Anda di halaman 1dari 49

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT.

Semen

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat sekarang ini
menyebabkan pesaingan di antara perusahaan yang satu dengan yang lain semakin ketat
dan dapat menyebabkan ancaman bagi perusahaan lainnya. Oleh karena itu, diperlukan
tenaga kerja yang profesional dan berkualitas agar dapat memajukan perusahaan.
Perguruan tinggi merupakan lembaga yang bertugas mempersiapkan keluaran
sarjana yang berkualitas dan siap pakai. Namun pada kenyataannya sekarang masih
terdapat mahasiswa yang masih belum siap pakai karena kurangnya praktek dan hanya
mempelajri teori saja. Oleh karena itu, kami dari Politeknik Negeri Ujung Pandang
melaksanakan Praktek Kerja Lapangan agar mendapatkan pengalaman di dunia kerja
dan dapat menyesuiakan dengan teori yang kami dapatkan di kampus serta sebagai
sarana untuk melengkapi SKS dalam mata kuliah kami.
Teknik kimia merupakan bidang keilmuan yang menangani hal-hal yang berkatitan
dengan perencanaan, pengendalian dan proses produksi. Dengan adanya praktek kerja
lapangan diharapkan mahasiswa dapat melihat secara langsung dan memahami ilmu
yang diajarkan di Jurusan Teknik Kimia.
1.2. Tujuan Prakek Kerja Lapangan
Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan pada berbagai instansi, lembaga ataupun
perusahaan selama kurang lebih satu bulan dengan tujuan yaitu :
a. Mahasiswa dapat menerapkan teori-teori dan praktek yang diperoleh selama menjalani
pendidikan di perguruan tinggi serta melihat keterkaitan antara teori dan praktek.
b. Mahasiswa dapat mengembangkan pola pikir dan kreatifitas penerapan teori dalam
melakukan anilisis terhadap mutu produksi.
c. Mahasiswa memperoleh gambaran mengenai situasi kerja pada instansi, lembaga atau
perusahaan tempat melakukan praktek.
d. Dapat memperluas pengetahuan mahasiswa tentang proses penerapan teknologi dari
lapangan kerja yang sebenarnya.
1.3. Tujuan Laporan Kerja Praktek
Setelah melakukan praktek kerja lapangan, diwajibkan untuk membuat laporan
praktek kerja lapangan. Hal ini merupakan syarat yang harus dipenuhi. Adapaun tujuan
dari penulisan kerja lapangan yaitu :

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


1

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

a. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan berfikir terutama dalam menganalisa


data.
b. Mahasiswa dapat mengembangkan kemampuannya dalam menyusun materi laporan
baik yang bersumber dari buku-buku ataupun konsultasi langsung dengan pembimbing.
c. Menambah kemampuan mahasiswa menggunakan bahasa tulisan sehingga dapat
dimengerti oleh pembaca.
d. Sebagai bahan pertanggungjawaban atas praktek kerja lapangan yang dilakukan.
e. Sebagai bahan perpustakaan sehingga kelak akan berguna bagi pembaca khususnya
jurusan teknik kimia.
1.4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan
Pelaksanaan praktek kerja lapangan kami bertempat di PT. Semen Tonasa unit V,
pada tanggal 1-31 Juli 2014.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


2

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB II
TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN
2.1. Sejarah Berdirinya PT. Semen Tonasa
PT. Semen Tonasa adalah produsen semen terbesar di kawasan timur Indonesia
yang menempati lahan seluas 1.200 hektar di Desa Biringere Kec. Bungoro Kab.
Pangkep, sekitar 60 km dari kota Makassar.
PT. Semen Tonasa (Persero) Tbk. Mulai didirikan berdasarkan TAP MPRS RI
No.II/MPRS/1960, tanggal 05 Desember 1960 tentang pola pembangunan Nasional
Semesta berencana tahapan 1961-1969.
PT. Semen Tonasa memiliki kapasitas terpasang 5.980.000 ton semen pertahun,
mempunyai 5 unit pabrik , yaitu Tonasa I, Tonasa II, Tonasa III, Tonasa IV, dan Tonasa
V.
2.1.1. Pabrik Semen Tonasa I
Pabrik Semen Tonasa I berlokasi di desa Tonasa Kec. Balocci, Kab. Pangkep,
Provinsi Sulawesi Selatan. Pabrik Semen Tonasa I didirikan berdasarkan TAP
MPRS RI No. II/MPRS/1960 tanggal 5 Desember 1960 tentang pola
pembangunan nasional semesta berencana tahapan 1961-1969.
Pabrik Tonasa unit I mulai beroperasi pada tahun 1968 dengan kapasitas
120.000 metrik ton semen per tahun dengan proses basah. Tetapi pabrik unit I ini
hanya beroperasi sampai tahun 1984 atas pertimbangan ekonomis.
2.1.2. Pabrik Semen Tonasa II
Pabrik Semen Tonasa II yang berlokasi di desa Biringere, Kecamatan
Bungoro, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan, yang berjarak 23 km
dari Pabrik Semen Tonasa Unit I, yang didirikan berdasarkan persetujuan
Bappenas No. 023/XL-LC/B.V/76 dan No.2854/D.I/IX/76, tanggal 02 september
1976.
Proyek pembangunan pabrik semen tonasa II secara resmi dimulai tanggal 20
Oktober 1976 dan selesai pada tanggal 15 Desember 1979, yang diresmikan oleh
Bapak Presiden Soeharto pada tanggal 28 Februari 1980.
Tonasa unit II yang menggunakan proses kering yang beroperasi secara
komersial pada tahun 1980 dengan kapasitas 510.000 ton semen pertahun dan
dioptimalisasi menjadi 590.000 ton semen pertahun pada tahun 1991.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


3

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

2.1.3. Pabrik Semen Tonasa III


Pabrik Semen Tonasa III yang berlokasi sama dengan pabrik Semen Tonasa
II, yang dibangun berdasarkan persetujuan Bappenas No. 32 XC-LC/B.V/1981.
Proyek pembangunan dimulai pada tanggal 09 Januari 1982 dan selesai pada
tanggal 03 April 1985, yang diresmikan oleh Bapak Presiden Soeharto
didampingi Perdana Menteri Lee Kwan Yew dari Singapura.
Kapasitas produksi pabrik Semen Tonasa III adalah 590.000 ton pertahun,
kerjamasa antara pemerintah Indonesia dengan Jerman Barat. Proses yang
digunakan yaitu proses kering.
2.1.4. Pabrik Semen Tonasa IV
Pabrik Semen Tonasa IV yang berlokasi sama dengan pabrik Semen Tonasa
II dan III yang dibangun berdasarkan Surat Menteri Muda Perindustrian No.
182/MPP-IX/1990 tanggal 02 Oktober 1990 dan Surat Menteri Keuangan RI
No.1549/MK.013/1990 tanggal 29 November 1990.
Tonasa unit IV dikerjakan secara swakelola oleh PT. Semen Tonasa dibantu
oleh PT. Rekayasa Industri sebagai konsultan. Diresmikan oleh Presiden Soeharto
pada tanggal 10 September 1996.
Proses yang digunakan adalah proses kering dengan kapasitas produksi
2.300.000 ton pertahun.
2.1.5. Pabrik Semen Tonasa V
Pabrik Semen Tonasa V yang berlokasi sama dengan pabrik Semen Tonasa
II, III dan IV yang dibangun pada tahun 2009 dan beroperasi secara komersil
sejak 01 Februari 2013, proses yang digunakan adalah proses kering dengan
kapasitas produksi 2.500.000 ton pertahun.

2.1.6. Konsolidasi dengan PT. Semen Indonesia


Sebelum PT. Semen Tonasa berkonsolidasi dengan PT. Semen Gresik
(Persero) Tbk, pemegang saham PT. Semen Tonasa adalah pemerintah RI.
Konsolidasi dengan Semen Gresik (Persero) Tbk, dilaksanakan pada tanggal 15
September 1995, dan sesuai keputusan RUPS LB pada tanggal 13 Mei 1997, 500
lembar saham portepel di jual kepada Koperasi Karyawan Semen Tonasa
(KKST), sehingga pemegang saham PT. Semen Tonasa adalah PT. Semen Gresik
(Persero) Tbk dan KKST.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


4

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Pada bulan November tahun 2013 konsolidasi dengan PT. Semen Gresik
berakhir. PT. Semen Tonasa , PT. Semen Gresik , PT. Semen Padang dan Thang
Long Cement Vietman berada dalam satu naungan PT. Semen Indonesia.
Tujuannya untuk menciptakan pos produksi semen yang sama kuat dalam industri
semen Indonesia.
2.1.7. Pembangunanan Sarana Penunjang
Pada tahun 1995 PT. Semen Tonasa mulai membangun unit pengantongan
semen yang bertujuan untuk membantu kelancaran operasi produksi dan pemasan
Semen Tonasa, yang dibangun dibeberapa daerah pelabuhan di Indonesia Bagian
Tengah dan Indonesia Bagian Timur, antara lain :
1. Packing Plant Bitung, dengan kapasitas 300.000 ton pertahun.
2. Packing Plant Banjarmasin, dengan kapasitas 300.000 ton pertahun
3. Packing Plant Ambon, dengan kapasitas 300.000 ton pertahun
4. Packing Plant Palu, dengan kapasitas 300.000 ton pertahun
5. Packing Plant Makassar, dengan kapasitas 600.000 ton pertahun
6. Packing Plant Samarinda, dengan kapasitas 600.000 ton pertahun
7. Packing Plant Bali, dengan kapasitas 600.000 ton pertahun
8. Packing Plant Pontianak, dengan kapasitas 150.000 ton pertahun
Selain itu PT. Semen Tonasa membangun pelabuhan khusus Biringkassi yang
berjarak 17 km dari lokasi pabrik. Pelabuahan ini berfungsi sebagai jaringan
distribusi antar pulau ataupun ekspor dapat disandari dengan muatan diatas
17.500 ton selain itu, pelabuhan ini digunakan untuk bongkar muat bahan-bahan
kebutuhan pabrik seperti : gypsum, batu bara, copper slag, kertas kraf, suku
cadang, dan lain-lain. Pelabuhan biringkassi ini dilengkapi 5 unit packer dengan
kapasitas masing-masing 100 ton perjam serta 7 unit shop leader, 4 unit
digunakan untuk pengisian semen zak dengan kapasitas masing-masing 100-200
ton perjam, atau sekitar 4000 ton perhari, 3 unit lainnya digunakan untuk
pengisian semen curah dengan kapasitas masing-masing 500 ton perjam atau
6000 ton perhari.
Panjang dermaga pelabuhan sekitar 2 kilometer diukur dari garis pantai
kelaut, sedangkan panjang dermaga untuk standar kapal adalah:
Dermaga I
a. Sebelah utara 429 m dengan kedalaman 10.5 m (LWL)
b. Sebelah selatan 445.50 m dengan kedalaman 7.5 m ( LWL)
Dermaga II
a. Panjang Dermaga 65 m dengan kedalaman 5 m (LWL).

