1

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI . ...................................................................................... 1
SEKAPUR SIRIH OLEH H. MUCHSIN BILFAGIH, S. Ag ..................... 3
SAMBUTAN OLEH S.A.R MULACHELE ............................................... 6
MUQADDIMAH .................................................................................. 7
KATA PENGANTAR ............................................................... 9
SABDA NABI SAW .................................................................. 13
BENAR ........................................................................................ 14
SABAR ................................................................................... 15
SOPAN .................................................................................. 30
A. KELUARGA ............................................................ 38
B. PERBENDAHARAAN (SEMBAHYANG) .................... 40
C. TAUFAN SETIA ...................................................... 49
D. PENGAWAL ........................................................... 53
E. TABIB .......................................................................... 56
F. BENTENG ............................................................. 59
G. UANG DAN HARTA ................................................ 62
H. KATA ILMU ............................................................ 67
I. ANAK PIATU .......................................................... 72
J. NASIB ........................................................................ 80
K. PUJI SYUKUR ........................................................... 82
L. RINGKASAN ........................................................ 84
M. SEJARAH ................................................................. 88

2








“Jadilah Musa ketika menuntut ilmu, dan jadilah Khidir ketika
menjadi guru. Karena keduanya ada dalam Muhammad”
















Cetakan ke 2,
Diproduksi oleh Majelis
Ta’lim Daar al-H ikam
Manado 2010.
3

SEKAPUR SIRIH
Oleh : H. Muchsin Bilfagih, S. Ag
Bismillahi al rahman al rahim…
Pengarang sya’ir ini adalah ayah dari ibu Saya, sekaligus
beliau merupakan guru halaqah saya yang tertinggi, terutama
dalam memberikan pemahaman tentang ilmu tasawuf yang
beliau kuasai. Pengarang tidak hanya menulis sya’ir “Wasiat
Ayah” akan tetapi ada beberapa sya’ir yang sudah terbukukan
sebelumnya; seperti, Sya’ir Perukunan Islam (1954), Sya’ir
Kiamat (1954), Pesan Ibu (1956), Terjemahan Al-Qur’an
(1962), dan ada beberapa karangan beliau yang belum sampai
ke tangan pembaca.
Membaca setiap bait-bait sya’ir pengarangnya akan
terlihat nilai kecerdasan intelektual, spiritual dan emosionalnya.
Hal ini, seiring dengan karakteristik yang dimiliki beliau sebagai
seorang sastrawan yang memiliki sejumlah potensi sehingga
dengan potensi inilah harkat dan martabat beliau sangat mulia.
Potensi inilah yang juga nampaknya telah menjadikan Syekh
A.S Bachadlar seorang tokoh yang sangat berpengaruh pada
masanya. Potensi-potensi yang dimaksud diantaranya adalah:
Ulama (Ketua Mahkamah Syar’iah Sulawesi Utara), Sebagai
Umara (Penasehat Khusus Gubernur Sulawesi Utara Bpk. H.
V. Worang), Sejarahwan, Politisi (Dewan Pimpinan PSII
Kabupaten Minahasa), Pengusaha (Manajer pada sebuah
perusahaan Belanda semenjak di Gorontalo) dll.
Sejarah mencatat, AS. Bachdlar banyak memberikan
kritik dan sarannya kepada Bangsa dan Negara ini. Hal ini
terlihat pada bukti surat menyurat yang dilayangkan kepada Ir.
Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia, dan Ibu
4

Fatmawati (isteri Soekarno). Bunyi surat tersebut diantaranya
adalah, “Jika presiden meyakini bahwa kemerdekaan yang
dicapai adalah sebuah anugerah dari Allah, maka mesti
diyakini pula bahwa anugerah itu diperuntukkan kepada rakyat
Indonesia. Oleh sebab itu, dalam menjalankan roda
pemerintahan harus mengedepankan kepentingan rakyat
bangsa Indonesia serta tidak memberi ruang dan peluang
kepada bangsa-bangsa lain untuk menjajah negeri kita
kembali”.
Selain itu, kepada ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof.
Dr. Hamka, telah terjadi korespondensi yang cukup lancar
dengan pengarang. Masukan-masukan pengarang terhadap
Buya Hamka dalam mengembangkan polarisasi dakwah di
tengah-tengah masyarakat yang multikultural, adalah sikap Al-
Qur’an yang menghargai perbedaan, dengan mengutip al-
Qur’an surat al-Nahl: 125:
’< @‹ 7 ´ pJ3 : p q J9´ r p´Z : Og9 » ´ r Ó 9
´‘d ` b 7 ´ ´qd O= `J @ ` ¾ ‹ ´qd´ r O=
ûï gJ9
Artinya: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya
Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa
yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.”
Kemudian, ketika menutup suratnya kepada Buya
Hamka, A.S Bachdlar mengatakan, “Ayat di atas adalah contoh
5

amar ma’ruf nahi munkar yang paling tepat sebagai pola
dakwah di Indonesia, metode ini yang tidak menjadikan muslim
Indonesia fundamental bahkan radikal dalam memahami
Islam”.
Disamping beliau telah berhasil melahirkan dan
mendirikan sebuah perkampungan Islam (Desa Tumbak),
pengarangpun adalah pejuang pra-kemerdekaan hingga
proklamasi yang tidak tercatat dalam sejarah resmi Pemerintah
Indonesia. Saya sebagai cucu sekaligus sebagai muridnya,
banyak mendapat bimbingan dan pelajaran khusus dari
pengarang, bahkan awal mula saya naik ke mimbar khutbah
pun berdasarkan perintah (ijazah) dari sang pengarang.
Ketika usia 100 hari menjelang wafatnya, pengarang
berpesan kepada saya, “Jadilah Musa ketika menuntut ilmu,
dan jadilah Khidir ketika menjadi guru. Karena keduanya ada
dalam Muhammad” dan saya pun berharap kepada pembaca,
jadilah seperti apa yang telah diwasiatkan pengarang kepada
saya, agar hasil dari bacaan tentang “Wasiat Ayah” ini menjadi
penawar bagi hidup dan kehidupan kita.

Sekian
Manado, 09 Januari 2010.
H. Muchsin Bilfagih, S. Ag.
(Pengasuh Majelis Daar al Hikam dan
Cucu sekaligus Murid A. S Bachdlar)



6

Penghargaan Sambutan Dari Yang Mulia Al-Ustadz
S. A. R Mulachele Ketua M. S. 190/MS.

Dengan nama Allah Pemurah Penyayang.
Segala puji bagi Allah, kemudian shalawat dan salam
kepada junjungan kami nabi Muhammad Saw. Adapun setelah
membaca dan menelaah dengan seksama sya’ir-sya’ir “Wasiat
Ayah” yang disusun oleh saudara yang sangat terkenal dalam
susunan dan gubahan-gubahan beserta sajak-sajaknya dalam
beberapa buku-buku sya’ir yang terlebih dahulu ialah untuk
membuat kata sambutan yang selayaknya saudaraku A. S
Bachdlar, maka tertariklah hatiku sebagai tanda penghargaan
tinggi atas usaha saudaraku itu yang telah mengisi
kekosongan dan kekurangan pada masyarakat yang sangat
gemar akan kata-kata sajak yang indah dan mudah difahami
sambil mengandung sopan dengan kalimat-kalimat yang halus,
sesuai dengan alam pikiran penyusun yang mengikuti aliran
zaman dan perubahan cara mendidik dan membimbing ke arah
kemajuan yang sebenarnya.
Semoga Allah Swt. akan menerima usaha yang baik ini
dan mendapat penghargaan dari para pembaca sekaliannya,
serta kesempurnaan itu tetap milik Allah.

Manado, 21 September 1957.
Ketua Mahkamah Syari’ah
Manado/Minahasa
S. A. R Molachele

7

MUQADDIMAH
Bismillahi AR-Rahman AR-Rahim
Segala puji-pujian teruntuklah bagi Tuhan Allah serta
sekalian alam. Shalawat dan salam kita ucapkan kepada
junjungan alam Nabi Muhammad SAW, dan kepada orang
yang setia mengikuti jejaknya. “Sesungguhya Allah mengutus
junjungan kita Nabi Muhammad SAW untuk rahmat sekalian
alam”
Dengan masa hanya 23 tahun dapatlah beliau merubah
sejarah dunia di masa yang serba kacau lalu menjelma
menjadi masa yang makmur dengan perangai yang terpuji.
Dengan ketabahan hati yang penuh keyakinan beliau
memperjuangkan tugasnya sebagai seorang Rasul, menembus
berbagai rintangan yang hebat-hebat dan sangat berbahaya,
namun akhirnya dalam jangka yang sangat pendek itu beliau
dapat mencapai kemenangan yang gilang-gemilang.
Kemenangan mana terselamatlah penduduk seluruh
tanah Hijaz dan tanah Arab seluruhnya dari kesesatan
peyembahan berhala dan dari perangai-perangai yang buruk
lalu menjadi Umat Islam, umat yang mentauhidkan Allah yang
Maha Esa.
Menurut pernyataan dari Sayyidina Ali r.a. tentang
peradaban Islam yaitu berpedomankan salah satu sabda
Rasulullahi SAW (Lihat peri hidup Muhammad Rasulullah
SAW. jilid II halaman 51) oleh Zainal Arifin Abbas.
1. “Pengetahuan modalku”
2. “Akal asal agamaku”
3. “Cinta adalah dasarku”
4. “Ikhlas adalah pakaianku”
8

5. “Mengingat Allah adalah teman kesukaanku”
6. “Kepercayaan adalah perbendaharaanku”
7. “Duka cita adalah temanku”
8. “Ilmu senjataku”
9. “Sabar selendangku”
10. “Ridha keuntungan perjuanganku”
11. “Faqir kebangsaanku”
12. “Zuhud Pekerjaanku”
13. “Keyakinan itu kekuatanku”
14. “Kebenaran (ketulusan) itulah penolongku”
15. “Taat (kepatuhan) itulah yang mencukupkan aku”
16. “Berjuang itulah pekertiku”
17. “Sembahyang itulah buah mataku”

Tujuh belas pasal perangai Rasulullah yang mulia itu
saja kemukakan sebagai dasar yang utama dalam Sya’ir
Wasiat ini. Adapun gubahan yang sederhana ini, sekedar hajat
untuk anak-anak Saya, tetapi oleh banyak permintaan
saudara-saudara, sahabat kenalan, baik Islam maupun Kristen,
setelah menelaahnya, mendesak supaya sya’ir ini dapat
dicetak banyak-banyak agar dapat pula, dibaca oleh banyak
orang. Semoga ada juga faedahnya.
Demikian hingga buku sekecil ini terwujud tiba di tangan
para pembaca yang terhormat; walaupun belum memuaskan
keinginan massa pada zaman yang serba modern ini, karena
banyak kekurangannya. Dengan harapan yang ikhlas agar
supaya arifin pembaca dapat sama-sama memperbaiki yang
tidak tepat dan kurang jelas adanya. Semoga kiranya Allah
limpahkan karunia pahalanya.

