Anda di halaman 1dari 15

KARAKTERISTIK PROFIL KEPRIBADIAN PENYIDIK

(Pendekatan teori STIFIn Personality)


Center for Islamic and Indigenous Psychology

Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta


Abstrak. Penyidik memiliki andil yang cukup besar dalam
menangani sebuah kasus hukum, baik perdata maupun pidana.
Proses penempatan seseorang menjadi penyidik di sebuah
institusi terkait sudah melalui tahapan dan seleksi yang ketat,
sehingga suatu kasus dapat terpecahkan siapa pelaku dan apa
motif di belakangnya. Penulis tertarik untuk melihat bagaimana
karakteristik profil kepribadian penyidik di lembaga kepolisian
dengan menggunakan teori kepribadian STIFIn yang dikompilasi
dan dikembangkan oleh Farid Poniman dari teori Fungsi Dasar
Carl Gustav Jung, Teori Otak Triune Paul MacLean dan Teori
Kepribadian Ned Herrmann . Menurut teori ini, karakteristik
profil kepribadian yang sesuai untuk jenis pekerjaan sebagai
penyidik adalah Intuiting ekstrovert (Ie). Karakteristik yang ada
dalam profil ini antara lain, bersifat intuitif dan mampu
merangkai masalah dengan baik. Penulis menggunakan data
kualitatif deskriptif dari wawancara, tes STIFIn Personality
kepada 5 penyidik tindak pidana di kepolisian ditambah dengan
memberikan tes Wartegg kepada 3 penyidik. Hasil penelitian
menunjukkan dari lima orang sampel, hanya satu orang yang
memiliki tipe kepribadian yang mendekati tipe yang sesuai untuk
profesi penyidik, yaitu tipe Intuiting introvert.
Kata kunci: Kepribadian, STIFIn, Penyidik

Kejahatan atau tindakan kriminal dapat ditanggulangi


dengan adanya kerjasama dari pihak kepolisian sebagai penyidik,
kejaksaan sebagai penuntut umum, pengadilan sebagai pihak
yang mengadili dan lembaga pemasyarakatan yang berfungsi
sebagai tempat untuk melatih pelaku kejahatan untuk dapat

diterima kembali di masyarakat. Tentu saja tugas pokok


kepolisian tidak boleh bertentangan dengan aturan hukum, masuk
akal dan layak dilaksanakan, serta menghormati hak asasi
manusia (Akhdiat & Marliani, 2011). Fungsi dari kepolisian
sebagai penyidik inilah yang memegang peranan kunci dari
setiap

proses

penanggulangan

kejahatan.

Setiap

anggota

kepolisian yang bertugas sebagai penyidik, pastilah sudah


melalui proses seleksi dan penempatan kapasitas sumber daya
manusia. Hal tersebut sesuai dengan Undang-undang Kepolisian
No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia,
yang menyebutkan bahwa anggota kepolisian harus membekali
dirinya dengan pengetahuan dan ketrampilan yang memadai
(Sutra, 2012).
Penyidik menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah
Pejabat Polisi Republik Indonesia atau pegawai negeri sipil
tertentu yang diberi kewenangan khusus oleh Undang-undang
untuk mencari dan mengumpulkan pelaku tindak pidana.
Sedangkan pengertian penyidik menurut KUHAP pasal I butir (1)
penyidik adalah Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia atau
pegawai negeri sipil tertentu yang diberi wewenang khususnya
Undang-undang

untuk

melakukan

penyidikan.

Pengertian

penyidik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dengan yang


diberikan oleh KUHAP pasal I butir (1) hampir memiliki
kesamaan. Namun bagaimanapun kita tetap mengambil definisi
atau arti penyidik menurut penjelasan Undang-undang (Jupri,
2013).
Penyidik merupakan sebuah bentuk profesi. Profesi
merupakan arahan cita-cita pada diri inividu untuk melayani dan

