Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH DANA PERIMBANGAN TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DI

PROVINSI SULAWESI TENGAH


The Influence of Balance Fun Economic Growth in Central Sulawesi Province

Yulian Rinawaty Taaha, Nursini dan Agussalim

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menanalisis pengaruh dana perimbangan yang
terdiri dari DBH, DAU, DAK terhadap investasi swasta, pengaruh dana perimbangan yang terdiri
dari DBH, DAU, DAK terhadap pertumbuhan ekonomi dan pengaruh DBH, DAU, DAK terhadap
pertumbuhan ekonomi melalui investasi swasta di Provinsi Sulawesi Tengah. Penelitian ini di
Provinsi Sulawesi Tengah. Data yang digunakan adalah data sekunder runtun waktu selama runtun
waktu 9 tahun (2001-2009). Data dianalisis dengan menggunakan program SPSS versi 16.00. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa DBH, DAU, DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap
investasi swasta. DBH, DAU, DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. DBH, DAU, DAK berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
melalui investasi swasta.
Kata Kunci : Dana Perimbangan, Investasi Swasta, Pertumbuhan Ekonomi

ABSTRACK
The aims of the research are the find out and analyse the influence of balance fund consisting of
Profit Sharing Fund, Public Allocation Fund, and Special Allocation Fund on on private
investment, the influence of balance fund consisting of Profit Sharing Fund, Public Allocation
Fund, and Special Allocation Fund on economic growth through private investment in Central
Sulawesi Province. The research was conducted in Central Sulawesi Province. The data were
secondary data of time series obtained for nine years (2001 2009). They were analyzed by using
SPSS program version 16.00. The results reveal that reveal that Profit Sharing Fund, Public
Allocatian Fund, Special Allocation Fund have a positive and significanct influence on private
investmen. Profit Sharing Fund, Public Allocation Fund, and Special Allocation Fund have a
positive and significant influence on economic growth. Profit Sharing Fund, Public Allocation
Fund, and Special Allocation Fund have a positive and signivicant influence on economic growth
through private investment
Key words : Balance fund, Private investment, economic growth

PENDAHULUAN
Pemerintah
pada
dasarnya
mempunyai tiga fungsi utama dalam rangka
menyelenggarakan pemerinthan, pelayanan
masyarakat dan pembangunan. Ketiga
fungsi yang dimaksud meliputi : fungsi
alokasi,
distribusi,
dan
stabilisasi
(Musgrave, 1973).

Salah satu sasaran pokok dari


pelaksanaan desentralisasi fiskal adalah
untuk mendekatkan pemerintah dengan
masyarakat, sehingga kebutuhan dari pihak
masyarakat dapat dipahami betul oleh pihak
pemerintah. Konsekuensinya, pemerintah
perlu untuk memberikan alokasi belanja
pembangunan sektor publik yang lebih
besar untuk tujuan ini. Untuk membiayai

alokasi tersebut, sumber dana dapat


diperoleh misalnya dari : (1) Dana
Perimbangan, (2) Pendapatan Asli Daerah
(PAD), (3) Pinjaman Daerah dan lain-lain
penerimaan yang sah (Halim,2001).
Instrumen
fiskal
dari
dana
perimbangan berguna untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi, melalui belanja
pembangunan dan investasi swasta.
Kontribusi belanja pembangunan akan
menarik investor untuk berinvestasi di
daerah sehingga akan memperluas basis
kegiatan ekonomi berbagai sektor, dan
secara khusus memperluas lapangan usaha
dan menurunkan tingkat pengangguran.
Implementasi
pelaksanaan
desentralisasi fiskal, dapat ditelaah melalui
alokasi penerimaan dana perimbangan,
seperti yang diterima oleh pemerintah
Provinsi Sulawesi Tengah, yakni bahwa
besarnya DBH sebesar 14,5 milyar pada
tahun 2001 dan naik menjadi sebesar 36,1
milyar pada tahun 2009 atau rata-rata
kenaikan setiap tahun sebesar 3,9 %.
Selanjutnya, DAU sebesar 126,4 milyar
pada tahun 2001 dan naik menjadi 366,1
milyar pada tahun 2009 atau rata-rata
kenaikan setiap tahun sebesar 4,25%.
Begitupula DAK yang besarnya 2,1 milyar
pada tahun 2001 dan naik menjadi 15,2
milyar pada tahun 2009 atau rata-rata
kenaikan setiap tahun sebesar 6,6 %.
Dengan
demikian
perolehan
dana
perimbangan selama periode 2001 sebesar
143 milyar naik menjadi 407,4 milyar pada
tahun 2009 atau naik rata-rata setiap tahun
3,33 %.
Melalui penerimaan dana
perimbangan diatas, pembangunan untuk
kepentingan publik pada periode 2001/2002
sebesar 12,93 % dan turun pada periode
2008/2009 sebasar (5,42 %). Akibat
turunnya alokasi pembiayaan pembangunan
dapat berpengaruh pula pada kegiatan
investasi swasta. Kegiatan investasi swasta
pada periode 2001/2002 sebesar 9,89 %
turun pada periode 2008/2009 yakni sebesar
(5,07%). Kontribusi investasi swasta
terhadap pertumbuhan ekonomi di Sulawesi
Tengah tahun 2001 sebesar 9,89 % dan
pada tahun 2009 mengalami penurunan

sebesar (5,07 %). Hal ini dapat dilihat pada


tingkat pertumbuhan ekonomi selama
periode 2001/2002 sebesar 16,16 % turun
pada periode 2001/2002 sebesar (12,10%)
(BPS Sulteng, 2009).
Penelitian Oates (1993) bahwa
desentralisasi fiskal akan menciptakan
efisiensi ekonomi dan memilki pengaruh
pembentukan dinamis pada pertumbuhan
ekonomi.. Selanjutnya, penelitian Wolen
dan Philips (1998) dalam Armida (2000)
temuannya bahwa desentralisasi fiskal
memiliki
hubungan negatif dengan
pertumbuhan ekonomi Dari kedua hasil
penelitian tersebut, menarik untuk diteliti
tentang pengaruh dana perimbangan
terhadap pertumbuhan ekonomi.
Perumusan Masalah
Dari penjelasan pada latar belakang
diatas,
maka
pertanyaan
penelitian
(research question) sebagai berikut :
1. Seberapa
besar
pengaruh
dana
perimbangan yang terdiri dari DBH,
DAU, DAK terhadap investasi swasta di
Provinsi Sulawesi Tengah?
2. Seberapa
besar
pengaruh
dana
perimbangan yang terdiri dari DBH,
DAU, DAK terhadap pertumbuhan
ekonomi di Propinsi Sulawesi Tengah?
3. Seberapa
besar
pengaruh
dana
perimbangan yang terdiri dari DBH,
DAU, DAK terhadap pertumbuhan
ekonomi melalui variabel investasi
swasta di Provinsi Sulawesi Tengah?
TINJAUAN PUSTAKA
Desentralisasi Fiskal
Menurut
Brodjonegoro
(2000),
desentralisasi fiskal merupakan penyerahan
wewenang fiskal kepada daerah yang
meliputi : (1) self financing atau cost
recovery dalam pelayanan publik dalam
bentuk restribusi daerah, (2) cofinancing
atau coproduction yaitu penggunaan jasa
publik beradaptasi dalam bentuk kontribusi

kerja sama atau pembayaran jasa, (3)


transfer dari pusat ke daerah terutama yang
berasal sumbangan umum, sumbangan
khusus, sumbangan darurat serta bagi hasil
pajak dan non pajak, dan (4) kebebasan
daerah untuk melakukan pinjaman.
Melalui desentralisasi fiskal seperti
ini diharapkan dapat
meningkatkan
efektifitas pembangunan dan penyediaan
pelayanan umum karena semakin dekatnya
masyarakat dengan pemerintah sehingga
mampu
mengakomodasi
kondisi
masyarakat dan wilayah yang heterogen.
Menurut
Sidik (2004),
Dana
Perimbangan adalah dana yang bersumber
dari APBN yang dialokasikan kepada
daerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan desentralisasi.
Dana perimbangan bertujuan mengurangi
kesenjangan fiskal antara pemerintah pusat
dan
pemerintah
daerah,dan
antar
pemerintah daerah. pengembangan ekonomi
lokal, yakni bersumber dari
1.

Dana Bagi Hasil (DBH)


Dana bagi hasil adalah dana yang
bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah berdasarkan
angka
persentase
untuk
mendanai
kebutuhan
daerah
dalam
rangka
pelaksanaan desentralisasi, misalnya dana
bagi hasil pajak (DBHP) dan dana bagi
hasil bukan pajak (DBHBP) (Sidik, 2004).
2. Dana Alokasi Umum (DAU)
Dana alokasi umum adalah dana
yang bersumber dari pendapatan APBN
yang
dialokasikan
dengan
tujuan
pemerataan kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah
dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
(Irawati,2008).
3. Dana Alokasi Khusus (DAK) adalah
dana yang bersumber dari pendapatan
APBN yang dialokasikan kepada daerah
tertentu dengan tujuan untuk mendanai
kegiatan khusus yang merupakan urusan
daerah dan sesuai dengan perioritas
nasional (Irawati,2008).

Investasi Swasta
Investasi menurut Sadono Sukirno
(2000) adalah pengeluaran-pengeluaran
untuk membeli barang-barang modal dan
peralatan-peralatan produksi dengan tujuan
untuk mengganti dan terutama menambah
barang-barang modal dalam perekonomian
yang akan digunakan untuk memproduksi
barang dan jasa dimasa yang akan datang
Sementara
Sukirno
(1996),
menyebutkan investasi adalah pengeluaran
atau pembelanjaan penanam-penanam
modal atau perusahaan untuk membeli
barang-barang modal dan perlengkapanperlengkapan produksi untuk menambah
kemampuan memproduksi barang-barang
dan jasa-jasa dalam perekonomian.
Pertumbuhan Ekonomi
Kuznet dalam Jhingan (1994)
mendefinisikan pertumbuhan ekonomi
sebagai kenaikan jangka panjang dalam
kemampuan
suatu
Negara
untuk
menyediakan semakin banyak
jenis
barang-barang
ekonomi
kepada
penduduknya.
Boediono(1992)
memberikan
batasan pertumbuhan ekonomi yaitu proses
kenaikan output perkapita dalam jangka
panjang, dari sini dapat kita pahami bahwa
defenisi tersebut menekankan pada tiga
aspek yakni proses, output perkapita, dan
jangka
panjang
artinya
bahwa
perekonomian itu mengalami perubahan
waktu ke waktu. Adanya kenaikan output
perkapita berarti ada dua sisi yang penting
untuk diketahui yaitu output dan jumlah
penduduknya.
Penelitian Empiris
Sasana, Hadi (2005) telah melakukan
penelitian mengenai dampak pelaksanaan
desentralisasi
terhadap
pertumbuhan
ekonomi di Kabupaten/Kota Provinsi
Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil
penelitiannya menunjukan bahwa DBH
mempunyai
hubungan
positif
dan
berpengaruh secara signifikan terhadap
pertumbuhan ekonomi hanya di Kabupaten
Sleman dan Kota Yogyakarta. Dana alokasi

umum berpengaruh secara negatif dan


signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
di kabupaten Bantul, kabupaten Sleman,
kabupaten Gunung Kidul dan kota
Yogyakarta. DAK berpengaruh positif dan
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi
di seluruh kabupaten/kota
provinsi
Istimewa Yogyakarta
Irine (2002). Pengaruh Investasi
PMA dan PMDN terhadap Penciptaan
Kesempatan Kerja serta Pertumbuhan
Ekonomi di Kabupaten Labuhan Batu.
Temuan penelitian adalah investasi yang
masuk ke Labuhan Batu mempunyai
pengaruh nyata terhadap penciptaan
lapangan kerja, namun berpengaruh tidak
nyata terhadap pertumbuhan ekonomi.
Novita (2007). Analisa Pengaruh
Investasi dan Tenaga Kerja terhadap PDRB
Sumatra Utara. Temuan penelitian ini
adalah investasi sebelumnya, jumlah tenaga
kerja
dan
kondisi
perekonomian
berpengaruh positif terhadap PDRB
Sumatra Utara.
Kerangka Pikir
Kebijakan
otonomi
daerah
melahirkan konsep desentralisasi fiskal.
Desentralisasi fiskal adalah wujud otonomi
daerah yakni merupakan pelimpahan
wewenang kepada daerah untuk menggali
dan menggunakan sendiri sumber-sumber
penerimaan derah sesuai dengan potensi
dan kebutuhan masing-masing daerah
(Brojonegoro, 2000).
Dana perimbangan terdiri dari
DBH, DAU, DAK akan berpengaruh
terhadap pertumbuhan ekonomi melalui
investasi swasta. Dana perimbangan terdiri
dari DBH, DAU, DAK diperoleh dari dana
APBN (Sidik,2004), yang dialokasikan
pada pembiayaan pembangunan yakni
infrastruktur publik berupa sarana ekonomi
publik,
ekonomi
produktif,
dan
pengembangan ekonomi lokal daerah akan
berpengaruh pada kegiatan investasi swasta
di daerah Provinsi Sulawesi Tengah.
Kegiatan investasi swasta akan
berpengaruh
terhadap
pertumbuhan
ekonomi, yaitu meningkatnya ketersediaan
kapasitas produksi barang dan jasa yang

dibutuhkan
masyarakat.
Tumbuhnya
ekonomi suatu daerah jika serta dapat
menciptakan kesempatan kerja dan
meningkatkan pendapatan perkapita
Hipotesis
1. Dana perimbangan yang terdiri dari
(DBH, DAU, DAK) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap investasi swasta
di Provinsi Sulawesi Tengah.
2. Dana perimbangan yang terdiri dari
(DBH, DAU, DAK) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi di Provinsi Sulawesi Tengah.
3. Dana perimbangan yang terdiri dari
(DBH, DAU, DAK), berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi melalui variabel investasi
swasta di Provinsi Sulawesi Tengah
METODE PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di
Provinsi Sulawesi Tengah pada kantor
Badan Pusat Statistik, Kantor Dinas
Pendapatan, kantor Bappeda, dan kantor
BPPMDN Provinsi Sulawesi Tengah.
Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data kuantitatif, yaitu
data sekunder runtun waktu (time series)
selama dalam waktu 9 tahun (2001
2009). Sumber data utama berasal dari
publikasi
BPS,
Dinas
Pendapatan,
Bappeda, dan BPPMDN

HASIL DAN PEMBAHASAN


1.

Analisa
Pengaruh
Perimbangan terhadap
swasta

Dana
Investasi

Untuk mengetahui sejauh


pengaruh DBH (X1), DAU (X2), dan
(X3) terhadap investasi swasta (Y)
digunakan analisis secara parsial

mana
DAK
dapat
yang

dijelaskan melalui persamaan regresi yang


diperoleh:
Y = 0,042 + 0,022X1 + 0.216 X2
X3

+ 0.023

Nilai koefisien DBH (X1) adalah


positif sebesar 0.032 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.032 rupiah pada
investasi swasta di Provinsi Sulawesi
Tengah. Tingkat signifikansi yang diambil
untuk penelitian ini adalah 5 persen
(=0,05) maka DBH berpengaruh secara
signifikan terhadap investasi swasta.
Nilai koefisien DAU (X2) adalah
positif sebesar 0.058 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan 0.058 rupiah pada investasi
swasta. Tingkat signifikansi yang diambil
untuk penelitian ini adalah 5 persen
(=0,05, DAU berpengaruh secara positif
dan signifikan terhadap tingkat investasi
swasta.
Nilai koefisien DAK (X3) adalah
positif sebesar 0.040 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.040 rupiah pada
investasi swasta. DAK berpengaruh secara
positif dan signifikan terhada
tingkat
investasi swasta.
2.

Analisa
Pengaruh
Perimbangan
Pertumbuhan Ekonomi

Dana
Terhadap

Untuk mengetahui sejauh mana


pengaruh DBH (X1), DAU (X2), dan DAK
(X3) dapat digunakan analisis secara parsial
yang dijelaskan melalui persamaan regresi
yang diperoleh:
Z = 0.703 + 0.194 X1 + 2.126 X2 + 0.399X3
Pengaruh
DBH
terhadap
pertumbuhan ekonomi adalah signifikan
pada tingkat signifikansi penelitian 5 persen
(=0,05) yaitu dengan nilai 0.005.Nilai
koefisien DBH (X1) adalah positif sebesar
0.194 yang berarti jika terjadi kenaikan 1
rupiah maka membawa peningkatan sebesar

0.194 rupiah terhadap pertumbuhan


ekonomi di Provinsi Sulawesi Tengah.
Pengaruh
DAU
terhadap
pertumbuhan ekonomi adalah signifikan
pada tingkat signifikansi penelitian 5 persen
(=0,05) yaitu dengan nilai 0.022
Nilai koefisien DAU (X2) adalah
positif sebesar 2.126 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan
2.126
rupiah terhadap
pertumbuhan ekonomi.
Pengaruh
DAK
terhadap
pertumbuhan ekonomi adalah signifikan
pada tingkat signifikansi penelitian 5 persen
(=0,05) yaitu dengan nilai 0.005
Nilai koefisien DAK (X3) adalah
positif sebesar 0.399 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.399 rupiah terhadap
pertumbuhan ekonomi.
3.

Analisa
Pengaruh
Dana
Perimbangan (DBH, DAU, DAK)
terhadap
Pertumbuhan Ekonomi
melalui Investasi Swasta di Provinsi
Sulawesi Tengah
Untuk mengetahui sejauh mana
pengaruh DBH (X1), DAU (X2), DAK (X3),
dan Investasi Swasta (Y) dapat digunakan
analisis secara parsial yang dijelaskan
melalui persamaan regresi yang diperoleh:
Z = 0.043 + 0.272 X1 + 1.185X2 + 0.480 X3
+ 0.563 Y
1. Pengaruh DBH (X1) Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi (Z) melalui
Investasi Swasta(Y)
Berdasarkan hasil regresi dari tabel
diatas menunjukkan bahwa pengaruh DBH
terhadap pertumbuhan ekonomi melalui
investasi swasta adalah signifikan pada
tingkat signifikansi penelitian 5 % (=0,05)
yaitu dengan nilai 0.014.
Nilai koefisien DBH (X1) adalah
positif sebesar 0.272 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.272 rupiah terhadap
pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sulawesi
Tengah.

2. Pengaruh DAU (X2) Terhadap


Pertumbuhan Ekonomi (Z) melalui
Investasi Swasta
Nilai koefisien DAU (X2) adalah
positif sebesar 1.185 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan 1.185
rupiah
terhadap
pertumbuhan ekonomi melalui investasi
swasta. Tingkat signifikansi yang diambil
untuk penelitian ini adalah 5 persen
(=0,05) yaitu dengan nilai 0.052.
3. Pengaruh DAK (X3) Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi (Z) melalui
Investasi Swasta
Nilai koefisien DAK (X3) adalah
positif sebesar 0.480 yang berarti jika
terjadi kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.480 rupiah terhadap
pertumbuhan ekonomi melalui investasi
swasta. Tingkat signifikansi yang diambil
untuk penelitian ini adalah 5 persen
(=0,05) yaitu dengan nilai 0.025.
4. Pengaruh Investasi Swasta (Y)
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi
(Z)
Nilai koefisien Investasi Swasta (Y)
adalah positif sebesar 0.562 jika terjadi
kenaikan 1 rupiah maka membawa
peningkatan sebesar 0.562 rupiah terhadap
pertumbuhan ekonomi. Tingkat signifikansi
yang diambil untuk penelitian ini adalah 5
persen (=0,05) yaitu dengan nilai 0.042.

mengindikasikan bila sebuah daerah


ingin menumbuhkan investasi swasta,
maka dana perimbangan yang terdiri
dari DBH, DAU, DAk
tersebut
seyogyanya juga tumbuh secara
positif.
2. Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi
Umum (DAU) dan berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Oleh karena itu, dana
perimbangan
dialokasikan
pada
pembangunan infrastruktur untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi. Hal
ini
mengindikasikan
bahwa
pembangunan infrastruktur ekonomi
berdasarkan
kebutuhan
dapat
mendorong kegiatan produksi barang
atau jasa sehingga ekonomi daerah
akan tumbuh.
3. Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi
Umum (DAU) dan Dana Alokasi
Khusus (DAK) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi melalui investasi swasta.
Besar dan kecilnya dana perimbangan
yang dialokasikan pada pembangunan
sarana dan prasarana penunjang
kegiatan ekonomi akan berpengaruh
pada investasi swasta. Dengan adanya
kegiatan investasi swasta akan
menciptakan kesempatan kerja, dan
menciptakan multiple effect sehingga
berpengaruh terhadap pertumbuhan
ekonom

KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
1. Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi
Umum (DAU), dan Dana Alokasi
Khusus (DAK) berpengaruh positif
dan signifikan terhadap investasi
swasta. Artinya, dana perimbangan
tersebut dialokasikan pada pembiayaan
infrastruktur ekonomi yang pada
akhirnya menunjang kegiatan investasi
swasta. Ketertarikan investor untuk
melakukan investasi di daerah adalah
karena
tersedianya sarana
dan
prasarana yang menunjang kegiatan
produksi barang dan jasa. Hal ini

Adi,

Wijaya,
2005.
Kebijakan
Pembangunan Ekonomi Daerah di
Era Otonomi Daerah, Laporan
Penelitian LIPI

Akai

dan
Sakata,
2005
Fiscal
Decentralization, Commitment and
Regionality: Evidence From State
Level Cross Sectional Data for The
United States, DIRJE Discussion
Paper,diakses 10 Maret 2010

Armida, 2000 Desentralisasi Fiskal dan


Kebijakan Pembangunan Ekonomi
Daerah.
http//www.alisyah@melisa,diakses 4
Maret 2010
Bahl, Ray W. and J. Linn 1994 Fiscal
Decentralization
and
Intergovermental Transfer in Less
Developed Countries Publius : The
Journal of Federalism Vol 24 winter
Brojonegoro, Bambang,2000. Otonomi
Daerah
dan
Kondisi
Fiskal
Indonesia, Jakarta
Budiono, 2002. Kebijakan Pengelolaan
Keuangan Negara dalam Rangka
Pelaksanaan Azas Desentralisasi
Fiskal. Paper disampaikan Rapat
Koordinasi Pendayagunaan Aparatur
Negara Tingkat Nasional, Jakarta
Boediono, 2008. Dimensi Ekonomi Politik
Pembangunan Indonesia. Jurnal
Keuangan Publik. Vol 5 No. 1
Yogyakarta
Dartanto dan Brojonegoro, 2003 Dampak
Desentralisasi Fiskal di Indonesia
Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan
Disparitas Daerah. Aanalisa Model
Eknomi Makro Simultan Jurnal
Ekonomi
dan
Pembangunan
Indonesia, Vol. 4 No. 1
Gujarati, Damodar, 2006. Ekonometrika
Dasar, Penerbit Erlangga, Jakarta
Irine, (200). Pengaruh Investasi PMA dan
PMDN
terhadap
Penciptaan
Kesempatan
Kerja,
serta
Pertumbuhan Ekonomi di Kabupaten
Labuhan Batu. Tesis Universitas
Sumatera Utara
Joko, 2007. Desentralisasi Fiskal dan
Kontribusinya
Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi. Studi Kasus :
Kabupaten/Kota di Indonesia
Tesis
UI
http://www.tesis
joko.com.diakses 1 Maret 2010

Mahi, Raksaka, 2004. Review Empat Tahun


Pelaksanaan Desentralisasi Fiskal di
Indonesia,
Makalah
Seminar
Program Studi Ilmu Ekonomi
Pascasarjana FEUI dan ISEI Pusat,
Jakarta
Mardiasmo 2002 Otonomi dan Manajemen
Keuangan Daerah, Yogyakarta,
Penerbit Andi
Oates, Wallace, 1999. an Essay on Fiscal
Federation Journal of Economic
Literature Vol 37
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia
No 55 Tahun 2005 tentang Dana
Perimbangan
Priyop Hari, Adi 2006 Hubungan Antara
Pertumbuhan Ekonomi, Belanja
Pembangunan dan Pendapatan Asli
Daerah di Kabupaten/Kota se Jawahttp://www.tesis
(tidak
Bali
dipublikasi)
Raharjo,
Adi, (2006)
Pengaruh
Pengeluaran pemerintah, Investasi
Swasta dan Angkatan Kerja terhadap
Pertumbuhan Ekonomi Tahun 19822003). Studi Kasus di Kota
Semarang,
Tesis
UNDIP
(dipublikasikan)
Saragih, JP, 2003. Desentralisasi Fiskal
dan Keuangan Daerah dalam
Otonomi. Penerbit Ghalia Indonesia,
Jakarta
Sasana, Hadi, 2005 Pengaruh Pelaksanaan
Desentralisasi
terhadap
Pertumbuhan
Ekonomi
di
Kabupaten/Kota Provinsi Daerah
Istimewa
Yogyakarta,
http://www.tesis
UGM
(tidak
dipublikasi)
Sidik,

Mahfud, 2002. Perimbangan


Keuangan Pusat dan Daerah :
Antara Teori dan Aplikasinya di
Indonesia.
Disampaikan
pada
seminar Setahun Implementasi

Kebijaksanaan Otonomi Daerah di


Indonesia, Yogyakarta
Sukirno,
Sudono,
1985.
Ekonomi
Pembangunan FEUI dan Bina Grafika,
Jakarta
Sulistiawan (2005), Pengaruh DBH, BAU,
DAK
terhadap
Belanja
Pembangunan
Surakarta.
Tesis
UNDIP, (Publikasi)
Suparmoko, M, 2001. Ekonomi Politik :
untuk Keuangan dan Pembangunan
Daerah , Andi, Yogyakarta
Teguh, 2002. Dampak Desentralisasi
Fiskal di Indonesia terhadap
Pertumbuhan
Ekonomi
dan
Disparitas antar Daerah, Jakarta.
tesis UI (tidak dipublikasikan)

------------------ Undang-Undang No. 25


Tahun
1995
tentang
Perimbangan
Keuangan
Pemerintah
Pusat
dan
Pemerintah Daerah
------------------ Undang-Undang No 32
Tahun 2004 tantang Pemerintah Daerah
------------------ Undang-Undang No 32
Tahun
2004
tantang
Perimbangan
Keuangan
Pemerintah
Pusat
dan
Pemerintah Daerah
Waluyo,
Joko,
2007.
Dampak
Desentralisasi
Fiskal
terhadap
Pertumbuhan sEkonomi dan Ketimpangan
Pendapatan Antar Daerah di Indonesia.
http:///www.waluyo.com
diakses
28
Februari
2010

Anda mungkin juga menyukai