Terima kasih.
Wassalam bil maaf Al Faqier
A. S. Bachdlar
9

I. (Kata Pengantar)
1.
Bismillah awal kata pengantar
Allah tersanjung pengasih besar
Mohon petunjuknya di jalan yang benar
Jauh dari sesat kesasar.
2.
Alhamdulillah syukur kepada-Nya
Allah yang kaya sangat murahnya
Tidak terhitung banyak nikmat-Nya
Limpah karunia bagi hamba-Nya.
3.
Rahmat sejahtera Allah ciptakan
Atas Nabi akhir al-zaman
Juga keluarga serta sekalian
Sahabat beliau pula demikian.
4.
Waba’du, kemudian dari pada itu
Duduk termenung di satu waktu
Faqir yang lemah ketika itu
Terbayang cita karang sesuatu.
5.
Cita membayang dalam pikiran
Situasi zaman macam aliran
Anak dan cucu gaul campuran
Betapa kelak dapat teguran.
10

6.
Karena sekarang zaman merdeka
Begitu kata setengah mereka
Dipakai untuk menurut suka
Bapak ibu tak boleh murka
7.
Usia anak sudah dewasa,
Masuk sekolah sudah termasa
Ibu-bapak lepas kuasa
Mengaku tahu bandingan masa.
8.
Menapak sekarang zaman yang akhir
Istilah modern banyak yang lahir
Tutur kalimat gaya menyindir
Orang tua kolot dan pandir.
9.
Mengingat nikmat karunia Tuhan
Anak dan cucu puluh bilangan
Fakir melarat bukan hartawan
Menanggung jawab pilu dan rawan.
10.
Betapa hal bagaimana peri
Amanat Allah haliqul Baari
Menanggung jawab anak dan isteri
Agar selamat kemudian hari.

11

11.
Hamba bukan seorang kaya
Namun memadai rasa mulia
Karena syukur atas karunia
Iman dan Islam agama saya.
12.
Bukan Ulama gelaran mufti
Pengetahuan agama luas teliti
Bukan pula hamba mengerti
Sekedar tahu untuk berbakti.
13.
Umur lanjut boleh di kata
Rambut menjelma uban merata
Gigi tanggal rabunlah mata
Kuping pendengar berkurang nyata.
14.
Uban merata atas kepala
Mata rabun kuranglah nyala
Pendengar sudah berkurang pula
Cucu menangis sangka biola.
15.
Itulah berita datang berulang
Alamat orang di panggil pulang
Kadar bernanti ajal menjelang
Entah pagi entahlah petang.

12

16.
Dalam hal demikian rupa
Syukur lagi hati penyapa
Suka menegur bagi siapa
Anak dan cucu yang agak lupa.
17.
Dikalau ayah sudah tiada
Pandai-pandai wahai anakda
Bercampur gaul sesama muda
Perangai baik jangan ternoda.
18.
Berjuanglah anakku secara jantan
Dalam gelanggang mana kalangan
Masyarakat Adam menurut zaman
Selama hidup teguhkan iman.
19.
Awas waspada jangan terburu
Melihat laga yang macam baru
Anakku jangan lantas meniru
Fikir dan timbang jangan keliru.
20.
Ayah tiada tinggalkan harta
Menjadi waris dibagi rata
Sebab miskin sudah ternyata
Jangan lagi umpat dan nista.

13

21.
Sebab itu ayah karangkan
Suatu syair jadi titipan
Bisikan jiwa ayah tinggalkan
Wasiat baik harap amalkan.
22.
Agar hidupmu berkat dan jaya
Selama hayat di alam dunia
Amalkan pesanku jujur setia
Dunia akhirat kelak mulia.
23.
Inilah wasiat ayah pesankan
Anakku ingat jangan lalaikan
Patuh dan ikhlas serta amalkan
Riwayatmu kelak orang kenangkan.
II. (Sabda Nabi S.A.W)
24.
Pengetahuan itu modal utama
Hendaklah berdamping dengan ulama
Ambil petua dengan seksama
Supaya amal tidak percuma.
25.
Akal itu asal agama
Orang berbudi sudi terima
Orang gila tentu percuma
Itulah sabda Nabi utama.
14

26.
Cinta kasih menjadi dasar
Terhadap makhluk kecil dan besar
Halaukan dengki benci dan gusar
Terhindar dari fitnah dan onar.
27.
Keinginan itu jadi kendaraan
Sebagai kereta edar daratan
Atau bahtera atas lautan
Diangkasa roket cita ke bulan.
28.
Ingat Allah teman bersuka
Diwaktu senang dikala duka
Segala cita taufik terbuka
Jauh dari malapetaka.
29.
Kepercayaan itu anak keteguhan
Itu sebagai perbendaharaan
Dalamnya penuh segala kekayaan
Tiada berkurang dibelanjakan.

30.
Duka cita adalah teman
Walau dilaut atau di hutan
Anakku jangan jemu dan bosan
Biasakan saja hatimu aman.


15

31.
Ilmu itu sebagai pedang
Jenawi sakti di medan perang
Penewas musuh datang menyerang
Tidakkan majal oleh sembarang.

32.
Ilmu itu adalah senjata
Pada yang empunya berguna nyata
Baik di desa walau ke kota
Dapat merubah bathil dan dusta.

33.
Sabar itu jadi selendang
Selimut diri malam dan siang
Penghibur hati di kala datang
Fitnah cobaan aral melintang.

34.
Pahala sabar sudah termasyhur
Menolong orang hingga di kubur
Walau fitnah ribut mengguntur
Allah pengasih serta penghibur.

35.
Allah beserta orang yang sabar
Jadi penghibur di waktu sukar
Walau dibenam walau dibakar
Hati yang sabar tiada gentar.

16

36.
Rela berjuang itulah dia
Untung besar sifat mulia
Orang rela jujur setia
Hidup jaya syahid bahagia.

37.
Kebangsaan itu hanyalah faqir
Itulah bangsa semula lahir
Bani Adam awal dan akhir
Lahir tiada kain setabir.

38.
Beroleh harta menjadi kaya
Menjadi raja dapat karunia
Orang berbudi jujur setia
Faqir dan miskin pandang mulia.

39.
Karena tahu mula asalnya
Semua sama waktu lahirnya
Sekedar hidup nanti ajalnya
Pulang ke tanah hampa tangannya.

40.
Zuhud itulah sifat kerjamu
Hidup dunia kedar hajatmu
Untuk berbakti akan Tuhanmu
Bukanlah ini tempat kekalmu.

17

41.
Dunia sebagai tempat berhuma
Bertanam benih baik utama
Amal yang saleh turut agama
Iman dan Islam jalan bersama.

42.
Keyakinan itu suatu kekuatan
Mendorong cita lagi giatkan
Ke arah maksud hingga capaikan
Ragu dan sangka ia halaukan.

43.
Kebenaran itu jadi penulung
Ia pembela yang amat ulung
Sebentar fitnah datang membendung
Ia membela tangkas tak canggung.

44.
Kebenaran itu penolong tentu
Segala perkara ia membantu
Setiap masa setiap waktu
Ia pembela yang ulung jitu.

45.
Jika berlaku fitnah sengsara
Hingga orang masuk penjara
Tiada siapa tolong bicara
Kecuali kebenaran luputkan mara.

18

46.
Taat pada perintah Tuhan
Cukup memadai bagimu ikhwan
Tiada imbang akan gangguan
Itulah tanda orang beriman.

47.
Berjuang itu jadi pekerti
Cita baik lagi berarti
Giat majukan dengan teliti
Guna umum sebagai bakti.

48.
Sembahyang itu buah matamu
Peliharakan dia selagi hayatmu
Lebihkan dari anak isterimu
Lima waktu tetap baktimu.

49.
Sekedar ini wasiat bapa
Banyaknya itu tujuh belas rupa
Sambut dan ingat jangan dilupa
Peradaban Islam sunnah Mustafa.

50.
Sabda Nabi jadi pedoman
Penuntun ummat sekedar zaman
Siapa taat tanda beriman
Dunia akhirat sentosa aman.

19

51.
Tujuh belas pasal terdapat
Perangai Nabi junjungan umat
Rasul Allah mebawa rahmat
Seluruh alam dapat syafa’at.

52.
Baik juga ayah lanjutkan
Pendapat ayah anak pahamkan
Kedar dapat ayah paparkan
Agar mudah anak amalkan.

53.
Wahai anakku cahaya mata
Berlaku benar bila berkata
Walau dihadapan si jahil buta
Jangan sekali hendak berdusta.

54.
Adapun benar dalam berkata
Itu melebihi tajam senjata
Adapun tutur bercampur dusta
Itu seburuk tubuh berkusta.

55.
Lidah benar bertutur kata
Sebagai kalung tata permata
Atau mahkota Raja bertahta
Siapa berhadap bersuka cita.


20

56.
Siapa terkenal berkata bohong
Lidahnya seolah sudah terpotong
Tiada siapa sudi menolong
Bencilah orang diajak omong.

57.
Umpama senjata tajam tak tumpul
Yaitu benar kata terkabul
Walau diejek janganlah masygul
Kemenangan kelak dating menyusul.