memperoleh kompensasi, dapat berupa upah demi kepentingan


umum (Purwanto, 2007). Penyidik kepolisian memperoleh
kompensasi dari negara karena statusnya merupakan sebagai
pelayan masyarakat. Penyidik memiliki andil yang cukup besar
dalam menangani sebuah kasus hukum, baik perdata maupun
pidana. Proses penempatan seseorang menjadi penyidik di
sebuah institusi terkait sudah melalui tahapan dan seleksi yang
ketat, sehingga suatu kasus dapat terpecahkan siapa pelaku dan
apa motif di belakangnya. Sebagai sebuah profesi, tentu saja
memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah
lulusan Sekolah Hukum, lulus sebagai anggota kepolisian dan
memperoleh pendidikan yang berkaitan dengan kepenyidikan
serta lulus dalam tes psikologi dan diketahui dengan pasti
bagaimana profil kepribadiannya.
Kepribadian merupakan pola sifat dan karakteristik
tertentu, yang relatif permanen dan konsisten serta menunjukkan
individualitas pada perilaku seseorang. Sifat tersebutlah yang
merupakan faktor penyebab adanya perbedaan antar individu
dalam berperilaku, konsistensi perilaku dari waktu ke waktu, dan
stabilitas perilaku dalam berbagai situasi. Karakteristik sendiri
merupakan kualitas yang dimiliki oleh seseorang seperti halnya
temperamen, fisik dan kecerdasan (Feist & Feist, 2011)
Pengukuran mengenai kepribadian sendiri dapat dilakukan
dengan berbagai media. Pengukuran kepribadian lebih rumit
dibandingkan menyusun suatu konsep teori kepribadian itu
sendiri. Alat ukur yang bisa dipergunakan bisa berbentuk selfreport inventory, alat ukur minat, sikap dan nilai-nilai budaya,
serta teknik proyektif. Mengetahui kepribadian seseorang itu

memiliki makna yang sangat luas dalam konteks ranah


pengetahuan tentang manusia. Memahami kepribadian dapat
diartikan dapat memahami pula bagaimana, struktur, ide-ide dan
pola-pola manusia dalam berperilaku.
Penulis tertarik untuk meneliti profil kepribadian penyidik
berdasarkan teori kepribadian STIFIn. Teori ini dikembangkan
oleh Farid Poniman, seorang pakar Sumber Daya Manusia. Teori
STIFIn ini merupakan kompilasi dari teori Fungsi Dasar Carl
Gustav

Jung,

Triune

Brain

dan

Ned

Herrmann

serta

pengamatannya terhadap ribuan individu yang telah mengikuti


sesi

pelatihan

di

tempatnya

bekerja.

Hasil

temuannya,

menunjukkan bahwa setiap manusia membawa potensi genetika


yang bersifat tunggal dan akan ditempa oleh lingkungannya
(Poniman& Mangussara, 2012).
Potensi kecerdasan itu disebut dengan Sensing, Thinking,
Intuiting, Feeling dan Instinct. Satu orang hanya memiliki satu
yang dominan. Tidak hanya menambahkan unsur Instinct saja,
tetapi dari penambahan itu diketahui pula hubungan kimiawi
segilima antar individu, penjelasan mengenai sifat superiorinferior yang dimiliki oleh individu serta persamaan kuadran dan
diagonal sifat dari masing-masing individu. Pada awalnya,
Poniman menggunakan media skala psikologis untuk mengetahui
potensi genetik yang dibawa oleh setiap individu pada saat sesi
pelatihan yang diadakan oleh Kubik Consultancy. Dalam
pengembangannya, temuannya tersebut kemudian diintegrasikan
dengan media sidik jari yang keakuratannya telah mencapai lebih
dari 95% (Poniman& Mangussara, 2012).

