Anda di halaman 1dari 20

BIOMASSA

BIOFUEL, BIOGAS, BIODIESEL, BIOETANOL

OLEH:
Aldi Fadilah (2013-11-260)
Bimasyah Ramadhana (2013-11-261)
Muhammad Fahmy Ramadhan Saragi (2013-11-262)
Muhammad Dandy Brilliantono (2013-11-263)
Moh. Aziz Paradi (2013-11-264)

S1 TEKNIK ELEKTRO
STTPLN
2014

1 |h a l a m a n

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................................
DAFTAR ISI ...........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah...................................................................................
1.2. Tujuan Penulisan...............................................................................................

i
ii
1
1

BAB II PEMBAHASAN.........................................................................................
A. Biomassa.............................................................................................................
1. Pengertian............................................................................................................
2. Biomassa Sebagai Sumber Energi.......................................................................
3. Prinsip Pembakaran Bahan Bakar........................................................................
4. Pemanfaatan Energi Biomassa............................................................................
5. Pemanfaatan Energi Biomassa............................................................................

2
2
2
2
3
4
5

B. Biofuel.................................................................................................................
1. Pengertian............................................................................................................
2. Biofuel Generasi Pertama....................................................................................
3. Biofuel generasi kedua.........................................................................................

7
7
8
8

C. Biodiesel..............................................................................................................
1. Pengertian............................................................................................................
2. Pembuatan biodiesel............................................................................................
3. Mengapa minyak bekas mengandung asam lemak bebas?..................................

9
9
9
10

D. Biogas.................................................................................................................
1. Pengertian............................................................................................................
2. Biogas dan Aktivitas Anaerobik..........................................................................
3. Gas landfill...........................................................................................................
4. Rentang komposisi biogas umumnya..................................................................
5. Kandungan energy...............................................................................................
6. Pupuk dari Limbah Biogas..................................................................................
7. Siloksan dan gas engines (mesin berbahan bakar gas)........................................
8. Biogas terhadap gas alam....................................................................................
9. Penggunaan gas alam terbaharui..........................................................................

10
10
10
11
11
12
12
12
12
13

E. Bioetanol.............................................................................................................
1. Sejarah.................................................................................................................
2. Bioetanol, Etanol, Alkohol...................................................................................
3. Rumus Kimia.......................................................................................................
4. Sebagai Bahan Bakar...........................................................................................

13
13
14
14
14

2|halaman

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 16

BAB I
PENDAHULUAN

3|halaman

A. Latar Belakang
Penggunaan energi besar-besaran telah membuat manusia mengalami krisis energi. Ini
disebabkan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil seperti minyak bumi dan gas alam
yang sangat tinggi. Sebagaimana kita ketahui, bahan bakar fosil merupakan sumber daya
alam yang tidak dapat kita perbarui.Untuk mengatasi krisis energi masa depan, beberapa
alternatif sumber energi mulai dikembangkan, salah satunya adalah energi biomassa.Pada
awalnya, biomassa dikenal sebagai sumber energi ketika manusia membakar kayu untuk
memasak makanan atau menghangatkan tubuh pada musim dingin. Kayu merupakan sumber
energi biomassa yang masih lazim digunakan tetapi sumber energi biomassa lain termasuk
bahan makanan hasil panen, rumput dan tanaman lain, limbah dan residu pertanian atau
pengolahan hutan, komponen organik limbah rumah tangga dan industri, juga gas metana
sebagai hasil dari timbunan sampah. Sebagai bahan bakar, biomassa perlu diolah terlebih
dahulu agar dapat dengan mudah dipergunakan. Proses ini dikenal sebagai konversi
biomassa. Beberapa proses tersebut adalah dengan mengubah biomassa menjadi briket
sehingga mudah disimpan, diangkut, dan mempunyai ukuran dan kualitas yang seragam.
Jenis konversi lain adalah mengubah biomassa melalui proses kimia dan fisika seperti
anaerobic digestion (peruraian tanpa bantuan oksigen) yang menghasilkan gas metana,
pirolisis (dekomposisi menggunakan panas) yang menghasilkan produk bahan bakar padat
berupa karbon dan produk lain berupa karbon dioksida dan metana.
B. Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini ialah sebagai sarana dalam memberikan informasi
mengenai sumber daya energi biomassa. Selain itu, juga untuk memenuhi tugas mata
kuliah Sumber Daya Energi dengan dosen pengajar oleh Retno Aita Diantari, ST.MT.