58.
Benar itu anak gusti
Sumbernya hak nyatalah pasti
Dari pada Allah tuhan sejati
Suatu cahaya didalam hati.

59.
Ialah cahaya penerang hai
Suluh penuntun hidup ke mati
Dimana tempat anak lewati
Orang menyambut segenap hati.

60.
Ialah terang ialah Nur
Menara hidup pelita kubur
Nama di dunia harum termasyhur
Langsung ke Barzah sewangi melur.

21

61.
Lidah benar bila berperi
Umpama kunci buka lemari
Jurusan mana berhadap diri
Hambarkan cita segera di beri.

62.
Sebab orang sudah percaya
Orang benar jujur setia
Seperti lampu terang cahaya
Tipu gelap tidak bedaya.

63.
Perangai benar sudah terkenal
Dimana pergi orang tak sangkal
Orang hartawan tidak menyesal
Pinjamkan uang menjadi modal

64.
Walau bergaul dengan wanita
Orang percaya segenap cita
Nama baik tersiar warta
Jujur dan benar laku dan kata.

65.
Tetapi wahai emas tumpawan
Walaupun benar budi bangsawan
Jangan biasa suka berkawan
Dengan wanita janda perawan.

22

66.
Larangan Allah sangat tegasnya
Pemuda pemudi bukan muhrimnya
Jangan bergaul dengan bebas nya
Pengaruh syahwat sangat kejamnya.

67.
Sebagus kisah didalam Qur’an
Seorang Nabi utusan Tuhan
Yusuf jelita sangat rupawan
Zulaiha rindu hilang ingatan.

68.
Hilanglah malu siti mulia
Dirasuk syahwat tidak berdaya
Mujur rahmat Tuhan yang kaya
Mereka luput dari bahaya.

69.
Karena Yusuf nabi dan rasul
Hatinya suci do’a nya makbul
Dengan seketika Jibril muncul
Redahlah nafsu amarah cabul.

70.
Itupun karena memeng sifatnya
Segala rasul ma’sum dirinya
Benar dan suci jujur hati nya
Lacur buruk sunyi padanya.

23

71.
Dipilih Yusuf masuk penjara
Dari pada turut syahwat angkara
Berani korban badan sengsara
Agar nama tiada cidera.

72.
Dalam kejadian demikian rupa
Jangan kita salah menerka
Menuduh nabi buat durhaka
Merusak iman calon neraka.

73.
Para Anbia’ RasulNya Tuhan
Ma’sum bersih dari celaan
Pemimpin ummat bawa tuntunan
Baik dan buruk Tuhan bayangkan.

74.
Agar ummat kemudian hari
Menempuh perkara berbagai peri
Tiada tertipu nafsu sendiri
Tahu bedakan kanan dan kiri.

75.
Demikian kalimat Khalikul alam
Mengutus Nabi membawa Islam
Lebih jelas wahai pualam
Daraskan Qur’an fikir mendalam.

24

76.
Dalam mendaras sambil belajar
Kunjungi guru kecil dan besar
Alim Ulama’ sangat muktabar
Pengetahuan banyak luas dan benar.

77.
Kedua hendaklah siap tunggangan
Kuda semberani tahan muatan
Menempuh jalan hutan daratan
Walau ke ufuk langit tujuan.

78.
Yaitu sabar dalam alaman (ujian)
Segala cobaan mana jurusan
Didalam hati jangan hiraukan
Yakin percaya Allah luputkan.

79.
Sabar olehmu wahai puteraku
Menempuh suatu baikan laku
Dimana ruas disitu buku
Tiada jalan tidak berliku.

80.
Fikir menungkan buku dan ruas
Disitu peunjuk terang dan tegas
Ruas yang licin tidak berbekas
Tetapi buku terbitkan tunas.

25

81.
Kata pujangga bijak waskita
Kemenangan itu bukan semata
Pada selalu bersuka cita
Tetapi hijrah tiap derita.

82.
Sebagai buku terbitkan tunas
Tumbuha muda subur dan waras
Demikian rintangan menambah cerdas
Badan yang lemah menjadi tangkas.

83.
Betapa nasib Nabi Sulaiman
Raja yang besar tiada bandingan
Cincin kerajaan dicopet syaitan
Hidup menjadi buruh nelayan.

84.
Siapa tiada tahu riwayat
Nabi Sulaiman tinggi derajat
Kerajaan luas lagi mu’jizat
Bandingannya itu tiada didapat.

85.
Hewan unggas jin dan hantu
Angin, laut, bukit dan batu
Taat menurut perintahnya itu
Betapa mendapat uji begitu.

26

86.
Dari singgasana kerajaan besar
Jatuh menjelma darwis yang sukar
Merantau jadi buruj yang kasar
Namun beliau berlaku sabar

87.
Karena sabarnya nabi Sulaiman
Cincin yang hilang Tuhan pulangkan
Isterinya dapat perut ikan
Kerajaan kembali senang dan aman.

88.
Sabar Ayyub sangat termasa
Cobaan Tuhan luar biasa
Tahan sengsara berbilang masa
Anak dan harta lebur binasa.

89.
Bukan sahaya anak dan harta
Dirinya juga sangat derita
Namun hatinya tetap berita
Allah kuasa pulihkan beta.

90.
Walau diriku sakit melarat
Namun Tuhanku mempunyai rahmat
Do’a beliau demikian hemat
Mutu budinya tinggi derajat.

27

91.
Dengan kudrat Khalikul bari
Sabar Ayub demikian peri
Di dalam rumah baring sendiri
Jibril tiba segarlah diri.

92.
Jibril muncul jalankan tugas
Perintah Allah tegas dan lantas
Ayub yang sakit sembuh dan waras
Menjelma pemuda yang elok paras.

93.
Isterinya masuk sangat herannya
Rumah sunyi tanpa suaminya
Hanya pemuda elok rupanya
Ialah Ayyub balik mudanya.

94.
Nabi Muhammad serta sahabat
Siarkan Islam kepada Umat
Banyak cobaan beliau dapat
Tiada kurang dengki dan umpat.

95.
Hendak dibunuh oleh mereka
Musyrikin Mekkah sangat durhaka
Kepada Nabi sangat dimurka
Hendak dibunuh itu ketika.

28

96.
Di gua Tsur Nabi mulia
Serta Abu Bakar taoulan setia
Dengan lindungan Tuhan yang kaya
Beliau luput dari bahaya.

97.
Lembah nkecil di riang gunung
Nabi dan umat musyrikin kepung
Sabar Nabi yang sangat ulung
Allah uputkan akhirnya untung.

98.
Bagaimana sabar Rasul mulia
Dengan sahabat bersama dia
Serta wanita banyak setia
Baca sejarah Islam bahagia.

99.
Salah satunya ayah bayangkan
Sabarnya Nabi silah renungkan
Suatu masa di tengah jalan
Beliau bersama Umar pahlawan.

100.
Tengah berjalan sambil berperi
Seorang Badui datang berlari
Tiba menyentak jubahnya Nabi
Hardik berkata uangku mari.

29

101.
Beliau berjalan denga tertibnya
Tiba si Badui tidak sopannya
Datang menarik baju jubahnya
Nyaris rebah Nabi olehnya.

102.
Umar terkejut hatinya berang
Dihunus pedang hendak memarang
Dengan lembut Nabi melarang
Menyabarkan hati Umar yang garang.

103.
Bukan demikian menolong kawan
Tetapi anjurka aku pulangkan
Haknya padaku ia hajatkan
Itu yang patut Umar lakukan.

104.
Mendengar sabda nabi pilihan
Umar dan Badui sangatlah heran
Memikir sifat Haim junjungan
Olehnya Badui lalu lepaskan.

105.
Badui berkata dengan sopannya
Takut dan malu dengan hikmatnya
Wahai Muhammad sunguh benarnya
Tuanku Rasul tiada taranya.

30

106.
Ajarlah hamba kalimat syahadat
Kepadamu aku menjadi umat
Syari’at Islam hamba bertaat
Dunia akhirat jadi syafa’at.

107.
Itulah sabar mengandung hikmat
Pada mulanya terasa berat
Lamun si sabar hatinya kuat
Akhirnya menang merasa nikmat.

108.
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ke tepian
Bersakit-sakit dahulu
Bersenang-senang kemudian.

(III. “ Sopan” )

109.
Ketiga hendaklah berpunya modal
Masuk pasar toko dan kapal
Dimana pergi orang tak sangkal
Sebab anakda membawa bekal.

110.
Iaitu akhlak budi pekerti
Lemah lembut tutur berarti
Di depan ramai atau berbakti
Tetap perangai bertulus hati.

31

111.
Wahai anakku muda belia
Elok prerangai sopan mulia
Lebih dari emas mutiara
Orang hargakan lagi percaya.

112.
Bila bertemu sesama Islam
Anakda dahulukan memberi salam
Maniskan muka jangan bermasam
Elok dan lembut tutur pualam.

113.
Baik berjumpa lain agama
Dahulukan hormat sikap utama
Perangai sopan tidak percuma
Malah menjadi harumnya nama.

114.
Jika diajak oleh kawanmu
Pergi bertandang atau bertau
Baik tertib peri lakumu
Lemah lembut tutur katamu.

115.
Tiba belum masuk ke dalam
Tuan rumah diberi salam
Minta izin wahai pualam
Itulah sunnah agama Islam.

32

116.
Kalau dalam rumahnya orang
Berbagai alat berukir karang
Mata memandang biarlah jarang
Hemat tuturmu biarlah kurang.

117.
Jika dijamu dalam hidangan
Kendali nafsu anakku tuan
Jangan serakah tidak karuan
Orang memandang sifatmu hewan.

118.
Jangan sekali merasa bangga
Lantaran banyak berkeluarga
Bangsawan pangkat hartawan juga
Itu bukan address ke surga.

119.
Benar sungguh tidak disangkal
Oleh si pandir atau berakal
Banyak keluarga walau tak modal
Kalau rukun tidak menyesal.

120.
Tapi kalau tidak sehati
Sebab jahil tak budi bakti
Kemajuan hidup tidak berbukti
Lebih berguna nisan si mati.

33

121.
Syari’at Islam sangat mulia
Sudah diatur Tuhan yang Kaya
Siapa beriman sungguh percaya
Islam penuntun hidup bahagia.

