Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seiring dengan pesatnya kemajuan di era globalisasi, tuntutan dalam pengadaan
sumber daya manusia yang berkualitas dan berkemanusiaan semakin meningkat. Dunia
usaha tidak lagi hanya bergantung dari kuantitas produksinya, namun juga memerlukan
kualitas yang terbaik untuk bersaing secara sehat. Untuk mendukung itu semua
diperlukan tenaga kerja dan lingkungan kerja yang sehat, selamat dan nyaman dan
menjamin peningkatan produktivitas kerja. Berbagai peraturan dan keputusan pemerintah
nasional dan internasional telah dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan dunia akan
sumber daya manusia yang berkualitas.
ILO (International Labour Organization) memaparkan bahwa, setiap tahun di
seluruh dunia, 2 juta orang meninggal karena masalah akibat kerja. Dari jumlah ini,
354.000 mengalami kecelakaan fatal. Di samping itu, setiap tahun ada 270 juta pekerja
yang mengalami kecelakaan akibat kerja dan 160 juta orang yang terkena penyakit akibat
kerja. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bahaya-bahaya akibat kerja ini amat besar.
ILO memperkirakan kerugian yang dialami sebagai akibat kecelakaan kecelakaan dan
penyakit penyakit akibat kerja setiap tahun leih dari USS 1,25 triliun atau sama dengan
4% dari Produk Domestik Bruto (GDP).
Indonesia sendiri telah begitu lama memiliki undang-undang yang melindungi
tenaga kerja, namun perkembangan maupun penerapannya dapat dikatakan sedikit
terhambat dan masih membutuhkan banyak dukungan. ILO pun juga mempunyai
pendapat yang sama bahwa apapun keadaan yang menimpa suatu negara, keselamatan
dan kesehatan pekerja adalah hak asasi manusia yang mendasar, yang bagaimanapun
juga tetap harus dilindungi, baik sewaktu negara tengah mengalami pertumbuhan
ekonomi maupun ketika tengah dilanda resesi.
Pada hari Kamis, 7 November 2013 telah dilakukan kunjungan ke salah satu
industri kosmetik Martha Tilaar yang bagian produksinya dikelola oleh P.T. Martina
Berto, Tbk. di daerah kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta. Dalam kunjungan tersebut
ditemukan beberapa masalah dalam proses kerja, dan dari data tersebut akan dilakukan
analisis masalah yang selanjutnya diupayakan alternatif pemecahan masalah.
1.2. Tujuan
2. Tujuan Umum

Mengidentifikasi faktor keselamatan dan kecelaakan kerja di PT Martina Berto, Tbk.,


Pulo Gadung, Jakarta pada tanggal 7 November 2013.
3. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi adanya jalur evakuasi di PT Martina Berto, Tbk. Kawasan
Industri Pulo Gadung, Jakarta pada tanggal 7 November 2013.
b. Mengidentifikasi adanya keamanan instalasi listrik di Mengidentifikasi angka
kecelakaan kerja di PT Martina Berto, Tbk. Kawasan Industri Pulo Gadung,
Jakarta pada tanggal 7 November 2013.
c. Mengidentifikasi struktur dan konstruksi bangunan di PT Martina Berto, Tbk.
Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta pada tanggal 7 November 2013.
d. Mengidentifikasi penggunaan Alat Pelindung Diri di PT Martina Berto, Tbk.
Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta pada tanggal 7 November 2013
e. Mengidentifikasi adanya hydrant serta penangkal petir di PT Martina Berto, Tbk.
Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta pada tanggal 7 November 2013.
1.3. Manfaat
1. Bagi Peserta Pelatihan
Memahami pelaksanaan walk through survey dengan melakukan identifikasi
bahaya potensial serta upaya pencegahan gangguan pada keselamatan dan kesehatan
kerja dan mengetahui masalah yang berhubungan dengan faktor yang tidak sesuai di
lingkungan kerja dan akibat yang ditimbulkannya.
2. Bagi Perusahaan
Memperoleh informasi tentang bahaya potensial keselamatan dan kesehatan kerja
yang ditemukan di lingkungan kerja, sehingga dapat dimanfaatkan oleh perusahaan
untuk meningkatkan efektivitas program pencegahan bahaya potensial keselamatan
dan kesehatan kerja.
3. Bagi Karyawan
Teridentifikasinya bahaya potensial keselamatan dan kesehatan kerja di
lingkungan kerja karyawan PT Martina Berto, Tbk. dan terhindarnya karyawan dari
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja.

BAB II
TINJAUAN TEORITIK
2.1.

