHANES III (The third national Health and Nutrition Examination Survey), dimana
telah diadakan sebuah penelitian dengan mengambil populasi warga sipil US yang
noninstitusional sebanyak 9901 orang yang berusia 18 tahun keatas atau lebih,

menghasilkan keadaan bahwa prevalen hipertensi meningkat bersamaan dengan


meningkatnya umur dalam setiap jenis kelamin dan ras (He, Jiang and Whelton, Paul
K, 1997).
b. Jenis Kelamin
Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih
banyak yang menderita hipertensi dibandingkan dengan wanita, dengan rasio sekitar
2,29 untuk kenaikan tekanan darah sistolik dan 3,76 untuk kenaikan tekanan darah
diastolik. Pria diduga memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan
tekanan darah dibandingkan dengan wanita. Namun, setelah memasuki menopause,
prevalensi hipertensi pada wanita tinggi. Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh
faktor hormonal. Penelitian di Indonesia angka prevalensi yang lebih tinggi terdapat
pada wanita (Depkes, 2006). Laki-laki disebutkan mempunyai resiko menderita
hipertensi lebih besar dari perempuan (Fisher & Williams, 2005). Hal ini disebabkan
karena pekerjaan dan perilaku perempuan dianggap lebih tidak beresiko, dan
berperilaku sehat (Matlin, 1999). Selain itu pria diduga memiliki gaya hidup yang
cenderung dapat meningkatkan tekanan darah dibandingkan dengan wanita (Karyadi,
2002). Selain itu angka istirahat jantung dan indeks kardiak pada pria lebih rendah
dan tekanan peripheralnya lebih tinggi jika dibandingkan dengan perempuan
pramonopouse pada level tekanan arteri yang sama. Pria juga merespon suatu latihan
beban dengan kenaikan tekanan arteri lebih besar. Setelah manapouse tidak
ditemukan perbedaan hemodinamik antara perempuan sehingga prevalen hipertensi
tidak jauh berbeda (Masserli, 1997). Hal ini ditunjukkan ketika tekanan darah diukur

melalui ambulatory monitoring selama 24 jam, hasil menunjukkan bahwa tekanan


darah laki-laki lebih tinggi daripada perempuan, pada kelompok umur yang sama.
Akan tetapi setelah monopouse tekanan darah perempuan akan meningkat, bahkan
jauh lebih tinggi daripada laki-laki (http://hyper.ahajornals.org/hypertension
abstracts reckelhoff 37 (5) 1199.htm). Bahkan setelah usia 65 tahun, terjadinya
hipertensi pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh
faktor hormonal (Pratiwi, 2004).
Hasil penelitian Boedhi Darmojo, dkk tahun 1989 menemukan bahwa
prevalen hipertensi pada perempuan (16,0%) lebih besar daripada laki-laki (13,6%).
Begitu pula di berbagai daerah di Indonesia ditemukan bahwa perempuan
mempunyai prevalen hipertensi lebih besar daripada laki-laki (Darmojo, 1994). Para
peneliti menghubungkan hal tersebut terhadap penurunan hormone estrogen
sepanjang monopouse yang dimulai setelah umur mencapai kira-kira 50 tahun.
Estrogen dihubungkan dengan tingkat HDL yang lebih tinggi dan LDL yang lebih
rendah (Soeharto, 2002)
c. Keturunan
Salah satu faktor hipertensi esensial adalah tingginya peranan faktor
keturunan yang mempengaruhi. Ini dapat terlihat antara lain dengan adanya
penggolongan hipertensi berdasarkan pada anggota keluarga derajat pertama (orang
tua, saudara sekandung, anak). Orang yang ada kejadian hipertensi dalam
keluarganya mempunyai resiko untuk mendapat hipertensi lebih besar daripada yang
tidak mempunyai hipertensi dalam keluarganya (Darmojo, 1994). Tentunya faktor
genetik ini juga dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain, yang kemudian

menyebabkan sesorang menderita hipertensi. Faktor genetik juga berkaitan dengan


metabolisme pengaturan garam dan renin membran sel (Depkes, 2006). Menurut
Davidson bila kedua orang tuanya menderita hipertensi maka sekitar 45% akan turun
ke anak-anaknya dan bila salah satu orang tuanya yang menderita hipertensi maka
sekitar 30% akan turun ke anak-anaknya (Depkes, 2006).
Dari hasil penelitian, diungkapakan bahwa jika seseorang mempunyai orang
tua yang salah satunya menderita hipertensi maka orang tersebut mempunyai resiko
lebih besar untuk terkena hipertensi daripada orang yang kedua orang tuanya normal
(tidak hipertensi). Kaplan, 1983 menyatakan bahwa kemungkinan untuk menderita
hipertensi pada seseorang yang orang tuanya mempunyai riwayat hipertensi sebesar
2 kali lipat dibandingkan dengan orang lain yang tidak mempunyai riwayat hipertensi
pada orang tuanya. Abdulrochim, 1982 menyatakan bahwa kembar monocygot
menunjukkan korelasi yang tinggi, baik tekanan sistolik maupun diastolik bila
dibandingkan dengan anggota keluarga lain.
Hasil penelitian pada 514 individu yang berasal dari 135 keluarga di
Chuvasha, Rusia menunjukkan bahwa variasi tekanan darah sistolik dan tekanan
darah diastolik dipengaruhi oleh faktor genetik (http://hyper.ahajornals.org/
hypertension abstracts Livshits and Gerber 37 (3) 928.htm). Berdasarkan penelitian
dr. Daniel S Seidman dari rumah sakit CarmelHaifa-Israel, pada 11.428 anak lakilaki dan perempuan berusai 17 tahun, yang disampaikan pada pertemuan
perkumpulan international untuk studi hipertensi pada masa kehamilan di Seatle, AS,
bulan Agustus 2000, didapatkan hasil bahwa anak laki-laki yang ibunya menderita

darah tinggi ketika mengandung, mempunyai hampir dua kali lipat kemungkinan
terkena darah tinggi (http://www.kompas.com/9609/22/IPTEK/hipe.htm).
d. Suku / Golongan Etnik
Berbagai golongan etnik dapat berbeda dalam kebiasaan makan, genetika,
gaya hidup, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan angka kesakitan dan
kematian (Sutrisna, 1994). Pada kelompok orang dewasa di Amerika, kenaikan
tekanan darah seiring umur dijumpai lebih banyak pada orang berkulit hitam
daripada orang kulit putih (Kaplan, 1994). Besar variasi antar suku di Indonesia,
Lembah Baliem Jaya (0,6 %), Sukabumi, Jawa Barat (28,6%) (Darmojo, 1994).
e. Status Sosial Ekonomi
Hipertensi dikenal juga sebagai heterogeneous group of disease karena
dapat menyerang siapa saja dari berbagai kelompok umur dan sosial ekonomi
(Astawan, 2005). Menurut Sutrisna (1994), yang dimaksud status sosial ekonomi
yaitu tingkat pendidikan, jenis pekerjaan dan status perkawinan. Hal tersebut dapat
mempengaruhi berbagai aspek kehidupan termasuk pemeliharaan kesehatan, maka
tidak mengherankan jika ada perbedaan-perbedaan dalam angka kesakitan atau
kematian antara berbagai kelas sosial. Status sosial ekonomi seseorang, dapat
mempengaruhi munculnya hipertensi, seperti misalnya pekerjaan, jumlah anggota
dalam keluarga dan kepadatan penduduk (Fisher & Williams, 2005). Sementara
Matlin menambahkan dengan pendidikan, pendapatan, dan kebanggan (prestise)
keluarga. Stress sosial ekonomi merupakan prediktor yang paling baik untuk umur
harapan hidup, kesehatan, dan kesakitan (Matlin, 1999).

