Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN KASUS

KISTA DUKTUS TIROGLOSUS

Disusun oleh:
Nastiti Putri Ariani
112011101031

Disusun untuk melaksanakan tugas Kepaniteraan Klinik Madya


SMF Bedah di RSUD dr.Soebandi Jember

SMF/LAB BEDAH
RSD DR. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2015
BAB 1. PENDAHULUAN

Kista duktus tiroglosus adalah anomali kongenital yang paling banyak


dijumpai di daerah leher

berkisar 2-4% dari seluruh massa leher. Secara

histologis kista ini memiliki epitel kolumnar seperti di daerah dasar lidah hingga
mediastinum. Terletak pada bagian tengah/sentral dari leher, biasa dijumpai pada
anak-anak namun juga dapat baru dijumpai saat dewasa setelah kista membesar
dan penderita merasa terganggu.1,2,3
Keberhasilan penatalaksanaan kista duktus tiroglosus harus didasari
pemahaman embriologi dan perkembangan anatomi kelenjar tiroid. 2 Kista yang
sangat besar dapat menyulitkan saat menelan atau terjadi sumbatan jalan
nafas.1,2,4,5
Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus adalah pembedahan yang dikenal
sebagai prosedur Sistrunk, yaitu mengangkat kista dan reseksi duktus termasuk
struktur di atasnya (meliputi tulang hioid). Kekambuhan setelah operasi mencapai
3-5% dan akan meningkat bila pembedahan tidak maksimal atau jika terinfeksi
ulang.1,2,3,5
Diagnosa banding kista duktus tyrogosus adalah nodul submental, kista
dermoid, metastase karsinoma tiroid, lobus piramidalis tiroid, kista celah brakhial,
lipoma dan kista sebaseus. Kebanyakan diagnosis tersebut diketahui setelah
dilakukan pembedahan.1,2
Tujuan dari penulisan laporan kasus ini adalah untuk dapat melakukan
penatalaksanaan yang tepat dan mencegah rekurensi bagi penderita kista duktus
tiroglosus.

BAB 2. LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS

Nama

Jenis kelamin : Laki-Laki

Umur : 10 tahun

Status

: Belum Menikah

Agama

: Islam

: An. IM

Alamat

: Sumber Jambe, Jember

Pekerjaan

: Pelajar SD

Tanggal MRS : 6 Juni 2015

Pemeriksaan : 7 Juni 2014

II.

ANAMNESIS

Keluhan umum

Riwayat Penyakit Sekarang

: Benjolan di Leher

Muncul benjolan di leher sejak 4 tahun yang lalu. Benjolan dirasa


semakin lama semakin bertambah besar, tidak terasa nyeri, sesak tidak
ada, makan dan minum normal. Keluhan debar-debar, berkeringat, gemetar
disangkal. Keluhan telinga, hidung dan tenggorok tidak ada. Namun
pasien sering mengeluhkan terganggu ketika berbicara.
Riwayat Penyakit Dahulu :

ISPA (-)
Riwayat Penyakit Keluarga :

Tumor leher (-), Kista duktus tiroglosus (-)


Riwayat Pengobatan :

Antibiotic (-)

Anamnesis Sistem (Review of System)