Definisi
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berkaitan dengan mesin, pesawat,
alat kerja, bahan dan proses pengelolaan, landasan tempat kerja dan lingkungannya

serta cara cara melakukan pekerjaan (Sumakmur, 1991). Keselamatan kerja diatur
dalam UU No 1 tahun 1970.
2.2.

Tujuan Keselamatan Kerja


Keselamatan kerja adalah salah satu aspek yang amat penting dalam perlindungan
tenaga kerja dan merupakan tanggung jawab bersama setiap orang dalam perusahaan.
Adapun tujuan dari keselamatan kerja adalah sebagai berikut :
1. Melindungi tenaga kerja atas hak keselamatannya dalam melakukan pekerjaan
untuk kesejahteraan hidup dan meningkatkan produktivitas nasional.
2. Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja
3. Sumber produksi dipelihara dan digunakan secara aman dan efisien

2.3.

Faktor Penyebab Kecelakaan


Sebuah kecelakaan kerja terjadi karena ada penyebabnya. Sebab terjadinya
kecelakaan kerja dapat diterangkan melalui beberapa teori. Teori yang pertama adalah
teori pure chance atau teori peluang murni. Teori ini menyatakan bahwa terjadinya
kecelakaan kerja disebabkan oleh murni peluang semata. Teori ini sudah tidak
digunakan lagi saat ini dalam menjelaskan bagaimana kecelakaan kerja dapat
berlangsung.
Teori yang saat ini lebih banyak digunakan untuk menjelaskan penyebab
terjadinya kecelakaan kerja adalah teori kombinasi antara dua faktor yaitu unsafe act
dan unsafe condition. Unsafe act atau perilaku tidak aman adalah pelanggaran
prosedur kerja yang dilakukan dengan sadar. Contoh unsafe act adalah bekerja sambil
makan atau bekerja sambil menelepon, atau membaca, bekerja tanpa memilki surat
ijin, bekerja tanpa melakukan evaluasi keamanan alat alat bekerja tanpa
menggunakan Alat Pelindung Diri.
Unsafe condition adalah faktor lingkungan yang tidak aman. Sebagai contoh
adalah faktor fisik, hujan deras dan banjir bandang, gempa bumi dan tsunami, angin
badai; faktor kimia seperti semburan gas beracun, air tanah yang mengandung kapur,
dan tambang yang mengandung debu; faktor biologi seperti penyakit yang terdapat
pada hewan dapat menular ke manusia, nyamuk, lalat dan larva cacing tambang.
Selain itu juga terdapat faktor psikososial, ergonomi dan finansial.
Ada dua golongan penyebab kecelakaan kerja. Golongan pertama adalah faktor
mekanis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain faktor manusia.
Golongan kedua adalah faktor manusia itu sendiri yang merupakan penyebab
kecelakaan. Untuk menentukan sebab dari suatu kecelakaan dilakukan analisis
kecelakaan. Contoh analisis kecelakaan kerja adalah sebagai berikut. Seorang pekerja
3

mengalami kecelakaan kerja dikarenakan oleh kejatuhan benda tepat mengenai


kepalanya. Sesungguhnya pekerja tidak perlu mengalami kecelakaan itu, seandainya
ia mengikuti pedoman kerja yang selalu diingatkan oleh supervisor kepada segenap
pekerja agar tidak berjalan di bawah katrol pengangkat barang. Jadi dalam hal ini
penyebab kecelakaan adalah faktor manusia.
Faktor mekanis dan lingkungan dapat pula dikelompokkan menurut keperluan
dengan suatu maksud tertentu. Misalnya di perusahaan penyebab kecelakaan dapat
disusun menurut kelompok pengolahan bahan, mesin penggerak dan pengangkat,
terjatuh di lantai dan tertimpa benda jatuh, pemakaian alat atau perkakas yang
dipegang dengan tangan(manual), menginjak atau terbentur barang, luka bakar oleh
benda pijar, dan transportasi. Kira-kira sepertiga dari kecelakaan yang menyebabkan
kematian dikarenakan terjatuh, baik dari tempat yang tinggi, maupun di tempat datar.
Teori lain yang juga sering digunakan adalah teori Loss Control Model (Bird and
German, 1985) atau teori domino. Penyebab terjadinya kecelakaan berdasarkan
waktunya dapat dibagi menjadi tiga yaitu pre contact control (sebelum), contact
control (saat terjadi), dan post contact control (setelah terjadi). Pre contact control
terjadi akibat adanya tiga faktor, yaitu lemah kontrol, sebab dasar, dan sebab
langsung. Contact control dipengaruhi oleh subsitusi dan minimisasi energi, barikade
dan perbaikan objek. Post contact control ditandai dengan melakukan rencana
penanggulangan bahaya darurat.
Teori yang terbaru menyatakan bahwa penyebab kecelakaan kerja hanya ada satu
yaitu faktor manajemen. Manajemen terdiri atas tiga level yaitu senior, menengah dan
dasar (floor). Manajemen senior berperan menentukn kebijakan dan peraturan
mengenai keselamatan kerja. Manajemen menengah berperan dalam mengevaluasi
dan memperbaiki pelaksanaan keselamatan kerja. Level dasar tentunya berperan
dalam melaksanakan keselamatan kerja. Terjadinya kecelakaan kerja dapat
disebabkan oleh kurangnya komitmen dari manajemen senior, lemahnya evaluasi dari
manajemen menengah atau keselamatan kerja yang tidak dilaksanakan oleh level
dasar
Persentase penyebab kecelakaan kerja yaitu 3% dikarenakan sebab yang tidak
bisa dihindarkan (seperti bencana alam) , selain itu 24% dikarenakan lingkungan atau
peralatan yang tidak memenuhi syarat, dan 73% dikarenakan perilaku yang tidak
aman. Cara efektif untuk mencegah terjadinya kecelakaan kerja adalah dengan
menghindari terjadinya lima perilaku tidak aman yang telah disebutkan di atas.
4