Faktor pelayanan kesehatan (pencegahan, perawatan, dan rehabilitasi serta


faktor perilaku (sikap dan perbuatan, serta adat istiadat) mempengaruhi status
kesehatan masnusia (Blum, 1983). WHO menyebutkan selain melalui perilaku diet,
aktifitas fisik, dan konsumsi alkohol, tingkat sosial ekonomi berpengaruh terhadap
hipertensi melalui akses pada fasilitas kesehatan. Akses pada pelayanan kesehatan
yang meliputi program promosi kesehatan, program pencegahan, dan program
pengobatan berpengaruh secara sinergik terhadap hipertensi. Pemanfaatan fasilitas
pelayanan kesehatan ini dipengaruhi oleh tingkat pendidikan, jarak dari jalan raya,
pengalaman sebelumnya, umur, dan jumlah aanggota keluarga (Kodim, 2004).
Kualitas pelayanan kesehatan lebih sering terpaku pada pembiayaan
pelayanan kesehatan. Di Indonesia biaya pelayanan kesehatan atau biaya
pelayanan
medis makin lama semakin tinggi, dan kenaikan biaya itu akan menjadi baban yang
berat selama sistem pembayaran pelayanan medis dibayar oleh pribadi secara tunai
(M.Imam Basuki dalam Wiknjosastro, 1993). Penelitian yang dilakukan oleh
Moriyana, Krueger dan Stamler (1971) dalam Khairani (2003) menunjukkan bahwa
semakin rendah tingkat pendidikan maka semakin tinggi tekanan darah. Darmojo
(1994) menyatakan bahwa Dyer dkk (1976) dan Marmot (1979) telah melaporkan
bahwa data epidemiologi menunjukkan bahwa tekanan darah mempunyai tendesi
lebih tinggi pada golongan pendidikan sosial ekonomi rendah. Ternyata Kartari dkk
(1988) dalam Darmojo (1994) memang menemukan prevalensi yang tinggi di
kalangan penduduk yang buta huruf (18,9%) tetapi angka yang tertinggi, seperti yang

diharapkan, ditemui pada golongan pekerja administrasi dan manajer (25,0%). Pada
kaum pengangguran ditemukan prevalensi hipertensi sebesar 9,6%.
f. Geografi dan Lingkungan
Pada kebanyakan tempat di dunia dapat dibedakan tiga macam keadaan iklim.
Salah satunya iklim laut dengan sifat khasnya sering terjadi putaran udara karena
kuatnya angin sepanjang pantai yang menyebabkan efek penyejuk pada badan
manusia, dan intensitas yang besar dari sinar radiasi matahari yang terpantul. Sinar
radiasi matahari yang berlebihan dapat menyebabkan kegugupan, hilangnya nafsu
makan, mual, lelah, pusing, dan susah tidur (Slamet, 1998). Terdapat pula perubahan
suhu harian dan musim yang relatif kecil dibandingkan dengan daerah pedalaman,
kelembaban yang lebih besar, dan kadar trace element yang lebih tinggi seperti ozon,
iodium dan megnesium serta kadar renik polusi udara selama angin laut yang kuat
tetap berhembus

(Karhiwikarta, 1998).

Iklim pegunungan (dataran tinggi)

mempunyai kekhususannya pula, yaitu terdapat perbedaan dan lebih intensifnya


spektrum radiasi matahari. Di atas 2000 m bahkan gelombang 278 m, yaitu sinar
ultraviolet, dapat mencapai badan kita. Radiasi ultraviolet yang kuat, dapat
menyebabkan bertambahnya sekresi asam lambung, kalsium dan fosfat serum darah.
Cekaman cuaca dingin menyebabkan kenaikan produksi 17 ketosteroid oleh korteks
kelenjar adrenal dan meningginya daya resistensi, sedangkan cuaca panas
menyebabkan kadar 17-ketosteroid rendah, dan merendahkan pula resistensi tubuh
(Karhiwikarta, 1998).
Berbagai reaksi fisiologis dan bahkan gejala patologis tubuh dapat terjadi
karena perubahan cuaca. Sehubungan dengan hal ini penting pengaruh cuaca pada

daya tahan setempat (local resistance) maupun umum terhadap penyakit infeksi.
Daya tahan setempat yang berupa resistensi pembuluh darah kapiler misalnya,
menurun (permeabilitas bertambah) setelah adanya aliran udara panas (heat sterss)
dan sebaliknya bertambah setelah adanya aliran dingin. Daya tahan umum yang
berupa perubahan kimia darah kemungkinan ada hubungannya dengan perubahan
pola makanan sesuai dengan musim (Karhiwikarta, 1998). Daya tubuh seseorang
sangat dipengaruhi oleh kecukupan gizi, aktivitas, dan istirahat. Dalam hidup modern
yang penuh kesibukan juga membuat orang kurang berolahraga dan berusaha
mengatasi stresnya dengan merokok, minum alkohol, atau kopi sehingga daya tahan
tubuh menjadi menurun dan memiliki resiko terjadinya penyakit hipertensi.
Kuhnke (1956) dalam Karhiwikarta, 1998, di Jerman telah mencoba
menghubungkan gejala-gejala tadi dengan keadaan atmosfir beserta perubahanperubahannya di satu pihak dan situasi cuaca umumnya di pihak lain. Pada
kombinasi keadaan atmosfir dan situasi cuaca tertentu secara empiris statistis
terdapat gejala yang menonjol dari kelelahan umum dan kelelahan subjektif seperti
keluahan penyakit jantung dan peredaran darah, keadaan spasme dan kolik, peristiwa
kematian, infark jantung, peninggian peristiwa ke arah perdarahan, perlambatan
waktu reaksi dan bertambahnya angka kecelakaan Dari hasil-hasil tersebut, terutama
dipandang dari masalah kemampuan kerja, Kuhnke dan Schulze (1962) dalam
Karhiwikarta, 1998 menyimpulkan terdapat tiga jenis situasi cuaca di Eropa Tengah
yaitu salah satunya situasi yang jelas mengakibatkan penurunan fungsi-fungsi tubuh,
yaitu keadaan cuaca yang umumnya disertai dengan pengaruh (adveksi) yang kuat
dari udara tropik. Pada situasi cuaca ini didapat presentase tinggi dari penduduk