2|halaman

BAB II
PEMBAHASAN
A. Biomassa
1. Pengertian
Biomassa adalah bahan organik yang dihasilkan melalui pross
fotosintetik, baik berupa produk maupun buangan. Contoh biomassa
antara lain adalah tanaman, pepohonan, rumput, ubi, limbah
pertanian, limbah hutan, tinja dan kotoran ternak. Selain digunakan
untuk tujuan primer serat, bahan pangan, pakan ternak, miyak nabati,
bahan bangunan dan sebagainya, biomassa juga digunakan sebagai
sumber energi (bahan bakar). Umum yang digunakan sebagai bahan
bakar adalah biomassa yang nilai ekonomisnya rendah atau
merupakan limbah setelah diambil produk primernya.
Sumber energi biomassa mempunyai beberapa kelebihan antara lain
merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui (renewable)
sehingga dapat menyediakan sumber energi secara
berkesinambungan (suistainable). Di Indonesia, biomassa merupakan
sumber daya alam yang sangat penting dengan berbagai produk
primer sebagai serat, kayu, minyak, bahan pangan dan lain-lain yang
selain digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik juga diekspor
dan menjadi tulang punggung penghasil devisa negara.

2. Biomassa Sebagai Sumber Energi


Potensi biomassa di Indonesia yang bisa digunakan sebagai sumber
energi jumlahnya sangat melimpah. Limbah yang berasal dari hewan
maupun tumbuhan semuanya potensial untuk dikembangkan.
Tanaman pangan dan perkebunan menghasilkan limbah yang cukup
besar, yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain seperti bahan
bakar nabati. Pemanfaatan limbah sebagai bahan bakar nabati
memberi tiga keuntungan langsung. Pertama, peningkatan efisiensi
energi secara keseluruhan karena kandungan energi yang terdapat
pada limbah cukup besar dan akan terbuang percuma jika tidak
dimanfaatkan. Kedua, penghematan biaya, karena seringkali
membuang limbah bisa lebih mahal dari pada memanfaatkannya.
3|halaman

Ketiga, mengurangi keperluan akan tempat penimbunan sampah


karena penyediaan tempat penimbunan akan menjadi lebih sulit dan
mahal, khususnya di daerah perkotaan.
Selain pemanfaatan limbah, biomassa sebagai produk utama untuk
sumber energi juga akhir-akhir ini dikembangkan secara pesat. Kelapa
sawit, jarak, kedelai merupakan beberapa jenis tanaman yang produk
utamanya sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Sedangkan ubi
kayu, jagung, sorghum, sago merupakan tanaman-tanaman yang
produknya sering ditujukan sebagai bahan pembuatan bioethanol.

3. Prinsip Pembakaran Bahan Bakar


Prinsip pembakaran bahan bakar sejatinya adalah reaksi kimia bahan
bakar dengan oksigen (O). Kebanyakan bahan bakar mengandung
unsur Karbon (C), Hidrogen (H) dan Belerang (S). Akan tetapi yang
memiliki kontribusi yang penting terhadap energi yang dilepaskan
adalah C dan H. Masing-masing bahan bakar mempunyai kandungan
unsur C dan H yang berbeda-beda.
Proses pembakaran terdiri dari dua jenis yaitu pembakaran lengkap
(complete combustion) dan pembakaran tidak lengkap (incomplete
combustion). Pembakaran sempurna terjadi apabila seluruh unsur C
yang bereaksi dengan oksigen hanya akan menghasilkan CO2, seluruh
unsur H menghasilkan H2O dan seluruh S menghasilkan SO2.
Sedangkan pembakaran tak sempurna terjadi apabila seluruh unsur C
yang dikandung dalam bahan bakar bereaksi dengan oksigen dan gas
yang dihasilkan tidak seluruhnya CO2. Keberadaan CO pada hasil
pembakaran menunjukkan bahwa pembakaran berlangsung secara
tidak lengkap.
Jumlah energi yang dilepaskan pada proses pembakaran dinyatakan
sebagai entalpi pembakaran yang merupakan beda entalpi antara
produk dan reaktan dari proses pembakaran sempurna. Entalpi
pembakaran ini dapat dinyatakan sebagai Higher Heating Value (HHV)
atau Lower Heating Value (LHV). HHV diperoleh ketika seluruh air hasil
pembakaran dalam wujud cair sedangkan LHV diperoleh ketika seluruh
air hasil pembakaran dalam bentuk uap.
Pada umumnya pembakaran tidak menggunakan oksigen murni
melainkan memanfaatkan oksigen yang ada di udara. Jumlah udara
minimum yang diperlukan untuk menghasilkan pembakaran lengkap
disebut sebagai jumlah udara teoritis (atau stoikiometrik). Akan tetapi
pada kenyataannya untuk pembakaran lengkap udara yang
4|halaman

dibutuhkan melebihi jumlah udara teoritis. Kelebihan udara dari


jumlah udara teoritis disebut sebagai excess air yang umumnya
dinyatakan dalam persen. Parameter yang sering digunakan untuk
mengkuantifikasi jumlah udara dan bahan bakar pada proses
pembakaran tertentu adalah rasio udara-bahan bakar. Apabila
pembakaran lengkap terjadi ketika jumlah udara sama dengan jumlah
udara teoritis maka pembakaran disebut sebagai pembakaran
sempurna.