Berikut merupakan gambaran potensi berbagai kecelakaan kerja di berbagai bidang


usaha :

2.4.

Ruang Lingkup
Ruang Lingkup keselamatan kerja diatur dalam UU No 1 tahun 1970 tentang
keselamatan kerja yang mencakup :
1. Kebakaran

Pencegahan mengenai kebakaran diatur dalam peraturan Permenakertrans RI No.


Per. 04/MEN/1980 tentang syarat syarat pemasangan dan pemeliharaan Alat
Pemadam Api Ringan; Permenaker RI No. Per. 02/MEN/1983 tentang Instalasi
Alarm Kebakaran Automatik; Kepmenaker RI No. Kep.186/MEN/1999 tentang
Unit Penanggulangan Kebakaran di Tempat Kerja, Instruksi Menaker No.
Ins.11/M/BW/1997 tentang Pengawasan Khusus K3 Penanggulangan Kebakaran.
Penggunaan tanda warna khusus yaitu dengan pewarnaan kontras atau kode
khususuntuk objek penting seperti perlengkapan alat pemadam kebakaran
(Hydrant) maupun alat pemadam api sederhana (fire extinguisher) juga penting
untuk menanggulangi terjadinya kecelakaan. Peta petunjuk untuk setiap ruang
atau unit kerja atau tempat yang strategis misalnya dekat lift lampu darurat
menuju exit door sangat membantu untuk menunjukkan arah jalur evakuasi.

2. Instalasi Listrik
Instalasi listrik yang baik adalah dimana dalam bangunan bangunan gedung
yang ada, berpusat pada suatu sumber listrik yang sama. Akan tetapi pada setiap
bagian atau sektor (misalnya sektor produksi, sektor pengepakan) ada sentral
listrik pegendali sendiri. Kabel yang digunakan haruslah kabel khusus yang kuat
dan kedap air, serta tentunya mampu mentoleransi besar arus yang melaluinya
sehingga resiko untuk terjadinya hubungan pendek akibat kerusakan kabel dapat
diminimalisasi dari tenaga kerja yang lengah terhadap resiko dan SOP.
3. Angka Kecelakaan Kerja

