Anda di halaman 1dari 35

WORKSHOP JARINGAN INSIST

Menghidupkan

DESA

Indonesia

IMPLIKASI UU DESA TERHADAP


PERATURAN DAERAH DAN
PERATURAN DESA

KETENTUAN UMUMNYA

UU DESA DALAM BELANTARA PERUNDANG-UNDANGAN


UU NO 12/2011
TENTANG PEMBENTUKAN
PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UU DESA
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

UUPA
UULH
UU PLPPB
UU AIR
UU SDA
UU PENATAANRUANG
DLL
1.
2.
3.

PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI


YANG MENGUBAH SUATU UU

UU SEKTORAL LAINNYA

HUKUM ADAT YANG


HIDUP

YANG TINGGI MENGALAHKAN YANG RENDAH


YANG KHUSUS MENGALAHKAN YANG UMUM
YANG BARU MENGALAHKAN YANG LAMA

PERATURAN PELAKSANA

DOKTRIN
DALAM
MENAFSIRKAN

PELAKSANAAN UU DESA

SISTEM PERUNDANG-UNDANGAN - - UU 11/2012

JENIS DAN HIERARKI


1.
2.
3.
4.
5.
6.

UU No 10/2004
UUD 1945
TAP MPR
Undang-Undang/Perpu;
Peraturan Pemerintah;
Peraturan Presiden;
Perda
1)
2)
3)

Perda Propinsi
Perda Kabupaten/kota
PERATURAN DESA

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Pasal 7

UU No 12/2011
UUD 1945
TAP MPR
Undang-Undang/Perpu;
Peraturan Pemerintah;
Peraturan Presiden;
Perda Provinsi; dan
Perda Kabupaten/Kota.

PERATURAN DESA?

MUNCUL (KEMBALI) DALAM UU 06/2014

SISTEM PERUNDANG-UNDANGAN - - UU 11/2012

Pasal 8
Jenis Peraturan Perundang-undangan lainnya:
peraturan yang ditetapkan oleh MPR, DPR, DPD,
MA, MK, BPK, KY, BI, Menteri, badan, lembaga, atau
komisi yang setingkat yang dibentuk dengan UU ; atau
Pemerintah atas perintah Undang-Undang, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi, Gubernur, Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota,
Bupati/Walikota, Kepala Desa atau yang setingkat,
DIAKUI keberadaannya dan mempunyai kekuatan
hukum mengikat sepanjang diperintahkan oleh
peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi
atau dibentuk berdasarkan kewenangan.

SISTEM PERUNDANG-UNDANGAN - - UU 11/2012 dihubungkan dengan UU 06/2014

Pasal 119
Semua ketentuan peraturan perundangundangan yang berkaitan secara langsung
dengan Desa wajib mendasarkan dan
menyesuaikan pengaturannya dengan
ketentuan Undang-Undang ini.

Pasal 121
Pada saat UU Desa mulai berlaku, Pasal
200 sampai dengan Pasal 216 UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku

STRUKTUR

Wewenang & Hierarki

ISI

Budaya

Perintah dari
yang lebih tinggi

Kebutuhan

Lokal dan
Interlokal

Kerjasama

Sikap Masyarakat

Pasal 116
Desa yang sudah ada sebelum UU ini berlaku tetap diakui sebagai Desa.
Pemda Kab/Kota menetapkan Perda tentang penetapan Desa dan Desa Adat di
wilayahnya Paling lama 1 (satu) tahun sejak UU ini diundangkan.
Pemda Kab/Kota bersama Pemerintah Desa melakukan inventarisasi Aset Desa
Paling lama 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini berlaku.
5

UU 06/2014 TENTANG DESA

MANDAT UU Desa kepada Pemerintah, Pemda dan Pemdes:

Pemda Propinsi setidaknya membuat 2


Perda;
Pemda Kab/Kota setidaknya membuat 11
Perda
Pemerintah Desa setidaknya membuat 3
Perdes

UU 06/2014 TENTANG DESA

Mandat Kepada Perda Propinsi:

1. Susunan kelembagaan, pengisian jabatan,


dan masa jabatan Kepala Desa Adat
berdasarkan hukum adat ditetapkan dalam
peraturan daerah Provinsi (109).
2. Melakukan pembinaan terhadap
Kabupaten/Kota dalam rangka penyusunan
Peraturan Daerah Kabupaten/Kota yang
mengatur Desa (114);

UU 06/2014 TENTANG DESA

Mandat Kepada Perda Kab/Kota:


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.

