Anda di halaman 1dari 12

KLASIFIKASI GANGGUAN JIWA

Disusun Oleh:
1.
2.
3.
4.
5.

Azar Hanifah
Firmansyah R.P.
Lia Liana
Purwita Ambarsari
Yuniarsi

(P 068)
(P 078)
(P 088)
(P 099)
(P 110)

PROGAM DIPLOMA III JURUSAN FISIOTERAPI


JURUSAN FISIOTERAPI
POLTEKKES KEMENKES SURAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Alkhamdulillah hirabbilalamin. Segala puji bagi Allah yang telah menolong kami
menyelesaikan makalah ini dengan penuh kemudahan. Tanpa pertolongan-NYA mungkin
penyusun tidak akan sanggup menyelesaikan dengan baik. Shalawat dan salam semoga
terlimpah curahkan kepada baginda tercinta yakni nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Ilmu Kesehatan Jiwa {Psikiatri} tentang
Klasifikasi Gangguan Jiwa, yang penyusun sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Makalah ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang
dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan penuh kesabaran dan
terutama pertolongan dari Tuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.
Makalah ini memuat tentang Klasifikasi Gangguan Jiwa yang sangat berbahaya
bagi kesehatan jiwa seseorang. Walaupun makalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga
memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca. Semoga makalah ini dapat memberikan
wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Wassalamualaikum. Wr. Wb.

Maret 2013
penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Penderita gangguan jiwa dari tahun ke tahun semakin bertambah. Sedikitnya 20%
penduduk dewasa Indonesia saat ini menderita gangguan jiwa, dengan 4 jenis penyakit
langsung yang ditimbulkannya yaitu depresi, penggunaan alkohol, gangguan bipolar,
danskizoprenia. Sementara WHO mengatakan gangguan jiwa di seluruh dunia telah menjadi
masalah serius. Pada 2001 terdapat 450 juta orang dewasa yang mengalami gangguan jiwa.
Pasien dengan ganguan jiwa dapat melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya ataupun
orang lain disekitarnya, hal tersebut dikelompokkan dalam kegawat daruratan psikiatrik,
dimana gaduh gelisah merupakan salah satu bagiannya.
Solomon (1971) menganggap bahwa pasien serupa ini harus segera ditolong, karena
tindakan yang tepat ini akan sangat bermanfaat tidak saja bagi pasien karena ia menjadi lebih
tenang, tapi juga akan memberikan suasana yang lebih baik bagi keluarga atau teman
terdekatnya.
Keadaan gaduh gelisah bukanlah merupakan diagnosis tersendiri dalam psikiatri, dan
keadaan ini dapat diakibatkan oleh bermacam-macam penyebab dan harus ditentukan tiap
kali pada setiap pasien. Biasanya gaduh gelisah ini merupakan manifestasi dari Psikosa (baik
psikosa yang disebabkan oleh gangguan otak organik, maupun psikosa fungsional seperti
skizofrenia, psikosa afektif, psikosa paranoid maupun psikosa reaktif), tapi tidak jarang
gangguan psikiatrik lain pun mempunyai gambaran yang serupa.
Gangguan psikiatrik lainnya yang dapat mengakibatkan gangguan ini antara lain
panik yang akut, psikopat berat, gejala lepas obat pada para pecandu, gangguan situasional
sementara, keadaan yang terikat pada kebudayaan setempat seperti AMOK. Demikian pula
,retardasi mental tertentu, tidak jarang disertai dengan gangguan/kelainan jenis ini, walaupun
hal ini umumnya dipresipitir oleh suatu keadaan yang mengakibatkan dekompensasi
mentalnya. Hal inilah yang menarik bagi penulis untuk mengangkat Klasifikasi Gangguan
Jiwa sebagai pendekatan yang dipakai dalam tulisan ini.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah pada makalah ini adalah, sebagai berikut:
1. Apa pengertian gangguan jiwa?
2. Apa saja klasifikasi gangguan jiwa?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam makalah ini adalah sebagai berikut::
1. Mengetahui pengertian gangguan jiwa
2. Mengetahui apa saja klasifikasi gangguan jiwa.
D. Manfaat Penelitian
Makalah ini diharapkan memiliki manfaat, yaitu:
1. Bagi Tenaga Kesehatan, dijadikan kajian awal tentang klasifikasi gangguan jiwa.

