Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH KEWIRAUSAHAAN

KREDIT

DISUSUN OLEH:
Nama

: 1. Andi Saputra

(H1C111030)

2. Agus Salim

(H1C111214)

PROGRAM STUDI S1 PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2015

PENGERTIAN KREDIT DAN JENISNYA


Kredit dalam bahasa latin
Kredit dalam bahasa latin berarti credere yang berarti percaya. Maksud dari
percaya bagi si pemberi kredit adalah ia percaya kepada si penerima kredit
bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian.
Sedangkan bagi sipenerima kredit merupakan penerimaan kepercayaan
sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar sesuai jangka waktu.
Kredit menurut Undang-Undang Perbankan No. 10 Tahun 1998
Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan
itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank
derngan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi utangnya setelah
setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Berdasarkan undang undang No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas UU
No. 7 tahun 1992
tentang perbankan, yang dimaksud dengan kredit adalah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan
pinjam meminjam antar bank dengan pihak lain yaitu mewajibkan pihak
peminjaman untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu dengan
pemberian bunga.
Unsur Unsur Kredit
Dalam pengertian kredit diatas terkandung unsur-unsur kredit itu sendiri,yaitu:
1. Waktu, yaitu adanya jarak antara saat persetujuan pemberian kredit dan
pelunasannya. Setiap kredit yang diberikan memiliki jangka waktu tertentu,
jangka waktu ini mencakup masa pengembalian kredit yang telah disepakati.
Jangka waktu tersebut bisa berbentuk jangka pendek, jangka menengah atau
jangka panjang.
2. Kepercayaan yaitu suatu keyakinan pemberi kredit bahwa kredit yang
diberikan (berupa uang, barang atau jasa) akan benar-benar diterima kembali di
masa tertentu di masa datang. Yang melandasi pemberian kredit oleh
kreditur/Bank kepada debitur, yaitu kredit akan dikembalikan setelah jangka
waktu tertentu sesuai kesepakatan yang disetujui kedua belah pihak.
Kepercayaan ini diberikan oleh bank, di mana sebelumnya sudah dilakukan
penelitian penyelidikan tentang nasabah baik cara interen maupun eksteren.
Penelitian dan penyelidikan tentang kondisi masa lalu dan sekarang terhadap
nasabah pemohon kredit.
3. Penyerahan atau objek, dimana pihak kreditur menyerahkan nilai ekonomi
atau objek berupa uang atau tagihan kpd debitur yg harus dikembalikan setelah
jatuhtempo

4. Risiko adalah suatu tenggang waktu pengembalian akan menyebabkan suatu


resiko tidak tertagihnya/macet pemberian kredit yang mungkin timbul sepanjang
jangka waktu kredit. semakin panjang suatu kredit semakin besar resikonya
demikian pula sebaliknya. Resiko ini menjadi tanggungan bank, baik resiko yang
disengaja oleh nasabah yang lalai, maupun oleh resiko yang tidak sengaja.
Misalnya terjadi bencana alam atau bangkrutnya usaha nasabah tanpa ada
unsure kesengajaan lainnya.
5. Kreditur dan Debitur, yaitu antara kreditur dan debitur terdapat suatu
persetujuan/ perjanjian pinjam meminjam uang yang dibuktikan dengan suatu
akta perjanjiandan masingmasing pihak menandatangani hak dan kewajibannya
masing-masing.
6. Balas jasa, merupakan keuntungan atas pemberian suatu kredit atau jasa
tersebut yang kita kenal dengan nama bunga. Balas jasa dalam bentuk bunga
dan biaya administrasi kredit ini merupakan keuntungan bank. Sedangkan bagi
bank yang berdasarkan prinsip syariah balas jasanya ditentukan dengan bagi
hasil. Selain unsur-unsur diatas, dalam suatu kredit juga dapat melibatkan
beberapa pihak lainnya, seperti Notaris, Appraisal/Perusahaan penilai agunan,
Perusahaan Asuransi, Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), Lembaga
Fiducia/Departemen Kehakiman, Kantar Badan Pertanahan (BPN), dan lain lain.
Adapun tujuan utama pemberian suatu kredit adalah sebagai berikut:
1. Mencari keuntungan
Yaitu bertujuan untuk memperoleh hasil dari pemberian kredit tersebut. Hasil
tersebut terutama dalam bentuk bunga yang diterima oleh bank sebagai balas
jasa dan biaya administrasi kredit yang dibebankan kepada nasabah.
Keuntungan ini penting untuk untuk kelangsungan hidup bank yang terusmenerus menderita kerugian, maka besar kemungkinan bank tersebut akan
dilikuidasi (dibubarkan).
2. Membantu usaha nasabah
Tujuan lainnya adalah untuk membantu usaha nasabah yang memerlukan dana,
baik dana investasi maupun dana untuk modal kerja. Dengan dana tersebut,
maka pihak debitur akan dapat mengembangkan dan memperluaskan usahanya.
3. Membantu pemerintah
Keuntungan bagi pemerintah dengan menyebarkan pemberian kredit adalah
sebagai berikut:
Penerimaan pajak, dari keuntungan yang diperoleh nasabah dan bank
Membuka kesempatan kerja, dalam hal ini untuk kredit pembangunan usaha
baru atau perluasan usaha akan membutuhkan tenaga kerja baru sehingga
dapat menyedot tenaga kerja yang masih menganggur.