4. Pemanfaatan Energi Biomassa


Agar biomassa bisa digunakan sebagai bahan bakar maka diperlukan
teknologi untuk mengkonversinya. Terdapat beberapa teknologi untuk
konversi biomassa, dijelaskan pada Gambar 2. Teknologi konversi
biomassa tentu saja membutuhkan perbedaan pada alat yang
digunakan untuk mengkonversi biomassa dan menghasilkan
perbedaan
bahan bakar
yang dihasilkan.
Secara umum
teknologi
konversi
biomassa
menjadi bahan
bakar dapat
dibedakan
menjadi tiga
yaitu
pembakaran
langsung,
konversi
termokimiawi
dan konversi
5|halaman

biokimiawi. Pembakaran langsung merupakan teknologi yang paling


sederhana karena pada umumnya biomassa telah dapat langsung
dibakar. Beberapa biomassa perlu dikeringkan terlebih dahulu dan
didensifikasi untuk kepraktisan dalam penggunaan. Konversi
termokimiawi merupakan teknologi yang memerlukan perlakuan
termal untuk memicu terjadinya reaksi kimia dalam menghasilkan
bahan bakar. Sedangkan konversi biokimiawi merupakan teknologi
konversi yang m
enggunakan bantuan mikroba dalam menghasilkan bahan bakar.

5. Pemanfaatan Energi Biomassa


5.1. Biobriket
Briket adalah salah satu cara yang digunakan untuk mengkonversi
sumber energi biomassa ke bentuk biomassa lain dengan cara
dimampatkan sehingga bentuknya menjadi lebih teratur. Briket yang
terkenal adalah briket batubara namun tidak hanya batubara saja
yang bisa di bikin briket. Biomassa lain seperti sekam, arang sekam,
serbuk gergaji, serbuk kayu, dan limbah-limbah biomassa yang
lainnya. Pembuatan briket tidak terlalu sulit, alat yang digunakan juga
tidak terlalu rumit. Di IPB terdapat banyak jenis-jenis mesin pengempa
briket mulai dari yang manual, semi mekanis, dan yang memakai
mesin. Adapun cara untuk membuat biobriket secara semi mekanis
disajikan dalam bentuk video.
5.2. Gasifikasi
Secara sederhana, gasifikasi biomassa dapat didefinisikan sebagai
proses konversi bahan selulosa dalam suatu reaktor gasifikasi
(gasifier) menjadi bahan bakar. Gas tersebut dipergunakan sebagai
bahan bakar motor untuk menggerakan generator pembangkit listrik.
Gasifikasi merupakan salah satu alternatif dalam rangka program
penghematan dan diversifikasi energi. Selain itu gasifikasi akan
membantu mengatasi masalah penanganan dan pemanfaatan limbah
pertanian, perkebunan dan kehutanan. Ada tiga bagian utama
perangkat gasifikasi, yaitu : (a) unit pengkonversi bahan baku (umpan)
menjadi gas, disebut reaktor gasifikasi atau gasifier, (b) unit
pemurnian gas, (c) unit pemanfaatan gas.

6|halaman

5.3. Pirolisa
Pirolisa adalah
penguraian
biomassa (lysis)
karena panas
(pyro) pada suhu
yang lebih dari
150oC. Pada
proses pirolisa
terdapat
beberapa tingkatan proses, yaitu pirolisa primer dan pirolisa
sekunder.Pirolisa primer adalah pirolisa yang terjadi pada bahan baku
(umpan), sedangkan pirolisa sekunder adalah pirolisa yang terjadi atas
partikel dan gas/uap hasil pirolisa primer. Penting diingat bahwa
pirolisa adalah penguraian karena panas, sehingga keberadaan O2
dihindari pada proses tersebut karena akan memicu reaksi
pembakaran.

5.4. Liquification
Liquification merupakan proses perubahan wujud dari gas ke cairan
dengan proses kondensasi, biasanya melalui pendinginan, atau
perubahan dari padat ke cairan dengan peleburan, bisa juga dengan
pemanasan atau penggilingan dan pencampuran dengan cairan lain
untuk memutuskan ikatan. Pada bidang energi liquification tejadi pada
batubara dan gas menjadi bentuk cairan untuk menghemat
transportasi dan memudahkan dalam pemanfaatan.

5.5. Biokimia
Pemanfaatan energi biomassa yang lain adalah dengan cara proses
biokimia. Contoh proses yang termasuk ke dalam proses biokimia
adalah hidrolisis, fermentasi dan an-aerobic digestion. An-aerobic
digestion adalah penguraian bahan organik atau selulosa menjadi CH4
dan gas lain melalui proses biokimia. Adapun tahapan proses
anaerobik digestion adalah diperlihatkan pada Gambar .
Selain anaerobic digestion, proses pembuatan etanol dari biomassa
tergolong dalam konversi biokimiawi. Biomassa yang kaya dengan
7|halaman

karbohidrat
atau glukosa
dapat
difermentasi
sehingga
terurai
menjadi
etanol dan
CO2. Akan
tetapi,
karbohidrat
harus
mengalami
penguraian
(hidrolisa)
terlebih
dahulu menjadi glukosa. Etanol hasil fermentasi pada umumnya
mempunyai kadar air yang tinggi dan tidak sesuai untuk
pemanfaatannya sebagai bahan bakar pengganti bensin. Etanol ini
harus didistilasi sedemikian rupa mencapai kadar etanol di atas
99.5%.

