Anda di halaman 1dari 6

PENANGANAN DAN PEMANFAATAN BARANG BUKTI FORENSIK

DALAM KASUS PEMBOBOLAN ANJUNGAN TUNAI MANDIRI (ATM)


MENGGUNAKAN ROUTER
Tulisan oleh : Mohammad Faruq Afif (afif@fkip.uns.ac.id)

I.

PENDAHULUAN
Dunia cyber tidak selamanya menghasilkan hal-hal positif, sebab keahlian tersebut juga akan
berpeluang terjadinya tindak kejahatan, jika dimiliki oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Banyak hal yang bisa dilakukan dengan keahlian tersebut, seperti; penipuan lelang secara online,
pemalsuan cek, penipuan kartu kredit (carding), penipuan identitas, pornografi, pembobolan website.
Cybercrime merupakan istilah yang mengacu kepada aktivitas kejahatan dengan komputer
atau jaringan komputer menjadi alat, sasaran atau tempat terjadinya kejahatan. Termasuk ke dalam
kejahatan dunia maya antara lain adalah penipuan lelang secara online, pemalsuan cek, penipuan
kartu kredit/carding, confidence fraud, penipuan identitas, pornografi anak, dll.
POLRI, dalam hal ini unit cybercrime menggunakan parameter berdasarkan dokumen
kongres PBB tentang The Prevention of Crime and The Treatment of Offlenderes di Havana, Cuba
pada tahun 1999 dan di Wina, Austria tahun 2000, menyebutkan ada 2 istilah yang dikenal :

Cyber crime in a narrow sense (dalam arti sempit) disebut computer crime: any illegal
behaviour directed by means of electronic operation that target the security of computer

systemand the data processed by them.


Cyber crime in a broader sense (dalam arti luas) disebut computer related crime: any
illegal behaviour committed by means on relation to, a computer system offering or
system or network, including such crime as illegal possession in, offering or distributing
information by means of computer system or network.

Dari definisi yang dijabarkan oleh POLRI tersebut, Cybercrime dapat didefinisikan sebagai
bentuk-bentuk kejahatan yang ditimbulkan karena pemanfaatan teknologi internet, sebagai perbuatan
melawan hukum yang dilakukan dengan menggunakan internet yang berbasis pada kecanggihan
teknologi komputer dan telekomunikasi.

[1]

Computer Crime Dan Computer Related Crime adalah kasus yang mencemaskan seluruh
pengguna teknologi informasi pada umumnya. Pada tahun 2012, data yang di release oleh Symantec
menunjukkan bahwa setiap detik rata-rata terdapat 18 orang yang menjadi korban cybercrime dengan
total kerugian hingga mencapai angka US$179 per korban

[2]

. Data ini menunjukkan keberadaan Ilmu

Forensika begitu penting dalam membantu perangkat hukum.


Pada akhir bulan April 2015, nasabah Bank yang memiliki kartu ATM kembali dihantui
perasaan tidak nyaman setelah ditangkapnya sindikat pembobol uang nasabah melalui Anjungan
Tunai Mandiri (ATM) menggunakan router dan perangkat komputer

[3]

. Modus operandi sindikat ini

terbilang baru dalam kasus pembobolan ATM. Lebih lanjut, sindikat yang tertangkap ini adalah
sindikat internasional yang sudah dikenal di Eropa dan sudah melakukan perkara serupa juga di
Amerika Serikat.
Penangkapan sindikat pembobol ATM tersebut juga disertai alat bukti berupa perangkat
komputer, router, pembaca kartu magnetik, kartu magnetik, kamera kecil, uang hasil kejahatan, dll.
Pengumpulan alat bukti tersebut penting dalam upaya menjerat pelaku dan menentukan pasal yang
akan dikenakan. Bukti-bukti yang dikumpulkan tersebut harus benar-benar berkualitas untuk dapat
dijadikan alat bukti di pengadilan yang sah sesuai dengan hukum dan perundangundangan yang
berlaku.
Dalam ilmu kriminal dikenal istilah forensik, untuk membantu pengungkapan suatu kejahatan
melalui pengungkapan bukti-bukti yang sah menurut undang-undang dan peraturan yang berlaku.
Dalam hal pemanfaatan komputer, telepon genggam, email, internet, website, dan lain-lain untuk
melakukan kejahatan berbasis teknologi elektronik dan digital dikenal adanya ilmu computer
forensics atau forensik komputer, yang kerap dibutuhkan dan digunakan para penegak hukum dalam
usahanya untuk mengungkapkan peristiwa kejahatan melalui pengungkapan bukti-bukti berbasis
entitas atau piranti digital dan elektronik

[4]

. Forensik Komputer juga dikenal sebagai Digital Forensik.