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


5

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Disamping itu PT. Semen Tonasa juga membangun pembangkit listrik tenaga
uapa atau Boiler Turbin Generator (BTG) di pelabuhan biringkassi dengan
kapasitas 2 x 25 MW dan 2 x 35 MW.
2.2. Visi dan Misi PT. Semen Tonasa
2.2.1. Visi PT. Semen Tonasa
Menjadi perusahaan persemenan terkemuka di Asia dengan tingkat efisiensi
tinggi.
2.2.2. Misi PT. Semen Tonasa
1. Meningkatkan nilai perusahaan sesuai keinginan stakeholders.
2. Memproduksi semen untuk memenuhi kebutuhan konsumen dengan kualitas
dan harga bersaing serta penyerahan tepat waktu.
3. Menggunakan teknologi yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan.
4. Membangun lingkungan kerja yang mampu membangkitkan motivasi
karyawan untuk bekerja secara professional.
2.3. Sistem Manajemen PT. Semen Tonasa
2.3.1. Sistem Manajemen Mutu
Salah satu komitmen manajemen dalam memasuki era persaingan global
yaitu memberikan dan kepuasan pelanggan. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi
komitmen tersebut adalah dengan memberikan mutu produk sesuai permintaan
pelanggan, penyerahan produk yang tepat waktu dan harga yang bersaing. Upaya
ini diwujudkan dengan penerapan Sistem Manajemen Mutu ISO 9002 sejak tahun
1996 dan selanjutnya di upgrade dengan Sistem manajemen Mutu ISO 9001:2000
pada tahun 2002.
2.3.2. Sistem Manajemen Mutu
Kesadaran akan pentingnya pengelolaan lingkungan telah dimulai sejak
berdirinya pabrik PT. Semen Tonasa adalah Menjadi Produsen Semen yang
ramah yang diwujudkan melalui pemenuhan persyaratan peraturan yang berlaku,
meminimalisasi dampak negatif dari proses dan produk yang dihasilkan
pelaksanaan program efisiensi pemakaian sumber daya alam dan energi.
2.3.3. Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Mengingat pentingnya peran tenaga kerja dalam kelangsungan usaha, maka
kondisi keselamatan karyawan harus dijamin. Untuk mewujudkan komitmen
tersebut, sejak tahun 2000 PT. Semen Tonasa telah menerapkan Sistem

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


6

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Manajemen Keselamatan Kerja (SMK 3) . Penerapan Sistem manajemen ini


dibuktikan dengan diberikannya PT. Semen Tonasa Sistem Manajemen
Keselamatan dan Kesehatan Kerja oleh Badan Sertifikasi Nasional pada bulan
Januari 2001.
2.4. Struktur Organisasi PT. Semen Tonasa.
Struktur organisasi merupakan hal yang penting bagi suatu perusahaan atau
suatu instansi untuk mengetahui dengan jelas wewenang dan tanggung jawab dari
suatu jabatan. Struktur organisasi PT. Semen Tonasa mengatur seluruh
tenaga/karyawan sehingga dapat dikoordinasikan dengan baik dalam suatu sistem
kerja yang efektif.

Direktur
Utama

Direktur
Produksi

Dep.Produ
ksi bahan

baku
Dep.
Internal
Audit

Dep.
CSR &
Umum

Sekretaris
Perusahaa
Teknik
Kimia
n
Staf Dir.
Utama

Dep.
Produksi
Tonasa
2/3

Dep.
Produksi
Tonasa 4

Direktur
Komersial

Direktur
Keuangan

Dep.
Perencana
an Teknik

Dep.
Pembang
kit

Dep.Jamin
an Mutu
&
Lingkunga
n

Dep.
Penjuala
n

Dep.
Distribusi
&
transport
asi

Politeknik Negeri Ujung Pandang


7

Dep.
Pengada
an & PP

Biro
perenc.
&
analisa
pasar

Dep.
Akuntan
si &
keuang
an

Depart
emen
Sumbe
r Daya
Manusi
a

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Dep.
Produksi
tonasa 5

Adapun struktur organisasi di PT. Semen Tonasa, meliputi:


2.4.1. Direktur Utama, membawahi :
1) Departemen Internal Audit, yang terdiri dari:
a. Biro Audit akuntansi & Keuangan
b. Biro Audit Teknik
c. Biro Audit Komersil & Lembaga Penunjang
2) Departemen CSR & Umum, yang terdiri dari:
a. Biro Pelayanan Umum
Seksi Transportasi & Keb. LP
Seksi Rumah Tangga
Seksi Protokol
Seksi Pemel. Sarana Umum
b. Biro CSR & PKBL
Seksi Program Kemitraan
Seksi CSR/Bina Lingkungan
Seksi Adm. Keu. CSR/PKBL
c. Biro Keamanan
Seksi KAM. Pabrik & Perumahan
3) Sekretaris Perusahaan
a. Biro Hukum & Govern.
Seksi Hukum
Seksi Tanah & Optimalisasi Aset
Seksi GCG
b. Biro Manajemen Risiko
c. Biro Humas
Seksi Perwakilan Jakarta

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


8

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Seksi Humas
Seksi Sekretariat
4) Staf Direktur Utama
2.4.2. Direktur Produksi, membawahi:
1) Departemen Produksi Bahan Baku
a. Biro Tambang
Seksi Perencanaan & Evaluasi Tambang
Seksi Penambangan Batu Kapur
Seksi Penambangan TL & PS
b. Biro Pemel. & Pelayanan Tambang
Seksi Pemel. Alat Tambang
Seksi Pemel. Mesin Crusher
Seksi Pemel. Ellins Crusher
c. Biro Operasi Crusher
Seksi Operasi Crusher BK
Seksi Operasi Cr. TL & PS
2) Departemen Produksi Tonasa 2/3
a. Biro Operasi 2/3
Seksi Operasi Raw Mill 2/3
Seksi Operasi Kiln 2/3
Seksi Operasi Coal Mill 2/3
Seksi Operasi FM 2/3
Seksi AFR Tonasa 2/3
b. Biro Pemel. Mesin 2/3
Seksi Pemel. Mesin Raw Mill
Seksi Pemel. Mesin Kiln dan CM 2/3
Seksi Pemel. Mesin FM 2/3
c. Biro Pemel. Listrik & Instrumen 2/3
Seksi Pemel. Ellins RM & CM 2/3
Seksi Pemel. Ellins Kiln 2/3
Seksi Pemel. Ellins FM 2/3
3) Departemen Produksi Tonasa 4
a. Biro Operasi Tonasa 4
Seksi Operasi Raw Mill 4
Seksi Operasi Kiln 4
Seksi Operasi Coal Mill 4
Seksi Operasi FM 4
Seksi AFR Tonasa 4
b. Biro Pemeliharaan mesin Tonasa 4
Seksi Pemel. Mesin Raw Mill 4
Seksi Pemel. Mesin Kiln dan CM 4
Seksi Pemel. Mesin FM 4
c. Biro Pemeliharaan Listrik & Instrumen Tonasa 4
Seksi Pemel. Ellins RM & CM 4
Seksi Pemel. Ellins Kiln 4

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


9

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Seksi Pemel. Ellins FM 4


4) Departemen Produksi Tonasa 5
a. Biro Produksi Tonasa 5
Seksi Operasi Raw Mill 5
Seksi Operasi Kiln & CM 5
Seksi Operasi Finish Mill 5
b. Biro Pemeliharaan Mesin Tonasa 5
Seksi Pemel. Mesin Raw Mill 5
Seksi Pemel. Mesin Kiln dan CM 5
Seksi Pemel. Mesin FM 5
c. Biro Pemeliharaan Ellins Tonasa 5
Seksi Pemel. Ellins RM & CM 5
Seksi Pemel. Ellins Kiln 5
Seksi Pemel. Ellins FM 5
d. Biro Operasi Packer & Angkutan Semen Curah
Seksi Operasi Packer 2/3
Seksi Operasi Packer 5
Seksi Angk. SC & Silo Semen
Seksi Pemeliharaan Packer PS
5) Departemen Perencanaan Teknik
a. Biro bengkel dan Perencanaan Umum
Seksi Bengkel Mesin
Seksi Bengkel Listrik
Seksi Pekerjaan Umum Pabrik
b. Biro Perencanaan & Pengendali Pemeliharaan
Seksi Perencanaan Suku Cadang
Seksi Inspeksi Pabrik
Seksi Perencanaan & Evaluasi Pemeliharaan
c. Biro Pengendalian Mutu
Seksi Pengendalian Mutu Tonasa 2/3
Seksi Pemngendalian Mutu Tonasa 4
Seksi Pengendalian Mutu Tonasa 5
d. Biro Perencanaan Pengendalian Proses
e. Biro Konstruksi
Seksi Konstruksi Mekanik
Seksi Konstruksi Ellins
Seksi Konstruksi Sipil
6) Departemen Pembangkit
a. Biro Operasi Pembangkit
Seksi PPOP I
Seksi PPOP II
Seksi Pengendalian Mutu Air & Batu Bara
b. Biro Pemeliharaan Mesin Pembangkit
Seksi Pemeliharan Mesin Pembangkit I
Seksi Pemeliharaan Mesin Pembangkit II

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


10

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

c. Biro Ditribusi Daya


Seksi Pengaturan Beban
Seksi Pemeliharaan Jaringan & Listrik Luar Pabrik
Seksi Pemeliharaan Jaringan & Listrik Pabrik
d. Biro Pemeliharaan Ellins Pembangkit
Seksi Pemeliharaan Listrik Pembangkit
Seksi Pemeliharaan Intrumen Pembangkit
7) Departemen Jaminan Mutu & Lingkungan/MR
a. Biro Jaminan Mutu
Seksi Pengujian Bahan
Seksi Jaminan Mutu Produk
Seksi Aplikasi Semen & Pelayanan Teknik
b. Biro Pemantauan Lingkungan & Properti
Seksi Pemantauan Lingkungan
c. Biro Pengembangan Sismen, Inovasi & TPM
d. Biro Kesel. & Kesehatan Kerja
Seksi K3 Pabrik
Seksi K3 Biringkassi & Fasilitas Lain
Seksi Kebersihan Pabrik
Seksi Pengolahan Air
2.4.3. Direktur Komersial
1) Departemen Penjualan
a. Seksi Administrasi Penjualan
b. Biro Penjualan Wilayah I
Seksi Penjualan Sulsel & Sulbar
Seksi Penjualan Sulut & Gorontalo
Seksi Penjualan Sulteng
Seksi Penjualan Sultra
c. Biro Penjualan Wilayah II
Seksi Penjualan Kaltim
Seksi Penjualan Kalsel & Kalteng
Seksi Penjualan Kalbar & Jawa
d. Biro Penjualan Wilayah III
Seksi Penjualan NTB & NTT
Seksi Penjualan Maluku & Papua
Seksi Penjualan Ekspor
2) Departemen Distribusi & Transportasi
a. Biro Distribusi
Seksi Pelabuhan Biringkassi
Seksi Pemel. Mesin Packer BKS & Coal Unloading
Seksi Pemel. Ellins Packer BKS & Coal Unloading
Seksi pelabuhan Makassar
Seksi Opersi Coal Unloading
b. Biro Transportasi
Seksi Transportasi Laut

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


11

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Seksi Darat & Depot


Seksi Pengendalian Kantong
c. Biro Pengantongan I
Seksi Pengantongan Bitung
Seksi Pengantongan Palu
Seksi Pengantongan Ambon
Seksi Pengantongan Kendari
Seksi Pengantongan Mamuju
d. Biro Pengantongan II
Seksi Pengant. Samarinda
Seksi Pengant. Banjarmasin
Seksi Pengant. Celukan Bwg
3) Departemen Pengadaan
a. Biro Pengadaan Barang
Seksi SC Barang Umum & Investasi
Seksi bahan Baku Penolong
b. Biro Pengelolaan Persediaan
Seksi Pengendalian Persediaan.
Seksi Pengelolaan Suku Cadang
Seksi Pengelolaan Bahan
Seksi Pengendalian Persediaan BKS
c. Biro Pengadaan Jasa
Seksi Pengadaan Jasa Teknik
Seksi Pengadaan Jasa Umum
d. Biro Perc. Pengadaan
4) Biro Perencanaan & Analisa Proses
a. Staf perenc. & Analisa Pasar
b. Seksi Promosi
c. Seksi Pengaduan Konsumen
2.4.4. Direktur Keuangan
1) Departemen Akuntansi & Keuangan
a. Biro Pengelolaan Dana
Seksi Penerimaan & Pembayaran
Seksi Pengel. & Perencanaan Likuiditas
b. Biro Pengel. Hutang Piutang
Seksi Adm. Hutang Piutang
Seksi Penagihan
c. Biro Pajak & Asuransi
Seksi Pajak
Seksi Asuransi & Pengel. Asset
d. Biro Akuntansi Keuangan
Seksi Akuntansi Umum
Seksi Verifikasi
e. Biro Akuntansi Manajemen
Seksi Akuntansi Biaya

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


12

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Staf Angg. & Eval. Kinerja


Staf Eval KPI
2) Departemen SDM
a. Biro Personalia
Seksi Adm. Karyawan
Seksi Hub. Karyawan & Outsoucing
b. Biro Diklat
Seksi Perc. & Pelaks. Diklat
Seksi Evaluasi Diklat
c. Biro Pelayanan Kesehatan
Seksi Penunjang Medis
Seksi Pelay. Medis & Keperawatan
Seksi Hyperkes
d. Biro Pengemb. Organisasi & SDM
Seksi PO & Perenc. SDM
Seksi Penilaian Kinerja Prod Karyawan
e. Staf Medis
2.5. Produk Semen PT. Semen Tonasa
Produk yang dihasilkan oleh PT. Semen Tonasa antara lain :
2.5.1. Semen OPC (Ordinary Portland Cement).
Ordinary Portland Cement adalah semen hidrolisis yang dibuat dengan
menggiling klinker semen dan gypsum. Semen Portland Jenis I produksi
perseroan memenuhi persyaratan SNI No. 12-2049-2004 Jenis 1 dan ASTM
C150-2004 tipe I dengan berat 50 kg dan semen curah. Ordinary Portland Cement
mempunyai C3S 59.3% ; C2S 17%; C3A 8%; C4AF 11.9% dan komposisi limit
sebagai berikut :
Tabel.1.1.Komposisi Limit Semen Tipe I
Oksi