122.
Pemeluk Islam kalau percaya
Tolong menolong kata se-ia
Hilang kikir orang yang kaya
Fakir miskin kurang di dunia.

123.
Karena Allah telah ciptakan
Ayat Qur’an nyata terangkan
Umat Islam satu ikatan
Jadi saudara sama beriman.

124.
Satu padu dalam saudara
Gotong royong segala perkara
Sikaya tahu miskin sengsara
Hidup makmur dalam Negara

125.
Tetapi semua wahai putraku
Mungkin sukar akan berlaku
Selama ummat berhati kaku
Kikir dan sombong pri dan laku

34

126.
Kikir dan sombong tingkah lakunya
Masyarakat tentu benci padanya
Bukan benci akan dirinya
Tetapi pekerti kasar buruknya.

127.
Bukan hanya pada si kaya
Simiskin tak kurang bertipu daya
Kalau sudah dapat percaya
Harta orang dianiaya.

128.
Bukan hanya pada si kaya
Kita harapkan berbuat jaya
Si miskin juga hendak setia
Kalau sudah dapat percaya.

129.
Sebab itu muda rupawan
Jujur setia baik amalkan
Bahasa elok muka maniskan
Senang siapa anak hadapkan.

130.
Kata kita penyebut diri
Jangan lazimkan wahai biduri
Alamat orang berbangga diri
Orang tak sudi mendengar peri.

35

131.
Lazimkan dengan berkata saya
Itu kata membawa jaya
Senang pendengar sayang percaya
Itu alamat jalan bahagia.

132.
Sedang pembesar dalam Negara
Atau hakim urus perkara
Berkata kami kalau bicara
Karena jabatan demikian cara.

133.
Siapa bias merendah diri
Dalam tingkah laku dan peri
Senyum manis wajah berseri
Tanda bahagia di depan hari

134.
Sabda Nabi amat tegasnya
Adapun Islam itu orangnya
Siapa terselamat sesama Islamnya
Dengan hasil tangan lidahnya.

135.
Daraslah ayat di dalam Qur’an
Firman Allah telah nyatakan
Untuk Muhammad Rasul pilihan
Perangai mulia Tuhan tegaskan.

36

136.
Bahkan sabda penutup anbiya
Menjelaskan firman Tuhan yang kaya
Aku diwujudkan di alam dunia
Untuk melengkapi perangai mulia.

137.
Sadar dan insaf fikir, mendalam
Untuk rahmat seluruh alam
Nabi tugaskan khalik al alam
Berperangai mulia wahai pualam.

138.
Betapa bagi kita ummatnya
Tentu lebih pula wajibnya
Berperangai elok selama hayatnya
Sedapat mungkin turut jejaknya.

139.
Sungguh saya merasa heran
Kepada orang kurang pikiran
Berbangga diri karena bangsawan
Atau pangkat lagi hartawan.

140.
Demikian kata baginda Ali
Kepada siapa yang agak lali
Merasa sombong kurang peduli
Kiranya yang lain harga setali.

37

141.
Kenapa sombong wahai ikhwani
Kita manusia di dunia ini
Umum asal laki dan bini
Keluar melewati saluran seni.

142.
Umum asal betina jantan
Keluar masuk jalan saluran
Kedalam rahim Allah taruhkan
Teredam dengan air ketuban

143.
Cukup masa dalam kandungan
Tiba saatnya lalu dilahirkan
Dengan kodrat iradat Tuhan
Melalui pula jalan saluran

144.
Bukan lelaki siapa berkata
Bapakku bangsawan Alim Pendeta
Tetapi lelaki buktikan nyata
Hanya ini padaku serta

145.
Demikian agaknya rupa tujuan
Kata Ali Alim pahlawan
Agar menjadi insaf ingatan
Kepada siapa mengaku jantan

38

IV (Keluarga)

146.
Keempat biarkan keluargamu
Dimana pergiengkau bertamu
Yaitu kasih murah hatimu
Tangan terulut kadar dermamu

147.
Hati hias dengan murahnya
Tangan terulur kadar dermanya
Kepada siapa ada hajadnya
Maniskan muka sambut padanya

148.
Baik dirumah atau dijalan
Dihutan dilaut dipelayaran
Didesa dikota dilepau makan
Bermurah hati kepada kawan

149.
Apa yang ada anak hadapkan
Air minum atau penganan
Siapa dekat anak silahkan
Bersama-sama minum dan makan

150.
Kalau adat demikian rupa
Suka di kenal sudi menyapa
Budimu itu orang tak lupa
Suatu masa kelak berjumpa
39

151.
Kalau kawan ada berhajad
Baik ringan ataupun berat
Jangan menolak tergopoh cepat
Tetapi pkirkan untuk maslahat

152.
Sambutlah dengan tulus dan ikhlas
Serta jawab manis dan jelas
Kawan yang masjgul rasa terbebas
Karena sambutan manis dan pantas

153.
Tetapi wahai emas tumpawan
Berhati-hati jangan tertawan
Bukan mudah memilih kawan
Lahirnya madu batih cendawan

154.
Wahai anakku sibulang ulu
Wasiat ayah sambut dahulu
Anakda pegang sebagai palu
Agar kemana tiada pilu

155.
Sebutan nama bayangan rupa
Nasihat ayah jangan dilupa
Walau kemesir atau eropa
Amalkan itu janagn di alapa

40

156.
Segala sesuatau hitung dahlu
Kalau belanda jangan terlalu
Boros dirokok tidak kelulu
Uang habis hatimu pilu

157.
Sedapat mungkin anakku tuan
Hisab dahulu baru lakukan
Jangan terlalu berlebih-lebihan
Pakai dan makan baik kadarkan.

158.
Kelima ada “Gedung”simpanan
Lima pintunya anak awaskan
Yaitu sembahyang tetap amalkan
Lima waktunya jangan lalaikan.

159.
Adapun sembahyang yang lima waktu
Itu gedungmu yang paling tentu
Dalamnya rahmat berbagai mutu
Kurnia Allah pintunya itu.

160.
Sebab itu jangan lalaikan
Tiap waktunya anak awaskan
Disana tempat engkau harapkan
Mohon kurnia kepada tuhan

41

161.
Mohon taufik dengan hidayat
Rukun ihsan agar didapat
Lakukan shalat sucikan niat
Ikhlas dan khusyu’ tanda ma’rifat.

162.
Jikalau shalat kita bandingkan
Dengan enam latihan badan
Dalam shalat lebih tingkatan
Hingga telunjuk kita gerakkan.

163.
Orang bersenam pagi dan petang
Hanya dua kali kalau diulang
Tetapi shalat sudah terbilang
Lima kali diwaktu senggang.

164.
Dalam sport kegerakkan badan
Sebagai ma’lum orang lakukan
Suatu gerak tidak kedapatan
Kecuali dishalat kita amalkan.

165.
Yaitu gerak jari telunjuk
Bersama lafadl tauhid yang muluk
Menyatakan hati mengaku tunduk
Kepada Tuhan segala mahluk.

42

166.
Dalam tahiyat ucap syahadat
Dengan ikhlas serta ma’rifat
Akan Allah yang pohon rahmat
Getarkan jantung jari terangkat.

167.
Gerak telunjuk ada hikmatnya
Isyarat hati pada lahirnya
Mengaku saksi akan Tuhannya
Allah tunggal tiada paranNya.

168.
Demikian pula syahadat Rasul
Gerak telunjuk ditopang jempol
Niat dihati mengaku betul
Benar Muhammad Nabi dan Rasul.

169.
Gerak telunjuk getaran hati
Tauhidkan Allah Rabbul Izzati
Kepadanya kita tetap berbakti
Dari hidup sehingga mati.

170.
Mengangkat tangan takbiratul ihram
Beserta niat hatipun tentram
Menyebut Allah khalukul-alam
Berdiri lurus seolah senam.

43

171.
Tunduk ruku’ dengan bangkitnya
I’tidal lurus-tegap dirinya
Lalu sujud dengan khidmatnya
Duduk tahiyat horat Tuhannya.

172.
Hati hadir dengan khusyu’nya
Ucap syahadat lafadl lidahnya
Getaran jantung arah jarinya
Telunjuk bergerak dengan cepatnya.

173.
Hati dan lidah serta anggota
Bersama dengan tilikan mata
Bersatu padu didalam cita
Tauhidkan Allah Tuhan semesta.

174.
Kebersihan kalau kita periksa
Dalam sembahyang senantiasa
Mengambil wudhu basuh anggota
Mana terbuka ditubuh kita

175.
Kaki dan tangan siku dan muka
Semua itu anggota terbuka
Bibit penyakit berbagai neka
Debu yang kotor sarang bersuka

44

176.
Lima kali setiap hari
Siang malam bersihkan diri
Berulang wudhu demikian peri
Keegaran tubuh wahai bestari

177.
Umpama sungai hening airnya
Didepan rumah deras alirnya
Lima kali mandi dalamnya
Daki keluar suci tubuhnya

178.
Demikian sembahyang dengan wudhunya
Untuk siapa amal padanya
Mohon ampun rahmat tuhannya
Bersih dari aib dosanya

179.
Sembahyang subuh diwaktu fajar
Buka pintu kecil dan besar
Idara masuk jernih segar
Hawa yang tengik hilang keluar

180.
Ayam berkokok sambut sang fajar
Seolah berseru memberi kabar
Insan yang tidur bangun dan sadar
Sembah pujika Allahu Akbar

45

181.
Sadar lalu mengucap syukur
Alhamdulillah puji yang masjhur
Seolah orang bangu dikubur
Mohon rahmat Allahul gafur

182.
Bangkit berdiri membuka pintu
Jendela rumah satu dan satu
Udara bertukar ketika itu
Hawa segar hilang yang buntu

183.
Berjalan turun kepajambanan
Buang kotoran ampas makanan
Bersilah perut rasapun nyaman
Segar dan sehat seluruh badan

184.
Keluar turun ketempat suci
Sesudah itu mandi teliti
Niat berwudhu seikhlas hati
Jangan tinggakan kuku berdaki

185.
Selesai wudhu bukakan tangan
Arah kekiblat muka hadapkan
Ucap sahadat doa sertakan
Shalawat taslim jangan lalaikan

46

186.
Mata memandang atas angkasa
Indahnya bintang beribu laksa
Tandanya Tuhan maha kuasa
Puji dan syukut dihati rasa

187.
Dilangit biru bintang bercahaya
Bagai bertabur intan mutiara
Kerajaan Allah luas mulia
Hati – (syukur nikmat kurnia)

