Anda di halaman 1dari 17

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan lengkap praktikum struktur hewan dengan judul Tehnik Pemurnian


disusun oleh :
nama

: Ika Wardana

NIM/kelas

: 101304003 / A

kelompok

: I ( Satu )

telah diperiksa oleh Asisten dan Koordinator Asisten dan dinyatakan diterima.
Makassar, Juni 2011
Koordinator Asisten

Asisten

Widiastini Arifuddin

Hardin

Mengetahui
Dosen Penanggung Jawab
Dra. Hj.Muhaidah Rasyid M.Si

I.

JUDUL PERCOBAAN

Tehnik Pemurnian

II.

TUJUAN PERCOBAAN
Pada akhir percobaan mahasiswa diharapkan memahami dan terampil dalam :

1.

Melakukan destilasi untuk pemisahan dan pemurnian

2.

Mengkalibrasi dan mengoreksi pembacaan thermometer

3.

Merangkai peralatan destilasi sederhana

4.

Melakukan rekristalisasi dengan baik

5.

Memilih pelarut yang sesuai untuk rekristalisasi

6.

Menjernihkan dan menghilangkan warna larutan

7.

Menguasai tehnik penentuan titik leleh

8.

Membaca titik leleh pada thermometer

9.

Membedakan campuran dari senyawa murni dari titik lelehnya

III. LATAR BELAKANG TEORI


Dalam praktikum kimia seringkali berbagai campuran zat harus dipisahkan
menjadi zat murni. Cara pemisahan tersebut dapat berupa penyaringan, dekantasi,
penguapan, kristalisasi, kromatografi dan destilasi (Tim Dosen Kimia Organik,
2011:1).
Destilasi merupakan tehnik pemisahan yang didasari atas perbedaanperbedaan titik didih atau titik cair dari masing-masing zat penyusun dari campuran
homogen. Dalam proses destilasi terdapat dua tahap proses yaitu tahap penguapan
dan dilanjutkan dengan tahap pengembangan kembali uap menjadi cair atau padatan.
Atas dasar ini maka perangkat peralatan alat destilasi menggunakan alat pemanas dan
alat pendingin. Proses destilasi diawali dengan pemanasan, sehingga zat yang
memiliki titik didih lebih rendah akan menguap. Uap tersebut bergerak menuju
kondensor yaitu pendinginan. Proses pendinginan terjadi karena kita mengalirkan air
ke dalam dinding (bagian luar kondensor), sehingga uap yang dihasilkan akan
kembali cair. Proses ini berjalan terus menerus

dan

akhirnya kita

dapat

memisahkan seluruh senyawa-senyawa yang ada dalam campuran homogen tersebut


(Zulfikar, 2011).
Suatu zat yang tampil sebagai zat padat, tetapi tidak mempunyai struktur
Kristal yang berkembang biak disebut amorf (tanpa bentuk). Ter dan kaca merupakan
zat padat semacam itu. Tak seperti zat padat Kristal, zat amorf tidak mempunyai titiktitik leleh tertentu yang tepat sebaliknya zat amorf melunak secara bertahap bila
dipanasi dan meleleh dalam suatu jangka temperatur. Kristal adalah benda padat yang
mempunyai permukaan-permukaan datar. Karena banyak zat padat seperti garam,
kuarsa, dan salju ada dalam bentuk-bentuk yang jelas simetris telah lama para
ilmuwan menduga bahwa atom, ion ataupun molekul zat padat ini juga tersusun
secara simetris (Keenan, 1992: 95).
Zat padat umumnya mempunyai titik lebur yang tajam (rentangan suhunya
kecil), sedangkan zat padat amorf akan melunak kemudian melebur dalam rentangan
suhu yang besar. Partikel zat padat amorf sulit dipelajari Karena tidak teratur. Oleh
sebab itu, pembahasan zat padat hanya membicarakan Kristal. Suatu zat mempunyai
bentuk Kristal tertentu. Dua zat yang mempunyai struktur Kristal yang sama disebut
isomorfik (sama bentuk), contohnya NaF dengan MgO, K2SO4 dan Cr2O3 dengan
Fe2O3.. Zat isomorfik tidak selalu dapat menggantikan kedudukan partikel lain.
Contohya Na+ tidak dapat menggantikan K+ dalam KCl, walaupun bentuk Kristal
NaCl sama dengan KCl. Suatu zat yang mempunyai dua Kristal atau lebih disebut
polimorfik (banyak bentuk). Contohnya karbon dan belerang. Karbon mempunyai
struktur grafit dan intan, belerang dapat berstruktur rombohedral dan monoklin
(Syutri, 1999: 70).
Rekristalisasi merupakan salah satu pemurnian zat padat yang jamak
digunakan,dimana zat-zat tersebut atau zat-zat padat tersebut dilarutkan dalam suatu
pelarut kemudian dikristalan kembali. Cara ini bergantung pada kelarutan zat dalam
pelarut tertentu dikala suhu diperbesar. Karena konsentrasi total impurity biasanya
lebih kecil dari konsentrasi zat yang dimurnikan bila dingin, maka konsentrasi
impurity yang rendah tetapi dalam larutan sementara produk yang berkonsentrasi
tinggi akan mengendap (Arsyad, 2001: 50).