Ko

p
o
s
i
s
i

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


13

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

%
B
e
r
a
t
CaO
SiO2
Al2O3
Fe2O3
MgO
SO3

66
21.5
5.5
3.9
5
2.53

CaO
B
e

0.82

b
as
Semen jenis ini banyak digunakan untuk bangunan umum dengan kekuatan
tekanan yang tinggi (tidak memerlukan peryaratan khusus) seperti: bangunan
bertingkat tinggi, perumahan, jembatan dan jalan raya, landasan bandar udara,
beton pratekan, bendungan/saluran irigasi, elemen bangunan seperti hollow,
genteng paving block, batako, buis beton, dan roster.
2.5.2. Portland Composite Cement (PCC)
Semen Portland Composite adalah bahan pengikat hidrolisis hasil
penggilingan bersama terak semen Portland dan gypsum dengan satu atau lebih
bahan organik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk
bahan organik, atau hasil pencampuran bubuk semen Portland dengan bubuk
bahan organik lain yang mempunyai sifat pozzoland. Bahan pozzoland yang
ditambahkan besarnya antara 15-40%. Semen Portland Composite produksi PT.
Semen Tonasa memenuhi persyaratan SNI 15-7064-2004.
Semen jenis ini banyak digunakan untuk kontruksi beton umum, pasangan
batu bata, plesteran dan acian, selokan, jalan, pagar dinding, pembuatan elemen
bangunan seperti beton pracetak, panel beton, dan sebagainya.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


14

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

2.5.3. Portland Pozzolan Cement (PPC)


Semen Portland Pozzolan adalah semen hidrolisis yang terdiri dari campuran
homogen antara semen portland dan pozzoland halus, yang diproduksi dengan
menggiling klinker semen portland

dan pozzoland bersama-sama atau

mencampur secara merata bubuk semen portland dan pozzoland. Kadar


Pozzoland 15%-40% massa semen Portland pozzolan.
Semen Portland Pozzoland produksi perseroan memenuhi persyaratan SNI
15-0302-2004 tipe IP-U. Semen jenis ini banyak digunakan untuk bangunan
bertingkat (2-3 lantai), kontruksi beton umum, kontruksi beton massa seperti
pondasi plat penuh dan bendungan, konstruksi bangunan di daerah pantai, tanah
berair (rawa) dan bangunan di lingkungan garam sulfat yang agresif, serta
konstruksi bangunan yang memerlukan kekedapan tinggi seperti bangunan
sanitasi, bangunan perairan dan penampungan air.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


15

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1. Definisi Semen
Semen adalah suatu campuran bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat hidrolis
dan apabila dicampur dengan air akan bereaksi dan berubah menjadi bahan yang
mempunyai sifat perekat sehingga bisa mengikat bahan-bahan lain menjadi satu satuan
massa yang padat.
Karena udara mengandung uap air maka proses pengerasan semen dapat terjadi di
air maupun udara. Sifat hidrolis ini yang menjadikan semen sebagai bahan utama dalam
konstruksi bangunan, jalan, jembatan, bendungan, dan lain-lain.
3.2. Bahan Baku
3.2.1. Bahan Baku Utama
a. Batu Kapur (CaCO3)
Batu kapur merupakan batuan sedimen yang dikategorikan sebagai batuan
keras dan merupakan penghasil CaCO3 terbesar. Batu kapur murni umumnya
berupa calcite atau argonit. Kadar CaCO3 yang terdapat dalam batu kapur
murni adalah 95%. Bentuk lain dari kalsit adalah marmer (marble), tapi batuan
ini kurang menguntungkan karena sangat keras.
Di alam, batu kapur didapatkan dalam bentuk campuran dengan tanah liat
dan oksida-oksida lain sehingga warnanya menjadi abu-abu sampai kuning.
Batu kapur tersusun atas kristal halus dan kasar yang umurnya dipengaruhi
umur geologisnya. Nilai kekerasan batu kapur berkisar antara 1,8-3,0 skala
Mohs. Mineral utama dalam batuan ini adalah calsite, berbentuk kristal
heksagonal dengan specific gravity 2,7; dan aragonite yang berbentuk kristal
rhombic dengan specific gravity 2,95; dengan mineral pengotor yang
mengikutinya antara lain quartz, chalcedony, opal untuk oksida silica, domilite
(CaMg(CO3)3) dan magnesite untuk oksida murni batu kapur berwarna putih.
Pada proses pembuatan semen, senyawa domilite ini dapat berubah menjadi
kristal magnesium oksida bebas yang dapat menurunkan mutu semen yang
dihasilkan. Menurut SNI 15-2049-1994 kadar MgO bebas ini tidak boleh
melebihi 5%.
b. Tanah Liat (Al2Si2O7.XH2O)
Tanah liat pada umumnya dikenal dengan lempung atau clay. Unsur tanah
liat yang diperlukan dalam pembuatan semen adalah kadar Al 2O3-nya,

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


16

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

sehingga apabila kadar SiO2 lebih banyak dari Al2O3, maka tanah liat tersebut
tergolong kurang baik digunakan.
Semua jenis tanah liat adalah hasil pelapukan kimia yang disebabkan
adanya pengaruh air dan gas CO2, batuan adesit, granit, dan sebagainya.
Batuan-batuan ini lapuk dan menjadi bagian-bagian yang tak larut dalam air
tetapi mengendap berlapis-lapis dan tertimbun tidak beraturan. Sifat tanah liat
jika dibakar atau dipanaskan akan berkurang sifat keliatannya dan menjadi
keras bila ditambah air. Warna tanah liat adalah putih jika tidak mengandung
zat pengotor, tetapi tanah liat akan berubah warna menjadi kekuningan jika
mengandung senyawa besi organik. Tanah liat mengalami reaksi pelepasan air
hidrat jika dipanaskan pada suhu 500oC.
3.2.2. Bahan Korektif
Bahan korektif untuk pembuatan semen digunakan jika kadar senyawa di
dalam bahan baku utama yang digunakan kurang.

Bahan korektif yang

digunakan dalam pembuatan semen yaitu:


a. Pasir silika (SiO2)
Bahan pembawa oksida silika (SiO2) berwarna putih sampai kuning pada
keadaan murni yaitu sekitar 90%. Selain mengandung oksida silika, pasir
silika juga mengandung oksida lain yaitu oksida aluminium dan oksida besi.
Pasir silika ini banyak terdapat di pantai dengan derajat kemurnian sekitar 9599,8% SiO2. Warna pasir silika dipengaruhi oleh adanya kotoran seperti oksida
logam dan bahan organik.
b. Copper slag
Pasir besi dengan ferri oksida (Fe2O3) sebagai komposisi tertinggi (7080%). Pasir besi juga berfungsi sebagai penghantar panas dalam pembentukan
luluhan terak semen. Pasir besi disebut juga irronore yang depositnya terdapat
di sepanjang pantai dengan kadar Fe2O3 15% dan berwarana hitam. Bahan ini
sebagai pembawa oksida besi. Copper slag ini sebagai pengganti pasir besi,
digunakan karena mempunyai kandungan besi yang tinggi sehingga
menyebabkan material ini berdenstias tinggi dibandingkan dengan densitas
pasir alam. Material ini mempunyai sifat fisik yang sangat kuat dan porositas
optimum. Dalam proses pembuatan semen, copper slag bereaksi dengan CaO
dan Al2O3 membentuk kalsium alumina ferrit.
3.2.3. Bahan tambahan

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


17

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

a. Gypsum
Gypsum adalah bahan sedimen CaSO4 yang mengandung 2 molekul
hidrat yang berfungsi sebagai penghambat proses pengeringan pada semen.
Penambahan

gypsum

dilakukan

dengan

penggilingan

akhir

dengan

perbandingan 96:4. Gypsum mengalami reaksi pelepasan hidrat dari


CaSO4.2H2O menjadi CaSO4.1/2H2O dan 1 1/2H2O. Gypsum berbentuk kristal
dan berwarna putih. Gypsum dapat diperoleh dari alam

maupun secara

sintetik. Gypsum terdapat di dalam batuan kalsium sulfat yang banyak


terdapat di kawah gunung berapi.
b. Material ke 3
Limestone (batu kapur)
Limestone adalah batu kapur murni tanpa ada pencampuran dan berfungsi
untuk memperhalus semen pada saat penggilingan. Limestone digunakan
untuk menambah jumlah produksi pada pembuatan semen namun tidak
mempengaruhi senyawa pada semen.
Trass
Trass mempunyai fungsi sama dengan limestone. Selain itu trass juga
menambah kuat tekan semen dan berfungsi sebagai strength pada cetakan
semen.
3.3. Jenis Proses Pembuatan Semen
Ditinjau dari kadar air umpan, terdapat 4 jenis proses pembuatan semen, yaitu:
a. Proses basah
b. Proses semi basah
c. Proses semi kering
d. Proses kering
a. Proses basah
Pada proses ini bahan baku dihancurkan di dalam raw mill, kemudian digiling
dengan ditambah air dalam jumlah tertentu. Hasilnya berupa slurry/buburan,
kemudian dikeringkan dalam rotary dryer sehingga terbentuk umpan tanur berupa
slurry dengan kadar air sebesar 25-40%. Pada umunya proses ini menggunakan long
rotary kiln untuk menghasilkan terak. Terak tersebut kemudian didinginkan dan
dicampur dengan gypsum untuk selanjutnya digiling di dalam finish mill.
Proses ini boros karena menggunakan panas sekitar 1500-1900 kcal/kg terak,
sehingga dibutuhkan lebih banyak bahan bakar. Panas yang cukup tinggi juga
diperlukan selama proses pembakaran karena banyaknya kandungan air yang masih
terkandung dalam umpan tanur. Dalam hal ini tentu saja panas dibutuhkan untuk

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


18

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

mengurangi kandungan air terlebih dahulu, baru dipakai untuk membentuk terak.
Dari proses ini biasanya suhu gas keluarnya sekitar 1500-2500oC.
Keuntungan :
Pencampuran dari komposisi slurry lebih mudah karena berupa luluhan.
Kadar alkalis tidak menimbulkan gangguan penyempitan dalam saluran preheater

atau pipa.
Debu yang dihasikan relatif sedikit.
Deposit yang tidak homogen tidak berpengaruh karena mudah mencampur dan

mengoreksinya.
Kerugian :
Pemakaian bahan bakar labih banyak, karena kebutuhan panas pembakaran

tinggi.
Tanur putar yang digunakan ukurannya lebih panjang dibandingkan dengan

proses kering.
Memerlukan air proses dalam jumlah yang banyak.
Kapasitas produksi lebih sedikit karena pada awal proses penggilingan, terjadi
proses pencampuran bahan dengan air. Akibat adanya pengurangan kadar air pada
proses penggilingan umpan tanur yang diperoleh relatif sedikit.

b. Proses semi basah


Pada proses ini umpan masuk tanur berupa granular atau pallet (cake) dengan
kadar air 15-25%. Proses penyediaan umpan tanur hampir sama dengan proses
basah, hanya saja sebelum masuk tanur umpan disaring terlebih dahulu dengan
bantuan filter press. Konsumsi panas pada proses ini cukup banyak, yaitu 1000-1200
kcal/kg terak karena umpan kiln masih mengandung air.
Keuntungan :
Umpan lebih homogen.
Debu yang dihasilkan relatif sedikit.
Kerugian :
Tanur yang digunakan lebih panjang.
Membutuhkan filter untuk menyaring umpan sebelum masuk ke kiln.
Energi yang dibutuhkan masih cukup besar.
c. Proses semi kering
Umpan tanur pada proses ini berupa tepung kering, lalu dengan alat granulator
(peeltizer) umpan disemprot dengan air untuk dibentuk menjadi granular dengan
kadar air 10-12% dan ukurannya sekitar 10-12 mm. Proses ini menggunakan tungku
tegak (shaft kiln) atau long rotary kiln, namun kapasitas rata-rata shaft kiln rendah
jika memakai long rotary kiln. Maka harus dilengkapi dengan grate prehaeter

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


19

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

sehingga kapasitasnya bisa lebih tinggi. Konsumsi panas pada umunya sekitar 1000
kcal/kg terak.
Keuntungan :
Tanur yang digunakan lebih pendek.
Diperoleh terak yang seragam.
Kerugian :
Menghasilkan debu.
Membutuhkan filter.
d. Proses kering (dry process)
Pada proses ini bahan baku dipecah dan digiling disertai pengeringan dengan
jalan mengalirkan udara panas ke dalam raw mill sampai diperoleh tepung baku
dengan kadar air sebesar 0,5%-1%. Selanjutnya tepung baku yang telah homogen
ini diumpan ke dalam suspension preheater sebagai pamanasan awal, disini terjadi
perpindahan panas melalui kontak langsung antara gas panas dan material dengan
arah berlawanan (counter current).
Material yang telah keluar dari suspension preheater siap menjadi umpan kiln
dan diproses menjadi terak. Dimana terak tersebut kemudian didinginkan dan
dicampur dengan gypsum dengan perbandingan 95:5 dan selanjutnya digiling dalam
finish mill sehingga menjadi semen. Adanya sistem suspension preheater akan
menghilangkan kadar air dan mengurangi beban panas di kiln.
Keuntungan :

Rotary kiln yang digunakan relatif pendek.


