Anda di halaman 1dari 28

ANALISA MOTIF DASAR KLAIM ARGENTINA TERHADAP PULAU

FALKLAND DAN IMPLIKASINYA TERHADAP HUBUNGAN ARGENTINA


DENGAN INGGRIS SERTA STABILITAS KAWASAN AMERIKA SELATAN
Dibuat untuk melengkapi tugas mata kuliah:
Studi HI di Kawasan Amerika

Dosen:
Muhammad Adian Firnas

Disusun Oleh:
Arifasjah / 0801512029
Putri Quarta / 0801512028
Thalia Khairunisa / 0801512030

PROGRAM STUDI ILMU HUBUNGAN INTERNASIONAL


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS AL AZHAR INDONESIA
2015
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang Masalah


Situasi

Inggris

dan

Argentina

kembali

menegang

terkait

sengketa

perebutan Pulau Falkland atau yang disebut Malvinas oleh Argentina. Inggris
mengklaim bahwa Pulau Falkland sebagai bagian wilayahnya sejak 1833.
Sedangkan Argentina, menyebut Malvinas sebagai wilayah mereka yang direbut
oleh

Inggris

sejak

1833.

Argentina

meyakini

bahwa

Malvinas/Falkland

adalahwarisan kedaulatan dari pemerintahan Spanyol pada 1810. Klaim ini


mempunyai makna emosional penting bagi rakyat Argentina, dan telah selama
beberapa generasi menjadi bagian kurikulum sejarah di sekolah negeri.
Perang ini berlangsung selama kira-kira dua bulan antara Argentina dan
Britania Raya karena memperebutkan Kepulauan Falkland. Kepulauan Falkland
terdiri dari 2 pulau besar dan beberapa pulau kecil lainnya di bagian selatan
Samudra Atlantik, bagian timur wilayah Argentina.
Kedua negara sebenarnya telah melakukan upaya pemulihan hubungan
diplomatik. Pada September 1995, Argentina dan Inggris menandatangani suatu
perjanjian untuk meningkatkan eksplorasi minyak dan gas di Atlantik Barat Daya,
dan menghapuskan masalah yang berpotensial sulit untuk diselesaikan serta
membuka jalan untuk kerja sama lebih jauh antara kedua negara. Pada tahun
1998, Presiden Menem mengunjungi Inggris dalam kunjungan resmi pertama
oleh seorang presiden Argentina sejak tahun 1960-an. Namun, hingga sekarang
sensitifitas sejarah dan perebutan sumber alam di kepulauan tersebut membuat
kedua negara tidak pernah benar-benar berhenti berkonflik.
Selama bertahun-tahun terjadi ketegangan atas perebutan kepulauan
tersebut pada tahun 1965 argentina kemudian memasukan klaim kepulauan
tersebut

melalui

Perserikatan

Bangsa-Bangsa

(PBB)

yang

kemudian

PBB

mengeluarkan resolusi perlunya penyelesaian persengketaan kepulauan tersebut


dengan memperhatikan kepentingan penduduk yang berada di kepulauan
tersebut, yaitu dengan Referendum. Hasil referendum menyatakan penduduk
Falkland lebih memilih di bawah kedaulatan Inggris daripada Argentina yang
secara strategis geografis lebih dekat dari kepulauan ini.
Sampai

saat

ini,

pemerintah

Argentina

selalu

menolak

hasil

dari

referendum tersebut dan tetap mengklaim Kepulauan Falkland sebagai miliknya.


Presiden Argentina Christina Fernandez de Kirchner kembali ingin mengadakan
dialog dengan Inggris, namun Inggris menolaknya.

1. 2 Rumusan Masalah
Berdasarkan utaian diatas, maka menjadi sangat menarik untuk dianalisa
lebih mendalam, dengan perumusan masalah, yakni:
1. Apakah motif dasar klaim Argentina terhadap pulau Falkland?
2. Bagaimana dampak Perang Falkland terhadap hubungan antara Inggris
dan Argentina?
3. Apa implikasi Perang Falkland terhadap kawasan Amerika Latin?
4. Apa kendala penyelesaian Sengketa Perebutan Pulau Falkland?

1. 3 Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang
mendalam tentang sengketa perebutan Pulau Falkland antara Argentina dan
Inggris, motif klain dari Argentina terhadap Pulau Falkland, dampak dari sengketa
tersebut, serta cara penyelesaiannya.

1. 4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian dan menambah
ilmu pengetahuan bagi perkembangan studi Ilmu Hubungan Internasional
khususnya dapat memperluas kajian tentang pengetahuan kawasan Amerika,
khususnya Argentina dengan memahami sengketa perebutan pulau Falkland.

1. 5 Kerangka Teori
Teori realisme klasik dan neorealisme digunakan secara luas dalam kajian
hubungan internasional ketika Richard Ashley. Teori klasik ini telah mengalami
perkembangan dan melahirkan beberapa pemikiran baru. Salah satunya adalah
neo classical realism. Teori neo classical realismini dapat dikatakan sebagai teori
yang

menyempurnakan

pendekatan

realisme

dan

neorealisme

dalam

pembentukan politik luar negeri. Seperti yang ditulis oleh Gideon Rose dalam
artikel jurnalnya yang berjudul Neoclassical Realism and Theories of Foreign
Policy, perspektif

ini menggabungkan

komponen

domestik

internal

dan

lingkungan eksternal. Ia mendukung pernyataan bahwa ruang lingkup dan ambisi


dari kebijakan luar negeri suatu negara digerakkan oleh tujuan rasional. 1

1 G. Rose, Neoclassical Realism and Theories of Foreign Policy, World


Politics, vol. 51, no. 1, October 1998, hal. 146-147.
2

Realisme neoklasik mengakui pentingnya kekuasaan relatif suatu negara


dalam

membentuk

keinginannya.

Bagaimana

sebuah

negara

melakukan

tindakan dalam sistem internasional yang dibentuk oleh sistem anarki dan
pendistribusian kekuasaan relatif. Prinsip utama realisme neoklasik adalah bahwa
kebijakan luar negeri adalah hasil dari struktur internasional, pengaruh domestik,
dan juga hubungan yang kompleks antara keduanya.
Realisme neoklasik menolak asumsi bahwa satu-satunya tujuan negara
adalah masalah keamanan. Negara mencoba untuk menggunakan kekuasaan
mereka untuk mengarahkan sistem internasional menuju tujuan mereka. Oleh
karena itu, dalam praktiknya, negara-negara yang lebih kuat akan menuntut
kebijakan luar negeri yang lebih jauh.2 Setiap negara menjalankan fungsi pokok
yang sama seperti keamanan dan kesejahteraan rakyatnya. Zakaria memperkuat
pendekatan diatas dengan menyimpulkan bahwa pembentukan kebijakan luar
negeri memang dipengaruhi oleh faktor eksternal, yakni struktur internasional
dan distribusi kekuatan. Kemudian, faktor internal berupa struktur domestik
sebuah negara, baik struktur ekonomi maupun politik yang dapat menentukan
tingkah laku negara, juga tidak kalah penting. 3
Realisme neoklasik merangkum bahwa kebijakan luar negeri adalah hasil
dari struktur internasional, faktor-faktor domestik, dan interaksi kompleks
diantara keduanya.4 Sebuah negara harus mampu mengatur proses domestik
untuk memaksimalkan kepentingannya. Sebagaimana dikemukakan Randall
Schweller, analisis realisme neoklasik harus mempertimbangkan aspek-aspek
non-struktural seperti karakter kepemimpinan elit maupun tanggapan publik
terhadap kebijakan luar negeri, sehingga penyelarasan antara kepentingan elit
dan kepentingan publik akan menjadi variabel yang berpengaruh terhadap
kebijakan luar negeri setelah elit mempertimbangkan kepentingan-nya vis a vis
tekanan internasional.5

2Ibid, Rose, hal. 147.


3 F. Zakaria, Realism and domestic Politics: A Review Essay,
International Security, no. 17, Summer 1992, hal. 177-198.
4 Liu Feng & Zhang Ruizhang, Tipologi Realisme, dalam Asrudin & M.J. Suryana,
Refleksi Teori Hubungan Internasional dari Tradisional ke Kontemporer, Graha Ilmu,
Yogyakarta, 2009, hal. 29.