188.
Betapa segar rasanya badan
Hawa udara sejuk dan nyaman
Pemandangan mata jauh nampakan
Cahaya bintang kelip-kelipan

189.
Budi beriman insaf dan sadar
Menyambut nikmat yang amat besar
Taat ibadah patuh dan sabar
Syukur kepada Allahu Akbar

190.
Uraian ini sekedar ringkas
Semoga dapat menambah cerdas
Kalau di sambut hati yang ikhlas
Amal sembahyang membawa waras

47

191.
Bagi siapa tiada puas
Qur’an dan hadits silahkan daras
Disana dalil terang dan jelas
Penting sembahyang perintah tegas

192.
Allah hukumkan orang beriman
Waktunya lima sholat amalkan
Itu syariat sudah tetapkan
Jangan sampai anak lalaikan

193.
Berdiri sholat mengingat Tuhan
Juga pencegah keji bantahan
Raji amalkan mudah-mudahan
Fahala karunia Allah limpahkan

194.
Hukum sembahyang sangat utama
Dimalam mi’rad rasul terima
Langsung dari yang sifat rahma
Tiada wasit serta bersama

195.
Orang mukmin sungguh bahagia
Menjaga sholat sungguh mulia
Dengan khusyu yakin percaya
Berhadap Allah Tuhan yang kaya

48

196.
Dalam agama dipandang dusta
Perkosa yatim lagi dinista
Makanan miskin tidak dicita
Dalam sembahyang bermain mata

197.
Wail binasa Allah tegaskan
Bagi siapa suka lalaikan
Waktu sholat tidak indahkan
Dalam sembahyang tidak indahkan

198.
Demikian pula orang yang ria’
Supaya dilihat oleh jinsia
Amalnya itu jadi sia-sia
Menjadi murka Tuhan yang kaya

199.
Orang yang tidak murah hatinya
Tiada suka tolong jirannya
Enggan dan kikir perilakunya
Murka Tuhan juga padanya

200.
Karena pentingnya hukum sembahyang
Walau ada didalam perang
Waktu sembahyang tiada hilang
Orang lakukan tiada bimbang

49

201.
Ketika Rasul hampirlah wafat
Berulang sebut pesan wasiat
Yaitu sholat hendaklah giat
Berlaku baik terhadap umat

202.
Pelihara baik pada mereka
Hamba milikmu jangan dimurka
Berikan apa mereka suka
Agar mencapai rasa merdeka

203.
Ummat dihisab hari kiamat
Pertama urusan ditentang sholat
Jikalau lurus mendapat rahmat
Kalau kusut siksanya sangat

204.
Memadai cukup ini ulasan
Anak yang saleh sambut syukurkan
Mendapat taufiq dengan tuntunan
Amal sembahyang teguhkan iman

205.
Keenam”taulan”hendaklah ada
Yaitu amanat setia dada
Jujur kepada tua dan muda
Jangan tertarik apapun goda

50

206.
Adapun akan taulanmu itu
Yaitu setia tinggikan mutu
Amanat orang barang suatu
Jangan berlaku kiamat buntu

207.
Kalau orang ada amanat
Berlaku setia pada sahabat
Merata ummat umum masyarakat
Istimewa pada karib kerabat

208.
Orang amanat jujur setia
Kepada masyarakat sangat mulia
Dikota didesa dijalan rata
Disambut orang lagi percaya

209.
Kalau mujur demikian peri
Anakku peragaikan setiapa hari
Alamat bahagia muda bestari
Namamu wangi didepan hari

210.
Sebab itu wahai anakku
Elok bahasa maniskan laku
Disana ketara bangsa dan suku
Pandangan majelis tiada laku

51

211.
Orang amanat sangat berharga
Mengatasi emas dengan geliga
Pandagan majelis tidak curiga
Cinta dan hormat lapisan warga

212.
Baik saudagar maupun raja
Padanya suka serahkan kerja
Mana sarannya disambut saja
Dihormat dicinta lagi dipuja

213.
Demikian amanat sebagai taulan
Dikala duduk atau berjalan
Selaku berdamping dengan kenalan
Majelis akut ia jempolan.

214.
Tetapi kalau tidak amanat
Hidupmu pasti tiada berkat
Negara rugi rakyat melarat
Sebab korupsi membawa laknat.

215.
Berapa banyak uang Negara
Tiap tahun anggaran kira
Untuk sekolah untuk tentara
Gedung rawatan Balai bicara

52

216.
Semua itu untuk rakyatnya
Kecil besar putra putrinya
Agar serasi cara hidupnya
Cerdas dan maju dengan makmurnya.

217.
Sebab sekolah anakku cerdas
Sikapmu murung menjelma tangkas
Dimana majelis hatimu bebas
Merdeka sebab pandai berbahas.

218.
Ada yang mujur sebab cerdasnya
Beroleh title jadi gelarnya
Negara merasa untung karenanya
Diangkat jadi pemimpin kawannya.

219.
Sebenar patut demikian itu
Tetapi betulnya itu tak tentu
Kecuali amanat ada disitu
Kalau khianat korupsi buntu.

220.
Berbagai title boleh didapat
Diberi guru kedar derajat
Yang sukar itu sifay amanat
Hanya pernyataan kepada umat.

53

221.
Sejarah Arab zaman yang lewat
Hingga sekarang belum didapat
Dapat gelaran orang amanat
Hanya Muhammad junjungan ummat.

222.
Orang amanat mustahil tiada
Di masa itu tentupun ada
Tetapi perangai tidak sepada
Nabi Muhammad sedari muda.

223.
Hingga beliau dapat gelaran
Orang Quraisy pada sebutkan
Al amino rang namakan
Karena amanatnya umum saksikan.

224.
Sebab itu wahai bestari
Perangai Nabi baik pelajari
Baca riwayatnya berulang hari
Di sana penuntun bahagia diri.

VII. (Pengawal)

225
Ketujuh ingat pada pengawal
Yaiu malu jangan tertinggal
Di dalam majelis atau bertunggal
Bisikan malu jangan disangkal.
54

226.
Ia pengawal tiada nyata
Tiada dapat dipandang mata
Hanya bisikan di dalam cita
Walau di mana ia beserta.

227.
Orang berakal sangat malunya
Tidak keburu barang kerjanya
Walau duduk seorang dirinya
Berhati-hati barang lakunya.

228.
Walau tiada orang dekatnya
Malu tetap pada rasanya
Tiada berani kerja haramnya
Kecuali halal turut hukumnya.

229.
Sifat malu wahai bangsawan
Selaku pengawal karunia Tuhan
Memberi ingat jalan tuntunan
Agar manusia jujur dan sopan.

230.
Kalau malu tidak biasa
Didorong oleh nafsu memaksa
Mudah berbuat segala dosa
Nama cemar badan binasa.

55

231.
Malu itu adalah sifat
Jadi selimut imam ma’rifat
Kepada siapa malu terdapat
Ia beriman itu alamat.

232.
Barang siapa ada malunya
Tiada berani lancing tangannya
Kepada barang ada yang punya
Walau digelap dengan sunyinya

233.
Malu lenyap pada seorang
Terlalu mudah berbuat curang
Lancing mencopet barangnya orang
Sama padanya gelap dan terang.

234.
Bukan hanya jadi pencuri
Ada yang lebih dikhawatiri
Lacur menjual kehormatan diri
Awas waspadalah putera dan puteri.

235.
Malu kalau sudah tiada
Mudah berdusta memutar lidah
Tutur membelit mengada-ada
Sehingga orang dapat tergoda.

56

236.
Dusta meraja hilang upaya
Ke sana seni menipu daya
Baik si miskin bahkan si kaya
Akhirnya benci tidak percaya.

237.
Hilang malu lenyaplah budi
Nasib jadi miang keladi
Ummat gelisah tiada sudi
Di sini dosa sangat menjadi.

238.
Sekian dahulu saya padakan
Semoga berguna mudah-mudahan
Karangan sya’ir saya lanjutkan
Ke arah lain saya uraikan.

VII. (Tabib)

239.
Kedelapan hendak serta tabibmu
Untuk menjaga sehat dirimu
Yaitu bersihkan isi perutmu
Janan diturut rakus nafsumu.

240.
Anakda jaga kesehatan badan
Biar sederhana minum dan makan
Asal halal anak dapatkan
Berkatnya juga kita harapkan.

57

241.
Bersihkan diri luar dan dalam
Seluar baju bantal dan tilam
Kurangkan bertandang sejau malam
Bacalah Qur’an wahai pualam.

242.
Adapun akan tabibmu itu
Yaitu hematmu santap suatu
Makan minum tentukan waktu
Barang halal bukan yang buntu.

243.
Jadikan perutmu seakan gedung
Obat-obatan tabib yang ulung
Resep jempol manjur menulung
Seluruh tubuh hingga ke punggung.

244.
Perut bersih sangat utama
Seakan apotik kata ulama
Perut kotor itu umpama
Rumah sakit turut bersama.

245.
Sebab itu Allah berfirman
Makan minum baik kadarkan
Memadai untuk segarkan badan
Jangan lewat jangan lebihkan.

58

246.
Sesungguhnya Allah tiada suka
Berlebih-lebihan itu durhaka
Rakus seraka nafsu terbuka
Membawa orang dalam neraka.

247.
Anakda jaga kesehatan badan
Sederhana cukup minum dan makan
Asal halal anak dapatkan
Berkatnya juga anak harapkan.

248.
Bersihkan diri dalam dan luar
Tikar bantal baju seluar
Larut malam jangan keluar
Bacalah Qur’an pikiran sadar.

249.
Sebab itu tetap berjaga
giatkan usaha kadar tenaga
nelayan,tani,atau niaga
kalau dapat bertukang juga.

250.
Itulah tingkat menjadi syarat
Untuk penghidupan segala ummat
Bani adam menurut tingkat
Karunia Allah menjadi nikmat.

59

251.
Tingkat mana jadi untuk mu
Itu karunia dari tuhan mu
Menjadi watak pada dirimu
Pelihara kelak mujur nasibmu.

252.
Walau bertukang atau nelayan
Syukur olehmu itu tuntutan
Usaha halal Allah sebabkan
Engkau peroleh pakaian dan makan.