Heat consumsion rendah yaitu sekitar 800-1000 kcal/kg terak semen sehingga

bahan bakar yang digunakan lebih sedikit.


Kapasitas produksi besar.
Biaya operasi rendah.
Kerugian :
Kadar air sangat mengganggu operasi karena material lengket pada inlet chute.
Impuritas alkali menyebabkan penyempitan pada saluran preheater.
Campuran tepung baku kurang homogen.
Banyak debu yang dihasilkan sehingga membutuhkan alat penangkap debu.
3.4. Komposisi dan Sifat Semen
Komposisi semen terdiri atas senyawa-senyawa utama (mineral-mineral potensial)
sebagai penyusun semen yang terbentuk dari keempat oksida utama, yaitu : oksida

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


20

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

kapur (CaO), oksida silika (SiO2), oksida alumina (Al2O3) dan okdsida besi (Fe2O3).
Kandungan dari keempat oksida tersebut kurang lebih 95% dari berat semen, dan
biasanya disebut major oxides.
Keempat oksida tersebut dibakar dengan perbandingan tertentu akan menghasilkan
senyawa-senyawa penyusun semen yaitu :
1. Trikalsium silikat (3CaO.SiO2 atau C3S)
C3S terbentuk pada suhu diatas 1250oC dan mempunyai sifat bila ditambah air cepat
mengeras. C3S juga mempengaruhi pengikatan kekuatan awal, terutama kekuatan
awal sebelum 28 hari. Kandungan C3S berkisar antara 35-55% tergantung pada jenis
semen portland.
2. Dikalisum silikat (2CaO.SiO2 atau C2S)
C2S terbentuk pada suhu 800-900oC dan memberi kekuatan penyokong pada semen
selama satu hari. Kandungan C2S pada semen portland antara 15-35%.
3. Tricalsium Aluminat (3CaO.Al2O3 atau C3A)
C3A terbentuk pada suhu 900-1100oC, kandungan C3A pada semen portland
berkisar antara 7-15%. Dengan adanya kandungan C3A, dapat memberikan
kekuatan penyokong pada beton dalam periode 1-3 hari.
4. Tetracalsium alumina ferrite (4CaO.Al2O3.Fe2O3 atau C4F)
C4F terbentuk pada suhu 900-1200oC dan memberikan pengaruh pada warna semen.
Akan tetapi kurang berpengaruh pada kekuatan semen. Kandungan C3A pada semen
portland sekitar 5-10%.
Keempat senyawa ini berpengaruh terhadap sifat-sifat semen portland, umunya semen
portland mengandung komposisi :

C3S dan C2S 75% : memberikan sifat semen dalam hal kekuatan tekanan semen.
C4AF dan C3A 25% : memberikan sedikit pengaruh terhadap sifat semen, C4AF
memberikan pengaruh terhadap warna semen sedangkan C3A memberikan pengaruh
terhadap kecepatan pengerasan semen.

Komposisi Semen Portland


Semen portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan dengan cara menggiling
terak semen portland terutama terdiri atas kalsium silikat yang bersifat hidrolis
yang digiling bersama dengan bahan tambahan berupa satu atau lebih bentuk
kristal senyawa kalsium sulfat dan boleh ditambah dengan bahan tambahan lain.
Komposisi Kimia Semen Portland :
Oksida kapur (CaO)
Oksida silika (SiO2)
Oksida alumina (Al2O3)

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


21

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Oksida besi (Fe2O3)


Kandungan dari keempat oksida ini kurang lebih 95% dari berat semen dan

biasanya disebut major oxides, sedangkan sisanya terdiri dari oksida magnesium
(MgO) dan oksida lain.
Oksida Minor pada Semen Portland
Oksida-oksida minor pada semen portland mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :
a. SO3
b. CaO bebas
c. 5MgO
d. Oksida
e. Oksida fosfor
f. Hilang Pijar (LOI)
g. Bagian tidak larut (insolube)
Sifat Sifat Fisika Semen Portland
a. Kehalusan (fineness), disyaratkan karena akan menentukan luas permukaan
partikel- partikel semen, dan ini sangat berpengaruh pada proses hidrasi. Standar
kehalusan yang dipakai adalah sisa di atas ayakan 90 micron (170 mesh) atau 45
micron (325 mesh) atau dengan alat blaine (Air Permiability Meter).
b. Waktu pengikatan (Settling Time) : waktu pengikatan semen tidak boleh terlalu
cepat dan tidak boleh terlalu lambat. Hal ini dipersyaratkan untuk
mengendalikan sifat plastisitas dan workability dari adonan mortar dan beton.
c. Kekekalan bentuk : syarat ini untuk pengendalian agar pada beton tidak terjadi
pemuaian atau penyusutan, karena dapat mengakibatkan kerusakan pada
konstruksi.
d. Kekuatan tekan : Kekuatan tekan adalah sifat kemampuan menahan/memikul
suatu beban tekan. Kekuatan tekan merupakan sifat paling penting yang harus
dipunyai selain sifat-sifat lain yaitu kekuatan tarik dan kekuatan lentur.
3.5. Jenis-jenis semen
Dengan menyesuaikan keinginan para konsumen maka para produsen semen
senantiasa melakukan berbagai penelitian sehingga diperoleh jenis-jenis semen sebagai
berikut:
1. Semen Portland
Semen portand adalah hidraulis blender (material yang mempunyai sifat-sifat
adhesif dan kohesif) yang dihasilkan dengan cara menghaluskan tanah semen
(klinker) yang terdiri dari silikat-silikat kalsium hidrat yang bersifat hidraulis dan
digiling bersama bahan tambahan. Satu atau lebih bentuk kristal senyawa kalsium
sulfat. Klinker adalah penamaan untuk gabungan komponen produk semen yang

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


22

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

belum diberikan bahan tambahan lain untuk memperbaiki sifat semen. Semen
portland dibagi menjadi beberapaa jenis antara lain :
a. Semen Portland Tipe I
Yaitu semen portland dengan kadar C3S (59,3%). Lebih dikenal dengan semen
abu-abu dan dipakai untuk keperluan umum, seperti konstruksi bangunan yang
tidak memerlukan persyaratan khusus, misalnya panas hidrasi, ketahanan dsb.
Selain itu mempunyai C2S 17%, C3A 8%, C4AF 11,9%.
b. Semen Portland Tipe II
Yaitu semen porland dengan kadar C3S (51%), C4AF (11,9%) dan C3A (8%).
Semen ni digunakan dalam situasi yang memerlukan kalor hidrasi yang tidak
terlalu tinggi atau untuk bangunan beton yang dapat terkena aksi sulfat yang
sedang.
c. Semen Portland Tipe III (High Early Strength Cement)
Yaitu semen dengan kandungan C3S (35%), C2S (40%) dan C3A (15%). Dalam
satu hari, kekuatan semen ini dapat mencapai 3 kali kekuatan semen portland tipe
I dan dalam waktu tiga hari kekuatannya dapat mencapai 3 kalinya dalam waktu
yang sama. Berat jenisnya relatif besar sehingga daya tahan semen ini naik.
d. Semen portland tipe IV (low heat cement)
Yaitu semen dengan kadar C3S (35%), C2S (40%) dan C3A (7%). Karena kadar
C3A dan C3S yang rendah, maka kekuatan awalnya sangat rendah. Semen ini
biasanya digunakan untuk membuat bendungan untuk keperluan hidraulik
engineering. Semen ini tahan terhadap sulfat dan mempunyai susut yang rendah
dan pertambahan kekuatan semen lambat.
e. Semen portland tipe V (sulfate resistance cement)
Pada semen ini kandungan C3A-nya (5%) paling rendah karena itu mempunyai
kekuatan tahan sulfat yang tinggi dan panas hidrasinya rendah. Semen ini baik
digunakan untuk konstruksi pelabuhan, terowongan, konstruksi dalam tanah yang
2.

banyak mengandung sulfat.


Semen Campuran
Semen campuran ini dibuat karena dibutuhkannya sifat khusus yang tidak
dimiliki oleh semen portland. Untuk memproleh sifat khusus tersebut biasanya
diperlukan bahan lain sebagai bahan tambahannya. Jenis-jenis semen campuran
antara lain.
Semen Portland Pozzolan
Menurut SSI, semen portland pozzolan adalah suatu bahan pengikat yang

a.

hidrolis yang dibuat dengan menggiling terak semen portland dengan bahan yang

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


23

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

mempunyai sifat pozzolan atau mencampur secara merata bubuk semen portland
dan bubuk lain yang mengandung sifat pozzoland.
Sebagai bahan tambahan pada semen portland pozzolan ini digunakan bahan
tambahan yang bersifat pozzolan yang dapat berasal dari alam maupun dibuat
secara sintesis. Pozzolan alam yaitu seperti tufa, abu vulkanis dan tanah diatom.
Sedangkan pozzolan buatan yaitu hasil pembakaran batu bara.
Sifat-sifat semen portland pozzolan antara lain :
Panas hidrasinya rendah

Tahan sulfat dan air laut

Kekuatan tekan awal kurang, tekan akhir tinggi

b.

Semen portland blast furnace slag


Portland blast furnace slag adalah semen portland yang dicampur dengan
kerak dapur tinggi secara homogen dengan cara mencampur bubuk halus semen
portland dengan bubuk halus slag. Aktivitas slag bertambah seiring bertambahnya
rasio CaO, MgO, SiO2, Al2O3. Kerak (slag) adalah bahan non metal hasil samping
dari pabrik pengecoran besi dalam tanur (dapur tiggi) yang mengandung silika,
alumina, atau kalsium silikat dan kalsium alumina silikat.

c. Semen masonry
Semen masonry adalah semen hidrolik untuk digunakan sebagai adukan
konstruksi, masonry mengandung semen portland, portland blast furnace slag,
semen portland pozzolan, semen alam atau semen buatan dan bahan-bahan
tambahan lain yang mengandung kapur padam, batu kapur, chalk calseous sheell,
talk, slag dan tanah liat. Semen masonry dapat menyerap air dengan baik, daya
plastisitasnya tinggi dan kekuatan tekan rendah.
d. Semen putih
Semen putih dibuat untuk tujuan dekoratif, bukan untuk tujuan konstrukstif.
Pembuatan smen ini membutuhakn persyaratan khusus seperti bahan mentahnya
menandung oksida besi dan oksida magnesia yang angat rendah (dibawah 1%).
e. Oil well cement
Oil well cement adalah semen portland yang dicampur dengan bahan retarder
khusus seperti asam borat, casein, lignin, gula atau organic hidroxid acid. Fungsi
dari retarder disni adalah untuk mengurangi kecepatan pengerasan semen
sehingga adukan dapat dipompakan sampai ke dalam sumur minyak atau gas.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


24

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

f. Semen anti bakteri


Semen anti bakteri adalah campuran yang homogen antara semen portland
dan anti bakteri seperti germicide.

