Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kejahatan seksual merupakan pelanggaran atas kesusilaan yang bukan saja
merupakan masalah hukum nasional suatu negara melainkan sudah merupakan
masalah hukum semua negara di dunia atau merupakan masalah global. Pelaku
kejahatan seksual bukan didominasi mereka yang berasal dari golongan ekonomi
menengah atau rendah apalagi kurang atau tidak berpendidikan sama sekali,
melainkan pelakunya sudah menembus semua strata sosial dari strata terendah sampai
tertinggi. Berdasarkan Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas
Perempuan Tahun 2013 tercatat ada total kasus kekerasan terhadap perempuan
sebanyak 279.760 kasus, dimana 263.285 kasus terjadi pada ranah personal, 4.679
kasus pada ranah komunitas dan 5 kasus ranah Negara. Sedangkan pada tahun 2014
terjadi peningkatan dengan total sebanyak 293.220 kasus, 8.626 kasus pada ranah
personal, 3860 pada ranah komunitas dan 24 kasus pada ranah Negara. 1 Ranah
personal artinya pelaku adalah orang yang memiliki hubungan darah (ayah, kakak,
adik, paman, kakek), kekerabatan, perkawinan (suami) maupun relasi intim (pacaran)
dengan korban. Ranah komunitas jika pelaku dan korban tidak memiliki hubungan
kekerabatan, darah ataupun perkawinan. Bisa jadi pelakunya adalah majikan,
tetangga, guru, teman sekerja, tokoh masyarakat, ataupun orang yang tidak dikenal.
Ranah negara artinya pelaku kekerasan adalah aparatur negara dalam kapasitas tugas.
Termasuk di dalam kasus di ranah negara adalah ketika pada peristiwa kekerasan,
aparat negara berada di lokasi kejadian namun tidak berupaya untuk menghentikan
atau justru membiarkan tindak kekerasan tersebut berlanjut.
Diantara manusia Indonesia yang rawan menjadi korban kejahatan kekerasan
seksual adalah kaum perempuan. Begitu banyak terjadi kekerasan terhadap
perempuan di Indonesia, sebut saja tragedi di bulan Mei 1998 yang disebut sebagai
1

salah satu catatan bersejarah yang menempatkan pelanggaran HAM terhadap


perempuan yang luar biasa dahsyat kekejiannya, karena pada bulan itu diduga terjadi
beragam bentuk sistemikasi, transparansi dan vulgarisasi kejahatan kekerasan dan
pelecehan seksual. Persoalan-persoalan ini membuat penulis tertarik untuk membuat
suatu makalah dengan judul ASPEK MEDIKOLEGAL KEJAHATAN SEKSUAL.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka timbul pertanyaan yang hendak
dijawab dengan referat ini yaitu:
1. Apa yang dimaksud dengan medikolegal dan kejahatan seksual?
2. Apa saja jenis dan tanda tanda kejahatan seksual?
3. Apa faktor resiko dan dampak kejahatan seksual?
4. Bagaimana aspek hukum mengenai kejahatan seksual?
5. Apa saja prosedur medikolegal pada kasus kejahatan seksual?
6. Apa tatalaksana kedokteran forensik pada kasus kejahatan seksual?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui peranan aspek medikolegal terhadap kejahatan
seksual
1.3.2 Tujuan khusus
1. Mengetahui definisi medikolegal dan kejahatan seksual
2. Mengetahui jenis kejahatan seksual
3. Mengetahui tanda tanda kejahatan seksual
4.Mengetahui faktor resiko kejahatan seksual
5.Mengetahui dampak kejahatan seksual
6.Mengetahui aspek hukum mengenai kejahatan seksual
7.Mengetahui prosedur medikolegal pada kasus kejahatan seksual
8.Mengetahui tatalaksana kedokteran forensik pada kasus kejahatan
seksual
2

1.4 Manfaat
1.4.1 Manfaat untuk ilmu pengetahuan
Diharapkan dapat memberikan kontribusi ilmiah mengenai peranan
aspek

medikolegal terhadap kejahatan seksual

1.4.2 Manfaat untuk profesi


Menambah pengalaman dan juga pengetahuan bagi peneliti khususnya
di bidang penelitian
1.4.3 Manfaat untuk masyarakat
Penelitian ini diharapakan dapat bermanfaat sebagai sumber informasi
kepada masyarakat untuk mengetahui peranan aspek medikolegal pada
kejahatan seksual

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
3

2.1.1 Definisi Medikolegal


Medikolegal secara harfiah berasal dari dua pengertian yaitu medik
yang berarti profesi dokter dan legal yang berarti hukum. Sehingga
batasan medikolegal adalah ilmu hukum yang mengatur bagaimana
profesi dokter ini dilakukan sehingga memenuhi aturan-aturan hukum
yang ada.2 Hal ini untuk mencegah penyelewengan pelaksanaan
professional medis maupun mengantisipasi dengan berkembang serta
lajunya ilmu-ilmu kedokteran yang tentunya terdapat hal-hal yang rawan
terhadap hukum.
2.1.1.1 Prosedur medikolegal
Pengertian dari medikolegal sendiri adalah aspek hukum dari
dunia medis atau dari profesi dokter, di dalam medikolegal dokter
berkewajiban menjalankan praktek profesi dan membantu penyidik
dalam menangani suatu kasus pidana.3 Pengaturan prosedur medikolegal
diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Didalam KUHAP disebutkan pengaturan dari penemuan atau pelaporan
hingga dijatuhkannnya vonis atau hukuman.
a. Penemuan dan Pelaporan
Sesuai dengan pasal 1 ayat 25 KUHAP, Laporan adalah
pemberitahuan yang disampaikan oleh seorang karena hak atau
kewajiban berdasarkan undang-undang kepada pejabat yang
berwenang tentang telah atau sedang atau diduga akan
terjadinya peristiwa pidana. Penemuan dan pelaporan dilakukan
oleh warga masyarakat yang melihat, mengetahui atau
mengalami suatu kejadian yang diduga merupakan suatu tindak
pidana. Pelaporan dilakukan ke pihak yang berwajib dan dalam
hal ini yaitu Kepolisian RI, dll. Pelaporan juga bisa dilakukan
melalui instansi pemerintah terdekat seperti RT (Rukun
4

Tetangga) atau RW (Rukun Warga). Hak dan kewajiban


pelaporan ini diatur didalam pasal 108 KUHAP.
b. Penyelidikan
Sesuai dengan pasal 1 ayat 5 KUHAP, penyelidikan
adalah serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana
guna menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan
menurut cara yang diatur oleh undang-undang. Penyelidik yang
dimaksud adalah setiap pejabat polisi negara Republik
Indonesia yang tertera didalam Pasal 4 KUHAP. Didalam Pasal
5 KUHAP disebutkan wewenang dan tindakan yang dilakukan
oleh penyelidik:
(1) Penyelidik sebagaimana dimaksud pasal 4:
a. Karena kewajibannya mempunyai wewenang:
1.

Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang


adanya tindak pidana

2.

Mencari keterangan dan barang bukti

3.

Menyuruh berhenti seseorang yang dicurigai dan


menanyakan serta memeriksa tanda pengenal diri

4.

Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang


bertanggung jawab

b. Atas perintah penyidik dapat melakukan tindakan berupa:


1. Penangkapan,

larangan

meninggalkan

tempat,

penggeledahan dan penyitaan


5

2. Pemeriksaan dan penyitaan surat


3. Mengambil sidik jari dan memotret seseorang
4. Membawa dan menghadapkan seseorang pada penyidik

(2) Penyelidik membuat dan menyampaikan laporan hasil


pelaksanaan tindakan sebgaimana tersebut pada ayat (1)
huruf a dan b kepada penyidik.
c. Penyidikan
Sesuai dengan pasal 1 ayat 1 KUHAP, penyidikan
adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut
cara yang diatur dalam undang-undang ini untuk mencari serta
mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang
tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan
tersangkanya. Penyidikan dilakukan oleh penyidik yaitu pejabat
polisi Negara RI dan pejabat pegawai negeri sipil tertentu yang
diberi wewenang khusus oleh undang-undang sebagaimana
diatur di dalam pasal 6 KUHAP. Penyidik dapat meminta
bantuan seorang ahli dan didalam hal kejadian mengenai tubuh
manusia, maka penyidik dapat meminta bantuan dokter untuk
dilakukan penanganan secara kedokteran forensik. Kewajiban
seorang dokter antara lain:
1. Melakukan pemeriksaan kedokteran forensik atas korban
apabila diminta secara resmi oleh penyidik.
2.Menolak melakukan kedokteran pemeriksaan kedokteran
forensik tersebut diatas dapat dikenai pidana penjara , selama
lamanya 9 bulan.
Kewajiban untuk membantu peradilan sebagai seorang
dokter forensik itu diatur dalam asal 133 KUHAP dimana
seperti yang disebutkan diatas penyidik berwenang muntuk
6

mengajukan permintaan keterangan ahli pada dokter forensik


atau kedokteran kehakiman. Untuk Hak dokter menolak
menjadi saksi/ahli diatur dalam Pasal 120, 168, 170 KUHAP.
Sedangkan sangsi bagi pelanggar kewajiban dokter diatur di
dalam Pasal 216, 222, 224, 522 KUHP.
Untuk melakukan prosedur Bedah mayat

klinis,

anatomis, dan transplantasi oleh seorang dokter forensik diatur


menurut peraturan pemerintah No.18 Tahun 1981. Dan bagi
seorang dokter forensik yang membuat sebuah keterangan palsu
didalam hasil akhir pemeriksaan dikenakan Pasal 267 KUHP
dan pasal 7 KODEKI.
d. Pemberkasan Perkara
Hal dilakukan oleh penyidik, menghimpun semua hasil
penyidikannya, termasuk hasil pemeriksaan kedokteran forensik
yang dimintakan kepada dokter. Dan nanti hasil berkas perkara
ini akan diteruskan ke penuntut umum.
e. Penuntutan
Sesuai dengan pasal 1 ayat 7 KUHAP. Penuntutan yaitu
tindakan penuntut Umum untuk melimpahkan perkara pidana ke
Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal dan menurut cara
yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan
supaya diperiksa dan diputus oleh Hakim di siding Pengadilan.
f. Persidangan
Didalam persidangan dipimpin oleh hakim atau majelis
hakim. Dimana didalam persidangan itu dilakukan pemeriksaan
terhadap terdakwa, para saksi dan juga para ahli. Dokter dapat

dihadirkan di sidang pengadilan untuk bertindak selaku saksi


ahli atau selaku dokter pemeriksa. Dokter pun berhak menolak
menjadi saksi/ahli yang sebagaimana diatur dalam pasal 120,
168, 179 KUHAP
g. Vonis
Vonis dijatuhkan oleh hakim dengan ketentuan sebagai berikut:
-

Keyakinan pada diri hakim bahwa memang telah terjadi


suatu tindak pidana dan bahwa terdakwa memang bersalah
melakukan tindak pidana tersebut

Keyakinan Hakin Harus Ditunjang oleh sekurang-kurangnya


2 alat bukti yang sah yang diatur dalam pasal 184 KUHAP
(keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk,
keterangan terdakwa)

2.1.2

Definisi Kejahatan seksual

Terdapat beberapa definisi kekerasan seksual, baik definisi legal, social,


maupun medis. Salah satu definisi yang luas mengartikan kekerasan seksual
sebagai segala jenis kegiatan atau hubungan seksual yang dipaksakan dan/atau
tanpa persetujuan (consent) dari korban. Sedangkan definisi yang lebih sempit
menyamakan kekerasan seksual dengan perkosaan (rape) dan mengharuskan
adanya persetubuhan yaitu penetrasi penis ke dalam vagina. Kejahatan seksual
merupakan semua tindakan seksual, percobaan tindakan seksual, komentar
yang

tidak

diinginkan,

perdagangan

seks,

dengan

menggunakan paksaan, ancaman, paksaan fisik oleh siapa saja tanpa memand
ang hubungan dengan korban, dalam situasi apa saja, tidak terbatas pada
rumah dan pekerjaan.4

Di Indonesia pada umumnya definisi dan jenis kekerasan seksual yang


dianut diambil dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) khususnya
dalam BAB XIV tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan. Salah satu pasal
utama adalah pasal 285 tentang Perkosaan yang berbunyi Barang siapa
dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.5
2.1.2.1 Epidemiologi kejahatan seksual
Sebuah penelitian di Amerika Serikat pada tahun 2006 (National Violance
against Women Survey) melaporkan bahwa 17,6% dari responden wanita dan 3% dari
responden pria pernah mengalami kekerasan seksual, beberapa diantaranyanya
bahkan lebih dari satu kali sepanjang hidup mereka. Dari jumlah tersebut hanya
sekitar 25% yang pernah membuat laporan polisi. Komisi Nasional Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mengungkapkan tingkat tindak kekerasan
seksual terhadap perempuan di Indonesia terhitung sangat tinggi. Dalam periode 1998
- 2011 tercatat 93.960 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan di seluruh
Indonesia. 6
Dengan demikian rata-rataa ada 20 perempuan yang menjadi korban
kekerasan seksual tiap harinya. Hal yang lebih mengejutkan adalah bahwa lebih dari
dari jumlah kasus tersebut (70,11%) dilakukan oleh orang yang masih memiliki
hubungan dengan korban. Terdapat dugaan kuat bahwa angka-angka tersebut
merupakan fenomena gunung es, yaitu jumlah kasus yang dilaporkan jauh lebih
sedikit daripada jumlah kejadian sebenarnya di masyarakat. Banyak korban enggan
melapor, mungkin karena malu, takut disalahkan, mengalami trauma psikis, atau
karena tidak tahu harus melapor kemana. Seiring dengan meningkatnya kesadaran
hokum di Indonesia, jumlah kasus kekerasan seksual yang dilaporkanpun mengalami
peningkatan.

2.2 Jenis-jenis kejahatan seksual


2.2.1 Perkosaan
Serangan dalam bentuk pemaksaan hubungan seksual dengan memakai penis
ke arah vagina, anus atau mulut korban. Bisa juga menggunakan jari tangan atau
benda-benda lainnya. Serangan dilakukan dengan kekerasan, ancaman kekerasan,
penahanan, tekanan psikologis, penyalahgunaan kekuasaan, atau dengan mengambil
kesempatan dari lingkungan yang penuh paksaan. Pencabulan adalah istilah lain dari
perkosaan yang dikenal dalam sistem hukum Indonesia. Istilah ini digunakan ketika
perkosaan dilakukan diluar pemaksaan penetrasi penis ke vagina dan ketika terjadi
hubungan seksual pada orang yang belum mampu memberikan persetujuan secara
utuh, misalnya terhadap anak atau seseorang di bawah 18 tahun.7
2.2.2 Intimidasi Seksual
Termasuk Ancaman atau Percobaan Perkosaan Tindakan yang menyerang
seksualitas untuk menimbulkan rasa takut atau penderitaan psikis pada perempuan
korban. Intimidasi seksual bisa disampaikan secara langsung maupun tidak langsung
melalui surat, sms, email, dan lain-lain. Ancaman atau percobaan perkosaan juga
bagian dari intimidasi seksual.
2.2.3 Pelecehan Seksual
Tindakan seksual lewat sentuhan fisik maupun non-fisik dengan sasaran organ
seksual atau seksualitas korban. Ia termasuk menggunakan siulan, main mata, ucapan
bernuansa seksual, mempertunjukan materi pornografi dan keinginan seksual,
colekan atau sentuhan di bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual
sehingga mengakibatkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan
martabatnya, dan mungkin sampai menyebabkan masalah kesehatan dan keselamatan
2.2.4. Eksploitasi Seksual