1.5.1 Konsep Teritorial


Penguasaan suatu wilayah teritorial merupakan salah satu unsur pokok
dari status kenegaraan. Di dalam wilayah tersebut otoritas tertinggi terletak
pada Negara terkait. Karena hal tersebut, maka muncullah sebuah istilah
kedaulatan teritorial. Kedaulatan teritorial memiliki definisi bahwa di dalam
wilayah yang disebut wilayah teritorial tersebut yurisdiksi yang dilaksanakan
oleh Negara atas penduduknya dan harta benda yang terdapat di dalamnya
merupakan hukum dari Negara yang bersangkutan, bukan hukum Negara lain.
Menurut Max Huber menyatakan bahwa:
Kedaulatan dalam hubungan antara Negara-Negara menandakan
kemerdekaan. Kemerdekaan berkaitan dengan suatu bagian dari muka bumi
adalah hak untuk melaksanakan di dalamnya, terlepas dari negara lain,
fungsi-fungsi suatu Negara.

Dalam konsep teritorial pada hukum internasional, menggunakan jalan


okupasi yang nantinya dapat menjawab permasalahan dalam penelitian ini.
Okupasi merupakan penegakan kedaulatan atas wilayah yang tidak berada di
bawah penguasaan Negara manapun, baik wilayah yang baru ditemukan,
ataupun yang ditinggalkan oleh negara yang semula menguasainya. Secara
klasik, pokok permasalahan dari okupasi adalah wilayah yang didiami oleh sukusuku bangsa atau rakyat-rakyat yang memiliki organisasi sosial. Apabila wilayah
daratan didiami oleh suku-suku bangsa yang terorganisir, maka kedaulatan
teritorial harus diperoleh dengan membuat perjanjian-perjanjian lokal dengan
penguasa setempat.
Dilihat dari konsep di atas bahwasanya kepulauan Falkland merupakan
kepemilikan Inggris. Walau dilihat dari segi geografis Falkland dekat dengan
Argentina tetapi penduduk kepulauan Falkland menyatakan bahwa Falkland
adalah

wilayah

kedaulatan

Inggris,

terbukti

dengan

adanya

referendum

penduduk kepulauan Falkland yang menyatakan bahwa penduduk kepulauan


tersebut tetap menginginkan kedaulatan wilayahnya dibawah naungan Inggris. 6

5 B.W. Nugroho, Populisme dalam Reformulasi Politik Luar Negeri Indonesia di Era
Reformasi, tesis Program Studi S-2 Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
2010, hal. 22.

6 Referendum Falkland, dalam


http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130312_referendum_falkla
nd.shtml diakses pada 9 Juni 2015
4

1.5.2. Hukum Humaniter Internasional


Istilah

Hukum

Humaniter

atau

lengkapnya

disebut

International

Humanitarian Law Applicable in Armed Conflict, pada awalnya dikenal sebagai


hukum perang (laws of war), yang kemudian berkembang menjadi hukum
sengketa bersenjata (laws of arms conflict), dan pada akhirnya dikenal dengan
istilah hukum humaniter.7 Istilah Hukum humaniter sendiri dalam kepustakaan
hukum internasional merupakan istilah yang relatif baru. Istilah ini lahir sekitar
tahun 1970-an dengan diadakannya Conference of Government Expert on the
Reaffirmation and Development in Armed Conflict pada tahun 1971, Mochtar
Kusumaatmadja:8
Bagian dari hukum yang mengatur ketentuan-ketentuan perlindungan
korban perang, berlainan dengan hukum perang yang mengatur perang iu
sendiri dan segala sesuatu yang menyangkut cara melakukan perang itu
sendiri.

Hukum Humaniter Internasional adalah bagian dari hukum internasional.


Hukum internasional adalah hukum yang mengatur hubungan antar negara.
Hukum internasional dapat ditemui dalam perjanjian-perjanjian yang disepakati
antara negara-negara yang sering disebut traktat atau konvensi dan secara
prinsip dan praktis negara menerimanya sebagai kewajiban hukum. 9 Dengan
demikian, maka hukum humaniter tidak saja meliputi ketentuan-ketentuan yang
terdapat dalam

perjanjian internasional, tetapi juga meliputi kebiasaan-

kebiasaan internasional yang terjadi dan diakui.


1.5.3. Perang dan Sengketa Bersenjata
Perang adalah pelaksanaan atau bentuk konflik dengan intensitas
kekerasan yang tinggi. Von Clausewitz, seorang militer dan filsuf Jerman
mengatakan antara lain bahwa perang adalah kelanjutan politik dengan cara-

7 Brig. Jend TNI. (Purn). GPH. Haryo Mataram, S.H, Bunga Rampai Hukum Humaniter
(Hukum Perang), Bumi Nusantara Jaya, Jakarta, 1988.
8 Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja, S.H, LLM, Konvensi-Konvensi Palang
Merah 1949, Alumni, Bandung, 2002
9 Zulkarnain, S.H, M.H & Insarullah, S.H, Buku Ajar Hukum Humaniter dan
HAM, Fakultas Hukum Untad, Palu, 2002
5

cara lain. Dengan prinsip tersebut ia melihat bahwa hakekat kehidupan bangsa
adalah suatu perjuangan sepanjang masa dan dalam hal ini ia identikkan politik
dengan perjuangan tersebut.
Sengketa bersenjata yang bersifat internasional disebut juga sebagai
sengketa bersenjata antar negara. Pasal 3 keempat Konvensi Jenewa 1949
menyatakan

bahwa

dalam

hal

sengketa

bersenjata

yang

tidak

bersifat

internasional yang berlangsung di dalam wilayah salah satu Pihak Agung


penandatangan,

tiap

Pihak

dalam

sengketa

itu

akan

diwajibkan

untuk

melaksanakan ketentuan-ketentuan sebagai berikut: 10 Orang-orang yang tidak


mengambil

bagian

aktif

dalam

sengketa

itu,

termasuk

anggota-anggota

angkatan perang yang telah meletakkan senjatasenjata mereka serta mereka


yang tidak lagi turut serta (hors de combat) karena sakit, luka-luka, penawanan
atau sebab lain apapun dalam keadaan bagaimanapun harus diperlakukan
dengan perikemanusiaan, tanpa perbedaan merugikan apapun juga yang
didasarkan atas ras, warna kulit, agama atau kepercayaan, kelamin, keturunan
atau kekayaan, atau setiap kriteria lainnya serupa itu.
Untuk maksud ini, maka tindakan tindakan berikut dilarang dan akan tetap
dilarang untuk dilakukan terhadap orang-orang tersebut di atas pada waktu dan
di tempat apapun juga : Tindakan kekerasan atas jiwa dan raga, terutama setiap
macam

pembunuhan,

penyekapan,

perlakuan

kejam

dan

penganiayaan;

Penyanderaan; Perkosaan atas kehormatan pribadi, terutama perlakuan yang


menghina dan merendahkan martabat; Menghukum dan menjalankan hukuman
mati tanpa didahului keputusan yang dijatuhkan oleh suatu pengadilan yang
dibentuk secara teratur, yang memberikan segenap jaminan peradilan yang
diakui sebagai keharusan oleh bangsa-bangsa beradab.
Pasal 3 Konvensi-Konvensi Jenewa 1949 memberikan jaminan perlakuan
menurut asas-asas perikemanusiaan, terlepas dari status apakah sebagai
pemberontak atau sifat dari sengketa bersenjata itu sendiri. Selanjutnya Pasal 3
ayat 2 Konvensikonvensi Jenewa 1949 menyatakan bahwa yang luka dan sakit
harus dikumpulkan dan dirawat.
Sebuah badan humaniter tidak berpihak, seperti Komite Palang Merah
Internasional

dapat

menawarkan

jasa-jasanya

kepada

pihak-pihak

dalam

10 Konflik Bersenjata dan Hukumnya, Universitas Trisakti, Jakarta, 2002


6

sengketa.11 Pihak-pihak dalam sengketa selanjutnya harus berusaha untuk


melaksanakan dengan jalan persetujuan-persetujuan khusus, semua atau
sebagian dari ketentuan lainnya dari konvensi ini. Pelaksanaan ketentuanketentuan tersebut di atas, tidak akan mempengaruhi kedudukan hukum pihakpihak dalam sengketa.