Meningkatkan jumlah barang dan jasa, jelas sekali bahwa sebagian besar kredit
yang disalurkan akan dapat meningkatkan jumlah barang dan jasa yang beredar
di masyarakat
Menghemat devisa Negara, terutama untuk produk-produk yang sebelumnya
diimpor dan apabila sudah dapat diproduksi di dalam negeri dengan fasilitas
kredit yang ada jelas akan dapat menghemat devisa Negara
Meningkatkan devisa Negara, apabila produk dari kredit yang dibiayai untuk
keperluan ekspor Kemudian di samping tujuan diatas suatu fasilitas kredit
memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Untuk meningkatkan daya guna uang


Dengan adanya kredit dapat meningkatkan daya guna uang maksudnya jika
uang hanya disimpan saja tidak akan menghasilkan sesuatu yang berguna.
Dengan diberikannya kredit uang tersebut menjadi berguna untuk menghasilkan
barang atau jasa oleh si penerima kredit
2. Untuk meningkatkan peredaran dan lalu lintas uang
Dalam hal ini uang yang diberikan atau disalurkan akan beredar dari satu
wilayah ke wilayah lainnya sehingga suatu daerah yang kekurangan uang
dengan memperoleh kredit maka daerah tersebut akan memperoleh tambahan
uang dari daerah lainnya.
3. Untuk meningkatkan daya guna barang
Kredit yang diberikan oleh bank akan dapat digunakan oleh si debitur untuk
mengolah barang yang tidak berguna menjadi berguna atau bermanfaat.
4. Meningkatkan peredaran barang
Kredit dapat pula menambah atau atau memperlancar arus barang dari satu
wilayah ke wilayah lainnya sehingga jumlah barang yang beredar dari satu
wilayah ke wilayah lainnya bertambah atau kredit dapat pula meningkatkan
jumlah barang yang beredar.
5. Sebagai alat stabilitas ekonomi
Dengan memberikan kredit dapat dikatakan sebagai stabilitas ekonomi karena
dengan adanya kredit yang diberikan akan menambah jumlah barang yang
diperlukan oleh masyarakat. Kemudian dapat pula kredit membantu dalam
mengekspor barang dari dalam negeri ke luar negeri sehingga meningkatkan
devisa Negara.
6. Untuk meningkatkan kegairahan berusaha
Bagi si penerima kredit tentu akan dapat meningkatkan kegairahan berusaha,
apalagi bagi si nasabah yang memang modalnya pas-pasan.

7. Untuk meningkatkan pemerataan pendapatan


Semakin banyak kredit yang disalurkan, akan semakin baik terutama dalam hal
meningkatkan pendapatan. Jika sebuah kredit diberikan untuk membangun
pabrik, maka pabrik tersebut tentu membutuhkan tenaga kerja sehingga dapat
pula mengurangi pengangguran. Di samping itu, bagi masyarakat sekitar pabrik
juga akan dapat meningkatkan pendapatannya seperti membuka warung atau
menyewa rumah kontrakan atau jasa lainnya.
8. Untuk meningkatkan hubungan Internasional
Dalam hal pinjaman internasional akan dapat meningkatkan saling
membutuhkan antara si penerima kredit dengan si pemberi kredit. Pemberian
kredit oleh Negara lain akan meningkatkan kerja sama di bidang lainnya.