10

Tindakan penyalahgunaan kekuasan yang timpang,atau penyalahgunaan


kepercayaan, untuk tujuan kepuasan seksual, maupun untukmemperoleh keuntungan
dalam bentuk uang, sosial, politik dan lainnya. Praktik eksploitasi seksual yang kerap
ditemui adalah menggunakan kemiskinan perempuan sehingga ia masuk dalam
prostitusi atau pornografi. Praktik lainnya adalah tindakan mengiming-imingi
perkawinan

untuk

memperoleh

layanan

seksual

dari

perempuan,

lalu

ditelantarkankan. Situasi ini kerap disebut juga sebagai kasus ingkar janji. Imingiming ini menggunakan cara pikir dalam masyarakat, yang mengaitkan posisi
perempuan dengan status perkawinannya. Perempuan menjadi merasa tak memiliki
daya tawar, kecuali dengan mengikuti kehendak pelaku, agar ia dinikahi.
2.2.5. Perdagangan Perempuan untuk Tujuan Seksual
Tindakan merekrut, mengangkut, menampung, mengirim, memindahkan, atau
menerima seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan,
penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atas posisi rentan,
penjeratan utang atau pemberian bayaran atau manfaat terhadap korban secara
langsung maupun orang lain yang menguasainya, untuk tujuan prostitusi ataupun
eksploitasi seksual lainnya. Perdagangan perempuan dapat terjadi di dalam negara
maupun antar negara.
2.2.6. Prostitusi Paksa
Situasi dimana perempuan mengalami tipu daya, ancaman maupun kekerasan
untuk menjadi pekerja seks. Keadaan ini dapat terjadi pada masa rekrutmen maupun
untuk membuat perempuan tersebut tidak berdaya untuk melepaskan dirinya dari
prostitusi, misalnya dengan penyekapan, penjeratan utang, atau ancaman kekerasan.
Prostitusi paksa memiliki beberapa kemiripan, namun tidak selalu sama dengan
perbudakan seksual atau dengan perdagangan orang untuk tujuan seksual.
2.2.7. Perbudakan Seksual
11

Situasi dimana pelaku merasa menjadi pemilik atas tubuh korban sehingga
berhak untuk melakukan apapun termasuk memperoleh kepuasan seksual melalui
pemerkosaan atau bentuk lain kekerasan seksual. Perbudakan ini mencakup situasi
dimana perempuan dewasa atau anak-anak dipaksa menikah, melayani rumah tangga
atau bentuk kerja paksa lainnya, serta berhubungan seksual dengan penyekapnya.
2.2.8. Pemaksaan perkawinan, termasuk cerai gantung
Pemaksaan perkawinan dimasukkan sebagai jenis kekerasan seksual karena
pemaksaan hubungan seksual menjadi bagian tidak terpisahkan dari perkawinan yang
tidak diinginkan oleh perempuan tersebut. Ada beberapa praktik di mana perempuan
terikat perkawinan di luar kehendaknya sendiri. Pertama, ketika perempuan merasa
tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti kehendak orang tuanya agar dia
menikah, sekalipun bukan dengan orang yang dia inginkan atau bahkan dengan orang
yang tidak dia kenali. Situasi ini kerap disebut kawin paksa. Kedua, praktik memaksa
korban perkosaan menikahi pelaku. Pernikahan itu dianggap mengurangi aib akibat
perkosaan yang terjadi. Ketiga, praktik cerai gantung yaitu ketika perempuan dipaksa
untuk terus berada dalam ikatan perkawinan padahal ia ingin bercerai. Namun,
gugatan cerainya ditolak atau tidak diproses dengan berbagai alasan baik dari pihak
suami maupun otoritas lainnya. Keempat, praktik Kawin Cina Buta, yaitu
memaksakan perempuan untuk menikah dengan orang lain untuk satu malam dengan
tujuan rujuk dengan mantan suaminya setelah talak tiga (cerai untuk ketiga kalinya
dalam hukum Islam). Praktik ini dilarang oleh ajaran agama, namun masih ditemukan
di berbagai daerah.
2.2.9. Pemaksaan Kehamilan
Situasi ketika perempuan dipaksa, dengan kekerasan maupun ancaman
kekerasan, untuk melanjutkan kehamilan yang tidak dia kehendaki. Kondisi ini
misalnya dialami oleh perempuan korban perkosaan yang tidak diberikan pilihan lain
kecuali melanjutkan kehamilannya. Juga, ketika suami menghalangi istrinya untuk
12

menggunakan kontrasepsi sehingga perempuan itu tidak dapat mengatur jarak


kehamilannya. Pemaksaan kehamilan ini berbeda dimensi dengan kehamilan paksa
dalam konteks kejahatan terhadap kemanusiaan dalam Statuta Roma, yaitu situasi
pembatasan secara melawan hukum terhadap seorang perempuan untuk hamil secara
paksa, dengan maksud untuk membuat komposisi etnis dari suatu populasi atau untuk
melakukan pelanggaran hukum internasional lainnya.
2.2.10. Pemaksaan Aborsi
Pengguguran kandungan yang dilakukan karena adanya tekanan, ancaman,
maupun paksaan dari pihak lain.
2.2.11. Pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi
Disebut pemaksaan ketika pemasangan alat kontrasepsi dan/atau pelaksanaan
sterilisasi tanpa persetujuan utuh dari perempuan karena ia tidak mendapat informasi
yang lengkap ataupun dianggap tidak cakap hukum untuk dapat memberikan
persetujuan. Pada masa Orde Baru, tindakan ini dilakukan untuk menekan laju
pertumbuhan penduduk, sebagai salah satu indikator keberhasilan pembangunan.
Sekarang, kasus pemaksaan pemaksaan kontrasepsi/sterilisasi biasa terjadi pada
perempuan dengan HIV/AIDS dengan alasan mencegah kelahiran anak dengan
HIV/AIDS. Pemaksaan ini juga dialami perempuan penyandang disabilitas, utamanya
tuna grahita, yang dianggap tidak mampu membuat keputusan bagi dirinya sendiri,
rentan perkosaan, dan karenanya mengurangi beban keluarga untuk mengurus
kehamilannya.
2.2.12. Penyiksaan Seksual
Tindakan khusus menyerang organ dan seksualitas perempuan, yang
dilakukan dengan sengaja, sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan hebat,
baik jasmani, rohani maupun seksual. Ini dilakukan untuk memperoleh pengakuan
atau keterangan darinya, atau dari orang ketiga, atau untuk menghukumnya atas suatu
13

perbuatan yang telah atau diduga telah dilakukan olehnya ataupun oleh orang ketiga.
Penyiksaan seksual juga bisa dilakukan untuk mengancam atau memaksanya, atau
orang ketiga, berdasarkan pada diskriminasi atas alasan apapun. Termasuk bentuk ini
apabila rasa sakit dan penderitaan tersebut ditimbulkan oleh hasutan, persetujuan,
atau sepengetahuan pejabat publik atau aparat penegak hukum.
2.2.13. Penghukuman tidak manusiawi dan bernuansa seksual
Cara menghukum yang menyebabkan penderitaan, kesakitan, ketakutan, atau
rasa malu yang luar biasa yang tidak bisa tidak termasuk dalam penyiksaan. Ia
termasuk hukuman cambuk dan hukuman-hukuman yang mempermalukan atau untuk
merendahkan martabat manusia karena dituduh melanggar norma-norma kesusilaan.
2.2.14.Praktik

tradisi

bernuansa

seksual

yang

membahayakan

atau

mendiskriminasi perempuan
Kebiasaan masyarakat , kadang ditopang dengan alasan agama dan/atau
budaya, yang bernuansa seksual dan dapat menimbulkan cidera secara fisik,
psikologis maupun seksual pada perempuan. Kebiasaan ini dapat pula dilakukan
untuk mengontrol seksualitas perempuan dalam perspektif yang merendahkan
perempuan. Sunat perempuan adalah salah satu contohnya.
2.2.15. Kontrol seksual, termasuk lewat aturan diskriminatif beralasan
moralitas dan agama
Cara pikir di dalam masyarakat yang menempatkan perempuan sebagai
simbol moralitas komunitas, membedakan antara perempuan baik-baik dan
perempuan nakal, dan menghakimi perempuan sebagai pemicu kekerasan seksual
menjadi landasan upaya mengontrol seksual (dan seksualitas) perempuan. Kontrol
seksual mencakup berbagai tindak kekerasan maupun ancaman kekerasan secara
langsung maupun tidak langsung, untuk mengancam atau memaksakan perempuan
untuk menginternalisasi simbol-simbol tertentu yang dianggap pantas bagi
14

perempuan baik-baik. Pemaksaan busana menjadi salah satu bentuk kontrol seksual
yang paling sering ditemui. Kontrol seksual juga dilakukan lewat aturan yang
memuat kewajiban busana, jam malam, larangan berada di tempat tertentu pada jam
tertentu, larangan berada di satu tempat bersama lawan jenis tanpa ikatan kerabat atau
perkawinan, serta aturan tentang pornografi yang melandaskan diri lebih pada
persoalan moralitas daripada kekerasan seksual. Aturan yang diskriminatif ini ada di
tingkat nasional maupun daerah dan dikokohkan dengan alasan moralitas dan agama.
Pelanggar aturan ini dikenai hukuman dalam bentuk peringatan, denda, penjara
maupun hukuman badan lainnya.
2.3 Tanda tanda kejahatan seksual
Untuk mencari tanda-tanda kejahatan seksual sepatutnya dilakukan keseluruhan
pemeriksaan mulai dari anamnesis, pemeriksaan fisik secara umum dan khusus, dan
pemeriksaan penunjang. Secara umum tujuan pemeriksaan korban kejahatan seksual
adalah untuk;