Kecelakaan kerja adalah situasi tidak terduga yang menimbulkan kerusakan


materi, kegagalan proses produksi, luka ahkan kematian. Proses terjadinya
kecelakaan terdiri dari 5 tahap, yaitu :
a. Lingkungan sosial
b. Kesalahan manusia
c. Pekerjaan yang kurang aman (termasuk faktor bahaya di lingkungan kerja)
d. Kecelakaan
e. Kerusakan dan Terluka
4. Struktur Konstruksi Gedung atau bangunan
Sebuah pabrik atau perusahaan hendaknya memiliki kualitas yang layak seperti
kriteria yang tercantum di bawah ini :
a. Bangunan kuat, terpelihara, bersih dan tidak memungkinkan terjadinya
gangguan kesehatan dan kecelakaaan.
b. Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan yang rata, tidak
licin dan bersih
c. Setiap karyawan mendapatkan ruang udara minimal kubik per karyawan
d. Dinding bersih dan berwarna terang. Permukaan dinding yang selalu terkena
percikan air terbuat dari bahan yang kedap air.
e. Langit - langit kuat, bersih, berwarna terang, ketinggian minimal 2,5 meter
dari lantai.
f. Atap kuat dan tidak bocor
g. Luas jendela, kisi- kisi atau dinding gelas kaca untuk masuknya cahaya
minimal 1/6kali luas lantai
5. Alat Pelindung Diri
1) Pengertian
Adalah seperangkat alat yang digunakan oleh tenaga kerja untuk melindungi
seluruh atau sebagian tubuhnya terhadap kemungkinan adanya potensi
bahaya/kecelakaan kerja. APD dipakai sebagai upaya terkahir dalam usaha
melindungi tenaga kerja apabila uasaha rekayasa (engineering) dan
pengendalian administrasi tidak dapat dilakukan dengan baik. Namun
pemakain APD bukanlah pengganti kedua usaha tersebut, namun diandalkan
sebagai usaha terakhir.
2) Kriteria APD
Proses penggunaan APD harus memenuhi kriteria : Hazard telah
diidentifikasi, APD yang diapkai sesuai dengan hazard yang dituju, adanya
bukti bahwa APD dipatuhi penggunaannya.
3) Dasar Hukum
Undang undang No 1 tahun 1970. Pasal 3 ayat (1) butir f dengan peraturan
perundangan ditetapkan syarat-syarat untuk meberikan APD. Pasal 9 ayat (1)
butir c : pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada setiap
9

tenaga kerja baru mengenai APD. Pasal 12 dengan peraturan perundangan


diatur kewajiban dan atau hak tenaga kerja untuk menggunakan APD. Pasal
14 butir c : pengurus wajib menyediakan APD secara cuma cuma.
Permenakertrans No Per 01/MEN/1981 pasal 4 ayat (3) menyebutkan
kewajiban pengurus menyediakan Alat Pelindung Diri dan wajib bagi tenaga
kerja untuk menggunakannya dalam rangka pencegahan penyakit akibat kerja.
Permenakertrans No. Per. 03/MEN/1982 Pasal 2 butir 1 menyebutkan
memberikan nasehat mengenai perencanaan dan pembuatan tempat kerja,
pemilihan alat pelindung diri yang diperlukan dan gizi serta penyelenggaraan
makanan di tempat kerja. Permenakertrans No Per. 03/MEN/1982 pasal 2 ayat
2 menyebutkan tenaga kerja yang mengelola pestisida harus memakai alat
alat pelindung diriyang berupa pakaian kerja, sepatu lars tinggi, sarung
tangan, kacamata pelindung atau pelindung muka dan pelindung pernapasan.
4) Jenis jenis APD dan penggunaannya
a. APD Kepala
- Alat pelindung kepala, topi pelindung / pengaman (safety helmet)
untuk melindungi kepala dari benda keras, pukulan, dan benturan,
-

terjatuh dan terkena arus listrik.


Tutup kepala untuk melindungi kepala dari kebakaran, korosif, uap-

uap, panas/dingin
Hats/ cap untuk melindungi kepala dari kotoran, debu atau tangkapan

mesin berputar.
b. APD muka dan mata
Fungsinya adalah untuk melindungi muka dan mata dari lemparan bendabenda kecil, benda-benda panas, pengaruh cahaya, pengaruh radiasi
tertentu. Bahannya terbuat dari gelas/kaca biasa/plastik. Yang terbaik
adalah jenis gelas yang ditempa tidak menimbulkan bagian bagian yang
tajam. Bila dipasang frame maka tidak mudah lepas. Adapun yang teruat
dari plastik ada beberapa jenis tergantung bahan dasarnya seperti :
selulosa asetat, akrilik, poli karbonat.
c. APD Telinga
- Sumbat telinga (ear plug) : dapat mengurangi intensitas suara 10 -15
-

dB
Tutup telinga (ear muff) : dapat mengurangi intensitas suara 20-30 dB
Ear Protector
Sumbat telinga yang baik akan menahan frekuensi tertentu saja,
sedangkan

frekuensi untuk

bicara

biasanya

tidak

terganggu.