Bahan tersebut ditambahkan untuk self

disinfectant beton terhadap serangan bakteri dan fungi (jamur) yang tumbuh.
Semen ini dipakai untuk kolam renang, kamar mandi dan keramik.
Selain jenis-jenis semen di atas, masih ada lagi jenis semen campuran lain
seperti :
Water profed cement
Hydrophobic cement
Coloured cement
Sorel cement
Super sulfate cement
3.6. Besaran-Besaran pada Pabrik Semen
Pada pabrik semen dikenal beberapa besaran antara lain :
1. Modulus HM
Modulus HM adalah perbandingan antara seluruh CaO yang ada dalam semen
ataupun raw meal dengan jumlah seluruh oksida silika, oksida alumina dan oksida
besi. Harga HM bervariasi dari 1,7-2,3. HM semen yang bermutu baik berkisar
antara 1,7-2,0.
HM=

CaO
SiO2 + Al2 O 3+ Fe 2 O3

2. Modulus Silika (SM)


Modulus silika merupakan perbandingan antara kadar oksida silika dengan jumlah
kadar oksida alumina dan oksida besi. Harga SM berkisar antara 1,9-3,2. Tetapi
dalam pembuatan semen, harga SM yang diharapkan antara 2,2-2,4.
SM =

SiO2
Al 2 O3 + Fe2 O3

3. Modulus Alumina (AM)


Alumina modulus adalah perbandingan antara kadar oksida alumina dan oksida besi.
AL O
AM = 2 3
Fe2 O3
4. Lime saturation factor (LSF)

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


25

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

LSF adalah perbandingan antara seluruh CaO yang terdapat dalam campuran bahan
baku dengan CaO standar yang diperlukan untuk pembentukan senyawa-senyawa
mineral potensil. Makin tinggi harga LSF raw meal, maka makin sulit raw meal
tersebut dibakar.
LSF=

100 CaO
2,8 SiO2 +1,1 Al 2 O3 +0,7 Fe2 O3

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


26

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB IV
PROSES PEMBUATAN SEMEN PADA
PT. SEMEN TONASA DI UNIT V
Proses pembuatan semen di PT. Semen Tonasa secara garis besar dibagi menjadi 5 tahap
yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Proses penyediaan bahan baku


Proses penggilingan bahan baku (Raw Mill)
Proses pembakaran raw meal menjadi klinker (Kiln)
Penggilingan batubara
Proses di cement mill
Proses pengantongan semen.

4.1. Proses Penyediaan Bahan Baku


Proses penyediaan bahan baku meliputi penambangan batu kapur, tanah liat, dan pasir
silica.
4.1.1. Penambangan Batu Kapur
Sebelum melakukan kegiatan penambangan, yang harus dilakukan terlebih
dahulu adalah perintisan lokasi. Perintisan adalah pekerjaan pendahuluan yang
sebelum daerah tambang memproduksi batu kapur secara berlanjut, tujuannya
yaitu untuk membuat jalan rintisan sehingga alat-alat berat yang diperlukan dapat
dengan mudah tiba di lokasi penambangan dan siap untuk memproduksi pada
proses berikutnya. Kegiatan penambangan untuk menyiapkan bahan mentah ini
meliputi pengeboran, peledakan, dan pengangkutan.
4.1.2. Penambangan Tanah Liat
Sebelum melakukan penambangan tanah liat terlebih dahulu dilakuakan
tahap perintisan dengan alat bulldozer untuk membersihkan vegetasi yang ada.
Setealah itu, tanah liat digerus dengan alat muat back hoe dan kemudian
dimasukkan dalam drum truck kemudian diangkut ke clay crusher yaitu dua buah
silinder untuk proses pemecahan. Proses pemecahan tanah liat dilakukan dengan
roller crusher yaitu dua buah silinder yang berputar cepat dan arah putarannya
yang berlawanan, hal ini dilakukan untuk memecah batuan yang tercampur
dengan tanah liat dengan menggunakan roll crusher primer dan roll crusher
sekunder selanjutnya diangkut dengan belt conveyor menuju clay storage.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


27

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Pengambilan tanah liat didasarkan pada kadar SiO2, kualitas tanah liat yang
4.1.3.

diambil dan kadar air.


Penambangan Pasir Silika
Pasir silica sebagai bahan pembantu untuk mengoreksi komposisi kimia
tanah liat selain didapatkan pada kandungan tanah liat juga diambil dari deposit
yang terdapat di Sulawesi Selatan, karena pasir silika sudah halus sehingga tidak
mengalami perlakuan awal sebelum masuk ke gudang.

4.2. Proses Penggilingan Bahan Baku (Raw Mill)


Proses penggilingan bahan baku di dalam raw mill bertujuan untuk memproduksi
tepung/bubuk bahan baku dengan kualitas yang dibutuhkan untuk umpan tanur putar
dengan ukuran yang diinginkan karena semakin kecil ukuiran material maka luas
permukaan relative besar

sehingga pencampuran bahan lebih homogen dan

mempermudah reaksi dalam pembakaran.


Adapun proses yang terjadi dalam raw mill sebagai berikut :
4.2.1. Penyiapan Bahan Baku
Batu kapur yang berasal dari gudang dikeruk oleh portal scrapper dan
dinaikkan ke dalam belt conveyor dan kemudian diangkut ke dalam bin. Tanah
liat yang dari gudang diambil dengan bucket chain excapator dan diangkut
dengan belt conveyor masuk ke dalam hopper tanah liat. Sedangkan pasir silika
diangkut dari gudang dengan belt conveyor ke bucket elevator kemudian masuk
ke dalam bin pasir silika.
4.2.2. Penggilingan Bahan Baku
Di Pabrik Semen Tonasa V menggunakan vertical raw mill. Bahan baku dari
bin masing- masing kemudian dikeluarkan dengan weight feeder dan disatukan
dalam belt conveyor dan diumpankan ke dalam mill. Bahan baku dari mill akan
jatuh ke dalam table (media penggilingan) dan kemudian giling atau digerus oleh
roller. Tujuan dari penggilingan ini selain menghaluskan juga sebagai pengering.
Gas panas yang digunakan ialah gas panas dari hasil pembuangan dari kiln.
Serbuk yang dihasilkan selanjutnya dihisap oleh mill fan menuju separator.
Separator ini berfungsi untuk memisahkan material halus dan kasar, material
halus akan lolos sedangkan material kasar akan jatuh kembali ke dalam media
penggilingan . Kecepatan separator mempengaruhi kehalusan material yang lolos.
Material halus yang lolos melewati separator selanjutnya menuju ke cyclone.
Di dalam cyclone terjadi pemisahan awal antara material produk dengan gas
panas. Pada bawah bagian cyclone terdapat flow gate yang mengatur material

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


28

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

jatuh ke dalam air slide. Kemudian dengan alat transport air slide produk
ditransport menuju bucket elevator untuk selanjutnya ditransport lagi dengan air
slide menuju silo penampungan raw meal.
4.2.3. Penyimpanan Raw Meal
Raw meal hasil penggilingan yang masuk ke silo membentuk lapisan-lapisan
dengan ketinggian tertentu. Dibuat dalam tumpukan yang berlapis agar
mempunyai komposisi yang seragam, tetapi pada kenyataannya komposisi
keluaran silo belum seragam. Ketidakseragaman ini ditimbulkan oleh fluktuasi
produk raw meal. Untuk menekan deviasi fluktuasi maka turunnya material di
silo raw meal diatur sedemikian rupa melalui gate-gate yang beroperasi
bergantian sehingga material dalam silo membentuk lapisan-lapisan. Pada saat
pencurahan ini terjadi pusar arus material yang menarik mateial antar lapisan.
Sehingga material yang masuk ke dalam raw meal silo sudah mengalami
homogenisasi. Untuk menjaga agar tidak terjadi penggumpalan pada silo raw
meal, maka ditiupka udara aerasi ke dalam silo tersebut.
Tujuan homogenisasi dalam raw mill adalah untuk mengurangi fluktuasi
komposisi kimia dan fisika dari salah satu komponen bahan baku atau campuran.
Prahomogenisasi sebelum bahan baku digiling, digunakan reclaming scraper
pada waktu pengambilan bahan baku. Keuntungan dari reclaimer scaper sebagai
berikut :
Daya yang digunakan lebih kecil
Dapat menangani material basah
Biaya perawatan relatif rendah
Sedangkan untuk raw mill digunakan cara pneumatic homogenation. Adapun
kesulitan dalam pengoperasian yang terjadi jika raw meal tidak homogen, antara
lain :

Terbentuknya ring coating


Kebutuhan bahan bakar besar
Umur batu tahan api lebih pendek
Menurunkan hasil produksi
Menyulitkan penggilingan klinker
Hasil semen yang dihasilkan bervariasi.

4.3.
Proses Pembentukan Klinker
4.3.1. Proses Pemanasan Awal (Preheater)
Pemanasan raw meal dilakukan di preheater cyclone 4 tingkat . sebagai
pemanas digunakan gas dari rotary kiln. Aliran material dari silo raw meal

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


29

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

dibawa oleh belt conveyor masuk ke dalam puncak preheater sedangkan gas
panas masuk ke cyclone paling bawah berlawanan arah dengan arah aliran
material masuk. Aliran gas masuk dimungkinkan karena adanya isapan fan
sedangkan material bergerak karena gaya gravitasi. Feed masuk dari bagian atas,
saat itu juga umpan terbawa aliran gas panas masuk ke cyclon dan dust maka
umpan tanur dan gas akan berputar pada bagian dalam cyclone. Dengan adanya
gaya sentrifugal maka umpan akan terpisahkan.
4.3.2. Proses Pembakaran pada Kiln
Raw meal yang siap dibakar di rotary kiln bila proses yang terjadi preheater
berjalan dengan

baik, jika tidak terjadi flushing dan coating selama proses

berlangsung. Rotary kiln yang digunakan berupa silinder sepanjang 86 meter


yang terbuat dari baja yang bagian dalamnya dilapisi dengan batu tahan api.
Batu tahan api ini berfungsi untuk mengurangi kehilangan panas akibat radiasi
dan konduksi, selain itu batu tahan api juga berfungsi melindungi silinder dari
panas karena pembakaran di dalam kiln berlangsung pada suhu yang sangat
tinggi. Secara berkala batu tahan api akan diperiksa apakah masih layak untuk
dipakai. Batu tahan api ini dipasang berdasarakan suhu, tahapan pembakaran dan
reaksi kimia yang terjadi di dalam kiln. Atas dasar tersebut, maka penempatan
lapisan dan jenis refraktori pada masing-masing proses adalah :
a. Zona preheating
Rendah alumina (<35% Al2O3)
Batu yang digunakan adalah light weight firebricks untuk isolasi panas
yang baik.
b. Zona kalisnasi
Batu tahan api yang digunakan adalah fireclay bricks, mengandung

45% Al2O3 dan dipergunakan pada suhu 1200oC.


Acid fireclay bricks/light weight, digunakan untuk proses yang

mengandung banyak alkali.


c. Zona transisi
Pada zona ini digunakan refraktori yang tahan terhadap perubahan suhu
dan porositas rendah sehingga tahan terhadap infitrasi garam. Pada
zona ini biasanya digunakan refraktori dengan kandungan alumina
tinggi (50-60%).
d. Zona sintering
Di zona ini refraktori harus tahan terhadap bahan kimia.
Mengandung magnesia-spinel atau dolomite.
e. Zona pendinginan

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


30

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Digunakan refraktori dengan kadar alumina yang lebih tinggi, bisa


mencapai 80%.