merasa lemah dan lelah disertai berkurangnya keinginan kerja dan konsentrasi,
terutama jenis kerja yang memerlukan usaha lama.
Lehman (1964) dalam Karhiwikarta, 1998 menekankan bahwa rendahnya
prestasi kerja penduduk tropis bukanlah suatu hal yang berhubungan dengan bakat
pemalas (indolen), karena dapat pula dialami oleh kaum pendatang yang tinggal lama
di daerah tropis. Sebab primernya adalah menurunnya kebugaran jasmani atau
kapasitas kerja fisik dan daya aklimatisasi (adaptasi) sebagai akibat terbatasnya gerak
atau aktivitas fisik karena pengaruh iklim panas dan lembab. Namun diingatkan pula
bahwa keadaan tersebut dalam jangka waktu lama dapat pula mempengaruhi mental
psikologis, sosial-budaya, dan ekonomis.
Secara alamiah manusia berinteraksi dengan lingkungannya. Manusia
bernapas udara sekitarnya setiap detik. Makanan manusia diambil dari sekitarnya,
demikian pula minuman, pakaian, dan lain sebagainya. Tergantung dari taraf
budayanya, manusia dapat sangat erat atau kurang erat hubunganya dengan
lingkungan. Natrium merupakan salah satu parameter kimiawi syarat air minum.
Natrium elemental (Na) sangat reaktif, karenanya bila berada di dalam air akan
terdapat sebagai suatu senyawa. Natrium sendiri bagi tubuh tidak mrupakan benda
asing, tetapi toxixitasnya tergantung pada gugus senyawanya. Seperti NaOH atau
hidrixida Na ini sangat korosif, tetapi NaCl justru dibutuhkan oleh tubuh (Slamet,
2000).
Prevalensi hipertensi pada penduduk di daerah pentai lebih tinggi daripada
penduduk di daerah pegunungan atau pedalaman. Prevalensi hipertensi pada orangorang yang melakukan migrasi akan sangat berbeda dengan prevalensi hipertensi di

daerah asalnya (Abdulrochim, 1982; Bustan, 2000). Terdapatnya perbedaan keadaan


geografis, dimana daerah pantai lebih berisiko terjadinya penyakit hipertensi
dibading dengan daerah pegunungan, karena daerah pantai lebih banyak terdapat
natrium bersama klorida dalam garam dapur sehingga konsumsi natrium pada
penduduk pantai lebih besar dari pada daerah pegunungan (Slamet, 2000). Garam
sangat berperan dalam patofisiologi hipertensi. Pada penduduk yang mengkonsumsi
garam minimal (< 3 gr/hr) hipertensi hampir tidak pernah ditemukan, sedangkan
pada penduduk yang mengkonsumsi garam antara 515 gr/hr prevalensi hipertensi
meningkat menjadi 15-20 %. Dengan demikian dapat dijelaskan kenapa masyarakat
pantai mempunyai resiko yang lebih tinggi terkena hipertensi dibandingkan
masyarakat pegunungan (Soeparman,et al., 1994).
2. Faktor Status Kesehatan
a. Kegemukan (Obesitas)
Rasio berat terhadap tinggi badan mengindikasikan berat badan yang terkait
dengan tinggi badan. Rasio ini berguna untuk mengukur gizi lebih dan obesitas
dalam populasi orang dewasa. Selanjutnya rasio ini terkadang mengarah pada
indikator obesitas (Gibson, 2005). Seseorang dikatakan kelebihan berat badan atau
kegemukan apabila berat badanya melebihi 10-20 % dari berat badan normal
(Soeharto, 2004). Obesitas akan menambah beban kerja jantung. Keadaan ini
meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi, kencing manis, dan kolesterol
(Depkes, 2006). Obesitas adalah persentase abnormalitas lemak yang dinyatakan
dalam IMT yaitu perbandingan antara berat badan dengan tinggi badan dalam meter

kuadrat (Kaplan & Stamler, 1991). Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan
kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh beberapa studi. Berat badan dan IMT
berkolerasi langsung dengan tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik.
Kelebihan berat badan dan obesitas adalah problem kesehatan yang paling
sering pada masyarakat maju atau bisa disebut orang yang mampu, namun bukan
berarti masyarakat sosial ekonomi rendah terlepas dari masalah ini. Menurut
penelitian di Australia obesitas mengakibatkan 2/3 penyakit diabetes tipe 2 dan
mengakibatkan 1/3 jumlah penderita hipertensi. Orang obesitas juga diperkirakan
akan meninggal dua kali lebih cepat dari orang dengan berat badan normal (State
Goverment of Victoria, 2004 dalam Depkes RI 2006).
Dari hasil penyelidikan epidemiologi terbukti bahwa obesitas merupakan ciri
khas pada populasi hipertensi (Soeparman et.al., 1994). Obesitas mempunyai
hubungan yang erat dengan prevalens hipertensi dan meningkatnya insidens
hpertensi ketika berat badan bertambah (Kaplan et al., 1990). Mekanisme pasti yang
menjelaskan hubungan antara obesitas dan hipertensi belum ada, namun pada
beberapa penelitian diperoleh bahwa curah jantung dan sirkulasi hipertensi dengan
berat badan normal. Pada obesitas, tekanan perifer berkurang atau normal, aktivitas
syaraf simpatis meninggi dan aktivitas renin plasma rendah (Soeparman et al.,
1994). Resiko relatif untuk menderita hipertensi pada orang-orang gemuk 5 kali lebih
tinggi dibandingkan dengan seseorang yang berat badannya normal. Sedangkan pada
penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-23% memiliki berat badan lebih
(overweight). Penentuan obesitas pada orang dewasa dapat dilakukan pengukuran
berat badan ideal, pengukuran persentase lemak tubuh dan pengukuran IMT. Pada

studi-studi populasi IMT banyak digunakan untuk mengukur resiko penyakit di


antara orang dewasa (Gibson, 2005). Pengukuran berdasarkan IMT dianjurkan oleh
FAO, WHO, UNU tahun 1985. Nilai IMT dihitung menurut rumus (Depkes, 2006):
2

IMT = BB dalam kg / TB (dalam m )

Tabel batas ambang diatas telah dimodifikasi lagi berdasarkan pengalaman


dan hasil penelitian di beberapa negara berkembang (Depkes, 2006). Peningkatan
IMT berhubungan dengan peningkatan resiko hipertensi, diabetes mellitus tipe 2,
faktor resiko penyakit kardiovaskular, dan kematian. Tentu saja resiko relatif
penyakit kardiovaskular beserta factor resikonya menigkat seiring dengan
peningkatan level IMT pada semua populasi (Gibson, 2005). Orang-orang dengan
obesitas mempunyai kelebihan penyimpanan lemak di bawah kulit, dada, dan
abdomen. Lemak merupakan simpanan energi tubuh dan berasal dari makanan yang

mengandung lemak, karbohidrat, dan protein. Jika tubuh tidak membakar kelebihan
kalori, maka tubuh akan menyimpan kelebihan kalori sebagai lemak di dalam tubuh.
Pada orang yang kelebihan berat badan jantung akan bekerja lebih keras untuk
menyuplai darah (Patel, 2005). Jumlah lemak pada laki-laki dewasa rata-rata berkisar
antara 15-20% dari berat badan total dan pada wanita sekitar 20-25 %. Jumlah lemak
pada tubuh seseorang umunya meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, yang
umunya

disebabkan

oleh

semakin

melambatnya

metabolisme

tubuh

dan

berkurangnya aktifitas fisik (Soeharto, 2004).


