Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Krisis ekonomi yang berkepanjangan telah menyebabkan meningkatnya jumlah
penderita penyakit jiwa, terutama gangguan kecemasan. Berbagai macam krisis yang
terjadi sebenarnya bukan krisis ekonomi sebagai pangkal masalahnya, melainkan
mendasar pada kesehatan mental bangsa ini sendiri.Minimnya perhatian terhadap
kesehatan mental bangsa termanifestasi dalam begitu banyak masalah yang disebut krisis
multidimensional.

Pernyataan

ini

dinyatakan

dengan

jelas

oleh

dr. Danardi

Sosrosumihardjo, Sp.K.J., dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia


(PDSKJI) dalam konferensi pers Konvensi Nasional Kesehatan Jiwa ke-2, yang bertema
Kesehatan Jiwa Masyarakat, Kesehatan Jiwa Bangsa, pada hari Kamis (9/ 10) di
Jakarta.
Pernyataan ini bukanlah tanpa dasar.Krisis ekonomi yang terus berkepanjangan
ternyata meninggalkan kisah-kisah menyedihkan dengan meningkatnya jumlah penderita
ganngguan jiwa, terutama jenis ansietas (gangguan kecemasan).Gejala gangguan
kesehatan mental yang mencakup mulai dari gangguan kecemasan, depresi, panik hingga
gangguan jiwa yang berat seperti Schizoprenia hingga pada tindakan bunuh diri, semakin
mewabah di tengah masyarakat.Dari sekian jumlah penderita yang ada baru 8% yang
mendapatkan pengobatan yang memadai.Sedangkan selebihnya tidak tertangani.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi ansietas?
2. Apa saja gejala umum ansietas?
3. Apa faktor presdiposisi dan faktor presipitasi pada klien dengan ansietas?
4. Apa saja penggolongan ansietas?
5. Apa saja macam - macam gangguan pada ansietas?
6. Bagaimana gambaran klinis pada klien dengan ansietas?
7. Apa asuhan keperawatan pada klien dengan ansietas?
C. TUJUAN
Tujuan Umum :
Untuk menambah pengetahuan dan penanganan mengenai klien dengan gangguan
kecemasan
Tujuan Khusus :
1

Diharapkan mahasiswa mampu :


1. Mengetahui definisi ansietas
2. Mengetahui gejala umum ansietas
3. Mengetahui faktor presdiposisi dan faktor presipitasi pada klien dengan ansietas
4. Mengetahui penggolongan ansietas
5. Mengetahui macam - macam gangguan pada ansietas
6. Mengetahui gambaran klinis pada klien dengan ansietas
7. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan ansietas
D. Manfaat
1. Memberikan informasi kepada pembaca seputar kecemasan pada pasien dengan
gangguan jiwa
2. Menambah pengetahuan bagaimana menghadapi pasien dengan gangguan kecemasan
3. Dapat dijadikan referansi untuk pembuatan makalah selanjutnya

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI ANSIETAS
Ansietas adalah perasaan tidak senang yang khas yang disebabkan oleh dugaan
akan bahaya atau frustasi yang mengancam yang akan membahayakan rasa aman,
keseimbangan, atau kehidupan seseorang individu atau kelompok biososialnya (J.J
GROEN).
Kecemasan adalah ketegangan, rasa tidak aman dan kekawatiran yang timbul
karena dirasakan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan tetapi sumbernya sebagian
besar tidak diketahui dan berasal dari dalam (DepKes RI, 1990).
2