Pembentukan Desa ditetapkan dengan Perda (8).


Pembentukan, penghapusan, penggabungan, dan/atau perubahan
status Desa menjadi kelurahan ditetapkan dalam Perda (14).
Kebijakan pelaksanaan Pilkades serentak ditetapkan dengan Perda (31).
Syarat lain Calon Kades diatur dalam Perda (33).
Ketentuan dan syarat lain menjadi perangkat Desa diatur dalam Perda
(50).
Ketentuan mengenai Badan Permusyawaratan Desa diatur dalam Perda
(65).
Perencanaan, pelaksanaan pembangunan Kawasan Perdesaan,
pemanfaatan, dan pendayagunaan aset diatur dalam Perda (84).
Desa Adat ditetapkan dengan Perda (98).
Penataan Desa Adat ditetapkan dalam Perda (101).
Pedoman penyusunan Perdes dan Perkades (115b);
Melakukan evaluasi, pengawasan, Pembatalan Perdes (115e &
Penjelasan);
8

UU 06/2014 TENTANG DESA

Mandat Kepada Pemerintah Desa:


1.
2.
3.

APB Desa ditetapkan dengan Peraturan Desa (73)


RPJM Desa dan Rencana Kerja Pemerintah Desa ditetapkan dengan Peraturan
Desa (79).
Pendirian BUMDES ditetapkan dengan Peraturan Desa (88).

Jenis PERATURAN DI DESA terdiri atas Perdes, Perkades, & Peraturan


bersama Kepala Desa (69).
Perkades adalah aturan pelaksana PERDES (69).
Peraturan bersama Kepala Desa adalah perpaduan kepentingan Desa
masing-masing dalam kerja sama antar desa (69).
Peraturan Desa Adat disesuaikan dengan hukum adat dan norma adat istiadat
yang berlaku di Desa Adat sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan (110).
9

POLITIK HUKUM DI DESA

Pasal 26
Kepala Desa bertugas menyelenggarakan
Pemerintahan Desa, melaksanakan
PEMBANGUNAN DESA, pembinaan
kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan
masyarakat Desa, MELALUI WEWENANGNYA
dalam MENETAPKAN PERATURAN DESA,
setelah DIBAHAS DAN DISEPAKATI bersama
BPD, atau SEBALIKNYA.

10

POLITIK HUKUM DI DESA

Perdes merupakan kerangka hukum dan


kebijakan dalam penyelenggaraan
Pemerintahan Desa dan Pembangunan Desa.
Primum Remedium / Ultimum Remedium
BERARTI PENTING BANGET KEDUDUKANNYA

Memb
angun
Indone
sia Da
ri Ping
giran A
ntar D
aer

ah dan

Desa

11

POLITIK HUKUM DI DESA

Sebagai sebuah produk politik, Perdes diproses


secara demokratis dan partisipatif, yakni
mengikutsertakan partisipasi masyarakat Desa.
Dengan membuka hak untuk mengusulkan atau
memberikan masukan kepada Kades dan BPD dalam
proses penyusunan Perdes.

KAPAN ITU?

SIAPA SAJA?

BAGAIMANA CARANYA?

APA SAJA TOPIKNYA?

APA TANTANGANNYA?