Kegemukan pada umumnya terjadi karena usia, ketidakseimbangan energi
yang masuk dan yang keluar, genetik, penggunaan pil/injeksi KB, dan psikologis
(Salma & Padri, 2004). Umur memberikan hubungan korelasi positif terhadap indeks
masa tubuh (IMT). Hal ini sejalan dengan penelitian Mawi (2004) dalam Mukhlisa
2007 di Jakarta Utara dan Jakarta Timur yang menunjukkan bahwa setelah usia 50
tahun IMT semakin meningkat seiring dengan pertambahan usia, baik pada laki-laki
maupun perempuan. Kaplan (2000) menemukan bahwa hanya dengan menurunkan
berat badan, yoga, dan relaksasi otot dapat menurunkan tekanan darah secara
signifikan
Kegemukan adalah faktor resiko hipertensi yang kuat dan independen pada
semua ras dan kelompok sosial ekonomi. Penambahan berat juga memiliki kontribusi
pada banyak peningkatan tekanan darah pada usia lanjut dan kegemukan menjadi
salah satu prediksi terbaik resiko dari perkembangan hipertensi. Pada suatu studi
kohort didapatkan bahwa responden dengan kelebihan berat 5 kg, 60% lebih besar
mendapatkan resiko relatif terjadinya hipertensi dibandingkan responden tidak

mempunyai kelebihan berat badan atau > 2 kg. Pada hasil studi Farmingham,
menunjukkan bahwa kenaikan berat badan 10 kg meningkatakan tekanan darah
sebesar 4,5 mmHg (Kaplan, 2002 dalam Fenida 2003)
b. Diabetes Melitus
Diabetes mellitus adalah penyakit kronis karena tubuh tidak dapat
menghasilkan insulin atau hanya sedikit menghasilkan insulin atau menahan insulin
sehingga tidak dapat diproduksi. Akibat dari defisiensi insulin dan kadar gula dalam
darah meningkat yang selanjutnya dapat membahayakan pembuluh darah.
Sebagaimana diketahui, insulin berfungsi menangkut glukosa ke dalam sel yang
digunakan sebagai sumber energi dan disimpan sebagai glikogen (Patel, 1995;
Andrews; Goldberg; Jonhson, 1996). Insidens diabetes mellitus serupa antara pria
dan wanita serta dapat dijumpai pada segala umur.
Diagnosis DM dapat dipastikan jika terdapat salah satu hasil pemeriksaan
yaitu antara lain apabila terdapat gejala klasik DM dengan kadar glukosa darah
sewaktu e200 mg/dl, gejala klasisk DM dengan kadar glukosa darah puasa e126
mg/dl, dan pada tes toleransi glukosa oral (TTGO) didapatkan hasil pemeriksaan
kadar glukosa darah 2 jam > 200 mg.dl sesudah pemberian beban glukosa 75 g.
Gejala klasik DM yaitu seperti sering kencing, cepat lapar, sering haus, berat badan
menurun cepat tanpa penyebab yang jelas (Depkes, 2006). Perjalanan penyakit
diabetes melitus dipengaruhi oleh berbagai faktor resiko yaitu faktor resiko yang
tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, keturunan, suku, dan budaya/adat
istiadat), faktor resiko perilaku yang dapat diubah (merokok, konsumsi alkohol,
kurang aktifitas fisik, kurang konsumsi serat, konsumsi lemak tinggi, dan konsumsi

kalori tinggi), faktor resiko lingkungan (kondisi ekonomi daerah, lingkungan


sosial seperti modernisasi, dan status sosial-ekonomi), dan faktor resiko fisik dan
biologi (obesitas, hipertensi, hiperglikemia, toleransi glukosa terganggu, dan
dislipidemia) (Depkes, 2006).
Dalam sebuah penelitian kohort prospektif di Dubbo, New South Wales, yang
melibatkan 1233 laki-laki dan 1572 perempuan usia lanjut, diamati dan dilakukan
analisa

survivalnya.

Pada

akhir

penelitan,

peneliti

menyimpulkan

bahwa

berkurangnya waktu survival pada penduduk usia lanjut disebabkan karena merokok,
diabetes, dan hipertensi berat. Hazard rasio diabetes melitus pada laki-laki sebesar
1,61 (95%CI 1,28-2,03) dan pada perempuan sebesar 1,94 (95%CI 1,49-2,53)
(Simon, et.al., 2005). Pada mereka yang berkadar insulin tinggi karena diabetes,
menyulitkan jantung memompa darah karena darah menjadi lebih kental. Akibatnya,
tekanan harus ditingkatkan agar suplai darah tetap terjamin. Lama-lama, jadilah
tekanan darah tinggi permanen. Dallas Heart Disease Prevention Project, yang
dimulai tanggal 1 Juli 2000, telah mewawancara lebih dari 4000 partisipan di kota
Dallas. Dari sejumlah itu, sebanyak 1186 merupakan kasus hipertensi atau tekanan
darah tinggi dan dari sebanyak itu, 417 orang terdiagnosis terkena diabetes. Dari 417
orang itu 73 orang tidak menyadari meningkatnya level glukosa darah, yang
menghasilkan penyakit diabetes (Khania, 2002)

3. Faktor Perilaku
a. Stress
Stress atau ketegangan jiwa (rasa tertekan, murung, rasa marah, dendam, rasa
lajut, rasa bersalah) dapat merangsang kelenjar anak ginjal melepaskan hormon
adrenalin dan memacu jantung berdenyut lebih cepat serta lebih kuat, sehingga
tekanan darah meningkat. Jika stess berlangsung lama, tubuh akan berusaha
mengadakan penyesuaian sehingga timbul kelainan organis atau perubahan patologis.
Gejala yang muncul dapat berupa hipertensi atau penyakit maag. Diperkirakan
prevalensi atau kejadian hipertensi pada orang kulit hitam di Amerika Serikat lebih
tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih disebabkan stress atau rasa tidak puas
orang kulit hitam pada nasib mereka (Depkes, 2006).
Stress adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh adanya transaksi antara
individu dengan lingkungannya yang mendorong seseorang untuk mempersepsikan
adanya perbedaan antara tuntutan situasi dan sumber daya (biologi, psikologi, sosial)
yang ada pada diri seseorang (Damayanti, 2003). Peningkatan tekanan darah akan
lebih besar pada individu yang mempunyai kecenderungan stress emosional yang
tinggi (Pinzon, 1999). Stress merupakan pengalaman emosional negatif yang dialami
seseorang, yang lebih besar dari kemampuannya untuk beraksi. Stress dapat terjadi
karena adanya bencana atau kehilangan, peristiwa penting dalam hidup atau karena
peristiwa kecil harian (Matlin, 1999). Oleh karena stress, maka tubuh akan bereaksi,
termasuk antara lain berupa ketegangan otot, meningkatnya denyut jantung, dan
menigkatnya tekanan darah. Reaksi ini dipersiapkan tubuh untuk bereaksi secara

cepat, yang apabila tidak digunakan, maka akan dapat menimbulkan penyakit,
termasuk hipertensi (Greenberg, 1999).
Dalam penelitian Framingham dalam Yusida tahun 2001 bahwa bagi wanita
berusia