1.6 Sistematika Penulisan


Penelitian ini diharapkan mampu memberikan kegunaan atau memiliki
manfaat sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan Bab ini berisikan tentang latar belakang dilakukannya
penelitian, rumusan masalah, tujuan dilakukannya penelitian, manfaat dari
penelitian yang dilakukan, kerangka pemikiran, dan sistematika penelitian.
BAB II

Sengketa Perebutan Pulau Falkland Antara Argentina Dan

Inggris Bab kedua, penulis memuat tentang latar belakang terjadinya Perang
Falkland/Malvinas, hasil referendum, dan Motif dasar klaim Argentina terhadap
Pulau Falkland.
BAB III Analisa Dampak Perang Falkland bab ketiga, berisi tentang
analisa kendala penyelesaian sengketa Pulau Falkland, dampak perang
falkland bagi hubungan argentina-inggris, serta stabilitas kawasan Amerika.
BAB IV Kesimpulan Dalam bab terakhir ini penulis akan menuliskan tentang
kesimpulan yang telah di dapat dari penelitian melalui penjelasan dan
pembahasan dari bab sebelumnya berupa hasil dari data ataupun informasi
yang telah diolah.

BAB II
SENGKETA PEREBUTAN PULAU FALKLAND ANTARA ARGENTINA DAN
INGGRIS
2.1

Latar Belakang Sengketa Perebutan Pulau Falkland

Kepulauan Falkland adalah sebuah wilayah di Samudra Atlantik Selatan yang


terdiri dari dua pulau utama, Falkland Timur dan Falkland Barat, serta beberapa

11 Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja, S.H, LLM, Konvensi-Konvensi Palang Merah 1949,
Alumni, Bandung, 2002.

pulau kecil. Ibu kotanya, Stanley, terletak di Falkland Timur 12. Kepulauan Falkland,

yang terletak sekitar 300 mil dari pantai Argentina, adalah sebuah Crown Colony (koloni inti)
dari Hukum Konstitusional British. Kedaulatan kepulauan ini dipertentangkan oleh
Argentina yang menamakannya Islas Malvinas dalam bahasa Spanyol ( kebanyakan

penduduk kecil penetap sebanyak sekitar 3000 orang yang kebanyakan berasal dari keluarga
Inggris dari awal abad ke-19 dan seterusnya).
Pulau Falkland diduga memiliki nilai komersil karena terdapat endapan minyak dan gas.
Menurut catatan orang-orang Spanyol dan Argentina, pulau Falkland pertama kali
ditemukan oleh navigator Esteban Gomez, yang berlayar bersama Magelan.
Catatan orang Inggris menganggap orang yang melihat pertama kali pulau
tersebut adalah pelaut Jhon Davis.13
Pulau tersebut tetap diduduki sampai dengan tahun 1764, pada saat
pendudukan (perkampungan) efektif dilakukan oleh Perancis di Port Louis di
timur Falkland. Perkampungan tersebut kemudian dijual pada Spanyol (dan
dinamai menjadi Port Solelad) di tahun 1767, dan dipertahankan oleh Spanyol
sampai dengan tahun 1811. Sementara itu, pendaratan Inggris di tahun 1765 di
pulau Saunders, satu mil dari Falkland barat, diikuti dengan pembangunan
perkampungan di Port Egmont (di Falkland Barat) satu tahun kemudian.
Penduduk Inggris tersebut diusir oleh pasukan Spanyol di tahun 1770 (mengikuti
pertukaran deklarasi pemerintah Inggris dan Spanyol) dan penduduk Inggris
tersebut menarik diri secara selanjutnya di tahun 1774.
Beberapa faktor yang memicu terjadinya perang cenderung bersifat politis
nasionalis. Aktor utama pelaksanan perang lebih menonjolkan aspek psikologis
seperti

kehormatan

bangsa

atau

kebanggaan

nasional.

Demikian

pula,

pengerahan kekuatan militer Inggris untuk mempertahankan pulau Falkland dari


Argentina, Argentina mengklaim bahwa kepulauan Fakland atau yang disebutnya
Malvinasdi dasarkan semata-mata lebih karena kedekatannya dengan wilayah
daratan Argentina, dan sebagai apa yang disebutkannya sebagai warisan
kedaulatan yang di berikan oleh pemerintahan Spanyol ketika Argentina masih
menjadi Negara kolonialisasinya pada era sekitar tahun 1820an.

12 http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Falkland
13 Ibid.
8

Pada awalnya kepulauan Falkaland telah di perebutkan oleh Inggris dan


Spanyol selama bertahun-tahun, hingga pada akhirnya ada perekembangan baru
di

negara-negara

jajahan

Spanyol

pada

sekitar

tahun1816,

Argentina

menyatakan kemerdekaannya oleh Spanyol pada tanggal 9 juli 1816, Argentina


membuat batas Negaranya sampai ke kepulauan Falkland, pada akhirnya
perebutan kepulauan tersebut dilanjutkan oleh Argentina terhadap Inggris.
Selama ini kepulauan Falkland berada di bawah pemerintahan Inggris. Sejarah
singkat kekuasaan Inggris di kepulauan tersebut di mulai pada saat Inggris
berlabuh dan menduduki kepulauan Falkland pada sekitar tahun 1832 yang
dimana pasukan Inggris secara tiba-tiba muncul di kepulauan tersebut hingga
pada akhirnya mereka mengibarkan bendera The Union Jack dan menurunkan
bendera Argentina.
Perlakuan Inggris tersebut mendapatkan respon dari Argentina agar
Inggris tidak menguasai ataupun menduduki kepulauan yang disebut Argentina
kepulauan Malvinas tersebut. Argentina merasa terganggu oleh Inggris yang
pada akhirnya membuat kedua belah negara tersebut saling klaim atas
kepulauan Falkland. Puncak dari ketegangan muncul sekitar bulan Mei tahun
1982. Argentina melakukan penyerangan terhadap pasukan Inggris yang
menguasai kepulauan Falkland untuk merebut kembali kepulauan Malvinas.
Serangan mendadak yang di lakukan Argentina terhadap pasukan Inggris serta
di ungsikannya warga Negara Inggris ke kedutaan besar inggris dari kepulauan
Falkland tersebut oleh Argentina ke sebuah wilayah di Amerika latin

dengan

menggunakan pesawat jetnya memicu Inggris untuk memutuskan hubungan


diplomasinya dengan Argentina pada tanggal 2 april 1982.
Pada pertempuran yang berlangsung kurang lebih selama 3 bulan yang
menewaskan lebih dari 200 pasukan inggris dan lebih dari hampir 600 pasukan
Argentina tersebut di awali dengan keberhasilan Argentina dalam merebut
kembali kepulauan Falkland di bawah kepemimpinan junta militer Jendral
Leopoldo Galtieri. Penguasaan Argentina atas kepulauan Falkland tersebut tidak
berlangsung lama. Penyerangan tersebut memaksa Perdana menteri Inggris
yang di jabat oleh Margaret Thatcher kembali mengupayakan kembali perebutan
kepulauan Falkland dengan mengirim kembali pasukan Inggris, dalam tempo
waktu kurang dari 3 bulan setelah pasukan Inggris berupaya kembali merebut
kepulauan tersebut di bawah kepemimpinan Mayjen Jeremy Morepada tanggal
14 juni 1982 kepulauan Falkland berhasil di rebut kembali oleh Inggris hingga
saat ini.

