Anda di halaman 1dari 5

BAB IV

ANALISIS DAN SINTESIS

4.1 Potensi GYY4137 terhadap pencegahan persalinan pretermal


Persalinan preterm adalah persalianan pada kehamilann antara 20-37
minggu. Persalinan preterm merupakan 10-15% terjadi pada kehamilan. Sealin
itu, hal ini pun mengakibatkan morbiditas dan mortalitas neonatal adalah
sekitar 50 70% . (Bambang, 2009) Beberapa faktor memiliki peran terhadap
terjadinya persalinan preterm seperti faktor pada ibu, faktor janin, dan plasenta,
atau faktor sosioekonomik (Anantyo, 2008).
Kesulitan utama dalam persalinan preterm yaitu perwatan bayi preterm
karena semakin muda usia kehamilannya semakin besar morbiditas dan
mortalitasnya. Selain itu, umur kehamilan dan berat bayi lahir saling berkaitan
dengan
kematian

risisko
perinatal.

Persalinan pretermal
dapat
oleh

dipengaruhi
kombinasi

keadaan

obstetrik,

soiodemografi,

dan

faktor medik. Sealin

Gambar 4 : Strutur Kimia GYY4137 (morpholin-4-ium-4methoxyphenyl(morpholino)phosphinodithioate)

itu, hal ini dapat diakibatkan pula oleh proses patogenik yang merupakan
mediator biokimia yang mempunyai dampak terjadinya kontraksi rahim dan
perubahann serviks (Anantyo, 2008).
Senyawa GYY4137 atau yang secara lengkap disebut (morpholin-4-ium4-methoxyphenyl(morpholino)phosphinodithioate) dapat menjadi solusi dari
tingginya angka kelahiran pretermal karena dapat merelaksasi kontraksi
miometrium yang merupakan salah satu etiologi utama dari terjadinya
kelahiram pretermal (Robinson 2012).

14

4.1.1 Pengaruh GYY4137 terhadap relaksasi otot


GYY4137 dapat memproduksi H2S sebuah transmitter gas, yang memiliki
efek merelaksasikan otot secara umum, berbeda dengan NaHS yang juga bias
melepaskan H2S, NaHS bersifat toksik sehingga tidak bisa dipakai dalam jangka
waktu yang panjang (Robinson 2012).
Efek dari H2S yang dilepaskan oleh GYY4137, telah diperiksa pada
beberapa otot polos, satu molekul H2S dapat membuka kanal KATP, sehingga terjadi
eflux ion kalium, yang menyebabkan hiperpolarisasi membrane, dengan terjadinya
hiperpolarisasi membran, mengakibatkan menurunnya pemasukan ion kalsium,
sehingga

mengakibatkan

terjadinya

relaksasi

otot(Elizabeth, 2008)..
4.1.2

Pengaruh

GYY4137

Gambar 5 : Kanal KAtp

terhadap

relaksasi miometrium
Dengan

digunakannya

GYY4137

selama

terjadinya

kontraksi

miometrium, senyawa ini secara perlahan melepaskan H 2S, sehingga secara


perlahan, senyawa ini membuat miometrium berhenti dari kontraksi, pada analisis
imunohistokimia

membuktikan

bahwa

cystathionine-y-lyse

(CSE)

dan

cystathionine--synthetase (CBS) mengontrol pengeluaran H2S pada miometrium


yang dimiliki oleh wanita hamil (Xing-Ji You, 2011).
Namun H2S yang dilepaskan oleh CSE dan CBS ini menurun, setelah ada
intervensi dari oksitosin, sehingga membuat aktif kanal K ATP, dan membuat
miometrium berkontraksi dan siap untuk proses persalinan, dengan diberikannya
senyawa GYY4137 pada miometrium yang berkontraksi ini, GYY4137 akan
melepaskan H2S secara perlahan sehingga merelaksasikan miometrium yang
berkontraksi tersebut, berbeda dengan NaHS yang juga mengeluarkan H 2S, NaHS
mengeluarkan H2S secara besar besaran, sehingga bias dinilai cukup berbahaya
karena pada dasarnya H2S adalah gas transmitter yang toksik (Xing-Ji You, 2011).

15

Pada GYY4137, senyawa ini hanya melepaskan 2 molekul H2S setiap


detiknya, sehingga setiap molekul bias terpakai dengan baik tanpa ada molekul
yang terbuang percuma, dimana satu molekul bekerja pada kanal KATP, dan satu
molekul lagi bekerja pada L-Cysteine, yang dapat mempengaruhi penurunan
amplitudo dan kontraksi myometrium (Robinson 2012).
4.2 Potensi GYY4137 untuk persalinan pretermal
Pada saat seorang ibu hamil akan melahirkan, terjadi proses yang
mengakibatkan terjadinya kontraksi rahim yang membuat kondisi memungkinan
untuk melakukan persalinan, pada persalinan pretermal, kontraksi ini terjadi lebih
cepat daripada yang sewajarnya, sehingga menyebabkan bayi untuk keluar dari
rahim sebelum waktu yang seharusnya.
GYY4137