45-64 tahun,

jumlah

faktor

psikososial

seperti

keadaan

tegang,

ketidakcocokan perkawinan, tekanan ekonomi, stress harian, mobilitas pekerjaan,


gejala ansietas dan kemarahan terpendam didapatkan bahwa hal tersebut
berhubungan dengan peningkatan tekanan darah dan manifestasi klinik penyakit
kardiovaskuler apapun. Studi eksperimental pada laboratorium animals telah
membuktikan bahwa faktor psikologis stress merupakan faktor lingkungan sosial
yang penting dalam menyebabkan tekanan darah tinggi, namun stress merupakan
faktor resiko yang sulit diukur secara kuantitatif, bersifat spekulatif dan ini tak
mengherankan karena pengolahan stress dalam etikologi hipertensi pada manusia
sudah kontroversial (Henry & Stephens, 1997 dalam Kamso, 2000).
b. Merokok
Merokok merupakan suatu proses pembakaran yang menimbulkan polusi
udara dan secara sadar dihirup dan diserap oleh tubuh manusia (Hoepoedio, 1988).
Rokok mengandung lebih dari 40000 komponen bahan kimia diantaranya adalah
nikotin dan karbonmonoksida. Nikotin dapat menyebabkan kerusakan lapisan dalam
pembuluh darah, meningkatkan tekanan darah dan kecanduan. Sedangkan karbon
monoksida dapat mengikat Hb darah sehingga tubuh kekurangan oksigen dan dapat
menyebablan penyumbatan pembuluh darah. Rokok mengandung nikotin, yang
merupakan bahan pemberi kenikmatan pada rokok, yang dapat, meningkatkan denyut
jantung, tekanan darah sistolic dan tekanan darah diastolik. Peningkatan denyut

jantung pada perokok terjadi pada menit pertama merokok dan sesudah 10 menit
peningkatan mencapai 30 %. Menurut Winniford (1990) dalam Hasudungan (2002)
lebih jauh mengatakan bahwa efek merokok akan meningkatkan kadar asam bebas
lemak dalam plasma yang dapat mengurangi jumlah kadar lemak HDL. Selain itu
merokok juga akan menghadirkan LDL, yang sebagai kolesterol jahat, yang akan
menyebabkan penyempitan arteri akibat terjadinya penumpukan kolesterol pada
dinding arteri dan hal inilah yang menyebabkan terjadinya hipertensi. Pada orang
merokok keadaan jantung juga tidak dapat bekerja dengan efisien. Oleh karena itu
seorang

yang

menderita

hipertensi

yang

disertai

dengan

merokok

dan

hiperkolesteromia akan memiliki resiko terkena penyakit jantung koroner 8 kali


(Kannel, 1990 dalam Hasudungan 2002). Farmingham Heart Study menemukan
bahwa merokok menurunkan kadar kolesterol baik (HDL). Penurunan HDL pada
laki-laki rata-rata 4,5 mg/dl dan pada perempuan 6,5 mg/dl. Penelitan yang dilakukan
oleh Lipid Research Program Prevalence Study menunjukkan bahwa mereka yang
merokok dua puluh batang atau lebih per hari, mengalami penurunan kadar HDL
sekitar 11 % pada laki-laki dan 14 % pada perempuan.
Zat-zat kimia beracun seperti nikotin dan karbon monoksida yang dihisap
melalui rokok yang masuk ke dalam aliran darah dapat merusak lapisan endotel
pembuluh darah arteri, dan mengakibatkan proses arterosklerosis, dan tekanan darah
tinggi. Pada studi autopsi, dibuktikan kaitan erat antara kebiasaan merokok dengan
adanya arterosklerosis pada seluruh pembuluh darah. Merokok juga meningkatkan
denyut jantung dan kebutuhan oksigen untuk disuplai ke otot-otot jantung. Merokok
pada penderita tekanan darah tinggi semakin meningkatkan resiko kerusakan pada

pembuluh darah arteri (Depkes, 2006). Pada perokok, asap rokok mengandung gas
karbon monoksida yang lebih cepat mengikat hemoglobin dibanding oksigen.
Akibatnya suplai oksigen yang seharusnya dibawa darah berkurang. Jantung harus
meningkatkan daya tekan agar suplai darah bertambah untuk mengangkut
kekurangan oksigen. Tekanan tinggi yang terus-menerus, menyebabkan dinding
pembuluh darah tidak tahan dan terjadilah kerusakan di mana-mana. Pembuluh darah
menjadi tidak beraturan, tebal, mengeras, sehingga terjadi penyumbatan dan tekanan
darah akan semakin meningkat (http://www.kompas.com/9609/22 /IPTEK/hipe.htm)
Perokok yang berhasil meninggalkan rokok menghadapi masalah yang
berhubungan dengan peningkatan berat badan. Hal ini terjadi karena peningkatan
nafsu makan. Selain itu, orang yang tidak merokok cenderung mengemil (Patel,
1995). Sedangkan menurut Kaplan dan Stemler (1994) berhenti merokok sering
meningkatkan berat badan dan meningkatnya tekanan darah bukan karena nikotin,
tetapi karena bertambahnya berat badan. Merokok dapat menurunkan kesukaan pada
makanan sehingga berat badan berkurang dan dengan berhenti maka berat badan
akan meningkat. Dalam sebuah penelitian kohort prospektif di Dubbo, New South
Wales, yang melibatkan 1233 laki-laki dan 1572 perempuan usia lanjut, diamati dan
dilakukan analisa survivalnya. Pada akhir penelitan, peneliti menyimpulkan bahwa
berkurangnya waktu survival pada penduduk usia lanjut disebabkan karena merokok,
diabetes, dan hipertensi berat. Hazard rasio merokok (current smoker) pada laki-laki
sebesar 1,84 (95%CI 1,44-2,35) dan pada perempuan sebesar 1,63 (95%CI 1,242,15) (Simon, et.al., 2005).

