Anda di halaman 1dari 11

TUGAS BEDAH MINOR

Pembimbing: dr. Toni Agus Setiawan Sp.B

Trian Satrio
NIM: 030.10.272

RUMAH SAKIT FATMAWATI


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TRISAKTI
KEPANITERAAN KLINIK BEDAH
JAKARTA, SEPTEMBER 2014

I.

FAKTOR NUTRISI TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA

Pentingnya asupan gizi yang baik pada pasien dengan luka/pasca operasi merupakan pondasi
untuk proses penyembuhan lebih cepat. Nutrisi yang baik akan memfasilitasi peyembuhan, dan
menghambat atau bahkan menghindari keadaan malnutrisi. Dukungan nutrisi sangat penting bagi
perawatan pasien mengingat kebutuhan pasien akan nutrisi bervariasi, maka dibutuhkan diet
(pengaturan makan).
Adapun cara kerja nutrisi pada penyembuhan luka adalah sebagai berikut
Karbohidrat
1. Karbohidrat diperlukan untuk merangsang insulin
2. KH kompleks memperlambat release insulin
3. Secara tdk langsung KH berfungsi sbg sparing effect dari protein, shg tercipta nitrogen
balance positif yg sangat berperan dlm wound healing
4. Secara langsung KH berperan sbg activator leucosit, meningkatkan proliferasi sel,
pembentukan fibroblas & energi bagi aktivitas sel limposit yg kesemuanya sangat berperan dlm
wound healing.
5. Dibatasi karena kana semakin melibatkan sesak pada pasien karena RQ pd KH tinggi
(produksi C O2 lebih tinggg dibandingkan dgn konsumsi O2)
Sebagai bagian dari proses penyembuhan tubuh memasuki fase hipermetabolik, di mana ada
peningkatan permintaan untuk karbohidrat. Aktivitas selular didorong oleh adenosin trifosfat
(ATP) yang berasal dari glukosa, menyediakan energi untuk respon inflamasi terjadi. Oleh
karena itu, dalam rangka untuk memperbaiki hipoalbuminemia, karbohidrat diperlukan serta
protein. jika intake karbohidrat berkurang maka tubuh akan memecah protein untuk dijadikan

kalori.jika ini terjadi maka akan mengganggu fungsi utama protein sebagai pembentuk jaringan
baru pada luka
Protein
Protein adalah dasar nutrisi untuk pembentukan kulit baru dan perbaikan sel yang rusak. Protein
terdiri dari empat pecahan protein mayor dan enam pecahan protein minor. Empat pecahan
protein mayor tersebut adalah beta-lactoglobulin, alpha-lactalbumin, bovine serum albumin dan
immunoglobulin. Masing-masing dari keempat pecahan protein tersebut mempunyai efek
pencegah penyakit yang sangat penting bagi tubuh manusia. Karena itulah, protein sering
diproduksi sebagai suplemen untuk memacu pertumbuhan otot dan mempercepat proses
penyembuhan. Sebagai contoh dari jenis protein untuk penyembuhan luka adalah:
1. Glutamin :
o sebagai anti oksidan.
o untuk system imun.
o untuk penyembuhan luka.
o selama stees berguna agar kuman tidak masuk tdk masuk dlm dinding pembuluh darah sehingga
tidak lisis.
2. Arginin:
o Meningkatkan immune system di jaringan otot.
o Pada masa critikal ill, arginine merupakan asam amino esensial.
o Penyembuhan luka dan memperbaiki jaringan dgn meningkatkan cadangan kolagen.
o Precursor utk pembentukan prolin dan hidroxiprolin yg berperan dlm sintesa kolagen.
o Berperan dlm aktivasi fagositosis, meningkatkan respon immune yg kesemuanya akan berperan
dlm proses wound healing.
o Berperan dlm sintesi/produksi hormon anabolic spt insulin, growth factor hormon.
o Menekan respon inflamasi kuman di usus, shhg kuman mjd in active dan mencegah tjd translokasi
kuman
o Mengurangi permeabilitas dinding usus/mencegah kebocoran shg translokasi kuman trhambat.

o Adanya anti inflamasi akan menekan pelepasan hormon stress dan cytokine spt TNF alfa, IL 1,
IL6 sehingga tidak menimbulkan respon inflamasi. .