B.

Biofuel

1. Pengertian
Bahan bakar hayati atau biofuel adalah setiap bahan bakar baik
padatan, cairan ataupun gas yang dihasilkan dari bahan-bahan organik.
Biofuel dapat dihasilkan secara langsung dari tanaman atau secara tidak
langsung dari limbah industri, komersial, domestik atau pertanian. Ada
tiga cara untuk pembuatan biofuel: pembakaran limbah organik kering
(seperti buangan rumah tangga, limbah industri dan pertanian);
fermentasi limbah basah (seperti kotoran hewan) tanpa oksigen untuk
menghasilkan biogas (mengandung hingga 60 persen metana), atau
fermentasi tebu atau jagung untuk menghasilkan alkohol dan ester; dan
energi dari hutan (menghasilkan kayu dari tanaman yang cepat tumbuh
sebagai bahan bakar).

8|halaman

Proses fermentasi menghasilkan dua tipe biofuel: alkohol dan ester.


Bahan-bahan ini secara teori dapat digunakan untuk menggantikan bahan
bakar fosil tetapi karena kadang-kadang diperlukan perubahan besar pada
mesin, biofuel biasanya dicampur dengan bahan bakar fosil. Uni Eropa
merencanakan 5,75 persen etanol yang dihasilkan dari gandum, bit,
kentang atau jagung ditambahkan pada bahan bakar fosil pada tahun
2010 dan 20 persen pada 2020. Sekitar seperempat bahan bakar
transportasi di Brazil tahun 2002 adalah etanol.
Biofuel menawarkan kemungkinan memproduksi energi tanpa
meningkatkan kadar karbon di atmosfer karena berbagai tanaman yang
digunakan untuk memproduksi biofuel mengurangi kadar karbondioksida
di atmosfer, tidak seperti bahan bakar fosil yang mengembalikan karbon
yang tersimpan di bawah permukaan tanah selama jutaan tahun ke udara.
Dengan begitu biofuel lebih bersifat carbon neutral dan sedikit
meningkatkan konsentrasi gas-gas rumah kaca di atmosfer (meski timbul
keraguan apakah keuntungan ini bisa dicapai di dalam prakteknya).
Penggunaan biofuel mengurangi pula ketergantungan pada minyak bumi
serta meningkatkan keamanan energi. [1]
Ada dua strategi umum untuk memproduksi biofuel. Strategi pertama
adalah menanam tanaman yang mengandung gula (tebu, bit gula, dan
sorgum manis [2]) atau tanaman yang mengandung pati/polisakarida
(jagung), lalu menggunakan fermentasi ragi untuk memproduksi etil
alkohol. Strategi kedua adalah menanam berbagai tanaman yang kadar
minyak sayur/nabatinya tinggi seperti kelapa sawit, kedelai, alga, atau
jathropa. Saat dipanaskan, maka keviskositasan minyak nabati akan
berkurang dan bisa langsung dibakar di dalam mesin diesel, atau minyak
nabati bisa diproses secara kimia untuk menghasilkan bahan bakar
seperti biodiesel. Kayu dan produk-produk sampingannya bisa dikonversi
menjadi biofuel seperti gas kayu, metanol atau bahan bakar etanol

2. Biofuel Generasi Pertama


Biofuel generasi pertama menunjuk kepada biofuel yang terbuat dari gula,
starch, minyak sayur, atau lemak hewan menggunakan teknologi
konvensional.[7]
Minyak sayur dapat digunakan sebagai makanan atau bahan bakar;
kualitas dari minyak dapat lebih rendah untuk kegunaan bahan bakar.
Minyak sayur dapat digunakan dalam mesin diesel yang tua (yang
dilengkapi dengan sistem injeksi tidak langsung, tapi hanya dalam iklim
9|halaman