12

POLITIK HUKUM DI DESA

BEBERAPA KETENTUAN HUKUM YANG MEMPENGARUHI PELAKSANAAN

PP

CONTOH

LEVEL

PERMEN

CONTOH

PERDA

CONTOH

PP NO.38 TAHUN 2007 Tentang Pembagian Urusan


Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, Dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
PERMENDAGRI No. 28 Tahun 2006 tentang Pembentukan,
Penghapusan, Penggabungan Desa Dan Perubahan Status
Desa Menjadi Kelurahan.
PERMENDAGRI No. 29 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pembentukan Dan Mekanisme Penyusunan Peraturan Desa;
PERMENDAGRI No. 30 Tahun 2006 tentang Tata Cara
Penyerahan Urusan Pemerintahan Kab/Kota kepada Desa
PERMENDAGRI No. 54 Tahun 2009 tentang Tata Naskah
Dinas di Lingkungan Pemerintah Daerah;
PERMENDAGRI No. 39 Tahun 2010 tentang Badan Usaha
Milik Desa
PERMENDAGRI No. 52 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pengakuan Dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat;
PERDA KAB. Luwu Timur No.06 Tahun 2008 tentang
Penyerahan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kepada Desa;
PERDA KAB. Sleman No. 2 Tahun 2010 Tentang
pembentukan peraturan perundang-undangan desa.

13

POLITIK HUKUM DI DESA

Pasal 69
Jenis Peraturan di Desa terdiri atas Peraturan Desa, Peraturan
Bersama Kepala Desa, dan Peraturan Kepala Desa.

APB Desa, RPJM Desa, dan RKP Desa ditetapkan dengan


Peraturan Desa.

RPJM Desa dan RKPDesa adalah satu-satunya


Dokumen Perencanaan di Desa.
TAPI Pedoman RPJM Desa dan RKP Desa
diatur dalam Peraturan Pemerintah.

14

TANTANGAN PERDES DALAM IMPLEMENTASI UU DESA

TANTANGAN & PELUANG


Perdes Dibawah Payung UU Desa

15

TANTANGAN PERDES DALAM IMPLEMENTASI UU DESA

BERBAGAI KETENTUAN PEDOMAN PENGATURAN KONTEN


TERTENTU KE DALAM PERDES, DIBUAT OLEH KABUPATEN DAN
PROPINSI (UU DESA);
REZIM PENGAWASAN DAN PERSETUJUAN KONTEN TERTENTU
ADA DALAM KEWENANGAN KABUPATEN DAN PROPINSI (UU
DESA);
REZIM PEMBATALAN PERDES ADA DITANGAN KABUPATEN,
MASIH HARUS MENUNGGU PROTAP DAN PRASYARATNYA.
PERDES TENTANG APBDES, PUNGUTAN, TATA RUANG,
ORGANISASI PEMDES, HARUS MENDAPAT PERSETUJUAN
KABUPATEN DAN PROPINSI SEBELUM DISAHKAN (UU DESA).
DALAM HAL TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT, DESA HANYA
DAPAT MELAKUKAN KOREKSI, BUKAN ARGUMENTASI (UU DESA).
MANDAT PENGATURAN SUATU KONTEN PERDES, TERSEBAR DI
BANYAK UU SEKTORAL (UU DESA).
UU SEKTORAL DAPAT MENJADI DASAR HUKUM PERDES YANG
KUAT, SEDANGKAN KEADAAN LOKAL DAN KEBUTUHAN DESA
DAPAT MENJADI KONSIDERAN PERDES.
PELAKSANAAN KEWENANGAN PEMERINTAH DESA DAPAT
MENJADI SANGAT KAKU DAN KEHILANGAN WATAK DESA MAWA
CARA.
16

TANTANGAN PERDES DALAM IMPLEMENTASI UU DESA

Pasal 115
Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota
melakukan Pembinaan dan pengawasan.
Memberikan pedoman penyusunan
Peraturan Desa dan Peraturan Kepala
Desa.
Memberi Persetujuan Ranperdes.
Melakukan evaluasi dan pengawasan
Peraturan Desa.
Melakukan pembatalan Peraturan Desa.

