Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Golongan VIII B dalam sistem periodik terdiri atas unsur yang terbagi atas 3 sub.
Golongan secara vertikal yang disebut triad transisi. Dalam sistem periodik modern,
ketiga triad transisi ini diberi masing-masing penggolongan baru yaitu no. 8, 9, dan
10.Namun kecenderungan sifat terutama sifat kimia mereka secara horizontal lebih
banyak memiliki kemiripan dibanding sifatnya secara vertikal.Sehingga sering
dikelompokan kembali dalam 3 kelompok mendatar yang masing-masing beranggotakan
3 unsur.Besi, kobalt, dan nikel dan elemen yang terkandung horizontal dalam kelompok
transisi VIII B. Unsur-unsur ini cenderung memiliki sifat yang sama sehingga mereka
dapat mencampur dan membentuk paduan.
Disini akan dibahas tentang sejarah, kelimpahan, isolasi, properti, kegunaan besi,
kobalt dan nikel paduan dan senyawa yaitu oksida; metallates; sulfida, selenides dan
tellurides; halida dan okso halida; dan kompleks.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana Sejarah Penemuan Besi, Kobalt, dan Nikel?
1.2.2 Bagaimana Kelimpahan Unsur Besi, Kobalt, dan Nikel di alam?
1.2.3 Bagaimana Cara Mengisolasi Besi, Kobalt, dan Nikel?
1.2.4 Bagaimana Sifat Atom dan Sifat Unsur Besi, Kobalt, dan Nikel?
1.2.5 Apa Saja Kegunaan Besi, Kobalt, dan Nikel?
1.2.6 Bagaimana Alloy (Paduan) Besi, Kobalt dan Nikel?
1.2.7 Bagaimana Oksida dan Kalkogenida dari Besi?
1.2.8 Bagaimana Oksida dan Oksohalida dari Besi?
1.2.9 Bagaimana Senyawa Kompleks dari Besi?
1.2.10 Bagaimana Oksida dan Kalkogenida dari Kobalt?
1.2.11 Bagaimana Halida dan Oksohalida dari Kobalt?
1.2.12 Bagaimana Senyawa Kompleks dari Kobalt?
1.2.13 Bagaimana Oksida dan Kalkogenida dari Nikel?
1.2.14 Bagaimana Halida dan Oksohalida dari Nikel?
1.2.15 Bagaimana Senyawa Kompleks dari Nikel
1.3 Tujuan
1.3.1
1.3.2
1.3.3

Mengetahui Sejarah Penemuan Besi, Kobalt, dan Nikel


Mengetahui Kelimpahan unsur Besi, Kobalt, dan Nikel di alam
Mengetahui Cara mengisolasi Besi, Kobal, dan Nikel
1

1.3.4
1.3.5
1.3.6
1.3.7
1.3.8
1.3.9
1.3.10
1.3.11
1.3.12
1.3.13
1.3.14
1.3.15
1.4 Manfaat
1.4.1
1.4.2

Mengetahui Sifat Atom dan Sifat Unsur Besi, Kobalt, dan Nikel
Mengetahui Kegunaan Besi, Kobalt, dan Nikel
Mengetahui Alloy (Paduan) Besi, Kobalt dan Nikel
Mengetahui Oksida dan Kalkogenida dari Besi
Mengetahui Oksida dan Oksohalida dari Besi
Mengetahui Senyawa Kompleks dari Besi
Mengetahui Oksida dan Kalkogenida dari Kobalt
Mengetahui Halida dan Oksohalida dari Kobalt
Mengetahui Senyawa Kompleks dari Kobalt
Mengetahui Oksida dan Kalkogenida dari Nikel
Mengetahui Halida dan Oksohalida dari Nikel
Mengetahui Senyawa Kompleks dari Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Sejarah Penemuan Besi, Kobalt, dan Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Kelimpahan Unsur Besi, Kobalt, dan

1.4.3
1.4.4

Nikel di Alam
Mengatahui Informasi Tentang Cara Mengisolasi Besi, Kobal, dan Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Sifat Atom dan Sifat Unsur Besi, Kobalt,

1.4.5
1.4.6
1.4.7
1.4.8
1.4.9
1.4.10
1.4.11
1.4.12
1.4.13
1.4.14
1.4.15

dan Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Kegunaan Besi, kobalt, dan Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Alloy (Paduan) Besi, Kobalt dan Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Oksida dan Kalkogenida dari Besi
Mengetahui Informasi Tentang Oksida dan Oksohalida dari Besi
Mengetahui Informasi Tentang Senyawa Kompleks dari Besi
Mengetahui Informasi Tentang Oksida Dan Kalkogenida dari Kobalt
Mengetahui Informasi Tentang Halida dan Oksohalida dari Kobalt
Mengetahui Informasi Tentang Senyawa Kompleks dari Kobalt
Mengetahui Informasi Tentang Oksida dan Kalkogenida dari Nikel
Mengetahui Informasi Tentanghalida dan Oksohalida dari Nikel
Mengetahui Informasi Tentang Senyawa Kompleks dari Nikel

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sejarah
Tanda-tanda pertama kegunaan besi datangnya dari Sumeria dan Mesir, di mana
sekitar 4000 SM, benda kecil, seperti mata lembing dan perhiasan, dihasilkan dari besi yang
didapati dari meteor dan kemudian sampel diproduksi dengan mereduksi bijih besi dengan
arang,tidak dibuat karena suhu yang memadai tidak dapat dicapai tanpa menggunakan
beberapa cara berikut. Sebaliknya, bahan spon yang dihasilkan dari reduksi pada suhu rendah
akandibentuk penempan yang lama. Besi pertama kali dilebur oleh orang Het di Asia.
Kemungkinan kecil pada abad ketiga sebelum masehi tetapi nilai dari proses itu begitu besar
yang rahasianya dijaga dengan hati-hati dan dengan jatuhnya kerajaan Het sekitar 1200 SM
menyebabkan pengetahuan itu menghilang dan "Zaman Besi" dimulai . Nama "besi" adalah
Anglo Saxon berasal (iren, lih Jerman Eisen). Simbol adalah Fe dan kata-kata seperti "besi"
berasal dari bahasa Latin zat besi, zat besi.
Logam kobalt baru mulai digunakan pada abad 20, namun bijih kobalt sesungguhnya
telah digunakan ribuan tahun sebagaipewarna biru pada gelas maupun sebagai perkakas
dapur. Sumber warna biru pada kobalt dikenali pertama kali oleh G. Brandt (ahli kimia
Swedia) pada tahin 1735 yang mengisolasi logam tak murni yang diberi namacobalt rex.
Pada tahun 1780, T.O. Bergman menunjukan bahwa cobalt rex adalah unsur baru yang
kemudian diberi nama turunan dari kata kobolt (bahasa Jerman) yang artinya globin atau roh
hantu.
Logam paduan nikel telah dikenal di Cina lebih dari 2000 tahun yang lalu, dan
penambang-penambang Saxon telah terbiasa dengan bijih kemerahan NiAs yang secara
sekilas mirip dengan Cu2O. Para penambang tersebut tidak mampu mengektrak tembaga
dari bijihnya dan memberi nama kupfernikel, artinya tembaganya pak tua Nick. Pada tahun
`1751, A.F. Consteds mengisolasi logam tak murni dari bijih ynag berasaldari Swedia, dan
mengidentifikasinya dengan komponen logam kupfenikel sebagai logam baru dengan nama
nikel. Akhirnya pada tahun 1804, J.B. Richter berhasil mengisolasi logam nikel dengan hasil
yang lebih murni dan mengidentifikasi sifat-sifatnya.

2.2 Kelimpahan di alam dan distribusi


Dalam batuan kerak bumi, logam besi dapat ditemukan sekitar 6,2% atau 62000 ppm,
itu adalah logam yang berlimpah. Besi juga banyak terdistribusi sebagai oksida dan karbonat,
yang terpenting yaitu hematit (Fe2O3), magnetit (Fe3O4), limonit (~2Fe2O3.3H2O), dan siderite
(FeCO3).Pirit besi (FeS2) juga umum dijumpai, tetapi tidak digunakan sebagai sumber
ekstraksi besi karena sulitnya menghilangkan belerang.Distribusi besi dipengaruhi oleh
pelapukan.Terlepas dari sufida dan silikatnya ada dalam bentuk FeSO4 dan Fe
(HCO3).Dalam larutan, senyawa tersebut dioksidasi dengan cepat, dan bahkan kondisi sedikit
basa menyebabkan pengendapan besi (III) oksida.Karena ketersediaan mereka, produksi bijih
besi terbatas pada orang-orang dari kelas tertinggi dalam operasi raksasa.
Sebagian besar batu dan tanah kita mengandung zat besi.Isotop besi terutama
digunakan dalam penelitian gizi, dengan Fe-57 dan Fe-58 sebagai isotop Fe yang sering
digunakan.Kajiannya termasuk kekurangan zat besi oleh remaja manusia, kondisiuntuk
penyerapan zat besi yang efektif, penekanan anemia dan control genetik.Isotop Fe-54
digunakan untukmemproduksi Fe-55 yang radioaktif yang digunakan sebagai detektor
penangkap elektron dan fluoresensi sinar-X.Fe-56 dapat digunakan untuk produksi Co-55
radioaktif yang digunakan sebagai agen pendeteksi tumor di bleomycin.
Kobalt murni tidak ditemukan di alam, tetapi senyawa kobalt yang umum.Dalam
jumlah kecil banyak ditemukan di sebagian besar batuan, tanah, tumbuhan dan hewan. Ini
adalah ke-33 elemen yang paling melimpah dan ditemukan di berbagai macam media,
termasuk udara, permukaan air, air lindi dari tempat berbahaya limbah, air tanah, tanah, dan
sedimen. Terdapat banyak bijih logam yang mengandung kobalt (mineral kobalt), diantaranya
yang