Kelemahannya adalah tidak tepat ukurannnya dengan lobang telinga


10

pemakai, kadang kadang lobang telinga kanan tak sama dengan


telinga kiri. Bahan sumbat telinga karet, plastik keras, plastik lunak
lilin maupun kapas. Yang disenangi adalah jenis karet dan plastik
lunak karena bisa menyesuaikan bentuk dengan lobang telinga. Daya
atenuasi (daya lindung) mencapai 25-30 dB. Adanya kebocoran dari
penggunaan APD ini dapat mengurangi atenuasi hingga 15 dB.
Sementara yang dari lilin, bias lilin murni dilapisi kertas kapas.
Kelemahannya : kurang nyaman , lekas kotor. Sementara jika terbuat
dari kapas maka daya atenuasinya paling kecil antara 2-12 dB.
d. APD Kaki, Pakaian Pelindung Safety Belt
Safety Belt berguna untuk melindungi tubuh dari kemungkinan terjatuh,
biasanya digunakan pada pekerja konstruksi serta tempat tertutup dan
boiler. Harus dapat menahan beban sebesar 80 kg. Jenis penggantung
unifilar penggantng berbentuk U gabungan penggantung unifilar dan
bentuk U. Selain itu terdapat penunjang dada (chest harness), penunjang
dada kombinasi dengan punggung (chest and waist harsness), penunjang
seluruh tubuh (full body harsness).
e. APD Pernapasan
Fungsi Alat Perlindungan Pernapasan :
- Memberikan perlindungan terhadap sumber sumer bahaya seperti :
kekurangan oksigen, pencemaran oleh partikel tertentu (debu, kabut,
asap, dan uap logam).

BAB III
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
P.T. Martina Berto, Tbk. yang berdiri pada tahun 1981 silam ini termasuk salah satu
perusahaan kosmetik di Indonesia yang termasuk dalam Martha Tilaar Group dipelopori
oleh DR. (H.C.) Martha Tilaar pada tahun 1970 dengan membuka sebuah salon kecantikan
Martha di kediaman orangtuanya. Pabrik di Pulo Gadung ini terutama memproduksi tata
rias wajah. Pabrik ini memiliki tenaga kerja kurang lebih 1000 orang. Dalam sehari
terdapat 2 shift pada pabrik ini, shift pertama dimulai pada pukul 07:00 sampai dengan
15:00, dan shift berikutnya dimulai dari 15:00 sampai dengan 22:00.
Produksi di P.T.Martina Berto, Tbk. terbagi ke dalam empat kategori yaitu
kosmetika cair, kosmetika kering, kosmetika semi padat, dan obat tradisional. Kosmetika
cair termasuk di dalamnya cairan pembersih muka, pelembab, toner, alas bedak, body
splash cologne, hair spray, dan produk cair lainnya. Kosmetika kering termasuk di
11

dalamnya eye shadow, blush on, loose powder dan compact powder dan produk kering
lainnya. Kosmetika semi padat termasuk didalamnya lipstik, creamy foundation, dan lainlain. Obat tradisional termasuk di dalamnya masker, mangir, lulur, dan teh herbal.
Masing-masing kategori produk ini akan memiliki proses atau alur produksi yang
berbeda-beda. Namun secara umum alur produksi P.T.Martina Berto, Tbk. ini dimulai
dengan quality control bahan-bahan yang akan digunakan apakah sudah layak. Bahan baku
yang digunakan ini berasal dari supplier internal dan eksternal. Sebagian bahan nabati
merupakan budidaya dari Kampoeng Djamoe Organik yang juga merupakan salah satu
bagian dari Martha Tilaar Group. Setelah melewati proses quality control, bahan akan
mulai dilakukan processing sesuai dengan kategori produk. Kemudian akan dilakukan
packing dan akan diselesaikan dengan decorative sehingga kemasan produk lebih menarik.
Untuk produk-produk tertentu ada alur produksi khusus seperti pada lipstick misalnya akan
melewati alur produksi moulding dan flaming sebelum akhirnya akan masuk dalam alur
produksi packing.
Pada setiap tahap dari proses produksi dilakukan pengawasan mutu yang mengacu
kepada Quality Assurance System, dimulai dari bahan baku, barang setengah jadi, produk
jadi, hingga pengiriman ke distributor. Perseoran juga telah menerapkan secara konsisten
Sistem Manajemen Mutu ISO 9001 sejak tahun 1996 dan Sistem Manajemen Lingkungan
ISO 14001 sejak tahun 2000. Tujuan dari penerapan system ini adalah untuk memenuhi
Kepuasan Pelanggan (customer satisfaction) dan kepedulian terhadap lingkungan.
Terkait dengan kesehatan dan keselamatan kerja, perusahaan ini telah membentuk
tim P2K3, menyelenggarakan berbagai macam kegiatan baik internal maupun eksternal,
diantaranya adanya pelatihan evakuasi saat terjadi bencana kebakaran, gempa bumi dan
kebocoran kimia, pelatihan penggunaan APAR, pelatihan pelatihan ini dilakukan secara
berkala, sehingga diharapkan para pegawai menjadi tanggap dan mengerti tindakan yang
tepat sesuadi dengan situasi dan kondisi. Selain itu dari segi medis di lakukan juga
pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh dokter perusahaan dan paramedis, pojok
laktasi, pemeriksaan berkala terhadap pekerja setiap tahunnya.
3.1. Sistem Penanggulangan Kebakaran dan Emergency Respons Plan
Dari wawancara yang dilakukan terhadap P.T. Martina Berto, Tbk., dapat
disimpulkan bahwa perusahaan ini telah melaksanakan K3 Sistem Penanggulangan
Kebakaran dan Emergency Response Plan. Sistem tersebut meliputi penyediaan sarana dan
prasarana dalam menghadapi kebakaran dan melakukan pelatihan agar tenaga kerja