Gejala kecemasan baik sifatnya akut maupun kronik (menahun) merupakan


komponen utama bagi hampir semua gangguan kejiwaan (psychiatric disorder).Secara
klinis gejala kecemasan dibagi dalam beberapa kelompok yaitu : gangguan cemas
(anxiety disorder), gangguan cemas menyeluruh (generalized anxiety disorder / GAD),
gangguan panik (panic disorder), gangguan fobia (Phobic disorder), dan gangguan
obsesif-komplusif (obsessive-complusive disorder).
B. KARAKTERISTIK ANSIETAS
a. Merupakan emosi
b. Bisa ditularkan
c. Terjadi akibat adanya ancaman pada harga diri, identitas diri
d. Perlu adanya keseimbangan antara keberanian dan kecemasan
C. FAKTOR PRESDIPOSISI DAN FAKTOR PRESIPITASI
a. Faktor Presdiposisi
a) Biologi
Model biologis menjelaskan bahwa ekpresi emosi melibatkan struktur
anatomi di dalam otak (Fortinash, 2008). Aspek biologis yang menjelaskan
gangguan ansietas adalah adanya pengaruh neurotransmiter. Tiga neurotransmiter
utama yang berhubungan dengan ansietas adalah norepineprin, serotonin dan
gamma-aminobutyric acid (GABA)
b) Psikologis
Stuart dan Laraia (2005) menjelaskan bahwa aspek psikologis memandang
ansietas adalah konflik emosional yang terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu
id dan superego. Menurut Tarwoto dan Wartonah (2003), maturitas individu, tipe
kepribadian dan pendidikan juga mempengaruhi tingkat ansietas seseorang.
Ketegangan dalam kehidupan yang dapat menimbulkan

ansietas diantaranya

adalah peristiwa traumatik individu baik krisis perkembangan maupun situasional


seperti peristiwa bencana, konflik emosional individu yang tidak terselesaikan
dengan baik, konsep diri terganggu.
c) Sosial Budaya
Riwayat gangguan ansietas dalam keluarga akan mempengaruhi respon
individu dalam berespon terhadap konflik dan cara mengatasi ansietas. Tarwoto
3

dan Wartonah (2003) memaparkan jika sosial budaya, potensi stres serta
lingkungan merupakan faktor yang mempengaruhi terjadinya ansietas.
b. Faktor Presipitasi
a) Biologi
Gangguan fisik adalah suatu keadaan yang terganggu secara fisik oleh
penyakit maupun secara fungsional berupa penurunan aktivitas sehari-hari. Stuart
& Laraia (2005) mengatakan bahwa kesehatan umum individu memiliki efek nyata
sebagai presipitasi terjadinya ansietas. Apabila kesehatan individu terganggu, maka
kemampuan individu untuk mengatasi ancaman berupa penyakit (gangguan fisik)
akan menurun.
b) Psikologi
Ancaman terhadap integritas fisik dapat mengakibatkan ketidakmampuan
psikologis atau penurunan aktivitas sehari-hari seseorang. Ancaman eksternal yang
terkait dengan kondisi psikologis dan dapat mencetuskan terjadinya ansietas
diantaranya adalah peristiwa kematian, perceraian, dilema etik, pindah kerja,
perubahan dalam status kerja. Sedangkan yang termasuk ancaman internal yaitu
gangguan hubungan interpersonal dirumah, ditempat kerja atau ketika menerima
peran baru (istri, suami, murid dan sebagainya).
c) Sosial Budaya
Status ekonomi dan pekerjaan akan mempengaruhi timbulnya stres dan lebih
lanjut dapat mencetuskan terjadinya ansietas (Tarwoto & Wartonah, 2003). Orang
dengan status ekonomi yang kuat akan jauh lebih sukar mengalami stres dibanding
mereka yang status ekonominya lemah. Hal ini secara tidak langsung dapat
mempengaruhi seseorang mengalami ansietas, demikian pula fungsi integrasi
sosialnya menjadi terganggu yang pada akhirnya mencetuskan terjadinya ansietas.
D. TINGKAT ANSIETAS
a. Ansietas ringan
Ansietas ringan adalah perasaan bahwa ada sesuatu yang berbeda dan membutuhkan
perhatian khusus.
b. Ansietas sedang

Ansietas sedang merupakan perasaan yang mengganggu bahwa ada sesuatu yang
benar-benar berbeda, individu menjadi gugup atau agitasi
c. Ansietas berat
Ansietas berat dialami ketika individu yakin bahwa ada sesuatu yang berbeda da nada
ancaman; ia memperhatikan respon takut dan distres
d. Panic
Serangan panic adalah suatu episode ansietas yang cepat intens, dan meningkat,
berlangsung 15-30 menit, ketika individu mengalami ketakutan emosional yang besar
juga ketidaknyamanan fisiologis. Ciri-ciri panic:
Hilang control
Tidak dapat melakukan sesuatu tanpa perintah atau arahan
Disorganisasi kepribadian
Meningkatkan aktivitas motoric
Menurunnya kemampuan menghubung-hubungkan
Distrosi persepsi
Hilangnya pikiran rasional
Hilangnya komunikasi dan fungsi efektif
Bila berlangsung berkepanjangan menyebabkan exhaustion- kematian
E. TANDA DAN GEJALA
a. Respons fisik :
1. Kardiovaskular
palpitasi, jantung bedebar, tekanan darah meninggi, denyut nadi cepat
2. Pernafasan
Napas cepat, napas pendek, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan
pada tenggorokan, terengah engah
3. Neuromuskular
Refleks meningkat, insomnia, tremor, gelisah, wajah tegang, kelemahan umum,
kaki goyah, gerakan yang janggal
4. Gastrointestinal
Anoreksia, diare/konstipasi, mual, rasa tidak nyaman pada abdomen
5. Traktur urinarius
Sering berkemih dan tidak dapat menahan kencing
6. Kulit
Wajah kemerahan, berkeringat, gatal, rasa panas pd kulit
b. Respons Kognitif :
Lapang persepsi menyempit, tidak mampu menerima rangsang luar, berfokus
pada apa yang menjadi perhatiannya
c. Respons Perilaku :
Gerakan tersentak-sentak, bicara berlebihan dan cepat, perasaan tidak aman
d. Respons Emosi :
5

Menyesal, iritabel, kesedihan mendalam, takut, gugup, sukacita berlebihan,


ketidakberdayaan

meningkat

secara

menetap,

ketidakpastian,

kekhawatiran

meningkat, fokus pada diri sendiri, perasaan tidak adekuat, ketakutan, distressed,
khawatir, prihatin.
e. Gejala fisik:
Gemetar, berkeringat, jantung berdebar, kepala terasa ringan, pusing, ketegangan otot,
mual, sulit bernafas, baal, diare, gelisah, rasa gatal, gangguan di lambung dan lainlain. Keluhan yang dikemukakan pasien dengan anxietas kronik seperti: rasa sesak
nafas; rasa sakit dada; kadang-kadang merasa harus menarik nafas dalam; ada sesuatu
yang menekan dada; jantung berdebar; mual; vertigo; tremor; kaki dan tangan merasa
kesemutan; kaki dan tangan tidak dapat diam ada perasaan harus bergerak terus
menerus; kaki merasa lemah, sehingga berjalan dirasakan beret; kadang- kadang ada
gagap dan banyak lagi keluhan yang tidak spesifik untuk penyakit tertentu. Keluhan
yang dikemukakan disini tidak semua terdapat pada pasien dengan gangguan anxietas
kronik, melainkan seseorang dapat saja mengalami hanya beberapa gejala 1 keluhan
saja.Tetapi pengalaman penderitaan dan gejata ini oleh pasien yang bersangkutan
biasanya dirasakan cukup gawat.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN
a. Factor predisposisi
Psikoanalisa ( elemen id dan super ego). Stuart dan Laraia (2005) menjelaskan
bahwa aspek psikologis memandang ansietas adalah konflik emosional yang
terjadi antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Dorongan insting
dan hati nurani. Ansietas meningkatkan ego akan adanya bahaya yang perlu
diatasi. Ketegangan dalam kehidupan yang dapat menimbulkan ansietas
diantaranya adalah peristiwa traumatik individu baik krisis perkembangan
maupun situasional seperti peristiwa bencana, konflik emosional individu

yang tidak terselesaikan dengan baik, konsep diri terganggu.


Interpersonal. Terjadi karena ketakutan penolakan dalam

hubungan

interpersonal. Dihubungkan dengan trauma masa pertumbuhan ( kehilangan,

perpisahan). Harga diri rendah mudah mengalami ansietas.


Perilaku. Diakibatkan oelh frustasi yang mengganggu pencapaian tujuan.
Kondisi keluarga. Ansietas dapat timbul dalam keluarga adanya overlaps

gangguan ansietas dan depresi.


Keadaan biologis. Disebabkan oleh penyakit fisik atau keabnormalan. Aspek
biologis yang menjelaskan gangguan ansietas adalah adanya pengaruh
neurotransmiter. Tiga neurotransmiter utama yang berhubungan dengan
ansietas adalah norepineprin, serotonin dan gamma-aminobutyric acid

(GABA).
b. Factor presipitasi
Ancaman integritas fisik. Ketidakmampuan fisiologis dan menurunnya

kemampuan melaksanakan ADL.


Ancaman terhadap system diri. Mengancam identitas, harga diri, integritas
social.
7

c. Mekanisme koping
d. Prilaku
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut NANDA
a. Ansietas
b. Koping individu tidak efektif
c. Takut
C. STRATEGI PELAKSANAAN (SP)TINDAKAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
ANSIETAS
a. Pertemuan 1
1. Kondisi Klien
Data Subjektif
:
1) Klien mengatakan takut jika pasien berada dirumah.
2) Klien mengatakan dulu klien pernah dijahati oleh tetanganya.
3) Klien mengatakan sulit tidur
4) Klien mengatakan tidak nafsu makan.
Data Objektif
Klien terlihat seperti orang bingung
2. Diagnosa Keperawatan
Ansietas
3. Tujuan Tindak Keperawatan
1) Tujuan Umum
: mengatasi gangguan ansietas klien.
2) Tujuan Khusus :
Pasien mampu membina hubungan saling percaya
Pasien mampu mengenal ansietas
Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi
Pasienmampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi untuk
mengatasi ansietas
4. Tindakan Keperawatan
1) Membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar pasien
merasa aman dan nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus dilakukan
dalam membina hubungan saling percaya adalah
Mengucapkan salam terapeutik
Berjabat tangan
Menjelaskan tujuan interaksi
Membuat kontrak (topik, waktu, tempat, tujuan) setiap kali bertemu
pasien
2) Membantu pasien mengenal ansietas :
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya
Bantu pasien menjelaskan situasi yang menimbulkan ansietas
8

Bantu pasien mengenal penyebab ansietas


Bantu pasien menyadari perilaku akibat ansietas
3) Mengajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa
percaya diri : pengalihan situasi
5. Strategi Komunikasi
1) Fase Orientasi
i. Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi Bu! Saya perawat yang bertugas pada pagi
ini,

nama

saya

nia. Saya

adalah

mahasiswa

dari

POLTEKKES

SEMARANG.Nama Ibu siapa?


Ibu senangnya dipanggil apa?
ii. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan Ibu hari ini?semalam tidurnya nyenyak?
iii.
Kontrak :
Topik
Bagaimana jika sekarang kita berbincang-bincang tentang kecemasan
dan latihan cara mengontrol cemasdengan latihan relaksasi
Waktu
Berapa lama ibu punya waktu untuk berbincang-bincang dengan saya?
Bagaimana kalau 15 menit saja
Tempat
Dimana ibu mau berbincang-bincang dengan saya? Ya sudah,
Bagaimana jika diruangan ini saja kita berbincang-bincang
Tujuan
Agar ibu dapat mengetahuikecemasan yang ibu rasakan serta cara
mengatasinya
2) Fase Kerja
Sekarang coba ibu ceritakan apa yang ibu rasakan saat ini
Coba Ibu ceritakan pada saya
Ouw jadi ibu merasa takut jika tetangga ibu melakukan tindakan
kejahatan kepada ibu.

Jika boleh saya tahu, bagaimana cara Ibu

mengatasinya
Saya mengerti bagaimana perasaan Ibu. Setiap orang akan memiliki
perasaan yang sama jika diposisi Ibu. Tapi saya sangat kagum sama Ibu
Karena Ibu mampu menahan semua cobaan ini. Ibu adalah orang yang
luar biasa.Yang perlu Ibu ketahui adalah Ibu saat ini berada pada tingkat
kecemasan yang sedang.Untuk itu, Ibu perlu melakukan terapi disaat ibu
merasakan perasaan cemas yang berat. Terapi ini akan membantu
9

menurunkan tingkat kecemasan Ibu. Bagaimana kalau sekarang kita coba


mengatasi kecemasan ibu dengan latihan relaksasi dengan cara tarik
nafas dalam, ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi
kecemasan yang ibu rasakan
Bagaimana kalau kita latihan sekarang, Saya akan lakukan, ibu
perhatikan saya, lalu ibu bisa mengikuti cara yang sudah saya ajarkan.
Kita mulai ya bu. Ibu silakan duduk dengan posisi seperti saya. Pertamatama, ibu tarik nafas dalam perlahan-lahan, setelah itu tahan nafas dalam
hitungan tiga setelah itu ibu hembuskan udara melalui mulut dengan
meniup udara perlahan-lahan. Sekarang coba ibu praktikkan
Bagus sekali, ibu sudah mampu melakukannya. ibu bisa melakukan
latihan ini selama 5 sampai 10 kali sampai ibu merasa relaks atau santai.
Selain cara tersebut untuk mengatasi kecemasan ibu, ibu bisa melakukan
dengan metode pengalihan yaitu dengan ibu melepas kecemasan dengan
tertawa, berolahraga, menulis kecemasan ibu disebuah kertas,bersantai
seperti

jalan-jalan

atau

ibu

juga

bisa

mengatasinya

dengan

mendengarkan musik.
3) Fase Terminasi
i.
Evaluasi
Subyektif
Bagaimana perasaan ibu setelah kita ngobrol tentang masalah yang
ibu rasakan dan latihan relaksasi?
Obyektif
Coba ibu ulangi lagi cara yang sudah kita pelajari.
ii.
Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Jam berapa ibu akan berlatih lagi melakukan cara ini?
Mari, kita masukkan dalam jadwal harian ibu. Jadi, setiap ibu merasa
cemas, ibu bisa langsung praktikkan cara ini
iii.
Kontrak yang akan datang
Topik
Cara yang kita praktikkan tadi baru mengurangi sedikit
kecemasan yang ibu rasakan, bagamana jika kita latihan kembali
besok bu? Jangan lupa ibu mencoba teknik yang lain untuk

mengurangi kecemasan ibu ya


Waktu

10

Bagaimana

kalau

kita

latihan

cara

yang

kedua

ini

besok, dengan jamyang sama seperti hari ini.Berapa lama ibu


punya waktu untuk berbincang-bincang dengan saya besok?

Bagaimana kalau 20 menit saja


Tempat
Dimana ibuakanlatihan dengan saya besok? Ya sudah,
bagaimana kalau besok kita melakukannya disini saja

b. Pertemuan ke-2
1. Kondisi Klien
Data Subjektif
:
Klien mengatakan takut jika pasien berada dirumah.
Klien mengatakan dulu klien pernah dijahati oleh tetanganya.
Klien mengatakan sulit tidur
Klien mengatakan tidak nafsu makan.
Data Objektif
Klien terlihat seperti orang bingung
2. Diagnosa Keperawatan
Ansietas
3. Tujuan Tindakan Keperawatan
1) Tujuan Umum
Mengatasi gangguan ansietas klien
2) Tujuan Khusus
Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik distraksi untuk

mengatasi ansietas
Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik distraksi
Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik distraksi untuk

mengatasiansietas
4. Tindakan Keperawatan
1) Ajarkan pasien teknik distraksi untuk meningkatkan kontrol diri dan
mengurangi ansietas :
Melakukan hal yang disukai
Menonton TV
Mendengarkan music yang disukai
Membaca koran, buku atau majalah
2) Motivasi pasien untuk melakukan teknik distraksi setiap kali ansietas muncul
5. Strategi Komunikasi
1) Fase Orientasi
i.
Salam Terapeutik
Assalamualaikum, Selamat pagi ibu ! Saya perawat yang bertugas
pada pagi ini, saya yusuf, Ibu bisa memanggil saya Teguh. Saya adalah
11

mahasiswa dari POLTEKKES JAKARTA III.Nama ibu siapa?Ibu


ii.

iii.

senangnya dipanggil apa?


Evaluasi/Validasi
Bagaimana perasaan ibu hari ini? Apakah ibu sudah melatih cara
mengalihkan situasi untuk menghilangkan kecemasan ibu?
Kontrak :
Topik
Baiklah ibusesuai janji kita kemarin, hari ini saya datang kembali
untuk mendiskusikan tentang latihan distraksi dengan tehnik

pengalihan.
Waktu
Berapa lama kita akan berlatih ibu? Bagaimana jika 10 menit?
Tempat
Dimana kita akan berdiskusi? Bagaimana jika di halaman
samping?
Tujuan
Tujuan dari latihan hari ini adalah agar ibu dapat meningkatkan
kontrol kecemasan pada diri ibu dan ibu dapat mempraktekkannya

dalam kehidupan sehari-hari ibu.


2) Fase Kerja
Ibu, kemarin waktu kita diskusi ibu mengatakan bahwa saat cemas rasanya
seluruh badan ibu tegang, baik pikiran maupun fisik.Nah, latihan distraksi ini
bermanfaat untuk mengalihkan rasa cemas ibu sehingga membuat pikiran
dan fisik ibu relak atau santai.Dalam teknik ini ibu harus melakukan hal-hal
yang dapat membuat ibu relak misalnya dengan menonton acara televisi
kesukaan ibu, membaca buku atau majalah yang ibu suka, atau dengan
mendengar music yang ibu sukai. Nah, sekarang ibu sudah tau kan hal-hal
apa saja yang dapat ibu lakukan untuk mengurangi rasa cemas ibu. Nanti
apabila ibu merasa cemas lagi, ibu bisa melakukan salah satu teknik distraksi
atau pengalihan yang saya beritahu tadi.
3) Fase Terminasi
i.
Evaluasi
Subjektif
Bagaimana apa ada yang ingin ibu tanyakan dari penjelasan saya

tadi?
Objektif

12

Coba ibu ulangi lagi cara yang sudah kita pelajari. Wah bagus
sekali,nanti jika ibu merasa cemas, ibu dapat melakukan teknik
ii.

iii.

ditraksi yang tadi saya jelaskan ya.


Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Kapan ibu akan mulai mencoba melakukan cara ini? Baiklah setiap ibu
merasa cemas, ibu bisa langsung mempraktikkan cara ini.
Kontrak yang akan datang
Topik
Nah, ibu, masih ada cara yang bisa digunakan untuk mengatasi
kecemasan ibu yaitu dengan teknik hipnotis diri sendiri atau hipnotis

dengan 5 jari.
Waktu
Bagaimana kalau kita latihan cara yang ketiga ini besok

dengan jamyang sama seperti hari ini?


Tempat
Mau latihan dimana kita bu? Bagaimana jika disini lagi ? Apa
masih ada yang mau ditanyakan bu? Baiklah kalau tidak ada saya
pamit dulu. Selamat siang.

c. Pertemuan ke-3
1. Kondisi Klien
Data Subjektif
:
Klien mengatakan takut jika pasien berada dirumah.
Klien mengatakan dulu klien pernah dijahati oleh tetanganya.
Klien mengatakan sulit tidur
Klien mengatakan tidak nafsu makan.
Data Objektif
Klien terlihat seperti orang bingung
Klien tampak seperti orang bingung
Klien sulit berkonsentrasi
2. Diagnosa Keperawatan
Ansietas
3. Tujuan Tindakan Keperawatan
1) Tujuan Umum :
Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi hipnotis 5 jari
2) Tujuan Khusus :
Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi hipnotis 5
jari untuk mengatasi ansietas
4. Tindakan Keperawatan
1) Mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien
2) Menjelaskan cara teknik relaksasi hipnotis 5 jari
13

3) Membantu pasien mempraktikkan teknik relaksasi hipnotis 5 jari dan


memasukkan dalam jadwal
4) Menganjurkan pasien memasukkan dalam jadwal kegiatan harian
5. Strategi Komunikasi
1) Fase Orientasi
i. Salam Terapeutik
Selamat pagi ibu
ii. Evaluasi/validasi
Bagaimana perasaan ibu pagi ini? Apakah ibu masih gelisah dan
tidak bisa tidur?Apakah yang kemaren saya ajarkan sudah di
praktekkan dalam jadwal harian ibu? Nah kalau sudah coba di
iii.

praktikkan kembali ya. Bagus bu


Kontrak :
Topik, Waktu, dan Tempat
Baiklah bu, bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang
tentang perasaan yang ibu rasakan? Dan saya akan mengajarkan
ibu teknik relaksasi hipnotis 5 jari untuk menghilangkan rasa
gelisah ibu.Kita akan berbincang-bincang selama 30 menit. Kita

akan lakukan disini saja ya bu.


Tujuan
Tujuan perbincangan kita hari ini adalah agar ibu mengetahui
cara untuk menghilangkan rasa gelisah ibu dengan teknik
relaksasi hipnotis 5 jari dan ibu dapat mempraktekkan ketika rasa

gelisah ibu datang kembali.


2) Fase Kerja
Tadi ibu katakan, ibu merasa gelisah, tidak bisa tidur, coba ibu ceritakan
lebih lanjut tentang perasaan ibu, kenapa ibu tidak bisa tidur, apa yang ibu
pikirkan? Oh, jadi ibu merasa takut jika dijahati oleh tetangga ibu, ouw. Dulu
ibu pernah dihipnotis oleh tetangga ibu dan tetangga ibu mengambil barang
berharga ibu. Dan ibu takut jika kejadian itu terulang lagi. Nah ibu, sekarang
saya akan mengajarkan ibu teknik relaksasi degan cara hipnotis 5 jari. Kita
mulai ya bu. Ibu pejamkan mata ibu, nah sekarang sentuh jari telunjuk ibu
dengan jempol ibu, sekarang bayangkan pada saat ibu sedang bahagia.
Sekarang sentuh jari tengah ibu, bayangkan saat ibu bersama orang yang ibu
sayangi/ cintai, sekarang sentuh jari manis ibu, bayangkan ketika ibu di puji
oleh seseorang, dan sekarang sentuh jari kelingking ibu, bayangkan tempat
14

yang paling indah yang pernah di kunjungi. Ibu, coba ulangi lagi cara teknik
hipnotis 5 jari yang sudah kita pelajari tadi. Wah bagus sekali, mari kita
masukkan dalam jadwal harian ibu. Jadi, setiap ibu merasa cemas, ibu bisa
langsung praktikkan cara ini, dan bisa melakukannya lagi sesuai jadwal yang
telah kita buat.
3) Fase Terminasi
i.
Evaluasi
Subyektif
Bagaimana perasaan ibu setelah kita berbincang bincang tentang
masalah yang ibu rasakan dan latihan mempaktekkan teknik

ii.

relaksasi hipnotis 5 jari?


Obyektif
Nah, coba ibupraktikkan kembali apa yang telah saya ajarkan

tadi.Bagus, ternyata ibu masih ingat apa yang telah saya ajarkan.
Rencana Tindak Lanjut (RTL)
Saya harap apa yang tadi saya ajarkan kepada ibu, ibu dapat
mempraktekkan kembali dan jangan lupa untuk memasukannya dalam

iii.

jadwal kegiatan harian yaitu sekitar 2 kali dalam sehari ya bu.


Kontrak yang akan datang
Topik, Waktu, Tempat
Ibu sudah tidak terasa sudah 30 menit kita berbincangbincang.Latihan relaksasi ini adalah cara ke-3 yang bisa
digunakan untuk mengatasi kecemasan atau ketegangan ibu,
masih ada cara ke-4 yaitu dengan melakukan pendekatan
spiritual, bagaimana kalau kita latihan cara yang ke 4 ini besok
pagi, jam berapa bu? Seperti biasa jam 10 pagi ya dikamar ibu?
Masih ada yang mau ditanyakan atau tidak bu? Baiklah kalau
tidak ada saya pamit dulu.Terimakasih atas waktunya.

15

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
B. Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis sebagi berikut :
1. Sebagai tambahan ilmu pengetahuan mengenai beberapa informasi seputar
gangguan kecemasan
2. Bagi tenaga kesehatan dapat dijadikan referensi informasi untuk membantu
menangani kecemasan pada pasien denngan gangguan jiwa
3. Bagi peneliti lain dapat dijadikan sebagia tambahan informasi guna penelitian
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Fortinash, KM., & Holoday-Warret, PA. 2008. Psychiatric Mental Health Nursing. 4th ed.
St. Louis : Mosby
Harold, I. Kaplan & Benjamin, J. Sadock. 1997. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Jakarta :
Binarupa Aksara.
http://campuskimia17.blogspot.com/2013/06/sp-ansietas.html
http://lentrageotirasyara.blogspot.com/2014/04/askep-jiwa-kecemasan_8933.html
http://www.slideshare.net/anangsatrianto/asuhan-keperawatan-pada-klien-dg-ansietas
Stuart, Gail W & Laraia, MT. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Jakarta : EGC.
16

Tarwoto & Wartonah. 2003. Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika
Tomb, David A . 2003. Buku Saku Psikiatri Edisi 6. Jakarta : EGC
Videbeck, Sheila L . 2008. Buku Ajar Keperawtan Jiwa. Jakarta : EGC

17