3

Kulit

:Kuning -, pucat -, gatal -, kering -, ruam -

Kepala

: Pusing -, nyeri kepala -, trauma kepala -

Mata

: Kuning -, penglihatan kabur -, kacamata -

Telinga

: Gangguan pendengaran -, keluar cairan telinga -

Hidung dan sinus

: Perdarahan -, sering pilek -, bersin -

Mulut

: Perdarahan gusi -, mulut kering -, sariawan -

Leher

: Kaku leher -, Massa +, pembesaran getah bening

-Jantung

: Berdebar -, nyeri dada -, sesak -

Paru

: Sesak-, batuk -

Alat pencernaan

: Mual -, muntah -, muntah darah -, BAB hitam -,


BAB merah segar -, hemoroid -, nafsu makan
berkurang -, gangguan menelan -

Saluran kencing

: Kencing seperti teh -, nyeri pinggang -, nyeri


kencing -, sering kencing-

Alat kelamin

: Sekret -, pembengkakan-

Alat gerak

: Nyeri sendi -, kaku sendi -, kemerahan sendi -,


bengkak-, luka -

Sistem saraf

: Kejang -, rasa tebal pada kedua kaki -, kesemutan -

Endokrin

: Nafsu makan berkurang -, penurunan berat badan


- ,keringat malam -

II.PEMERIKSAAN FISIK
A. Keadaan umum

: cukup

Kesadaran

: compos mentis

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 84x/menit, reguler, kuat angkat

Pernafasan

: 16x/menit, thoracoabdominal, reguler

Suhu

: 36,5 o C

Tinggi Badan

: 130 cm

Berat Badan

: 33 Kg

IMT

33
(1,3)2

: 19,6
Kesan status gizi lebih
B. Kepala Leher
Umum
Anemis (-), icterus (-), cyanosis (-), dyspnea (-)

Mata
Alis
Bola mata
Kelopak
Konjungtiva
Sclera
Pupil
Lensa

: normal
: normal
: normal
: normal
: normal, tidak ikterus
: bulat, isokor, reflex cahaya +/+
: normal

Telinga
Bentuk

: normal

Procesus mastoideus

: tidak nyeri

Lubang telinga

: tidak ada kelainan

Can.audit.ext
Pendengaran

: tidak ada kelainan


: tidak ada kelainan

Hidung
Penyumbatan
Daya penciuman

: tidak ditemukan penyumbatan


: normal

Mulut
Bibir
Gusi
Lidah
Mukosa
Palatum

: tidak ada tanda sianosis


: tidak didapat perdarahan
: tidak kotor
: normal
: normal

Leher
Kel.limfe
Trakea
Tiroid
Vena Jugularis
Arteri Carotis

: tidak didapatkan pembesaran


: di tengah, didapatkan masa di depan trakea
: tidak didapatkan pembesaran kelenjar
: tidak terdapat distensi
: teraba pulsasi
5

R. Coli
I : Massa (+), merah (-), keluar darah (-), pus (-), ikut bergerak
ketika menelan dan menjulurkan lidah.
P : Massa (+), kistik, 6x3cm, mobile, batas jelas, permukaan
rata, nyeri (-)

Gambar 1. Tampak masa kistik pada leher

C. Thorax
Umum
Bentuk
Payudara

: normal
: simetris, ginekomasti -

Kulit

: normal, spider nevi -, vena kolateral -

Axilla

: tidak ditemukan kelainan, tidak ada pembesaran


kelenjar getah bening

Paru
Dextra

Sinistra

I : simetris, retraksi -

I: simetris, retraksi -

P : fremitus raba + normal

P: fremitus raba + normal

P : sonor +

P: sonor +

A: Vesikuler +, Rhonki -, Wheezing -

A: Vesikuler +, Rhonki-, Wheezing -

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

Iktus: tidak tampak


Pulsasi jantung : tak tampak
Iktus tidak teraba
Batas jantung kanan: parasternal line dextra ICS VI

Auskultasi

Batas jantung kiri axillaris anterior line sinistra ICS V


S1, S2: normal, murmur -, gallop -, ekstrasistole -

D. Abdomen
Inspeksi

Bentuk:
Supel, tak tampak massa, umbilicus masuk
kedalam

Auskultasi
Palpasi

Kulit: turgor normal


Bising usus: positif, normal
Tugor normal, tonus normal.
Hepar teraba membesar, Lien tidak teraba
Nyeritekan(-)
Ginjal tidak teraba

Perkusi

Nyeri ketok ginjal (-)


Meteorismus (-), Shifting dullness (-)

E. Inguinal Genitalia Anus


Tidak dievaluasi
7

F. Extremitas
Atas

Akral dingin basah dan pucat

Bawah

Tidak didapatkan petechiae, purpura dan echimosis


Tidak didapat deformitas
Edema: tidak didapatkan
Akral dingin basah pucat
Tidak didapatkan petechiae, purpura dan echimosis
Tidak didapat deformitas
Edema: tidak didapatkan