Digital Forensic adalah salah satu subdivisi dari ilmu forensik yang melakukan pemeriksaan dan
menganalisa bukti legal yang ditemui pada komputer dan media penyimpanan digital, misalnya
seperti flash disk, hard disk, CD-ROM, pesan email, gambar, atau bahkan sederetan paket atau
informasi yang berpindah dalam suatu jaringan komputer.
Terkait dengan kasus diatas, forensik komputer dilakukan untuk mendapatkan bukti digital
dari perangkat komputer dan router untuk mendukung pengungkapan kejahatan agar dapat diajukan
di pengadilan.

II.

PEMBAHASAN
A. AKTIVITAS FORENSIK KOMPUTER
Menurut Richardus Eko Indrajit [4], secara metodologis, terdapat paling tidak 14 (empat belas)
tahapan yang perlu dilakukan dalam aktivitas forensik komputer, sebagai berikut:
1.

Pernyataan Terjadinya Kejahatan Komputer merupakan tahap dimana secara formal


pihak yang berkepentingan melaporkan telah terjadinya suatu aktivitas kejahatan

2.

berbasis komputer;
Pengumpulan Petunjuk atau Bukti Awal merupakan tahap dimana ahli forensik
mengumpulkan semua petunjuk atau bukti awal yang dapat dipergunakan sebagai

3.

bahan kajian forensik, baik yang bersifat tangible maupun intangible;


Penerbitan Surat Pengadilan merupakan tahap dimana sesuai dengan peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku, pihak pengadilan memberikan ijin resmi kepada
penyelidik maupun penyidik untuk melakukan aktiivitas terkait dengan pengolahan
tempat kejadian perkara, baik yang bersifat fisik maupun maya;

4.

Pelaksanaan Prosedur Tanggapan Dini merupakan tahap dimana ahli forensik


melakukan serangkaian prosedur pengamanan tempat kejadian perkara, baik fisik
maupun maya, agar steril dan tidak tercemar/terkontaminasi, sehingga dapat dianggap

5.

sah dalam pencarian barang-barang bukti;


Pembekuan Barang Bukti pada Lokasi Kejahatan merupakan tahap dimana seluruh

6.

barang bukti yang ada diambil, disita, dan/atau dibekukan melalui teknik formal tertentu;
Pemindahan Bukti ke Laboratorium Forensik merupakan tahap dimana dilakukan
transfer barang bukti dari tempat kejadian perkara ke laboratorium tempat dilakukannya

7.

analisa forensik;
Pembuatan Salinan 2 Bit Stream terhadap Barang Bukti merupakan tahap dimana

8.

dilakukan proses duplikasi barang bukti ke dalam bentuk salinan yang identik;
Pengembangan MD5 Checksum Barang Bukti merupakan tahap untuk memastikan

9.

tidak adanya kontaminasi atau perubahan kondisi terhadap barang bukti yang ada;
Penyiapan Rantai Posesi Barang Bukti merupakan tahap menentukan pengalihan
tanggung jawab dan kepemilikan barang bukti asli maupun duplikasi dari satu wilayah

10.

otoritas ke yang lainnya;


Penyimpanan Barang Bukti Asli di Tempat Aman merupakan tahap penyimpanan
barang bukti asli (original) di tempat yang aman dan sesuai dengan persyratan teknis

11.

tertentu untuk menjaga keasliannya;


Analisa Barang Bukti Salinan merupakan tahap dimana ahli forensik melakuka analisa
secara detail terhadap salinan barang-brang bukti yang dikumpulkan untuk mendapatkan

12.

kesimpulan terkait dengan seluk beluk terjadinya kejahatan;


Pembuatan Laporan Forensik merupakan tahap dimana ahli forensik menyimpulkan
secara detail hal-hal yang terjadi seputar aktivititas kejahatan yang dianalisa

13.

berdasarkan fakta forensik yang ada;


Penyerahan Hasil Laporan Analisa merupakan tahap dimana secara resmi dokumen

14.

rahasia hasil forensik komputer diserahkan kepada pihak yang berwajib; dan
Penyertaan dalam Proses Pengadilan merupakan tahap dimana ahli forensik menjadi
saksi di pengadilan terkait dengan kejahatan yang terjadi.