yang hangat. Dalam banyak kasus, minyak sayur dapat digunakan untuk
memproduksi biodiesel, yang dapat digunakan kebanyakan mesin diesel
bila dicampur dengan bahan bakar diesel konvensional. MAN B&W Diesel,
Wartsila dan Deutz AG menawarkan mesin yang dapat digunakan
langsung dengan minyak sayur. Minyak sayur bekas yang diproses
menjadi biodiesel mengalami peningkatan, dan dalam skala kecil,
dibersihkan dari air dan partikel dan digunakan sebagai bahan bakar.
3. Biofuel generasi kedua
Para pendukung biofuel mengklaim telah memiliki solusi yang lebih baik
untuk meningkatkan dukungan politik serta industri untuk, dan
percepatan, implementasi biofuel generasi kedua dari sejumlah tanaman
yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan hewan, di antaranya
cellulosic biofuel.[12] Proses produksi biofuel generasi kedua bisa
menggunakan berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi
manusia dan hewan yang diantaranya adalah limbah biomassa,
batang/tangkai gandum, jagung, kayu, dan berbagai tanaman biomassa
atau energi yang spesial (contohnya Miscanthus). Biofuel generasi kedua
(2G) menggunakan teknologi biomassa ke cairan, diantaranya cellulosic
biofuel dari tanaman yang tidak digunakan untuk konsumsi manusia dan
hewan.[13]
Sebagian besar biofuel generasi kedua sedang dikembangkan seperti
biohidrogen, biometanol, DMF, Bio-DME, Fischer-Tropsch diesel,
biohydrogen diesel, alkohol campuran dan diesel kayu. Produksi cellulosic
ethanol mempergunakan berbagai tanaman yang tidak digunakan untuk
konsumsi manusia dan hewan atau produk buangan yang tidak bisa
dimakan. Memproduksi etanol dari selulosa merupakan sebuah
permasalahan teknis yang sulit untuk dipecahkan. Berbagai hewan ternak
pemamah biak (seperti sapi) memakan rumput lalu menggunakan proses
pencernaan yang berkaitan dengan enzim yang lamban untuk
menguraikannya menjadi glukosa (gula). Di dalam labolatorium cellulosic
ethanol, berbagai proses eksperimen sedang dikembangkan untuk
melakukan hal yang sama, lalu gula yang dihasilkan bisa difermentasi
untuk menjadi bahan bakar etanol. Para ilmuwan juga sedang
bereksperimen dengan sejumlah organisme hasil rekayasa genetik
penyatuan kembali DNA yang mampu meningkatkan potensi biofuel
seperti pemanfaatan tepung Rumput Gajah (Panicum virgatum).[14]

C. BIODIESEL
10 | h a l a m a n

1. Pengertian
Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--alkyl
ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi
bahan bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti
minyak sayur atau lemak hewan.
Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah minyak
dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas.
Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak sayur langsung, biodiesel
memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar) dari minyak
bumi, dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih
sering digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum,
meningkatkan bahan bakar diesel petrol murni ultra rendah belerang yang
rendah pelumas.
Biodiesel merupakan kandidat yang paling baik untuk menggantikan bahan
bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena biodiesel
merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel
petrol di mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan
menggunakan infrastruktur zaman sekarang.
Penggunaan dan produksi biodiesel meningkat dengan cepat, terutama di
Eropa, Amerika Serikat, dan Asia, meskipun dalam pasar masih sebagian kecil
saja dari penjualan bahan bakar. Pertumbuhan SPBU membuat semakin
banyaknya penyediaan biodiesel kepada konsumen dan juga pertumbuhan
kendaraan yang menggunakan biodiesel sebagai bahan bakar.
2. Pembuatan biodiesel
Pada skala kecil dapat dilakukan dengan bahan minyak goreng 1 liter
yang baru atau bekas. Methanol sebanyak 200 ml atau 0.2 liter. Soda api
atau NaOH 3,5 gram untuk minyak goreng bersih, jika minyak bekas
diperlukan 4,5 gram atau mungkin lebih. Kelebihan ini diperlukan untuk
menetralkan asam lemak bebas atau FFA yang banyak pada minyak
goreng bekas. Dapat pula mempergunakan KOH namun mempunyai harga
lebih mahal dan diperlukan 1,4 kali lebih banyak dari soda. Proses
pembuatan; Soda api dilarutkan dalam Methanol dan kemudian dimasukan
kedalam minyak dipanaskan sekitar 55 oC, diaduk dengan cepat selama
15-20 menit kemudian dibiarkan dalam keadaan dingin semalam. Maka
akan diperoleh biodiesel pada bagian atas dengan warna jernih
kekuningan dan sedikit bagian bawah campuran antara sabun dari FFA,
sisa methanol yang tidak bereaksi dan glyserin sekitar 79 ml. Biodiesel
yang merupakan cairan kekuningan pada bagian atas dipisahkan dengan
mudah dengan menuang dan menyingkirkan bagian bawah dari cairan.
11 | h a l a m a n

Untuk skala besar produk bagian bawah dapat dimurnikan untuk


memperoleh gliserin yang berharga mahal, juga sabun dan sisa methanol
yang tidak bereaksi.