III.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium

JENIS
PEMERIKSAAN

HASIL
PEMERIKSAAN

NILAI NORMAL

HEMATOLOGI
Hemoglobin

13,0

12,0-16,0 gr/dl

Laju Endap Darah

12/35

0-15 mm/jam

9,5

4,5-11,0 x 109

Hitung Jenis

5/-/-/63/24/8

Eos/bas/stab/seg/lim/mono
0-4/0-1/3-5/54-62/25-33/2-6

Hematokrit

37,7

36-46 %

Trombosit

351

150-450 x 109

Lekosit

PPT
PPT Penderita

10.1

PPT Kontrol

10.0

Beda dari kontrol < 2 detik

APPT
APPT Penderita

30.6

APPT Kontrol

26.4

Beda dari kontrol < 7 detik

SGOT

31

10-31

SGPT

12

9-36

0,8

0,5-1,1 mg/dL

BUN

6-20 mg/dL

Urea

20

26-43 gr/24jm

FAAL HATI

FAAL GINJAL
K. serum

IV.

DIAGNOSIS
Kista Duktus Tiroglosus

V. PLANNING

Diagnostik

:
o Pemeriksaan lab (fungsi tyroid)
9

o FNAB
o USG tyroid
o CT-scan Tyroid

Terapi

:
Ekstirpasi Kista
- Teknik operasi :
1. Penderita tidur terintubasi dengan anestesi umum, leher hiperekstensi.
2. Dilakukan desinfeksi lapangan operasi dengan povidon iodin 10%
kemudian dipersempit dengan kain steril.
3. Insisi tranversal di daerah infrahioid tepat diatas kista sepanjang 5cm,
irisan diperdalam lapis demi lapis melalui otot platysma dan fasia
servikalis sampai mencapai permukaan kista.
4. Didapatkan massa kistik dengan ukuran diameter 3 cm,

warna

kekuningan, mobile
5. Kista dibebaskan dari jaringan di sekitarnya, namun karena terdapat
bagian permukaan yang tipis menyebabkan isi kista keluar cairan
kuning 1cc.
6. Membebaskan otot sternohioid ke arah lateral, tampak duktus di
bawah tulang hioid, otot-otot yang melekat di superior dan inferior
korpus tulang hioid dibebaskan,
7. Dilakukan pemotongan dan melepaskan bagian tengah tulang hioid,
duktus kemudian disusuri ke arah dasar lidah sejauh mungkin,
dilakukan pemotongan dan diikat di ditutup dengan tabazaknat.
8. Dilakukan evaluasi perdarahan di sekeliling bekas tempat kista.
9. Luka operasi kemudian dijahit lapis demi lapis. Pada kulit dijahit
secara subkutikuler. Periksa HistoPA.
GAMBAR PROSES OPERASI

10

Gambar 2. Insisi tranversal di atas kista

Gambar 4. Memotong bagian tengah tulang hyoid

Gambar 3. Membebaskan kista dari struktur


sekitarnya

Gambar 5. Massa kista

LAPORAN OPERASI

11

Monitoring

:
12

H1MRS
S) Bekas Jahitan terasa gatal

Extremitas

O) KU : cukup

Akral hangat

Kes : komposmentis
TD : 100/70 mmHg

Edema

RR : 16x/mnt
N

: 76x/mnt

Status Lokalis

Tax : 36,7C
K/L : a/i/c/d = -/-/-/Thorax :
COR

I: ictus cordis tidak tampak

P: ictus cordis tidak teraba

P:redup

A: S1S2 tunggal, reguler, e/g/m :

R.Coli
I :Massa (-), Dressing kasa (+),
Rembesan darah (-), Pus (-)
P : Nyeri (-), hangat (-)

-/-/Pulmo :