2.

Bagi Pembaca, dapat memberi informasi dan wawasan tentang gangguan jiwa dan
klasifikasinya.

BAB II
ISI
A. Gangguan Jiwa Menurut PPDGJ III
Gangguan jiwa adalah pola perilaku atau psikologik yang secara klinis bermakna dan
secara khas berkaitan dengan gejala, penderitaan (distress) serta hendaya (impairment) dalam
fungsi psikososial. Gangguan jiwa adalah gangguan dalam : cara berpikir (cognitive),
kemauan (volition,emosi (affective), tindakan (psychomotor). Dari berbagai penelitian dapat
dikatakan bahwa gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal,
baik yang berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Keabnormalan tersebut dibagi
ke dalam dua golongan yaitu : gangguan jiwa (Neurosa) dan Sakit jiwa (psikosa).
Keabnormalan terlihat dalam berbagai macam gejala yang terpenting diantaranya adalah:
ketegangan(tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-perbuatan yang
terpaksa(Convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu mencapai tujuan, takut, pikiranpikiranburuk dsb.
Banyak sekali jenis gangguan dalam cara berpikir (cognitive). Untuk memudahkan
memahaminya para ahli mengelompokan kognisi menjadi 6 bagian seperti sensasi,
persepsi,perhatian, ingatan, asosiasi pikiran kesadaran. Masing-masing memiliki kelainan
yang beraneka ragam. Contoh gangguan kognisi pada persepsi: merasa
mendengar(mempersepsikan) sesuatu bisikan yang menyuruh membunuh, melempar, naik
genting,membakar rumah dsb. Padahal orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara
tersebut sebenarnya tidak ada hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk
kecemasan yang sangat berat diarasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, pasien bisa
mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak ada.
Contoh gangguan kemauan: pasien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah membuat
keputusan atau memulai tingkah laku. Pasien susah sekali bangun pagi, mandi, merawat diri
sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan.
Banyak sekali jenis gangguan kemauan ini mulai dari sering mencuri barang yang
mempunyai arti simbolis sampai melakukan sesuatu yang bertentangan dengan yang
diperintahkan (negativime) Contoh gangguan emosi: pasienmerasa senang, gembira yang
berlebihan (Waham kebesaran). Pasien merasa sebagai orang penting, sebagai raja,
pengusaha, orang kaya, titisan Bung karno dsb. Tetapi di lain waktu ia bisa merasa sangat
sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri hidupnya. Contoh
gangguan psikomotor : Hiperaktivitas, pasien melakukan pergerakan yang berlebihan naik ke
atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-loncat, melakukan apa-apa yang tidak
disuruh atau menentang apa yang disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan gerakan

a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)
h)
i)
j)
k)
l)

1.
2.
3.
4.

a)
b)