Kemudian suatu endapan dapat disaring dan dicuci tergantung sebagian


besar pada struktur morfologi endapan, yaitu bentuk dan ukuran Kristal-kristalnya.
Semakin besar Kristal-kristal yang terbentuk selama berlangsungnnya pengendapan,
makin mudah mereka dapat disaring dan mungkin sekali (meski tak harus) makin
cepat Kristal-kristal itu akan turun keluar dari larutan yang lagi-lagi akan membantu
penyaringan. Bentuk Kristal juga penting. Struktur yang sederhana seperti kubus,
octahedron atau jarum-jarum sangat menguntungkan karena mudah dicuci setelah
disaring. Kristal dengan struktur yang lebih kompleks yamg mengandung lekuklekuk dan lubang-lubang akan menahan cairan induk (mother liquid), bahkan setelah
dicuci dengan seksama. Dengan endapanyang terdiri dari Kristal-kristal yang
demikian. Pemisahan kuantitatif lebih

kecil

kemungkinannya

bisa

tercapai

(Svehla, 1979: 80).


Dalam rekristalisasi, sebuah larutan mulai mengendapkan sebuah senyawa
bila larutan tersebut mencapai titik jenuh terhadap senyawa tersebut. Dalam
pelarutan, pelarut menyerang zat padat dan mensolvatasinya pada tingkat partikel
individual. Dalam pengendapan, terjadi kebalikannya : tarik menarik larutan. Sering,
tarik-menarik zat terlarut pelarut tetap berlangsung selama proses pengendapa dan
pelarut bergabung sendiri ke dalam zat padat (Oxtoby, 2001: 77).
Ukuran Kristal yang terbentuk selama pengendapan, tergantung dua factor
penting yaitu laju pembentukan inti (nucleus) dan laju pertumbuhan Kristal. Jika laju
pembentukan inti tergantung pada derajat lewat jenuh di larutan. Makin tinggi derajat
lewat jenuh, makin besarlah kemungkinan untuk membentuk inti baru, jadi makin
besarlah laju pembentukan inti. Laju pertumbuhan Kristal merupakan factor lain
yang

mempengaruhi

ukuran

Kristal

yang

terbentuk

selama

pengendapan

berlangsung. Jika laju ini tinggi, Kristal-kristal yang besar akan terbentuk yang
dipengaruhi oleh derajat lewat jenuh (Svehla, 1979: 83).
Garam dapur atau natrium klorida atau NaCl. Zat padat berwarna putih yang
dapat diperoleh dengan menguapkan dan memurnikan air laut. Juga dapat dengan
netralisasi HCl dengan NaOH berair. NaCl nyaris tak dapat larut dalam alcohol,
tetapi larut dalam air sambil menyedot panas, perubahan kelarutannya sangat kecil