Dalam praktik perbankan di Indonesia, dengan memperhatikan ketentuanketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia, penentuan besarnya kredit
dipengaruhi oleh ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a) Reserve Requirement (RR)
Reserve Requirement adalah ketentuan bagi setiap bank umum untuk
menysihkan sebagian dari dana pihak ketiga yang berhasil dihimpunnya dalam
bentuk giro wajib minimum berupa rekening giro bank yang bersangkutan pada
bank Indonesia.
b) Loan to Deposit Ratio (LDR)
Loan to Deposit Ratio (LDR) adalah rasio antara besarnya seluruh volume kredit
yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber.
c) BatasMaksimum Pemberian Kredit
Batas maksimum pemberian kredit adalah ketentuan tentang tidak
diperbolehkannya suatu bank untuk memberikan kredit (baik kepada nasabah
tunggal maupun kepada nasabah grup) yang besarnya melebihi 20% dari
besarnya modal bank yang bersangkutan.
d) Portfolio Investment
Prioritas terakhir di dalam alokasi dana bank adalah dengan mengalokasikan
sejumlah dana tertentu pada investasi portfolio (portfolio investment). Alokasi
dana bank ke dalam kategori ini adalah dana sisa (residual fund) setelah
penanaman dana dalam bentuk pinjaman (kredit) telah memenuhi kriteria atau
target tertentu.
Jenis- jenis manajemen kredit
Jenis kredit dilihat dari segi kegunaan :

1. Kredit investasiYaitu kredit yang diberikan untuk pengadaan barang modal


maupun jasa yangdimaksudkan untuk menghasilkan suatu barang atau jasa bagi
usaha yang bersangkutan.Kredit ini diberikan kepada perusahaan yang baru
akan berdiri untuk keperluanmembangun pabrik baru.
2. Kredit modal kerjaYaitu kredit yang diberikan untuk membiayai kebutuhan
usaha, termasuk gunamenutupi biaya produksi dalam rangka peningkatan
produksi atau penjualan. Kredit inidiberikan kepada perusahaan yang telah
berdiri, namun membutuhkan dana untuk meningkatkan produksi dalam
operasionalnya. Misalnya dalam hal membayar gaji pegawai atau unutk membeli
bahan baku.
Jenis kredit dilihat dari segi tujuan kredit
1. Kredit produktif
Kredit yang digunakan untuk peningkatan usaha atau produksi atau investasi.
Kredit ini diberikan untuk menghasikan barang atau jasa. Contoh kredit untuk
membangun pabrik yang nantinya akan menghasilkan barang, kredit pertanian
akan menghasilkan produk pertanian atau kredit pertambangan menghasilkan
bahan tambang atau kreditindustry lainnya.
2. Kredit Konsumtif
Adalah kredit yang diberikan digunakan untuk konsumsi secara pribadi. Dalam
kredit ini tidak akan menembah barang atau jasa yang dihasilkan karena
memang untuk digunakan ataudipakai oleh seseorang atau badan usaha.
Sebagai contoh kredit untuk perumahan, kredit mobil pribadi, kredit perabotan
rumah tangga, kredit komsumsi lainnya.
3. Kredit perdagangan
Kredit yang digunakan untuk perdagangan, biasanya untuk membeli barang
dagang yang pembayarannya diharapkan dari hasil penjualan barang dagangan
tersebut. Kredit ini sering diberikan kepada supplier atau agen-agen
perdagangan yang akan membeli barang dalam jumlah besar. Contoh kredit ini
misalnya kredit ekspor dan impor.
Kredit Ditinjau Dari Segi Jangka Waktu
1. Kredit jangka pendek Yaitu suatu kredit yang diberikan tidak melebihi jangka
waktu 1 tahun dan biasanya digunakan untuk keperluan modal kerja. Contohnya
untuk peternakan misalnya kredit peternakan ayam atau jika untuk pertanian
misalnya tanaman padi atau palawija.
2. Kredit jangka menengahYaitu suatu kredit yang diberikan dengan jangka
waktu 1 3 tahun, biasanya untuk investasi. Sebagai contoh kredit untuk
pertanian seperti jeruk atau peternakan kambing.
3. Kredit jangka panjangYaitu suatau kredit yang diberikan dengan jangka waktu
lebih dari 3 tahun. Biasanya kredit ini untuk investasi jangka panjang seperti