3. Mengapa minyak bekas mengandung asam lemak bebas?


Ketika minyak digunakan untuk menggoreng terjadi peristiwa oksidasi,
hidrolisis yang memecah molekul minyak menjadi asam. Proses ini
bertambah besar dengan pemanasan yang tinggi dan waktu yang lama
selama penggorengan makanan. Adanya asam lemak bebas dalam
minyak goreng tidak bagus pada kesehatan. FFA dapat pula menjadi ester
jika bereaksi dengan methanol, sedang jika bereaksi dengan soda akan
mebentuk sabun. Produk biodiesel harus dimurnikan dari produk samping,
gliserin, sabun sisa methanol dan soda. Sisa soda yang ada pada biodiesel
dapat henghidrolisa dan memecah biodiesel menjadi FFA yang kemudian
terlarut dalam biodiesel itu sendiri. Kandungan FFA dalam biodiesel tidak
bagus karena dapat menyumbat filter atau saringan dengan endapan dan
menjadi korosi pada logam mesin diesel.

D. BIOGAS
1. Pengertian
Biogas merupakan gas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik atau
fermentasi dari bahan-bahan organik termasuk di antaranya; kotoran
manusia dan hewan, limbah domestik (rumah tangga), sampah
biodegradable atau setiap limbah organik yang biodegradable dalam
kondisi anaerobik. Kandungan utama dalam biogas adalah metana dan
karbon dioksida.
Biogas dapat digunakan sebagai bahan bakar kendaraan maupun untuk
menghasilkan listrik.
2. Biogas dan Aktivitas Anaerobik
Biogas yang dihasilkan oleh aktivitas anaerobik sangat populer digunakan
untuk mengolah limbah biodegradable karena bahan bakar dapat
dihasilkan sambil Mengurai dan sekaligus mengurangi volume limbah
buangan. Metana dalam biogas, bila terbakar akan relatif lebih bersih
daripada batu bara, dan menghasilkan energi yang lebih besar dengan
emisi karbon dioksida yang lebih sedikit. Pemanfaatan biogas memegang
peranan penting dalam manajemen limbah karena metana merupakan
gas rumah kaca yang lebih berbahaya dalam pemanasan global bila
12 | h a l a m a n

dibandingkan dengan karbon dioksida. Karbon dalam biogas merupakan


karbon yang diambil dari atmosfer oleh fotosintesis tanaman, sehingga
bila dilepaskan lagi ke atmosfer tidak akan menambah jumlah karbon di
atmosfer bila dibandingkan dengan pembakaran bahan bakar fosil.
Saat ini, banyak negara maju meningkatkan penggunaan biogas yang
dihasilkan baik dari limbah cair maupun limbah padat atau yang
dihasilkan dari sistem pengolahan biologi mekanis pada tempat
pengolahan limbah.

3. Gas landfill
Gas landfill adalah gas yang dihasilkan oleh limbah padat yang dibuang di
landfill. Sampah ditimbun dan ditekan secara mekanik dan tekanan dari
lapisan di atasnya. Karena kondisinya menjadi anaerobik, bahan organik
tersebut terurai dan gas landfill dihasilkan. Gas ini semakin berkumpul
untuk kemudian perlahan-lahan terlepas ke atmosfer. Hal ini menjadi
berbahaya karena:
Dapat menyebabkan ledakan
Pemanasan global melalui metana yang merupakan gas rumah kaca
Material organik yang terlepas (volatile organic compounds) dapat
menyebabkan (photochemical smog)
4. Rentang komposisi biogas umumnya
Komposisi biogas bervariasi tergantung dengan asal proses anaerobik
yang terjadi. Gas landfill memiliki konsentrasi metana sekitar 50%,
sedangkan sistem pengolahan limbah maju dapat menghasilkan biogas
dengan 55-75%CH4 [1].
Komposisi biogas[2]
Komponen

Metana (CH4)

5575

Karbon dioksida
(CO2)

2545

Nitrogen (N2)

0-0.3
13 | h a l a m a n

Hidrogen (H2)

1-5

Hidrogen sulfida
(H2S)

0-3

Oksigen (O2)

0.10.5

5. Kandungan energi
Nilai kalori dari 1 meter kubik Biogas sekitar 6.000 watt jam yang setara
dengan setengah liter minyak diesel. Oleh karena itu Biogas sangat cocok
digunakan sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan
pengganti minyak tanah, LPG, butana, batu bara, maupun bahan-bahan
lain yang berasal dari fosil.
6. Pupuk dari Limbah Biogas
Limbah biogas, yaitu kotoran ternak yang telah hilang gasnya (slurry)
merupakan pupuk organik yang sangat kaya akan unsur-unsur yang
dibutuhkan oleh tanaman. Bahkan, unsur-unsur tertentu seperti protein,
selulose, lignin, dan lain-lain tidak bisa digantikan oleh pupuk kimia.
Pupuk organik dari biogas telah dicobakan pada tanaman jagung, bawang
merah, dan padi.
7. Siloksan dan gas engines (mesin berbahan bakar gas)
Dalam beberapa kasus, gas landfill mengandung siloksan. Selama proses
pembakaran, silikon yang terkandung dalam siloksan tersebut akan
dilepaskan dan dapat bereaksi dengan oksigen bebas atau elemenelemen lain yang terkandung dalam gas tersebut. Akibatnya akan
terbentuk deposit (endapan) yang umumnya mengandung silika (
)
atau silikat (
) , tetapi deposit tersebut dapat juga mengandung
kalsium, sulfur belerang, zinc (seng), atau fosfor. Deposit-deposit ini
(umumnya berwarna putih) dapat menebal hingga beberapa millimeter di
dalam mesin serta sangat sulit dihilangkan baik secara kimiawi maupun
secara mekanik.
Pada internal combustion engines (mesin dengan pembakaran internal),
deposit pada piston dan kepala silinder bersifat sangat abrasif, hingga
jumlah yang sedikit saja sudah cukup untuk merusak mesin hingga perlu
perawatan total pada operasi 5.000 jam atau kurang. Kerusakan yang
terjadi serupa dengan yang diakibatkan karbon yang timbul selama mesin