dengan suhu. Garam normal, suatu garam yang tak mengandun hydrogen atau gugus
hidroksida yang dapat digusur. Larutan-larutan berair dari garam normal tidak selalu
netral terhadap indicator semisal lakmus. Garam rangkap, garam yang terbentuk
lewat kristalisasi dari larutan campuran sejumlah ekuivalen dua atau lebih garam
tertentu. Misalnya: FeSO4 (NH4)2SO4.6H2O. Dalam larutan, garam ini merupakan
campuran rupa-rupa ion sederhana yang akan mengion jika dilarutkan lagi. Jadi, jelas
berbeda dengan garam kompleks yang menghasilkan ion-ion kompleks dalam larutan
(Arsyad, 2001).
Titik leleh didefinisikan sebagai temperature dimana zat padat berubah
menjadi cairan pada tekanannya satu atmosfer. Titik leleh suatu zat pada tidak
mengalami perubahan yang berarti dengan adanya perubahan tekannan. Oleh karena
itu, tekanan biasanya tidak dilaporkan pada penentuan titik leleh kecuali kalau
perbedaan dengan tekanan normal terlalu besar (Amirullah, 2011).
Titik leleh suat senyawa adalah suhu dimana senyawa tersebut mulai
meleleh sampai seluruhnya meleleh. Senyawa-senyawa murni suhunya hamper tetap
selama meleleh atau disebut titik leleh yang tajam, misalnya 127,5-128 0C atau 1781800C, sedangkan untuk cuplikan yang sama tetapi tidak murni akan meleleh pada
123-1260C atau 178-1800C. Pengotoran yang menyebabkan penurunan titik leleh ini
mungkin sekali suatu bahan berbentuk resin yang tidak muda diidentifikasi atau
senyawa lain yang mempunyai titik leleh lebih rendah atau lebih tinggi dari senyawa
utamanya. Bila suatu senyawa A yang murni meleleh pada 150-1510C dan senyawa B
murni meleleh pada 120-1210C, maka bila senyawa A ditambah sediki senyawa B,
campuran ini akan meleleh secara tidak tajam pada daerah suhu dibawah 1500C,
sebaliknya bila senyawa B ditambah sedikit senyawa A, campuran ini akan meleleh
di bawah suhu 1200C (Tim Dosen Kimia Organik, 2011: 5).
Pada umumnya titik leleh senyawa organik mudah diamati sebab
temperature dimana pelelehan mulai terjadi hamper sama dengan temperature dimana
zat telah meleleh semuanya. Contohnya;suatu zat dituliskan dengan range titik leleh
122,10C-122,40C daripada titik lelehnya 122,20C. jika zat padat yang diamati tidak
murni, maka akan terjadi penyimpangan dari titik leleh senyawa murninya.

Penyimpangan itu berupa penurunan titik leleh dan perluasan range titik leleh.
Misalnya: suatu asam murni diamati titik lelehnya pada temperature 122,10C-122,40C
penambahan 20% zat padat lain akan mengakibatkan perubahan titik lelehnya
menjadi 1150C-1190C.

Rata-tata titik lelehnya lebih rendah 5 0C dan range

temperature akan berubah dari 0,30C jadi 40C (Amirullah, 2011).

IV. ALAT DAN BAHAN


a.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
b.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

Alat
Alat destilasi 1 set
Corong Buchner
Labu Erlenmeyer
Labu isap 500 mL
Gelas piala 100 mL
Labu semprot
Pembakar spiritus
Gelas ukur 25 mL
Kasa asbes dan kaki tiga
Penjepit kayu
Pengaduk
Adaptor
Alat thiele
Blok logam
Alat koffler
Tabung kapiler
Thermometer 0-3100C
Bahan
Etanol
Air
Batu didih
Kertas saring
Methanol
Aseton
Asam benzoate
Asam asetat glacial
Benzene
Norit
Asam salisilat
Asetanilida
Urea
Tisu
Korek api

V.