c. Alkohol
Meskipun alkohol mempunyai efek positif yaitu berupa vasodilaor, alkohol
juga berkaitan dengan pengentalan lipoprotein. Meskipun sedikit, alkohol dapat
meningkatkan tekanan darah sedangkan penggunaan alkohol yang terus menerus
dalam jumlah yang banyak berakibat keracuanan jantung, sclerosis dan fibrosis
dalam arteri kecil yang dapat menunjukkan adanya micro infark.(Kaplan, 1990;
Soeparman et al., 1994).
Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan.
Mekanisme peningkatan tekanan darah akibat alkohol masih belum jelas. Namun,
diduga peningkatan kadar kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah serta
kekentalan darah berperan dalam menaikan tekanan darah. Beberapa studi
menunjukkan hubungan langsung antara tekanan darah dan asupan alkohol, dan
diantaranya melaporkan bahwa efek terhadap tekanan darah baru nampak apabila
mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap harinya. Di negara
barat seperti Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan berpengaruh terhadap
terjadinya hipetensi. Sekitar 10 % hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan
alkohol yang berlebihan di kalangan pria separuh baya. Akibatnya, kebiasaan
meminum alkohol ini menyebabkan hipertensi sekunder di kelompok usia ini
(Depkes, 2006).
Wasir (1998) menyatakan bahwa berlebihan mengkonsumsi alkohol (>2 gelas
bir/wine/whiskey/hari) merupakan faktor resiko hipertensi. Menurut suatu penelitian,
diluar efek usia hipertensi lebih sering ditemukan pada orang yang berkulit
hitam/peminum alkohol. Pada penelitian ini diketahui bahwa asupan alkohol

mempunyai hubungan dengan hipertensi (Saputra 1998). Dalam suatu penelitian


yang dilakukan oleh Arthur L Klatsky dkk. 1964 terhadap 83.947 penduduk yang
terdiri dari 3 ras suku bangsa, 83,5% adalah kulit putih, menunjukkan bahwa
konumsi alkohol paling sedikit 3 kali sehari merupakan faktor resiko terjadinya
hipertensi (Saputra, 1998). Resiko terkena hipertensi meninggi apabila meminum
alkohol lebih dari 3 kali perhari (Kaplan, 1990; Soeparman et.al., 1994). Menurut
Mac Mahon (1987) yang dikutip dari Kaplan (1990), 10 % hipertensi pada laki-laki
disebabkan oleh alkohol. Pengurangan konsumsi alkohol 10-20 gr/hr dapat
menurunkan tekanan darah.
d. Aktivitas Fisik
Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh dengan tujuan meningkatkan dan
mengeluarkan tenaga dan energi, yang biasa dilakukan atau rutunitas sehari-hari
sesuai profesi atau pekerjaan. Olahraga adalah aktifitas fisik yang terencana dan
terstruktur yang memanfaatkan gerakan tubuh yang berulang untuk mencapai
kebugaran. Aktivitas fisik dalam bentuk olahraga merupakan bentuk pemberian
rangsang berulang pada tubuh. Tubuh akan beradaptasi jika diberi rangsangan secara
teratur dengan takaran dan waktu yang tepat. Aktivitas fisik atau olahraga yang
dilakukan secara teratur berdasarkan kaidah tertensu sudah dapat menimbulkan
adaptasi setelah minimal 4-6 minggu. Bila rangsang diberikan sesuai dan tepat maka
akan terjadi adaptasi lengkap yang berdampak terhadap tingkat kebugaran jasmani
(Depkes, 2006).
Pada usia lanjut terjadi penuruanan massa otot serta kekuatannya, laju denyut
nadi maksimal, toleransi latihan, kapasitas aerobik dan terjadinya peningkatan lemak

tubuh ( Hadi et al., 1992; Whiteboard, 1995). Aktivitas fisik dalam bentuk olahraga
secara teratur memberikan banyak keuntungan bagi para lanjut usia. Keuntungan
tersebut antara lain berkurangnya berat badan, tekanan darah, kadar kolesterol serta
penyakit jantung. Olahraga secara teratur juga dapat menunda efek-efek penuaan dan
mengurangi kemungkinan depresi (Pickering,1996). Wackers (1992) mengemukakan
bahwa keuntungan dari aktivitas fisik atau olahraga adalah meningkatkan
perlindungan tubuh terhadap penyakit jantung dan pembuluh darah. Olahraga teratur
juga membantu seseorang mengontrol faktor resiko lain seperti obesitas, stress,
hipertensi, dan kadar lipid dalam darah.
Olahraga dapat mengurangi tekanan darah bukan hanya disebabkan
berkurangnya berat badan, tetapi juga disebabkan bagaimana tekanan darah tersebut
dihasilkan. Tekanan darah ditentukan oleh dua hal yaitu jumlah darah yang
dipompakan jantung per detik dan hambatan yang dihadapi darah dalam melakukan
tugasnya melalui arteri. Olahraga dapat menyebabkan pertumbuhan pembuluh darah
kaliper yang baru dan jalan darah yang baru. Dengan demikian hal yang menghambat
pengaliran darah dapat dihindarkan atau dikurangi, yang berarti menurunkan tekanan
darah. Walaupun kesanggupan jantung untuk melakukan pekerjaannya bertambah
melalui olahraga, pengaruh dari berkurangnya hambatan tersebut memberikan
penururnan tekanan darah yang sangat berarti (Kuntaraf & Kuntaraf, 1992).
Aktifitas fisik dengan intensitas rendah sampai sedang (seperti melakukan
pekerjaan rumah tangga, berkebun, olahraga bowling atau golf) yang dilakukan
sekurangnya 21 jam per minggu dilaporkan Grylls (2003) membantu mengontrol
berat badan. Orang dengan skor aktivitas tinggi, dimana aktivitas fisik yang diukur

adalah aktivitas di rumah atau pada waktu bekerja, aktivitas olah raga dan kebiasaan
berjalan kaki, berhubungan dengan indeks masa tubuh yang lebih rendah (Samaras et
al., 1999). Sebuah penelitian di Amerika Serikat yang melibatkan 8.604 responden
berusia lanjut mendapatkan bahwa orang yang mempunyai aktivitas fisik tinggi
mempunyai umur harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang
beraktivitas rendah, baik pada kelompok perokok maupun pada kelompok bukan
perokok (Ferrucci, et.al, 1999). Pada fisik yang senantisa aktif, pembuluh darah
cenderung lebih elastis, sehingga mengurangi tahanan di perifer (Warborton, et.al.,
2006). Sementara itu aliran darah yang meningkat karena aktivitas fisik dapat
menjaga endotel pembuluh darah arteri dengan dihasilkannnya NO (Nitrit Oksida),
suatu bahan yang bersifat vasodilator (Kusmana, 2001).
Penelitian
meneliti15.000

lain
tamatan

oleh

Paffenbarger

Universitas

dari

Harvard

Universitas
untuk

6-10

Stanford
tahun.

yang
Selama

penelitian berlangsung, didapatkan bahwa 681 tamatan harvard tersebut menderita


hipertensi (160/95). Ternyata alumni yang tidak terlibat dalam olahraga dan
kegiatan mempunyai resiko untuk mendapatkan hipertensi 35% lebih besar dari
mereka yang berolahraga. (Kuntaraf & Kuntaraf, 2000). Penelitian dari John Hanson
dan William Nedde dari Universitas Vermot juga menunjukkan bagaimana olahraga
mengurangi tekanan darah. Penelitan tersebut meneliti sekumpulan penderita
hipertensi. Untuk tujuh bulan mereka dibimbing dalam olahraga, yang meliputi lari
jauh, senam, dan bahkan olahraga kompetisi. Pada akhir penelitian tersebut
ternyata tekanan darah rata-rata mereka telah turun dari 162/92 menjadi 134/75
(Kuntaraf & Kuntaraf,