I : simetris, retraksi -/-

P: fremitus raba +/+

P: sonor +/+

A: Ves +/+, Rh -/-, Wh -/-

Abdomen:

A)

Kista

Duktus

obliterans

Tiroglosus

terinfeksi

post

ekstirpasi H1
P) Inf Kaen 3B 1000cc/24jam
Inj. Antrain 3x500 mg iv
Inj. Ranitidin 2x25 mg iv

I : Flat

Diet Bebas TKTP

A: BU(+) N (9x/menit)

KRS

P: Tympani, pekak hepar (+)

P: Soepel

13

Gambar 6. Tampak dressing kasa post ekstirpasi masa kistik pada leher

Edukasi

:
o Menjelaskan tentang penyakit, pemeriksaan yang perlu dilakukan
dan tindakan medis kepada pasien serta keluarga.
o Menjelaskan kemungkinan komplikasi dan prognosis kepada
pasien dan keluarga
o Menjelaskan tentang faktor risiko yang perlu dihindari nantinya

VI.

PROGNOSIS
Quo ad vitam

: Dubia ad bonam

Quo ad functionam

: Dubia ad bonam

14

BAB 3. PEMBAHASAN
3.1 Definisi dan Epidemiologi Kista Duktus Tiroglosus
Kista duktus tiroglosus merupakan kista yang terbentuk dari duktus
tiroglosus yang menetap sepanjang alur penurunan kelenjar tiroid, yaitu dari
foramen sekum sampai kelenjar tiroid bagian superior di depan trakea. Kista ini
merupakan 70% dari kasus kista yang ada di leher. Kista ini biasanya terletak di
garis median leher, dapat ditemukan di mana saja antara pangkal lidah dan batas
atas kelenjar tiroid.6,8
Kista duktus tiroglosus merupakan kasus terbanyak dari massa non
neoplastik di leher, merupakan 40% dari tumor primer di leher. Ada penulis yang
menyatakan hampir 70% dari seluruh kista di leher adalah kista duktus tiroglosus.8
Kasus ini lebih sering terjadi pada anak-anak, walaupun dapat ditemukan
di semua usia. Predileksi umur terbanyak antara umur 0-20 tahun yaitu 52%, umur
sampai 5 tahun terdapat 38%. Sistrunk (1920) melaporkan 31 kasus dari 86.000
pasien anak. Tidak terdapat perbedaan risiko terjadinya kista berdasarkan jenis
kelamin dan umur yang bisa didapat dari lahir sampai 70 tahun, rata-rata pada usia
5,5 tahun.6,7
Penulis lain mengatakan predileksi usia kurang dari 10 tahun sebesar
31,5%, pada dekade ke dua 20,4%, dekade ke tiga 13,5% dan usia lebih dari 30
tahun sebesar 34,6%. Waddell mendapatkan 28 kasus kista duktus tiroglosus
secara histologik dari 61 pasien yang diduga menderita kista tersebut.9
3.2 Patogenesis Kista Duktus Tiroglosus
Terdapat beberapari teori yang dapat menyebabkan terjadinya kista duktus
tiroglosus. Kista ini terbentuk akibat kegagalan involusi dari duktus tiroglossus.
Pada proses perkembangan , Kelenjar thyroid berkembang mulai pada minggu
keempat kehidupan fetal dengan membentuk endoderm di medial, tumbuh ke
bawah dari pangkal lidah. Proses tumbuh ke bawah ini dengan cepat membentuk
saluran yang disebut ductus thyroglossus. Saluran ini bermuara pada lidah