Otoritas eksekutif berada di bawah wewengan Ratu dan menjadi mandat


gubernur. Pertahanan dan keamanan merupakan tanggung jawab Britania Raya.
Sebuah konstitusi disusun pada 1985. Delapan orang Dewan Legislatif dipilih
setiap empat tahun. Dewan Eksekutif yang menasihati Gubernur terdiri dari
Kepala Eksekutif, Sekretaris Finansial dan tiga Dewan Legislatif. Dewan Eksekutif
dipimpin oleh Gubernur. Dewan Legislatif terdiri dari Kepala Eksekutif, Sekretaris
Finansial dan delapan Dewan Legislatif.
Selama bertahun-tahun terjadi ketegangan atas perebutan kepulauan
tersebut pada tahun 1965 argentina kemudian memasukan klaim kepulauan
tersebut

melalui

Perserikatan

Bangsa-Bangsa

(PBB)

yang

kemudian

PBB

mengeluarkan resolusi perlunya penyelesaian persengketaan kepulauan tersebut


dengan memperhatikan kepentingan penduduk yang berada di kepulauan
tersebut.
2.2

Hasil Referendum
Referendum merupakan pengakuan atau sebuah pengukuhan yang

diputuskan sesuai kesepakatan individu maupun kelompok. Hasil referendum


menyatakan bahwa penduduk pulau Falkland termasuk milik Inggris. Penduduk
Falkland lebih memilih di bawah kedaulatan Inggris daripada Argentina yang
secara strategis geografis lebih dekat dari kepulauan ini. Argentina mendapatkan
warisan kepulauan Falkland tahun 1813 sampai terbentuknya referendum
kepulauan Fakland tersebut yang menyatakan bahwa penduduk Falkland
mengakui bahwa Falkland milik Inggris bukan Argentina pada 11 Maret 2013
yang mana dari munculnya referendum tersebut seketika berpengaruh terhadap
hubungan Argentina dan Inggris selanjutnya. 14
Sesuai dengan prinsip hukum internasional pada deklarasi PBB mengenai
hubungan bersahabat dan kerjasama di antara Negara-negara sesuai dengan
piagam PBB, yang di sahkan Majelis Umum pada 1970, bahwasanya wilayah
koloni atau wilayah yang tidak berpemerintahan merupakan suatu status
tersendiri dan berbeda dari wilayah negara yang memerintahnya, yang hidup
sampai rakyat wilayah tersebut melaksanakan hak menentukan nasib diri
sendiri.

14 Referendum Falkland, dalam


http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130312_referendum_falkla
nd.shtml diakses pada 9 Juni 2015
10

Alasan penduduk Falkland lebih memilih Inggris daripada Argentina karena


penduduk Falkland percaya bahwa kehidupan penduduknyaakan lebih baik di
bawah naungan Inggris yang merupakan Negara maju dari segi perekonomian
serta berpengaruh di Eropa. Itulah yang membuat Argentina lemah di mata
penduduk Falkland sehingga penduduk Falkland lebih memilih Inggris daripada
Argentina. Nyatanya, pasca referendum tahun 2013 keluar, di bawah naungan
Inggris

kondisi

penduduk

Falkland

mengalami

perkembangan

dalam

perekonomiannya.
Dengan adanya referendum yang menguatkan pihak Inggrist ersebut,
tidak membuat Argentina diam, tetapi justru semakin bersemangat merebut
kembali kepulauan Falkland walaupun akan berakibat buruk pada hubungan
Argentina dan Inggris.

2.3

Motif Dasar Klaim Argentina terhadap Pulau Falkland


Ada 4 klaim utama dalam perebutan pulau, yaitu: Klaim historis, klaim

geopolitik, Klaim demografis, dan Klaim karena memenangi perang. 15 Argentina


mengklaim bahwa kepulauan Fakland atau yang disebutnya Malvinas adalah
miliknya. Dari faktor geografi, letak pulau Falkland dekat dengan wilayah daratan
Argentina (dibandingkan dengan Inggris, yang negaranya berada sangat jauh
dari Pulau Falkland, lihat gambar 1).
Dari faktor historis, Argentina mengklaim bahwa Pulau Falkland sebagai
warisan kedaulatan yang di berikan oleh pemerintahan Spanyol ketika Argentina
masih menjadi Negara kolonialisasinya pada era sekitar tahun 1820an. Pada
awalnya kepulauan Falkaland telah di perebutkan oleh Inggris dan Spanyol
selama bertahun-tahun, hingga pada akhirnya ada perekembangan baru di
negara-negara jajahan Spanyol pada sekitar tahun1816, Argentina menyatakan
kemerdekaannya oleh Spanyol pada tanggal 9 juli 1816, Argentina membuat
batas Negaranya sampai ke kepulauan Falkland, pada akhirnya perebutan
kepulauan tersebut dilanjutkan oleh Argentina terhadap Inggris..
Pulau Malvinas ditemukan pada tahun 1832 oleh orang-orang Inggris dan
menjadi salah satu koloni Inggris. Argentina sendiri selalu mengklaim bahwa
Malvinas adalah bagian dari kawasan negaranya. Dengan alasan inilah,

15 Raden Terry Subagja, Overlapping Claim Blok Ambalat: DasarKlaim dan Mekanisme
Penyelesaian, Jurnal Diplomasi Kementerian Luar Negeri Vol.2 No.4, Desember 2010, hlm
72.
11

Aregentina menyerbu Pulau Malvinas pada tahun 1982. Tindakan Argentina ini
tidak diterima oleh Inggris. Tentara Kerajaan Inggris kemudian dikirim ke
kawasan itu dan terjadilah pertempuran di antara keduanya. Kecanggihan militer
Inggris akhirnya mengantarkan tentara negara itu meraih kemenangan dan
mengusir tentara Argentina dari Malvinas.
Meskipun secara militer Argentina telah kalah, Argentina masih melakukan
langkah-langkah diplomasi untuk memiliki pulau tersebut. Pada abad ke-18,
Louis de Bougainville asal Perancis mendirikan pangkalan angkatan laut di Port
Louis, Falkland Timur pada 1764. John Byron asal Britania, yang mengabaikan
kehadiran Perancis, juga mendirikan pangkalan di Port Egmont, Falkland Barat
pada 1765. Pada 1766, Perancis menjual pangkalannya ke Spanyol. Spanyol
kemudian menyatakan perang terhadap Britania Raya pada 1770 untuk
memperebutkan seluruh wilayah kepulauan. Perselisihan tersebut berhasil
diselesaikan setahun kemudian, dengan Spanyol menguasai Falkland Timur dan
Britania Raya menguasai Falkland Barat. Semasa penyerbuan Britania di Rio de
la Plata, Britania mencoba untuk merebut Buenos Aires pada 1806 dan 1807,
namun gagal.
Masalah ini sebenarnya belum terselesaikan hingga abad ke-19. Untuk
merebut Falkland, Argentina mendirikan koloni hukum pada 1820, dan pada
1829 melantik Luis Vernet sebagai gubernur. Britania Raya kembali merebut
kepulauan itu pada 1833, namun Argentina tidak mau melepas klaimnya.
Sejumlah ketegangan menyebabkan Argentina menyerbunya pada 1982. Namun
Britania Raya kembali berhasil merebutnya. Tidak ada orang pribumi yang
tinggal di Falkland ketika bangsa Eropa datang, walaupun ada beberapa bukti
yang diperdebatkan mengenai kedatangan manusia sebelumnya. Namun, bukti
otentik dan fakta nya tidak kredibel.
Kemerdekaan yang diraih provinsi-provinsi jajahan Spanyol di Amerika
Latin pada 1816, ternyata berbuntut panjang. Argentina, sebagai negara yang
baru terbentuk, selanjutnya giat mengumpulkan pulau-pulau bekas jajahan
Spanyol yang dianggap layak masuk ke wilayah kedaulatannya. Di antaranya
adalah Las Malvinas yang juga diklaim milik Inggris. Pertikaian demi pertikaian
pun

meletus

dan

mencapai

puncaknya

pada

April

1982

(perang

Falkland/Malvinas).

12

Motivasi lainnya adalah bagi invasi Argentina pada April 1982 itu lebih
disebabkan oleh ancaman yang dirasakan oleh junta militer Jenderal Leopoldo
Galtieri yang berkuasa: ketidakstabilan internal di Argentina yang mengancam
pemerintahan diktaturnya. Galtieri membutuhkan pengalihan perhatian yang
mempersatukan, konflik luar untuk mengalihkan publik dan mempertahankan
kontrol di dalam negeri.