253.
Bukan hanya itu tujuan
Nasib baik tuhan limpahkan
Guna umum anak bagikan
Fakir miskin tempat bagikan

254.
Kedar ini ayah pesankan
Harap berguna mudah-mudahan
Pasal yang lain ayah lanjutkan
Silahkan anakda baca amalkan

IX.(“ Benteng Pertahanan” )

255.
Hendaklah pula teguh bentengmu
Yaitu tawakkal pada Tuhanmu
Kalimat syahadat tetap dzikirmu
Allah dan Rasul lindung padamu

60

256.
Sebagai benteng orang beriman
Tawakkal pada Tuhan yang Rahman
Mati hidup yakin pastikan
Cukup padaNya kita serahkan

257.
Teguhkan iman yakin dihati
Hanya yang Esa Rabbul Izzati
Tempat penyerahan taat dan bakti
Dari hidup sehingga mati.

258.
Tetapi bila tiap perkara
Telah ikhtiar fikir dan kira
Tidak lagi dapat bicara
Disini menyerah janganlah dura.

259.
Bukan hanya berdiam diri
Tiada usaha setiap hari
Mengaharap kasih kanan dan kiri
Laku demikian menghina diri

260.
Sudah ikhtiar baru tawakkal
Itu perangai orang berakal
Menurut hukum bukan menyangkal
Luput dari rasa menyesal

61

261.
Berjalan jauh barang kemana
Bawa teman alat sempurna
Jangan lagi bimbang gulana
Tawakkal saja pada Rabbana

262.
Sebelum berangkat datang berita
Disana perampok lengkap senjata
Anakda maju membabi buta
Laku demikian takabbur yang nyata

263.
Entah pepatah zaman bahari
Diucap orang bila berperi
Musuh itu jangan dicari
Kalu bersua janganlah lari.

264.
Pepatah ini ayah benarkan
Selayaknya demikian sikap sijantan
Tetapi ikhtiar jangan lalaikan
Sebelum berlaku baik fikirkan.

265.
Sesudah ikhtiar lalu tawakkal
Serahkan pada Qudrat yang Tunggal
Do’a dan dzikir jangan tertinggal
Agar penyamun tidak menyakal(1)

62

266.
Dinamai benteng dalam Negara
Senjata lengkap banyak tentara
Demikian tawakkal aduhai putra
Hizib dan wirid hindarkan mara

267.
Hizib wirid dzikir dan shalawat
Dimana waktu dimana tempat
Amalkan itu sedapat-dapat
Jadikan kawan atau sahabat.

268.
Sebagai kawan atau pengawal
Dimana pergi jangan tertinggal
Syaratnya itu makanan halal
Do’amu makbul boleh tawakkal.

269.
Lazimkan olehmu siang dan malam
Selama hajatmu wahai pualam
Dzikir tauhid shalawat dan salam
Pahalanya syurga darus Salam.
(1) = serangan hebat mendadak; melabrak.

X (Uang dan Harta)

270.
Konon kata ahli falsafat
Pengaruh uang dapat di lihat
Di darat-laut,segala tempat
Syarat utama tunaikan hajat.
63

271.
Kalau uang pandai bertutur
Mungkin suaranya seolah Guntur
karena gunanya sudah termasyur
Baginya sesuatu mudah teratur.

272.
Kalau uang pandai berkata
Mungkin katanya aku senjata
Aku menghimpun segala harta
Aku tuan desa dan kota.

273.
Aku dapat sinarkan muka
Walau si bopeng cacat dan luka
Aku muliakan pada mereka
Hamba sahaya jadi merdeka.

274.
Akulah senjata siapa berperang
Akulah benteng tahan di serang
Akulah sebab periuk terjerang
Aku penyiap hajatnya orang.

275.
Aku penarik hati pembelok
Aku dimalui tidak di olok
Segala usaha akulah pokok
Akulah baharui rumah yang bobrok.

64

276.
Walau aku bartekan pinggang
Ditengah banyak orang
Tiada orang tegur larang
Sebab aku dipandang pawang.

277.
Aku berani pula berkata
Baik pada si juling mata
Sekalipun lumpuh dan buta
Menaruh aku jadi jelita.

278.
Aku patut digelar pendekar
Silatku tangkas lagi terkabar
Kalau aku masuk pasar
Sujud padaku halus dan kasar.

279.
Lumrah aku jadi tujuan
Baik seorang atau berkawan
Di mana tempat jual berlian
Aku sasaran kuli dan tuan.

280.
Ke sekolah ke rumah obat
Ke kantor orang berpangkat
Ke hotel dan segala tempat
Aku azimat sakti karamat.

65

281.
Tegasnya akulah di dunia ini
Syarat amal disana sini
Sebab itu wahai insani
(tjarilah) aku giat berani.

282.
Kalau aku engkau dapat
Kau jaga dengan hemat
Disitu aku suka bertempat
Aku dan engkau djaja selamat.

283.
Kalau aku engkau boroskan
Engkau pasti aku tinggalkan
Lalu engkau miskin kasihan
Orang banyak tidak indahkan.

284.
Walaupun si alim atau pandeta
Tinggal di desa atu di kota
Djikalau aku tidak beserta
Tidak mudah mencapai cita.

285.
Aku lisan lantjar fasihat
Bagi siapa pemimpin rapat
Walau ditengah ribuan ummat
Tidak akan gugup kalau di gugat.

66

286.
Ke Eropa ke Afrika
Ke Australia ke Amerika
Bersama aku hati bersuka
Lenyap segala bimbang dan duka.

287.
Ke Moskou ke Alaska
Ke Eskima ke Mekka
Aku syarat jalan pembuka
Mencapai hajat berbagai neka.

288.
Ke Paksina ke Daksina
Ke India ke Cina
Aku syarat jadi rencana
Hilang segaa bimbang dan gulana.

289.
Ke Mekkah ke Madina
Ke mesir ke palestina
Jangan lagi gundah gulana
Bersama aku syarat berguna.

290.
Ke seluruh Indonesia?
Dari Sabang ke Surabaya
Ke Merauke Niewguinia
Aku serta selamat bahagia.

67

XI (Kata Ilmu).
291.
Menuntut aku perintah Tuhan
Demikian pula Nabi pilihan
Walau ke Canton atau Pakistan
Menuntut aku orang beriman.

292.
Mendapat aku jadi mulia
Walau sifakir merasa kaja
Akulah tambang segala rahasia
Menuntut aku orang beriman.

293.
Aku penuntun yang bijaksana
Walau pergi barang kemana
Bersama aku tiada hina
Tuntutlah aku muda taruna.

294.
Dari kandungan sehingga lahir
Aku penuntun bathin dan dhahir
Selanjutnya umur sehingga akhir
Aku dasar akal dan fikir.

295.
Aku sahaja akulah harta
Menerangi negeri desa dan kota
Tiada binasa oleh senjata
Tak dapat dijuluki oleh mata-mata

68

296.
Aku pahlawan jadi pengawal
Dimana tuanku pergi bertinggal
Walau dioto atau dikapal
Tiada dapat dicuri begal.

297.
Harta dikawal oleh tuannya
Khawatir kalau kurang jumlahnya
Tidur tidak pulas matanya
Takut pencuri tahu tempatnya.

298.
Harta kalau dibelanjakan
Tentu kurang jumlah hitungan
Ilmu kalau kita ajarkan
Selaku benih kita tanamkan.

299.
Ilmu kalau diajarkan orang
Makin bertambah makin cemerlang
Harta dibelanjakan tentu berkurang
Kembalinya ini terlalu jarang.

300.
Walau orang mempunyai harta
Bilangan banyak jumlahnya juta
Kalau ilmu tiada beserta
Gunanya itu mungkin tak nyata.

69

301.
Ilmu menuntun bermurah hati
Hajat masyarakat ia minati
Perintah Allah ia turuti
Kenyataan umum menjadi bukti.

302.
Harta mengajak orang sikakar
Sombong takbur suka terkabar
Tiada tepat janji dan ikrar
Guna umum banjak diingkar.

303.
Orang berilmu sangan berguna
Jadi pemimpin disini sana
Rakyat miskin yang hina dina
Jadi mulia muda teruna.

304.
Orang berilmu lagi berharta
Murah dermawan gunanya nyata
Kebutuhan umum ia beserta
Negara makmur desa dan kota

305.
Orang berilmu dalam masyarakat
Sangat mulia tinggi derajat
Bacalah Qur’an disitu dapat
Firman Allah tentukan pangkat.

70

306.
Ilmu sangat diutamakan
Kitab Samawi banyak disebutkan
Istimewa nyata didalam Qur’an
Pangkat ulama tinggi tingkatan

307.
Ilmu menunjuk akan yang punya
Mengaku hamba ada Tuhannya
Alah yang tunggal nyata Kodratnya
Wujudkan alam dengan isinya.

308.
Akan harta lain sekali
Suka bangga tidak peduli
Tiada tahu Rahmat Tuhannya
Demikian pada rasa hatinya

309.
Kedar kuat akal fikirnya
Hingga mendapat banyak hartanya
Tiada tahu Rahmat Tuhannya
Demikian pada rasa hatinya

310.
Orang berilm dapat mengerti
Dikalau lebih wang dipeti
Itu amanat Rabbul Izzati
Ia gunakan untuk berbakti.

71

311.
Jadi amanat diumpamakan
Nelayan Tumbak mendapat ikan
Berpuluh ribu banjak bilangan
Didalam negeri sudah kulimpahkan.

312.
Negeri lain tiada ikan
Tentu disana sangat dibutuhkan
Mereka juga hambanya Tuhan
Patut kesana kita bagikan

313.
Bukan dibagi dengan percuma
Atau diberi sebagai derma
Tetapi cara dagang utama
Harga tenaga kita terima.

314.
Demikian si kaya dengan ilmunya
Harta lebih ada padanya
Ia gunakan untuk umumnya
Pahalanya pasti didapatinya

315.
Didunia masyarakat cinta padanya
Sebab ia murah hatinya
Langganan banyak masuk tokonya
Berjual beli dengan ramainya.

72

316.
Diakhirat kelak sesudah mati
Kenangan baik sangat berarti
Ummat berdo’a sebulat hati
Alamat surga ia tempati

317
Kelebihan ilmu nyata buktinya
Mengangkat derakat bagi yang punya
Tetapi sukar jarang orangnya
Kecuali beriman suci hatinya.