Lemak
Sebagai pelarut vitamin (A,D,E dan K), sebagai pembentuk struktur membran sel dan fungsi
(sintesis sel baru). Dijumpai dalam asam lemak esensial (ALE) yaitu linolenac dan linoleac
(omega 3 dan omega 6).
1. Omega 3 :
a. Sebagai anti inflamasi dan dapat memperkuat sistem imun.
b. Sebagai vasodilator sehingga supply O2 dan nutrient dapat beredar dengan lancar.
2. Omega 6 :
a. Tidak diberikan karena pro inflamasi.
b. Mengandung prostaglandin (PGE2) yg dpt menekan interferon yg menyebabkan pasien
semakin sesak. Selain itu asam lemak omega 6 dpt meningkatkan inflamasi/peradangan
dan dapat menekan sistem immune dalam tubuh.
3.

MCT

Sebagai sumber energi.

Mudah diserap, tidak memerlukan garam empedu.

Tidak memerlukan karnitin sehingga lebih mudah diubah menjadi energi.

Tidak disimpan, sehingga tidak menyebabkan gemuk.

Tidak menyebabkan hiperlipidemia.

Diberikan bila tidak ada ketoacidosis, MCT selama masih ketoacidosis akan memperberat
kondisi acidosis metabolik

Vitamin

Vitamin A terlibat dalam silang kolagen dan proliferasi sel epitel pada proses penyembuhan luka.
Jenis vitamin yang lain seperti B-Kompleks juga berperan dalam proses penyembuhan luka
yakni sebagai co-faktor atau co-enzim dalam berbagai fungsi metabolisme yang terlibat dalam
penyembuhan luka, terutama dalam rilis energi dari karbohidrat. Vitamin C memiliki peran
penting dalam sintesis kolagen, dalam pembentukan ikatan antara helai serat kolagen, membantu
memberikan kekuatan ekstra dan stabilitas. Ada banyak bukti yang menunjukkan meningkatnya
kebutuhan untuk vitamin C selama cedera, stres dan sepsis, tetapi tidak ada bukti bahwa dosis
mega meningkatkan hasil klinis. Vitamin K berperan dalam pembentukan trombin, dan
kekurangan vitamin K dengan adanya luka dapat menyebabkan hematoma.

Mineral
Seng/zinc dibutuhkan untuk sintesis protein dan juga merupakan co-faktor dalam reaksi
enzimatik. Ada peningkatan permintaan untuk seng selama proliferasi sel dan sekresi protein.
Seng juga memiliki efek penghambatan pada pertumbuhan bakteri, dan terlibat dalam respon
imun. zinc merupakan zat gizi mikro yg bekerjasama dgn anti oksidan utk menangkap radikal
bebas. Pada proses penyembuhan luka, saat terjadi inflamasi terjadi peningkatan ROS sehingga
dibutuhkan antioksidan
Zat Besi/Fe adalah co-faktor dalam sintesis kolagen, jika terjadi defisiensi fe maka berpengaruh
terhadap penundaan penyembuhan luka. Tembaga juga terlibat dalam sintesis kolagen. Sumber
makanan bisa didapat dari ikan dan hasil laut, daging merah, kacang, telur (dalam penyerapannya
diperlukan vitamin c, dan menghindari asupan tannin dan cafein).

II.

LIPOMA
Lipoma adalah tumor adipose atau jaringan lemak yang umumnya ditemukan pada
jaringan sub kutan dari kepala, leher, bahu dan punggung. Lipoma ditemukan pada semua
jenjang usia kebanyakan umur 40 dan 60 tahun. Tumbuh secara lambat, umumnya tumor
jinak, tidak menimbulkan nyeri, bulat, mobil atau mudah digerakkan dengan karakteristik
lembut.Amat jarang lipoma berhubungan dengan sindrom seperti hereditary multiple
lipomatosis, adiposi dolorosa, Gardner syndrome dan Madelungs disease. Terdapat
varian lain seperti angiolipoma, neomorphic lipoma, spindle cell lipoma, dan
adenolipoma.Kebanyakan lipoma tidak memerlukan terapi khusus kecuali timbul secara
cepat, ataupun menimbulkan rasa nyeri.Pada jenis diatas dapat diterapi dengan banyak
prosedur seperti injeksi steroid sampai dengan eksisi tumor. Lipoma didiagnosa banding
dengan liposarcoma yang mempunyai penampakan sama.
Lipoma tumbuh lambat, tumor jinak, tumor adipose atau jaringan lemak yang
umumnya ditemukan pada jaringan subkutan1 Kebanyakan lipoma asimtomatik, dapat
didiagnosa dengan pemeriksaan fisik dan tidak memerlukan perawatan. Tumor ini dapat
ditemukan pada jaringan yang lebih dalam seperti septa intermuskuler, organ abdomen,
rongga mulut, rongga telinga, sudut cerebellopontine dan thorax
Lipoma ditemukan pada semua umur tetapi biasanya ditemukan antara umur 40
dan 60 tahun.5 Lipoma congenital pernah ditemukan6 Beberapa lipoma dikatakan
berkembang dari trauma tumpul (blunt trauma)
Lipoma soliter banyak ditemukan pada wanita, multiple tumor (lipomatosis) lebih
banyak ditemukan pada laki-laki.2,8 Herediter multiple lipomatosis diturunkan secara
autosomal dominant pada umumnya laki-laki, ciri-cirinya adalah penyebaran simetris,
muncul umumnya pada ekstremitas dan trunk

Sel tumor adalah sel tubuh yang mengalami transparmasi dan tumbuh secara
autonom lepas dari kendali pertumbuhan sel normal sehingga sel ini berbeda dari sel
normal dalam bentuk dan strukturnya. Pada umumnya tumor mulai tumbuh dari satu sel
di suatu tempat (unisentrik) atau dari beberapa sentral (multilokuler) pada waktu yang
sama. Selama pertumbuhan tumor masih terbatas pada organ dasarnya maka tumor
disebut masih dalam fase lokal.Tetapi kalau sudah terjadi infiltrasi ke organ sekitarnya,
maka tumor telah mencapai fase lokal infasif atau lokal infiltratif.Penyebaran lokal ini
disebut penyebaran perkontinuitatum, karena masih berhubungan dengan sel induknya.
Sel tumor ini bertambah terus tanpa batas, sehingga tumor makin lama makin
besar dan mendesak jaringan sekitarnya sehingga dapat menyumbat saluran tubuh dan
menimbulkan obstruksi. Bila tumor ini ganas dapat menyebar ke bagian tubuh lain dan
umumnya fatal bila dibiarkan karena merusak organ yang bersangkutan dan
menyebabkan kematian.

2. Pengaruh Lemak dan Obesitas terhadap Lipoma


Seperti yang telah kita ketahui, makanan tinggi akan lemak dan kolesterol akan
memicu seseorang terkena overweight sehingga akhirnya mengalami obesitas. Dalam
suatu penelitian ditemukan bahwa obesitas mempengaruhi timbulnya suatu lipoma.
Gen, yang dikenal sebagai HMG IC, menyebabkan tumor yang disebut lipoma,
tumor umum dalam jaringan lemak pada manusia.Lipoma mulai sebagai pertumbuhan
jinak, namun dapat menjadi liposarcomas ganas saat mereka tumbuh.Lipoma adalah
bentuk paling umum dari tumor mesenchymal ditemukan pada manusia.
Sebelumnya data epidemiologi telah menunjukkan bahwa gen HMG IC rusak
pada tumor mesenchymal banyak. Tim Ono telah membuktikan peran langsung untuk gen
IC HMG dalam pembentukan lipoma dengan menciptakan jalur tikus transgenik yang
overexpress gen HMG rusak IC di semua sel-sel tubuh. Tikus transgenik mengalami
obesitas awal dalam kehidupan dan mengembangkan tumor dari jaringan (lemak) adiposa
dalam kehidupan dewasa.Sekitar 25 persen dari tikus transgenik mengembangkan tumor,

sedangkan kontrol tikus, atau tikus normal, tidak menunjukkan bukti pembentukan tumor.
Para peneliti juga menemukan bahwa tidak ada tumor terbentuk di jaringan lain
dari tubuh, hanya dalam jaringan lemak. Namun, peneliti lain dalam kelompok Ono ini
telah

menemukan

bahwa gen HMG

IC juga dapat

menyebabkan

manusia

retinoblastomas, tumor mata.


Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Universitas Kedokteran dan Kedokteran
Gigi New Jersey telah menunjukkan bahwa gen HMG IC muncul untuk membantu lemak
tikus toko. Tikus transgenik kekurangan gen bisa makan lahap tanpa menjadi gemuk. Tim
Ono telah melakukan eksperimen komplementer oleh overexpressing gen, dan mencatat
baik obesitas dan pertumbuhan tumor.
The Schepens Eye Research Institute, sebuah afiliasi dari Harvard Medical
School, adalah mata terbesar pusat penelitian independen di negara ini, baik dalam
ukuran fakultas dan dukungan dari National Eye Institute. Memiliki fakultas terkenal
lebih dari 60 ilmuwan, termasuk immunologists, ahli biologi molekuler dan sel dan
fisikawan yang menyelidiki obat untuk penyakit mata menyilaukan dan bantuan bagi
korban low vision. Banyak teknik diagnostik dan perangkat, metode bedah dan obatobatan yang berhubungan dengan penyakit mata yang dikembangkan oleh fakultas
Institute.
3. Pengaruh Karbohidrat terhadap Lipoma
Konsumsi karbohidrat yang tinggi, terutama monosakarida, dapat memicu
timbulnya lipogenesis.Karbohidrat yang dikonsumsi selain berubah menjadiglukosa, juga
dapat berubah menjadi lemak yaitu triasilgliserol sehingga asupan karbohidrat yang
tinggi dapst menyebabkan lipemia baik pada saat puasa ataupun postprandial. Berikut
gambaran prrubahan karbohidrat menjadk lemak pada proses lipogenesis.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya, lemak yang banyak dapat memicu timbulnya
lipoma sehingga asupan karbohidrat yang tinggi dapat memicu lipoma.
Selain itu, konsumsi karbohidrat dan glukosa yang tidak terkontrol dapat memicu
timbulnya diabetes.Diabetes Mellitus terdiri dari 2 tipe, yaitu DM tipe 1 dan DM tipe
2.DM tipe 1 timbul akibat kerusakan sel beta pancreas dalam menghasilkan insulin,
sedangkan DM tipe 2 timbul akibat resistensi reseptor sel beta terhadap insulin. DM tipe
2 disebabkan oleh gaya hidup yang kurang baik, seperti sering mengonsumsi makanan
dengan kadar glukosa dan karbohidrat yang tinggi.
Pada dasarnya tidak terdapat hubungan langsung antara lipoma dengan
diabetes.Tetapi dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada beberapa pasien diabetes
yang diterapi dengan menggunakan insulin subkutan, timbul lipoma pada tempat
penyuntikan tersebut.
Terapi insulin juga dapat menyebabkan lipoatrofi dan lipohipertrofi yang dapat
hidup berdampingan dalam pasien yang sama. Lipoatrofi menyajikan sebagai dibatasi,
depresi daerah kulit pada insulin tempat suntikan 6 sampai 24 bulan setelah awal
terapi.Anak-anak dan wanita gemuk yang terpengaruh paling sering.Ini mungkin
disebabkan oleh lipolitik komponen dalam penyusunan insulin atau oleh Proses inflamasi
dimediasi oleh kekebalan tubuh kompleks. Teori lain melibatkan cryotrauma dari insulin
didinginkan, trauma mekanik karena sudut injeksi, alkohol permukaan kontaminasi, atau

hyperproduction lokal tumor necrosis factor alpha dari makrofag diinduksi oleh insulin
disuntikkan. Sejak pengenalan dimurnikan rekombinan insulin manusia, lipoatrofi telah
menjadi rare.Durasi keberadaan depot insulin telah terlibat juga.Itulah sebabnya Murao et
al menyarankan mengganti cepat-acting insulin.Lipohipertrofi klinis menyerupai lipoma
dan timbul sebagai nodul kulit lembut di tempat suntikan sering.lipohipertrofi adalah
dianggap sebagai respon lokal ke lipogenic tindakan insulin dan dapat dicegah dengan
rotasi dari tempat suntikan.
4. Pengaruh Protein terhadap Lipoma
Konsumsi protein mempengaruhi terbentuknya lipoma terkait dengan proses
lipogenesis yang terbentuk dari protein yang berubah menjadi jaringan lemak. Dalam
suatu penelitian, Allee et al. mengatakan bahwa pengaruh asupan protein yang tinggi
dalam kadar tertentu akan berubah menjadi lemak melalui proses lipogenesis di jaringan.
Lemak tersebut akan tersimpan di jaringan lemak di berbagai tempat di tubuh, misalnya
hepar, ginjal, dan juga kulit.
Seperti telah dipaparkan sebelumnya bahwa peningkatan jaringan lemak dan
penumpukannya pada lapisan kulit dapat memicu timbulnya lipoma. Karena itu, diet
protein terlalu tinggi juga dapat memicu timbulnya lipoma melalui proses lipogenesis
yang terjadi setelah seseorang mengonsumsi makanan dengan kadar protein yang tinggi.
5. Pengaruh Vitamin terhadap Lipoma
Vitamin E dikatakan memiliki pengaruh terhadap terbentuknya lipoma.Dari
penelitian dikatakan bahwa diet rendah vitamin E meningkatkan risiko timbulnya lipoma
di tubuh.
Vitamin C juga dikatakan memiliki pengaruh terhadap lipoma.Vitamin C, atau
asam askorbat, merupana antioksidan yang penting untuk mencegah reaksi stress
oksidatif yang merupakan salah satu faktor risiko timbulnya tumor, termasuk lipoma.
Vitamin C juga spesifik mencegah perubahan LDL menjadi LDL teroksidasi dengan
menghambat proses oksidasi sehingga stress oksidatif dapat dicegah. Karena itu, diet
rendah vitamin C dikatakan memiliki pengaruh terhadap timbulnya lipoma.

6. Pengaruh Mineral terhadap Lipoma


Mineral yang berpengaruh terhadap terbentuknya lipoma adalah yodium (I).Pada
penelitian terhadap sejumlah orang yang hipotiroid, dikatakan 10% memiliki
lipoma.Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa terdapat hubungan tidak langsung
antara hipotiroid dan lipoma.
Yodium juga pernah diujicoba untuk pengobatan suplementasi pada lipoma, hasilnya
35% orang yang mengonsumsi yodium sebagai suplemen memiliki ukuran lipoma yang
mengecil (tetapi tidak sampai menghilang).Tetapi belum diketahui secara pasti bagaimana
mekanisme yodium terhadap pengobatan lipoma