. Gambar 1.1PetaKepulauan Falkland antaragarisbatasInggrisArgentina

Sumber : www.defence.pk

BAB III
ANALISA KENDALA DAN DAMPAK PERANG FALKLAND BAGI ARGENTINAINGGRIS SERTA STABILITAS KAWASAN AMERIKA

3.1
Dampak Dari Perang Inggris Dan Argentina
1. Kemenangan Inggris atas Argentina dalam perang memperebutkan
kepulauan

Falkland/Malvinas

memberikan

dampak

positif

bagi

13

perekonomian Inggris yaitu . Inflasi yang mencapai 18% mampu dipotong


hingga 8,6% meski angka pengangguran di Inggris pada saat itu mencapai
3 juta orang
2. dampak positif

dari

membaiknya

hubungan

kedua

negara

juga

memberikan peluang untuk hasil komoditi gandum argentina dapat


memenuhi pasar kebutuhan pokok Negara-Negara di benua eropa
3. Pengklaiman atas suatu wilayah tertentu antara negara satu dengan
Negara lain bukanlah sesuatu yang asing lagi, banyak permasalahan
serupa di dunia yang terjadi selai masalah kepemilikan pulai Fakland
4. Perang Falkland atau Malvinas membangkitkan sejumlah pemikiran
mengenai sebab-sebab konflik antar bangsa. Perang ini pun menantang
sejumlah asumsi tentang konflik yang telah menjadi aksioma di antara
kaum profesional dalam politik. Asumsi aksiomatik :
5. pertama yang ditantang oleh Perang Malvinas/Falkand adalah pendapat
bahwa negara-negara yang lebih lemah biasanya tidak akan menyerang
yang lebih kuat, khususnya negara-negara nuklir.
6. Yang kedua menantang asumsi bahwa para pemimpin melakukan perang
untuk mengalihkan perhatian warganya dari masalah-masalah dalam
negeri. Perang Malvinas/Falkland juga menunjukkan potensi berbahaya
ketika pemimpin keliru memperkirakan kepentingan lawan, bahaya
kekeliruan persepsi dari watak seorang kepala pemerintahan, dan
pentingnya perspektif-perspektif budaya dan sejarah.
7. Masalah-masalah ekonomi yang serius.
8. kekalahan oleh Inggris pada tahun 1982 setelah usaha yang gagal untuk
merebut Kep. Falkland/Malvinas, kemuakan publik terhadap pelanggaran
hak-hak asasi manusia yang parah dan tuduhan-tuduhan yang meningkat
telah bersama-sama mendiskreditkan dan memperlemah rezim militer
Argentina. Dan Hal ini mendorong transisi bertahap dan membawa negara
itu kepada pemerintahan yang demokratis. Dengan tekanan publik, junta
militer Argentina akhirnya menghapuskan larangan-larangan terhadap
partai-partai politik dan memulihkan kebebasan-kebebasan politik yang
mendasar. Argentina berhasil kembali kepada demokrasi dengan damai

3.2

Dampak Referndum Di Kepulauan Falkland/Malvinas

Terhadap

Argentina
Argentina sebagai negara yang mengklaim kedaulatan atas kepulauan
Falkland/Malvinas, telah mengirim surat protes kepada badan dekolonisasi PBB

14

atas referendum yang diadakan Inggris dikepulauan Falkland/Malvinas. Argentina


memprotes tindakan referendum tersebut dan menganggap referendum tersebut
sebagai salah satu bentuk pembodohan dan penghinaan terhadap Argentina
karena

menurut

pemerintah

Argentina

masyarakat

Falkland/Malvinas

mengadakan referendum di atas wilayah kedaulatan Argentina. Penduduk


kepulauan Falkland/Malvinas dikategorikan sebagai penduduk asal Inggris yang
di-implan di wilayah kedaulatan Argentina.
Argentina menuding bahwa Inggris telah melanggar salah satu tujuan PBB
yaitu semangat anti-kolonialisme. Cristina Fernandez menyatakan bahwa Inggris
masih melakukan praktek kolonialisme dari upaya Inggris mempertahankan
kekuasaannya atas Falkland/Malvinas. Falkland/Malvinas yang berada jauh dari
wilayah pusat pemerintahan Inggris, menurut Fernandez merupakan wilayah
yang seharusnya berada dibawah kedaulatan Argentina. Fernandez disetiap
forum-forum internasional menyerukan kepada Inggris untuk melepaskan
wilayah kepulauan Falkland/Malvinas kepada Inggris sebagai bentuk kepatuhan
Inggris terhadap semangat anti kolonialisme.
Kepulauan Falkland/Malvinas sebagai salah satu wilayah di Atlantik selatan
yang memiliki cadangan minyak yang besar, menjadikan Falkland/Malvinas
sebagai

wilayah

yang

mempunyai

nilai

strategis

tinggi

bagi

Argentina.

kepemilikan penuh atas kepulauan Falkland/Malvinas memberikan kesempatan


bagi Argentina untuk mengeksplorasi sumber daya alam demi meningkatkan
kegiatan perekonomian Argentina.
Argentina beberapa tahun terakhir mengalami dampak negatif dari krisis
ekonomi global yang menyebabkan ekonomi Argentina mengalami inflasi hingga
20%.16 Tingginya tingkat demonstrasi di Argentina selama tahun 2011 hingga
2012 menandakan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah argentina menurun.
Argentina sebagai salah satu negara dengan perekonomian yang paling
berkembang di kawasan Amerika Selatan, sejak tahun 2011 mengalami masa
krisis ekonomi global yang menyebabkan tingginya angka demonstrasi di
Argentina

menuntut

mundurnya

presiden

Cristina

Fernandez.

Kepulauan

Falkland/Malvinas disamping memiliki cadangan minyak yang cukup besar, juga


mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan semangat nasionalisme warga

16 The Economist http://www.economist.com/node/21548229 diakses pada tanggal 9 Juni


2015
15

Argentina, Presiden memanfaatkan nilai strategis ini untuk mengalihkan isu


ketidakpuasan rakyat terhadap pemerintah.
Argentina merupakan negara dengan pertumbuhan ekonomi paling pesat
di Amerika Selatan, untuk menghindari dampak dari krisis global, salah satu
kepentingan nasional Argentina saat ini ialah untuk memajukan kegiatan
perekonomian dengan mendorong kegiatan produksi dan penjualan minyak
mentah hasil dari kepulauan Falkland/Malvinas dan beberapa wilayah di Atlantik
Selatan,

jika

Argentina

bisa

mendapatkan

status

kedaulatan

atas

Falkland/Malvinas.
Hasil referendum yang memutuskan bahwa rakyat Falkland/Malvinas
masih ingin berada di bawah wilayah kedaulatan Inggris, sangat merugikan
Argentina. Argentina belum bisa menyelesaikan sengketa wilayah ini melalui
Mahkamah Internasional karena Argentina belum mengakui yuridikasi Mahkamah
Internasional.17 Jalur negosiasi merupakan jalur yang paling memungkinkan bagi
Argentina

jika

ingin

mendapatkan

kepulauan

Falkland/Malvinas.

Biaya

operasional militer Inggris yang tinggi dalam melindungi wilayah teritorial


seberang lautan digunakan oleh Argentina sebagai salah satu isu yang akan
dibahas oleh Argentina jika Inggris bersedia mengadakan negosiasi.
Argentina meminta bantuan dari beberapa organisasi internasional untuk
mengadakan negosiasi dengan pemerintah Inggris. Dalam upaya mendapatkan
status

kedaulatan

atas

kepulauan

Falkland/Malvinas,

Argentina

meminta

dukungan dari anggota MERCOSUR, OAS, UNASUR, CELAC dan beberapa negara
di benua Afrika. Argentina lebih melakukan praktek Soft-Diplomacy dalam
peneyelesaian sengketa wilayah. Cristina Ferenandez menyatakan bahwa
Argentina berjanji untuk menyelesaikan konflik antara kedua negara melalui jalur
damai sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional dan memperhatikan
kepentingan penduduk kepulauan.

18

Dalam pertemuan kepala negara dan pemerintahan Afrika dan Amerika


Selatan (ASA) di Malabo pada 20-22 Februari 2013, seluruh peserta sepakat

17 Khan, M. Imad, 2012, Reemergence of the Falkland Islands Territorial Dispute, American
Bar Association. hal 3
18 Argentina Un Pais Con Buena Gente, diambil dari http://www.mrecic.gov.ar.es/questionmalvinas-islands-0 Diakses pada tanggal 9 Juni 2015
16

untuk mengakui hak-hak sah Argentina dalam sengketa kedaulatan atas


Kepulauan Malvinas, Georgia Selatan dan Kepulauan Sandwich Selatan dan
daerah maritim di sekitarnya, dan mendesak Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia
Utara untuk melanjutkan perundingan dengan Argentina untuk mencapai,
sesegera mungkin solusi adil, damai, adil dan definitif dalam penyelesaian
sengketa sesuai dengan resolusi yang relevan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa
dan organisasi-organisasi regional dan internasional lainnya. 19
Argentina juga berusaha untuk mengubah pandangan negara-negara di
Amerika Selatan dengan menyatakan bahwa isu kedaulatan Falkland/Malvinas
bukan hanya masalah antara Argentina dan Inggris, melainkan isu kedaulatan
Falkland/Malvinas

juga

merupakan

isu

seluruh

negara

Amerika

Selatan.