perkebunan karet, kelapa sawit atau manufactur dan untuk kredit konsumtif
seperti kredit perumahan.
Kredit Ditinjau Dari Segi Jaminannya
1. Kredit dengan jaminanAdalah suatu kredit yang diberikan dengan suatu
jaminan, baik berupa barang / benda berwujud atau tidak berwujud, dan atau
jaminan orang. Artinya setiap kredit yang dikeluarkan akan dilindungi senilai
jaminan yang diberikan calon debitur.
2. Kredit tanpa jaminanAdalah suatu kredit yang diberikan tanpa jaminan baik
berupa barang / benda berwujud atau tidak berwujud, dan atau jaminan orang.
Kredit jenis ini diberikan dengan melihat prospek usaha dan karakter serta
loyalitas atau nama baik si calon debitur selama ini.
Kredit dilihat dari sector usaha:
1. Kredit pertanian, merupakan kredit yang dibiayai untuk sector perkebunan
atau pertanian rakyat.
2. Kredit peternakan, dalam hal ini untuk jangka pendek misalnya peternakan
ayam dan jangka panjang kambing atau sapi.
3. Kredit industry, yaitu kredit untuk membiayai industru kecil, menengah atau
besar.
4. Kredit pertambangan, jenis usaha tambang yang dibiayainya biasanya dalam
jangka panjang, seperti tambang emas, minyak atau timah.
5. Kredit pendidikan, merupakan kredit yang diberikan untuk membangun sarana
dan prasarana pendidikan atau dapat pula berupa kredit untuk para mahasiswa.
6. Kredit profesi, diberikan kepada para professional seperti dokter,dosen dan
pengacara.
7. Kredit perumahan, yaitu kredit yang membiayai pembangunan atau
pembelian perumahan.
2. PRINSIP PEMBERIAN KREDIT
Dalam dunia perbankan prinsip analisis kredit dikenal dengan konsep 5C; yaitu :
1. Character
Tingginya respek pelanggan terhadap kewajibannya, dilihat dari karakter
manajemen perusahaan debitur. Karaktr ini merupakan suatu keyakinan bahwa
sifat atau watak dari orang-orang yang akan diberikan kredit benar-benar dapat
dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang si nasabah baik yang bersifat
latar belakang pekerjaan maupun yang besifat latar belakang pribadi.
2. Capacity

Kemampuan pelanggan membayar kewajiban berdasarkan aspek likuiditas &


proyeksi aliran kas. Pada analisa ini bank berusaha mengetahui kemampuan
manajemen engoperasikan perusahaannya sehingga dapat memenuhi
kewajibannya terhadap bank secara rutin dan pada saat jatuh tempo. Kapasitas
ini menunjukkan kemampuan riil dari perusahaan untuk merealisasikanrencana
yang telah dibuatnya.
3. Capital
posisi keuangan perusahaan yang ditunjukkan oleh rasio keuangan & besarnya
modal sendiri. Analisis aspek capital ini meliputi struktur modal yang disetor,
cadangan-cadangan danlaba yang ditahan dalam struktur keuangan perusahaan.
Besarnya modal sendiri ini menunjukkantingkat resiko yang ikut dipikul oleh
debitur dalam pembiayaan suatu proyek.
4. Collateral
aset milik pelanggan yang dijadikan jaminan, seperti surat berharga. Penilaian
ini meliputi penilaian terhadap jaminan yang diberikan debitur sebagai
pengaman kredit yang diberikan bank. Penilaian tersebut meliputi
kecenderungan nilai jaminandi masa depan dan tingkat kemudahan
mengkonversikannya menjadi uang tunai (marketability).
5. Condition
kondisi ekonomi secara umum yang memengaruhi kebijakan ekonomi
perusahaan. Analisis terhadap aspek ini meliputi analisis terhadap variabel
ekonomi makro yangmelingkupi perusahaan baik variabel regional, nasional,
maupun internasional. Variabel yangdiperhatikan terutama adalah variabel
ekonomi (walaupun tidak terlepas juga bank perlumemperhatikan variabel
lainnya seperti kondisi politik, perundang-undangan, dan lain-lain)

Selain konsep/prinsip 5C tersebut di atas dalam prakteknya bank juga


seringkalimenetapkandasar penilaian lain yang sering disebut dengan prinsip 7P
dan prinsip 3R yaitu:
1. Personality
Bank mencari data tentang kepribadian calon debitur seperti riwayat hidupnya
(kelahiran, pendidikan, pengalaman, usaha/pekerjaan, dan sebagainya), hobi,
keadaan keluarga (istri, anak),social standing (pergaulan dalam masyarakat
serta bagaimana pendapat masyarakat tentang dirisi peminjam), serta hal-hal
lain yang erat hubungannya dengan kepribadian si peminjam.
2. Parti
Bertujuan mengklasifikasi calon debitur berdasarkan modal, loyalitas, dan
karakternya.Pengklasifikasian ini akan menentukan perlakuan bank dalam hal
pemberian fasilitas

3. Purpose
Mencari data tentang tujuan atau keperluan penggunaan kredit. Apakah
akandigunakannya untuk berdagang, atau untuk membeli rumah atauuntuk
tujuan lainnya. Selain itu apakah tujuan penggunaan kredit itu sesuai dengan
line of business kredit yang bersangkutan.Misalnya, tujuan atau keperluan kredit
untuk perkapalan sedangkan line of business bank dalam bidang pertanian.
4. Prospect
Yang dimaksud dengan prospect adalah harapan masa depan dari bidang usaha
ataukegiatan usaha si peminjam. ini dapat diketahui dari perkembangan usaha
peminjam selama beberapa bulan/tahun, perkembangan keadaan ekonomi
perdagangan, keaadaanekonomi/perdagangan sektor usaha si peminjam,
kekuatan keuangan perusahaan yang dibuat dariearning power (kekuatan
pendapatan/keuntungan) masa lalu dan perkiraan masa mendatang.
5. Payment
Mengetahui bagaimana perkiraan pembayaran kembali pinjaman yang akan
diberikan.Hal ini dapat diperoleh dari perhitungan tentang prospek, kelancaran
penjualan dan pendapatansehingga dapat diperkirakan kemampuan
pengembalian pinjaman ditinjau dari waktu serta jumlah pengambilannya.
6. Profitability
Menilai berapa tingkat keuntungan yang akan diraih calon debitur, bagaimana
polanya,apakah makin lama makin besar atau sebaliknya.
7. Protection
Menilai bagaimana calon debitur melindungi usaha dan mendapatkan
perlindungan usaha. Apakah dalam bentuk jaminan barang, orang atau asuransi.

Konsep Prinsip 3R
Tiga komponen dalam prinsip 3R adalah:
1. Tingkat pengembalian usaha (return)
2. Kemampuan membayar kembali (repayment)
3. Kemampuan menanggung resiko (risk bearing ability)
Tujuh unsur dalam konsep 7P sebenarnya mempunyai kesamaan dengan lima
unsur dalam

5C. Misalnya unsur kepribadian memiliki kesamaan dengan unsur karakter.


Sedangkan unsur tujuan, prospek, dan pembayaran dapat memperjelas unsur
kapasitas dalam konsep 5C.Unsur perlindungan dalam 7P mungkin dapat
disamakan dengan kollateral dalam konsep 5C.
3. PROSPEK PEMBERIAN KREDIT
1. Pengajuan berkas-berkas
Dalam hal ini permohonan kredit mengajukan permohonan kredit yang
dituangkan dalam suatu proposal, kemudian dilampiri dengan berkas-berkas
lainnya yang dibutuhkan. Pengajuan proposal kredit hendaknya yang berisi
antara lain sebagai berikut:
- Latar belakang perusahaan
- Maksud dan tujuan
-Besarnya kredit dan jangka waktu
- Cara permohonan mengembalikan kredit
- Jaminan kredit
-Akte notaries
- TDP (tanda daftar perusahaan)
- NPWP (nomor pokok wajib pajak)
-Neraca dan laporan rugi laba 3 tahun terakhir
-Bukti diri dari pimpinan perusahaan
-Foto copy sertifikat jaminan
2. Penyelidikan berkas pinjaman
Tujuannya adalah untuk mengetahui apakah berkas yang diajukan sudah lengkap
sesuai persyaratan dan sudah benar.jiak menurut pihak perbankan belum
lengkap atau cukup, maka nasabah diminta untuk segera melengkapinya dan
apabila sampai batas tertentu nasabah tidak sanggup melengkapi kekurangan
tersebut, maka sebaiknya permohonan kredit dibatalkan saja
3. Wawancara 1
Merupakan penyidikan kepada calon peminjam dengan langsung berhadapan
dengan calon peminjam, untuk meyakinkan apakah berkas-berkas tersebut
sesuai dan lengkap seperti dengan yang diinginkan. Wawancara ini juga untuk
mengetahui keinginan dan kebutuhan nasabah yang sebenarnya. Hendaknya
dalam wawancara ini dibuat serileks mungkin sehingga diharapkan hasil
wawancara akan sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

4. On the spot
Merupakan kegiatan pemeriksaan ke lapangan dengan meninjau berbagai objek
yang akan dijadikan usaha dan jaminan. Kemudian hasil on the spot dicocokkan
dengan hasil wawancara I. pada saat hendak melakukan on the spot hendaknya
jangan diberitahu kepada nasabah. Sehingga apa yang kita lihat di lapangan
sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
5. Wawancara 2
Merupakan kegiatan perbaikan berkas, jika mungkin ada kekurangan-kekurangan
pada saat setelah dilakukan on the spot dilapangan. Catatan yang ada pada
permohonan dan pada wawancara I dicocokkan dengan pada saat on the spot
apakah ada kesesuaian dan mengandung suatu kebenaran.
6. Keputusan kredit
Keputusan kredit dalam hal ini adalah menentukan apakah kredit akan diberikan
atau ditolk, bila di terima maka akan disiapkan administrasinya, biasanya
keputusan kredit yang akan mencakup:
- Jumlah uang yang diterima
-Jangka waktu kredit
- Biaya-biaya yang harus dibayar
7. Penandatanganan akad kredit/ perjanjian lainnya
Kegiatan ini merupakan kelanjutan dari diputuskannya kredit, maka sebelum
kredit dicairkan maka terlebih dulu calon nasabah menandatangani akad kredit,
mengikat jaminan dengan hipotek dan surat perjanjian atau pernyataan yang
dianggap perlu. Penandatanganan dilaksanakan:
-Antara bank dengan debitur secara langsung atau
-Dengan melalui notaries
8. Realisasi kredit
Realisasi kredit diberikan setelah penandatanganan surat-surat yang diperlukan
dengan membuka rekening giro atau tabungan di bank yang bersangkutan.
9. Penyaluran atau penarikan dana
adalah pencairan atau pengambilan uang dari rekening sebagai realisasi dari
pemberian kredit dan dapat diambil sesuai ketentuan dan tujuan kredit yaitu
sekaligus atau secara bertahap.
4. JAMINAN KREDIT
Dengan jaminan