14 | h a l a m a n

diesel bekerja ringan. Deposit pada turbin dari turbocharger akan


menurukan efisiensi charger tersebut.
Stirling engine lebih tahan terhadap siloksan, walaupun deposit pada
tabungnya dapat mengurangi efisiensi[3][4]
8. Biogas terhadap gas alam
Jika biogas dibersihkan dari pengotor secara baik, ia akan memiliki
karakteristik yang sama dengan gas alam. JIka hal ini dapat dicapai,
produsen biogas dapat menjualnya langsung ke jaringan distribusi gas.
Akan tetapi gas tersebut harus sangat bersih untuk mencapai kualitas
pipeline. Air (H2O), hidrogen sulfida (H2S) dan partikulat harus dihilangkan
jika terkandung dalam jumlah besar di gas tersebut. Karbon dioksida
jarang harus ikut dihilangkan, tetapi ia juga harus dipisahkan untuk
mencapai gas kualitas pipeline. JIka biogas harus digunakan tanpa
pembersihan yang ektensif, biasanya gas ini dicampur dengan gas alam
untuk meningkatkan pembakaran. Biogas yang telah dibersihkan untuk
mencapai kualitas pipeline dinamakan gas alam terbaharui.
9. Penggunaan gas alam terbaharui
Dalam bentuk ini, gas tersebut dapat digunakan sama seperti
penggunaan gas alam. Pemanfaatannya seperti distribusi melalui jaringan
gas, pembangkit listrik, pemanas ruangan, dan pemanas air. Jika
dikompresi, ia dapat menggantikan gas alam terkompresi (CNG) yang
digunakan pada kendaraan.

E. BIOETANOL
1. Sejarah
(Bio)Etanol telah digunakan manusia sejak zaman prasejarah
sebagai bahan pemabuk dalam minuman beralkohol. Residu yang
ditemukan pada peninggalan keramik yang berumur 9000 tahun dari
China bagian utara menunjukkan bahwa minuman beralkohol telah
digunakan oleh manusia prasejarah dari masa Neolitik.
Campuran dari (Bio)etanol yang mendekati kemrunian untuk pertama
kali ditemukan oleh Kimiawan Muslim yang mengembangkan proses
distilasi pada masa Kalifah Abbasid dengan peneliti yang terkenal waktu
itu adalah Jabir ibn Hayyan (Geber), Al-Kindi (Alkindus) dan al-Razi
(Rhazes). Catatan yang disusun oleh Jabir ibn Hayyan (721-815)
menyebutkan bahwa uap dari wine yang mendidih mudah terbakar. Al15 | h a l a m a n

Kindi (801-873) dengan tegas menjelaskan tentang proses distilasi


wine. Sedangkan (Bio)etanol absolut didapatkan pada tahun 1796 oleh
Johann Tobias Lowitz, dengan menggunakan distilasi saringan arang.
Antoine Lavoisier menggambarkan bahwa (Bio)etanol adalah senyawa
yang terbentuk dari karbon, hidrogen dan oksigen. Pada tahun 1808
Nicolas-Thodore de Saussure dapat menentukan rumus kimia etanol.
Limapuluh tahun kemudian (1858), Archibald Scott Couper menerbitkan
rumus bangun etanol. Dengan demikian etanol adalah salah satu
senyawa kimia yang pertama kali ditemukan rumus bangunnya. Etanol
pertama kali dibuat secara sintetis pada tahu 1829 di Inggris oleh Henry
Hennel dan S.G.Serullas di Perancis. Michael Faraday membuat etanol
dengan menggunakan hidrasi katalis asam pada etilen pada tahun 1982
yang digunakan pada proses produksi etanol sintetis hingga saat ini.
Pada tahun 1840 etanol menjadi bahan bakar lampu di Amerika Serikat,
pada tahun 1880-an Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak
tahun 1908 mobil Ford model T telah dapat menggunakan (bio)etanol
sebagai bahan bakarnya. Namun pada tahun 1920an bahan bakar dari
petroleum yang harganya lebih murah telah menjadi dominan
menyebabkan etanol kurang mendapatkan perhatian. Akhir-akhir ini,
dengan meningkatnya harga minyak bumi, bioetanol kembali
mendapatkan perhatian dan telah menjadi alternatif energi yang terus
dikembangkan.
2. Bioetanol, Etanol, Alkohol
Etanol disebut juga etil-alkohol atau alkohol saja, adalah alkohol yang
paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari, hal ini
disebabkan karena memang etanol yang digunakan sebagai bahan
dasar pada minuman tersebut, bukan metanol, atau grup alkohol
lainnya. Sedangkan bioetanol adalah etanol (alkohol yang paling
dikenal masyarakat) yang dibuat dengan fermentasi yang
membutuhkan faktor biologis untuk prosesnya. Sebenarnya alkohol
dalam ilmu kimia memiliki pengertian yang lebih luas lagi. Jadi untuk
seterusnya, dalam tulisan ini penggunaan istilah alkohol tidak akan
digunakan lagi untuk menghilangkan ambiguitas.
3. Rumus Kimia
(Bio)Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH. Rumus molekul etanol
adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O atau rumus bangunnya
CH3-CH2-OH. (Bio)Etanol merupakan bagian dari kelompok metil
(CH3-) yang terangkai pada kelompok metilen (-CH2-) dan terangkai
dengan kelompok hidroksil (-OH). Secara umum akronim dari