Argentina dalam pertemuan tingkat Menteri negara-negara Amerika Selatan di


Ururguay 16 januari 2013 berhasil mendeklarasikan resolusi yang menyatakan
untuk menghentikan bentuk kolonialisme yang dilakukan oleh Inggris di
kepulauan

Falkland/Malvinas

karena

melanggar

tujuan

PBB

dan

juga

mengganggu kedaulatan dan integritas teritorial dari beberapa negara anggota


ZPCAS. Resolusi ZPCAS juga mendukung upaya negara-negara anggota ZPCAS
dalam penyelesaian sengketa dengan cara damai

dalam mencari solusi

negosiasi untuk sengketa wilayah yang melibatkan negara-negara anggota


ZPCAS.

resolusi ZPCAS menyerukan dimulainya kembali perundingan antara

Pemerintah Argentina dan Inggris Raya dan Irlandia Utara , sesuai dengan
resolusi PBB nomor 2065
Perserikatan

dan resolusi terkait lainnya oleh Majelis Umum

Bangsa-Bangsa

menyangkut

sengketa

Kepulauan

Falkland/Malvinas. Resolusi Uruguay juga menegaskan kembali resolusi Majelis


Umum 31/49, yang mengharuskan kedua belah pihak yang terlibat dalam
sengketa kedaulatan atas Kepulauan Falkland/Malvinas untuk tidak melakukan
eksplorasi dan eksploitasi dari wilayah yang sedang disengketakan. Argentina
dan negara anggota ZPCAS menyatakan bahwa Inggris telah melanggar resolusi
PBB nomor 31/49 atas kegiatan eksplorasi hidrokarbon tidak sah di wilayah
sengketa dan memperkuat kehadiran militer Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia
Utara di daerah tersebut.

19 Africa-South America Summit, Declaration de Malabo diambil dari


www.mrecic.gov.ar/userfiles/documentos-malvinas/asa_2013_-_declaracion_de_malabo.pdf
diakses pada 9 Juni 2015
17

Upaya

pendekatan

Argentina

kepada

masyarakat

internasional,

menghasilkan resolusi PBB dalam pertemuan di Qatar. Argentina dan beberapa


negara mendesak inggris agara bernenti mengabaikan kewajibannya sebagai
anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa. Resolusi PBB dalam pertemuan di Qatar
menegaskan bahwa perlunya pemerintah Argentina dan Kerajaan Britannia Raya
dan Irlandia Utran untuk melanjutkan perundingan sesuai dengan prinsip-prinsip
dan tujuan piagam PBB dan resolusi yang relevan dari Majelis Umum, dalam
rangka untuk menemukan solusi damai untuk sengketa kedaulatan yang
berkaitan dengan kedaulata kepulauan Falkland/Malvinas. 20
Protes keras Argentina terus dilakukan melalui forum internasional
terutama melalui badan dekolonisasi PBB terhadap pemerintah Inggris

yang

telah mengadakan referendum. Argentina melalui laman resmi pemerintah


Argentina, mempublikasikan pandangan-pandangan ahli hubungan internasional
yang menentang referendum Inggris di Falkland/Malvinas.
Argentina dalam usahanya mendapatkan status kedaulatan di kepulauan
Falkland/Malvinas menerapkan Kedua Argentina juga menerapkan kebijakan
untuk melemahkan perekonomian penduduk Falkland/Malvinas dengan cara
melarang dan mempersulit akses menuju kepulauan Falkland/Malvinas dari
wilayah Amerika Selatan dan juga melarang kapal berbendera Falkand/Malvinas
berlayar di wilayah perairan Argentina dan negara-negara anggota MERCOSUR.
Ketiga, Argentina berupaya untuk menarik dukungan dari penduduk dunia
dengan bekerjasama dengan tokoh-tokoh dan Selebritis dunia.

3.3

Implikasi Perang Falkland terhadap Dinamika Hubungan Argentina

dengan Inggris
Pasca terjadinya perang Falkland pada tahun 1982 dinamika hubungan
antara Inggris-Argentina dalam sengketa kepulauan tersebut dapat dikategorikan
ke dalam tiga tahap. Tahap pertama perkembangan hubungan Inggris-Argentina
pada tahun 1982-1989, kemudian tahap kedua pada tahun 1989-2003 dan tahap
terakhir yaitu pada tahun 2003-2007. Ketiga tahap tersebut masih akan terus
berkembang hingga pada saat ini sehubungan kembali memanasnya hubungan

20 Argentina Un Pais Con Buena Gente, diambil dari http://www.mrecic.gov.ar/node/34997


Diakses pada tanggal 9 Juni 2015
18

kedua negara karena adanya kemunculan kembali persengketaan kepulauan


Falkland yang kemudian masyarakat kepulauan tersebut melakukan sebuah
referendum.

Dalam

referendum

tersebut

di

jelaskan

bahwa

masyarakat

kepulauan Falkland memilih tetap di bawah naungan pemerintahan Inggris dan


menjadi warga Inggris,21 keputusan referendum tersebut di anggap tidak sah
oleh Argentina karena Argentina tetap bersikukuh bahwa kepulauan Falkland
atau yang mereka sebut sebagai Malvinas merupakan bagian dari wilayah
teritorial Negaranya.
Pada tahun 1982 sampai dengan tahun 1989 hubungan diplomatik antara
Inggris dan Argentina berada pada fase paling buruk dalam hubungan bilateral
suatu negara, hubungan diplomatik kedua Negara tersebut sempat terputus atau
membeku. Adanya penarikan duta besar antara kedua Negara selama hampir
kurang lebih delapan tahun sebagai penanda masih memburuknya hubungn
kedua negara tersebut setelah adanya konflik. Hal ini juga menjadikan pola
perpolitikan Argentina mengalami perubahan terkait dengan sengketa kepulauan
Falkland.
Pada era kepemimpinan Carlos Menem hubungan antara Argentina dan
Inggris pada tahun 1989 mulai menunjukkan adanya upaya untuk kembali
memperbaiki hubungannya, adanya keinginan dalam memperbaiki hubungan
kedua Negara tersebut adalah adanya pertemuan yang di lakukan kedua negara
di Madrid, Spanyol, guna membahas kembali hubungan keduanya pada 19
oktober 1989. Pada kesempatan tersebut selain memperbaiki hubungan
diplomatiknya yang sempat terputus, hasil dari pertemuan kedua Negara
tersebut menghasilkan kesepakatan untuk membuat pernyataan bersama
tentang kerangka kedaulatan yang kemudian di kenal sebagai Sovereignty
Umbrella. Sovereignty Umbrella merupakan kesepakatan bersama antara Inggris
dan Argentina untuk mengesampingkan isu kedaulatan kepulauan Falkalnd
(Malvinas) ketika kedua negara menjalin hubungan bilateralnya yang berisi:
A. Perlindungan posisi kedua negara dalam isu kedaulatan kepulauan Falkland
(Malvinas).
B. Tidak ada tindakan di luar perjanjian yang di lakukan oleh salah satu pihak
untuk menegaskan posisi mereka dalam kepulauan Falkland (Malvinas).