Data yang diperoleh dari Poniman & Mangussara (2012),


menyebutkan hingga 12 Juni 2012, jumlah peserta tes yang
tercatat di server STIFIn Kantor Pusat mencapai angka 60.403
peserta. Lebih dari 95% peserta tes menyatakan bahwa mereka
merasa tes tersebut sangat sesuai dengan kondisi mereka. Pada
tahun 2011 dilakukan uji sampel terhadap 352, yang kemudian
dilakukan retes satu bulan berikutnya, hasilnya hanya ada 3
orang yang berubah.
Sidik jari merupakan suatu komposisi unik dari diri
individu. Dari sidik jari pulalah, penyidik mampu memperoleh
informasi-informasi mengenai pelaku kejahatan maupun korban
kejahatan. Keterkaitan sidik jari dengan bagian belahan otak
yang bekerja untuk diri manusia telah diteliti oleh pakar-pakar
biometrik dan neurosains. Sidik jari merupakan bagian tubuh
manusia yang membawa banyak informasi mengenai diri
manusia tersebut. Ilmu mengenai penggunaan sidik jari sebagai
media pemberi informasi mengenai seseorang disebut dengan
istilah dermatoglyphics. Ilmu ini seperti sebuah buku instruksi
alamiah yang menunjukkan bagaimana otak dapat bekerja
(Mischbah, 2010).
Penelitian lain menunjukkan bahwa terdapat korelasi
antara sidik jari dengan kinerja otak dan berkaitan pula dengan
perilaku manusia. Penelitian-penelitian tersebut antara lain:
1. Association between Finger Patterns of Digit II and
Intelligence Quotient Level in Adolescents oleh Mostaf
Najafi (2009).
2. Quantitative Dermatoglyphic Analysis in Persons with
Superior Intelligence oleh M. Cezarik, dkk, (1996).

3. Application and Development of Palmprint Research


oleh Yunyu Zhou, dkk, (2001)
4. Analysis of dermatoglyphic signs for definition psychic
functional state of human's organism oleh Anatoly
Bikh,dkk .
5. Determining
Dermatoglyphics

The
And

Association
Schizophrenia

Between
By

Using

Fingerprint Asymmetry Measures oleh Jen-Feng Wang.


6. Quantifying the Dermatoglyphic Growth Patterns in
Children through Adolescence oleh J.K. Schneider,
Ph.D.
Pengungkapan kepribadian melalui media sidik jari
menjadi suatu tren dalam masyarakat di era 2010an dengan
beragam teori yang melatarbelakanginya, seperti Multiple
Intellegence

atau

teori

belajar.

Penulis

tertarik

untuk

membuktikan teori kepribadian STIFIn yang menunjukkan


bahwa profil seseorang yang berprofesi sebagai penyidik
kepolisian (spionase) adalah tipe Intuiting ekstrovert (Ie). Tipe
ini merujuk kepada indra keenam yang menjadi otak kreatif
sebagai pemimpin kinerja otak dalam memproses informasi.
Kecerdasan ini kemudian digerakkan dari luar diri seseorang ke
dalam dirinya, sehingga orang bertipe ini sangat terpengaruh oleh
kondisi lingkungan. Tipe Ie merupakan tipe yang memiliki
karakteristik sebagai penggarap terpola, penemu terkreatif,
pencari solusi terbaik, kapitalisator potensi, penjelajah konsep
terbaru, pendeteksi paling intuitif, assembler kreatif, pasangan
paling romantik, penyelaras sistemik, dan perangkai masalah
tercepat.

Dari paparan di atas, penulis memiliki dugaan sementara


bahwa para penyidik kepolisian memiliki jenis kepribadian
Intuiting ekstrovert. Untuk itu, penulis mengadakan penelitian
awal kepada penyidik kepolisian di Polresta Surakarta. Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah profil
kepribadian penyidik adalah tipe Intuiting ekstrovert dan untuk
mendeskripsikan profil kepribadian penyidik. Harapannya, hasil
penelitian ini bermanfaat untuk dapat memberikan gambaraan
pemetaan potensi terkait dengan profesi kinerja penyidik.
METODE PENGUMUPULAN DATA
Pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan STIFIn
fingerprint analysis, wawancara dan tes wartegg sebagai
pembanding. Penulis menggunakan metode ini karena kesulitan
untuk mengumpulkan sampel dalam waktu yang lama, jika
mengisi kuesioner. Pengumpulan data dilakukan hari Sabtu,
tanggal 22 Februari 2013 dengan incidental sampling, karena di
hari tersebut adalah hari libur. Penulis membatasi hingga lima
orang sampel karena keterbatasan waktu dan biaya penelitian. Di
Polresta Surakarta sendiri terdiri dari unit tindak pidana korupsi,
unit tindak pidana tertentu, unit kejahatan perbankan, unit tindak
pidana umum, unit tindak pidana narkoba. Penulis menemui unit
tindak pidana korupsi sejumlah dua orang anggota unit, satu
orang kepala unit dan satu orang kepala satuan. Tiga orang di
antaranya dapat diberikan tes Wartegg dan dapat diwawancarai.
HASIL TEMUAN