Kiln feed yang diumpankan berlawanan arah dengan aliran gas panas.
Pemanas yang digunakan berasal dari gun burner dan udara panas dari cooler.
Begitu batu bara dan O2 dari udara masuk maka batu bara akan langsung terbakar
dan berkontak dengan material yang masuk ke kiln. Di dalam kiln terbagi
beberapa tahapan antara lain : tahapan pengeringan, tahapan penguapan air
kristal, proses penguapan air kristal, proses penguraian kalsium dan magnesium
karbonat dan pembentukan penyusun utama klinker.
Di dalam kiln terjadi reaksi kimia, tahapan-tahapan reaksi yang terjadi di kiln
adalah sebagai berikut: (Data dari ruang kontrol)
1. Di bawah temperature 200oC terjadi penguapan air.
2. Temperatur 400-700oC terjadi penguapan air kristal
Al2O3.2SiO2.2H2O
Al2O3 +2SiO2+2H2O
o
3. Temperatur 600-700 C terjadi dekomposisi kaolin
4. Temperatur 600-1000o C terjadi dekomposisi limestone membentuk C2S
dan C3A.
Reaksi: CaCO
CaO+CO2
3CaO+2SiO2+Al2O3
2CaO.SiO2 +CaO.Al2O3
o
5. Temperatur 800-1300 C C2S dan C3A yang terbentuk akan bereaksi
dengan CaO membentuk C4AF.
6. Temperatur 1250-1450oC pembentukan C3S
2CaO. SiO2 + CaO
3CaO. SiO2
Pembentukan C3S akan terganggu bila temperature pembakaran tidak cukup
tinggi. Bila hal ini terjadi maka akan timbul free lime (CaO bebas). Sebab sebab
timbulnya free lime dalam klinker sebagai berikut :
1. Kadar CaO di raw meal terlalu berlebihan.
2. Reaksi klinkerisasi tidak berlangsung sempurna karena temperatur rendah.
3. Ukuran raw meal terlalu besar.
Jadi material yang keluar dari kiln terdiri dari:
1. C2S yang akan memberikan kuat tekan awal sebelum penambahan air.
2. C3S yang memberikan kuat tekan akhir setelah dicampur air selama 28
hari.
3. C3A dan C4AF yang merupakan mineral potensial klinker.
Beberapa senyawa yang dapat menimbulkan gangguan-gangguan atau
kesulitan dalam pembakaran terak, antara lain senyawa alkali, belerang, dan
klorida.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


31

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

a. Alkali
Sebagian besar senyawa alkali berasal dari bahan baku tanah liat ataupun
dari bahan bakar, khususnya batubara. Pada suhu sekitar 8001000 oC,
senyawasenyawa alkali dalam raw mix yang masuk ke dalam tanur putar
mulai menguap. Uap alkali ini akan bereaksi dengan gas-gas SO 3 (baik dari
bahan baku maupun bahan bakar). CO2 dan klorida membentuk senyawasenyawa alkali sulfat (Na2SO3.K2SO4), alkali karbonat (Na2CO3 dan K2CO3)
dan alkali klorida (NaCl dan KCl). Tetapi pada suhu dibawah 700 oC sebagian
besar garam-garam alkali yang terbentuk akan mengembun dan cairannya akan
menempel pada butir-butir umpan tanur membentuk bahan yang bersifat
stikcly (terutama alkali sulfat dan klorida).
Bahan-bahan yang sticky dapat menempel pada dinding preheater,
sebagian turut terbawa debu meninggalkan preheater dan sebagian lagi
terbawa ke dalam tanur putar. Jika senyawa-senyawa alkali (khususnya alkali
sulfat dan klorida) jumlahnya sudah cukup banyak, maka senyawa-senyawa ini
dapat membentuk coating yang dapat menyebabkan buntunya preheater. Agar
preheater tidak buntu, maka jumlah alkali dalam pembakaran harus dikurangi.
Pengurangan dapat dilakukan dengan jalan mengelurkan sebagian gas
pembakaran dari tanur putar tanpa melalui preheater, tetapi melalui saluran
khusus (by-pass).
b. Belerang
Seperti halnya alkali, senyawasenyawa belerang kebanyakan berasal dari
bahan baku tanah liat ataupun bahan bakar yang digunakan. Dalam bahan baku
senyawa belerang umumnya berupa senyawa pirit dan martkasit (FeS 2) dengan
kadar sekitar 0,1 % dinyatakan sebagai SiO 3. Bahan bakar sendiri khususnya
minyak bunker-C mengandung senyawa belerang dalam bentuk senyawa
mersaptan (RSH), tiopen (C4H4S), dan lain-lain dengan kadar antara 0,03,5 %
dinyatakan sebagai SO3. Jika jumlah SO3 cukup banyak, maka kelebihan gas
SO3 akan bereaksi dengan kalsium karbonat (CaCO3) umpan tanur di preheater
membentuk senyawa CaSO4. Senyawa ini masuk ke dalam tanur bersama
umpan lainnya, dan sesampainya di burning-zone sebagian akan terurai
menjadi:

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


32

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

CaSO4

CaO + SO3

SO3 yang terbentuk akan meningkatkan sirkulasi belerang. Sebagian


CaSO4 akan terbawa keluar bersama terak. Anhidrit CaSO4 daya larutnya lebih
kecil dibandingkan dengan daya larut gypsum, sehingga tidak dapat berfungsi
sebagai pengatur waktu pengikat semen.
Selain itu, adanya anhidrit CaSO4 menyebabkan jumlah gypsum yang
dapat ditambahkan pada penggilingan terak menjadi berkurang. Persyaratan
kadar maksimum SO3 total bukan berasal dari gypsum saja. Lebih dari
setengah jumlah belerang yang masuk ke dalam proses, keluar bersama terak
dengan kadar 0,1 0,5% dinyatakan sebagai SO3.
c. Klorida
Kadar senyawa klorida dalam umpan tanur bervariasi, antara 0,01 0,10%
sedangkan dalam debu bahan bakar batu bara berkisar 0,4 %. Seperti telah di
jelaskan di atas, senyawa klorida bereaksi dengan senyawa alkali klorida.
Senyawa ini keluar dari tanur bersama gas hasil pembakaran dan kemudian
mengembun di preheater. Embun alkali klorida bersama umpan tanur masuk
kembali ke dalam tanur, dan sesampainya di burningzone hampir seluruhnya
teruapkan. Karena pengembunan alkali klorida di preheater cukup sempurna,
maka senyawa ini selalu bersirkulasi (naikturun) antara burningzone dan
preheater dengan jumlah yang makin lama makin banyak. Coating yang
terbentuk di preheater makin lama makin banyak. Untuk mencegah hal ini
sebagian gas tanur ( 10 25 %) di by-pass, tidak melalui preheater. Sistim bypass baru diperlukan bila kadar senyawa klorida dalam raw mix melebihi
0,015%. Coating adalah massa padat yang terbentuk dan menempel/melengket
pada suatu permukaan bahan atau alat karena adanya gaya tarik menarik
(adhesi) antara massa dengan bahan atau alat.
d. Kapur bebas (freelime)
Kapur bebas yang terdapat dalam terak atau semen adalah CaO yang tidak
bersenyawa atau berikatan dengan oksida-oksida lainnya seperti SiO 2, Al2O3,
dan Fe2O3. Adanya kapur bebas dalam suatu semen dapat disebabkan oleh 2
hal, yaitu:

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


33

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Jumlah kapur yang digunakan berlebihan dibandingkan dengan

kebutuhan untuk bereaksi dengan SiO2, Al2O3 dan Fe2O3.


Reaksi yang berlangsung dalam tanur putar kurang sempurna. Walaupun CaO
sesuai kebutuhan, tetapi tidak dapat bersenyawa dengan oksida-oksida SiO2,
Al2O3 dan Fe2O3.
Seperti telah diketahui, proses pembakaran dalam tanur putar berlangsung
pada suhu yang lebih tinggi dari suhu dissosiasi CaCO 3 (896oC), lalu CaO
hasil dissosiasi dibakar keras (hardburnt). Di samping itu CaO mengkristal
dan tercampur bersama kristal-kristal mineral lainnya (intercristalisased).
Kedua kejadian ini (hardburnt dan interkristallised) menyebabkan CaO yang
dihasilkan lambat bereaksi dengan air. Pada waktu semen digunakan, selain
reaksi hidrasi senyawa-senyawa mineral potensial juga terjadi hidrasi CaO
bebas :
CaO + H2O Ca ( OH)2
Reaksi hidrasi ini berlangsung lambat sekali, dan baru selesai pada waktu
pengikatan akhir semen sudah terlampaui. Padahal Ca(OH)2 yang terbentuk
mempunyai volume lebih besar dari CaO. Pertambahan volume ini (ekspansi)
terjadi pada saat semen sudah tidak plastis lagi. Akibatnya timbul keretakankeretakan yang dapat merendahkan mutu semen. Kadar freelime maksimum
2,5 %.

e. Magnesium Oksida, MgO (periclase)


Dalam tanur putar magnesium karbonat, MgCO3 yang terdapat dalam
umpan akan terdisosiasi menurut reaksi :
MgCO3 MgO + CO2
MgO yang terbentuk tidak bereaksi dengan oksida-oksida utama seperti
SiO2, Al2O3

dan Fe2O3. Sebagian akan terlarut dalam mineral-mineral

potensial terak, sedangkan sebagian lagi membentuk kristal periclase. Seperti


halnya CaO bebas periclase yang terkena hardburnt. Akibatnya reaksi
periclase pada saat semua dipakai berjalan sangat lambat, dan pada suhu
kamar akan berlangsung terus dalam jangka waktu pertahun. Pertambahan
volume akibat terbentuknya Mg(OH)2 seperti halnya Ca(OH)2 akan

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


34

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

menyebabkan timbulnya keretakan-keretakan (craking) pada semen yang


digunakan.
4.3.3. Proses Pendinginan
Klinker yang keluar dari kiln bersuhu tinggi, oleh karena itu harus
didinginkan terlebih dahulu sebelum diumpan ke dalam finish mill karena klinker
yang panas sulit untuk ditransformasikan dan dapat merusak karpet conveyor,
selain itu klinker yang panas mempunyai pengaruh yang kurang baik terhadap
proses penggilingan. Penggilingan klinker diakomodasi oleh udara yang masuk
secara berlawanan arah dengan klinker, temperature klinker masuk 1400 oC dan
keluar pada 200 - 300oC. Pendinginan klinker dilakukan oleh planetary cooler
sebanyak 10 buah tabung yang dipasang melingkar pada ujung kiln yang terbuat
dari plate setebal 8 meter yang dilapisi oleh batu tahan api. Kemudian klinker
masuk ke silo pada suhu sekitar 150oC. adapun tujuan dari proses pendinginan
antara lain :
Klinker yang panas akan memberikan pengaruh negatif pada proses

penggilingan selanjutnya.
Memudahkan pengangkutan klinker.
Efek dari gypsum yang ditambahkan akan hilang jika temperatur klinker

terlalu tinggi.
Udara yang dipakai sebagai pendingin dapat dimanfaatkan kembali sebagai

udara panas untuk pengeringan sehingga menurunkan biaya produksi.


Pendinginan yang cepat (quenching) akan meningkatkan kualitas semen
yaitu dengan mencegah terurainya C3S menjadi C2S.

4.4. Penggilingan Batu Bara (Coal Mill)


Batu bara merupakan bahan bakar padat yang banyak digunakan pada industri semen.
Hal ini disebabkan karena:
1. Pertimbangan internal
Perubahan peralatan dengan menggunakan batu bara dari minyak tidak terlalu

mahal
Sebagian batu bara yang terbakar dapat menjadi abu yang dapat ikut menjadi

semen sehingga menambah produk


Harga batu bara relatif lebih murah dari bahan bakar minyak
2. Pertimbangan eksternal

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


35

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Cadangan batu bara masih cukup untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Batu
bara yang dipakai dalam operasi PT. Semen Tonasa adalah batu bara yang berasal
dari Kalimantan Selatan dan sebagian dari Sulawesi Selatan sendiri.
Sebelum batu bara digunakan sebagai bahan pembakar material dalam kiln,
perlu dikeringkan dan digiling sampai kehalusan tertentu, disamping itu harus
memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan seperti kadar air, kadar sulfur, kadar
abu, nilai kalor dan sebagainya.
4.4.1.

Pengolahan batubara
Sebelum diumpankan ke dalam kiln batu bara harus dikeringkan dan
digiling. Adapun tujuan pengeringan dan penggilingan antara lain:
Batubara halus (fine coal) mudah dibakar
Fine coal mudah ditransport pada kadar air rendah
Pengurangan kadar air di batubara berarti meningkatkan nilai kalor batubara
Batu bara yang diangkut dengan truk ke gudang batu bara, didatangkan dari luar
dalam bentuk butiran dan bongkahan. Pengisian gudang batu bara di tonasa 5
dilakukan dengan pengaturan pile menggunakan stacker untuk mendapatkan pile
yang homogen. Selanjutnya pile digaruk dengan menggunakan reclaimer.
Penggilingan batu bara di Tonasa 5 menggunakan vertical roller mill. Di dalam
mill ini terjadi proses drying during grinding dimana gas panas yang digunakan
diambil dari exit preheater dengan kadar oksigen di bawah 5% dan suhu sekitar
280-3300C. Pengendalian kebocoran udara di coal mill penting untuk

4.4.2.

mendapatkan produk fine coal yang sesuai standar.