Melakukan identifikasi, termasuk memperkirakan usia korban;

Menentukan adanya tanda-tanda persetubuhan, dan waktu terjadinya, bila


mungkin;

Menentukan adanya tanda-tanda kekerasan, termasuk tanda intoksikasi


narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (NAPZA)

Menentukan pantas/tidaknya korban untuk dikawin, termasuk tingkat


perkembangan seksualnya; dan

Membantu identifikasi pelaku

Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan korban kekerasan


seksual

15

Lakukan pemeriksaan sedini mungkin setelah kejadian, jangan dibiarkan


menunggu terlalu lama. Hal ini penting untuk mencegah rusak atau berubah
atau hilangnya barang bukti yang terdapat di tubuh korban, serta untuk
menenagkan korban dan mencegah terjadinya trauma pskis yang lebih berat

Pemeriksaan harus dilakukan secara sistematis dan menyeluruh

Catat dan dokumentasikan semua temuan, termasuk temuan negative.

1. Anamnesis
-

Umur atau tanggal lahir

Status pernikahan

Riwayat paritaas dan/atau abortus

Riwayat haid (menarche, hari pertama haid terakhir, siklus haid)

Riwayat koitus (sudah pernah atau belum, riwayat koitus sebelum


dan/atau setelah kejadian kekerasan seksual, dengan siapa, penggunaan
alat pengaman seperti kondom atau alat kontrasepsi lainnya

Penggunaan obat-obatan (termasuk NAPZA)

Riwayat penyakit (sekarang dan dahulu) serta

Keluhan atau gekala yang dirasakan pada saat pemeriksaan

Sedangkan anamnesis khusus mencakup keterangan yang terkait kejadian


kejahatan seksual yang dilaporkan dan dapat menuntun pemeriksaan fisik,
seperti:
What & How

16

Jenis tindakan (pemerkosaan, persetubuhan, pencabulan dan sebagainya)

Apakah ada kekerasan dan/atau ancaman kekerasan, serta jenisnya

Apakah ada upaya perlawanan

Apakah ada pemberian minuman, makanan atau obat oleh pelaku sebelum
atau setelah kejadian

Apakah ada penetrasi dan sampai mana

Apakah ada nyeri di daerah kemaluan

Apakah ada nyeri saat buang air kecil/besar

Apakah ada perdarahan dari daerah kemaluan

Apakah ada ejakulasi dan apakah terjadi di luar atau di dalam vagina

Apa tindakan korban setelah kejadian (buang air, membasuh, mandi, ganti
baju dan sebagainya)

When
-

Tanggal dan jam kejadian, bandingkan dengan tanggal dan jam melapor

Apa tindakan tersebut baru satu kali terjadi atau sudah berulang

Where
-

Tempat kejadian

Jenis tempat kejadian

Who
-

Apakah pelaku dikenal oleh korban atau tidak


17

Usia pelaku

Hubungan antara pelaku dengan korban

2. Pemeriksaan Fisik
-

Umum
a) Tingkat kesadaran
b) Tanda vital
c) Penampilan (rapih atau tidak, dandan dan lain-lain)
d) Afek (keadaan emosi, apakah sedih, takut dan sebagainya)
e) Pakaian (apakah ada kotoran, robekan, atau kancing yang terlepas)
f) Status generalis dan status antropometri
g) Rambut (tercabut/rontok)
h) Gigi dan mulut (terutama pertumbuhan gigi molar kedua dan
ketiga)
i) Kuku (apakah ada kotoran atau darah di bawahnya, apakah ada
kuku yang tercabut atau patah)
j) Tanda-tanda perkembangan seksual sekunder
k) Tanda-tanda intoksikasi NAPZA
l) Status lokalis dari luka-luka yang terdapat pada bagian tubuh
selain daerah kemaluan

Khusus

18

a) Daerah pubis (kemaluan bagian luar), yaitu adanya perlukaan pada


jaringan lunak atau bercak cairan mani
b) Penyisiran rambut pubis (rambut kemaluan), yaitu apakah adanya
rambut pubis yang terlepas yang mungkin berasal dari pelaku,
penggumpalan atau perlengketan rambut pubis akibat cairan mani
c) Daerah vulva dan kulit sekitar vulva/paha bagian dalam (adanya
perlukaan pada jaringan lunak, bercak cairan mani).
d) Labia mayora dan minora apakah ada perlukaan pada jaringan
lunak atau bercak cairan mani
e) Vestibulum dan fourchette posterior apakah ada perlukaan
f) Hymen (selaputdara) catat bentuknya, diameter ostium, elastisitas
atau ketebalan, adanya perlukaan seperti robekan, memar, lecet
atau hiperemi). Apabila ditemukan robekan hymen, catat jumlah
robekan, lokasi dan arah robekan, apakah robekan mencapai dasar
(insersio) atau tidak, dan adanya perdarahan atau tanda
penyembuhan pada tepi robekan
g) Vagina (liang senggama), cari perlukaan dan adanya cairan atau
lender
h) Serviks dan porsio, cari tanda-tanda pernah melahirkan dan adanya
cairan atau lender
i) Uterus diperiksa apakah ada tanda kehamilan
j) Anus dan daerah perianal diperiksa apabila ada indikasi
berdasarkan anamnesis
k) Mulut diperiksa apabila ada indikasi berdasarkan anamnesis
19

l) Daerah-daerah erogen (leher, payudara, paha dan lain-lain)


diperiksa untuk mencari bercak mani atau air liur dari pelau
m) Tanda-tanda kehamilan pada payudara dan perut
3. Pemeriksaan Penunjang
-

Pakaian yang dipakai korban saat kejadian; untuk mencari trace evidence
yang mungkin berasal dari pelaku, seperti darah dan bercak mani, atau
dari tempat kejadian, misalnya bercak tanah atau daun-daun kering

Rambut pubis; menggunting rambut yang menggumpal

Kerokan kuku; apabila korban melakukan perlawanan dengan mencakar


pelaku maka mungkin terdapat sel epitel atau darah pelaku di bawah kuku
korban;

Swab; dapat diambil dari bercak yang diduga bercak mania tau air liur dari
kulit sekitar vulva, vulva, vestibulum, vagina, forniks posterior, kulit
bekas gigitan atau ciuman, rongga mulut (pada seks oral) atau lipatanlipatan anus (pada Sodom), atau untuk pemeriksaan penyakit menular
seksual

Darah; sebagai sampel pembanding untuk identifikasi dan untuk mencari


tanda-tanda intoksikasi NAPZA

Pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan cairan mani (semen)

