Anda di halaman 1dari 24

Perencanaan Pembangunan PLTB di Kabupaten Sidrap

Laporan :
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Kelulusan
Salah Satu Mata Kuliah Perancangan Energi Elektrik

Oleh :
Rizal Fachrul Rozi 11-2010-064
Ahmad Farid F 11-2011-054
M Ramdhan 11-2011-035

Dosen pengajar : Teguh Arfianto

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULSTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kebutuhan akan listrik pada elemen masyarakat sangatlah besar baik
dari kalangan industri, rumah tanggga, dan kebutuhan-kebutuhan yang
lain. Kebutuhan akan listrik pada masyarakat kini semakin meningkat,
seiring kebutuhan dan pertambahan penduduk yang semakin meningkat.
Namun, peningkatan kebutuhan listrik ini tidak diiringi oleh penambahan
pasokan listrik untuk konsumen sehingga perusahan listrik di Indonesia
khususnya PLN (Perusahaan Listrik Negara) menghimbau kepada seluruh
konsumennya agar melakukan penghematan listrik dari pukul 17.00 22.00.
Dengan cara ini diharapkan krisis ketenagalistrikan tidak terjadi atau paling
tidak dapat diminimalisir sedini mungkin. Selain itu krisis ketenagalistrikan
terjadi karena pasokan bahan bakar utama seperti batu bara pada PLTU dan
PLTGU pasokannya sudah mulai menipis karena sudah terlalu sering
ditambang dari perut bumi.

1.2 Maksud dan tujuan


Untuk mengetahui prinsip kerja PLTB
Untuk mengetahui peralatan dari PLTB
Dapat merancang PLTB
1.3 Pembatasan masalah
Berdasarkan beberapa permasalahan diatas, penyusun memiliki
alternatif lain agar terjadinya krisis ketenagalistrikan dapat diminimalisir.
Atau paling tidak, bagi para konsumen yang ingin memasang saluran
listrik baru yang daerahnya belum disambung aliran listrik dari PLN
terutama di daerah daerah terpencil bias menikmati energi listrik.
Dengan dasar inilah penyusun mencoba untuk merancang sebuah
pembangkit listrik dengan memanfaatkan energi angin.
BAB II
TEORI DASAR

2.1 Angin
Angin adalah udara yang bergerak yang diakibatkan oleh rotasi bumi dan
juga karena adanya perbedaan tekanan udara di sekitarnya. Angin bergerak
dari tempat bertekanan udara tinggi ke bertekanan udara rendah. Syarat
syarat dan kondisi angin yang dapat digunakan untuk menghasilkan energi
listrik dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Angin kelas 3 adalah batas
minimum dan angin kelas 8 adalah batas maksimum energi angin yang
dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.

Gambar 2.1 tabel energy angin yang dapat dimanfaatkan

Gambar 2.2 tabel kelas kecepatan angin

2.1.1 Faktor terjadinya angin


a. Gradien barometris
Bilangan yang menunjukkan perbedaan tekanan udara dari 2
isobar

yang

jaraknya

111

km.

Makin

barometrisnya, makin cepat tiupan anginnya.