15

berhubungan dengan foramen secum. Ujung bawah terbelah menjadi dua lobus
dan akhirnya terletak berhubungan dengan trachea pada sekitar minggu ketujuh.
Ductus thyroglossus kemudian menghilang, tetapi bagian terbawah sering tetap
ada dalam bentuk lobus piramidalis kelenjar tiroid turun ke tempatnya yang
seharusnya melalui suatu duktus bernama tiroglossus. Secara normal, duktus ini
akan berinvolusi dan menghilang. Patensi dari duktus ini menimbulkan potensi
besar terbentuknya sinus, fistula atau kista duktus tiroglossus.6,7,9
Infeksi tenggorok berulang akan merangsang sisa epitel traktus, sehingga
mengalami degenerasi kistik. Sumbatan duktus tiroglosus akan mengakibatkan
terjadinya penumpukan sekret sehingga membentuk kista. Teori lain mengatakan
mengingat duktus tiroglosus terletak di antara beberapa kelenjar limfe di leher,
jika sering terjadi peradangan, maka epitel duktus juga ikut meradang, sehingga
terbentuklah kista.9
3.3 Klasifikasi Kista Duktus Tiroglosus
Kista duktus tiroglosus dibagi dalam enam klasifikasi berdasarkan di mana
lokasi kistanya tumbuh, yaitu: (1) Kista Suprahyoid; (2) Kista Juxtahyoid; (3)
Kista Intralingual; (4) Kista Suprasternal; (5) Kista Intralaryngeal; (6) Kista
Infrahyoid
Kista duktus tiroglosus dapat tumbuh di mana saja di garis tengah leher,
sepanjang jalur bebas duktus tiroglosus mulai dari dasar lidah sampai ismus
tiroid.8
3.4 Gejala Klinis Kista Duktus Tiroglosus
Keluhan yang sering terjadi adalah adanya benjolan di garis tengah leher,
dapat di atas atau di bawah tulang hioid. Benjolan membesar dan tidak
menimbulkan rasa tertekan di tempat timbulnya kista. Konsistensi massa teraba
kistik, berbatas tegas, bulat, mudah digerakkan, tidak nyeri, warna sama dengan
kulit sekitarnya dan bergerak saat menelan atau menjulurkan lidah. Diameter kista
berkisar antara 2-4 cm, kadang-kadang lebih besar. Kebanyakan kasus kista
duktus tiroglosus tidak diperhatikan dan tidak didiagnosa sampai umur dewasa.

16

Duktus yang paten ini bisa menetap selama beberapa tahun atau lebih sehingga
terjadi sesuatu stimulus yang bisa mengakibatan pembesaran kista.7,9,10
Kista duktus atau sinus ini bisa mengakibatan penghasilan sekresi oral
yang berlebihan dimana kondisi ini bisa menyebabkan kista menjadi terinfeksi.
Bila terinfeksi, benjolan akan terasa nyeri dan menjadi lebih besar. Pasien
mengeluh kulit di atasnya berwarna merah, disfagia, disfonia, draining sinus,
sesak terutamanya apabila kista bertambah besar. Kista duktus tiroglosus yang
terinfeksi bisa presentasi seperti infeksi saluran nafas atas (ISPA). Obstruksi jalan
pernafasan bisa terjadi terutamanya pada kista intralingual yang berdekatan
dengan jalan pernafasan.6,8
3.5 Diagnosis
Diagnosis biasanya dapat dibuat dari anamnesis dan pemeriksaan fisik dan
leher secara menyeluruh. Selalu palpasi kelenjar tiroid selama pemeriksaan fisik.
Jika kelenjar tidak dapat diraba, USG, tiroid scan atau CT scan dapat
membantu.1,5 Diagnosis biasanya dapat dicapai secara rawat jalan.7,9
Dilakukan

TFTs.

Namun,

kelenjar

tiroid

ektopik

tidak

bisa

dikesampingkan bahkan dalam adanya tingkat TSH yang normal dan riwayat
klinis eutiroid. Oleh karena itu, USG, CT scan, thyroid scan, atau MRI mungkin
diperlukan untuk mengidentifikasi kelenjar tiroid normal.
- Ultrasonografi adalah paling sering digunakan dalam pemeriksaan. USG dan
CT scan adalah pemeriksaan penunjang pilihan pertama:
o USG dapat membedakan yang solid dari komponen kistik.
o CT scan dapat menunjukkan capsular enhancement.
- Fistulogram dapat menunjukkan jalan saluran.
- Scanning tiroid dapat digunakan untuk menunjukkan fungsi tiroid ektopik.
Jaringan tiroid ektopik dapat menyertai kista tiroglosus (TGCs) pada lokasi
mereka sepanjang garis keturunan embriologi tiroid. Hal ini juga dapat