Pemeriksaan VDRL

Pemeriksaan serologis Hepatitis

Pemeriksaan Gonorrhea
20

Pemeriksaan HIV

Urine; untuk mencari tanda kehamilan dan intoksikasi NAPZA

TINDAK LANJUT
Setelah pemeriksaan forensic terhadap korban selesai, dilakukan tindak lanjut baik
dari aspek hukum maupun medis. Dari segi hokum tindak lanjutnya berupa
pembuatan visum et repertum. Tindak lanjut medis dapat mencakup penatalaksanaan
psikiatrik dan penatalaksanaan bidang obstetric-ginekologi. Tidak jarang seorang
korban kekerasan seksual membutuhkan terapi atau konseling pskiatrik. Mungkin
juga korban memerlukan tindakan pencegahan kehamilan serta pencegahan atau
terapi penyakit menular seksual.
2.4 Faktor resiko kejahatan seksual
2.4.1. Faktor Fisik
Klien dapat mengalami penurunan keinginan seksual karena alasan fisik,
karena

bagamanapun

aktivitas

seks

bisa

menimbulkan

nyeri

dan

ketidaknyamanan. Kondisi fisik dapat berupa penyakit ringan/berat, keletihan,


medikasi maupun citra tubuh. Citra tubuh yang buruk, terutama disertai
penolakan atau pembedahan yang mengubah bentuk tubuh menyebabkan
seseorang kehilangan gairah.
2.4.2 Faktor Hubungan
Masalah dalam berhubungan (kemesraan, kedekatan) dapat mempengaruhi
hubungan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual. Hal ini sebenarnya
tergantung dari bagimana kemampuan mereka dalam berkompromi dan
bernegosiasi mengenai perilaku seksual yang dapat diterima dan menyenangkan
2.4.3 Faktor Gaya Hidup
Gaya hidup disini meliputi penyalahgunaan alkohol dalam aktivitas seks,
ketersediaan waktu untuk mencurahkan perasaan dalam berhubungan, dan
21

penentuan waktu yang tepat untuk aktivitas seks. Penggunaan alkohol dapat
menyebabkan rasa sejahtera atau gairah palsu dalam tahap awal seks dengan efek
negatif yang jauh lebih besar dibanding perasaan eforia palsu tersebut.
Sebagian klien mungkin tidak mengetahui bagaiman mengatur waktu
antara bekerja dengan aktivitas seksual, sehingga pasangan yang sudah merasa
lelah bekerja merasa kalau aktivitas seks merupakan beban baginya.
2.4.4 Faktor Harga Diri
Jika harga-diri seksual tidak dipelihara dengan mengembangkan perasaan
yang kuat tentang seksual-diri dan dengan mempelajari ketrampilan seksual,
aktivitas seksual mungkin menyebabkan perasaan negatif atau tekanan perasaan
seksual.
Harga diri seksual dapat terganggu oleh beberapa hal antara lain:
perkosaan, inses, penganiayaan fisik/emosi, ketidakadekuatan pendidikan seks,
pengaharapan pribadi atau kultural yang tidak realistik.
dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas

2.5 Dampak kejahatan seksual


1. Dampak fisik
Korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak
nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat
perkosaan dengan kekerasan, kerusakan organ tubuh seperti robeknya selaput
dara, pingsan.
2. Dampak psikologis
Korban kejahatan seksual bisa mengalami stress, depresi, guncangan jiwa,
menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis,
dan kehamilan yang tidak diinginkan, kesulitan tidur (insomnia), kurangnya
nafsu makan dan nafsu makan berkurang, sukar berkonsentrasi: seperti

22

lamban dalam berpikir dan tidak mampu memutuskan sesuatu, sering berpikir
tentang bunuh diri atau mati.
3

Dampak sosial
Korban kejahatan seksual dapat dikucilkan oleh masyarakat, dihina,
dipojokkan dengan pandangan masyarakat bahwa perempuan korban
kejahatan seksual sengaja menggoda dan menantang laki-laki dengan
memakai pakaian mini, rok ketat, berdandan menor ataupun berbusana seksi.
(Bernas, 1995; Kompas, 1995; Taslim, 1995; koesnadi, 1992).

2.6 Aspek hukum mengenai kejahatan seksual


Kejahatan terhadap kesusilaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan
sesorang yang menimbulkan kepuasan seksual dan di sisi lain perbuatan tersebut
mengganggu kehormatan orang lain.8
Aspek hukum mengenai kejahatan terhadap kesusilaan dan kejahatan seksual
ialah :
1. KUHP
a) Pasal 284 KUHP
1. Diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun :
1a. Seorang pria telah kawin yang melakukan zinah, pada hal diketahui,
bahwa
pasal 27 BW berlaku baginya
1b. Seorang wanita telah kawin yang melakuakn zinah, pada hal diketahui,
bahwa pasal 27 berlaku baginya
b) Pasal 285 KUHP

23

Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seseorang


wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan
perkosaan, dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.
c) Pasal 286 KUHP
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada hal
diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya,
diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.
d) Pasal 287 KUHP
1. Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, pada
hal diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas
tahun, atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu dikawin,
diancam dengan pidanan penjara paling lama sembilan tahun.
e) Pasal 288 KUHP
1. Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di dalam perkawinan, yang
diketahui atau sepatutnya harus diduga bahwa belum mampu dikawin,
diancam, apabila perbuatan mengakibatkan luka-luka dengan pidana penjara
paling lama empat tahun.
f) Pasal 289 KUHP
Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang
anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, diancam
karena melakukan perbuatan yang menyerang kehormatan kesusilaan, dengan
pidana penjara paling lama 9 tahun.
g) Pasal 290 KUHP
Diancam dengan pidana paling lama tujuh tahun :
24

1) Barang siapa melakukan perbuatan cabul, dengan seorang padahaL


diketahui, bahwa orang itu pingsan atau tidak berdaya;
2) Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan seseorang pada hal
diketahui atau sepatutunya harus diduga, bahwa umurnya belum lima belas
tahun atau kalau umurnya tidak ternyata, bahwa belum mampu kawin
3) Barang siapa membujuk seseorang yang diketahui atau sepatutnya harus
diduga, bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kala umurnya tidak
ternyata, bahwa belum mampu kawin, untuk melakukan atau membiarkan
dilakukan perbuatan cabul, atau bersetubuh di luar perkawinan dengan orang
lain.
h) Pasal 292 KUHP
Orang yang cukup umur, yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain
sama kelamin, yang diketahui atau sepatutnya harus diduga, bahwa belum
cukup umur, diancam pidana penjara paling lama lima belas tahun
2. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1226/Menkes/SK/XII/2009 tentang Pedoman penatalaksanaan pelayanan
terpadu korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Rumah
Sakit
Dalam

keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1226/Menkes/SK/XII/2009 menunjukkan bahwa pemerintah sangat menjamin


perlindungan

terhadap

anak

sehingga

mengatur

suatu

pedoman

penatalaksanaan pelayanan terpadu korban kekerasan terhadap perempuan


dananak di rumah sakit.
3. Menurut Kesepakatan Bersama Kementrian Pemberdayaan Perempuan
dan Perlindungan Anak Republik Indonesia dengan Pemerintah Daerah
Provinsi Jawa Tengah Nomor 98/MEN.PP/SKB/VI/2010, Nomor 80/2010
tentang Penerapan Kinerja di Bidang Pembangunan Pemberdayaan
25

Perempuan dan Perlindungan Anak di Provinsi Jawa Tengah


Sangat jelas pemerintah maupun pemerintah daerah melalui Keputusan Bersama
Kementrian Pemberdayaan Perempuandan Perlindungan Anak Republik Indonesia
dengan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 98/MEN.PP/SKB/VI/2010,
nomor 80/2010 menjamin perlindungan terhadap perempuan dan anak.

2.7 Prosedur medikolegal pada kasus kejahatan seksual


Adapun prosedur medikolegal yang harus diperhatikan pada kasus kejahatan
seksual :
1. Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis
dari penyidik yang berwenang (pasal 133 KUHAP)
2. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti.
Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.
3. Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan
pada
tubuh korban pada waktu permintaan visum et repertum diterima oleh dokter
4. Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika
korban adalah seorang anak, dari orang tua atau walinya. Jelaskan terlebih
dahulu tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil
pemeriksaan akan disampaikan pada pengadilan. Hal ini perlu diketahui
walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban
akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya. Selain itu bagian
yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang
wanita.
5. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu
memeriksa badan.
6. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
Hindarkan korban menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar
periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan
harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata.
26

7. Visum et repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya visum et


repertum perkara cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat
dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia tidak bersalah.
8. Terkadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang
ibu/ayah untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi
apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas
diri anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan
dulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja, atau ada
maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan
penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan
bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan
biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan
penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah 15 tahun, dan
jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan makan menurut undangundang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin
hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu
dianjurkan untuk meminta nasehat dari pengacara.
2.8 Tatalaksana ilmu kedokteran forensik pada kasus kejahatan seksual
A.