Proses pengambilan data dengan menggunakan alat


fingerprint, dengan mengambil sepuluh sidik jari secara
berurutan. Data kemudian dikirim ke server pusat kantor STIFIn
di Jakarta untuk diolah. Hasil dari analisis sidik jari dengan
media STIFIn Fingerprint sebagai berikut:
No.
1.
2.
3.
4.
5.

Nama Usia
(Inisia
l)
AR
27
th
D
52
th
AT
38
th
RH
35
th
S
41
th

Fi merupakan

Instansi
Reskrim
Polresta
Reskrim
Polresta
Reskrim
Polresta
Reskrim
Polresta
Reskrim
Polresta

Tipe
kepribadi
an
Fi
Fi
Ti
Ii
Se

akronim dari tipe Feeling introvert.

Kepribadian jenis ini adalah kepribadian libido.

Hasrat dan

nafsunya selalu bergelora. Meskipun libidonya tinggi, namun di


sebalik itu mereka ingin dimanja dan diperhatikan. Ia adalah
orang yang halus dan lembut, namun terkadang menyengat;
pemimpin yang berkharisma, namun kebiasaan buruknya mudah
tersinggung;

penolong,

namun

menghitung

balas

budi;

komunikator yang mempengaruhi orang lain, namun komitmen


terhadap ajarannya lemah; mampu berempati, namun terkadang
lamban beraksi (Poniman & Mangussara, 2012).
Karakteristiknya secara spesifik adalah seorang figur
berpengaruh, paling terpanggil memimpin, pemberi semangat,
sisik berkharisma, komunikator persuasif, pekerti terhalus,

pengarah paling bijaksana, pecinta terdalam, atasan paling


manusiawi, pengayom terhebat. Dua dari lima sampel memiliki
jenis kepribadian ini, yaitu AR dan D. Hasil wawancara dengan
D, mengaku bahwasanya saat ia mengambil keputusankeputusan, selalu berdasarkan kepada perasaannya, apakah nanti
akan berdampak buruk atau menjadi lebih baik bagi pelaku atau
bawahannya. D cukup berwibawa saat menajdi atasan, namun ia
menjadi seperti seorang sahabat jika di luar jam kerja. Hasil tes
Wartegg D menunjukkan tingkat kecemasan yang cukup tinggi.
D merasa saat ini dirinya sedang menutup diri dari lingkungan
sosial,

termasuk

jarang

berkomunikasi

dengan

keluarga.

Meskipun demikian, ia menunjukkan kecintaan kepada bunga,


sebagai simbol dari sifat pecinta terdalam.
Profil berikutnya adalah tipe Ti, yaitu Thinking introvert
yang dimiliki oleh AT. Kepribadian jenis ini dipenuhi dengan
logika.

Apa-apa dilogikakan. Tetapi anehnya makhluk yang

paling logis ini secara tanpa sadar jika sudah sampai pada titik
tidak mampu menjangkau logikanya mereka malah kemudian
bergantung pada faktor x, mengharapkan sejenis keberuntungan.
Di balik kemandiriannya,ia menyimpan rahasia dan masking;
sebenarnya ia agresif tapi ingin diladeni; mengadili secara hitamputih namun mudah diprovokasi; jeli dan objektif namun
terkadang gagal menangkap kontekstualitas gambar besarnya;
menjadi mesin profit yang mahir namun sering terjebak oleh halhal sepele (Poniman & Mangussara, 2012).
Karakteristik spesifik dari seorang bertipe Ti ini adalah
pekerja tercerdas, pengamat super jeli, pemikir paling tajam,
sosok paling mandiri, pengambil resiko terkecil, prinsip