dikomersilkan

yaitu

Kobaltite

(CoAsS),

Smaltite

(CoAs 2)

dan

Linneaite

(CO3S2).Persenyawaan kobalt yang terdapat di alam selalu ditemukan dengan bijih logam
nikel, terkadang juga bersamaan dengan bijih tembaga serta bijih timbal. Negara negara
yang secara komersil memproduksi logam murni kobalt dari mineralnya di alam antara lain :
Zaire ((32,5%), Zambia(16%), Australia (11%), USSR (10%) dan kanada (9%).
Cobalt terdapat di alam kira- kira 0, 002% dari kerak bumi.Tidak seperti tetangganya
dalam tabel periodik, besi, nikel, dan tembaga, kobalt tidak tersebar di alam.Rata-rata
kelimpah di kerak bumi yaitu 25 bagian per juta (ppm); dalam batuan yang sangat basa, di
mana kobalt yang paling umum, konsentrasi rata-rata adalah 110 ppm. Cobalt mineral dapat
dikumpulkan akibat berbagai proses geologi untuk menghasilkan bijih logam yang bisa
diolah kira-kira 1.000-2.000 ppm. Isotop kobalt-60 (60Co) adalah isotop buatanyang

digunakan sebagai sumber sinar (radiasi energi tinggi berguna untuk sterilisasi dalam
pengobatan dan makanan).
Nikel adalah logam terbanyak ketujuh dari logam transisi dan kedua puluh dua
terbanyak di kerak bumi yang paling melimpah di kerak bumi yaitu sekitar 99 ppm.Jenis bijih
nikel terpenting dan bernilai ekonomis yang sudah diproduksi secara komersial adalah bijih
nikel sulfide dan bijih nikel oksida. Contoh bijih nikel sulfide yang biasa diolah adalah
pentlandite (Ni,Fe)9S8, dan pyhrhotite (Fe7S8).Bijih nikel yang penting dalam perdagangan ada
dua tipe yaitu:
1. Laterit,

yang

merupakan

bijih

oksida-silikat

seperti

gamerit,

(Ni,

Mg)6Si4O10(OH)8, dan nikeliferoslimonit, (Fe,Ni)O(OH).nH2O,


2. Sulfide seperti pentladit, (Ni,Fe)9S8 yang tercampuri tembaga dan kobalt hingga
bijih mengandung ~ 1,5 % Ni.
2.3 Isolasi Logam
Suatu kepentingan yang tidak wajar untuk membuat besi di dalam laboratorium
sebagaimana yang ada di pasaran.Besi murni dalam jumlah sedikit bisa di dapatkan melalui
pemurnian bijih besi dengan karbon monoksida. Intermediet dalamproses ini adalah besi
pentakarbonil, Fe(CO)5. Karbonil tersebut akan terurai pada pemanasan hingga suhu 250oC
membentuk bubuk besi yang murni.
Fe+ CO

Fe(CO)5 (250oC)

Fe+5CO

Fe(CO)5adalah kompleks volatile yang dengan mudah dipisahkan dari reaksi dan
meningggalkan pengotor dalam wadah reaksi. Cara lain untuk menghasilkan sedikit sampel
dari besi murni dengan mereduksi besi oksida, Fe2O3 dengan Hidrogen, H2.
Hampir semua besi yang diproduksi secara komersial digunakan dalam industri baja
dan digunakan sebagai tungku pembakaran. Sebagian besar buku kimia menyajikan proses di
dalam tungku, yang intinya Fe2O3 direduksi dengan karbon walaupun sebenarnya pereduksi
di dalamtungku adalah CO.
2Fe2O3 + 3C

4Fe+3CO2

Proses ini adalah salah satu proses yang paling banyak digunakan dalam industry. Kobalt
murni dihasilkan ketika hidroksida dan natrium hipoklorit (NaOCl) mengalami reaksi sebagai
berikut:
5

2CO2+(aq) + NOCl(aq) + 4OH-(aq)+ H2O

2Co(OH)3(s)+NaCl(aq)

Co(OH)3yang terbentuk dipanaskan untuk menjadi oksidanya, lalu ditambahkan


karbon untuk membentuk logam murninya.
Co(OH)

heated

Co2O3 + H2O

Co2O3 + 3C

4Co(s) + 3CO(g)

Kobalt juga didapat dengan memananaskan kobaltit untuk menghasilkan kobalt


oksida.Senyawa tersebut kemudian dipanaskan dengan aluminium untuk memisahkan kobalt
murni. Reaksinya sebagai berikut:
CoAsS+ FeS

, O2

FeS+CoS+Fe2O3+Na3AsO4

O2

Co3O4 +Fe2O3+SiO2+Na3AsO4

NaNO3
Na2CO3

Co3O4

(Al)

Co metal

Produksi nikel cukup kompleks dan dipengaruhi oleh bijih logam yang
digunakan.Sehingga hanya diuraikan sedikit saja.Pada kasus ini, oksida logam secara umum
tidak bisa diterima untuk dipisahkan dengan teknik pemisahan fisik biasa. Sehingga akan
mencakup seluruh bijih logam untuk mengkajinya.
Nikel ada dalam jumlah yang lebih banyak dari kobalt namun hanya sedikit cadangan
yang bisa diisolasi untuk digunakan dalam ekstraksi.Logamnya didapat dengan pemanasan
disertai yangbelerang untuk membentuk sulfidanya, yang kemudian dibakar untuk
menghasilkan oksidanya.Kemudian direduksi secara langsung disertai pemanasan dengan
karbon atau dilarutkan untuk mendapatkan larutan yang mengandung nikel (II) untuk
kemudian diisolasi dengan elektrolisis.Logam yang didapat dengan reduksi bisa dimurnikan
dengan proses Mond. Logam tersebut dipanaskan sampaisuhu 320 K dengan karbon
monoksida untuk menghasilkan tetrakarbonil yang murni,Ni(CO)4. Kemudian dipanaskan
sampaisuhu 500K untuk mendapatkan logam murni nikel.
Ni + 4CO

Ni(CO)4

Reduksi yang terjadi dalam proses ini hanya sedikit bagian dari besi yang bisa didapat
dalam ampas, dan sebagian besar masih dalam bentuk paduan besi-nikel. Pemisahan besi dari
nikel dilakukan dengan memasukkan leburan paduan ke dalam reaksi yangmelibatkan bahan
yang mengandung belerang (Pirit, Gipsum). Karena perbedaan kemampuan antara besi dan

nikeldalam mengikat belerangdan oksigen, sehingga proses tersebut akan menghasilkan alloy
logam FeS dan Ni3S2 dan sebagian besar besi bisa didapat sebagai ampas.
Logam yang didapat masih mengandung lebih dari 60% besi dan logam yang tersisa
dalam keadaan cair diteruskan pada proses konversi. Proses konversi menggunakan silicon
oksida, hasilnya berupa ampas yang masih mengandung nikel tidak murni dalam jumlah
cukup banyak. Sehingga ampas tersebut biasanya dilelehkan kembali. Proses selanjutnya
adalah pembakaran untuk memisahkan logam dari belerang. Nikel oksida didapatkan dibakar
dengan penambahan arang untuk mendapatkan logamnya.
2.4 Sifat Logam
Besi berwarna perak, berkilau tapi kimia reaktif. setelah waktu yang singkat di udara
lembab besi berubah dari berwarna perak menjadi berkarat berwarna coklat kemerahan
karena FeOOH terbentuk. Larut dalam air elektrolit seperti garam, yang akan mempercepat
reaksi. Fe memiliki nomor atom nomor 26, konfigurasi elektron dari Fe adalah [Ar] 3d6 4s2
Sifat fisika besi
Kerapatan
Masa jenis
Titik leleh
Titik didih
Specific heat cp at 298K
Berat molekul
Elektronegatifitas
Afinitaselektron
Potensial elektroda

7.87 g cm-3
7.09 cm3
1811 K
3134 K
449 J K-1 kg-1
55.85 gmol-1
1.7 eV
15.7 kJ mol-1

M2+ + 2e M

-0, 44

M3+ + e M2+

+0,74

Sifat megnetik
Konduktivitas W m-1K-1
173K
273K
99
83.5
Coefficient of linier expantion K-1
100K
293K
5,6 10-6
11.8 10-6
Resistivity nm
78K
273K
7
89

Ferromagnetic
373K
72

573K
56

500K
14,4 10-6

800K
16,2 10-6

373K
147

573K
315

973K
34

973K
855

1473K
1220

Beberapa sifat kimia besi adalah:


1.) Dengan uap air panas dapat bereaksi untuk menghasilkan gas hidrogen, tetapi dengan
air dingin tidak dapat bereaksi.
3Fe(s) + 4H2O(g) Fe3O4(s) + 4H2(g)
2.) Besi akan mengalami korosi dan perubahan warna menjadi coklat jika bereaksi
dengan udara basah.
4Fe(s) + 3O2(g) + nH2O Fe2O3.nH2O
3.) Jika dibakar dengan belerang akan membentuk besi (II) sulfida (FeS)
Fe(s) + S(S) FeS(S)
4.) Dengan kelompok halogen akan membentuk senyawa FeX3 (X = F, Cl, Br, I), kecuali
dengan iodium akan membentuk FeI2.
5.) Reaksi dengan asam
Reaksi dengan asam klorida untuk menghasilkan gas hidrogen dan besi (II) klorida.
Fe(s) + HCl(aq) FeCl2(aq) + H2(g)
Reaksi dengan asam sulfat encer akan membentuk gas H2 tetapi dengan asam sulfat
pekat akan menghasilkan gas SO2. dapat terjadi karena selain asam, asam sulfat juga
bertindak sebagai agen pengoksidasi.
Sebagai asam:
Fe(s) + 2H+(aq) Fe2+(aq) + H2(g)
Sebagai agen pengoksidasi:
Fe(s) + SO42+(aq) + 4H+(aq) Fe2+(aq) + SO2(g) + 2H2O(l)
Reaksi dengan asam nitrat
Dengan asam nitrat encer akan membentuk NO dan NO2 gas, tetapi dengan asam
nitrat pekat akan menghasilkan gas NO2. Hal ini terjadi karena sifat oksidasi asam
nitrat pekat lebih kuat dari asam nitrat encer.
Kobalt adalah logam berwarna perak kebiruan dengan sifat magnetik mirip
dengan besi. Kobalt dengan simbol Co memiliki nomor atom 27. Pada tanah dasar,
konfigurasi elektron dari Fe adalah [Ar] 3d7 4s2. Sifat fisik kobalt ditunjukkan pada
tabel berikut.

Sifat fisik kobalt


Density

8.90 g cm-3

Molar volume

6.62 cm 3

Melting point

1763 K

Boiling point

3200 K

Specific heat cp at 298 K

421 J K-1 kg-1

Molecular Weight

58.932 gmol-1

Electron affinity

63.7 kJ mol-1

Magnetic characterization

Ferromagnetic

Thermal Conductivity Wm-1 K-1


173 K

273 K

373 K

573 K

973 K

130

105

89

69

53

Coefficien of linear expansion K -1


100K

293K

500K

800K

6.8 10-6

13 10-6

15 10-6

15.2 10-6

Resistivity n m
78 K

273 K

373K

573 K

973 K

1473 K

56

95

197

480

885

Sifat kimia kobalt adalah; (a) kobalt adalah elemen yang kurang reaktif, bergabung perlahan
dengan oksigen di udara, tetapi tidak terbakar dan membakar kecuali dalam bentuk bubuk;
(b) bereaksi dengan asam mineral yang paling encer untuk menghasilkan gas hidrogen. tidak
bereaksi dengan air pada suhu kamar; (c) membentuk senyawa kompleks, (d) dalam air ada
sebagai Co2+ (berwarna merah), dan (e) tahan terhadap korosi, dan (f) Co3+ dalam ion biasa
bersifat tidak stabil, namun dalam kompleks stabil, dan (g) larut dalam asam mineral
9

encer. Nikel cukup berkilau, merupakan logam keperakan, dan secara luas digunakan dalam
paduan logam.
Nikel adalah logam lunak dan ulet. meteorit besi mengandung logam besi dan sekitar
20% nikel. Sumber nikel yang utama adalah mineral pentlandit. Nikel dengan simbol Ni
memiliki nomor atom 28, konfigurasi elektron Ni adalah [Ar] 3d8 4s2. Sifat fisik nikel
ditunjukkan pada tabel berikut.
Sifat fisik Nickel
Density
Molar volume
Melting point
Boiling point
Specifict heat cp at 298K
Molecular weight
Electron affinity
Magnetic characterization
Thermal conductivity Wm-1K-1
173 k
273 K
113
94
Coefficient of linear expansion K-1
100 K
293 K
-6
6.6 10
13.4 10-6
Resistivity n m
78K
5.5

273K
62

8.90 g cm-1
6.59 cm3
1728 K
3186 K
444 J K-1kg -1
58.69 gmol-1
112 kJ mol-1
Ferromagnetic
373 K
83
500 K
15.3 10-6
373K
103

573 K
67

973 K
71

800 K
16.8 10-6
573K
224

973K
400

1473K
-

Kombinasi nikel, krom dan besi menghasilkan baja tahan karat (stainless steel) yang banyak
digunakan untuk peralatan dapur (sendok, dan peralatan memasak), ornamen rumah dan
bangunan, dan komponen industri. Pada suhu kamar, nikel tidak dapat diserang oleh udara
atau air. Beberapa reaksi nikel:
1. Sangat lambat untuk bereaksi dengan asam klorida dan asam sulfat encer
2. Bereaksi cepat dengan asam nitrat encer, tetapi dengan asam nitrat pekat, nikel bersifat
pasif.
Asam klorida (baik encer dan pekat) dan asam sulfat encer, melarutkan nikel dengan
pembentukan hidrogen:

10

Ni +2H+ Ni2+ + H2
Ni + 2 HCl Ni2 + 2 Cl- + H2
Reaksi ini akan berlangsung cepat jika larutan dipanaskan. Asam sulfat panas melarutkan
nikel dengan pembentukan sulfur dioksida.
Ni + 2 H2SO4 + 2 H+ Ni2+ + SO2 + H2
Asam nitrat encer dan terkonsentrasi melarutkan nikel mudah dalam dingin:
Ni + 2HNO3 + 6 H+ 3Ni2+ + 2NO + 4H2O

2.5 Penggunaan Besi, Cobalt, Dan Nikel


Besi adalah logam dasar untuk memproduksi baja. Hal ini sangat beragam dan
memiliki peran penting dalam kehidupan manusia modern, fungsi penahan beban dalam
pembangunan yang berbahan besi dan jembatan untuk tingkat ketelitian tinggi, baja khusus
untuk pisau bedah dokter bedah untuk semua komponen baja dalam rumah tangga dan dapur
(Enghag ,2004: 168) Besi merupakan mikronutrien penting bagi makhluk hidup. Besi relatif
stabil dalam logam terikat dengan protein (metalloprotein), karena besi dalam keadaan bebas
dapat menyebabkan pembentukan radikal bebas yang beracun bagi sel. Besi adalah unsur
penting dalam kelangsungan hidup makhluk hidup dan bekerja sebagai pembawa oksigen
dalam hemoglobin. FeSO4 digunakan sebagai sumber mineral dan juga digunakan untuk
membuat bubuk tinta. Fe3SO4 digunakan untuk proses pencelupan tekstil dan pengujian
alumunium. Tetapi besi juga memiliki beberapa kelemahan terutama sifat korosif. Korosi
akibat interaksi antara besi dengan air dan udara. Kita dapat memodifikasi besi menjadi baja
untuk membuat besi anti karat, tapi biasanya memerlukan biaya tinggi untuk melakukan itu.
Untuk meminimalisasi sifat korosif besi di sini adalah dengan melakukan perlindungan besi
dari air dan udara, beberapa cara yang bisa dilakukan antara lain:
1) Mengecat pagar atau instrument lain yang terbuat dari besi. Cat dapat melindungi besi dari
air dan udara karena jika kita melukis mereka, air dan udara tidak bisa langsung menarik
dengan air dan udara. Semakin baik cat yang dianjurkan untuk digunakan adalah cat yang
mengandung timbal dan seng.
2) Dilapisi dengan plastik, misalnya pada rak piring
11

3) Dilapisi dengan timbal, misalnya pada kaleng kemasan


4) Dilapisi dengan Zn, misalnya pada pipa besi
5) Dilapisi dengan kromium, misalnya, motorik bumper
6) Dilapisi dengan Mg, misalnya di pipa baja di tanah
Kobalt digunakan sebagai stainless steel dan magnet baja. Karena kobalt memiliki nilai EO
positif sehingga begitu sulit untuk mengoksidasi. Cobalt-60 dapat memancarkan sinar
gamma yang membunuh virus, bakteri, dan mikroorganisme patogen lainnya tanpa merusak
produk. Cobalt-60 digunakan untuk menyinari sel kanker. Dengan radiasi yang diberikan, selsel kanker dapat dikendalikan dan dibunuh tanpa mengganggu sel-sel yang normal. Nikel
digunakan dalam skala besar untuk pembuatan stainless steel dan paduan lainnya yang tahan
korosi. Mengandung 18% kromium, juga 8% nikel. Hal ini juga digunakan untuk membuat
koin 5 sen AS (yang akrab disapa "nikel") mengandung 25% nikel.

2.6 Paduan Besi, Nikel, Dan Kobalt


Alnico adalah paduan yang mengandung alumunium (Al), nikel (Ni), Cobalt (Co).
Tapi alnico sebenarnya mengandung lebih dari tiga elemen tersebut. Alnico juga mengandung
besi dan tembaga dengan beberapa versi juga mengandung titanium dan bahkan niobium
(versi titanium yang kadang-kadang disebut ticonal, berasal dari unsur TiCoNiAl). Magnet
alnico ditemukan di tahun 1930-an dan pertama kali digunakan secara nyata sebagai magnet
permanen ("magnet" yang pertama, yang disebut baja magnetik, dengan cepat digantikan oleh
alnico yang jauh lebih unggul). Alnico bisa diproduksi dengan metode penambangan atau
yang lebih umum dengan metode pengecoran. Sebagai hasil dari kedua metode tersebut
diterima untuk banyak aplikasi, tetapi permukaannya mungkin perlu diperhalus.
Jenis alloy yang lain adalah Kovar. Kovar adalah paduan dari besi, kobalt, dan nikel
dengan koefisien konduktifitas termal mirip dengan kaca borosilikat. Ini adalah paduan
dengan 29% nikel, 17% kobalt dan sisanya adalah besi. Hal ini membuatnya sangat cocok
untuk digunakan sebagai pemisah gelas dan logam. Maka kovar sebagian besar digunakan
dalam industri elektronik sebagai pemisah logam dan kaca borosilikat dalam instrumen
tabung listrik, tabung sinar X, dll dan aplikasi lain yang membutuhkan pemisah antara kaca
dengan besi.
12

2.7 Oksida Dan Chalconides Besi


2.7 Oksida Dan Kalkonida Besi
2.7.1 Besi (II) oksida (FeO)
Besi (II) oksida mempunyai rumus FeO, sesungguhnya merupakan senyawa
nonstoikiometrik, biasanya ada kekurangan ion besi (II) karena oksidanya merupakan tingkat
oksidasi terendah, sehingga sebagian ion Besi (II) teroksidasi menjadi ion Besi (III). Karena
besi tingkat oksidasi 3 lebih stabil daripda besi dengan tingkat oksidasi 2. Rumus yang paling
akurat adalah Fe0,84O Fe0,95O. Oksida FeO dapat ditemukan dalam bentuk bubuk hitam
bersifat pirofor, yang didapat dari dekomposisi termal Besi (II) Oksalat, dalam suatu wadah
vakum. Dengan persamaan FeC2O4 FeO + CO + CO2. Besi (II) Oksida menjadi kurang
reaktif ketika dipanaskan pada suhu tinggi. Besi (II) oksida bersifat basa, dan larut dalam
asam.
2.7.2 Besi (III) Oksida (Fe2O3)
Besi (III) Oksida (Fe2O3) terdapat di alam sebagai mineral hematite. Penggunaan
penting
senyawa ini adalah memproduksi pigmen merah, oranye, dan kuning. Kegunaan lain juga
sebagai pelapis logam, baja dan karet; dalam keramik; dan sebagai katalis untuk reaksi
oksidasi.
Besi (III) Oksida (Fe2O3) berbentuk kristal heksagonal, berwarna coklat kemerahan,
dengan indeks bias 2.91, kepadatan 5.25g / cm3;, kekerasan Mohs 6,0, meleleh pada suhu
1565 C, tidak larut dalam air dan larut dalam asam.
Besi (III) oksida dibuat sebagai endapan coklat kemerahan terhidrat, dari reaksi :
2FeCl3 + 6NaOH Fe2O3 3H2O + 6NaCl
Besi (III) oksida juga dapat dibuat dari dekomposisi termal besi (II) sulfat atau oksida
hidroksida coklat
2FeSO4 Fe2O3 + SO2 + SO3
2FeO(OH) Fe2O3 + H2O
13

Besi (III) oksida terurai menjadi unsur ketika dipanaskan pada suhu tinggi:
2Fe2O3 4Fe + 3O2
Oksida tersebut direduksi oleh sebagian besar agen pereduksi. Reaksi dengan karbon
monoksida. Reaksi keseluruhan agak eksotermis .
2Fe2O3 + 6CO 4Fe + 6CO2
Karat adalah istilah umum untuk menggambarkan oksida besi. Dalam penggunaan
sehari-hari, istilah ini diterapkan untuk oksida merah, dibentuk oleh reaksi dari besi dan
oksigen dengan adanya uap air/kelembaban udara. Ada juga bentuk lain dari karat, seperti
hasil dari reaksi besi dan klorida dalam lingkungan kekurangan oksigen, seperti rebar
digunakan dalam pilar beton bawah air, yang menghasilkan karat hijau.
Beberapa bentuk karat dibedakan secara visual dan dengan spektroskopi, dan bentuk
dalam keadaan yang berbeda. Karat terdiri dari hidrat besi (III) oksida Fe2O3. nH2O dan besi
(III) oksida-hidroksida (FeO (OH), Fe (OH)3).
Dengan adanya air, oksigen, dan waktu yang cukup, besi akhirnya akan terkonversi
seluruhnya menjadi karat dan hancur. Permukaan karat tidak memberikan perlindungan
terhadap besi dibawahnya. seperti pembentukan lapisan tipis pada permukaan tembaga dan
aluminium. Karat adalah istilah umum untuk korosi besi dan paduannya, seperti baja. Banyak
logam lainnya mengalami korosi serupa, tetapi oksida yang dihasilkan tidak biasa disebut
karat.
Karat besi adalah proses elektrokimia yang dimulai dengan transfer elektron dari besi
menuju oksigen. Laju korosi dipengaruhi oleh air dan dipercepat oleh elektrolit.. Reaksi
utama adalah pengurangan oksigen:
O2 + 4 e- + 2 H2O 4 OHKarena menghasilkan ion hidroksida, proses ini sangat dipengaruhi oleh adanya asam.
Memang, korosi logam dengan adanya oksigen dipercepat pada pH rendah. Oksidasi besi
yang mungkin digambarkan sebagai berikut:
Fe Fe2+ + 2O2Selain itu, tahapan reaksi asam-basa berikut mempengaruhi proses pembentukan karat:
14

Fe2+ + 2H2O Fe (OH) 2 + 2H+


Fe3+ + 3H2O Fe(OH) 3 + 3H+
Seperti kesetimbangan dehidrasi berikut:
Fe(OH)2

FeO + H2O

Fe(OH)3

FeO(OH) + H2O

2 FeO (OH) Fe2O3 + H2O


Transformasi FeO, Fe2O3, Fe3O4, FeOOH akan jelaskan dengan gambar di bawah ini:
Gambar Transformasi 9.1 Oksida-hidroksida Besi

Fe3O4

FeO

- Fe2O3

FeOOH

Fe(OH)2

- Fe2O3

Fe2O3 . 4 H2O

Fe(OH)3

Fe3+ lebih stabil dari Fe2+. Ion Fe2 + dalam bentuk [Fe (H2O)6]2+, memiliki fungsi sebagai asam
lemah dalam air dan yang berwarna biru muda. Reaksi sebagai berikut:
[Fe (H2O)6] 2+ + H2O [Fe (H2O)5OH]+ + H3O+
Senyawa lain dari Fe3+ adalah [Fe (H2O)6] 3+ yang tidak berwarna dalam asam kuat dan
berwarna kuning kehijauan dalam basa lemah atau kuat. Reaksi sebagai berikut:
15

[Fe (H2O)6] 3+ + H2O [Fe(H2O)5OH] +2 + H3O+


[Fe(H2O)6]3+ + H2O [Fe(H2O)4(OH)2]+ + H3O +
Pada pH di atas 3, sifatnya seperti gel dan membentuk FeO(OH). Reaksi sebagai berikut:
[Fe (H2O) 6] 3+ + H2O FeO(OH) (gel) Fe2O3. n5H2O (red)

2.7.3 Besi (II) sulfat


Besi (II) sulfat mungkin adalah garam yang paling penting dari besi, dikenal sebagi
senyawa besi (II). Senyawa ini digunakan sebagai mordan dalam pencelupan; sebagai
komponen menulis tinta; dalam elektroplating mandi; radiasidosimeter; dalam litografi dan
ukiran; sebagai gulma-pembunuh; dan di air pemurnian. Sebuah aplikasi utama dari senyawa
ini adalah dalam pembuatan besi (II) garam lainnya termasuk Prusia ferrocyanide biru atau
besi. Besi (II) sulfat juga digunakan sebagai reduktor dan reagen analitis (dalam cincin coklat
tes untuk nitrat).
Besi (II) sulfat berbentuk kristal ortorombik putih; higroskopis; densitas 3,65 g / cm3;
larut dalam air (26.6g / 100g air pada 20 C). Monohydrate adalah monoklinik berwarna
putih kekuningan kristal; densitas 3,0 g / cm3; terurai pada suhu 300 C; larut dalam air.
Heptahidratnya berbentuk kristal monoklinik berwarna hijau kebiruan, dengan indeks
bias 1,47, kekerasan 2 Mohs, Kepadatan 1.89g / cm3, terurai pada sekitar 60 C, sangat larut
dalam air, larut dalam metanol absolute, sedikit larut dalam etanol
Besi (II) sulfat heptahidrat di laboratorium dapat dibuat dengan melarutkan zat besi
dalam asam sulfat encer dalam suasana mengurangi, diikuti dengan kristalisasi:
Fe + H2SO4 FeSO4 + H2, Alkohol dapat ditambahkan ke larutan untuk mempercepat
kristalisasi, besi (II) dinyatakan dapat mengoksidasi besi (III) selama proses kristalisasi
lambat
Heptahidrat kehilangan tiga molekul air pada pemanasan pada 56 C, membentuk
yang tetrahidrat FeSO4 4H2O. Pada pemanasan lebih lanjut tetrahidrat kehilangan tiga
molekul air lebih pada 65 C, memberikan monohidrat, FeSO4 H2O, stabil sampai 300C.

16

Pada pemanasan lebih lanjut diperoleh anhidrat FeSO4, pada pemanasan yang kuat terurai
menjadi besi (III) oksida dan sulfur oksida:
2FeSO4 Fe2O3 + SO2 + SO3
Besi (II) sulfat bereaksi dengan asam sulfat pekat untuk membentuk besi (III) sulfat
dan sulfur dioksida: 2FeSO4 + 2H2SO4 Fe2 (SO4)3 + SO2 + 2H2O
Besi (II) sulfat adalah zat pereduksi. Dalam larutan air, mengurangi ion nitrat dan
nitrit membentuk cincin berwarna coklat dari Fe(NO)SO4. Reaksi ini diterapkan untuk
deteksi kualitatif ion nitrat dan nitrit dalam larutan. Senyawa teroksidasi oleh udara lembab
membentuk besi dasar (III) sulfat.
Larutan air terkena udara juga mengalami oksidasi; reaksi, bagaimanapun, sangat
lambat. Tingkat oksidasi meningkat dengan suhu dan pH. Dalam media basa, oksidasi jauh
lebih cepat. Dalam larutan, juga teroksidasi menjadi Fe3 + oleh radiasi dari zat radioaktif.
Reaksi ini digunakan untuk mengukur dosis radiasi dalam solusi dosimeter.
Besi (II) sulfat bentuk garam ganda dengan sulfat amonium, alkali dan logam alkali
tanah (K, Rb, Cs, Mg). Garam ganda tersebut diperoleh dengan pencampuran jumlah molar
yang sama dari garam-garam ini diikuti dengan kristalisasi. Beberapa contoh adalah FeSO4
(NH4) 2SO4 6H2O (garam Mohr), FeSO4 K2SO4 6H2O, dan FeSO4 MgSO4 6H2O .
Ketika natrium karbonat ditambahkan ke dalam larutan besi (II) sulfat, endapan putih
besi (II) karbonat dihasilkan. Reaksi di atas adalah Fe2 + (aq) + CO32- (aq) FeCO3 (s)
Endapan putih cepat berubah menjadi hijau dan kemudian mengoksidasi coklat FeO (OH):
4FeCO3 + 2H2O + O2 4FeO OH + 4CO2

2.8 Halida Dan Oksohalida Besi

17

Meskipun Besi memiliki konfigurasi elektron yang memungkinan dia berada dalam
keadaan oksidasi +6, tetapi besi tidak dapat membentuk senyawa halogen dengan tingkat
oksidasi yang +3. Senyawa halogen besi terdiri dari FeX dan FeX3. Besi (III) halide dapat
dibuat dengan reaksi umum
Fe + 3 X2 2FeX3
2.8.1 Besi (II) Klorida (FeCl2)
Besi (II) Klorida hidrat (FeCl2.nH2O), mempunyai bentuk kristal berwarna kuning
kehijauan, dengan titik leleh 670-674oC. Senyawa ini memiliki struktur seperti kadmium
klorida, serta larut dalam air dan hidrat, yang dikelilingi oleh air yang didapat dari larutan
FeCl2 dalam asam klorida. Reaksi sebagai berikut:
Fe + 2HCl(aq) FeCl2

(s)

+ H2

Semua garam besi (II) terhidrat mengandung ion [Fe(H2O)6]2+ yang berwarna pucat
kehijauan, dan sebagian lagi teroksidasi menjadi Besi (III) yang berwarna kuning kecoklatan.
Besi (II) Klorida Anhidrat (FeCl2) dapat dibuat dengan menghasilkan gas HCl kering
pada logam besi panas. Gas H2 yang dihasilkan berperan sebagai reduktor, mencegah oksidasi
lanjut menjadi besi (III) :
Fe(s) + 2HCl(g) FeCl2 (s) + H2(g)
Besi (II) klorida anhidrat tak berwarna (putih), demikian juga terhidratnya, tetapi menjadi
agak kehijauan bagi heksahidratnya. Baik besi (II) klo

2.8.2 Besi (III) klorida (FeCl3)


Besi (III) klorida, bentuk senyawa ini adalah kristal coklat tua yang mencair pada suhu
306oC. Besi (III) klorida memiliki struktur pipih. Dalam fase gas FeCl3 memiliki struktur
dimer.
2.8.3 Besi (II) bromida (FeBr2)
Besi (II) bromida (FeBr2) dapat diperoleh dengan memanaskan besi berlebih dalam gas
bromida. Kelebihan besi dapat digunakan untuk mencegah pembentukan besi (III) bromida.
18

2.8.4 Besi (II) iodida (FeI2)


Besi (II) iodida (FeI2) dapat diperoleh dengan cara yang sama dengan FeBr2 yaitu dengan
memanaskan besi dan yodium tetapi tidak menggunakan besi yang berlebihan. Halide Fe (+2)
dapat bereaksi dengan gas NH3 anhidrat, membentuk garam yang mengandung ion kompleks
oktahedral [Fe (NH3)6] 2+.
2.9 SENYAWA KOMPLEKS BESI
2.9.1 Besi (II )Kompleks
Kompleksnya memiliki struktur oktahedral, pada umumnya bersifat paramagnetik dan
memiliki ligan yang cukup kuat untuk menjadi pasangan spin. Besi kompleks diamagnetik
adalah [Fe(CN)6] 4- Dan [Fedipy3] 2+. Pembentukan kompleks 2,2-bipiridin merah dan 1,10
fenantrolyn digunakan untuk mendapatkan ion Fe2+
Beberapa kompleks tetrahedral seperti FeCl42- diperoleh. Senyawa kompleks besi yang paling
penting adalah yang digunakan pada sistem biologis, yaitu senyawa ferrocena.
Salah satu reaksi untuk memperoleh Fe2+
K4[Fe(CN)6] + Fe3+ Kfe (III) [Fe (II) (CN)6] (berrliner biru dan tidak larut)
K4[Fe(CN)6] + Fe2+ K2Fe [Fe(CN)6] (tidak berwarna dan larut)
2.9.2 Besi Kompleks (III)
Besi (III) ditemukan dalam garam kristal dengan kemampuan menampung anion yang tinggi
selain iodida yang memiliki sifat reduktor tinggi:
Fe3+ + I- = Fe2+ + I2
Garam yang mengandung ion ferriaquo. [Fe (H2O)6]3+ seperti Fe(ClO4)3. 10H2O memiliki
warna pink lembut, tapi ion aquo memiliki warna oranye. FeCl3, senyawa ini digunakan
sebagai sumber untuk sintesis senyawa besi yang lauin. Ferrochloride anhidrat dapat dibuat
dengan mengalirkan gas HCl pada bubuk besi panas dengan mengurangi FeCl3 dengan Fe di
tetrahidrofuran.
Reaksi sebagai berikut:
K3[Fe(CN)6] + Fe3+

FeFe(CN)6 (Coklat muda dan larut)


19

K3[Fe(CN)6] + Fe2+ Kfe [Fe(CN)6] (Turnbull biru dan panas larut)

2.10 OKSIDA DAN KALKOGENIDA OF COBALT


2.10.1 Cobalt (II) Oksida (CoO)
Cobalt (II) oksida dengan rumus CoO, adalah padatan merah muda, memiliki struktur NaCl.
Senyawa ini memiliki titik leleh 1935oC dan kepadatan 6.45 g / cm3. Senyawa ini mudah
teroksidasi di udara untuk membentuk trikobalt tetraoksida, Co3O4, dan mudah direduksi
dengan hidrogen menjadi logam, kemudian langsung dioksidasi oleh air dan oksigen untuk
membentuk kobalt (III) hidroksida (Co(OH)3) yang berwarna coklat. Hal ini diperoleh
dengan memanaskan bijih logam di udara atau uap air, hidroksida, karbonat, dan nitrat tanpa
udara.

2.10.2 Cobalt (III) oksida (Co2O3)


Cobalt (II) oksida (cobalt sesquiooxide) padatan berwarna abu-abu hitam dengan rumus
Co2O3.Senyawa ini adalah heksagonal atau belah ketupat dan terurai di 895oC.Hal ini
dihasilkan oleh pebakaran kobalt nitrat; Namun produk tidak pernah memiliki komposisi
yang sesuai persis dengan kobalt (III) oksida. Pada pemanasan mudah membentuk Co3O4
yang berisi Co(II) dan Co(III), dan mudah direduksi menjadi logam dengan hidrogen. Cobalt
(III) oksida larut dalam asam kuat untuk membentuk larutan coklat yang tidak stabil dari
garam trivalent kobalt.Garam kobalt (II) terbentuk dengan penambahan asam encer.
2.10.3 Cobalt (II) sulfida (CoS)
Khalkogenida kobalt terdiri dari Cobalt (II) sulfida, CoS dibentuk oleh reaksi dari Co2+ dan
H2S untuk membentuk endapan hitam CoS, dengan reaksi sebagai berikut:
Co2+ + H2S CoS
Sulfida kobalt membentuk kelompok (II-IV) bahan semikonduktor dengan potensi besar
untuk aplikasi di perangkat elektronik.Ia termasuk salah satu sistem sulfida logam yang
rumit, dengan sejumlah fasa dan komposisi kimia yang berbeda, termasuk Co4S3, Co9S8, CoS,

20

Co1-xS, Co3S4, Co2S3 dan CoS2. chacogenides lain kobalt kobalt (II) selenida, CoSr, kobalt
(II) selenit, CoSeO3, dan kobalt (II) tellurida, CoTe.
2.11 HALIDA DAN OKSOHALIDADARI KOBALT
2.11.1 Kobalt (II) Klorida (CoCl2)
Cobalt (II) Klorida dengan rumus CoCl2 adalah kristal biru (mp 735oC dan 1049oC bp),
kepadatan 1,924 g / cm3, kelarutan 76,7. CoCl2 bersifat higroskopis dan menjadi warna merah
ketika menyerap air.Larut dalam etanol dan aseton.heksahidratnya memiliki warna merah dan
sebagai senyawa koordinasi dengan air sebagai ligan. Senyawanya didapat dari reaksi Cobalt
(II) dan gas klor (Cl2) dengan reaksi:
Co (s) + Cl2(g) CoCl2
2.11.2 Kobalt (III) florida (CoF3)
Kobalt (III) fluorida dengan rumus CoF3 adalah senyawa coklat-hitam yang digunakan dalam
beberapa reaksi fluorinasi, dan bereaksi kuat dengan air.Hal ini dibentuk oleh reaksi dari HF
dan CoCl2.
2.11.3 Kobalt (III) bromida (CoBr2)
Kobalt (III) bromida dengan rumus CoBr2 adalah kristal hijau yang memiliki struktur
heksagonal, kepadatan 4,909 g / cm3, kelarutan 6,7 (pada suhu 50oC)
2.11.3 Cobalt (II) iodida (CoI2)
Cobalt (II) iodida dengan rumus CoI2 adalah bubuk hitam yang memiliki struktur heksagonal
dan higroskopis, kepadatan sekitar 5,66 g /cm3 dan kelarutannya adalah 59.
2.12 SENYAWA KOMPLEKS KOBALT
2.12.1 Kompleks Kobalt (III)
Ion kompleks heksanitrokobaltat [Co(NO2)6]3- memiliki warna kuningdan umumnya disintesis
dalam bentuk garam natriumnya. Contohnya, Na3[Co(NO2)6] larut dalam air, tapi garam
kaliumnya sulit dilarutkan dalam air. Hal itu disebabkan oleh ukuran relatif ionnya, sementara
ion kalium memiliki memiliki ukuran relatif lebih dekat dengan anion dari garam

21

kompleksnya sehingga cristal garamnya memiliki energi kisi tinggi dan kelarutan yang
rendah. Reaksinya sebagai berikut:
3K+(aq) + [Co(NO2)6](aq)

K3[Co(NO2)6](s) (yellow)

Perbedaan ligan dipengaruhi oleh perbedaan signifikan pada potensial reduksi, sehingga hal
tersebut menyebabkan kestabilan pada keadaan oksidasi dari ion kompleks. Sebagai contoh:
[Co(H2O)6]3+(aq) + e

[Co(H2O)6]2+(aq)

E0 = +1,82 V

[Co(NH3)6]3+(aq) + e

[Co(NH3)6]2+(aq)

E0 = +0,10 V

Potensial reduksi ion [Co(NH3)6]3+ (+0,10 V) jauh lebih kecil dari potensial reduksi oksigen
(+1,23 V)
O2 (g) + 4H2O(aq) +4e

6H2O(l)

Senyawa lainnya dengan mudah didapat dengan mensubstitusi ligan pada kompleks yang
terbentuk. Berikut mekanisme jenis konversi ligan:
Co2+,CO32-, NH4OH

O2

Co(NH3)4CO3+ HClNH3

Co(NH3)5(H2O)3+

Klelat ungu

Co(NH3)5(H2O)3+

HCl

Merah muda

Co(NH3)5Cl2+ HNO3
Violet

Co(NH3)5Cl2+

HNO3

Co(NH3)5 NO32+

Coklat

2.12.2 Kompleks Kobalt (II)


Dalam larutan air, garam kobalt (II) memiliki warna merah muda sebagai akibat ion
oktahedral [Co(H2O)6]2+. Bagaimanapun, struktur tetrahedral dari ion kobalt (II)memiliki
warna biru yang bsa terjadi, misalnya dengan ligan Cl-. Sehingga, penambahan HCl pekat ke
dalam ion[Co(H2O)6]2+ akan menghasilkan larutan warna biru dari ion tetrahedral [CoCl4]2dengan reaksi sebagai berikut:
[Co(H2O)6]2+ (aq) (merah muda)+ 4Cl-(aq)

[CoCl4]2- (aq) (biru) + 6H2O(l)

Pada keadaan setimbang, tepatnya saat terjadi perubahan warna, pergeseran kesetimbangan
dari warna yang terjadi cukup sensitif terhadap temperatur, yakni memiliki warna biru saat
pemanasan, tapi terjadi setelah proses pendinginan. Reaksinya sebagai berikut:
22

[Co(H2O)6]2+ (aq) (merah muda)+ 4Cl-(aq)

pemanasan

[CoCl4]2- (aq) (violet) + 6H2O(l)

Pendinginan

Penambahan ion hidroksida ke dalam larutan ion kobalt (II) di dalam air akan membentuk
endapan kobalt (II) hidkoksida yang awalnya memiliki warna biru, namun menjadi merah
muda setelah didiamkan beberapa saat, reaksinya:
[Co(H2O)6]2+ (aq) + 2OH-(aq) Co(OH)2(s)+ 6H2O(l)
Kobalt (II) hidroksida bersifat amfoter karena dengan penambahan ion hidroksida pekat akan
membentuk ion tetrahidroksikobaltat (II) yang berwarna biru.
Co(OH)2(s) + 2OH-(aq) [Co(OH)4]2- (aq)
Secara perlahan, kobalt (II) hidroksida teroksidasi oleh O2 di udara menjadi kobalt (III)
oksida hidroksida CoO(OH).
2.13. OKSIDA DAN KHALKOGENIDA NIKEL
2.13.1 Nikel Hidroksida
Jika nikel (II) bereaksi dengan NaOH, akan terbentuk endapan hijau dari nikel (II)
hidroksida. Reaksinya sebagai berikut:
Ni2+ + 2OH-

Ni(OH)2

Endapan tersebut tidak larut dalam peraksi berlebih. Tidak terbentuk endapan dengan
kehadiran tartrat atau sitrat, terkait dengan pembentukan kompleks. Amonia melarutkan
endapan dengan keberadaan alkali hidroksia berlebih, garam amonia juga akan melarutkan
endapan.
Ni(OH)2 + 6NH3

[Ni(NH3)6]2+ + 2OH-

Ni(OH)2 + 6NH4+ + 4OH-

[Ni(NH3)6]2+ + 6H2O

Larutan ion heksaaminnikelat (II) yang berwarna biru gelap seringkali dianggap sebagai ion
Cu (II) yang membentuk ion tetraaminkuprat (II)dalam reaksi yang serupa. Larutan tersebut
tidak teroksidasi dengan pendidihan yang terbuka dengan udara langsung atau bahkan dengan
penambahan hidrogen peroksida. Endapan Nikel (II) hidroksida yang berwarna hijau bisa
dioksidasi menjadi Nikel (III) hidroksida yang berwarna hitam dengan larutan Natrium
hipoklorit.
23

2Ni(OH)2 + ClO- + H2O

2Ni(OH)3 + Cl-

Lebih jauh, reaksi dengan Br2 pada larutan alkali dari Ni2+ menghasilkan warna hitam
hidroksi oksida NiO(OH). Zat berwarna hitam lainnya bisa didapat dari oksidas elektrolitik,
sehingga baterai Edison atau baterai nikel-besi, yang menggunakan KOH sebagai elektrolit,
berdasarkan reaksinya yang mengandung ion-ion logam alkali.

Pengisian

Fe + 2NiO(OH) +2H2O

Pengosong
an

Fe(OH)2 + 2Ni(OH)2

(~1,3 V)

2.13.2 Nikel (II) Oksida (NiO)


Senyawa ini satu-satunya yang tepat untuk menjelaskan tentang oksida nikel, walaupun
NiO2dan Ni2O3 dianggap ada. Mineral NiO, bunsit sangat jarang ditemukan dan
diklasifikasikan sebagai oksida logam yang paling sederhana. Beberapa juta kilogram
diproduksi dalam berbagai kualitas, tepatnya sebagai intermeiet dalam produksi alloy nikel.
NiO bisa didapat dengan beberapa metode. Pertama melalui pemanaan di atas suhu 400oC
bubuk nikel direaksikan dengan oksigen untuk menghasilkan NiO. Pada beberapa proses
komersial, nikel oksida berwarna hijau dibuat dengan memanaskan campuran serbuk dan air
pada suhu 1000oC, kecepatan reaksinya bisa ditingkatkan melalui penambahan NiO.
Metode paling mudah dan paling berhasil untuk mendapatkan oksida nikel ialah melalui
pirolisi senyawa nikel (II)sebagai hidroksida, nitrat, dan karbonatnya, yang menghasilkan
bubuk hijau yang ringan. NiO juga sebagai komponen dalam baterai Ni-Fe (Baterai Edison)
pada sel isi ulang daya baterai. NiO juga sebagai perintis garam-garam nikel lainnya, untuk
digunakan sebagai katalis maupun bahan tertentu. Terlebih lagi, NiO telah digunakan untuk
membuat baterai Ni-Cd yang bisa diisi ulang sebelum ditemukannya baterai ion Litium.
Pemanasan nikel oksida dengan hidrogen, karbon, atau, karbon monoksida akan
mereduksinya menjadi logam nikel. NiO juga bergabung dengan oksida natrium dan kalium
pada suhu tinggi (>700oC) untuk membentuk nikelat yang sesuai.
Nikel oksida bereaksi denganKromium(III) oksida dalam keadaan lembab untuk
menghasilkan nikel kromat.
Cr2O3 + 4NiO+3O2

4NiCrO4
24

Selain itu, garam nikel (II) yang stabil diturunkan dari nikel (II) oksida, NiO (zat berwarna
hijau). Garam Nikel (II) yang terlarut berwarna hijau, disesuaikan dengan warna kompleks
heksaakuonikelat (II) [Ni(H2O)6]2+; secara singkat akan dihubungkan dengan ion Ni2+. Nikel
(III) oksida yang berwarna hitam juga ada, namun terlarut dalam asam membentuk ion Nikel
(II).
Reaksi dengan HCl encer melepaskan gas Cl2
Ni2O3 + H+ +2Cl-

Ni2+ + Cl2+ 3H2O

2.13.3 Nikel Tellurida (NiTe)


NiTe ialah kristal yang membesar secara langsung dalam segala ukuran. Titik leleh NiTe
yakni 860oC. Nikel tellurida tidak larut dalam air. Cirinya berbentuk butiran abu-abu yang
tidak berbau. Nikel telurium memiliki toksisitas relatif rendah. Ia bisa dikonversi di dalam
tubuh manusia menjadi dimetil tellurida yang memberikan aroma bawang putih dalam nafas
dan keringatnya. Dalam keadaan berlebih, menyebabkan pusing, rasa kantuk, rasa logam,
hilang nafsu makan, mual, tremor (gemetar), sawan (rasa terkejut), dan gangguan pernafasan.
2.13.4 Nikel Sulfida (NiS)
Nikel sulfida juga digolongkan dalam khalkogenida. Reaksinya sebagai berikut:
Ni2+ + S2-

NiS

Pada reaksi di atas menghasilkan endapan hitam dari nikel sulfida dalam larutan netral atau
sedikit alkali. Jika pereaksi ditambahkan secara berlebih, larutan koloid berwarna coklat
gelap yang terbentuk, secara perlahan melewati kertas saring. Jika larutan koloid tersedut
dididihkan atau atau jika dibuat sedikit asam dengan penambahan asam asetat dan dididihkan,
larutan koloid terkoagulasi lalu disaring. Kehadiran amonium klorida berlebih biasanya
mencegah pembentukan koloid sol. Nikel sulfida pada kenyataannya tidak larut dalamasam
klorida encer (dingin) dan dalam asam asetat, namun terlarut dalam asam nitrat pekatdan
aqua regia dengaan endapan belerang.
NiS + HNO3 + 6H+
NiS + HNO3 + 3HCl

3Ni2+ + 2NO + 3S + 4H2O


Ni2+ + S + NOCl + 2Cl- + 2H2O

2.13.5 Nikel (II) Selenida


25

Nikel (II) selenida atau penrosit adalah mineral selenida yang jarang ditemukan dengan
rumus NiSe2. Ia merupakan baja berwarna abu-abu dan goresan hitam dengan kekerasan 3
mohs. Penrosit pertama kali ditemukan tahun1925 di dalam mineral ryolit bolivia.
Dinamakan berdasarkan penemunya Richard Penrose.
Nikel (II) selenida dianggap sebagai golongan mineral pirit berdasarkan strukturnya, dengan
dimensi kubus. Penrosit membentuk larutan padat dengan mineral-mineral lain.
Komposisinya terkandung campuran berbagai unsur, beberapa diantaranya adalah unsur
pokok seperti nikel yang tersubstitusi dengan unsur lainnya dalam jumlah berbeda. Penrosit
memiliki kandungan selenium yang tinggi yang tidak seperti mineal lainnya. Perosit adalah
mineral besar. Ia bisa memiliki struktur datar, berkolom, atau butiran. Ia menunjukkan warna
pudar-keabuan sampai mengkilap-keabuan dengan goresan hitam. Ia memiliki kilauan logam
dan memiliki ikatan kimia yang lemah yang menyebabkannya memiliki kekerasan rendah,
sekitar 3 mohs. Ketika direaksikan dengan HCl, FeCl3, atau HgCl2, ia tidak bereaksi.

2.14 Halida dan Oxyhalida Nikel


Nikel halida bisa termasuk didalamnya nikel fluoride, nikel klorida, nikel bromide,
nikel iodide. Nikel pseudo-halida termasuk nikel sianida, nikel sianat, nikel tiosianat, nikel
azida, dan nikel ferosianida.
2.14.1 Nickel (II) khlorida (NiCl2)
Nikel (II) klorida (atau hanya nikel klorida), adalah senyawa kimia NiCl2. Nikel
klorida hexahydrate dibentuk oleh reaksi bubuk nikel atau nikel oksida dengan campuran
panas air dan HCI.
Secara umum nikel (II) klorida, dalam berbagai bentuk, adalah sumber yang paling
penting dari nikel untuk sintesis kimia. Garam nikel bersifat karsinogenik. Mereka juga
menyerap kelembaban dari udara untuk membentuk larutan. Mungkin produksi skala terbesar
nikel klorida melibatkan ekstraksi dengan asam klorida matte nikel dan residu yang diperoleh
dari memanggang pemurnian nikel yang mengandung bijih. NiCl2.6H2O jarang dipersiapkan
di laboratorium karena murah dan memiliki masa penggunaan yang lama. Hidrat dapat
dikonversi ke bentuk anhidrat pada pemanasan dalam tionil klorida atau dengan memanaskan
di bawah aliran gas HCl. Cukup memanaskan hidrat tidak membayar diklorida anhidrat.
Dehidrasi disertai dengan perubahan warna dari hijau menjadi kuning.
NiCl2-6H2O+6 SCl2 NiCl2+ 6SO 2+ 12HC1
Nikel klorida hexahydrate merupakan bahan penting dalam elektroplating nikel.
reaksi nikel klorida atau bromida nikel dengan hasil dimetoksietana eter-larut NiX2.
26

2CzH4 (OCH3) 2 senyawa yang berguna sebagai reagen yang mengandung nikel untuk
berbagai reaksi yang digunakan untuk membentuk senyawa koordinasi nikel.
2.14.2 Nikel (11) Bromide (NiBr2)
Nikel (II) bromida (NiBr2) adalah garam nikel asam bromida. Nikel bromide MgBr26H2O
dibuat oleh reaksi oksida nikel hitam dan HBr. Reaksi asam hydriodic dengan nikel karbonat
menghasilkan nikel iodida (NiI2 (H2O). Nikel bromide telah membatasi digunakan dalam
elektroplating nikel. Hal ini dapat dilakukan dengan mereaksikan nikel, nikel (II) oksida,
nikel (II) karbonat, atau nikel (II ) hidroksida dengan asam bromida. Hal ini juga dapat dibuat
dengan mereaksikan nikel dengan bromin. ini adalah reduktor lemah. Hal ini berwarna
kuning-coklat, rhombohedral, higroskopis. dan larut dalam air dan dalam etanol. ini larut
dalam air untuk membuat larutan biru-hijau.
khas nikel terlarut (II) senyawa. Hal ini dapat digunakan sebagai sumber ion bromida.
Bereaksi dengan basa untuk membuat nikel (II) hidroksida. Nikel (II) bromida, seperti
kebanyakan senyawa nikel, beracun dan karsinogen yang dicurigai. Hal ini dapat
menyebabkan dermatitis kontak pada kulit. Ion bromida juga agak beracun.
2.14.3 Nikel Fluorida Tetrahydrate (NiF.4H 2 O)
Nikel fluoride (NiF2) adalah satu-satunya yang diketahui senyawa biner yang stabil nikel dan
fluor. Yang pertama adalah cahaya kehijauan kristal kuning atau bubuk disiapkan dengan
penambahan nikel karbonat sampai 30 - 50% larutan HI'. Fluorida nikel terbentuk pertama
masuk ke dalam larutan dan kemudian mengendap keluar sebagai tetrahydrate sebagai
konsentrasi nikel fluoride meningkat dan HF menurun. Ketika penambahan nikel selesai,
solusi dan endapan dikeringkan pada 75-100 C sampai semua air yang dikeluarkan.
Fluoride nikel anhidrat, adalah bubuk berwarna kuning muda disiapkan oleh perlakuan HF
anhidrat pada anhidrat NiCI2, atau nikel fluoride tetrahydrate dalam suhu 300C. Hal ini juga
disiapkan dengan memanaskan campuran NH4HF dan NiF2.4H20. Metode lain termasuk
fluorination garam logam dengan menggunakan kelebihan SF4 atau menggunakan suhu tinggi
dalam CIF3, atau reaksi NiCO3 dan HF anhidrat pada 250C. NiF2 dibuat dengan pengobatan
anhidrat nikel (II) klorida dengan fluor pada 350C.
NiC12 + F2, NiF2 + CI2
Nikel (II) fluoride bereaksi dengan basa kuat untuk membuat nikel (II) hidroksida yang
memiliki senyawa warna hijau.
NiF2 + 2NaOH Ni(OH)2 + 2NaF
2.14.4 Nikel (II) Iodida (Nil 2)
Nikel (II) iodida merupakan senyawa anorganik dengan rumus NiI2. Ini paramagnetik larut
hitam pekat mudah dalam air untuk memberikan larutan biru-hijau kompleks aquo. Warna
biru-hijau ini khas dari nikel terhidrasi (II) senyawa. Nikel iodida memiliki peran penting
dalam beberapa aplikasi katalisis homogen.
27

2.14.5 Nikel oxyhalida


Oxyhalida nikel termasuk nikel klorida dan oxybromide nikel.
2.l 4.6 Nikel Oxykhlorida (NiOCI)
Nikel oxykhloride, NiOCI, diproduksi dalam bentuk bubuk sebagai agen fungisida aktif
untuk pengendalian hama. Salah satu konsentrat suspensi berair (Flowbrix) yang
dikembangkan oleh Montanwerke Brixlegg AG dibedakan oleh tingkat terutama tinggi
efektivitas. Sebuah metode untuk memproses bijih Nikel dengan amonium klorida juga
dipertimbangkan. Hasil thermodinaminya perhitungan untuk reaksi komponen oksida atau
nikel klorida bijih nikel dengan ammnium klorida diberikan.
2.14.7 Nikel Oxybromide (NiOBr2)
Nikel oxybromide dapat membentuk kerangka terbuka 3D pada Ni (SeO3) 4Br2 yang
dibangun dari lapisan 2D nikel (II) oxybromide dihubungkan oleh Se dan tambahan atom Ni.
Memiliki pengukuran properti magnetik yang menunjukkan bahwa senyawa menampilkan
interaksi antiferromagnetik antara nikel (II) pusat. Nikel oxybromida dapat dibuat melalui
reaksi nikel dioksida dan tetrabromida nikel. Nikel dioksida direaksikan dengan bromin untuk
membentuk monobromide nikel dan tetrabromide nikel. Melarutkan nikel dioksida di
tetrabromide akan menghasilkan oxybromide nikel. Reaksi adalah sebagai berikut:
2 Ni + 2 Br Ni2Br2
Ni, Br2 + 6 Br NiBr4
NiBr4 + NiO2 2 NiOBr2
2.15 SENYAWA KOMPLEKS DARI NIKEL
2.15.1 Kompleks Nikel (II)
Senyawa biner, seperti NiO dan NiCl2, tidak perlu komentar khusus. Nikel (II) membentuk
sejumlah besar kompleks dengan bilangan koordinasi enam. lima, dan empat memiliki semua
jenis struktur utama: oktahedral, bipiramidal trigonal, piramida persegi, tetrahedral, dan
persegi. Ini adalah karakteristik yang
kesetimbangan rumit, yang umumnya tergantung suhu dan kadang-kadang concentartion
tergantung, sering ada di antara mereka jenis struktural.
Compleks dengan bilangan koordinasi enam
Yang paling umum enam koordinat kompleks adalah ion hijau aqua, [Ni (H20) 6] 2+, yang
dibentuk pada pembubaran Ni, NiC03, dan sebagainya, asam dan memberikan garam seperti
NiSO4. 7 H2O.
Molekul-molekul air dalam ion aqua dapat segera mengungsi terutama oleh

28

amina untuk memberikan kompleks, seperti-[Ni (H20)2(NH3)4]2+, [Ni (NH3)6]2+, atau


[Ni(en)3]2+. Ini kompleks amina biasanya berwarna biru atau ungu karena pergeseran pita
serapan ketika H2O adalah Menggantikan oleh ligan lapangan kuat.
Compleks dengan bilangan koordinasi empat
Sebagian besar dari empat koordinat kompleks yang persegi. Ini merupakan konsekuensi dari
d8 configuration, karena rencana ligan untuk menyebabkan salah satu orbital d (dx2_y2)
menjadi unik tinggi energi, dan delapan elektron dapat menempati empat lainnya d orbital
tetapi meninggalkan ini sangat antibonding satu kosong. Dalam koordinasi tetrahedral, di sisi
lain, pendudukan orbital anti ikatan tidak dapat dihindari. Dengan sistem d8 kongenerik
faktor Pdl1 and Pill this menjadi begitu penting sehingga tidak ada kompleks tetrahedral
terbentuk.
Kompleks planar Ni11 demikian sudah dalam diamagnetik variabel. Mereka sering merah,
kuning, atau coklat karena kehadiran band penyerapan intensitas menengah (E = 60) di
kisaran 450-500 nm.
Kompleks persegi serupa ketoenolates serta unidentate ligan asam [contoh, NiBr2
[PET2)2], dan dengan CN dan SCN-. kompleks siano. [Ni (CN)4]2- adalah mudah terbentuk
pada penambahan CN ke Ni2t (aq). Hijau Ni (CN)2 keinginan pertama diendapkan
reddissolves untuk givethe ion kuning, yang dapat diisolasi, misalnya, Na2 [Ni(CN)4].3 H2O.
Pada penambahan kelebihan CN- ion merah, (Ni (CN)5]3-, terbentuk. Yang dapat diendapkan
hanya dengan menggunakan kation besar.
kompleks tetrahedral
Kompleks tetrahedral kurang umum daripada kompleks planar, dan semua paramagnetik.
Kompleks ini adalah dari jenis (NIX4,)2- NiX3L-, NiL2X2, dan Ni (L-L)2 di mana X adalah
halogen, L adalah ligan netral dan L-L adalah ligan bidentat positif, [NiL4]2+, diketahui,
dimana L = Heksametilfosforamida.
Compleks dengan bilangan koordinasi Lima
Lima Koordinat Kompleks biasanya memiliki geometri trigonal-bipyramidal tetapi beberapa
piramida persegi. Banyak mengandung tetradentate "tripod" ligan, seperti N [CH2
CH2N(CH3)2]3.
2.15.2 Kompleks Nikel (III)
Ada beberapa kompleks otentik nikel (III). Oksidasi NiX2 (PR3)2 dengan halogen yang tepat
memberikan NiX3 (PR3)2
Nikel (IV) kompleks yang bahkan jarang, dan kompleks dithiolene. yang bisa secara resmi
dianggap sebagai mengandung Ni4+ dan SzCR2- ligan terbaik dianggap sebagai kompleks Ni11.
2.16 RINGKASAN

29

Besi, kobalt, dan nikel memiliki beberapa sifat fisik dan kimia. Mereka termasuk dari
feromagnetik. Sementara sangat mirip dalam sifat magnetik dan reaksi, elemen ini juga
sangat unik dan digunakan secara berbeda dalam alam dan industri. Di alam, besi ditemukan
dalam bentuk huematite (Fe2O3), Magnetite (Fe3O4), limonit (2Fe2O3.3H2O) dan siderit
(FeCO3). Cobalt hadir dalam mineral cobaltite (CoAsS) srnaltite (CoAS3), chloranthite,
lemacite (Co, S}.) Dan erythrite tetapi juga terkait dengan tembaga dan nikel sulfida dan
arsenides. Nikel adalah ketujuh logam transisi paling berlimpah dan dua puluh dua unsur
yang paling melimpah di kerak bumi. Hal ini aboout 99 ppm. Apakah ini bijih impor
komersial terdiri dari dua jenis, laterit, yaitu oksida / bijih silikat seperti garnierite
(Ni,Mg)6Si4O10(OH)8, dan limonte nickelliferous (Fe,Ni)O(OH).nH2O,; Sulfida seperti
pentlandit (Ni,Fe)9S8. Selain itu, mereka biasanya dikombinasikan dengan unsur-unsur lain
dan saling membuat varios berbagai tyoes dari paduan. Besi, kobalt, dan nikel juga memiliki
oksida dan chalconida, halida dan oxohalida, dan senyawa kompleks untuk senyawa tersebut.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Besi, kobalt, dan nikel memiliki beberapa sifat fisik dan kimia.Mereka termasuk dari
feromagnetik.Sementara sangat mirip dalam sifat magnetik dan reaksi, elemen ini juga sangat
unik dan digunakan secara berbeda dalam alam dan industri.Di alam, besi ditemukan dalam
bentuk huematite (Fe2O3), Magnetite (Fe3O4), limonit (2Fe2O3.3H2O) dan siderit
(FeCO3).Cobalt hadir dalam mineral cobaltite (CoAsS) srnaltite (CoAS3), chloranthite,
lemacite (Co, S}.)Dan erythrite tetapi juga terkait dengan tembaga dan nikel sulfida dan
arsenides.Nikel adalah ketujuh logam transisi paling berlimpah dan dua puluh dua unsur yang
paling melimpah di kerak bumi.Hal ini aboout 99 ppm. Apakah ini bijih impor komersial
terdiri dari dua jenis, laterit, yaitu oksida / bijih silikat seperti garnierite (Ni, Mg)
6Si4O10(OH)8, dan limonte nickelliferous (Fe, Ni) O (OH) .nH2O, Sulfida seperti pentlandit
(Ni, Fe) 9S8. Selain itu, mereka biasanya dikombinasikan dengan unsur-unsur lain dan saling
membuat varios berbagai tipe dari paduan.Besi, kobalt, dan nikel juga memiliki oksida dan
chalconides, halida dan okshalida, dan senyawa kompleks untuk senyawa tersebut.

3.2 Saran

30

Berdasarkan simpulan di atas, adapun saran yang penulis dapat berikan kepada
pembaca yakni diharapkan

pembaca dapat memahami sejarah, keberadaan di alam, cara

pemisahan atau pembuatan, sifat-sifat dan kegunaan, dan senyawa-senyawa dari unsur besi,
kobalt, dan nikel. Selain itu, pembaca juga dianjurkan untuk mencari referensi lain yang
dapat dijadikan informasi tambahan dalam makalah ini. Sehingga pembaca mendapat
wawasan yang lebih luas mengenai unsur besi, kobalt, dan nikel.

31