Persiapan di Tempat Kejadian Perkara


Tindakan pada kasus/disangka kasus perkosaan atau perzinahan 9
:
1. Perhatikan apakah korban memerlukan pertolongan pertama akibat kekerasan
yang dideritanya. Perhatikan juga apakah korban telah cukup umur atau
belum selanjutnya lihat skema persetubuhan;
2. Perhatikan apakah pada tubuh korban terdapat tanda-tanda kekerasan
3. Amankan tempat kejadian dan barang bukti
27

4. Kumpulkan barang bukti sebaik- baiknya seperti noda darah, bercak pada
kain, celana, sprei, dan lain-lain
5. Perhatikan sikap korban, apakah takut, gelisah, malu atau tenang-tenang saja.
6. Perhatikan caranya berpakaian dan berhias, adalah berlebihan atau
mengandung gairah
7. Kirimkan korban/tersangka korban ke rumah sakit pemerintah dengan
formulir visum et repertum model IV tanpa diperkenankan membersihkan
badan dahulu. Korban diantar oleh petugas polisi
8. Jelaskan kepada ahli kebidanan/dokter yang bertugas tentang maksud
pemeriksaan ini.
9. Bila dipandang perlu maka korban dapat diisolasi dengan pengawasan ketat
dan

tidak

boleh

ditemui

seorang

pun

atau

berhubungan

dengan

tamu/keluarga.
B. Pengumpulan Alat Bukti di Tempat Kejadian Perkara
Untuk kepentingan penyidikan, alat bukti sangat penting. Pengumpulan alat bukti
dilakukan di tempat kejadian perkara, selanjutnya alat bukti tersebut dikirim ke
laboratorium forensik untuk dianalisis. Barang bukti/material kimia, biologik dan
fisik yang ditemukan ditempat kejadian perkara dapat berupa:
1. Material kimia: alkohol, obat-obatan, atau bahan kimia lain yang ditemukan
di tempat kejadian perkara
2. Material fisik: serat pakaian, selimut, kain penyekap korban dll.
3. Material biologik: cairan tubuh, air liur, semen/sperma, darah, rambut dll.

28

C. Persiapan Sebelum Pemeriksaan Korban


Sebelum korban dikirim ke rumah sakit/fasilitas kesehatan untuk dilakukan
pemeriksaan dokter 10
, perlu dijelaskan dengan hati-hati proses pemeriksaan
forensik dengan memaparkan langkah- langkah penyelidikan. Sebelum
pemeriksaan forensik syarat yang harus dipenuhi adalah:
1. Harus ada permintaan tertulis untuk pemeriksaan kasus kekerasan seksual
dari penyidik atau yang berwenang.
2. Korban datang dengan didampingi polisi/penyidik.
3. Memperoleh persetujuan (inform consent) dari korban.
4. Pemeriksaan dilakukan sedini mungkin untuk mencegah hilangnya alat bukti
yang penting bagi pengadilan.
D. Pemeriksaan Korban Kekerasan Seksual
Yang perlu diperiksa oleh dokter terhadap korban/tersangka korban kekerasan
seksual sedapat mungkin memenuhi tuntutan yang digunakan dalam undangundang hukum pidana.
Pemeriksaan fisik juga didasarkan pada kebijakan juridiksional, dan dilakukan
oleh dokter dengan pemeriksaan meliputi:
Umum:
1. Rambut, wajah, emosi secara keseluruhan
2. Apakah korban pernah pingsan sebelumnya, mabuk atau tanda-tanda
pemakaian narkotik
29

3. Tanda-tanda kekerasan diperiksa di seluruh tubuh korban.


4. Alat bukti yang menempel ditubuh korban yang diduga milik pelaku.
5. Memeriksa perkembangan seks sekunder untuk menentukan umur korban.
6. Pemeriksaan antropometri; tinggi badan dan berat badan
7. Pemeriksaan rutin lain
Khusus:
1. Genitalia: pemeriksaan akibat-akibat langsung dari kekerasan seksual yang
dialami korban, meliputi:
a. Kulit genital apakah terdapat eritema, iritasi, robekan atau tanda-tanda
kekerasan lainnya.
b. Eritema vestibulum atau jaringan sekitar
c. Perdarahan dari vagina.
d. Kelainan lain dari vagina yang mungkin disebabkan oleh infeksi atau
penyebab lain.
e. Pemeriksaan hymen meliputi bentuk hymen, elastisitas hymen, diameter
penis. Robekan penis bisa jadi tidak terjadi pada kekerasan seksual
penetrasi karena bentuk, elastisitas dan diameter penis.
f. Untuk yang pernah bersetubuh, dicari robekan baru pada wanita yang
belum melahirkan
g. Pemeriksaan ada tidaknya ejakulasio dalam vagina dengan mencari
spermatozoa dalam sediaan hapus cairan dalam vagina
30

2. Pemeriksaan analKemungkinan bila terjadi hubungan seksual secara anal


akan menyebabkan luka pada anal berupa robekan, ireugaritas, keadaan
fissura. Pemeriksaan laboratorium
a. Pemeriksaan darah
b. Pemeriksaan cairan mani (semen)
c. Tes kehamilan
d. Pemeriksaan lain seperti hepatitis, gonorrhea, HIV.
e. Pemeriksaan cairan tubuh, mani, liur, atau rambut yang dianggap pelaku.
E. Wawancara/Anamnesis Korban Kekerasan Seksual
Wawancara dengan korban meliputi empat elemen: Wawancara teraupetik,
wawancara investigasi, wawancara medis dan wawancara medico-legal. Walaupun isi
dari masing- masing wawancara bisa saling tumpang tindih dan perbedaan
wawancara dalam beberapa hal dapat dilakukan oleh orang yang sama, dengan tujuan
dan fungsi masing-masing berbeda. Wawancara dapat dilakukan tersendiri,
bersahabat dan lingkungan yang mendukung. Penginterview akan membangun suatu
hubungan dengan korban dan mulai dengan pertanyaan umum yang tidak
berhubungan dengan kekerasan seksual yang dialami, seperti riwayat medis. Jika
diperlukan dapat digunakan penerjemah. Bahasa dan nama penerjemah yang
digunakan dapat dicatat dalam laporan. Pada kasus remaja, mereka diijinkan untuk
didampingi oleh orang tua bila mereka mau. Mereka juga diperlakukan dengan cara
yang sama seperti orang dewasa.
F. Pemeriksaan Fisik Korban Kekerasan Seksual

31

Pemeriksaan pasien dibagi dalam beberapa kategori yaitu; keadaan umum dan
tingkah laku pasien; keadaan tubuh secara keseluruhan, genitalia externa, vagina dan
servix, dan anus serta rektum.
G. Penilaian Dugaan Kekerasan Seksual
Berikut ini detail penilaian kekerasan seksual yang dapat menguatkan terjadinya
kekerasan seksual pada korban.
1. Trauma non genital (kekerasan, bukti menguatkan)
Trauma fisik adalah pembuktian terbaik adanya kekerasan dan harus selalu
didokumentasikan melalui foto, dideskripsikan melalui gambar dan dalam
bentuk laporan tertulis.12 Bukti trauma dapat juga menguatkan pernyataan
korban akan kejadian tersebut.
Pola trauma non genitalia
Peneliti forensik harus banyak mengetahui tentang pola trauma yang
terjadi karena kekerasan seksual, untuk dapat menanyakan pertanyaan
yang tepat dan lokasi trauma berdasarkan ceritakorban.Tempat yang
paling sering mengalami trauma pada korban kekerasan seksual, termasuk:
-

Memar pada tungkai atas dan paha

Memar pada leher karena cekikan

Memar pukulan pada lengan atas

Memar karena postur bertahan pada sisi lengan luar

Trauma menyerupai cambuk atau tali pada punggung korban

Trauma pukulan atau gigitan pada payudara dan puting susu


32

Trauma pukulan pada abdomen

Trauma Pukulan dan tendangan pada paha

Memar, lecet, dan laserasi pada wajah.

a. Trauma non genital yang terpola


Istilah "trauma terpola" berbeda dari istilah yang sama, "pola trauma" yang
disebutkan diatas. Keduanya penting dalam istilah forensik, akan tetapi,
"trauma terpola" adalah trauma dari objek yang digunakan untuk
menimbulkan trauma, yang mudah diindentifikasi melalui pola yang ada pada
korban.