b. Letak tempat

besar

gradient

Kecepatan angin di dekat khatulistiwa lebih cepat dari yang jauh


dari garis khatulistiwa.
c. Tinggi tempat
Semakin tinggi tempat, semakin kencang pula angin yang bertiup,
hal ini disebabkan oleh pengaruh gaya gesekan yang menghambat
laju udara. Di permukaan bumi, gunung, pohon, dan topografi
yang tidak rata lainnya memberikan gaya gesekan yang besar.
Semakin tinggi suatu tempat, gaya gesekan ini semakin kecil.
d. Waktu
Di siang hari angin bergerak lebih cepat daripada di malam hari.
2.1.2 Jenis jenis angin
a. Angin Darat
Angin darat (land breeze) adalah angin yang bertiup dari arah
darat ke arah laut yang umumnya terjadi pada saat malam hari
dari jam 20.00 sampai dengan jam 06.00 di daerah pesisir pantai.
Angin jenis ini bermanfaat bagi para nelayan untuk berangkat
mencari ikan dengan perahu bertenaga angin sederhana. Pada
malam hari daratan menjadi dingin lebih cepat daripada lautan,
karena kapasitas panas tanah lebih rendah daripada air. Akibatnya
perbedaan suhu yang menyebabkan terjadinya angin laut lambat
laun hilang dan sebaliknya muncul perbedaan tekanan yang
berlawanan karena tekanan udara di atas lautan yang lebih panas
itu menjadi lebih rendah daripada daratan, sehingga terjadilah
angin darat, khususnya bila angin pantai tidak cukup kuat untuk
melawannya.
b. Angin Laut
Angin laut (sea breeze) adalah angin yang bertiup dari arah
laut ke arah darat yang umumnya terjadi pada siang hari dari
pukul 09.00 sampai dengan pukul 16.00 di daerah pesisir pantai.
Angin ini biasa dimanfaatkan para nelayan untuk pulang dari
menangkap ikan di laut. Angin laut ini terjadi pada siang hari.
Karena air mempunyai kapasitas panas yang lebih besar daripada
daratan, sinar matahari memanasi laut lebih lambat daripada
daratan. Ketika suhu permukaan daratan meningkat pada siang

hari, udara di atas permukaan darat meningkat pula akibat


konduksi. Tekanan udara di atas daratan menjadi lebih rendah
karena panas, sedangkan tekanan udara di lautan cenderung masih
lebih tinggi karena lebih dingin. Akibatnya terjadi gradien
tekanan dari lautan yang lebih tinggi ke daratan yang lebih
rendah, sehingga menyebabkan terjadinya angin laut, dimana
kekuatannya sebanding dengan perbedaan suhu antara daratan dan
lautan. Namun, jika ada angin lepas pantai yang lebih kencang
dari 8 km/jam, maka angin laut tidak terjadi.
c. Angin Fohn
Angin Fohn/angin jatuh adalah angin yang terjadi seusai hujan
Orografis. angin yang bertiup pada suatu wilayah dengan
temperatur dan kelengasan yang berbeda. Angin Fohn terjadi
karena ada gerakan massa udara yang naik pegunungan yang
tingginya lebih dari 200 meter di satu sisi lalu turun di sisi lain.
Angin Fohn yang jatuh dari puncak gunung bersifat panas dan
kering, karena uap air sudah dibuang pada saat hujan Orografis.
Biasanya angin ini bersifat panas merusak dan dapat
menimbulkan korban. Tanaman yang terkena angin ini bisa mati
dan manusia yang terkena angin ini bisa turun daya tahan
tubuhnya terhadap serangan penyakit.
d. Angin Munsoon
Angin Munsoon, Moonsun, muson adalah angin yang
berhembus secara periodik (minimal 3 bulan) dan antara periode
yang satu dengan yang lain polanya akan berlawanan yang
berganti arah secara berlawanan setiap setengah tahun. Biasanya
pada setengah tahun pertama bertiup angin darat yang kering dan
setengah tahun berikutnya bertiup angin laut yang basah.
Pada bulan Oktober April, matahari berada pada belahan
langit

Selatan,

sehingga

benua

Australia

lebih

banyak

memperoleh pemanasan matahari dari benua Asia. Akibatnya di


Australia terdapat pusat tekanan udara rendah (depresi) sedangkan

di Asia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi (kompresi).


Keadaan ini menyebabkan arus angin dari benua Asia ke benua
Australia.
Di Indonesia angin ini merupakan angin musim Timur Laut di
belahan bumi Utara dan angin musim Barat di belahan bumi
Selatan. Oleh karena angin ini melewati Samudra Pasifik dan
Samudra Hindia maka banyak membawa uap air, sehingga di
Indonesia terjadi musim penghujan. Musim penghujan meliputi
seluruh wilayah indonesia, hanya saja persebarannya tidak
merata. makin ke timur curah hujan makin berkurang karena
kandungan uap airnya makin sedikit.
Pada bulan April-Oktober, matahari berada di belahan langit
utara, sehingga benua Asia lebih panas daripada benua Australia.
Akibatnya, di asia terdapat pusat-pusat tekanan udara rendah,
sedangkan di australia terdapat pusat-pusat tekanan udara tinggi
yang menyebabkan terjadinya angin dari australia menuju asia.
Di indonesia terjadi angin musim timur di belahan bumi selatan
dan angin musim barat daya di belahan bumi utara. Oleh karena
tidak melewati lautan yang luas maka angin tidak banyak
mengandung uap air oleh karena itu di indonesia terjadi musim
kemarau, kecuali pantai barat sumatera, sulawesi tenggara, dan
pantai selatan irian jaya.
Antara kedua musim tersebut ada musim yang disebut musim
pancaroba (peralihan), yaitu musim kemareng yang merupakan
peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, dan musim
labuh yang merupakan peralihan musim kemarau ke musim
penghujan. Adapun ciri-ciri musim pancaroba yaitu : Udara terasa
panas, arah angin tidak teratur dan terjadi hujan secara tiba-tiba
dalam waktu singkat dan lebat.
Angin Munson dibagi menjadi 2, yaitu Munson Barat atau
dikenal dengan Angin Musim Barat dan Munson Timur atau
dikenal dengan Angin Musim Timur
1. Angin musim barat.

Angin Musim Barat/Angin Muson Barat adalah angin yang


berhembus dari Benua Asia (musim dingin) ke Benua Australia
(musim panas) dan mengandung curah hujan yang banyak di
Indonesia bagian Barat, hal ini disebabkan karena angin
melewati tempat yang luas, seperti perairan dan samudra.
Contoh perairan dan samudra yang dilewati adalah Laut China
Selatan

dan

Samudra

Hindia.

Angin

Musim

Barat

menyebabkan Indonesia mengalami musim hujan.


Angin ini terjadi antara bulan Oktober sampai bulan April di
Indonesia terjadi musim hujan.
2. Angin musim timur.
Angin Musim Timur/Angin Muson Timur adalah angin yang
mengalir dari Benua Australia (musim dingin) ke Benua Asia
(musim panas) sedikit curah hujan (kemarau) di Indonesia
bagian Timur karena angin melewati celah- celah sempit dan
berbagai gurun (Gibson, Australia Besar, dan Victoria). Ini
yang menyebabkan Indonesia mengalami musim kemarau.
Terjadi pada bulan Juni, Juli dan Agustus, dan maksimal pada
bulan Juli.
2.2 Prinsip kerja pembangkit listrik tenaga angin
Pada prinsipnya pembangkit listrik tenaga bayu ini memanfaatkan energy
angin yang berhembus untuk memutarkan poros baling-baling atau turbin
angin pada pembangkit yang dimana baling-baling tersebut sudah terkopel
dengan generator dan menghasilkan listrik. Untuk kejelasan lebih
lengkapnya bisa di lihat juga di bagian instrument pada bagian turbin alatalat apa saja yang mendukung sampai generator bisa menghasilkan listrik.
2.3 Komponen
Berikut ini adalah gambar dari bagian-bagian yang terdapat di dalam
turbin pada kincir pembangkit listrik tenaga angin. Untuk kejelasan bagianbagian yang terdapat dalam turbin bisa di lihat di gambar dan penjelasan di
bawah ini.

Gambar 2.3 bagian bagian kincir angin

1. Blades
Kebanyakan turbin baik dua atau tiga pisau. Angin bertiup di atas
menyebabkan pisau pisau untuk mengangkat dan berputar.
2. Rotor
Pisau dan terhubung bersama-sama disebut rotor.
3. Pitch
Blades yang berbalik, untuk mengontrol kecepatan rotor dan menjaga
rotor berputar dalam angin yang terlalu tinggi atau terlalu rendah untuk
menghasilkan listrik.
4. Brake
Digunakan untuk menjaga putaran pada poros setelah gearbox agar
bekerja pada titik aman saat terdapat angin yang besar.
5. Low speed shaft
Mengubah poros rotor kecepatan rendah.
6. Gear box
Gear menghubungkan poros kecepatan tinggi di poros kecepatan rendah
dan meningkatkan kecepatan.
7. Generator
Berfungsi mengkonversi energi putar menjadi energi listrik.
8. Controller
Pengontrol mesin mulai dengan kecepatan angin sekitar 8-16 mil per
jam (mph) dan menutup mesin turbin sekitar 55 mph. tidak beroperasi
pada kecepatan angin sekitar 55 mph di atas, karena dapat rusak karena
angin yang kencang.
9. Anemometer

Mengukur kecepatan angin dan mengirimkan data kecepatan angin ke


pengontrol.
10. Wind vane
Mengubah arah angin dan berkomunikasi dengan yaw drive untuk
menggerakkan turbin dengan koneksi yang benar dengan angin.
11. Nacelle
Berada di atas menara dan berisi gear box, poros kecepatan rendah dan
tinggi, generator, kontrol dan rem.
12. High speed shaft
Drive generator. Poros yang berhubungan langsung dengan rotor
generator.
13. Yaw drive
Digunakan untuk menjaga rotor menghadap ke arah angin sebagai
perubahan arah angin.
14. Yaw motor
Motor listrik yang menggerakkan yaw drive.
15. Tower
Menara yang terbuat dari baja tabung, beton atau kisi baja. Karena
kecepatan

angin

meningkat

dengan

tinggi,

menara

tinggi

memungkinkan turbin untuk menangkap lebih banyak energi dan


menghasilkan listrik lebih banyak.
2.4 Turbin angin
Turbin

angin

merupakan

mesin

dengan

sudu

berputar

yang

mengonversikan energi kinetik angin menjadi energi mekanik. Jika energi


mekanik digunakan langsung secara permesinan seperti pompa atau
grinding stones, maka mesin (turbin) disebut windmill. Jika energi mekanik
dikonversikan menjadi energi listrik, maka mesin disebut turbin angin atau
wind energy converter (WEC).
Turbin angin sebagai mesin konversi energi dapat digolongkan
berdasarkan prinsip aerodinamik yang dimanfaatkan rotornya. Berdasarkan
prinsip aerodinamik, turbin angin dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1. Jenis drag yaitu prinsip konversi energi yang memanfaatkan selisih
koefisien drag.
2. Jenis lift yaitu prinsip konversi energi yang memanfaatkan gaya lift.

Pengelompokan turbin angin berdasarkan prinsip aerodinamik pada rotor


yang dimaksud yaitu apakah rotor turbin angin mengekstrak energi angin
memanfaatkan gaya drag dari aliran udara yang melalui sudu rotor atau
rotor angin mengekstrak energi angin dengan memanfaatkan gaya lift yang
dihasilkan aliran udara yang melalui profil aerodinamis sudu. Kedua prinsip
aerodinamik yang dimanfaatkan turbin angin memiliki perbedaan putaran
pada rotornya, dengan prinsip gaya drag memiliki putaran rotor relatif
rendah dibandingkan turbin angin yang rotornya menggunakan prinsip gaya
lift.

Gambar 2.4 turbin angin horizontal dan vertical

Jika dilihat dari arah sumbu rotasi rotor, turbin angin dapat dibagi menjadi
dua bagian yaitu :
1. Turbin angin sumbu horizontal (TASH)
Turbin angin sumbu horizontal (TASH) memiliki poros rotor utama
dan generator listrik di puncak menara. Turbin berukuran kecil diarahkan
oleh sebuah baling-baling angin (baling-baling cuaca) yang sederhana,
sedangkan turbin berukuran besar pada umumnya menggunakan sebuah
sensor angin yang digandengkan ke sebuah servo motor. Sebagian besar
memiliki sebuah gearbox yang mengubah perputaran kincir yang pelan
menjadi lebih cepat berputar.

Karena sebuah menara menghasilkan turbulensi di belakangnya,


turbin biasanya diarahkan melawan arah anginnya menara. Bilah-bilah
turbin dibuat kaku agar mereka tidak terdorong menuju menara oleh
angin berkecepatan tinggi. Sebagai tambahan, bilah-bilah itu diletakkan
di depan menara pada jarak tertentu dan sedikit dimiringkan.
Karena turbulensi menyebabkan kerusakan struktur menara, dan
realibilitas begitu penting, sebagian besar TASH merupakan mesin
upwind (melawan arah angin). Meski memiliki permasalahan turbulensi,
mesin downwind (menurut jurusan angin) dibuat karena tidak
memerlukan mekanisme tambahan agar mereka tetap sejalan dengan
angin, dan karena di saat angin berhembus sangat kencang, bilahbilahnya bisa ditekuk sehingga mengurangi wilayah tiupan mereka dan
dengan demikian juga mengurangi resintensi angin dari bilah-bilah itu.

Gambar 2.5 turbin angin sumbu horizontal

2. Turbin angin sumbu vertikal (TASV)


Turbin angin sumbu vertikal/tegak

(atau

TASV)

memiliki

poros/sumbu rotor utama yang disusun tegak lurus. Kelebihan utama


susunan ini adalah turbin tidak harus diarahkan ke angin agar menjadi
efektif. Kelebihan ini sangat berguna di tempat-tempat yang arah

anginnya sangat bervariasi. VAWT mampu mendayagunakan angin dari


berbagai arah.
Dengan sumbu yang vertikal, generator serta gearbox bisa
ditempatkan di dekat tanah, jadi menara tidak perlu menyokongnya dan
lebih mudah diakses untuk keperluan perawatan. Tapi ini menyebabkan
sejumlah desain menghasilkan tenaga putaran yang berdenyut. Drag
(gaya yang menahan pergerakan sebuah benda padat melalui fluida (zat
cair atau gas) bisa saja tercipta saat kincir berputar.
Karena sulit dipasang di atas menara, turbin sumbu tegak sering
dipasang lebih dekat ke dasar tempat ia diletakkan, seperti tanah atau
puncak atap sebuah bangunan. Kecepatan angin lebih pelan pada
ketinggian yang rendah, sehingga yang tersedia adalah energi angin yang
sedikit. Aliran udara di dekat tanah dan obyek yang lain mampu
menciptakan aliran yang bergolak, yang bisa menyebabkan berbagai
permasalahan yang berkaitan dengan getaran, diantaranya kebisingan dan
bearing wear yang akan meningkatkan biaya pemeliharaan atau
mempersingkat umur turbin angin. Jika tinggi puncak atap yang
dipasangi menara turbin kira-kira 50% dari tinggi bangunan, ini
merupakan titik optimal bagi energi angin yang maksimal dan turbulensi
angin yang minimal.

Gambar 2.6 turbin angin sumbu vertical

2.5 Contoh Spesifikasi Turbin PLTB


Berikut ini adalah beberapa gambar dari spesifikasi turbin untuk
Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).

Sistem kelistrikan PLTB dapat dibagi menjadi 2 yaitu:


a. Kecepatan konstan
b. Kecepatan berubah

Kecepatan konstan
Keuntungan
a. Murah, sistemnya sederhana dan kokoh.
b. Menghasilkan dfaya max pada satu nilai kecepatan angin.
c. Menggunakan generator tak serempak.
d. Cocok diterapkan pada daerah yang memiliki potensi kecepatan angin
yang besar.
Kelemahan
a. Generator memerlukan daya reaktif untuk bisa menghasilkan listrik.
b. Sistem ini rentan terhadap pulsating power menuju grid.
c. Rentan tyerhadap perubahan mekanis secara tiba-tiba.

Gambar Sistem PLTB kecepatan Konstan

BAB III
PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA BAYU

3.1 Potensi energy angin di Indonesia


Daerah pantai merupakan salah satu tempat yang dapat dimanfaatkan
secara maksimal sebagai daerah pengembangan energi terbarukan, dalam hal
ini Pembangkit Listrik Tenaga Angin. Indonesia, negara kepulauan yang 2/3
wilayahnya adalah lautan dan mempunyai garis pantai terpanjang di dunia
yaitu 80.791,42 Km merupakan wilayah potensial untuk pengembangan
pembanglit listrik tenaga angin. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan
oleh Pusat Meteorologi dan Geofisika, tentang penilaian potensi energi angin
di Indonesia. Berikut ini adalah peta potensi energi angin di Indonesia yang
dapat digunakan sebagai referensi dalam mengembangkan pembangkit listrik
tenaga angin di Indonesia. Perbedaan kecepatan udara terlihat dari perbedaan
warnanya. Biru menyatakan kecepatan udara rendah, sedangkan hijau,
kuning, merah dan sekitarnya menyatakan semakin besarnya kecepatan angin.

Gambar 3.1 peta potensi angin Indonesia

Grafik Kecepatan Angin Terhadap Waktu


14
12
10
8
6
Kecepatan angin (m/s)

Kecepatan Angin (m/s)

4
2
0

Waktu

Gambar 3.2 Grafik kecepatan angin terhadap waktu

Dari grafik

diatas maka dapat dibuat sebuah pembangkit listrik tenaga

dengan kecepatan angin rata-rata 9m/s.


3.2 Daya yang akan dibangkitkan
Pembangkit angin dan surya hybrid yang akan dibangkitkan dayanya adalah
sebesar 1000 kW dengan pembagian antara angina dan surya adalah 50:50.
Jadi daya yang akan dibangkitkan untuk pembangkit angin adalah sebesar
500 kW.

3.3 Data beban

Gambar 3.3 grafik data beban

3.4 Pemilihan komponen


3.4.1 Pemilihan kincir/baling baling
Untuk pemilihan kincir yang akan digunakan dilihat dari potensi angin
yang dapat memutar kincir tersebut. Potensi angin rata rata adalah 9
m/s dengan potensi angin minimum 6 m/s dan potensi angin
maksimum 12 m/s. Maka dipilihlah kincir
dengan gambar dan spesifikasi sebagai berikut :

Gambar 3.4 Kincir Hummer

Spesifikasi kincir Hummer:

jenis kincir hummer

3.4.2 Baterai dan spesifikasinya

3.4.3 Inverter dan spesifikasinya

3.5 Karakteristik kerja turbin angin

Gambar Karakteristik kerja turbin angin

Gambar diatas menunjukkan pembagian daerah kerja dari turbin angin.


Daerah kerja turbin angin dibagi menjadi 3 yaitu
a. Cut in speed
b. Kecepatan kerja angin rata-rata
c. Cut out speed
Secara ideal, turbin angin dirancang dengan kecepatan cut in yang seminimal
mungkin, kecepatan nominal yang sesuai dengan potensi angin lokal dan
kecepatan cut out yang semaksimal mungkin. Namun secara mekanis kondisi
ini sulit diwujudkan karena kompensasi dari perancangan turbin angin
dengan kecepatan maksimal (Vcut off) yang besar adalah Vcut dan Vrated
yang relatif akan besar pula. Penentuan kecepatan angin suatu daerah dapat
juga dilakukan dengan metoda probalistik distribusi weibull dalam mengolah
kumpulan data hasil survey.

Gambar Penentuan kecepatan angin rata-rata suatu daerah

3.6 Data Daerah

Gambar Peta Provinsi Sulawesi Selatan


Kabupaten Sidenreng Rappang atau dipanggil Sidrap merupakan salah satu
kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, ibu kotanya Pangkajene Sidenreng,
sekitar 180 km dari kota Makassar dan dapat dihubungi sekitar 4 jam dengan

menggunakan kenderaan. Dari kota Parepare, pusat kawasan pengembangan


ekonomi di Sulawesi Selatan sekitar 95 km. Luas wilayah 2,506.19 km. Jumlah
penduduk sekitar 250,000 orang. Secara geografi Kabupaten Sidrap terletak pada
koordinat antara 3 43 sampai 4 09 Lintang Selatan dan 119 41 sampai 120
10 Bujur Timur. Bustanuddin menjelaskan, secara umum untuk energi angin di
Sulsel kecepatannya sedang berkisar 2-4 m/detik. Pada beberapa daerah tertentu
seperti Takalar, Bulukumba, Sidrap dan Selayar kecepatan anginnya lebih dari 4
m/detik, sehingga cukup memadai untuk pembangkit listrik skala kecil yang
sesuai dipasang di derah pedesaan. Jumlah penduduk miskin 6% dari 250000 jiwa
= 0.06 x 250000 = 150000 jiwa
Dari jumlah rumah tangga yang ada = 0.06 x 67025 = 4021.5 rumah tangga yang
miskin

Untuk rumah tangga yang miskin disamaratakan menggunakan daya 1300


watt sehingga total daya yang dibutuhkan 1300 x 4021.5 = 5227950 watt

5.5 MW
Untuk rumah tangga kalangan menegah keatas menggunakan daya 2200
watt sehingga total daya yang dibutuhkan 2200 x 63003.5 = 151208400
watt 150 MW

Sehingga daya yang diperlukan untuk kabupaten sidrap adalah 155.5 MW.

Tabel Geografis Kabupaten Sidrap

Tabel Sosial Kabupaten Sidrap

Gambar Peta Kabupaten Sidrap