12

mendapat pengetahuan mengenai cara cara pemadaman kebakaran. Sarana dan prasarana
yang tersedia dibedakan pada masing masing gedung :
Bagian Gedung Produksi
Sistem Pemadam

Ketersediaan

Keterangan

Kebakaran
APAR
Tersedia di sekeliling Keadaan baik, tidak terikat, mudah
(Alat Pemadam Api
dinding
bangunan dijangkau dan dilengkapi dengan kartu
Ringan)
gedung produksi dengan SOP dan kartu peninjauan berkala.
Pada satu APAR ditemukan sudah
jarak 1 buah alat
kadarluarsa.
pemadam api ringan
(APAR) untuk 5 m2
Hydrant

Terdapat 7 hidrant pada Keadaan siap pakai, dilengkapi kartu


gedung

produksi, SOP, mudah dijangkau dan kartu

berkeadaan baik.

peninjauan berkala
Lantai TIDAK di sekitarnya diberi
tanda supaya tidak diisi barang.

Alarm Kebakaran

Tersedia

di

bangunan

dinding Alarm

Tersedia

dengan

cara

produksi memecahkan kaca sehingga muncul

dengan jarak 15 meter


Detektor Asap

digunakan

pada

bunyi peringatan

langit- Bila ada asap akan terdapat bunyi

langit di gedung produksi peringatan, namun tidak akan keluar


air secara otomatis.

13

Terdapat detector asap, namun detektor asap tersebut tidak dapat membantu
pemadaman secara spontan. Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa resiko
kebakaran di PT Martina Bento tergolong kategori sedang berdasarkan NO. KEP186/MEN/1999 namun dengan fasilitas penanggulangan kebakaran yang ada, resiko
tersebut dapat diminimalkan.
3.1.1. Pelatihan Penanggulangan Kebakaran
Pelatihan penanggulangan kebakaran dilakukan secara berkala setiap 1 tahun sekali.
Pelatihan diadakan oleh tim P2K3 bekerja sama dengan dinas pemadam kebakaran
3.1.2. Rute Evakuasi dan Assembly Point
Rute Evakuasi bisa ditemukan di dalam gedung produksi P.T. Martina Berto, Tbk. untuk
mempermudah pekerja menyelamatkan diri jika terjadi bencana. Rute evakuasi berupa
denah. Namun tidak ditemukan tanda-tanda panah jalur evakuasi keluar gedung.
Lapangan di depan gedung lantai 1 merupakan titik temu jalur evakuasi.

14

3.2. Instalasi Listrik


Instalasi listrik di pabrik P.T. Martina Berto, Tbk. digunakan untuk pengoperasian
mesin-mesin kerja dan untuk penerangan pabrik. Pengendalian electrical safety didesain
dan diawasi oleh tim P2K3 perusahaan. Adapun terdapat berbagai panel listrik disertai
dengan tanda bahaya di beberapa sudut bangunan produksi. Apabila listrik padam, terdapat
3 unit genset yang mampu mencukupi kebutuhan listrik seluruh proses produksi.
Pengaktifan generator memiliki target maksimal sudah menyala dalam 10 menit setelah
listrik padam, tetapi hingga saat ini pengaktifan generator di perusahaan ini memiliki ratarata 5 menit.
Listrik pada perusahaan ini disupplai oleh PLN dan instalasi serta keamanannya
diawasi oleh tim P2K3 Pabrik serta dilaporkan ke dinas.
3.3. Struktur Konstruksi Bangunan
Tersedia/tidak

Kondisi

Langit-langit

Baik

Dinding

Baik

Lantai

Tidak licin

Jendela

Tidak terbuka
15

Atap

Baik

Berdasarkan observasi bangunan secara keseluruhan, ruang produksi dapat


menampung banyak pekerja. Ruangan-ruangan produksi dibuat terpisah antar baguian dari
alur produksi masing-masing produk. Dinding bangunan terbuat dari tembok yang dicat
dengan warna putih dan

tampak kokoh. Pada dinding terdapat jendela besar yang

memudahkan observasi dari luar maupun antar bagian, yang ditutupi oleh kaca nako dan
beberapa bagian yang berupa jendela besar. Sedangkan lantai berupa ubin dengan ukuran
40x40 cm berwarna putih dan kasar sehingga tidak menyebabkan peningkatan risiko
terpeleset dalam ruangan.
Ruangan produksi berada pada lantai 2 dan sebagian lantai 3 dari total 4 lantai
bangunan pabrik. Dalam tiap ruang produksi juga terdapat penyejuk udara yang
memberikan rasa kenyamanan bagi pekerja dan mengurangi suhu panas di ruang produksi.
Selain itu, juga ditemukan detektor asap yang terpasang pada tiap langit-langit masingmasing ruang produksi.
Ventilasi terdiri dari sistem exhaust central yang akan dibuang keluar dari gedung
produksi. Struktur konstruksi bangunan dari P.T. Martina Berto, Tbk. sesuai dengan
standar nasional yang berlaku.
Diluar bangunan terdapat jalur pejalan kaki yang dibatasi jalur kuning dan kadang
rantai disebagian posisi, dan penerapan jalur ini sangat disiplin ketika ada pejalan
kaki(baik pekerja maupun tamu) yang keluar jalur langsung di peringatkan oleh satpam.

3.4. Alat Perlindung Diri


Pada kunjungan kami ke perusahaan P.T. Martina Berto, Tbk. program keselamatan
kerja yaitu alat pelindung diri (APD) sudah diterapkan kepada para pekerjanya. APD yang
digunakan di sesuaikan dengan kepentingan pada masing- masing kegiatan produksi, di
antaranya adalah masker, penutup kepala, sepatu tertutup, sarung tangan, ear muff.
Observasi penggunaan APD hanya kami lakukan pada bagian produksi. Berikut adalah
uraian yang kami dapatkan:
3.4.1 Mixing

Pada proses mixing karyawan diwajibkan menggunakan sarung tangan yang berbahan
kain karet karena rentan terhadap bahan kimia pada jarinya. Selain itu terlihat karyawan

16

yang menggunakan ear muff untuk mengurangi bising dari alat mixer, serta masker pada
bagian produksi bedak, selain itu sepatu boots juga dikenakan selama berada di ruangan.
3.4.2. Manufacturing
Pada bagian ini, lebih banyak dioperasikan oleh alat-alat robot dengan pengawasan.
3.4.3. QC half-finished product
Pada bagian ini karyawan menggunakan masker untuk menghindari terhirup bahan kimia
dan mencegah tercemarnya produk, selain itu karyawan menggunakan sarung tangan
latex. Pada bagian ini juga terdapat berbagai mesin QC seperti detektor logam.
3.4.4. Packaging

Pada bagian packaging, karyawan menggunakan masker dan sarung tangan karena resiko
terhirupnya bahan kimia serta tercemarnya produk.

Berikut merupakan ringkasan penggunaan beberapa APD menyesuaikan proses proses


produksi yang berlangsung :
Penggunaan alat pelindung diri
Bagian
Mixing
Manufacturing
QC
Packaging

Masker Glove Ear Plug / Ear Muff


Lain-Lain

Sepatu bbots

3.5. Kecelakaan Kerja


Tidak terdapat kecelakaan kerja yang terjadi selama tahun 2006-2013. Kecelakaan
terakhir pada tahun 2005 yang terjadi merupakan tumpahnya alkohol di bagian produksi
yang menyebabkan luka bakar pada satu tenaga kerja namun tidak menyebabkan kematian,
sebagai tindak lanjut dari kecelakaan ini, gudang alkohol dipisahkan dari raw material
yang lain dan lebih terbuka sehingga bilamana terjadi kebocoran, tidak semerta-merta
membahayakan pekerja.
Potensi kecelakaan yang mungkin terjadi, antara lain:

Bagian
Produksi
Mixing

Potensi Kecelakan
- Tangan terjepit mesin
- Pengoperasian boiler
17

Upaya Pencegahan
- Pemakaian sarung tangan
- SOP pengunaan alat

- Kelelahan (terutama

- Bantalan pijakan kaki yang lunak

pekerja yang berdiri)

untuk pekerja yang berdiri dalam


jangka waktu lama saat menjalankan

- Terjadi heat stress karena

hawa panas yang keluar


Manufakturing
QC

dari mesin
- Korsleting listrik
- Tangan terjepit mesin
- Terhirup bahan kimia yang

mesin
- Setiap ruangan dilengkapi AC dan
ventilasi yang baik
- Pelatihan berkala oleh tim P2K3
- Mesin dijalankan perlahan
- Ventilasi tempat bekerja yang terbuka

berasal dari bedak


Packaging

luas

??