1992). Bukti langsung dari keuntungan olahraga bagi mereka yang telah menderita
tekakan darah tinggi sangat penting, sebab ini menunjukkan bahwa olahraga bukan
hanya menghindarkan tekanan darah tinggi, tetapi juga menurunkan tekanan darah
dari mereka yang telah menderita penyakit tersebut (Kuntaraf & Kuntaraf, 1992).
Berbagai penelitian membuktikan, bahwa ternyata tekanan darah tinggi yang
ringan dapat ditanggulangi tanpa obat, hanya dengan melakukan olahraga secara
teratur. Tekanan darah tinggi teryata cukup responsif terhadap latihan-latihan
olahraga. Bahkan tidak jarang penderita tekanan darah tinggi yang akhirnya dapat
lepas obat atau tidak minum obat untuk tekanan darah tinggi, karena tekanan darah
tinggi telah teratasi setelah melakukan latihan-latihan olahraga secara teratur.
Misalnya, penelitian yang dilakukan oleh Robert Cade dari Universitas Florida,
bahwa hampir seratus persen dan sejumlah orang yang menderita tekanan darah
tinggi, ternyata tekanan darahnya turun setelah tiga bulan berlatih olahraga secara
teratur, dengan takanan yang cukup. Berdasarkan penelitian ini, tekanan darah dapat
menurun yang berkisar antara 10-50 mm (Anies, 2006)
e. Diet Tinggi Garam
Sodium/natrium adalah mineral yang esensial bagi kesehatan yang mengatur
keseimbangan air dalam sistem pembuluh darah. Konsumsi natrium yang berlebihan
menyebabkan konsentrasi natrium di dalam cairan ekstraselular meningkat. Untuk
menormalkannya, cairan intraselular ditarik keluar sehingga cairan ekstraselular
meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraselular menyebabkan meningkatanya
volume darah dalam tubuh, dengan demikian jantung harus memompa lebih giat

sehingga tekanan darah menjadi naik (Hull, 1996). Konsumsi garam yang melebihi
ambang batas yang dibutuhkan dapat menyebabkan hipertensi (Kaplan, 1990).
Begitu pula seseorang yang sudah punya bakat hipertensi, potensinya akan
lebih besar jika lingkungan atau kebiasaan sehari-hari turut memicu. Seperti
dikemukakan Prof Jose, bahwa pada masyarakat tradisional (yang tidak terpapar stres
atau garam berlebih) angka hipertensi hanya 0,1 %. Sementara di daerah sibuk
angkanya mendekati 30 %. Contoh lainnya, orang yang hidup di pinggir pantai,
sedari kecil telah terbiasa makan ikan yang diasin. Padahal, kondisi garam berlebihan
dalam tubuh bisa memicu timbulnya hipertensi. Prof Jose mencontohkan bahwa
penduduk di Jepang Utara banyak yang terkena stroke akibat konsumsi garam yang
tinggi, sementara di Jepang selatan tidak demikian. Rata-rata konsumsi garam dapur
normalnya adalah 6 gram per hari. (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak
/kesehatan/diet-rendah-garam-3.html

oleh

Inda).

Menurut data survei

yang

dikumpulkan di daerah pantai (ump. Bondo-Jepara, Karimunjawa, Bungus) terdapat


prevalensi yang lebih tinggi daripada daerah pedalaman dan pegunungan (Darmojo,
1983 dalam Wahyuni 2000). Hal ini juga dilaporkan oleh Awalui dkk (1982) di
Sulawesi Utara dalam Wahyuni 2000 yang mengadakan studi prevalensi hipertensi di
daerah pantai dan pedalaman. Kimura (1973) dalam wahyuni 2000 juga menemukan
prevalensi yang lebih tinggi pada desa nelayan (Ushibuka) daripada desa pertanian
(Taushimaru) yang terletak di pedalaman pulau Kyushu, berturut-turut dengan
prevalensi 22 % dan 15 %.
Analisis data penelitian antara tekanan darah dan konsumsi natrium yang
melibatkan 47000 orang dari 24 1okasi di dunia, menunjukkan bahwa rata-rata

tekanan darah masyarakat di negara maju lebih tinggi daripada rata-rata tekanan
darah masyarakat negara berkembang. Meskipun demikian pengaruh natrium terlihat
sama di kedua populasi tersebut. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengaruh
natrium lebih besar daripada yang diperkirakan dan makin bertambah sesuai dengan
bertambahnya usia dan tingkat tekanan darah semula (BMJ 1991;302 : 9115 Cermin
Dunia Kedokteran No. 73, 1991 6).
Berpuluh-puluh tahun penelitan, mulai dari percobaan binatang, observasi
klinik, penelitian epidemiologi, dan intervensi telah mengidentifikasi paparan yang
membentuk pola tekanan darah dipopulasi ialah konsumsi garam tinggi, kalium
rendah, ratio natrium terhadap kalium tinggi, kegemukan dan konsumsi alkohol
tinggi (Sjukrudin, 1998). Di Amerika Serikat diusulkan konsumsi garam per orang
secara nasional diusahakan hingga konsumsi pada saat ini menjadi 6 gr/hari. Di
Jepang yang konsumsi garamnya pada tahun 1960-an pada penelitian INTERSALT
23 gr/orang pada tahun 1988 menjadi 11 gr/orang. Selain itu konsumsi kalium dapat
dinaikan dengan konsumsi lebih banyak buah-buahan dan sayuran segar. Tekanan
darah dapat diturunkan pula dengan menurunkan berat badan dan meningkatkan
aktivitas fisik. Dari hasil di Jepang dan beberapa penelitian intervensi ada petunjuk
bahwa intervensi nonfarmakologis dan modifikasi gaya hidup semacam diatas dapat
menurunkan tekanan darah dalam waktu panjang (Karhiwikarta 1998).
2.2 Konsep Dasar Pencegahan Penyakit
2.2.1 Faktor Penentu Derajat Kesehatan
Derajat kesehatan penduduk, dapat diukur dari seberapa banyak warga
masyarakat suatu penduduk yang baru atau sedang menderita sakit akibat berbagai

penyakit. Setiap penyakit selalu unik, artinya selalu memiliki keluhan, gejala, dan
kadang-kadang penyebab yang khas dan spesifik. Bila dari sekumpulan penyakit yang
banyak diderita oleh sebagian penduduk dapat diketahui faktor penyakit tersebut
dapat dihilangkan, maka proporsi penduduk yang sakit akan menurun (morbiditas
penduduk menurun) dan dikatakan perubahan ini sebagai derajat kesehatannya
meningkat.
Saat penyakit infeksi masih mendominasi penyakit manusia pada awal sampai
hampir akhir abad XX, berkembanglah konsep Epidemiological Triangle atau Segi
Tiga Epidemiologi. Menurut konsep ini, derajat kesehatan yang ditunjukkan oleh
adanya penyimpangan fungsi/struktur jasmani mental individu dari normalnya,
ditentukan oleh tiga faktor yaitu:
1. Daya perusak Agent of Disease (Agen Penyebab Penyakit) untuk merubah fungsi
struktur organ, jaringan atau subseluler sehingga terjadi penyimpangan fungsi
struktur jasmani mental. Agen ini meliputi agen yang berupa agen biologik, agen
fisik, dan agen sosiokultural. Daya perusak ini bisa karena virulensi atau daya
perusak per unit agen penyakit yang memang tinggi, atau karena jumlah agen
penyakit yang kontak banyak sekali.
2. Ketahanan Psiko-Biologik tubuh manusia sebagai Host atau tuan rumah dalam
menghadapi kerusakan oleh agent penyakit. Bila ketahanan psiko biologik tinggi,
maka Host akan mampu bertahan terhadap serangan agen penyakit.
3. Keperpihakan Lingkungan Fisik Biologik dan Lingkungan Sosial (Environment)
terhadap daya perusak agen penyakit atau terhadap ketahanan psiko biologik.
Apabila kondisi lingkungan berpihak untuk meningkatkan data perusak agen

penyakit dan menurunkan ketahanan psiko biologik host, maka penyakitpun


mempunyai peluang untuk berjangkit pada diri individu yang bersangkutan
(Mansjoer, 2001).
Model segitiga epidemiologi ini sering digambarkan dalam bentuk gambar
pengungkit seperti gambar digambar ini.