17

digunakan untuk menunjukkan posisi dan fungsi tiroid yang normal sebelum
penghapusan setiap jaringan tiroid yang dapat menyertai kista.
- Pemeriksaan lainnya:
o Pada pasien dengan riwayat abses leher berulang lateral, di mana anomali
branchial cleft dengan curigai kemungkinan pembukaan sinus internal,
pemeriksaan

menelan

barium

dapat

memberikan

informasi

yang

bermanfaat.
o Laringoskopi langsung jika kista metastasis leher servikal sekunder untuk
karsinoma sel skuamosa diketahui diduga.
o Laringoskopi langsung dengan hypopharyngoscopy dan menelan barium
sering berguna dengan riwayat abses leher berulang lateral sebagai anomali
branchial cleft dengan pembukaan sinus internal yang diduga.
3.6 Diagnosis Banding Kista Duktus Tiroglosus
Diagnosis banding benjolan di leher membutuhkan pengetahuan anatomi.
Perhatikan bahwa beberapa dari mereka lebih mungkin untuk terletak lateral di
leher (tidak dalam alur penurunan garis tengah tiroid).7,8
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gambaran klinik yang harus dipikirkan pada
setiap benjolan di garis tengah leher. Untuk fistula, diagnosis dapat ditegakkan
menggunakan suntikan cairan radioopak ke dalam saluran yang dicurigai dan
dilakukan foto Rontgen. 6,7
Diagnosis Banding:6,9 1) Lingual tiroid 2) Kista brankial 3) Kista dermoid 4)
Lipoma
3.7 Penatalaksanaan Kista Duktus Tiroglosus
Kista duktus tiroglosus harus diangkat secara operasi karena: (1) Operasi
menyediakan diagnosis yang patologi; (2) Infeksi yang terjadi bisa menyebabkan
nyeri akut dan komplikasi yang lain (obstruksi jalan pernafasan dan disfagia); (3)
Masalah kosmetik; dan (4) Bisa terjadi malignansi walaupun jarang. 6,7,9

18

Penatalaksanaan kista duktus tiroglosus bervariasi dan banyak macamnya,


antara lain insisi dan drainase, aspirasi perkutan, eksisi sederhana, reseksi dan
injeksi dengan bahan sklerotik. Dengan cara-cara tersebut angka kekambuhan
dilaporkan antara 60-100%. Schlange (1893) melakukan eksisi dengan mengambil
korpus hioid dan kista beserta duktus-duktusnya; dengan cara ini angka
kekambuhan menjadi 20%.6,10
Sistrunk (1920) memperkenalkan teknik baru berdasarkan embriologi,
yaitu kista beserta duktusnya, korpus hioid, traktus yang menghubungkan kista
dengan foramen sekum serta otot lidah sekitarnya kurang lebih 1 cm diangkat.
Cara ini dapat menurunkan angka kekambuhan menjadi 2-4%. Cara Sistrunk:6,8
1. Penderita dengan anestesi umum dengan tube endotrakea terpasang, posisi
terlentang, kepala dan leher hiperekstensi.
2. Dibuat irisan melintang antara tulang hioid dan kartilago tiroid sepanjang
empat sentimeter. Bila ada fistula, irisan berbentuk elips megelilingi lubang
fistula.
3. Irisan diperdalam melewati jaringan lemak dan fasia; fasia yang lebih dalam
digenggam dengan klem, dibuat irisan memanjang di garis media. Otot
sternohioid ditarik ke lateral untuk melihat kista di bawahnya.
4. Kista dipisahkan dari jaringan sekitarnya, sampai tulang hioid. Korpus hioid
dipotong satu sentimeter.
5. Pemisahan diteruskan mengikuti jalannya duktus ke foramen sekum. Duktus
beserta otot berpenampang setengah sentimeter diangkat. Foramen sekum
dijahit, otot lidah yang longgar dijahit, dipasang drain dan irisan kulit ditutup
kembali.