10

terkukuh, pengelola terbaik, konsultan low profile, mesin laba


tercanggih dan konsentrasi terlama. Di hasil wawancara, AT
mengaku bahwa dirinya memang sedikit kaku saat bekerja, selalu
tepat waktu, dan selalu mencari pemecahan yang logis. Berdasar
penuturan S, AT adalah tipe orang yang pandai memecahkan
kasus-kasus pencurian, ia pandai menghubung-hubungkan suatu
peristiwa dengan logika-logika kejadian tertentu. Dari hasil tes
Wartegg menunjukkan bahwa AT bekerja cukup sistematis tapi
kurang fleksibel. Ia cukup kaku namun tegas saat menghadapi
suatu persoalan.
Tipe berikutnya yang ditemukan adalah Ii, yaitu Intuiting
introvert. Tipe ini dimiliki oleh RH. RH memiliki kepribadian
yang selalu mempersepsi keadaan secara positif.

Meskipun

demikian, anehnya, mereka seperti memiliki mesin time tunnel


yang seolah-olah ketika mereka mau pergi tinggal pencet tombol,
sesuatu yang berlawanan dengan positivismenya. Ia orang yang
menyenangkan

sebagai

mitra

bisnis,

namun

tidak suka

membicarakan persoalan pribadi; percaya diri sangat tinggi


sehingga seolah memacu mesinnya dengan cepat seolah tanpa
rem; atraktif dan estetik namun terkadang melewati jamannya;
meski mahir membuat konsep dan menguasai pekerjaan hilirnya,
ia menjadi masa bodo dengan lingkungannya; terbuka dengan
perbedaan

pendapat

namun

tetap

keras

kepala

dengan

keyakinannya (Poniman & Mangussara, 2012).


Karakteristik yang spesifik dimiliki oleh RH adalah
kepahlawanan yang paling

sempurna, pengejar kualitas,

pelaksana berkelas, spesialis, perumus intisari, konseptual dalam


menangani, mitra paling mempesona, pembuat keindahan,

11

penantang tanpa rem dan pencari mutu terbaik. Menurut D, RH


adalah orang yang sangat cerdas, IPK saat kuliah magister
mencapai sempurna. Konsep-konsep kerjanya cukup memukau
bagi orang-orang di sekitarnya.
Tipe terakhir dari sampel terakhir adalah Se, yaitu Sensing
ekstrovert. Tipe ini dimiliki oleh S. Kepribadian ini seperti
berkelamin ganda. Terkadang kokoh seperti laki-laki dan pada
saat tertentu sangat manja seperti perempuan; eksposure
petualangannya luas namun internalisasi kedewasaan lambat;
seperti

pemberani

padahal

sebenarnya

kerdil;

menjadi

pendamping yang mudah disenangkan namun tidak mudah dibuat


jatuh cinta; pembawaan terkesan lambut padahal suaranya sering
melengking; susah memulai kerja tetapi jika sudah mulai kerja
determinasinya kuat;dermawan tapi borors sebagai penikmat;
mengharapkan kepastian, tetapi cepat merasa tersudut dan
kemudian kabur (Poniman & Mangussara, 2012).
Karakteristik spesifik lain yang dimiliki oleh S adalah
pelaksana terpraktis, penindaklanjut teringkas, stamina terkuat,
diesel terstabil, loyalis penyabar, penangkap kesempatan, pemilik
dermawan,

pengingat

terbaik,

pekerja

super

tangguh,

pendamping paling setia. Menurut D, S adalah orang yang siap


sedia jika diberi pekerjaan. Ia akan bekerja sendirian jika yang
lain yang diajak terlalu lama memberi respon. Ia orang yang
paling taat aturan dan setia di unitnya. Berdasar hasi tes Wartegg,
S memiliki motivasi yang cukup tinggi, kerjanya sistematis dan
mekanis. S terlihat menguasai bidang kerjanya. Ia juga mengaku
membutuhkan instruksi saat mengerjakan suatu kasus.