Host

Environment

Agent

Gambar 2.1 Segitiga Epidemiologi


Pada konsep segitiga epidemiologi, agen penyakit merupakan sesuatu yang
khusus, yang memiliki potensi merusak atau mengganggu struktur atau fungsi
jasmani mental host. Pandangan ini tentu saja tidak terlalu salah, mengingat saat
konsep ini dikembangkan, penyakit manusia masih didominasi oleh penyakit infeksi
yang penyebabnya adalah kuman penyakit (Mansjoer, 2001). Untuk mengatasi
kelemahan konsep segitiga epidemiologi diatas, pada tahun 1974 Marc La Londe dari
Kanada mengembangkan konsep yang dikenal dengan The Health Field Concept
yang kemudian dipertajam oleh Henrik L Blum dengan konsep The Force Field And
Well Being Paradigm Of Health pada tahun 1984. (Mansjoer, 2001).
Menurut Hendrik L Blum ada 4 faktor yang mempengaruhi status derajat
kesehatan masyarakat atau perorangan. Faktor-faktor tersebut dapat digambarkan
sebagai berikut :

1. Lingkungan
Berbicara mengenai lingkungan sering kali kita meninjau dari kondisi fisik.
Selain lingkungan fisik, faktor lingkungan biologi, kimia, ekonomi, sosial dan budaya
juga dapat mempengaruhi derajat kesehatan. Lingkungan yang memilik kondisi
sanitasi buruk dapt menjadi sumber berkembangnya penyakit. Hal ini jelas
membahayakan kesehatan masyarakat kita. Terjadinya penumpukan sampah yang
tidak dapat dikelola dengan baik, polusi udara, air dan juga tanah juga dapat menjadi
penyebab. Upaya menjaga lingkungan menjadi tanggung jawab semua pihak
sehingga untuk itu perlu kesadaran semua pihak.
Puskesmas sendiri memiliki program kesehatan lingkungan dimana berperan
besar dalam mengukur, mengawasi dan menjaga kesehatan lingkungan masyarakat.
Namun dilematisnya di puskesmas jumlah tenaga kesehatan lingkungan sangat
terbatas padahal banyak penyakit yang berasal dari lingkungan seperti diare, demam
berdarah, malaria, TBC, cacar air, dan sebagainya.
Di samping lingkungan fisik juga ada lingkungan sosial yang berperan.
Sebagai makhluk sosial kita membutuhkan bantuan orang lain, sehingga interaksi
individu satu dengan yang lainnya harus terjalin dengan baik. Kondisi lingkungan
sosial yang buruk dapat menimbulkan masalah kejiwaan yang pada akhirnya problem
kejiwaan dapat menjadi masalah kesehatan secara fisik ( psikosomatis ).
2. Perilaku
Perilaku dalam menjaga kesehatan sangat memegang peranan penting untuk
mewujudkan indonesia sehat 2010. Hal ini dikarenakan budaya hidup bersih dan
sehat harus dapat dimunculkan dari dalam diri seorang individu yang selanjutnya

dapat mempengaruhi perilaku di masyarakat untuk menjaga kesehatannya.


Diperlukan suatu program untuk menggerakkan masyarakat menuju satu visi
Indonesia Sehat 2010. Sebagai tenaga motorik tersebut adalah orang yang memiliki
kompetensi dalam menggerakkan masyarakat dan paham akan nilai kesehatan
masyarakat. Maysarakat yang berperilaku hidup bersih dan sehat akan menghasilkan
budaya menjaga lingkungan yang bersih dan sehat.
Pembuatan peraturan tentang berperilaku sehat juga harus diikuti dengan
pembinaan untuk menumbuhkan kesadaran pada masyarakat karena upaya dengan
menjatuhkan sanksi hanya bersifat jangka pendek. Pembinaan dapat dimulai dari
lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Tokoh tokoh masyarakat sebagai role
model harus diajak turut serta dalam mensukseskan program program kesehatan.
3. Pelayanan Kesehatan
Kondisi pelayanan kesehatan juga menunjang derajat kesehatan masyarakat.
Pelayanan

kesehatan

yang

berkualitas

sangatlah

dibutuhkan.

Masyarakat

membutuhkan posyandu, puskesmas, rumah sakit, dan pelayanan kesehatan lainnya


untuk membantu dalam mendapatkan pengobatan dan perawatan kesehatan,
khususnya untuk pelayanan kesehatan dasar yang memang banyak dibutuhklan
masayarakat. Kualitas dan kuantitas sumber daya manusia di bidang kesehatan juga
harus ditingkatkan.
Puskesmas sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan masyarakat
sangat besar peranannya karena di puskesmas akan menangani masyarakat yang
membutuhkan edukasi dan perawatan primer. Peranan sarjana kesehatan masyarakat

(termasuk dokter) sebagai manajer yang memiliki kompetensidi bidang manajemen


kesehatan dibutuhkan dalam menyusun programprogram kesehatan. Peran utamanya
adalah untuk membuat programprogram pencegahan penyakit yang bersifat
preventif sehingga masyarakat tidak banyak yang jatuh sakit.

P
A
N
K
E
T

E L
Y A
A N
E S
H A
A N

P
E
R
I L
A
K P
U -:
S
B
G
G
T

S I K
O

S I O

I O L O
I /
E N E
I K

L I
N
G
K
U
N
G
A
N
:

K
E
S
E
H
A
T
A
N

Gambar 2.2 Skema Faktor Yang Berperan Terhadap Timbulnya Masalah

2.3 Kerangka Teori Hipertensi menurut Hendrik L Blum

GAYA HIDUP/PERILAKU:
- Kebiasaan merokok
- Aktivitas fisik
- Merokok
- Diet tinggi karbohidrat dan
lemak
- Diet tinggi garam

PSIKO-SOSIOBIOLOGI/ GENETIK:
- Usia
- Jenis Kelamin
- Ras
- Faktor Keturunan
- Status Sosial Ekonomi

HIPERTENSI
3

Lingkungan:
- Perkotaan
- Pantai

Gambar 3.1 Kerangka Teori

PELAYANAN
KESEHATAN:
- Fasilitas
- Tenaga
-Sistem

Anda mungkin juga menyukai