2. Bukti trauma genital (kontak seksual, kekerasan)


Trauma genital menunjukkan adanya kontak seksual dan kekerasan. Trauma
genital paling banyak terlihat setelah kekerasan seksual. Akan tetapi, pada
kasus kekerasan seksual seringkali tidak ditemukan bukti trauma genital.
Dengan demikian, tidak adanya trauma genital tidak dapat diinterpretasikan
bahwa hubungan seks yang terjadi atas persetujuan. Dengan kata lain, peneliti
forensik seringkali tidak menemukan bukti trauma genital.
Pola trauma genital :
- posterior fourchette (70%)
- labia minora (53%)
- hymen (29%)
33

- vagina (11%)
- perineum (11%)
H. Evaluasi, Penanganan dan Konseling Korban Perkosaan
1

1. Evaluasi dan penanganan infeksi akibat transmisi seksual

2. Evaluasi dan Pencegahan Resiko Kehamilan

3. Konseling intervensi krisis dan follow up

4. Penanganan korban pada pusat layanan primer

5. Penanganan korban di rumah sakit provinsi/daerah

2.9 Tinjauan kasus


KRONOLOGI KASUS
B (16) remaja perempuan di Kabupaten Tangerang, diperkosa oleh laki-laki berinisial
IP (26). B baru saja mengenal IP lewat situs jejaring sosial Twitter. Dari perkenalan
ini, mereka memutuskan untuk bertemu dan IP mengajak B ke rumah kontrakannya
yang berada di di Kampung Geruduk, RT 02/03, Desa Mekar Jaya, Kecamatan
Sepatan, Kabupaten Tangerang. Di sana IP memaksa B untuk berhubungan intim.
Sepulangnya ke rumah, B memberitahu orang tuanya dan IP dilaporkan kepada pihak
kepolisian.

PEMBAHASAN

34

Pada contoh kasus kejahatan seksual diatas didapatkan bahwa korban adalah B,
perempuan, usia 16 tahun. Dan pelaku adalah IP, laku-laki, usia 26 tahun.
I. PEMERIKSAAN MEDIS
a. Anamnesis
Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum dengan judul
keterangan yang diperoleh dari korban. Terdiri dari bagian yang bersifat umum dan
khusus. Anamnesis umum meliputi :
-

Berapa umur korban, tempat dan tanggal lahir korban


Apakah sudah menikah atau belum
Apakah sudah menstruasi/haid dan bagaimana siklus haidnya
Apakah memiliki penyakit kelamin dan penyakit kandungan
Apakah memiliki penyakit lain seperti epilepsi, katalepsi dan syncope
Apakah pernah melakukan hubungan seksual
Kapan melakukan hubungan seksual yang terakhir
Apakah saat berhubungan menggunakan kondom

Adapun anamnesis khusus :


-

Kapan dan dimana peristiwa tersebut terjadi


Apakah korban melakukan perlawanan
Apakah korban dalam keadaan pingsan
Apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi
Apakah setelah kejadian, korban mencuci, mandi dan mengganti pakaian

b. Pemeriksaan Pakaian
Pada pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti seperti :
-

Apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang

pada pakaian
Apakah ada kancing terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpul

dan lain-lain dari tempat kejadian


Apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak
Adakah benda-benda yang melekat pada pakaian dan mengandung trace
35

evidence
c. Pemeriksaan Tubuh Korban
Pemeriksaannya dibagi 2 yaitu pemeriksaan umum dan pemeriksaan khusus.
Pemeriksaan umum
-

Bagaimana penampilannya (rambut dan wajah), rapi atau kusut


Bagaimana keadaan emosionalnya (tenang atau sedih atau gelisah)
Adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran atau diberikan obat tidur/bius

dan needle marks


Adakah tanda-tanda bekas kekerasan
Bagaimana perkembangan alat kelamin sekunder
Bagaimana kondisi pupil, refleks cahaya, berat badan, tekanan darah, jantung,
paru dan abdomen

Pemeriksaan khusus
Pemeriksaan khusus dilakukan pada daerah genitalia, meliputi :
-

Ada tidaknya rambut kemaluan saling melekat menjadi satu (karena air mani

yang mengering) dan adakah bercak mani sekitar alat kelamin


Apakah pada vulva terdapat tanda-tanda bekas kekerasan seperti hiperemi,
edema, memar dan luka lecet (goresan kuku), lalu apakah introitus vagina

hiperemi atau edema


Bagaimana jenis dari selaput dara, adakah ruptur atau tidak dan bila ada
ruptur, tentukan ruptur baru atau lama dan catat lokasi ruptur, teliti apakah

sampai ke insertion atau tidak


Apakah frenulum labiorum pudendi dan commisura labiorum posterior utuh

atau tidak
Adakah tanda penyakit kelamin

II. PEMERIKSAAN LABORATORIUM


Untuk pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam sel vagina, dilakukan dengan
pengambilan lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose
36

batang gelas, atau swab.


Bahan yang diperiksa diambil dari forniks posterior, mungkin dengan speculum. Pada
anak-anak seperti pada kasus ini ataupun pada yang selaput daranya utuh
pengambilan sebaiknya dib atasi dari speculum saja. Pemeriksaan terhadap kuman N.
gonorrhoea dapat dilakukan dengan pulasan pewarnaan gram dari sekret ureter.
Pemeiksaan dilakukan pada hari ke 1, 3, 5 dan 7. Jika pada pemeriksaan didapatkan
N. gonorrhoea berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seseorang penderita bila
pada pria tertuduh juga ditemukan N. gonorrhea, ini merupakan petunjuk yang cukup
kuat.
Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik ataupun
bakteriologi. Pemeriksaan kehamilan dan pemeriksaan toksikologi terhapap urin dan
darah juga diperlukan jika ada indikasi. Pemeriksaan pria tersangka dapat dilakukan
dengan bercak darah yang ada pada pakaiannya akibat tanda kekerasan maupun
aktivitas seksual yang berasal dari darah deflorasi Pemeriksaan golongan darah ini
penting dilakukan. Untuk mengetahui apakah seorang pria baru melakukan
persetubuhan, dapat dilakukan pemeriksaan ada tidaknya sel epitel vagina pada gland
penis.

III. INTERPRETASI HASIL


1. Anamnesis
Hasil anamnesis umum
-

Usia : 16 tahun
TTL : 25 Januari 1999
Status : belum menikah
Siklus haid : 28hari, teratur
Tidak ditemukan penyakit kelamin, penyakit kandungan dan penyakit

37

penyerta lainnya.
Belum pernah bersetubuh sebelumnya.

Berdasarkan hasil ini, maka dapat dipastikan bahwa umur korban merupakan umur
yang belum waktunya untuk dikawin.
Hasil anamnesis khusus
-

Waktu kejadian : 2 Febuari 2015, pukul 21.00 WIB


Lokasi kejadian : Kampung Geruduk, RT 02/03, Desa Mekar Jaya, Kecamatan

Sepatan, Kabupaten Tangerang


Pelaku mengancam korban untuk melakukan hubungan intim.
Terjadi peneterasi dan ejakulasi
Menurut pengakuan korban, ia tidak berani melakukan perlawanan.
Korban tidak kehilangan kesadaran sebelum, saat, dan setelah kejadian.

2.Pemeriksaan Pakaian
Saat datang untuk melakukan pemeriksaan, korban datang dengan pakaian yang
cukup rapi, bersih, dan tidak ada robekan. Korban tidak menggunakan pakaian yang
sama dengan yang dikenakan saat kejadian.