17

TANTANGAN PERDES DALAM IMPLEMENTASI UU DESA

Karena Desa memiliki wewenang skala desa maka berlaku pula


kewenangan mengelola bidang yang diatur dalam UU Lain, diantaranya:

UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
UU
PP
PP

No. 05 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati & Ekosistemnya
No. 04 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.
No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.
No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
No. 07 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air
No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.
No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
No. 30 Tahun 2007 tentang Energi
No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.
No. 04 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial.
No. 10 Tahun 2009 tentang Pariwisata.
No. 13 Tahun 2010 tentang Hortikultur
No. 11 Tahun 2010 tentang Pendayagunaan dan penertiban tanah terlantar
No. 38 Tahun 2011 tentang Sungai

UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.


18

ILUSTRASI

19

ILUSTRASI

UU No. 41 Tahun 2009 tentang Perlindungan lahan pertanian pangan berkelanjutan.

PP NO. 01 TAHUN 2011 TENTANG PENETAPAN DAN ALIH FUNGSI LAHAN


PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN
PP NO. 12 TAHUN 2012 TENTANG INSENTIF PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN
PANGAN BERKELANJUTAN
PP NO. 25 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM INFORMASI LAHAN PERTANIAN PANGAN
BERKELANJUTAN
PP NO. 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN
PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERMENTAN NO. 41/Permentan/OT.140/9/2009 TENTANG KRITERIA TEKNIS KAWASAN


PERUNTUKAN PERTANIAN
PERMENTAN NO. 07/Permentan/OT.140/2/2012 TENTANG PEDOMAN TEKNIS KRITERIA
DAN PERSYARATAN KAWASAN, LAHAN, DAN LAHAN CADANGAN PERTANIAN PANGAN
BERKELANJUTAN.
PERMENTAN NO. 58/Permentan/OT.140/9/2012 TENTANG PERLINDUNGAN,
PEMELIHARAAN, PEMULIHAN, SERTA PENINGKATAN FUNGSI LAHAN BUDIDAYA
HORTIKULTURA.
PERMENTAN NO. 79/Permentan/OT.140/8/2013 TENTANG PEDOMAN KESESUAIAN
LAHAN PADA KOMODITAS TANAMAN PANGAN
PERMENTAN NO. 81/Permentan/OT.140/8/2013 TENTANG PEDOMAN TEKNIS TATA
CARA ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

20

ILUSTRASI

Laju alih fungsi lahan pertanian ke lahan non


pertanian 110.000 ha/tahun.
Potensi alih fungsi lahan sawah akibat dari
penerapan RTRW oleh pemda kab/kota yang
kurang berpihak kepada pertanian.
Luas lahan sawah di indonesia yaitu
8.132.642 Ha (data BPS tahun 1998-2002)

DATA DI
PROPINSI D.I YOGYAKARTA

Rata-rata luas kepemilikan lahan bagi petani adalah


0,30 Ha.
Meningkatnya Jumlah petani gurem dan buruh tani
(tuna kisma) di Provinsi DIY.
Ketersediaan lahan dalam usaha pertanian
merupakan conditio sine quanon (syarat mutlak).