B. PENANGANAN BUKTI FORENSIK


Para ahli dalam bidang forensik, khususnya forensik digital mempunyai standar dalam proses
penanganan barang bukti. Hal tersebut dilakukan supaya dalam proses penyidikan, dimana data yang
didapatkan berasal dari sumber aslinya, supaya tidak adanya manipulasi baik isi, bentuk, maupun
kualitas dari data digital tersebut.
Terkait dunia forensik digital terdapat prinsip dasar dan prosedur yang memegang peranan
penting untuk mengarahkan pemeriksaan bukti digital untuk tetap berada pada jalur yang benar.
Memiliki hardware/software namun tidak memahami tentang prinsip dasar dan prosedur digital
forensik, maka bisa jadi akan melangkah kearah yang salah dalam pemeriksaan digital forensik itu
sendiri. Analogi untuk hal ini adalah penggunaan senjata. Seseorang memiliki senjata yang canggih,
namun ia tidak paham prosedur bagaimana cara menggunakannya dengan benar, maka ia tidak akan
maksimal menggunakannya, atau malah bisa mencalakakan diri sendiri atau orang lain. Hal ini
diharapkan tidak terjadi dalam dunia digital forensic. [5]

SOP

juga

dirancang

untuk

menghasilkan

pemeriksaan

bukti

yang

dapat

dipertanggunggjawabkan. Ketika hasil pemeriksaan dipertanyakan, dapat dikaji ulang / dianalisis oleh
pihak ketiga. Dengan SOP yang sama, hasilnya harus sama. SOP juga dibentuk untuk menunjukkan
bahwa langkah-langkah ilmiah yang tepat masih lebih baik dan lebih berharga daripada hardware /
software. Hardware / software hanya alat untuk analis/penyidik.
Sebuah SOP yang baik harus tidak mengandung atau menyebutkan nama hardware /
software. SOP hanya berisi langkah-langkah pemeriksaan. Penerapan dengan menggunakan
hardware / software, tergantung pada analis / penyidik untuk memilih hardware / software yang dapat
memberikan hasil terbaik.
Lin

[6]

memaparkan dalam the Digital Evidence Standard Operate Procedure (DESOP),

Penanganan Bukti Forensik terdiri dari 4 tahapan utama:


1. Concept phase: meliputi a) principles, b) regulations, c) cognitive and other procedures.
2. Preparation phase: a) licensing and information security policies, b) collecting basic data
for objects, c) determining person, event, time, place, object, and reason, d) preparation
of tools, information and training.
3. Operational phase: a) collection, b) analysis, c) identification and other procedures.
4. Report phase: a) writing, presenting, and briefly reporting, b) verifying the forensic
results, c) court preparation, d) case filing and review.
PUSLABFOR POLRI juga memiliki sejumlah SOP dalam hal penanganan bukti forensik
dalam analisa digital forensik sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.

[5]

SOP 1 tentang prosedur analisa forensik digital


SOP 2 tantang komitmen jam kerja
SOP 3 tentang pelaporan forensik digital
SOP 4 tentang menerima barang bukti elektronik dan/atau digital
SOP 5 tentang penyerahan kembali barang bukti elektronik dan/atau digital
SOP 6 tentang triage forensik (penanganan awal barang bukti komputer di TKP)
SOP 7 tentang akuisisi langsung
SOP 8 tentang akuisisi harddisk, flashdisk dan memory card
SOP 9 tentang analisa harddisk, flashdisk dan memory card
SOP 10 tentang akuisisi ponsel dan simcard
SOP 11 tentang analisa ponsel dan simcard
SOP 12 tentang analisa forensik audio
SOP 13 tentang analisa forensik video
SOP 14 tentang analisa gambar digital
SOP 15 tentang analisa forensik jaringan

Berdasarkan SOP 1 tentang prosedur analisa forensik digital, barang bukti dalam analisa
digital forensik dikelompokkan menjadi 6 kategori sesuai dengan prosedur penanganan analisa [7]:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Hardisk, Flashdisk dan Memory card


Handphone dan Simcard
Forensik Audio
Forensik Video
Forensik Gambar Digital
Forensik Jaringan

Pada umumnya, prosedur analisa forensik digital sesuai dengan SOP 1 tentang prosedur
analisa forensik digital meliputi [7]:

a.
b.
c.
d.
e.