21 Referendum Falkland, dalam


http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130312_referendum_falkla
nd.shtml diakses pada 9 Juni 2015
19

Setelah adanya pernyataan dan kesepakatan yang telah di bentuk oleh


kedua negara tersebut maka hubungan kerjasama bilateral kedua Negara
berjalan dengan baik, guna membangun dan meningkatkan perekonomian
kedua negara memulai membangun kerjasama bilateral dalam berbagai sektor
terutama

dalam

sektor

perdagangan,

dampak

positif

dari

membaiknya

hubungan kedua negara juga memberikan peluang untuk hasil komoditi


gandum argentina dapat memenuhi pasar kebutuhan pokok Negara-Negara di
benua eropa.
Pada September 1995, Argentina dan Inggris menandatangani suatu
perjanjian untuk meningkatkan eksplorasi minyak dan gas di Atlantik Barat
Daya, dan menghapuskan masalah yang potensial sulit serta membuka jalan
untuk kerja sama lebih jauh antara kedua negara. Pada tahun 1998, Presiden
Argentina (saat itu) Carlos Menem mengunjungi Inggris dalam kunjungan resmi
pertama oleh seorang presiden Argentina sejak tahun 1960-an.22
Hubungan kedua negara ini setelah berakhirnya Perang Malvinas memang
telah mulai membaik sejak era 90-an, namun tak bisa dipungkiri masih ada riakriak kecil yang timbul seperti pada 2007 saat Presiden Argentina (saat itu) Nestor
Kirchner menyatakan kemenangan yang diperoleh Pemerintah Inggris ketika
perang

untuk

memperebutkan

Malvinas

hanya

"kemenangan

kolonial"

sementara. Kirchner juga menegaskan kepada mantan Perdana Menteri (PM)


Inggris Margaret Thatcher bahwa Inggris memang memenangi perang karena
memperoleh dukungan dari negara-negara besar lainnya. Namun sebenarnya,
kata Kirchner, sampai sekarang rakyat Argentina sebagian besar menilai
Malvinas masih bagian Argentina.23
Menanggapinya,

mantan

PM

Thatcher

saat

berpidato

di

radio

memperingati 25 tahun Perang Malvinas, kembali menegaskan keputusannya


mengirim pasukan ke Atlantik Selatan pada bulan April 1982 adalah sebuah
tindakan yang benar. "Agresi sudah dikalahkan dan situasi sudah kembali pulih.
Ketika itu kami menjunjung tinggi keinginan rakyat setempat dan kami anggap
sangat penting," demikian kata Thatcher di radio. 24 Thatcher juga berpesan

22 http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/28/teropong/3559326.htm
23 ibid
24 http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/16/ln/3604487.htm
20

supaya rakyat Falkland tetap bisa hidup dengan cara-cara mereka sendiri sesuai
dengan situasi di Falkland untuk mencapai kesejahteraan di masa mendatang
dengan pemerintahan yang sesuai amanat hati nurani rakyat. Pesan Thatcher
tersebut seakan ingin menegaskan bahwa apa pun perubahan yang terjadi di
Inggris harus memperoleh dukungan dari rakyat kepulauan itu.
Dengan adanya referendum yang menguatkan pihak Inggris, Argentina
tetap tidak tinggal diam dan semakin bersemangat merebut kembali kepulauan
Falkland. Hingga saat ini Inggris memang masih menolak menyerahkan
Falkland/Malvinas kepada Argentina dengan alasan rakyat Falkland tidak
bersedia "kembali" ke wilayah Argentina. Pemerintah Inggris juga masih
mempertahankan markas militer yang besar di Kepulauan Falkland. Namun,
berbagai peninggalan zaman perang kini sudah dijadikan situs wisata (Seperti
kawasan ranjau, danau-danau bekas ledakan bom, dan berbagai monumen
untuk memperingati tentara-tentara yang gugur di medan perang).

3.4

Sengketa

Perebutan

Kepulauan

Falkland/malvinas

dalam

Perspektif Hukum Internasional Terhadap


Frontiers are the chief anxiety of nearly every Foreign Office in the
civilized world, demikian tukas Lord Curzon, mantan Wakil Kerajaan Inggris
dalam kuliahnya di Universitas Oxford pada tahun 1907. 25 Pernyataan itu
mengandung

kebenaran

profetis.

Dua

Perang

Dunia

yang

berkecamuk

sesudahnya tidak lepas dari ambisi teritorial sejumlah aktor penting percaturan
politik dunia pada masa itu.
Konflik-konflik internasional paling serius dalam sejarah umat manusia
seringkali berpangkal dari klaim wilayah yang tumpang tindih di sepanjang garis
perbatasan. Penelitian empiris di kemudian hari bahkan menunjukkan bahwa
dibandingkan isu lainnya, masalah perbatasan berpotensi dua kali lipat lebih
besar untuk tereskalasi menjadi konflik bersenjata.
Di berbagai penjuru dunia, kontrol atas wilayah merupakan sesuatu yang
diperebutkan

tanpa

ragu

mengorbankan

nyawa

manusia.

Kepulauan

Falkland/Malvinas adalah salah satu saksi sejarah pertumpahan darah akibat


perebutan wilayah. Peta dunia kontemporer seperti sekarang ini bukanlah
sesuatu yang statis.

25 ditpolkom.bappenas.go.id/?page=news&id=39
21

International Boundaries Research Unit (IBRU) di Universitas Durham


mengidentifikasi bahwa dewasa ini masih terdapat berpuluh-puluh perbatasan
darat dan laut serta klaim kedaulatan atas sejumlah pulau yang secara aktif
dipersengketakan.

Bahkan

masih

terdapat

ratusan

perbatasan

maritim

internasional yang belum disepakati oleh negara-negara yang berbatasan.


Memang, banyak di antara pertentangan yang terjadi baru berlangsung di
tataran diplomasi, namun tidak tertutup kemungkinan hal itu memburuk menjadi
konflik yang berujung perang: war starts where diplomacy ends.
Sejarah dunia hanya mengenal tiga cara untuk mensahkan perbatasan
antarnegara: negosiasi, litigasi, atau kekuatan bersenjata. Dalam studi konflik
internasional, dengan mudah terlihat bahwa sengketa wilayah masih merupakan
sumber pertentangan yang paling potensial. Dengan demikian, masalah
perbatasan antarnegara adalah suatu ancaman yang konstan bagi perdamaian
dan keamanan internasional. Karena menyangkut kedaulatan yang seringkali
sifatnya tidak dapat dinegosiasikan (non-negotiable), konflik teritorial tergolong
pertentangan yang paling sulit dipecahkan.
Negosiasi biasanya adalah cara yang pertama kali ditempuh oleh para
pihak yang bersengketa. Penyelesaian sengketa ini dilakukan secara langsung
oleh pihak yang bersengketa melalui dialog tanpa ada keikutsertaan dari pihak
ketiga. Dalam penentuan batas maritim, UNCLOS 1982 mendorong negaranegara untuk menentukannya melalui jalur perundingan. Indonesia juga sudah
mengimplementasikan ketentuan-ketentuan tersebut ke dalam hukum nasional.
Ketentuan UNCLOS yang mengharuskan negara untuk berunding adalah: 26
- Pasal 83 : Penetapan garis batas landas kontinen antara negara yang pantainya
berhadapan

atau

berdampingan

harus

dilakukan

dengan

persetujuan

berdasarkan hukum internasional sebagaimana tercantum dalam Pasal 38


Statuta Mahkamah Internasional untuk mencapai penyelesaian yang adil.
-

Pasal 74 : Penetapan ZEE antara negara yang pantainya berhadapan atau

berdampingan

harus

dilakukan

dengan

persetujuan

berdasarkan

hukum

internasional sebagaimana tercantum dalam Pasal 38 Statuta Mahkamah


Internasional untuk mencapai penyelesaian yang adil.
Perbatasan internasional juga merupakan faktor penting dalam upaya
identifikasi

dan

pelestarian

kedaulatan

nasional.