12

Berdasar penuturan S, saat bekerja unitnya dituntut untuk


dapat memecahkan paling tidak tiga hingga lima kasus dalam
setahun. Kerja sama antar anggota unit dapat membantunya
untuk menyelesaikan kasus-kasus tersebut. Rata-rata anggota
unitnya dapat memecahkan dua hingga tiga kasus. Unit Reserse
Kriminal akan menindaklanjuti kasus-kasus yang terlaporkan,
atau tidak terlaporkan tetapi memiliki petunjuk. Akan lebih
mudah bagi S untuk mengerjakan kasus yang memiliki satu atau
dua petunjuk.
SIMPULAN
Dari lima sampel yang diambil, profil yang sesuai untuk
profesi penyidik adalah tipe Intuiting introvert yang dimiliki oleh
RH. Secara alamiah, RH bekerja berdasarkan intuisinya,
sehingga menghasilkan kemungkinan-kemungkinan yang lebih
besar daripada tipe yang lain. Tipe ini akan selalu memberikan
petunjuk jalan keluar untuk setiap persoalan berdasar sistem
mekanisme kerja otaknya. Meskipun demikian, hasil penelitian
ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan stimulus yang tepat
bagi

masing-masing

tipe

kepribadian

untuk

dapat

memaksimalkan potensinya saat menangani sebuah kasus.


Penelitian ini masih banyak kekurangan, yaitu belum diambilnya
data kuesioner STIFIn terhadap lima sampel, belum diberikannya
tes

Wartegg

kepada

dua

orang

diwawancarainya dua orang sampel.

sampel,

dan

belum

13

DAFTAR PUSTAKA
Akhdiat, H. & Marliana, R. (2011). Psikologi Hukum. Bandung:
CV. Pustaka Setia.
Bikh,

A. , dkk. (tanpa tahun). Analysis of


dermatoglyphic signs for definition psychic
functional state of human's organism. Diunduh
dari
http://www.foibg.com/ibs_isc/ibs-07/IBS-07p06.pdf

Cezarik,
M,
dkk
(1996).
Quantitative
Dermatoglyphic Analysis in Persons with
Superior Intelligence.
Diunduh dari
http://www.collantropol.hr/_doc/Coll.
%20Antropol.
%2020%20%281996%29%202:%20413418.pdf
Feist, J. & Feist, G.J. (2010). Teori Kepribadian. Jakarta:
Salemba Humanika.
Jupri.

(2013). Penyidik dan Penyidikan. Diunduh dari


http://www.negarahukum.com/hukum/penyidik
-dan-penyidikan.html

Misbach, I.H. (2010). Dahsyatnya Sidik Jari: Menguak Bakat dan


Potensi untuk Merancang Masa Depan melalui
Fingerprint Analysis. Jakarta: Visimedia Pustaka.
Najafi, M., MD. (2009). Association between Finger
Patterns of Digit II and Intelligence Quotient
Level
in
Adolescents.
Department
of
Psychiatry, Shahrekord University of Medical
Sciences, Shahrekord, IR Iran. Diundur dari

14

http://journals.tums.ac.ir/upload_files/pdf/1405
3.pdf
Poniman, F. & Mangussara, R.A. (2012). STIFIn Personality:
Mengenal Kecerdasan dan Rumus Sukses. Jakarta: STIFIn
Institute.
Purwanto, Y. (2007). Etika Profesi, Psikologi Profetik. Bandung:
Refika Aditama.
Scheineider.,
J.K.
(2010).
Quantifying
the
Dermatoglyphic Growth Patterns in Children
through
Adolescence.
Diunduh
dari
http://www.ncjrs.gov/pdffiles1/nij/grants/23274
6.pdf
Sutra, D. (2012). Fungsi Kepolisian sebagai Penyidik Utama
(Studi Identifikasi Sidik Jari dalam kasus Pidana). Diakses
dari
http://jurisprudencejournal.org/2012/07/fungsi-kepolisian-sebagaipenyidik-utama-studi-identifikasi-sidik-jaridalam-kasus-pidana/
Wang, J.F. , dkk. (2008). Determining The
Association Between Dermatoglyphics And
Schizophrenia By Using Fingerprint Asymmetry
Measures.
Diunduh
dari
http://www.eng.mu.edu/nagurka/Wang_Determ
ining%20the
%20Association_IJPRAI2203_P601.pdf
Zhou, Y. (2001). Application and Development of
Palmprint
Research.
Diunduh
dari
http://ai.pku.edu.cn/aiwebsite/research.files/col
lected%20papers%20%20palmprint/Application%20and
%20development%20of%20palm%20print
%20research.pdf

15