PROSEDUR KER JA

a. Kalibrasi thermometer
# Mengetes titik 0 termometer
1. Memasukkan campura air es ke dalam gelas piala dan mengaduk secara
2.

homogen.
Memasukkan thermometer dengan memegangnya dan memperhatikan penunjuk

thermometer.
# Mengetes titik 100 termometer
1. Mengisi ke dalam tabung reaksi besar 10 mL aquades
2. Memasukka sedikit batu didih
3. Mengklem tabung tersebut tegak lurus
4. Memanaskan perlahan hingga mendidih
5. Memasukkan thermometer dengan memegang ujungnya
6. Memperhatikan penunjukan thermometer sampai mencapai 1000C.
b. Destilasi biasa
1. Memasang peralatan destilasi biasa dengan memasang labu bundar 500 mL yang
2.
3.
4.

diklem dan disimpan di atas kawat kasa dan pembakar Bunsen


Melengkapi ujung kondensor dengan adaptor dan penampung gelas ukur
Mengalirkan air pendingin, mengalirkan aliran air dari bawah ke atas
Memasukka campuran etanol-air ke dalam labu yang jumlahnya maksimum

5.
6.

setengah volume labu


Menambahkan beberapa butir batu didih
Memulai melakukan pemanasan dengan api yang diatur perlahan naik sampai

7.

mendidih.
Mengatur pemanasan supaya destilat menetes secara teratur dengan kecepatan

8.

satu tetes perdetik


Mencatat suhu dan volume destilat secara teratur setiap interval waktu tertentu

c.
1.
2.

(setiap 5 menit).
Rekristalisasi
Menempatkan 1 gram Kristal (asam) dan 5 mL air dalam Erlenmeyer 125 mL
Menggoncang campuran tersebut, meletakkan di atas pembakar kecil sampai

3.

mendidih
Menambahkan setiap kali 1 mL air ambil menggoncang sampai Kristal tepat

4.
5.
6.
7.
8.

larut dengan beberapa jumlah air yang diperlukan


Menambahkan air sampai volume 25 mL
Memasukkan norit 1-2% dari berat asam, mendidihkan sambil diaduk
Menuangkan/menyaring ke atas corong Buchner yang sudah dilengkapi labu isap
Memindahkan hasil saringan tersebut ke dalam Erlenmeyer
Membiarkan mendingin hingga mengkristal

d.
1.

Penentuan titik leleh


Memasang tabung kapiler yang sudah berisi zat dalam lubang khusus pada blok
logam atau dengan cara menempelkan pada thermometer (kedudukan tepat pada

2.

kolom Hg) untuk penentuan yang menggunakan alat thiele


Menentukan titik leleh urea (132,5-1330C) atau asam salisilat (132-1330C) dan

asam acetanilide (113,5-1440C).


3. Mencatat trayek leleh dari ketiga zat tersebut
1). campuran
a. Membuat campuran urea dengan asam salisilat 1:1, 1:4, 4:1
b. Mengaduk campuran sampai homogen
c. Mencatat trayek leleh campuran tersebut
2). Zat yang tidak diketahui
Menentukan dengan teliti titik leleh zat unknown yang diberikan oleh Asisten.

VI. HASIL PENGAMATAN


1. Kalibrasi Termometer
Titik beku
: 00C
Titik didih
: 1000C
2. Destilasi
suhu (0C)
79
78
79
79

5 menit
I
II
III
IV
3.

Rekristalisasi

Berat kertas saring

: 0,7 g

Berat kertas saring + Kristal

: 1,3 g

Berat kristal

: 0,6 g

Berat asam sebelum dikristalisasi

:1g

Penyelesaian:
Rendemen

=
=

4.

x 100 %
x 100 %

= 60 %
Penentuan titik leleh

Volume (mL)
21
9
5
11

Senyawa
B
C
-

A
Asam

Campuran Titik
Leleh
92 0C

Trayek
Leleh
92 0C-150 0C

salisilat
Asam

Urea
Asetanilida
Urea
-

1:4

70 0C
95 0C
74 0C

700C-111 0C
950C-1090C
740C-92 0C

salisilat
Asam

Urea

1:4

66 0C

660C- 83 0C

salisilat
Asam

Urea

4:1

98 0C

980C- 150 0C

salisilat
Suhu awal sebelum dipanaskan = 39 0C

VII. ANALISIS DATA


1.

Rekristalisasi

Asam Benzoat
Dik:

Massa Teori

:1g

Massa Praktek : 0,6 g


Dit:

Rendemen.?

Penyelesaian:
Rendemen

2.

x 100 %

x 100 % = 60 %

Destilasi
5 menit
I
II
III
IV

suhu (0C)
79
78
79
79

Volume (mL)
21
9
5
11

Suhu rata-rata

=
=
= 78,75 0C

Volume rata-rata =
=
= 11,5 mL
GRAFIK PERBANDINGAN SUHU DAN VOLUME DESTILAT

3.
a.

b.

Penentuan Titik Leleh


Asam Salisilat
Titik leleh teori
Titik leleh teori saat meleleh semua
Titik leleh praktek
Titik leleh praktek saat meleleh semua
Trayek leleh teori
Trayek leleh praktek
Urea
Titik leleh teori
Titik leleh teori saat meleleh semua
Titik leleh praktek
Titik leleh praktek saat meleleh semua
Trayek leleh teori

: 158,5 0C
: 159 0C
: 92 0C
: 150 0C
: 158,5 0C-159 0C= 0,5 0C
: 150 0C-92 0C = 58 0C
: 132,50C
: 173 0C
: 76 0C
: 111 0C
: 133 0C-132,5 0C= 0,5 0C


c.

d.

e.

f.

Trayek leleh praktek


Asam Salisilat : urea (1:1)
Titik leleh awal
Titik leleh saat meleleh semua
Trayek leleh
Asam salisilat : urea (1:4)
Titik leleh awal
Titik leleh saat meleleh semua
Trayek leleh
Asam salisilat : urea (4:1)
Titik leleh awal
Titik leleh saat meleleh semua
Trayek leleh
Zat yang tidak diketahui
Titik leleh awal
Titik leleh saat meleleh semua
Trayek leleh

: 1090C-950C= 14 0C
: 74 0C
: 92 0C
: 920C-74 0C = 18 0C
: 66 0C
: 83 0C
: 83 0C-660C = 17
: 98 0C
: 150 0C
: 150 0C-98 0C = 520C
: 980C
: 150 0C
: 1500C-98 0C = 52 0C

VIII.PEMBAHASAN
A. Kalibrasi Termometer
Kalibrasi dilakukan dengan membandingkan suatu standar yang terhubung
dengan standar nasional dan bahan-bahan acuan tersertifikasi. Pada percobaan ini,
dilakukan dua kali pengamatan. Pengamatan pertama yaitu mengetes titik nol
thermometer yang dilakukan pada campuran air-es yang diaduk homogeny kemudian
dites dengan thermometer. Pada saat mencelupkan thermometer maka air raksa pada
thermometer akan berkurang. Ini disebabkan perubahan suhu kamar pada saat
thermometer berada di luar kemudian berada pada air-es sehingga titik beku dari
thermometer yaitu 0 0C dan campuran es-air telah berada dalam kesetimbangan.
Pada pengamatan kedua, yaitu mengetes titik 100 termometer dengan
memanaskan air sampai mendidih dengan memasukan batu didih Batu didih ini
bertujuan untuk mengurangi letupan-letupan pada saat pemanasan karena batu didih
memiliki pori-pori yang dapat menyerap kalor. Kemudian memasukkan thermometer,
air raksa pad thermometer tersebut akan mengalami peningkatan suhu sehingga
diperoleh suhu 100 0C
B. Destilasi

Destilasi adalah proses penguapan dan pengembunan dari suatu zat cair pada
tekanan dan suhu tertentu. Dimana bertujuan untuk memisahkan zat cair berdasarkan
titik didihnya. Pada percobaan ini, pertama-tama memasang peralatan destilasi biasa
dengan memasang labu bundar 500 mL yang akan digunkan sebagai wadah dari
campuran etanol-air kemudian diklem yang berfungsi sebagai penahan kondensor.
Setelah itu, disimpan di atas kawat sebagai pelapis dan pembakar Bunsen yang
berfungsi sebagai pemanas kemudian ujung kondensor yag berfungsi sebagai tempat
berlangsungnya pendingina yang dilengkapi dengan adaptor dan penampung gelas
ukur. Kemudian air dialirka dari atas ke bawah kemudian memasukkan campuran
etanol-air ke dalam labu. Etanol-air masing-masing berfungsi sebagai pelarut yang
jumlahya maksimum setengah volume labu. Setelah itu dilakukanlah pemanasan
dengan api yang diatur perlahan naik sampai mendidih kemudian pemanasan diatur
supaya destilat menetes secara teratur dengan kecepatan sau tetes perdetik. Setelah
itu, suhu dan volume destilat dicatat setiap 5 menit. Pada percobaan ini, etanol yang
lebih dulu menguap daripada air karena etanol yang memiliki titik didih lebih rendah
daripada air yaitu 78 0C sedangkan air titik didihnya yaitu 100 0C. Hal ini sesuai
dengan teori bahwa titik didih yang lebih rendah akan lebih cepat menguap daripada
titik didih yang lebih tinggi.
C. Rekristalisasi
Rekristalisasi adalah suatu tehnik pemurnian zat cair dari campurannya
dengan cara mengkristalkan kembali zat tersebut setelah dilarutkan dalam pelarut
yang cocok. Pada percobaan ini, pertama-tama memasukkan 1 g Kristal asam
benzoate, 5 mL air ke dalam elenmeyer 125 mL. Air disini berfungsi untuk mearutka
asam bensoat karena air merupakan senyawa polar dan asam benzoate juga
merupakan senyaa polar sehingga asam benzoate dapat dilarutkan dalam air. Setelah
itu, dipanaska hingga medidih sambil diaduk agar asam asam tersebut cepat larut atau
bercampur secar homogen. Kemudian, ditambahkan lagi air sampai volume 25 mL,
dan masukkan 1-2% norit dari berat asam. Norit berfungsi untuk mengikat kotoran
kemudian dituangkan atau disaring keatas corong yang telah dilengkapi labu isap.
Pada percobaan ini, berat Kristal murni sebelum dikristalisasi adalah 1 g dan setelah

direkristalisasi sebanyak 0,6 g. Hal ini sesuai dengan teori bahwa jumlah Kristal yang
diperoleh harus kurang dari massa Kristal yang direkristalisasi.
D. Penentuan titik leleh
Pada percobaan ini akan ditentukan titik leleh suatu larutan yaitu dengan
menentukan suhu yang diperoleh pada saat larutan tersebut mulai meleleh dan
meleleh seluruhnya. Pada percobaa ini, akan dilakukan dua percobaan yaitu zat
campuran dan zat yang tidak diketahui.
1. Campuran
Pada percobaan ini, membuat campuran urea dengan asam salisilat dengan
perbandingan 1:4, 1:1, 4:1. Mengusahakan campuran homogen. Menotolkan tabung
kapiler yang sudah di bakar salah satu ujungny agar tabung kapiler tertutup sehingga
campuran tidak keluar. Kemudian disimpan pada alat thiele yang dipasang pada
thermometer lalu dipanaskan untuk menentukan titik lelehnya.
Dari hasil pengamatan diperoleh bahea titik leleh urea dengan asam salisilat
dengan perbandingan 1:4, 1:1, 4:1 adalah 740C, 66 0C dan 980C dengan trayek
lelehnya tidak tajam dan senyawa ini termasuk senyawa campuran dalam trayek
lelehnya yaitu 10C ke atas. Hal ini tidak sesuai dengan teori. Hal ini disebabkan
kurangnya ketelitian pada saat pembacaan thermometer.
2. Zat yang tidak diketahui
Pada percobaan ini, zat yang tidak diketahui yang diberikan oleh Asisten
dimasukkan ke dalam tabung kapiler lalu dipanaskan agar zat tersebut tidak keluar.
Tabung kapiler dipanaskan dengan menempelkan pada thermometer.
Hasil yang diperoleh pada saat zat tersebut meleleh seluruhnya yaitu 109 0C,
sedangkan pada saat mulai meleleh yaitu 950C sehingga trayeknya yaitu 140C. Dari
hasil tersebut diketahui zat tersebut adalah asetanilida.

IX. KESIMPULAN
1.

Destilasi merupakan proses pemisahan dan pemurnian zat cair berdasarkan


perbedaan titik didihnya. Suhu destilat yag diperoleh adalah 780C dan 790C

2.

dengan volume masing-masing 21 mL, 9 mL, 11 mL.


Rekristalisasi merupakan cara pemisahan campuran dari zat pengotornya dengan

3.

cara mengkristalkan kembali pelarutnya.


Pada saat rekristalisasi pelarut yang sesuai harus diperhatikan. Zat polar dengan
polar, non polar dengan non polar pula.

4.
5.

Trayek leleh untuk zat murni yaitu 0,50C


Melalui percobaan ini, mahasiswa dapat mengetahui cara merangkai peralatan

6.

destilasi sederhana
Pada percobaan ini, Mahasiswa/Praktikan dapat melakukan rekristalisasi dengan

7.

baik yaitu hasil yang diperoleh sesuai dengan teori


Pada percobaan ini, Praktikan belum bisa menguasai tehnik penentuan titik leleh,
ini dapat dilihat pada hasil yag diperoleh pada penentuan titik leleh tidak sesuai

8.

dengan teori.
Pada percobaan ini, Praktikan dapat memahami dan terampil dalam
menjernihkan dan menghilangkan warna larutan dengan cara menyarin atau

9.

direkristalisasi
Pada percobaan ini, Praktikan belum terampil dalam pembacaan titik leleh, dapat
dilihat dari hasil percobaan yang diperoleh tidak sesuai dengan teori.

X.

SARAN
Diharapkan kepada Praktikan agar dalam melakukan rekristalsasi, zat

(Kristal) yang dilarutkan harus benar-benar larut dan lebih teliti dalam pembacaan
thermometer untuk penentuan titik leleh.

DAFTAR PUSTAKA

Amirullah, 2011. http://www.Moeslem .blogspot.com. Diakses 21 april 2011.


Arsyad, M. Natsir, 2011. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Jakarta:
Gramedia
Keenan, Charles W, dkk, 1992. Kimia untuk Universitas Jilid 2. Jakarta : Erlangga
Oxtoby, David W, dkk. 2001. Prinsip-Prinsip Kimia Modern Jilid 1. Jakarta :
Erlangga.
Svhela, 1979. Analisis Anorganik Kuantitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: PT.
Kalman Media Pustaka.
Syukri, 1999. Kimia Dasar 3. Bandung : ITB Press.
Zulfikar, 2011. http://www.Chem-Is-Try.Org. Diakses 21 april 2011

JAWABAN PERTANYAAN
1. Grafik titik didih terhadap volume destilat

2. Azeotrop biner adalah suatu campuran yang terdiri dari dua fasa yaitu fasa uap
dan fasa cair.
3. Suatu larutan
4.
a.
b.
5.
a.
b.
c.
d.
e.
6.

dapat

dipisahkan

dari

komponen-komponennya

dengan

menguapkannya pada proses destilasi


Sifat-sifat pelarut yang digunakan dalam rekristalisasi yaitu,
Kepolaran
Kekuatan melarutnya
Lima urutan kerja yang harus dilakukan dalam rekristalisasi :
Melarutkan Kristal asam
Memanaskan dan menyaringnya
Mendinginkan sampai terbentuk Kristal
Menyaring Kristal yang terbentuk
Mengeringkn dan menimbang Kristal
Prisip dasar dari rekristalisasi adalah perbedaan kelarutan untuk zat yang akan

dimurnikan dengan zat pencemarnya.


7. Dua alasan penyaringan dengan labu isap dalam memisahkan Kristal dari
induknya :
a. Untuk memperoleh pelarut murni karena labu isap bisa mengisap larutan
pengotor pada kertas saring
b. Hanya sedikit air yang tersisa pada kertas saring dan proses penyaringan lebih
cepat.
8. Penentuan titik leleh
Senyawa
A
Asam
salisilat
-

B
-

C
-

Campuran Titik
Leleh
92 0C

Trayek
Leleh
92 0C-150
0

urea

70 C

C
700C-111

Asam
salisilat
Asam
salisilat
Asam

Asetanilida -

urea -

1:4

95 C

C
950C-

74 0C

1090C
740C-92

urea -

1:4

66 C

C
660C- 83
0

urea -

4:1

salisilat
Suhu awal sebelum dipanaskan = 39 0C

98 C

C
980C- 150
0