16 | h a l a m a n

(Bio)Etanol adalah EtOH (Ethyl-(OH))

< Rumus Bangun


(Bio)Etanol(Bio)Etanol tidak berwarna dan tidak berasa tapi memilki
bau yang khas. Bahan ini dapat memabukkan jika diminum. Karena
sifatnya yang tidak beracun bahan ini banyak dipakai sebagai pelarut
dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman.
4. Sebagai Bahan Bakar
Saat ini (Bio)Etanol dipakai secara luas di Brazil dan Amerika Serikat.
Semua kendaraan bermotor di Brazil, saat ini menggunakan bahan
bakar yang mengandung paling sedikit kadar ethanol sebesar 20 %.
Pertengahan 1980, lebih dari 90 % dari mobil baru, dirancang untuk
memakai (Bio)Etanol murni.
Di Amerika Serikat, lebih dari 1 trilyun mil telah ditempuh oleh
kendaraan bermotor yang menggunakan BBM dengan kandungan
(Bio)Etanol sebesar 10 % dan kendaraan FFV (Flexible Fuel Vehicle)
yang menggunakan BBM dengan kandungan 85 % (Bio)Etanol.
Penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar, sebenarnya telah lama
dikenal. Seperti telah disebutkan diatas bahwa pada tahun 1880-an
Henry Ford membuat mobil quadrycycle dan sejak tahun 1908 mobil
Ford model T telah dapat menggunakan (Bio)etanol sebagai bahan
bakarnya.. Namun penggunaan bioetanol sebagai bahan bakar nabati
kurang ditanggapi pada waktu tersebut, karena keberadaan bahan
bakar minyak yang murah dan melimpah. Saat ini pasokan bahan
bakar minyak semakin menyusut ditambah lagi dengan harga minyak
dunia yang melambung membuat (Bio)Etanol semakin diperhitungkan.
(Bio)Etanol dapat digunakan pada kendaraan bermotor, tanpa
mengubah mekanisme kerja mesin jika dicampur dengan bensin
dengan kadar (Bio)Etanol lebih dari 99,5%. Perbandingan (Bio)Etanol
pada umumnya di Indonesia baru penambahan 10% dari total bahan
bakar. Pencampuran (Bio)Etanol absolut sebanyak 10 % dengan bensin
(90%), sering disebut Gasohol E-10. Gasohol singkatan dari gasoline
(bensin) dan (Bio)Etanol. (Bio)Etanol absolut memiliki angka oktan (ON)
117, sedangkan Premium hanya 87-88. Gasohol E-10 secara
proporsional memiliki ON 92 atau setara Pertamax. Pada komposisi ini
bioetanol dikenal sebagai octan enhancer (aditif) yang paling ramah
17 | h a l a m a n

lingkungan dan di negara-negara maju telah menggeser penggunaan


Tetra Ethyl Lead (TEL) maupun Methyl Tertiary Buthyl Ether (MTBE).

DAFTAR PUSTAKA

http://www.jie.or.jp/biomass/AsiaBiomassHandbook/Indonesian/Part-1_I.pdf (10 Mei 2014)


http://www.indoenergi.com/2012/04/pengertian-biomassa.html

(11 Mei 2014)

http://id.wikipedia.org/wiki/Biofuel (10Mei 2014)


http://id.wikipedia.org/wiki/Biomassa

(10 Mei 2014)

http://web.ipb.ac.id/~tepfteta/elearning/media/Energi%20dan%20Listrik
%20Pertanian/MATERI%20WEB%20ELP/Bab%20III
%20BIOMASSA/indexBIOMASSA.htm (11 Mei 2014)

18 | h a l a m a n