aneh. Berdasarkan gejala-gejala yang muncul gangguan jiwa kemudian dikelompokan


menjadi beberapa jenis. Definisi jiwa yang sehat (mental health) seseorang dinyatakan sehat
jiwanya, apabila ia memiliki kepribadian sedemikian rupa sehingga mampu mengadakan
adaptasi dan re-adaptasi terhadap berbagai stress yang dihadapi.
Sehat menurut WHO: the presence of physical and emosional well being.Ciri ciri
seorang dewasa yang sehat jiwanya :
Sadar akan diri/identitas dirinya
Punya tujuan hidup
Punya rasa mandiri
Dapat menerima realita
Mampu menjalin hubungan dengan orang lain
Dapat memahami kebutuhan kebutuhan orang lain
Mampu menjalin hubungan heteroseksual dan mencapai kepuasan
bersama
Aktif dan produktif
Mampu melaksanakan tugas dengan baik
Mampu memberikan respon yang fleksibel terhadap stres yang dihadapi
Mampu menikmati kesenangan dalam hidupnya
Mampu menerima kekurangan kekurangan dirinya secara realistik
Bagi seorang individu yang mengalami stres, akan timbul gejala gangguan jiwa atau
tidak, tergantung dari kemampuan adaptasinya. Kemampuan adaptasi tidak sama pada setiap
orang dan kemampuan ini ada batasnya. Gangguan jiwa akan tampak pada :
Ada fiksasi, yaitu adanya keterbatasan dalam aktualisasi diri
Hilang atau berkurangnya fungsi fungsi kejiwaan yang telah ada
Tingkah laku regresif yang berulang
Adanya afek yang tidak semestinya.
Gejala gangguan jiwa merupakan proses yang punya tujuan untuk defensif protektif,
dan reparatif terhadap penyebab/akibat gangguan jiwa yang dapat mempengaruhi situasi
kepribadian dan menimbulkan gejala gejala klinis. Gejala klinis pada dasarnya merupakan :
Kemampuan dalam penyesuaian terhadap penyebab gangguan jiwa yang berupa
kondisifisiologis, psikologis atau sosial.
Ketidak efektivan dalam penyesuaian epidemiologi Gangguan Jiwa.
The World Health Report 2001: 25% penduduk di dunia pernah mengalami gangguan
jiwa pada suatu masa dalam hidupnya, 40% diantaranya didiagnosis secara tidak tepat. Hasil
penelitian Departemen Kesehatan dan Universitas Indonesia di Jawa Barat (2002): 36%
pasien yang berobat ke puskesmas mengalami gangguan kesehatan jiwa. Gangguan yang
umum terjadi adalah gangguan afektif atau gangguan mood, yaitu kecemasan, depresi dan
mania.
Penyebab Umum Gangguan jiwa
Penyebab gangguan jiwa karena manusia bereaksi secara keseluruhan : somato-psikososial. Hal-hal yang dapat mempengaruhi perilaku manusia:
Keturunan dan konstitusi
Umur
Sex
Keadaan badaniah
B.

1)
2)
3)
4)

5)
6)
7)
8)
9)
10)
11)
12)
13)
14)
15)

Keadaan psikologik
Keluarga dan adat istiadat
Kebudayaan
Kepercayaan
Pekerjaan
Pernikahan
Kehamilan
Kehilangan dan kematian orang yang dicintai
Agresi
Rasa permusuhan
Hubungan antar manusia.
Proses Perjalanan Penyakit
Gejala mulai timbul biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan
umur pertengahan dengan melalui beberapa fase antara lain:
Fase Prodomal Berlangsung antara 6 bulan sampai 1 tahun.
Gangguan dapat berupa Selfcare, gangguan dalam akademik, gangguan dalam
pekerjaan,gangguan fungsi sosial, gangguan pikiran dan persepsi.
Fase Aktif Berlangsung kurang lebih 1 bulan
Gangguan dapat berupa gejala psikotik; Halusinasi, delusi, disorganisasi proses berfikir
,gangguan bicara, gangguan perilaku, disertai kelainan neurokimiawi.
Fase Residual
Mengalami minimal 2 gejala gangguan afek dan gangguan peran, serangan biasanya
berulang.
Tahapan halusinasi dan delusi yang biasa menyertai gangguan jiwa menurut Janice
Clack,1962. Klien yang mengalami gangguan jiwa sebagian besar disertai halusinasi dan
delusi yang meliputi beberapa tahapan antara lain :
Tahap Comforting :
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasanya
mengkompensasikan stressornya dengan coping imajinasi sehingga merasa senang dan
terhindar dari ancaman.
C.

1.

2.

3.

1.

2.

3.

4.

Tahap Condeming :
Timbul kecemasan moderate, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien
merasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa
yang dirasakan sehingga timbul perilaku menarik diri (With drawl).
Tahap Controling :
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara
tersebut terus menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan
orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian/sedih.
Tahap Conquering :
Klien merasa panik , suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti
perilaku klien dapat bersipat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.
Penggolongan gangguan jiwa pada PPDGJ-III menggunakan pendekatan ateoretik dan
deskriptif. Urutan hierarki blok diagnosis (berdasarkan luasnya tanda dan gejala, dimana
urutan hierarki lebih tinggi memiliki tanda dan gejala yang semakin luas :

1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)
10)

F00-09 dan F10-19


F20-2
F30-39
F40-49
F50-59
F60-69
F70-79
F80-89
F90-98
Kondisi lain yang menjadi focus perhatian klinis (kode Z)