318.
Kepada orang suka maksiat
Ilmu tiada beroleh tempat
Karena ia pintu maslahat
Sahaja Allah pohonnya rahmat

319.
Tinggalkan ma’siat lalu beramal
Jauhkan haram dekatkan halal
Ilmu bertempat disana kekal
Dunia akhirat menjadi modal.

XII (Anak Piatu)

320.
Kami ini Anak piatu
Tidak ber Ayah tidak beribu
Tidak siapa akan membantu
Kecuali Alim berbudi Qalbu.

73

321.
Tidak beribu tidak berbapa
Hidup melarat miskin dan papa
Harapkan bantu pada siapa
Tidak seorang sudi menyapa.

322.
Ayah dan Bunda sudah berpulang
Kami piatu disebut orang
Sedih dan pilu tidak terbilang
Budi siapa member girang.

323.
Yatimlah kami Arab namakan
Zaman dahulu diperhatikan
Oleh Nabi sangat indahkan
Menurut firman didalam Quran.

324.
Alangkah mujur mereka dapat
Kaya bangsawan menaruh minat
Yatim piatu disayang amat
Tidak dibiarkan hidup melarat.

325.
Kami piatu sekarang ini
Tempat tak tentu disana sini
Makan minum wahai Ikhwani
Harap kurnia Tuhan Rahmani.

74

326.
Kami piatu disebut Ummat
Tiada tentu rumah dan tempat
Makan pakai sekedar dapat
Sedikit Zakat ahli Marifat.

327.
Bapak Ulama kaya Dermawan
Keluhan kami mohon sambutan
Hak Allah tolong berikan
Kepada kami Zakat bagikan.

328.
Pada siapa miskin harapkan
Kalau bukan pada hartawan
Sebab itu wahai dermawan
Nikmat padamu tolong bagikan.

329.
Kalau sungguh Muslim beriman
Hak Allah pasti berikan
Bagi piatu papa kasihan
Makan pakai tambah didikan.

330.
Alangkah mujur kami dapati
Kalau si kaya bermurah hati
Mendidik kami dengan teliti
Guna Negara kami akan bakti.

75

331.
Kalau kami terbiar saja
Tidak di didik cara bekerja
Betapa peri dapat belanja
Ibarat pisau tidak berbaja.

332.
Kalau terbiar selama umur
Hidup kami tidak teratur
Kesana-sini jalan menganggur
Lebih mulia nisan dikubur.

333.
Selama umur kami terbiar
Tidak di tunjang oleh saudagar
Biaya kami untuk belajar
Negara muda di tambah sukar?

334.
Syariat Islam manakah dia
Penuntun Umat taat setia
Menjunjung firman Tuhan yang kaya
Luhur dan makmur Indonesia.

335.
Alim dan kaya hidup Mulia
Muka manis tanda bahagia
Tangan murah memberi hadiah
Lapisan Ummat Syukur setia.

76

336.
Didunia nama sangat berharga
Melebihi mustika atau geliga
Walau mati dikenang juga
Di Akhirat kelak menghuni surga.

337.
Aduh kasaihan anak piatu
Hidup sengsara selalu waktu
Tiada siapa fikir membantu
Dosa umum Negara buntu.

338.
Kalau hartawan bersama Alim
Bersatu_padu Hatipun Salim
Amanat Tuhan tiada dilalim
Kesana Alamat harapan Yatim.

339.
Betapa tidak kesana gugat
Mereka itu tempat amanat
Quran Hadits sama mufakat
Yatim miskin Tanggungan Ummat.

340.
Selama hidup Yatim terbiar
Kaya Ulama tidak Ikhtiar
Betapa kelak masanya besar
Mungkin Negara bertambah Sukar.

77

341.
Tetapi kami sangat berharap
Alim Ulama pasti tak Hilaf
Mengatur kami hidup setaraf
Umat merasa Nikmat yang sedap.

342.
Wahai masyarakat yang Mulia
Pimpinlah kami seberapa daya
Kearah Hidup berbahagia
Agar berguna didalam dunia.

343.
Tidakkah sayang wahai dermawan
Melihat kami tiada pengetahuan
Tidak beda dari pada hewan
Jauh terpencil dari pergaulan.

344.
Malah hewan lebih baiknya
Jika dipandang pada lahirnya
Kuda dan anjing manja hidupnya
Dapat rawatan dengan patutnya.

345.
Ummat yang lain kerja sama
Giat membangun suka menderma
Rela berkorban nyata ternama
Budi Islam disana menjelma.

78

346.
Betapa fikir saudara sekalian
Kita empunya dasar tuntutan
Quran dan Hadits cukup nyatakan
Betapa tidak kita Amalkan.

347.
Bukan nanti kita meniru
Agama kita cukup menyeru
Suruh berdamai larang berseteru
Selayaknya kita menjadi guru.

348.
Pemerintah ingin ada bantuan
Tenaga,Material ilmu pengetahuan
Para Ulama Tajir hartawan
Negara maju setaraf kawan.
349.

Kawan yang ada ibu bapanya
Girang gembira dalam hidupnya
Walau miskin senang rasanya
Sebab di rawat orang Tuanya.

350.
Jangan dikata anak sikaya
Orang berpangkat Mulia raya
Berbagai Nikmat diberikan dia
Hidup teratur jaya bahagia.

79

351.
Akan kami miskin piatu
Pakaian bukuk robek dan buntu
Tikar hamparan bersarang kutu
Bantal selimut tidak pun satu.

352.
Bila masa musim penghujan
Dimalam hari Dinginnya Tuan
Letih menggigil sekujur badan
Tiada pelukan ibu tinggalkan.

353.
Betapa pula mendapat sakit
Demam atau Lipan gigit
Ibu tiada meraju pijit
Serasa badan keruntuhan bukit.

354.
Rahmat Allah pusat harapan
Tetapi sebabnya kami yakinkan
Bapak ibu Alim hartawan
Murah hatinya lagi dermawan.

355.
Kami ini anak piatu
Kaya murah patut membantu
Kami ini anak yatim
Harap minatnya para Muallim.

80

356.
Kami yatim tiada berbapa
Mengharap saja kasih siapa
Kami piatu tiada beribu
Menyambut kasih syukur ber-ibu

XIII (Nasib)
357.
Bulan purnama dilangit biru
Dirumpun Bintang Cantik beribu
Sangat terbayang paras ibuku
Mengandung rawat Cinta diriku.

358.
Sungguh saya tidak mengira
Ataupun juga tidak menjana
Ibu lekas tinggalkan saja
Sebatang kara didalam dunia.

359.
Kalau saya bayangkan dulu
Cintanya ibu hatiku pilu
Bagai di_iris dengan sembilu
Air mataku jatuh terlalu.

360.
Ibuku pergi Ayah menyusul
Bertambah sedih terlalu masjul
Rasa terpencil walau bergaul
Madah rencana tidak terkabul.

81

361.
Ayah pengasih Ibu penyayang
Paras keduanya tetap terbayang
Siang malam mata berlinang
Cinta Sayangnya tetap kukenang.

362.
Sedih hatiku tidak terkira
Ditinggalkan aku sebatang kara
Tidak empunya sanak saudara
Kepada siapa tempat bicara.

363.
Sebatang kara yatim piatu
Tidak menaruh barang suatu
Tiada siapa tolong membantu
Hanya Allah penyayang tentu.

364.
Kepada Alah aku serahkan
Maha murahNya aku nantikan
Iman yakinku Ia teguhkan
Nasibku sedih Ia hiburkan.

365.
Ya Illahi Ya Tuhanku
Kepada engkau tetap harapku
Engkau pengasih Kabul Doa’ku
Kedalam Surga ibu bapakku.

82

366.
Sebab layani banyak urusan
Syair panjang saya Ringkaskan
Para pembaca harap maafkan
Insya Allah saya Lanjutkan.

XIV (Puji Syukur)

367.
Alhamdulillah Puji dan Syukur
Pada Allah Tuhan yang Masyur
Jadikan Alam indah teratur
Alim Ulama heran Tafakkur.

368.
Pujilah Allah sedapat-dapat
Dimana wujudmasa dan tempat
Anjurkan Ummat Iman dan Thaat
Semoga amal membawa nikmat.

369.
Sangjungkan Puji Allah yang Tunggal
Telah Nyatakan Hak dan Bathil
Iman dan Insaf Cahaya akal
Amal kewajiban maju Tawakal.

370.
Raqib Atib dua pengawal
Awas! Menulis segala Amal
Buruk baik haram dan halal
Di Akhirat kelak nyata tak sangkal.
83

371.
Sebab itu Putri dan putra
Fikir selidik segala perkara
Amal buruk membawa lara
Amal baik makmur Negara.

372.
Sekedar ini saja hidangkan
Siding pembaca samut Syukurkan
Janggal Hilafnya Tuan dapatkan
Maaf kiranya tolong betulkan.

373.
Mana yang salah tolong gantikan
Dengan yang benar Tuan betulkan
Semoga Rahmat Allah curahkan
Limpah pahala Tuan dapatkan.

374.
Mengharap Taufik dengan Hidayah
Dari pada Allah lautan Rahmat
Usia lanjut badanpun sehat
Dapat beramal barang Manfaat.

375.
Sekian dulu Akhirul kalam
Para pembaca Mulia faham
Sehat Afiat siang dan Malam
Harapan Faqir Maaf dan Salam.

84

Sejarah Negeri Tumbak
Oleh A.S. Bachdar.

1.
Nelayan Tumbak saya perikan
Tempat tinggalnya pasir tandusan
Tiada hidup Tumbuh-tumbuhan
Dalimbur pasang setiap bulan

2.
Tandus pasir berupa tanjung
Kecil dan sempit letaknya lengkung
Tiada bertumbuh walaupun jagung
Airnya pula dilain kampong

3.
Lepas dari pulau daratan
Kemana pergi perlu bersampan
Tiada suatu bahan makanan
Kecuali kalau beroleh ikan

4.
Didalam teluk tiada ombaknya
Dilindung oleh pulau-pulaunya
Walaupun angin keras hembusnya
Labuhan tumbak tetap teduhnya.