Kualitas Batubara
Kualitas batu bara berpengaruh pada proses pembakaran dalam tanur putar.
Batubara yang akan digiling, dipilih berdasarkan parameter sebagai berikut:
Niali kalor
: 5.500 6.500 kcal/kg
Kadar abu
: 15%
Fly ash
: 34-45%
Kadar sulfur
: <2%
Kadar air
: <18%
Ukuran partikel : <5cm
Batubara hasil gilingan disyaratkan:
Kehalusan 0,09 mm sebanyak 25%
Kadar air < 10%
Suhu dijaga tidak lebih 650C
Lama penyampaian maksimum 8 jam.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


36

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Proses di coal mill diawali dengan pengeringan batu bara. Kadar air bubuk batu bara
yang diperbolehkan adalah sekitar 3-4%. Coal mill harus dioperasikan dengan
temperatur 60-70oC. Penggilingan batubara terjadi di table kemudian batubara yang
telah halus terpisah dengan batubara yang masih kasar melalui separator. Batubara
yang halus ini selanjutnya menuju ke main bag filter agar dapat dipisahkan antara debu
dan gas panas. Debu batu bara yang tertangkap di bag filter kemudian ditransport ke
screw conveyor dan ditampung ke pfister untuk selanjutnya ditembakkan ke kiln atau
ke preheater.
4.5.

Proses di Cement Mill


Tujuan penggilingan yaitu untuk memperbesar luas pertikel yaitu campuran
antara klinker dan gypsum, sehingga senyawa kimia dalam partikel semen dapat
bereaksi dengan sempurna. Disamping itu untuk mendapatkan tingkat kehalusan sesuai
dengan standar SNI No. 15-2049-1994 untuk penggilingan semen mill. Perbandingan
gypsum dan klinker yang dicampurkan dalam semen mill adalah 96% untuk klinker
dan 4% untuk gypsum (termasuk material campuran). Material dari dome (clinker silo)
ditransfer menuju ke clinker bin dengan pan conveyor begitu juga dengan gypsum,
limestone dan trass. Material-material tersebut langsung ditransfer dari gudangnya
menuju masing-masing bin. Kemudian dari bin material ditransfer dengan belt
conveyor, semua material tercampur di belt conveyor. Di mill, materil digilling oleh
roller di atas table. Material yang sudah halus akan melewati separator, sedangkan
yang masih kasar akan digiling kemballi. Dimana material tersebut menuju reject
dengan vibrating conveyor dan bucket elevator. Kemudian bercampur dengan fresh
feed menuju mill. Produk yang halus akan ditransfer ke silo dengan air slide dan
bucket elevator.

4.6.

Proses Pengantongan
Proses pengantongan di PT. Semen Tonasa V menggunakan alat packer dengan 2
line yang berjumlah 2 unit. Jumlah semen yang dihasilkan adalah 2400 zak/jam.
Semen dari silo sebagian ditransfer dari silo ke pengepakan melalui air slide, bucket
elevator dan vibrating screen untuk dipisahkan jika ada semen yang menggumpal. Lalu
ditampung di feed bin, pengisian semen berlangsung secara otomatis dengan bantuan
impeller turbo packer dan dorongan udara dari kompresor. Kapasitas tiap bin adalah 35
ton untuk bin 564 dan 40 ton untuk bin 563.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


37

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB V
SPESIFIKASI ALAT
Spesifikasi alat pada PT. SemenTonasa unit V adalah sebagai berikut :
Unit Bahan Baku
Limestone Crusher
Jenis
Kapasitas
Clay Crusher
Jenis
Kapasitas
Silica Crusher
Jenis
Kapasitas
Unit penggilingan bahan baku ( Raw

Jaw Crusher
1650 ton / jam
Roller Crusher
350 ton / jam
Jaw Crusher
150 ton / jam

Mill )
Jenis
Kapasitas
Kecepatan putaran
Unit Pembakaran ( Kiln )
Jenis

Vertikal mill
750 ton / jam
29 rpm
Cyclone

suspension

preheater 4 stage, two

Kapasitas
Panjang
Diameter
Kecepatan
Inklinasi

sting, ILC Calciner


8000 ton / jam
86 m
5m
3.1 rpm
4%

Unit pendinginan ( cooler )


Jenis
Unit penggilingan klinker (cement

Grate Cooler ( MMC)


Vertical Roller Mill
250 ton / jam

mill )
Jenis
Kapasitas

BAB VI
UTILITAS
Untuk menunjang kelancaran proses produksi dan melayani kebutuhan bagi perumahan
karyawan PT. Semen Tonasa terutama air dan listrik, PT. Semen Tonasa memiliki fasilitas
penunjang sebagai berikut :
6.1. Penyediaan Listrik

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


38

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Sumber energi listrik bagi PT. Semen Tonasa disuplai oleh sebuah BTG (Boiler
Turbin Generator) yang berlokasi di pelabuhan Biringkassi. Kapasitas daya yang
dihasilkan adalah 2 x 25 MW 70 KV 3 fase dan utamanya untuk melayani Tonasa 4.
Sedangkan untuk Tonasa 5 maka dibangun pembangkit listrik dengan kapasitas 2 x 35
MW. Penambahan kapasitas daya tersebut diharapkan mampu menyuplai kebutuhan
listrik PT. Semen Tonasa. Di samping itu, PT. Semen Tonasa juga memanfaatkan
jaringan listrik dari PLN terutama untuk melayani pabrik tonasa 2 dan tonasa 3.
6.2. Penyediaan Air
Air bersih untuk keperluan proses pabrik, kebutuhan kantor maupun perumahan
disediakan oleh unit pengolahan air di PT. Semen Tonasa. Sumber air yang digunakan
adalah air dari sungai terdekat lokasi pabrik. Air ini dialirkan kedalam unit Raw Water
Basin sebagai penampungan sementara. Dalam pengelolaan air di PT. Semen Tonasa
digunakan 3 macam bahan kimia tambahan yaitu :
a. PAC (Poly Alumina Chloride)
b. Synthofloc sebagai penggumpal kotoran dalam air.
c. Gas klor sebagai pembunuh kuman
Proses penyediaan air di PT. Semen Tonasa dimulai dari air sungai yang dialirkan
ke tangki classifier. Di dalam tangki ini, tiga bahan tersebut dicampurkan ke dalam air.
Kotoran-kotoran di dalam tangki akan mengendap sehingga akan terjadi pemisahan
antara air jernih dengan sludge yang merupakan kotorankotoran yang mengendap.
Sludge tersebut akan dialirkan ke sludge pit untuk selanjutnya dibuang. Sedangkan air
yang sudah bebas dari endapan akan diproses lebih lanjut dalam sand filter. Air yang
sudah difilter disimpan sementara dan siap didistribusikan sesuai keperluan. Khusus
untuk kebutuhan perumahan, air dari sand filter melewati proses klorinasi sehingga
layak dipakai untuk keperluan rumah tangga.
6.3. Penyediaan Udara
Untuk kebutuhan di PT. Semen Tonasa, terdapat dua macam udara yang digunakan
yaitu :
6.3.1. Udara tekan
Udara tekan didapat dari alat compressor yang digunakan untuk berbagai
kebutuhan instrumen seperti pembersihan debu pada peralatan, pengadukan
lapisan material di blending silo dan transportasi material di air slide.
6.3.2. Udara Bebas

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


39

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Digunakan untuk memenuhi kebutuhan pembakaran, pendinginan klinker


dalam grate cooler dan pendinginan peralatan. Kebutuhan udara bebas ini dapat
diperoleh dengan menggunakan fan.
6.4. Penyediaan Bahan Bakar
Untuk kebutuhan bahan bakar yang dipergunakan di PT. Semen Tonasa antara
lain:
6.4.1. Solar
Solar digunakan sebagai bahan bakar untuk pemanasan awal pada rotary kiln.
Untuk kebutuhan bahan bakar ini hanya digunakan pada tonasa unit IV dan V.
6.4.2. BCO (Bunker C Oil )
Bunker C Oil adalah salah satu jenis minyak dengan viskositas tinggi. BCO
merupakan minyak residu yang memerlukan pra pemanasan dengan suhu 220
260o F. Residu berarti sisa minyak mentah yang telah dipakai, tetapi masih bisa
dimanfaatkan. BCO mengandung berbagai residu yang mungkin tidak diinginkan
termasuk 2% air dan 1,5 % mineral tanah. BCO juga dikenal sebagai Residual
Fuel Oil (RFO). BCO di PT. Semen Tonasa digunakan pada Tonasa unit II dan III
pada saat pemanasan awal di rotary kiln.
6.4.3. Bahan Bakar Alternative
Sejak tahun 2009 PT. Semen Tonasa telah merintis penggunaan bahan bakar
alternatif seperti sekam padi dan cangkang mente. Selain untuk subtitusi batubara,
pemakaian bahan bakar alternatif ini merupakan bentuk tanggung jawab PT.
Semen Tonasa dalam mengurangi dampak pemasan global sejalan dengan
program pemerintah untuk mengurangi CO2 dari sektor industri. Bahan bakar
alternatif sekam padi di PT. Semen Tonasa diinjeksikn di sistem preheater kiln 2,
3 dan 4. Sedangkan cangkang mente dibakar ditungku untuk menghasilkan udara
pengering di cool dryer coal mill system Tonasa 2 dan 3. Injeksi sekam padi di
kiln 4 dilakukan di kalsiner. Sedangkan untuk kiln 2 dan 3 injeksi sekam padi
sebagai bahan bakar dilakukan di riser inlet kiln (sistem preheater tanpa kalsiner).

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


40

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB VII
LABORATORIUM
7.1. Laboratorium Quality Control
Pengendalian kualitas adalah alat kontrol terhadap kualitas pabrikasi sebelum dan
sesudah proses produksi dilakukan. Kegiatan yang sangat perlu dilakukan oleh setiap
kegiatan produksi pada sistem produksi adalah pengendalian kualitas (quality control)
di dalam pembuatan barang dan jasa yang dihasilkannya. Dengan adanya pengendalian
kualitas maka diharapkan penyimpangan-penyimpangan yang muncul dapat dikurangi
dan proses produksi dapat diarahkan pada tujuan yang ingin dicapai. Pengendalian
kualitas itu berhasil jika dapat menekan produk cacat seminimal mungkin dari apa yang
direncanakan.
Standar kualitas dari suatu produk tidak hanya ditentukan oleh perusahaan yang
bersangkutan, namun konsumen juga ikut berperan untuk menentukan kualitas dari
produk, sehingga perusahaan harus mengikuti standar. Adapun tujuan dari pengendalian
kualitas adalah:
a. Untuk mendapatkan kualitas output yang konsisten dengan spesifikasi produk yang
diinginkan dan memenuhi syarat-syarat yang ditentukan oleh konsumen sehingga
akan meningkatkan kepercayaan dan kepuasan konsumen.
b. Untuk membimbing perusahaan mendapatkan keuntungan yang lebih besar melalui
prosedur kerja yang baik, pengurangan produk cacat, penekanan biaya dan
peningkatan order yang menguntungkan.
c. Usaha menyidik dengan cepat apabila terjadi pergeseran proses produksi yang
menyebabkan penurunan kualitas, sehingga dapat diambil tindakan pencegahan.
d. Untuk membantu karyawan dalam memperbaiki kesalahan dan meningkatkan
kemampuannya sehinga tujuan dan sasaran perusahaan dapat dicapai.
Di PT Semen Tonasa unit V terdapat satu laboratorium yaitu laboratorium quality
control yang terdiri atas 3 ruangan yaitu :
Ruang Preparasi
Ruangan Mix
Ruangan X-Ray
1. Ruang preparasi
Dalam ruangan ini terdapat beberapa unit alat seperti Crusher, Oven, dan neraca
analitik.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


41

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

a. Crusher merupakan alat penggilingan sampel, untuk memperkecil ukuran partikel


sebelum dilakukan analisa, seperti : batu kapur, pasir besi, tanah liat, pasir silica.
b. Oven merupakan tempat pengeringan sampel sebelum dimasukkan dalam
chusher.
c. Neraca analitik merupakan tempat penimbangan sampel sebelum dichusher.
Selain itu, dalam ruangan ini pula dilakukan analisa terhadap klinker, yang bertujuan
untuk mengetahui berat isi klinker dalam satuan gram.
2. Ruangan Mix
Penetapan yang dikerjakan di ruangan mix yaitu: analisa semen, klinker, raw mill,
kiln feed, coal mill dan batu bara. Berikut ini adalah uraian analisanya
a. Penetapan kadar air
Material yang dianalisa pada penetapan kadar air adalah batu kapur, tanah liat,
pasir besi, pasir silica, raw mill, kiln feed, semen. Tujuan penetapan kadar air
yaitu mengetahui kadar air yang terkandung pada semen.
Prosedur kerja :
Menimbang kosong wadah, kemudian catat (a)
Timbang 10 g (misalkan) sampel didalam wadah (b)
Masukkan dalam oven suhu 105oC selama 1 jam
Keluarkan dari oven dan dinginkan, lalu timbang (c)
Hitung kadar air dengan rumus :
( a+b ) c
100
% Kadar air =
b

b. Penetapan Residu
Material yang dianalisa pada penetapan residu adalah raw mill dan semen. Tujuan
penetapan residu yaitu untuk mengetahui tingkat kekerasan pada sampel.
Prosedur kerja :
Timbang sampel sebanyak 10 g.
Masukkan ke dalam ayakan, kemudian masukkan ke dalam residu analiser,

tutup dan nyalakan timernya selama tiga menit.


Angkat kemudian timbang.

% Residu =

sisa residu
contoh

100 %

c. Penetapan kehalusan dengan blaine automatic


Material yang dianalisa pada penetapan kehalusan adalah semen. Tujuannya yaitu
mengetahui kehalusan semen.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


42

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Prosedur kerja :
Timbang sampel 75 gr
Masukkan ke dalam lubang pada blaine automatic.
Lalu ON kan pada alat blaine automatic
Lihat pada minor, pilih tipe semen. Kemudian klik 2x AB800 sampai berwarna
hijau.
Tunggu beberapa menit, hingga muncul hasilnya pada monitor.
d. Penetapan kehalusan dengan alat baline manual
Tujuan penentuan kehalusan dengan manual adalah mengetahui kehalusan dari
semen portland yang dinyatakan dalam luas muka spesifik butir- butir semen
portland.
Prosedur kerja :
Menyiapkan alat dan bahan
Timbang sampel sebanyak 2,8035 gr
Masukkan saringan besi dalam torak.
Masukkan kertas saring yang berdiamer 12,7 mm.
Masukkan sampel ke dalam torak, lalu tutup lagi menggunakan kertas saring.
Tutup tube dengan plunger hingga permukaan plunger tube benar- benar rapat.

Masukkan bagian atas pada alat blaine.


Buka kran, tekan bulb karet,maka cairan akan naik pada pipa gelas yang

sebelah kanan.
Siapkan stopwatch, saat cairan berada persis pada garis tengah, lalu stopwatch

distart. Ketika cairan berada pada garis bawah stopwatch dihentikan.


Catat waktu yang digunakan.
Blaine = Vt factor
Dimana :
Vt : waktu alir udara ( detik)
Faktor : 380,66

e. Analisa free lime


Material yang dianalisa pada free lime adalah klinker dan cement mill. Tujuannya
adalah mengetahui kadar CaO bebas yang terkandung dalam sampel.
Prosedur kerja :
Timbang sampel sebanyak 1 gr.
Masukkan 60 ml pelarut glycerol ethanol kedalam Erlenmeyer 250 ml yang

bersih dan kering, lalu homogenkan.


Didihkan larutan dalam erlenmeyer di atas magnetic stirrer hot plate selama 20

menit.
Lepas erlenmeyer dari kondensor, lalu titar dengan larutan ammonium asetat
(CH3COO-NH4) 0,2 N sampai berubah ke bentuk semula.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


43

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Lalu panaskan kembali sampai tidak berwarna merah muda.


Kadar CaO % = EV 100
Dimana :
E : CaO ekivalen larutan ammonium asetat g/ml
V : ml larutan ammonium asetat yang diperlukan untuk titrasi contoh.

f. Penetapan berat isi ( Litre Weight )


Materi yang yang dianalisa pada penetapan berat isi adalah klinker. Tujuannya
adalah mengetahui berat klinker dalam satuan gram.
Prosedur kerja :
Sampel diambil dari cooler
Kemudian diayak dengan ayakan 10 mm, lalu sampel yang kasar dibuang

setelah itu sampel lainnya diayak dengan ayakan 5 mm.


Lalu timbang dengan literan yang telah diketahui berat kosongnya.
Catat hasilnya.

Analisa Batu Bara


a. Penetapan kadar Inherent Moisture (IM).
Tujuan dari analisa ini adalah mengetahui kadar batu bara sebelum pembakaran.
Prosedur kerja :
Timbang 1 gr sampel kedalam cawan aluminium yang telah diketahui
beratnya. ( a)
Masukkan dalam oven pada suhu 110oC.
Mengatur laju alir gas nitrogen.
Memanaskan selama 1 jam.
Mengeluarkan dari oven dan diginkan dalam dexikator
Menimbang dan menghitung kadar air dalam sampel.( b)
%IM =

ba
berat contoh

x 100 %

b. Penetapan kadar zat terbang ( volatile matter)


Tujuannya adalah mengetahui kadar zat terbang dalam batu bara.
Prosedur Kerja :
Timbang kosong cawan (a).
Timbang 1 gr sampel kedalam cawan (b)
Masukkan dalam furnace pada suhu 950oC selama 7 menit.
Keluarkan dari furnace dan dinginkan dalam dexikator.
Timbang bobot setelah pemijaran dan catat hasilnya (c).
bc
% VM = ba x 100 %.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


44

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

c. Penetapan kadar abu ( ash)


Tujuan dari analisa ini adalah mengetahui kadar abu pada batu bara.
Prosedur kerja :
Timbang 1 gr contoh ke dalam cawan porselin yang telah diketahui beratnya.

(a)
Masukkan ke dalam furnace pada suhu rendah dan naikkan secara bertahap

hingga 500oC selama 1 jam sampai pada suhu 750oC biarkan selama 1 jam.
Keluarkan dari furnace dan dinginkan dalam dexikator.
Timbang (b) dan hitung kadar abu:
% Abu =

(ba)
contoh

x 100%

Catat hasilnya dalam from yang telah disediakan.

d. Penetapan residu batubara 90 mikron dan 200 mikron.


Tujuan dari analisa ini adalah mengetahui kekasaran pada batubara.
Prosedur kerja :
Timbang 10 gr sampel yang telah dihomogenkan.
Masukkan kedalam ayakan 90 mikron dan 200 mikron dan semprotkan dengan

aquades.
Memasang ayakan pada alat wet sieve
Keringkan ayakan berisis residu dalam oven pada suhu 110 oC selama 30
menit.
Timbang residu ayakan yang telah dikeringkan (x).
x
% Residu = 10 gr x 100%

e. Penetapan Air Dry Loss (ADL)


Tujuan analisa ADL yaitu mengetahui berapa banyak kadar air yang hilang pada
temperature 3032oC.
Prosedur kerja :
Ambil sampel di gudang 2gr, lalu simpan dalam plastik
Timbang kosong talang, lalu ditambahkan 1 gr sampel (a).
Diamkan selama 1 jam pada suhu 30o C (b).
ab
% ADL = berat contoh x 100%.
3. Ruangan X- Ray
Pada ruangan X- Ray dilakukan analisa terhadap bahan baku, bahan dalam
proses dan hasil akhir dari proses menggunakan alat X-Ray spektrofotometer. Alat

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


45

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

ini bekerja secara otomatis yaitu hasil akhir yang dimunculkan pada layar komputer
yang merupakan bagian dari alat X- Ray spektrofotometer. X- Ray spektrofotometer
merupakan alat yang bekerja secara kering (analisa kering). Analisa kering yaitu cara
analisa yang mempergunakan spectrum (spektro analytical methods), dimana kadar
suatu unsur atau senyawa yang terkandung dalam contoh ditentukan berdasarkan
pengukuran besaran listrik tertentu yang timbul dan ditentukan oleh intensitas
cahaya atau gelombang elektromagnetik dari senyawa pada waktu bahan dikenakan
perlakuan tertentu. Besarnya intensitas cahaya tergantung pada jenis dan kepekaan
atau konsentrasi suatu unsur atau senyawa dalam suatu contoh. Berikut ini adalah
uraian analisanya :
a. Menghaluskan sampel
Tujuannya penghalusan sampel yaitu menjadikan sampel lebih halus dari
sebelumnya.
Prosedur kerja :
Timbang sampel sebanyak 10 gr.
Masukkan pada piringan alat swing mill, lalu tambahkan 3 butir grinding aid
Kemudian masukkan alat swing mill, selama 3 menit pada program 6.
Keluarkan dari alat swing mill, lalu pindahkan ke atas kertas.
b. Mencetak sampel
Tujuannya yaitu mencetak sampel yang akan diperiksa di alat X-Ray.
Prosedur kerja :
Sampel yang telah dihaluskan dimasukkan kedalam alat press untuk dicetak.
Pastikan terlebih dahulu tempat yang digunakan untuk mencetak telah bersih
dan cincin press telah dipasang.
Lalu tutup dan tekan tombol start, jika setting waktu telah tercapai maka
cetakan siap untuk pemeriksaan selanjutnya.
c. Analisa X- Ray
Analisa X-Ray bertujuan mengetahui kandungan oksidaoksida yang terkandung
dalam sampel yaitu : SiO2, Al2O3, Fe2O3, CaO, MgO, K2O, SO3 dan oksidaoksida
lainnya.
Prosedur kerja :
Sampel yang dicetak, dipasang pada alat X-Ray.
Lihat pada computer, pilih nama sampel.
Double klik pada bagian yang tertulis WinXRF Analysis 1.
Tunggu beberapa menit, lalu klik kanan pada WinXRF maka akan terlihat
oksidaoksida yang terkandung dalam sampel tersebut

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


46

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


47

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

BAB VIII
PENUTUP
8.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang kami dapatkan selama kegiatan praktek kerja lapangan di
PT. Tonasa Unit V ini adalah sebagai berikut :
1. Semen adalah suatu campuran bahan-bahan kimia yang mempunyai sifat
hidrolis dan apabila dicampur dengan air akan bereaksi dan berubah menjadi
bahan yang mempunyai sifat perekat sehingga bisa mengikat bahan-bahan lain
menjadi satu satuan massa yang padat.
2. Bahan baku pembuatan semen :
Bahan baku utama terdiri dari batu kapur dan tanah liat
Bahan baku koreksi terdiri dari pasir besi dan pasir silika
Bahan baku tambahan terdiri dari gypsum dan trass
3. Komposisi semen terdiri atas senyawa-senyawa utama (mineral-mineral
potensial) sebagai penyusun semen yang terbentuk dari keempat oksida utama,
yaitu : oksida kapur (CaO), oksida silika (SiO 2), oksida alumina (Al2O3) dan
okdsida besi (Fe2O3).
4. Proses pembuatan semen di PT. Semen Tonasa secara garis besar dibagi
menjadi 5 tahap yaitu :
Proses penyediaan bahan baku
Proses penggilingan bahan baku (Raw Mill)
Proses pembakaran raw meal menjadi klinker (Kiln)
Penggilingan batubara
Proses di cement mill
Proses pengantongan semen.
5. Di PT Semen Tonasa unit V terdapat satu laboratorium yaitu laboratorium
quality control yang terdiri atas 3 ruangan yaitu :
Ruangan Preparasi
Ruangan Mix
Ruangan X-Ray
8.2. Saran
Setelah melakukan praktek kerja lapangan di PT. Semen Tonasa unit V, kami
memiliki beberapa saran yang nantinya mungkin akan dapat membantu perbaikan
kinerja perusahaan, yaitu.
Meningkatkan rasa memiliki terhadap fasilitas produksi agar peralatan yang
digunakan lebih terpelihara.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


48

Laporan Praktek Kerja Lapangan PT. Semen

Meningkatkan keterampilan kinerja karyawan melalui program pelatihan dan


pengembangan sehingga karyawan dapat bekerja lebih efektif dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA
Taslim, Citra Metasari. 2013. Laporan Kerja Praktek. Teknik Kimia Universitas
Diponegoro
Suryanto, Soleman May. 2013. Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Universitas
Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta.
Arsip data PT. Semen Tonasa
Austin, G.T. 1998. Shreeve Chemical Process Industries Handbook 5th Edition. McGraw
Hill : Singapore.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Ujung Pandang


49