1) Jaminan benda berwujud yaitu barang-barang yang dapat dijadikan jaminan


seperti tanah,bangunan, kendaraan bermotor, peralataan, brang
dagangan,tanaman, kebun dan sawah
2) Jaminan benda tak berwujud, yaitu perupakan surat-surat yang dijadikan
jaminan seperti sertifikat saham, sertifikat obligasi, sertifikat tanah, sertifikat
deposito, rekening tabungan yang dibekukan, rekening giro yang dibekukan,
promnes, wesel dan surat tagihan lainnya
3) Jaminan orang, yaitu jaminan yang diberikan oleh seseorang dan apabila
kredit tersebut macet, maka orang memberikan jaminan itulah yang
menanggung resikonya.
Tanpa jaminan
Maksudnya adalah bahwa kredit yang diberikan bukan dengan jaminan barang
tertentu.biasanya diberikan untuk perusahaan yang memang benar-benar
bonafit dan professional sehingga kemungkinan kredit tersebut macet sangat
kecil. Jaminan kredit bank dapat digolongkan dalam beberapa klasifikasi
berdasarkan sudut pandang tertentu, misalnya cara terjadinya, sifatnya
kebendaan yang dijadikanobjek jaminan, dan lain sebagainya.
1. Jaminan karena undang-undang dan karena perjanjian
Jaminan karena undang-undang adalah jaminan yang dilahirkan atau
diadakanoleh seperti jaminan umum, hak privelege dan hak retensi (pasal 1132,
pasal 1134 ayat (1)). Sedangkan jaminan karena perjanjian adalah jaminan yang
dilahirkan atau diadakan oleh perjanjian yang diadakan para pihak sebelumnya,
seperti gadai, hipotik, hak tanggungan danfiducia.
2. Jaminan umum dan jaminan khusus
Pada prinsipnya menurut hukum segala harta kekayaan debitur akan menjadi
jaminan bagi perutangannya dengan semua kreditur. Hal ini berarti seluruh harta
kekayaan milik debitur akan menjadi jaminan pelunasan atasutang debitur
kepada semua kreditur. Kekayaan debitur dimaksud meliputi kebendaan
bergerak maupun benda tetap, baik yang sudah ada pada saat perjanjian utang
piutang diadakan maupunyang baru akan ada di kemudian hari yang akan
menjadi milik debitur setelah perjanjian utang piutang diadakan. Karena jaminan
umum kurang menguntungkan bagi kreditur, maka diperlukan penyerahan harta
kekayaan tertentu untuk diikat secara khusus sebagai jaminan pelunasan utang
debitur, sehingga kreditur yang bersangkutan mempunyai kedudukan yang
diutamakan ataudidahulukan daripada kreditur kreditur lain dalam pelunasan
utangnya. Jaminan yang seperti ini memberikan perlindungan kepada kreditur
dan didalam perjanjian akan diterangkan mengenaihal ini. Jaminan khusus
memberikan kedudukan mendahului (preferen) bagi pemegangnya.
3. Jaminan yang bersifat kebendaan dan jaminan perseorangan.

Jaminan yang bersifat kebendaan adalah jaminan yang berupa hak mutlak atas
sesuatu benda, yang mempunyai ciri-ciri mempunyai hubungan langsung atas
benda tertentu dari debitur,dapat dipertahankan terhadap siapa pun, selalu
mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan(contoh: hipotik, hak tanggungan
gadai, dan lain-lain). Sedang jaminan perseorangan adalah jaminan yang
menimbulkan hubungan lansung pada perseorangan tertentu, hanya dapat
dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap hartakekayaan debitur
umumnya ( contoh: borgtocht).Jaminan kebendaan dapat berupa jaminan benda
bergerak dan benda tidak bergerak.Benda bergerak adalah kebendaan yang
karena sifatnya dapat berpindah atau dipindahkan ataukarena undang-undang
dianggap sebagai benda bergerak, seperti hak-hak yang melekat pada benda
bergerak. Benda bergerak dibedakan lagi atas benda berwujud atau bertubuh.
Pengikatan jaminan benda bergerak berwujud dengan gadai atau fiducia,
sedangkan pengikatan jaminan benda bergerak tidak berwujud dengan gadai,
cessie, dan account receivable.

DAFTAR PUSTAKA
Kasmir, SE.MM.2008.Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya.Jakarta:PT.
RAJAGRAFINDO
PERSADA.
- Riyanto, Bambang, 1995, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, BPFE,
Yogjakarta
http://hafismuaddab.wordpress.com/2012/02/07/manajemen-kredit/
http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/00A32509-E25E-4E28-A29499EEC0B12554/15876/KreditSIPMK1.pdf
http://putracenter.net/2009/10/14/definisi-dan-manajemen-kredit/
http://andi67.blog.esaunggul.ac.id/2012/06/11/manajemen-kredit/
http://dikkyprima.wordpress.com/2009/03/28/manajemen-kredit-pada-duniaperbankan/
http://mbegedut.blogspot.com/2012/09/makalah-manajemen-keuanganpenanganan.html
http://jurnalskripsitesis.wordpress.com/2007/10/29/pengelolaan-kredit-yangefektif-untukmeningkatkanlikuiditas-dan-profitabilitas-pada-bank-perkreditan-rakyat%E2%80%9Cxy%E2%80%9D-lawang/
http://fantastic-note.blogspot.com/2012/02/manajemen-perkreditan.html
http://www.scribd.com/doc/55172805/Manajemen-Kredit-Bank
http://banking.blog.gunadarma.ac.id/2010/03/10/manajemen-perkreditan-bagibank-komersil/
Diposkan oleh yoni oktaviani di 18.42