Anda di halaman 1dari 5

1.

Poliomyelitis
Poliomyelitis adalah suatu penyakit virus yang dalam stadium beratnya menyebabkan
kelumpuhan yang lemas karena kekurangan sel-sel syaraf baik dalam sum sum tulang punggung
maupun otak.
Penyakit ini dulu disebut juga infactile paralysys oleh karena dulu penyakit menjakit anakanak di bawah umur 5 tahun. Tetapi kemudian ternyata penyakitnya juga dapat menjakit orang dewasa
atau orang tua sehingga nama infactile paralysys tidak berlaku lagi.
Penyakit ini disebut juga Heine-Meidin berdasaarkan dua orang ahli yang menemukan
penyakit ini dengan menyuntikkan tinja dari seorang penderita lumpuh secara intra cerebral dan intra
nasal pada kera, 2 minggu kemudan kera menjadi lumpuh.
a. Sifat-sifat virus Polio
1. Bisa di anaktivasi dengan ultra violet dengan pengeringan dengan pemanasan 56-60 C
selama - 1 jam.
2. Virus dapat dibunuh dengan chlor sehingga dengan konsentrasi yang tinggi untuk
desinfeksi kolam renang supaya bebas dari virus Polio.
3. Inaktifasi bisa juga dengan formalin dipakai untuk pembuatan vaksin Polio.
4. Virus Polio mudah tumbuh pada seluruh biakan jaringan.
Antigenitasnya ada 3 macam :
1. Type 1 (tipe Brunhilde) yaitu menurut nama seekor kera di mana tipe I untuk pertama
kalinya ditemuka dari tinjanya.
2. Type 2 (tipe Lansing) yaitu menurut nama kota di AS dimana tipe 2 petama kali di
temukan.
3. Type 3 (tipe Leon) yaitu menurut nama seorang penderita yang pertama kali ditemukan
dari tinjanya mengandung tipe 3.
Ketiga tipe ini ada batas cross proteksi, yaitu bila seorang di jangkit tipe 1 maka orang
tersebut akan kebal seumur hidupnya terhadap tipe 1 tetapi akan juga membentuk zat anti netrlalisasi
terhadap tipe 2 meskipun titernya rendah sehingga bila orang tersebut di jangkit tipe-tipe tidak akan
mengalami kelumpuhan.
Di antara ketiga tipe tadi tipe 1 yang paling ganas dan paling banyak menyebabkan
kelumpuhan. Pada waktu wabah polio sering ditemukan lebih dari 1 tipe zat anti yang di bentuk dalam
tubuh kita ialah zat anti netralisasi, zat anti ikatan komplemen dan zat anti hemaglutinin.
b. Cara penularan penyakit Polio pada manusia.
Manusia di tulari polio karena menelan virusnya yaitu bisa terjadi karena menelan
makanan/minuman yang telah terkontaminasi oleh tinja yang mengandung virus olio atau karena
berbicara dengan orang yang menderita penyakit tersebut. Adapun cara penularan ini disebut Droplet
infection per-oral. Kalau virus sudah masuk kedalam mulut ia akan masuk kedalam kelenjar getah

bening kemudian menuju [eredaran darah dan menyebar antara lain ke usus dapat pula menyebar ke
otak sehingga dapat di temukan dalam liquor dan menyebabkan kelumpuhan. Virus dapat lebih cepat
sampai ke otak apabila pada anak-anak dilakukan operasi tonsillectomi pada masa tunas penyakit di
mana virusnya dalam jumlah besar kerongkongan maka pembuluh darah terpotong pada waktu
operasi virus langsung masuk ke pembuluh darah dan langsung ke otak.
Pada umumnya virus dapat ditemukan dalam hapus tenggorok dan tinja sebelum gejala
klinik pertama timbul. 1 minggu setelah gejala klinik timbul umumnya virus sudah menghilang dari
tenggorok tetapi masih ada di dalam tinja. Virus masih terdapat dalam tinja setela beberapa bulan
penderita sembuh dari penyakit.
c. Gejala klinik penyakit Polio
Masa tunas penyakit polio adalah 1-3 minggu, kadang-kadang sampai 5 minggu.
Sifat infeksi pada seseorang bisa berupa :
1. Inapparent infection.
Orang ditulari oleh virus tetapi tidak menunjukan gejala klinik sama sekali, meskipun
virusnya berhasil diisolasi dari hapus tenggorok dan tinja meskipun ada kenaikan titer zat anti lebih
dari 4 x.
2. Minor illness.
Seorang menelan virusnya hanya menunjukan gejala non spesifik yaitu demam dengan diare
atau demam dengan tenggorokan merah kemudian sembuh tanpa pengobatan. Virus dapat diisolasi
dari hapus tenggorok dan tinja disertaidisertai kenaikan titer zat anti 4 x atau lebih, maka penderita
tadi telah menderita Poliomyelitis abortif.
3. Mayor illness.
Gejala klinik bisa bermacam-macam :
a. Meningitis aseptica/serosa= Poliomyelitis non paralysis
b. Poliomyelitis paralysis
Gejala pada Meningitis aseptica :
Mula-mula gejala sama dengan Poliomyelitis abortif, terdiri dari demam diare atau
tenggorokan merah ditambah dengan sakit kepala dan lumpuh, muntah-muntah dan kejang.
Virus berhasil diisolasi dari hapus tenggorok tinja dan liquor dan tak perlu menentukan zat
anti titer jika di liquor tapi perlu di cari zat anti titernya jika di hapus tenggorok dan di tinja.
Gejala Poliomyelitis paralysis diikuti dengan kelumpuhan jika demam telah menurun.
Jenis-jenis kelumpuhan bisa bermacam-macam, yaitu :
1. Paralysis Bulbair.
Jenis kelumpuhan pada otot-otot muka, pernafasan dan pembuluh darah.
2. Paralysis Spinal.
Lumpuh pertama kali otot daerah bahu, anggota badan atas dan menjalar ke daerah bawah.
3. Paralysis Bubo-spinal.
Kombinasi kelumpuhan bagian badan dengan kelumpuhan otot-otot muka.
d. Cara diagnosa.

1. Gejala klinik
2. Diagnosa Laoratorium : isolasi, sero-diagnostik, pemeriksaan liquor.

1. Gejala klinik
Yaitu demam dengan diare, tenggorokan merah, sakit kepala, kaku kuduk kelumpuhan terjadi
pada saat penurunan demam, tetapi ini juga tidak selalu di sebabkan oleh virus polio. Penyakit polio
harus di bantu dengan pemeriksaan laboratorium.
2. Diagnosis Laboratorium, meliputi :
a. Isolasi.
Bahan pemeriksaan berupa :
1. Darah penderita pada waktu demam.
2. Hapus tenggorok
3. Tinja
4. Liquor.
b. Sero-diagnostik.
Yaitu melihat kenaikan zat anti netralisasi atau zat anti ikatan komplemen yang ada pada
serum penderita.
Zat anti netralisasi sudah terbentuk pada saat virus masuk ke dalam tubuh, kemudian naik
dengan cepat mencapai titik maksimum kemudian turun dengan lambat. Oleh karena itu penderita
berobat setelah timbul kejang/kelumpuhan.
Masa tunas adalah waktu antara masuknya kuman dengan timbulnya gejala pertama. Virus
masuk dan berkembang biak dan membentuk zat anti netralisasi, sedangkan zat anti ikatan
komplemen baru terbentuk oleh tubuh pada minggu kedua setelah gejala pertama timbul, naik
ddengan lambat dan turun dengan cepat sehinnga mudah hilang dari darah penderita
Jadi untuk penyakit polio. Penentuan zat titer zat anti komplemen mampunyai nilai serodiagnosis tinggi dari pada penentuan kenaikan titer zat anti netralisasi.
c. Pemeriksaan liquor.
Liquor sifatnya harus jernih. Jumlah sel leukosit pada liquor yang normal kurang dari 4/mm 3.
Pada polio bisa naik kadang sampai 500/mm 3. Kadar gula normal, kadar protein normal atau naik
sedikit sampai 40-50mg/100 sel.
e. Kekebalan terhadap Polio.
Kekebalan terhadap polio di bagi menjadi 2 macam :
1. Kekebalan pasif, meliputi : kekebalan bawaan dan kekebalan globulin.
2. Kekebalan aktif.
1. Kekebalan pasif
a. Kekebalan pasif bawaan

Seorang bayi yang baru lahir memiliki zat anti terhadap polio selama 6 bulan sehingga walaupun
bayi ini kontak dengan virus, bayi tidak akan sakit malah tubuhnya akan membentuk zat anti yang
lebih banyak.
Pada bayi yang mendapat air susu dari ibu, perlindungan terhadap infeksi lama lagi karena zat
anti dari ibu disalurkan melalui air susu.
Seseorang yang di jangkit virus Polio tipe 1 akan membentuk zat anti netralisasi tipe 1 yang
sangat tinggi sehingga menjadi kebal seumur hidup terhadap tipe 1. Jika orang tersebut terjangkit tipe
2 orang tersebut tidak akan mengalami kelumpuhan, tapi jika orang tersebut terjangkit virus tipe 3
orang tersebut akan mengalami kelumpuhan.
b. Kekebalan pasif dengan pemberian gama globulin :
Pemberian gama globulin pada manusia hanya memberikan kekbalan maksimum minggu. Rang
tersebut masih bisa terkena infeksi oleh virus Polio tapi tidak akan mengalami kelumpuhan.
f. Cara pencegahan dan pemberantasan.
Satu-satunya cara adalah dengan pengebalan aktif yaitu dengan vaksinasi. Bisa dilakukan dengan
2 macam bentuk vaksin yaitu :
1. Vaksn yang mengandung virus yang masih hidup, tetapi sudah dilemahkan disebut juga
dengan vaccin Sabin
2. Vaksin yang mengandung virus yang mati, virus yang telah di campur dengan formalin,
tetapi masih mempunyai daya antigen yang tinggi di sebut dengan Vaksin SALK
Persamaan vaksin ini adalah, antara lain :
1.
Bisa Monovalen bisa pula Polyvalen.
Monovalen artinya vaksin hanya mengandung 1 tipe virus polio, tetapi kalo Polyvalen
artinya vaksin mengandung ketiga tipe virus Polio.
2. Kedua-duanya di buat dalam biakan jaringan, bisa di biakan di jaringan ginjal kera, bisa juga pada
manusia.
3. Kedua macam virus ini harus mengandung tiap tipe virus kedalam konsentrasi tertentu.
a.
Tipe 1 = 106 TCID50 tiap 0,1 ml
b.
Tipe 2 = 105 TCID50 tiap 0,1 ml
c.
Tipe 3 = 105,5 TCID50 tiap 0,1 ml
4. Kedua vaksin memberi daya proteksi yang sama terhadap kelumpuhan yaitu 90%

Perbedaan antara vaksin SABIN dan vaksin SALK, yaitu :


1. Isinya :

Vaksin SABIN, mengandung virus yang dilemahkan disebut disebutnya juga Live
attenuated. Vaksin SALK mengandung virus mati di sebut juga inactivated vaccin
2. Cara pembuatannya :
Vaksin SABIN mudah di buat.
Vaksin SALK sulit di buat.
3. Cara pemberian :
Vaksin SABIN, per oral dalam bentuk teblet/sirup.
Vaksin SALK, per enteral dengan suntikan intra muscular.
4. Lama kekebalan yang di bentuk :
Vaksin SABIN, kekebalam minimal 2 tahun bisa sampai seummur hidup terutama di daerah
kebersihan yang buruk karena mendapt reinfeksi secara alami
Vaksin SALK, kekeban minimal 1 tahun dan harus di revaksinasi.
5. Daya menekan suatu infeksi (supresif) :
Vaksin SABIN, titer zat anti netralisasi yang di bentuk dapat menetralkan virus yang sedang
berkembang biak di dalam tenggorokan juga virus yang ada di usus.
Vaksin SALK, zat anti netralisasi mempunyai daya supresif yang rendah hamya mamp
menetralisasi virus yang ada di tnggorokan tetapi menetralisasi virus yang ada dalam usus
tidak mampu.
6. Derajat konversi (perubahan negatif ke positif setelah vaksin) pada anak-anak yang belum
berkontak dengan ketiga tipe virus Polio(Tripple Negative).
Vaksin SABIN memberi konversi 100%
VaksinSALK memberi kurang dari 80% biasanya 50-70%
7. Pencegahan terhadap timbulnya wabah :
Vaksin SABIN, bisa mencegah wabah.
Vaksin SALK, tidak bisa mencegah wabah.
Perbedaan Polio dengan Coxsackie.
1. Virus Polio tidak menimbilkan gejala pada tikus bayi yang di suntikan pada intra cerebral,
sedang Coxsackie menimbulkan gejala.
2. Antigenetik Polio dengan Coxsackie berbeda.
3. Sifat antigen virus Coxsckie sendiri berbeda, sedangkan virus Polio ada persamaan yang
dapat memproteksi terbatas di antara ketiga tipe tersebut.
4. Jumlah biakan jaringan yang dapat di tumbuhi virus Polio jauh lebih banyak dari pada
virus Coxsackie.
5. Gejala klinik yang timbul oleh virus polio jauh lebih sedikt dan terbatas dibandingkan
dengan virus Coxsackie.
6. Pencehagan dengan cara vaksinasi terhadap virus Polio sudah ada tetapi untuk virus
Coxsackie belum ada.