??

Secara umum, sebelum penggunaan APD, segala bentuk potensi kecelakaan kerja
dapat diusahakan untuk diatasi melalui eliminasi, substitusi, rekayasa teknik, dan
pengendalian administratif. Berikut merupakan gambaran umum mengenai pengendalian
administratif yang sudah dilakukan perusahaan ini dalam rangka menekan angka
kecelakaan kerja secara internal :
Bagian

SOP

APD

Pemeriksaan
kesehatan

Mixing

Manufakturin

QC

Packaging

Untuk pemeriksaan kesehatan, dari narasumber perusahaan, dikatakan dilakukan


secara berkala terutama untuk bagian mixer atau pengayakan atau pengepressan bedak
dimana ada faktor resiko yakni debu bedak yang banyak, dilakukan pemeriksaan khusus
berupa rontgen dada per tahunnya.
Pengamatan di atas didapatkan dari pengamatan langsung di pabrik P.T. Martina
Berto, Tbk. Lantai 2(bagian produksi), Selain pengamatan langsung, didapatkan juga
keterangan dari staf K3 P.T. Martina Berto, Tbk., serta beberapa staff pabrik.

18

KORBAN
(Kecelakaan Kerja/ Sakit/ Keracunan)

First Aider melakukan P3K

First Aider lain meminta bantuan


(CR 135, HR 130, Security 221, Klinik 333)

Dokter klinik & paramedis datang ke lokasi kejadian,


pertolongan lanjutan terhadap korban

Pertolongan lanjutan klinik


Dapat ditangani klinisi

Tidak dapat ditangani klinisi

Klinik membuat surat pengantar untuk


rumah sakit rujukan

Sembuh

Pasien dikirim ke rumah sakit rujukan


(RS ANTAM)

Kembali kerja/ istirahat


di rumah

Sembuh

BAB IV
19

KESIMPULAN DAN SARAN


4.1. Kesimpulan
Beberapa hal mengenai keselamatan dan kecelakaan kerja dari hasil kunjungan P.T.
Martina Berto, Tbk. yang dapat disimpulkan adalah :
P.T. Martina Berto, Tbk. telah melaksanakan K3 sistem penanggulangan kebakaran
dan Emergency Respon Plan, penempatan jalur evakuasi sudah baik. Jalur Pejalan
kaki disertai rantai pengaman juga sudah berjalan dengan baik.
Instalasi listrik kunjungan P.T. Martina Berto, Tbk. sudah baik, penempatan kabel
listrik disertai dengan tanda peringatan bahaya guna meminimalkan resiko

bagi

tenaga kerja
Struktur bangunan cukup baik dan tidak membahayakan pekerja.
Penggunaan APD belum dilakukan secara maksimal untuk masing masing alur
produksi dengan disertai SOP penggunaan APD dan beberapa pekerja belum
menggunakan dengan benar.
Angka kecelakaan kerja yang dilaporkan dalam beberapa tahun terakhir rendah,
namun data yang didapatkan di lapangan tidak cukup adekuat untuk menarik
kesimpulan ini.
4.2. Saran
Beberapa penggunaan APD dimanfaatkan secara optimal. Masker sebaiknya
menggunakan yang terstandarisasi bukan yang kain.
Sebaiknya dalam bagian tertentu pada proses produksi yang berpotensi bahaya,
ditempelkan kertas tentang SOP APD dan poster sesuai dengan tempat kerjanya,
sehingga dapat mengingatkan tenaga kerja dan meningkatkan kesadaran tenaga kerja
akan pentingnya penggunaan APD selama bekerja.
Dilakukannya pelatihan kepada pekerja mengenai pentingnya APD
Perlunya peraturan yang lebih tegas tentang penggunaan APD di bagian yang
berpotensi bahaya dengan cara memberikan sanksi dan reward baik SP maupun
administratif bagi tenaga kerja yang tidak menggunakan APD selama bekerja di
tempat yang berpotensi bahaya tersebut. Dengan demikian, diharapkan terjadi
perubahan perilaku (attitude) tenaga kerja untuk menggunakan APD selama bekerja.

20