Bahkan

negara-negara

bertetangga yang menikmati hubungan yang paling bersahabat pun perlu


mengetahui secara persis lokasi perbatasan mereka guna menegakkan hukum

26 hukum.unsrat.ac.id/hi/unclos_terjemahan
22

dan peraturan masing-masing negara. Oleh karena itu, penetapan perbatasan


antarnegara secara jelas tidak hanya dapat mengurangi resiko timbulnya konflik
perbatasan di kemudian hari, tetapi juga dapat menjamin pelaksanaan hukum di
masing-masing sisi perbatasan.
3.5

Kendala Penyelesaian Sengketa Kepulauan Falkland/Malvinas


Sengketa kedaulatan pulau Malvinas atau Falkland terus mengundang

perdebatan dan kontroversi atas kepemilikan pulau yang diperebutkan Inggris


dan Argentina meskipun sudah 28 tahun,. Tahun 1982 di bulan Mei, perang
berskala besar terjadi antara kedua negara itu. Konon, perang Malvinas bukan
saja mempersoalkan mengenai perebutan pulau, namun juga ajang adu gengsi
dan harga diri dua negara.
Mulanya, disebabkan ketika sebuah kapal perang Inggris Clio pada tahun
1833 secara tiba-tiba muncul di Pulau Falkland dan berlabuh di sana dengan
menurunkan bendera Argentina yang terdapat pada pulau itu yang digantikan
dengan menaikkan The Union Jack. Hal ini memicu emosi Argentina karena
merasa harga dirinya di injak-injak dengan penurunan bendera itu. Setelah itu
kedua negara saling klaim dan saling tuduh kerena telah berbuat seenaknya
terhadap kepulauan itu. Sehingga sampailah terjadinya perang besar antara
Argentina dan Inggris dalam memperebutkan hak penuh atas kepulauan
Malvinas atau Falkland pada bulan Mei 1982, kedua negara sama-sama
mengerahkan pasukan dan persenjataan militernya untuk meraih kemenangan
walaupun Argentina lebih lemah secara militer dibanding Inggris tetapi Argentina
melakukan serangan lebih dulu dan mengerahkan militernya dengan sangat
maksimal, padahal kondisi dalam negeri Argentina saat itu sedang kacau
sepeninggal diktator Juan Peron.27
Keadaan di dalam negeri Inggris dan Argentina saat itu juga menjadi
sebab musabab kenapa perang yang mempertaruhkan sebuah pulau yang
memiliki cuaca buruk dan tidak terlalu menarik dari sisi ekonomi, harus terjadi.
Inggris yang ketika itu mengalami krisis pengakuan internasional sebagai negara
imperial,

mengambil

resiko

untuk

berperang

dengan

Argentina,

supaya

negaranya kembali mendapat pengakuan dan tak bisa diremehkan. Sedangkan


situasi

Argentina

yang

mengalami

kemerosotan

ekonomi

dan

krisis

27 (Angkasa, Guerra De Las Malvinas, 2007)


23

kepemimpinan sepeninggal seorang diktator yang menguasai negara itu,


sepakat melawan Inggris hanya untuk mengalihkan perhatian rakyatnya.
Rabu (19/5), kantor berita reuters melaporkan bahwa, Presiden Argentina,
Cristina Kirchner, kembali meminta dibukanya pintu perundingan masalah
kepulauan Malvinas (Falkland) dengan Inggris yang memanfaatkan

panggung

KTT Uni Eropa-Amerika Latin yang berlangsung di Madrid, Spanyol, untuk


menyampaikan seruan bagi dibukanya kembali perundingan masalah sengketa
kepulauan tersebut.28
Namun Inggris merespon dengan penolakan akan seruan Cristina ini, yang
menginginkan dibukanya kembali perundingan persengketaan. Pada Februari
2010, kedua negara juga mengalami ketegangan akibat sengketa klasik ini. Saat
itu, Christina mengeluarkan dekrit untuk mengontrol semua pelayaran ke dan
dari kepulauan itu. Walapun begitu, hubungan dan kerjasama kedua negara di
bidang lain tak terganggu dengan sejarah perang yang menewaskan sekitar
seribu orang itu.
Ada benarnya memang jika melihat niat Christina dalam hal ini Argentina
untuk berunding kembali dengan Inggris terkait masalah Malvinas (Argentina)
atau Falkland (Inggris). Kekhawatiran akan terbukanya kembali masalah ini di
masa mendatang terbuka lebar, bahkan bukan tak mungkin akan mempengaruhi
hubungan kedua negara akibat perang yang dahulu sebagian besar disebabkan
karena gengsi.

28 http://beta.kompasiana.com/nurulloh/sengketa-malvinas-tak-kunjung-usai
24

BAB IV
KESIMPULAN
Setelah membahas panjang tentang sengketa perebutan Pulau Falkland
dalam makalah ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa sengketa kepulauan

Falkland yang berlarut-larut dan pelik tidak mudah untuk diselesaikan. Meskipun
telah dilakukan negosiasi dan referendum, perang antara Inggris dan Argentina
dalam memperebutkan kedaulatan pulau Falkland terus berlangsung. Baik
Argentina maupun Inggris ingin menguasai Kepulauan Falkland. Melihat dari segi
historis, Argentina terus meng-klaim Pulau Falkland milik Argentina. Bagi
Argentina, kepulauan yang disebutnya Isla Malvinas itu merupakan bagian tak
terpisahkan dari wilayah kedaulatannya. Sebaliknya Inggris mengklaim bahwa ia
telah menguasainya sejak 1833. Pada 1982, kedua negara bahkan sempat
terlibat perang

yang dimenangkan

Inggris setelah Argentina mengambil

kepulauan itu. Inggris bersikeras tidak ingin menyerahkan kepulauan Falkland,


terutama setelah hasil referendum yang mendukung Inggris. Hal inipun
berimplikasi pada hubungan negara Argentina dengan Inggris.
Sengketa malvinas dan perang yang terjadi pastinya menimbulkan sebab
atau dampak yang signifikan bagi kedua belah pihak. Dari keadaan negara seperti
ekonomi dan keadaan psikologis masyarakat karna kekerasan dalam perang juga
pasti

ada.

sengketa

ini

Malvinas

harus

diselesaikan

melalui

mahkamah

internasional(pengadilan) yang bersifat hukum, tegas, dan mengikat, sehingga


permasalahan mengenai pulau tersebut tidak berlarut-larut. PBB juga diharapkan
untuk mendorong dan memfasilitasi mediasi kedua belah pihak agar tidak terulang
kembali penyelesaian sengketa melalui kekerasan.

25

DAFTAR PUSTAKA
Brig. Jend TNI. (Purn). GPH. Haryo Mataram, S.H, Bunga Rampai Hukum
Humaniter (Hukum Perang), Bumi Nusantara Jaya, Jakarta, 1988.
Helen Milner, The Assumption Of Anarchy in International Relations Theory : A
Critique, Review Of International Studies Vol. 17 No. 1, (London :
Cambridge Press, 1991).
Konflik Bersenjata dan Hukumnya, Universitas Trisakti, Jakarta, 2002
Prof. DR. Mochtar Kusumaatmadja, S.H, LLM, Konvensi-Konvensi Palang Merah
1949, Alumni, Bandung, 2002.
Rose, G. Neoclassical Realism and Theories of Foreign Policy, World Politics, vol.
51, no. 1, October 1998.
Ruizhang, Tipologi Realisme, dalam Asrudin & M.J. Suryana, Refleksi Teori
Hubungan

Inte

Liu

Feng

&

Zhang

rnasional

dari

Tradisional

ke

Kontemporer, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2009.


Terry Subagja, Raden, Overlapping Claim Blok Ambalat: DasarKlaim dan
Mekanisme Penyelesaian, Jurnal Diplomasi Kementerian Luar Negeri Vol.2
No.4, Desember 2010, hlm 72.
Zakaria, F.,Realism and domestic Politics: A Review Essay, International Security,
no. 17, Summer 1992.
Zulkarnain, S.H, M.H & Insarullah, S.H, Buku Ajar Hukum Humaniter dan HAM,
Fakultas Hukum Untad, Palu, 2002.

Website

26

Africa-South America Summit, Declaration de Malabo diambil dari


www.mrecic.gov.ar/userfiles/documentos-malvinas/asa_2013_
_declaracion_de_malabo.pdf
Argentina Un Pais Con Buena Gente, diambil dari http://www.mrecic.gov.ar.es/questionmalvinas-islands-0
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130312_referendum_falkland.shtml
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0705/28/teropong/3559326.htm
http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0706/16/ln/3604487.htm
hukum.unsrat.ac.id/hi/unclos_terjemahan
Referendum Falkland, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Falkland
Sengketa Malvinas Tak Kunjung Usai, dalam
http://beta.kompasiana.com/nurulloh/sengketa-malvinas-tak-kunjung-usai
The Economist http://www.economist.com/node/21548229
Warga Falkland memutuskantetapdibawahInggris, diakses dari
http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/03/130312_referendum_falkland.shtml

27