http://psp.deptan.go.id/basisdatalahan/#

21

ILUSTRASI

KERANGKA HUKUM DAN KEBIJAKAN


PERDA PROPINSI DIY No.10 Tahun 2011 tentang PLP2B

A. Ekstensifikasi bisa dilakukan dengan cara:


(1) Pembukaan lahan baru untuk tanaman pangan secara permanen, (2)
Pemanfaatan lahan HGU yang belum diusahakan untuk perkebunan
komoditas pangan, (3) Pemanfaatan lahan terlantar untuk cadangan pangan
sesuai amanat PP No. 11 Tahun 2010 tentang pendayagunaan dan
penertiban tanah terlantar, (4) Pemanfaatan kawasan hutan yang dapat
dikonversi untuk tanaman pangan dengan memperhatikan konservasi tanah
dan air, dan (5) Rehabilitasi dan konservasi lahan kritis dan dimanfaatkan
untuk peruntukan tanaman pangan.
B. Intensifikasi lahan dengan peningkatkan produktivitas tanah melalui: (1)
Optimalisasi arahan pertanian pangan, (2) Pengembangan pertanian jangan
metode SRI, dan (3) Peningkatan kesuburan tanah melalui fasilitasi
penyediaan pupuk organik.
C. Kebijakan pengendalian Lahan dengan Penetapan Kawasan Pertanian
Pangan:
(1) Penetapan KP2B Nasional yang diatur dalam PP RTRWN, (2) Penetapan
KP2B provinsi yang diatur dalam Perda RTRWP, (3) Penetapan KP2B
Kabupaten/Kota yang diatur dalam Perda RTRW Kabupaten/Kota.

22

ILUSTRASI

PERDA PROPINSI DIY No.10 Tahun 2011 tentang Perlindungan Lahan


Pertanian Pangan Berkelanjutan (PLP2B) :
1. Ditetapkan lahan pertanian yang dilindungi Paling Kurang seluas
35.911 hektare;
2. Terdiri atas :
a. Kab. Sleman dengan luas paling kurang 12.377,59 Ha;
b. Kab. Bantul dengan luas paling kurang 13.000 Ha;
c. Kab. Kulon Progo dengan luas paling kurang 5.029 Ha;
d. Kab. Gunungkidul dengan luas paling kurang 5.505 Ha.
3. Sebaran Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan tersebut
ditetapkan oleh Bupati.
4. Pemerintah Daerah menetapkan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan dalam PERDA RTRWD.
5. Proses dan tahapan penetapan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan sebagaimana dilakukan melalui :
a. sosialisasi kepada petani dan pemilik lahan;
b. invetarisasi petani yang bersedia lahannya ditetapkan sebagai LPPB;
c. kesepakatan dengan pemilik lahan dilakukan dengan perjanjian;
d. rapat koordinasi di tingkat desa, kecamatan, kabupaten, dan provinsi.

23

ILUSTRASI

PERDA KAB.GUNUNGKIDUL NO. 6 TAHUN 2011


TENTANGRTRW KAB. TAHUN 2010 2030

Perda Kab. Gunungkidul No. 14 Tahun 2012 Tentang


PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN
BERKELANJUTAN

BAGAIMANA DENGAN
PERDES DAN PERKADES ?

24

UU 06/2014 TENTANG DESA

Perda Kab. Gunungkidul No. 14 Tahun 2012 Tentang PLPPB

Rencana Perlindungan lahan cadangan pertanian pangan berkelanjutan


sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dilakukan terhadap:
a. tanah terlantar;
b. alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian pangan; dan
c. kawasan lahan marginal.

Lahan telantar
a. tanah tersebut telah diberikan hak atas tanahnya, tetapi sebagian atau
seluruhnya tidak diusahakan, tidak dipergunakan, dan tidak dimanfaatkan sesuai
dengan sifat dan tujuan pemberian hak;
b. tanah tersebut selama 3 (tiga) tahun atau lebih tidak dimanfaatkan sejak
tanggal pemberian hak diterbitkan; atau
c. bekas galian bahan tambang yang telah direklamasi.
Lahan Marginal
a. lahan pasir dan kapur/karst yang tidak dimanfaatkan untuk kepentingan
pertambangan dan pariwisata; dan
b. lahan pasir dan kapur/karst yang belum dimanfaatkan oleh masyarakat atau
diluar kawasan lindung geologi;
25