19

3.8 Komplikasi Kista Duktus Tiroglosus


Komplikasi sebelum operasi ialah inflamasi yang sering terjadi akibat
infeksi kista duktus tiroglosus. Apabila terjadi infeksi, kista menjadi semakin
besar and akhirnya membentuk pus. Ruptur secara spontan akan terjadi dan
seterusnya mengakibatan formasi traktus sinus sekunder yang bisa memburukkan
prognosis dan hasil operasi.7,8
Komplikasi setelah operasi termasuk infeksi, hematoma, dan kambuh. Perhatikan
bahwa:6
- TGC Relapse dikaitkan dengan teknik yang buruk, terutama kegagalan untuk
mengikuti prinsip-prinsip bedah dijelaskan oleh Sistrunk. Tarif O kekambuhan
meningkat ketika TGC rusak selama pembedahan.
- Sebelumnya infeksi sayatan, sebelumnya dan prosedur drainase, dan kepatuhan
dengan semua kista pada kulit terkait dengan tingkat peningkatan pecah dengan
diseksi.
- Infeksi luka juga dapat terjadi ketika pecah kista atau ketika faring
dimasukkan.
3.9 Prognosis Kista Duktus Tiroglosus
Tingkat kekambuhan terkait dengan eksisi sederhana kista tiroglosus
adalah sekitar 50%. Tingkat kekambuhan dengan prosedur Sistrunk resmi sekitar
5%. Kambuh adalah sekitar 3-5% dan meningkat dengan eksisi lengkap dan
riwayat infeksi berulang.6,7,9

20

DAFTAR PUSTAKA
1. Slough MC, Dralle H, et al. Diagnosis and treatment of thyroid and
parathyroid disorders. In: Bailey JB, Johnson TJ eds Head and Surgery
Otolaryngology. 4th ed. Phioladelphia: Lippincot Williams & Wilkins
2006:1630-7.
2. Meyrs NE. Throglossal duct cyst. In: Myers NE ed Operative Otolaryngology
Head and Neck Surgery. Philadelphia: W.B Saunders Company 1997: 630-7.
3. Abdulrahman A, Jonaidel SO eds. Thyroglossal duct cyst. A
clinicopathological study of five cases. Saudi Dental Journal, vol 15, No. 2,
May August 2003.
4. Kay DJ, Goldsmith JA eds. Embryology of the Thyroid and Parathyroids.
eMedicine

Otolaryngology

and

Facial

Plastic

Surgery.

Emedicine.medscape.com. Update: December 4, 2007 . Accesed: January 30,


2009.
5. Wijayahadi YR, Marmoprawiro MR dkk. Kelainan kongenital pada kelenjar
tiroid. Dalam: Kelejar Tiroid. Kelainan, Diagnosis, dan Penatalaksanaan.
Surabaya Jawi Aji 2000: 18-21.
6. Ballenger JJ. Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher. Edisi
13. Jilid 1. Alih Bahasa: Staf Pengajar Bag. THT FKUI. Jakarta: Bina Rupa
Aksara, 2006; 295-6, 381-2.
7. Cohen JI. Massa Jinak Leher. Dalam Boies. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6,
Alih Bahasa: Wijaya C. Jakarta : EGC, 2008; 415-21.
8. Sobol M. Benign Tumors. Dalam : Comprehensive Management of Head and
Neck Tumors. Vol. 2. Thawley S, Panje WR. Philadelphia : WB Saunders Co,
2005; 1362-69.
9. Montgomery WW. Surgery of the Upper Respiratory System. 2nd ed. Vol. II.
Philadelphia: Lea & Febiger, 2005; 88.
10. Colman BH. Disease of Nose, Throat and Ear and Head and Neck, A
Handbook for Students and Practitioners. 14th ed. Singapore: ELBS, 2006;
183.

21