Klasifikasi Gangguan Jiwa


F Gangguan Mental Organik, termasuk Gangguan Mental Simtomatik
Gangguan mental organic = gangguan mental yang berkaitan dengan
penyakit/gangguan sistemik atau otak. Gangguan mental simtomatik = pengaruh terhadap
otak merupakan akibat sekunder penyakit/gangguuan sistemik di luar otak.
Gambaran utama:
Gangguan fungsi kongnitif
Gangguan sensorium kesadaran, perhatian
Sindrom dengan manifestasi yang menonjol dalam bidang persepsi (halusinasi), isi pikir
(waham), mood dan emosi
Fl Gangguan Mental dan Perilaku Akibat Penggunaan Alkohol dan Zat PsikoaktifLainnya
F2 Skizofrenia, Gangguan Skizotipal dan Gangguan Waham.
Skizofrenia ditandai dengan penyimpangan fundamental dan karakteristik dari pikiran
dan persepsi, serta oleh afek yang tidak wajar atau tumpul. Kesadaran jernih dan kemampuan
intelektual tetap, walaupun kemunduran kognitif dapat berkembang kemudian
F3 Gangguan Suasana Perasaan (Mood [Afektif])
Kelainan fundamental perubahan suasana perasaan (mood) atau afek, biasanya kearah
depresi (dengan atau tanpa anxietas), atau kearah elasi (suasana perasaan yang meningkat).
Perubahan afek biasanya disertai perubahan keseluruhan tingkat aktivitas dan kebanyakan
gejala lain adalah sekunder terhadap perubahan itu
F4 Gangguan Neurotik, Gangguan Somatoform dan Gangguan Terkait Stres
F5 Sindrom Perilaku yang Berhubungan dengan Gangguan Fisiologis dan Faktor Fisik
D.

a.

b.
c.

d.

e.
f.

g.

h.

F6 Gangguan Kepribadian dan Perilaku Masa dewasa


Kondisi klinis bermakna dan pola perilaku cenderung menetap, dan merupakan
ekspresi pola hidup yang khas dari seseorang dan cara berhubungan dengan diri sendiri
maupun orang lain. Beberapa kondisi dan pola perilaku tersebut berkembang sejak dini dari
masa pertumbuhan dan perkembangan dirinya sebagai hasil interaksi faktor-faktor konstitusi
dan pengalaman hidup, sedangkan lainnya didapat pada masa kehidupan selanjutnya.
F7 Retardasi Mental
Keadaan perkembangan jiwa yang terhenti atau tidak lengkap, yang terutama ditandai
oleh terjadinya hendaya ketrampilan selama masa perkembangan, sehingga berpengaruh pada

tingkat kecerdasan secara menyeluruh. Dapat terjadi dengan atau tanpa gangguan jiwa atau
gangguan fisik lain. Hendaya perilaku adaptif selalu ada.
i.
F8 Gangguan Perkembangan Psikologis
Gambaran umum

Onset bervariasi selama masa bayi atau kanak-kanak

Adanya hendaya atau keterlambatan perkembangan fungsi-fungsi yang berhubungan erat


dengan kematangan biologis susunan saraf pusat

Berlangsung terus-menerus tanpa remisi dan kekambuhan yang khas bagi banyak gangguan
jiwa pada sebagian besar kasus, fungsi yang dipengaruhi termasuk bahasa, ketrampilan visuospasial, koordinasi motorik. Yang khas adalah hendayanya berkurang secara progresif dengan
bertambahnya usia
j.
F9 Gangguan Perilaku dan Emosional dengan Onset Biasanya Pada Masa Kanak dan Remaja.

A)
Diagnosis Multiaksial
Aksis I
Gangguan Klinis (F00-09, F10-29, F20-29, F30-39, F40-48, F50-59, F62-68, F80-89,
F90-98, F99) Kondisi lain yang menjadi fokus perhatian klinis (tidak ada diagnosis Z03.2,
diagnosis tertunda R69)
2. Aksis II
Gangguan Kepribadian (F60-61, gambaran kepribadian maladaptive, mekanisme
defensimaladaptif) Retardasi Mental (F70-79)(tidak ada diagnosis Z03.2, diagnosis tertunda
R46.8)
3. Aksis III
Kondisi Medik Umum
4. Aksis IV
Masalah Psikososial dan Lingkungan (keluarga, lingkungan social, pendidikan,
pekerjaan, perumahan, ekonomi, akses pelayanan kesehatan, hukum, psikososial)
5. Aksis V
Penilaian Fungsi Secara Global (Global Assesment of Functioning = GAF Scale) 10091 gejala tidak ada, fungsi max, tidak ada masalah yang tidak tertanggulangi
90-81 gejala min, fungsi baik, cukup puas, tidak lebih dari masalah harian biasa
80-71 gejala sementara dan dapat diatasi, disabilitas ringan dalam sosial
70-61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan dalam fungsi, secara umum baik
60-51 gejala dan disabilitas sedang
50-41 gejala dan disabilitas berat
40-31 beberapa disabilitas dalam hubungan dengan realita dan komunikasi, disabilitas berat dalam
beberapa fungsi
30-21 disabilitas berat dalam komunikasi dan daya nilai, tidak mampu berfungsi dalam hampir
semua bidang
20-11 bahaya mencederai diri/orang lain, disabilitas sangat berat dalam komunikasi dan mengurus
diri
10-01 persisten dan lebih serius informasi tidak adekuat
Tujuan diagnosis multiaksial :
1.

Informasi komprehensif sehingga membantu perencanaan terapi dan meramalkanoutcome


Format mudah dan sistematik sehingga membantu menata dan mengkomunikasikan informasi
klinis, menangkap kompleksitas situasi klinis, dan menggambarkan heterogenitas individu
dengan diagnosis yang sama
Penggunaan model bio-psiko-sosial.
B)

Koordinasi Psikiatri
Dalam bidang psikiatri, tugas seorang dokter adalah memeriksa pasien dan kemudian
menyimpulkan apakah pasien itu sehat atau terganggu jiwanya. Untuk itu, perlu dipelajari
tentang: metode, alat dan bahan yang harus diperiksa.
Alat yang dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan psikiatri adalah kepribadian si
pemeriksa sendiri. Metode / cara yang digunakan adalah : wawancara dan observasi. Dengan
wawancara dan observasi dilakukan pemeriksaan terhadap koordinat psikiatri yang nantinya
dapat dipakai sebagai dasar dalam kesimpulan pemeriksaan. Koordinat psikiatri terdiri atas :
1) Kesadaran
2) Alam perasaan
3) Pikiran
4) Perbuatan / tingkah laku
Penatalaksanaan gangguan jiwa
Somatoterapi
Medikamentosa
Antidepresan
Ansiolitik
Mood stabilize
Antipsikotik
Stimulan
Leukotomy
Bilateral cingulotomy
Deep brain stimulation
Psikoterapio Shock therapy
Insulin shock therapy
Electroconvulsive therapy
Psychosurgery
Cognitive Behavioral Therapy (CBT) : dilakukan pada gangguan jiwa secara luas.
Didasarkan pada modifikasi bentuk pikiran dan sikap pasien.
o Psikoanalisis : menilai penyebab konflik psikis dan defense
o Interpersonal psychotherapyo Gestalt therapy
o EMDR (Eye movement desensitization and reprocessing)o Behavior Therapy.
C)
1.

Hubungan Antara Organobiologis, Psikopatologis dan Sosiokultural pada Gangguan


Jiwa
Organobiologis
Manusia bereaksi secara keseluruhan, secara holistik, atau dapat dikatakan juga secara
organobioliologis, psychoeducative, sosiocultural. Dalam mencari penyebab gangguan jiwa,
maka ketiga unsur ini harus diperhatikan. Yang mengalami sakit dan menderita ialah manusia
seutuhnya dan bukan hanya badannya, jiwanya atau lingkungannya. Hal-hal yang dapat

mempengaruhi perilaku manusia ialah keturunan, umur, jenis kelamin, keadaan badaniah,
keadaan psikologik, keluarga, adat-istiadat, kebudayaan dan kepercayaan, pekerjaan,
pernikahan, kehamilan, kehilangan dan kematian orang yang dicintai, agresi, rasa
permusuhan, hubungan antar amanusia, dan sebagainya.
Gangguan jiwa dipengaruhi oleh banyak factor, Dr. dr. Luh Ketut Suryani
mengungkapkan bahwa gangguan jiwa dapat terjadi karena tiga faktor yang bekerjasama
yaitu faktor biologik, psikologik, dan sosiobudaya. Biarpun gejala umum atau gejala yang
menonjol itu terdapat pada unsur kejiwaan, tetapi penyebab utamanya mungkin di badan
(organobiologis), di lingkungan social (sociokultural) ataupun psikologis dan pendidikan
(psychoeducative). Biasanya tidak terdapat penyebab tunggal, akan tetapi beberapa penyebab
sekaligus dari berbagai unsur itu yang saling mempengaruhi atau kebetulan terjadi
bersamaan, lalu timbulah gangguan badan ataupun jiwa. Umpamanya seorang dengan
depresi, karena kurang makan dan tidur daya tahan badaniah seorang berkurang sehingga
mengalami peradangan tenggorokan atau seorang dengan mania yang berperilaku sangat aktif
mendapat kecelakaan. Sebaliknya seorang dengan penyakit badaniah umpamanya peradangan
yang melemahkan, maka daya tahan psikologiknya pun menurun sehingga ia mungkin
mengalami depresi.
Sudah lama diketahui juga, bahwa penyakit pada otak sering mengakibatkan
gangguan jiwa. Contoh lain ialah seorang anak yang mengalami gangguan otak (karena
trauma kelahiran, peradangan) kemudian menjadi banyak tingkah (hiperkinetik) dan suka
rdiasuh. Ia mempengaruhi lingkungannya, terutama orang tua dan anggota lain serumah.
Mereka ini bereaksi terhadapnya dan mereka saling mempengaruhi. Sumber penyebab:
Genetik (heredity). Adanya kromosom tertentu yang membawa sifat gangguan jiwa
(khususnya pada skizofrenia). Hal ini telah dipelajari pada penelitian anak kembar, dimana
pada anak kembar monozigot (satu sel telur) kemungkinan terjadinya skizofrenia persentase
tertinggi (86, 2 %), sedangkan pada anak kembardengan dua sel telur (heterozigot)
kemungkinannya hanya 14, 5%.
Bentuk tubuh (konstitusi) Kretschmer (1925) dan Sheldon (1942), meneliti tentang adanya
hubungan antara bentuk tubuh dengan emosi, temperament,dan kepribadian(personality).
Contoh : Orang yang berbadan gemuk emosinya cendrung meledak- ledak, ia bisa lompat
kegirangan ketika mendapat hal yang menyenangkan baginya dan sebaliknya.
Terganggunya otak secara organic. Contoh : Tumor, trauma (bisa disebabkan karena gagar otak
yang pernah dialami karena kecelakaan), infeksi, gangguan vaskuler, gangguan metabolisme,
toksin dan gangguan cogenital dari otak
Pengaruh cacat congenital. Contoh: Down Syndrome (mongoloid)
Pengaruh neurotrasmiter Yaitu suatu zat kimia yang terdapat diotak yang berfungsi sebagai
pengantar implus antar neuron (sel saraf) yang sangat terkaitdengan penelitian berbagai
macam obat-obatan yang bekerja pada susunan saraf Contoh: Perubahan aktivitas mental,
emosi, dan perilaku yangdisebabkan akibat pemakaian zat psikoaktif
Neroanatomi
Neurofisiologi
Neurokimia
Tingkat kematangan dan perkembangan organik
Faktor-faktor pre dan peri-natal

2.

Faktor-faktor psikopatologi
Psikopatologi adalah lapangan psikologi yang berhubungan kelainan atau hambatan
kepribadian yang menyangkut proses dan isi kejiwaan. Dalam psikopatologi dikenal tiga
golongan besar kelainan atau hambatan kepribadian yaitu:
a. Psikosa
Psikosa ialah gangguan kejiwaan yang meliputi keseluruhan kepribadian seseorang,
sehingga orang yang mengalami tidak bisa lagi menyesuaikan diri dalam norma-norma yang
wajar dan berlaku umum. Psikosa umumnya terbagi dalam dua golongan besar yaitu:
1) Psikosa fungsionali. Faktor penyebabnya terletak pada aspek kejiwaan, disebabkan karena
sesuatu yang berhubungan dengan bakat keturunan, bisa juga disebabkan oleh perkembangan
atau pengalaman yang terjadi selama sejarah kehidupan seseorang
2) Psikosa organik Disebabkan oleh kelainan atau gangguan pada aspek tubuh, kalau jelas
sebab-sebab dari suatu psikosa fungsional adalah hal-hal yang berkembang dalam jiwa
seseorang.
b. Psikoneurosa
Psikoneurosa atau dengan singkat dapat disebutkan neurosa saja, adalah gangguan
yang terjadi hanya pada sebagian daripada kepribadian, sehingga orang-orang
yangmengalaminya masih bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa atau masih bisa belajar
dan jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
c. Psikopat
Golongan ketiga ini merupakan hambatan kejiwaan yang menyebabkan kesulitan
penyesuaian diri atau timbul ketidakmauan untuk mengikuti norma-norma yang ada
dilingkungan. Karena itu istilah psikopati sering disinonimkan sosiopsikopati. Penderita
memperlihatkan adanya sikap egosentris yang besar, seolah-olah patokan untuk semua
perbuatan adalah dirinya sendiri saja. Ciri lain adalah keinginan untuk menguntungkan diri
sendiri tanpa memperdulikan oleh pihak lain. Dalam bentuk yang ringan, gangguan kejiwaan
seperti di atas disebut character disorder yang dapat kita lihat misalnya pada seseorang yang
eksentrik yang berdandan sesuai dengan seleranya sendiri tanpa memerlukan apakah
dandannya itu akan menjadi bahan tertawaan atau tidak. Hubungan antara peristiwa hidup
yang mengancam dan gangguan mental sangat kompleks tergantung dari situasi, individu dan
konstitusi orang itu. Hal ini sangat tergantung pada bantuan teman, dan tetangga selama
periode stres. Struktur sosial, perubahan sosial dan tigkat sosial yang dicapai sangat
bermakna dalam pengalaman hidup seseorang. Kepribadian merupakan bentuk ketahanan
relatif dari situasi interpersonal yang berulang-ulang yang khas untuk kehidupan manusia.
Perilaku yang sekarang bukan merupakan ulangan impulsif dari riwayat waktu kecil, tetapi
merupakan retensi pengumpulan dan pengambilan kembali. Setiap penderita yang mengalami
gangguan jiwa fungsional memperlihatkan kegagalan yang mencolok dalam satu atau
beberapa fase perkembangan akibat tidak kuatnya hubungan personal dengan keluarga,
lingkungan sekolah atau dengan masyarakat sekitarnya. Gejala yang diperlihatkan oleh
seseorang merupakan perwujudan dari pengalaman yang lampau yaitu pengalaman masa bayi
sampai dewasa.Faktor psikologik disini dapat dibagi menjadi dua, yaitu:
1) Hubungan intrapersonal
Inteligensi
Keterampilan
Bakat dan minat

KepribadianSalah satu hal yang terpenting yang tidak jarang bereaksi secara patologis disini
adalah faktor dari kepribadian individu itu sendiri, hal ini disebabkan karena pengaruh dalam
perkembangannya berlaian bagi setiap individu, sehingga terkadang pola penyesuaiannya
berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya.

2)

3.

o
o
o
o

Hubungan interpersonal
Interaksi antara kedua orang tua dengan anaknya
Orang tua yang overprotektif
Orang tua yang terlalu sibuk dengan dunianya sendiri
Peran ayah dalam keluarga
Persaingan antar saudara kandung
Kelahiran anak yang tidak diharapkan
Faktor-faktor sosiokultural
Gangguan jiwa yang terjadi di berbagai negara mempunyai perbedaan terutama
mengenai pola perilakunya. Karakteristik suatu psikosis dalam suatu sosio-budaya tertentu
berbeda dengan budaya lainnya. Adanya perbedaan satu budaya dengan budaya yang
lainnya,menurut Zubin, 1969, merupakan salah satu faktor terjadinya perbedaan distribusi
dan tipe gangguan jiwa. Begitu pula Maretzki dan Nelson, 1969, mengatakan bahwa
alkulturasi dapat menyebabkan pola kepribadian berubah dan terlihat pada psikopatologinya.
Pendapat ini didukung pernyataan Favazza (1980) yang menyatakan perubahan budaya yang
cepat seperti identifikasi, kompetisi, alkulturasi dan penyesuaian dapat menimbulkan
gangguan jiwa. Selain itu, status sosial ekonomi juga berpengaruh terhadap terjadinya
gangguan jiwa Goodman (1983) yang meneliti status ekonomi menyatakan bahwa penderita
yang dengan status ekonomi rendah erat hubungannya dengan prevalensi gangguan afektif
danalkoholisma. (litbang)
Pengaruh rasial, Contoh: Adanya pengucilan pada warga berkulit hitam di negara Eropa
Golongan minoritas , Contoh: Pengucilan terhadap seseorang atau sekelompok orang
yangmenderita penyakit HIV
Masalah nilai-nilai yang ada dalam masyarakat
Masalah ekonomi, Contoh: Karena selalu hidup dalam kekurangan seorang ibu menganiya
anaknya
Masalah pekerjaan
Bencana alam
Perang, Contoh: karena perang yang berkepanjangan seorang anak menjadi stress
Faktor agama atau religius baik masalah intra agama ataupun inter agama, Contoh:Perasaan
bingung dalam keyakinan yang dialami seorang anak karena perbedaan keyakinan dari orang
tuanya
Kestabilan keluarga
Keluarga-keluarga dengan kondisi tertentu berpotensi untuk memilki anggota
gangguan jiwa.Sehingga dalam berkeluarga perlu mencari ilmu untuk menentukan strategi
yang diterapkan dalam mencapai visi atau tujuan keluarga. Potensi-potensi tersebut adalah :
Tidak ada nilai agama di rumah tangga
Orang tua pengangguran atau tidak ada penaggung jawab ekonomi
Kemiskinan
Ada anggota yang melakukan Kriminalitas

o
o
o
o
o
o

Kekerasan di rumah tangga


Lingkungan yang buruk
Sering ada pertengkaran
Tidak ada komunikasi
salah satu anggota menggunakan NAPZA
Tidak ada model Pola mengasuh anak
Tingkat ekonomi
Tingginya masyarakat miskin di Indonesia lebih dari 30 juta orang, ditambah dengan
pengangguran lebih dari 40 juta orang telah menyebabkan meningkatnya kriminalitas,
tingginya kekerasan di rumah tangga, banyaknya penggusuran, perebutan hak atas tanah,
penipuan dsb. Hal itu dilakukan sebagai cara bertahan untuk hidup. Sehingga masyarakat
menjadi mudah marah, gampang tersinggung dan sering menyelesaikan masalah dengan otot
bukan dengan otak atau tidak mampu untuk menggunakan cara bermusyawarah. Hal itu
merupakan data adanya masalah psikologis dimana saat kebutuhan dasar manusia tidak
terpenuhi maka orang menjadi panik dan tidak aman. Apabila dalam kondisi sebuah rumah
tangga tidak ada cadangan beras, genting bocor, anak sakit susah berobat, lingkungan kotor ,
rumah sempit, rekening listrik belum terbayar, anak tidak sekolah dan menjadi gelandangan
di jalan, maka hampir dipastikan di rumah tangga tertsebut tidak akan lahir generasi yang
sehat jiwanya.
Kemiskinan pangkal penyebab utama gangguan jiwa di Negara kita
Perumahan masalah di perkotaan atau pedesaan
Masalah kelompok minoritas yang meliputi prasangka dan fasilitas kesehatan
Pendidikan dan kesejahteraan yang tidak memadai
Pengaruh rasial diskriminatif dan keagamaan
Nilai-nilai

BAB III
RINGKASAN
Gangguan jiwa adalah kumpulan dari keadaan-keadaan yang tidak normal, baik yang
berhubungan dengan fisik, maupun dengan mental. Penyebab gangguan jiwa karena manusia
bereaksi secara keseluruhan (somato-psiko-sosial). Gejala gangguan jiwa mulai timbul
biasanya pada masa remaja atau dewasa awal sampai dengan umur pertengahan, gangguan
jiwa sebagian besar disertai halusinasi dan delusi. Klasifikasi gangguan jiwa di identitaskan
dengan huruf F dari F-F9 tergantung dari jenis klasifikasi gangguannya. Diagnosis
Multiaksial terdiri dari aksis I-V. Untuk mengetahui seseorang mengalami gangguan jiwa
atau tidak, perlu dipelajari tentang: metode, alat dan bahan yang harus diperiksa. Alat yang
dibutuhkan untuk melakukan pemeriksaan psikiatri adalah kepribadian si pemeriksa sendiri.
Metode / cara yang digunakan adalah : wawancara dan observasi. Dengan wawancara dan
observasi dilakukan pemeriksaan terhadap koordinat psikiatri yang nantinya dapat dipakai
sebagai dasar dalam kesimpulan pemeriksaan. Terdapat hubungan antara Organobiologis,
Psikopatologis dan Sosiokultural pada gangguan jiwa.

Anda mungkin juga menyukai