ILUSTRASI

Pengendalian Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan dilakukan dengan:


a. insentif; dan/atau
b. pengendalian alih fungsi.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Insentif diberikan kepada pemilik lahan,petani penggarap, dan/atau


kelompok tani berupa:
Keringanan Pajak Bumi dan Bangunan;
Pengembangan infrastruktur pertanian;
Pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan benih dan bibit
unggul;
Kemudahan dalam mengakses informasi dan teknologi;
Fasilitasi sarana dan prasarana produksi pertanian;
Jaminan penerbitan sertifikat bidang tanah pertanian pangan melalui
pendaftaran tanah secara sporadik dan sistematik; dan/atau
Penghargaan bagi petani berprestasi.
Penetapan Lahan dan Pemberian keringanan PBB dengan
Rekomendasi dari Dinas kepada Pemerintah Kabupaten.
(Dengan UU Desa maka berlaku Subsidiaritas)
26

ILUSTRASI

27

ILUSTRASI

28

ILUSTRASI

29

INISIATIF DI BALI

30

INISIATIF MENJADI
KAWASAN PERDESAAN

AIR PRABU
DESA
BUDENG

Sebagai suatu kawasan


ekposistem muara

DASIjo Gading

DESA
PRANCAK

DESA
AIRKUNING

31

31

DARI HASIL PEMETAAN


OLEH WARGA DESA
DITEMUKAN PERBEDAAN
BATAS DESA
DIBANDINGKAN DENGAN
PETA DALAM
LAMPIRAN PERDA
RTRW KAB JEMBRANA

BATAS DESA MENJADI


PENTING SEBAB AKAN
DIRUJUK UNTUK
MENENTUKAN YURISDIKSI
PEMBANGUNAN DESA
DALAM MUSRENBANG
DAN ALOKASI DANA
PEMBANGUNAN DESA

SEKALIGUS SEBAGAI
MODAL KERJASAMA DESA
DALAM PEMBANGUNAN
KAWASAN PERDESAAN
UNTUK MENYUSUN
HAK & KEWAJIBAN
ANTAR DESA
32

TEMUAN :
MATA PENCAHARIAN NELAYAN
TIDAK TERSEDIA TAMBATAN PERAHU
DAN PELELANGAN IKAN
TAK ADA INSENTIF PROGRAM KAWASAN
PESISIR
ABRASI
ABSENTEE
PENDIRIAN VILLA MELANGGAR RRTW
MALFUNGSI SEMPADAN PANTAI/SUNGAI
AKSES PUBLIK KE PANTAI TERTUTUP
DANA PERBAIKAN TERGANTUNG DARI SKPD

Tidak ada Pelaksanaan UU 01/2014 jo 22/2007


NELAYAN DAN PEDAGANG
KURANG MAKSIMAL BEKERJA
DESA KEHILANGAN POTENSI PENDAPATAN
UU DESA
KEWENANGAN
SKALA DESA

1.
2.
3.
4.

PENGELOLAAN TAMBATAN PERAHU


PENGELOLAAN PASAR DESA
PENGATURAN TATA RUANG DESA
PERATURAN BERSAMA KEPALA DESA

MUSYAWARAH
DESA

PERDES & PERKADES


KERJASAMA DESA

33

KESIMPULAN ILUSTRASI & TANTANGAN KEDEPAN

UU DESA

UU
SEKTORAL

MUSYAWARAH
DESA

UU NO 12/2011
TEHNIK
PERUNDANGUNDANGAN

RANPERDES

PP ATAS
UU DESA

PP
PELAKSANA

RANPER
KADES
PERATURAN
PELAKSANA
LAIN

PERMENDAGRI
TATACARA
PEMBUATAN
PRODUK HUKUM
DAERAH
DAN DESA

PERMEN-KEPMEN
JUKLAK JUKNIS
LAINNYA

KONTEN YANG AKAN DIATUR

RANPER
BERSAMA
KADES

PERDA KAB
TATACARA
PEMBUATAN
PERDES

34

Tan Hana Dharma Mangrwa

Demikian
donito@insist.or.id
2014

BIRO HUKUM DAN ADVOKASI

| PENGURUS SEKERTARIAT KONFEDERASI

35