Penerimaan barang bukti


Akuisisi
Pemeriksaan dan Analisa
Pelaporan Forensik Digital
Penyerahan Kembali barang bukti elektronik

Setiap pemeriksaan dan analisa barang bukti forensik memiliki SOP yang berbeda-beda.
kecuali pada SOP menerima barang bukti elektronik dan/atau digital (a), pelaporan forensik digital (d)
dan penyerahan kembali barang bukti elektronik dan/atau digital (e). Namun hampir semua kategori
tersebut menerapkan SOP tentang akuisisi harddisk, flashdisk dan memory card

kecuali

pemeriksaan dan analisa ponsel dan simcard yang menggunakan SOP tentang akuisisi ponsel dan
simcard (b). Semua kategori pemeriksaan dan analisa memiliki SOP masing-masing (c) seperti yang
terlihat ditabel dibawah ini. [8]
SOP

Barang Bukti Elektronik


dan/atau digital
Hardisk, Flashdisk dan
Memory card
Handphone dan Simcard
Forensik Audio
Forensik Video
Forensik Gambar Digital
Forensik Jaringan

d
d
d
d
d

a
a
a
a
a

e
e
e
e
e

b
b
b
b

1
0

11

15

c
c
c
c
c

Tabel 1. Penanganan Barang Bukti Sesuai dengan SOP 1 tentang prosedur analisa forensik
digital

III.

KESIMPULAN
1.
Pemeriksaan dan analisis digital forensic secara tuntas haruslah dilakukan dalam
kasus computer crime dan secara komprehensif sesuai dengan prinsip dan prosedur

IV.

dasar digital forensic dengan mengikuti Standart Operating Procedure (SOP).


DAFTAR PUSTAKA
1.
Balian Zahab (2009). Definisi Pengertian Dan Jenis-Jenis Cybercrime Berikut Modus
Operandinya. [Online] Accessed on
http://www.ubb.ac.id/menulengkap.php?judul=DEFINISI%20PENGERTIAN%20DAN
%20JENISJENIS%20CYBERCRIME%20BERIKUT%20MODUS
2.

%20OPERANDINYA&&nomorurut_artikel=353
Symantec. (2012). 2012 Norton Cybercrime Report (p.27). [Online] Accessed on
http://nowstatic.norton.com/now/en/pu/images/Promotions/2012/cybercrimeReport/2012_Norton_C

3.
4.
5.

ybercrime_Report_Master_FINAL_050912.pdf
http://nasional.kompas.com/read/2015/04/21/09004721/Ini.Alasan.Sindikat.Pembobol.AT
M.Beraksi.di.Indonesia
Richardus Eko Indrajit. Forensik Komputer. [Online] Accessed on
http://folder.idsirtii.or.id/pdf/IDSIRTII-Artikel-ForensikKomputer.pdf
AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, M.Sc., CHFI, CEI (2013). Standard Operating
Procedures (SOPs) on Digital Forensic. [Online]. Accessed on

6.

http://forensiccop.blogspot.com/2013/04/standard-operating-procedures-sops-on_56.html
Yun-Sheng Yen, dkk. (2012). A Study on Digital Gorensic Standard Operation Procedure
for Wireless Cybercrime. International Journal of Computer Engineering Science (IJCES)

7.

Volume 2 Issue 3 (March 2012) ISSN : 2250:3439


AKBP Muhammad Nuh Al-Azhar, M.Sc., CHFI, CEI (2013). SOP 1 about Digital Forensic

8.

Examination Procedure. [Online]. Accesed on


http://forensiccop.blogspot.com/2013/04/sop-1-about-digital-forensic.html
Dedi Hariyadi. (2014). Komparasi Penanganan Barang Bukti Elektronik dan/atau Barang
Bukti Digital Sesuai SOP Pusat Laboratorium Forensik Polisi Republik Indonesia.
Retrieve from http://www.slideshare.net/milisdad/paper-1dedy13917112