3.Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik umum
Kesadaran: Compos mentis
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Nadi: 89x/menit
Respiratory rate: 20x/menit
38

Suhu: 36,5o C
Berat badan: 50 kg
Tinggi badan: 155 cm
Dari pemeriksaan didapatkan:
-

Penampilan : rambut diikat satu tidak rapi; wajah tampak sedih, murung, dan

malu
Korban menunjukkan bahwa ia merasa tertekan
Tidak ada needle marks tidak terdapat tanda-tanda diberikan obat tidur, tidak
ada tanda-tanda kehilangan kesadaran (sesuai dengan hasil anamnesis pada

korban)
Lebam di daerah paha dan gigitan di sekitar putting susu tanda kekerasan
Perkembangan alat kelamin sekunder normal

Pemeriksaan Fisik Khusus


-

Mulut lecet di sudut kanan tanda kekerasan


Pergelangan tangan, paha bagian dalam, bokong, pinggang memar tanda

kekerasan
Hiperemi, edema, lecet pada vulva tanda kekerasan
Robekan selaput dara baru sampai ke insertion
Lubang vagina sebesar 9,5 cm telah terjadi persetubuhan
Vagina dan serviks hiperemi
Tidak ada tanda penyakit kelamin

4. Kesimpulan
Pada anak perempuan yang baru berumur 16 tahun ini ditemukan robekan selaput
dara pada lokasi pukul enam sesuai dengan arah jarum jam. Ditemukan juga luka
memar dan lecet akibat kekerasan tumpul di daerah mulut, leher, pergelangan tangan,
paha bagian dalam, bokong, pinggang, dan jejas gigit pada daerah payudara.
39

Dari hasil pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium memang benar yang
bersangkutan telah terjadi persetubuhan.

ASPEK HUKUM
Pada contoh kasus diatas berlaku aspek hukum antara lain:
1. Pasal 285 KUHP
2. Pasal 288 KUHP

PROSEDUR MEDIKOLEGAL
Pada contoh kasus diatas adapun prosedur medikolegal yang dapat diberlakukan
antara lain:
1. Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis
dari penyidik yang berwenang (pasal 133 KUHAP)13
2. Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti.
Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi,
jangan diperiksa, suruh korban kembali kepada polisi.
3. Setiap visum et repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan
pada
tubuh korban pada waktu permintaan visum et repertum diterima oleh dokter.
4. Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta dari orang tua atau walinya.
Jelaskan terlebih dahulu tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan pada
korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan pada pengadilan. Hal ini
perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi,
belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan tidak menolaknya.
Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari
tubuh seorang wanita.
5. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu
40

memeriksa badan.
6. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin jangan ditunda terlampau lama.
Hindarkan korban menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar
periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan
harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata.
7. Visum et repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya visum et
repertum perkara cepat dapat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat
dibebaskan dari tahanan, bila ternyata ia tidak bersalah.
8. Terkadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang
ibu/ayah untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi
apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas
diri anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan
dulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja, atau ada
maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan
penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan
bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan
biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan
penerangan pada ibu/ayah itu, bahwa jika umur anaknya sudah 15 tahun, dan
jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan makan menurut undangundang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin
hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu
dianjurkan untuk meminta nasehat dari pengacara.

41

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Di Indonesia pada umumnya definisi dan jenis kekerasan seksual yang dianut
diambil dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) khususnya dalam
BAB XIV tentang Kejahatan terhadap Kesusilaan. Salah satu pasal utama
adalah pasal 285 tentang Perkosaan yang berbunyi Barang siapa dengan
kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh
dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan
pidana penjara paling lama dua belas tahun
2. Berdasarkan catatan tahunan dari Komnas Perempuan, kekerasan seksual
dibagi menjadi beberapa macam, diantaranya adalah: perkosaan, intimidasi
seksual, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan perempuan
untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan
perkawinan,

pemaksaan

kehamilan,

pemaksaan

aborsi,

pemaksaan

42

kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, penghukuman tidak


manusiawi dan bernuansa seksual, dan kontrol seksual.
3. Pola luka kejahatan seksual dapat diketahui dengan dilakukannya
pemeriksaan yang terdiri dari anamnesis, pemeriksaan pakaian, pemeriksaan
tubuh korban (pemeriksaan umum, kandungan, kebidanan dan kesehatan
mental), dan pemeriksaan penunjang (pemeriksaan laboratorium)
4. Faktor-faktor yang dapat menjadi penyebab tindak kekerasan seksual yaitu:
faktor fisik, faktor hubungan, faktor gaya hidup dan faktor harga diri
5. Aspek medikolegal terhadap kasus kejahatan seksual diatur dalam Undangundang KUHP Pasal 284, 285, 286, 287, 289, 290, 292, Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1226/Menkes/SK/XII/2009 tentang
Pedoman penatalaksanaan pelayanan terpadu korban kekerasan terhadap
perempuan dan anak di Rumah Sakit serta Kesepakatan Bersama Kementrian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia
dengan

Pemerintah

Daerah

Provinsi

Jawa

Tengah

Nomor

98/MEN.PP/SKB/VI/2010, Nomor 80/2010 tentang Penerapan Kinerja di


Bidang Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak di
Provinsi Jawa Tengah

3.2 Saran
1. Dilakukan sosialisasi informasi sampai ke masyarakat terendah dan
mengena ke berbagai lini (ibu rumah tangga, pegawai, siswa-siswi,
mahasiswi, petani , dll)
2. Meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga bersama-sama mencegah
dan memerangi kasus kekerasan seksual
3. Membangun kerja sama yang baik antara dinas pendidikan (sekolah,
kampus, guru) bersama dinas kesehatan (dokter, psikolog) serta LSM dan
Organisasi-organisasi keagamaan dalam memberikan edukasi/pendidikan

43

seks sejak dini pada anak sesuai dengan psikologi perkembangan anak dan
nilai-nilai moral serta keilmuan yang baik dan benar
4. Diminta kesadaran dan pengawasan terhadap pihak swasta (pengelola
hiburan, media, warnet) memiliki kebijakan yang mendukung upaya
penanggulangan kejahatan seksual.

DAFTAR PUSTAKA
1. Komnas Perempuan. Lembar Fakta Catatan Tahunan (CATAHU).
2014. Kegentingan Kekerasan Seksual: Lemahnya Upaya Penanganan
Negara.

Disitasi

tanggal

Juli

2015

dari

http://www.komnasperempuan.or.id/wpcontent/uploads/2015/03/Lembar-Fakta-Catatan-Tahunan-CATAHU2.

Komnas-Perempuan-Tahun-2014.pdf [Update: Maret2015]


Arif, Rahman dkk, 2009, Tanya Jawab Ilmu Kedokteran Forensik,

Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.


3. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, et al. Ilmu Kedokteran
Forensik. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI; 1997. p.147-15
4. Inter-Agency Standing Committee, 2005. Guidelines for Gender-based
Violence Interventions in Humanitarian Settings: Focusing on
Prevention of and Response toSexual Violence in Emergencies
5. Undang-undang KUHP Republik Indonesia Pasal 285 tentang
pemerkosaan

44

6. Dianita, Putri, Ike Meilia. Prinsip Pemeriksaan dan Penatalaksanaan


Korban (P3K) Kekerasan Seksual. Departemen Ilmu Kedokteran
Forensik

dan

Medikolegal

Fakultas

Kedokteran

Universitas

Indonesia/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. CDK-196/vol.39 no.8,


th. 2012: Jakarta.
7. Komnas Perempuan. 15 Jenis Kekerasan Seksual. Disitasi tanggal 5
Juli

2015

dari

http://www.komnasperempuan.or.id/wp-

content/uploads/2014/12/15-Bentuk-Kekerasan-Seksual1.pdf [Update
2013]
8. Staf Pengajar Bagian Kedokteran Forensik FKUI. Peraturan
Perundang-undangan
9. Bidang Kedokteran. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik FKUI;
1994. p. 1-9, 37
10.
Jonakait, RN. Forensic science: the need for regulation.
Volume 4, spring issue. 1991. p 109-191
11.

Prodjodikoro W. Tindak-tindak pidana tertentu di Indonesia. Refika


aditama. Edisi 3. 2003. p 118-9

12.

Aitken C. Robert P. Jackson G. Probability and Statistical

Evidencein Criminal Proceedings. Fundamentals of Probability and


Statistical Evidence in Criminal Proceedings. Guidance for Judges,
Lawyers, Forensic Scientists and Expert Witnesses. Practitioner
guide No 1
13. Iowa department of public health. Medico-legal aspect of sexual
offences. Chapter 11. 2011

45