yang

mampu

melepaskan

H2S

untuk

merelaksasikan

miomterium, sehingga pada saat proses kontraksi yang diinduksi oksitosin terjadi
pada saat terjadinya persalinan, dengan adanya H2S proses ini bias ditanggulangi
oleh mekanisme relaksasi yang dilakukan oleh H 2S yang dilepaskan oleh
GYY4137, 2 molekul H2S yang dilepaskan oleh GYY4137, bekerja mengaktifkan
L-Cystein yang berpengaruh pada penurunan amplitude dan kontraksi, molekul
yang lainnya membuka kanal KATP, mengakibatkan hiperpolarisasi membran dan
mengurangi pemasukan ion kalsium, sehingga terjadi relaksasi otot, sehingga
miometrium yang berkontraksi bia relaksasi dan mencegah terjadinya persalinan
pretermal (Robinson 2012).
Penelitian yang telah dilakukan terhadap miometrium tikus dan
miometrium ibu hamil, dengan sampel berupa potongan otot dari kedua sampel
tersebut pada pemberian GYY4137 dengan kadar antara 1 nm sampai 1mm
selama 45 menit terhadap miometrium kedua sampel tersebut, pada menit ke 30
terjadi penurunan amplitude kontraksi miometrium, ini menunjukkan bahwa
GYY4137 terbukti dapat merelaksasikan myometrium (Xing-Ji You, 2011).

16

Dalam studi Patel et al menunjukkan bahwa enzim CBS dan CSE


tedapat pada wanita hamil dan tikus betina. Pada in vitro, homogen uterus
tikus mampu memproduksi H2S dan L-cysteine sebagai prekusornya. Hal ini
ditunjukkan dengan aktivitas kontraksi spontan strip hamil secara in vitro.
Strip hamil diberikan penambahan kumulatif L-systein (1027-1022 mol/L)
(Xing-Ji You, 2011).
Dengan demikian, penggunaan GYY4137 sebelum atau saat terjadinya
kontraksi pada persalinan pretermal, sangat memungkinkan untuk terjadinya
relaksasi pada miometrium sehingga dapat mencegah terjadinya persalinan
pretermal.
4.3 Rencana Pemanfaatan GYY4137 terhadap Prevensi Persalinan Pretermal
Kejadian persalinan pretermal memiliki angka kejadian yang cukup tinggi di
Indonesia, masalahnya adalah belum adanya terapi yang efektif untuk prevensi
masalah persalinan pretermal tersebut, terutama apabila sudah terjadi kontraksi
pada otot uterus itu sendiri, sehingga persalinan pretermal belum dapat dicegah
dengan baik.
Penggunaan dari senyawa GYY4137 secara efektif dapat mengatasi hal ini.
Pemanfaatan senyawa GYY4137 merupakan metode yang digunakan untuk
merelaksasikan kontraksi dari otot otot rahim sehingga dapat mencegah terjadinya
persalinan pretermal yang diakibatkan karena kontraksi dini. Dengan demikian,
angka kejadian persalinan pretermal dan angka mortalitas ibu hamil dan bayi yang
baru lahir akibat persalinan pretermal dapat ditekan.
Manfaat penggunaan senyawa GYY4137 ini dapat diaplikasikan sebagai
standard

of

procedure

terhadap

penatalaksanaan

persalinan

pretermal.

Implementasinya, GY4137 dapat dijadikan salah satu penatalaksanaan primer di


rumah sakit jika memungkinkan dalam menghadapi kasus persalinan pretermal.
Pasien yang dating dengan kontraksi dini sebelum aterm, dapat diberikan
GYY4137 untuk merelaksasikan kontraksi dari otot rahimnya, dengan jarak waktu
kurang lebih 45 menit.

17

Dengan demikian, prosedur persalinan pretermal dapat menjadi lebih


efektif, aman dengan prognosis yang baik, sehingga angka mortalitas dapat
ditekan. Risiko, serta komplikasi lain yang dapat menyebabkan dan menginduksi
kerusakan setelah proses persalinan juga dapat dihindari. Selain itu, biaya yang
relatif mahal untuk persalinan juga tidak terbuang secara percuma.
Sebagai rencana jangka panjang, pemerintah dan berbagai instansi terkait
dapat membuat kebijakan baru terhadap standard of procedure persalinan
pretermal Indonesia sehingga penggunaan senyawa GYY4137 dapat digunakan di
rumah sakit sebagai metode utama dalam menghadapi kasus persalinan pretermal.
Dengan demikian, angka kejadian persalinan pretermal, angka mortalitas ibu
hamil dan bayi baru lahir akibat persalinan pretermal dapat menurun dan
diharapkan terjadi peningkatan survival rate pada pasien yang mengalami
persalinan pretermal serta penurunan angka mortalitas akibat komplikasi dan
keterlambatan menerima penatalaksanaan.