5.
Rawanya bagus hidup airnya
Pasang surut deras arusnya
Banyak bertumbuh pohon bakaunya
Nyamuk kurang walau musimnya.
85

6.
Konon dulu ada pembajak
Dari mindanau berbintak-bintak
Datang disini maksud merampok
Dengan senjata panah dan tumbak.

7.
Terdengar oleh burger dibelang
Mereka datang berpelang-pelang
Setelah bertemu lalu berperang
Tumbak-menumbak perang memerang.

8.
Ini riwayat lain bicara
Pohon posi-posi barakar udara
Itu merupai tumbak dikira
Demikian riwayatnya Tumbak saudara.

Mulai 1918
9.
Bulan April dalam ingatan
Seribu Sembilan ratus dalam bilangan
Delapan belas lebih hitungan
Tumbak labuhan kami tempatkan

10.
Dari gorontalo kami kemari
Bahan laut kami cari
Punggawa sakit tidak terperi
Singgah ditumbak sehatlah diri
86

11.
Kepala distrik bawahan dibelang
Rulan maringka nama terbilang
Saya ketemu hatinya girang
Member izin suratnya terang

12.
Dengan tulungan Allah Arrahman
Udara tumbak rupanya nyaman
Mertua sembuh sehatlah badan
Pemerintah datang lalu menahan.

13.
Dipinta, kami tinggal disini
Agar pembajak kurang kemari
Demikian tawaran Pemerintah Negeri
Kami keluar tidak diberi

14.
Sebagai nelayan kami mohonkan
Pajak jalan janji bebaskan
Minahassaraad telah diwujudkan
Kami dituntut membayar jalan

15.
Labuhan Tumbak di itu hari
Banyak ikanya tidak terperi
Buaya timbul kanan dan kiri
Malam siang perlihatkan diri


16.
Loloda, Wajoli, Tobelo datang
Perahu “ pakata” mereka tumpang
Menikam penyu sikapnya garang
Kawanan ikan mereka pasang
87

17.
Tidore, Ternate dengan jaringnya
Larohe Ponae nama perahunya
Roa-Cakalang itu hajatnya
Banyak hasil dapat olehnya

18.
Ambon, Buton dengan lukanya
Ikan didapat banyak jenisnya
Bubara, lolosi macam warnanya
Ila’ dan Lodi tidak kurangnya.

19.
Walau ditumbak tiada makanan
Tetapi lantaran banyaknya ikan
Negeri tetangga pada bawakan
Beras dan milu buah-buahan.

20.
Juga pedagang dari lain Negeri
Tiada kurang datang kemari
Boleh dikata setiap hari
Laris barangnya didalam Negeri.

21.
Saya tidak lagi panjangkan
Silahkan mari datang saksikan
Sampai disini saya ringkaskan
Memadai ini jadi catatan.

88

SEJARAH NEGERI DAN PENDUDUK TUMBAK
DENGAN RINGKAS

Nama “TUMBAK” terambil dari bahasa Ratahan
(Minahasa) yaitu “Tunas” atau akar udara dari sejenis pohon
kayu rawa atau ditepi laut, bernama “posi-posi” akar mana
merupakan tumbak. Kayu tersebut terdapat dan kayu istimewa
ditandus tumbak. Kau itulah yang menjadi sebutan tanjung
tumbak atau Labuan tumbak(sekarang Negeri Tumbak).
Pada bulan April 1918 dari Tilamuta ( Gorontalo)
berperahu sope’ Rombongan keluarga :
1. Sya’ban Mau Punggawa Bajo Tilamuta 12 Orang
2. Abdussamad Bachldar2 Orang
3. Sjahbandar 4 Orang
4. Ibrahim Mau suami Istri (tertua dan berumur masing-
masing -/+ 100 Tahun). 2 Orang
5. Detu Darise 5 orang
6. Lahaji Mope 3 Orang
7. Mariamah mau 5 Orang
8. Sahing Cindra 5 Orang
9. Lele 5 Orang
10. Enggang Lele 3 Orang
11. Cadding Mangka 6 Orang
12. Bega 7 Orang
13. Babana 8 Orang

Sebab Bapak mantu saya (Punggawa) sakit berat maka
dengan izin Pemerintah atau Hukum Kedua (Asisten Wedana)
di Belang Distrik bawahan Ratahan Bapak Rulan Maringka
untuk berobat secara adat bajo kami dirikan sebuah Gubuk
atau teratak yang sederhana sekali di Tumbak. Dalam
beberapa minggu lalu kami dikunjungi oleh Pemerintah yaitu
89

Hukum Besar(Wedana) Ratahan Bapak Supit, Hukum Kedua
R.Maringka HukumTua Minanga Tatengesan Sdr E. Pontoring
HukumTua Wioi Bapak Wotulo dan beberapa pegawa-pegawai
bawahan. Penjemputan kami yang sederhana rupanya sangat
berkenaan bagi rombongan yang terhormat tersebut dipinta
supaya kami tinggal menetap saja ditumbak agar Tumbak
menjadi tempat yang aman dan tempat perkunjungan serta
pelabuhan yang menghasilkan ikan.
Kami dibebaskan dari pajak jalan, tetapi setelah
terbentuk Minahassraad atau D.P.R Daerah Minahasa. Kami
dituntut pula membayarnya hingga kini (hari ini). Sebab kami
satu kampung juga berpindah-pindah dari rantau ke rantau
yang teduh karena mencari bahan-bahan dalam laut yaitu :
penyu atau kulit pasir, bia Lola, caping-caping, belusu,
teripang, atau ketimun laut.
Mula-mula kami keberatan untuk menetap di Tumbak
akan tetapi setelah suku Piliphina masuk Indonesia dengan
memakai kacama penyelam, diiringi pula oleh suku Jepang
dengan maksud mereka mencari bahan-bahan tersebut, disini
kami mendapat saingan yang hebat yang mengakibatkan
merosotnya hasil Ekonomi atau Penghidupan kami, dan oleh
karenanya juga hingga bahan laut tersebut menjadi kurang
sekali dan sangat sukar sekali didapati. Hidup kami tadinya
cukup, lalu berubah jadi melarat. Persiapan-persiapan yang
kami bawa dari Gorontalo, baik berupa uang, pakaian-pakaian,
emas, dan perabot-perabot, berangsur-angsur keluar untuk
menukar makanan dan keperluan sehari-hari, akhirnya kami
menjadi penangkap ikan yang menetap ditumbak hingga kini.
Keluarga dan kenalan-kenalan dari suku Bajo,
Gorontalo, Mongondou, Sula Tilamuta, Nain, Kotabunan,
90

berangsur-angsur datang mendapatkan kami dan dengan
perjodohan lalu bertinggal diTumbak berkembang sebagai
kenyataan pada hari ini bulan Agustus 1957, telah berada jenis
atau suku: Bajo, Gorontalo, Sanger, Mongondou, Buton,
Ternate, Minahasa, Tidore, Arab, Bugis, Makassar, Irian,
Bulango, Buroko, Banggai, Buol, Sula, Kaili, Mandar dan lain-
lain. Semua berjumlah 600 (enam ratus) orang, yang umumnya
beragama Islam.
Tahun 1923 baru kira-kira 10 buah rumah (gubuk) sebab
perahu-perahu yang besar-besar masih boleh dipakai untuk
berumah tinggal, tetapi telah didirikan diatas air sebuah Masjid
sederhana sekali daripada kayu bakau serta dinding atapnya
dari Nipa; sebagai pengantar, jama’ah semenjak itu ialah Haji
Kalani suku Mandar bersama Abdussamad Bachdlar. Tahun
1928 mesjid dipindahkan dan didirikan disamping rumah
Abdussamad Bachdlar, dan mulai waktu itu urusan agama
dipimpin oleh Abdussamad Bachdlar. Pada Tahun 1933 dapat
dibangunkan sebuah Masjid berdasar metsel dinding papan
beratap seng 7 X 7 X 3 meter. Tahun 1934 dapat didirikan
Madrasah “Sullamuflah” basarnya 6 X 9 X 3 meter. Dari kayu
Bakau Bambu dan atap Nipa, Tahun 1941 dibuka Sekolah
Rakyat 3 Tahun dengan pimpinan 2 Orang Guru Gmim. Tahun
1943 gedung S.R itu diperbesar menjadi 7 X 12 meter. Dan
menjadi Sekolah Rakyat Umum 4 tahun.
Tahun 1948 didirikan sebuah gedung sekolah besarnya
15 X 7 X 3 meter dari pada kayu dan atap Nipa hingga hari ini
manjadi S.R.U 6 tahun. Tahun 1952 masjid di perbesar
menjadi 12 x 12 x 4 dari metsel danatap seng lengkap dengan
menaranya. Tahun 1955 walaupun belum selesai, untuk
mengistirahatkan penduduk Tumbak dan melihat masjid sudah
91

boleh dipakai, maka kami telah membuat upacara keselamatan
untuk sementara.
Kekurangan-kekurangan yang masih perlu diselesaikan
ialah loteng, jendela jendelanya d kaki limanya belum selesai
semuanya memerukan belanja kira kira 10.000.-adapun masjid
seperti ternyata pada Foto yang saya serahkan pada tuan
Yiten demata Batta dari Jawatan Tofografi itu, sudah menelan
biaya Rp.65.000,-berupa uang dan tenaga seharga kurang
lebih Rp.70.000,-Tahun 1956 Agustus berhubung dengan
mempersekolahkan Anak dan sebagai anggota Mahkamah
Syariah Daerah Manado/Minahasa serta Penasehat dari
P.D.I.M. (Persatuan Imam Daerah Minahasa) maka saya
berpindah ke Manado.
Pendapat saya untuk keperluan Penduduk Tumbak
ialah:
a. Saluran air minum
b. Pengertian Guru dengan Guru yang berakte serta
diantaranya ada yang beragama Islam.
c. Membebaskan dari pada Bea pemakaian kayu untuk
penyalai ikan.
d. Diadakan Pasarnya dengan peraturan tidak boleh orang
menjual hasil-hasil Kebun dan Ikan kecuali di Pasar agar
terbahagi mencukupi untuk yang memerlukannya.
e. Agar dapat diusahakan jalan yang memperhubungkan
Tatengesan dan Tumbak.

Sekian,
Manado, 25 Agustus 1957
Penyusun dan Pembuka
Negeri Tumbak
( A. S. BACHDLAR )
92

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful