Anda di halaman 1dari 21

II.

GAMBARAN UMUM PROYEK

A. Lokasi Proyek

Proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I) ini

berlokasi di Jl. ZA. Pagar Alam Km. 11 Rajabasa - Bandar Lampung dengan

batas-batas sebagai berikut :

1. Utara : Lapangan Sepak Bola

2. Selatan : Komplek Kantor Dinas PU

3. Barat : Pemukiman Penduduk

4. Timur : Komplek Kantor Dinas PU

Gambar 1. Denah Lokasi Proyek


A. Data Umum Proyek
6

Data Proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I)

adalah sebagai berikut :

1. Nama Proyek : Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU

Rajabasa (Tahap I)

2. Lokasi : Jl. ZA. Pagar Alam Km. 11 Rajabasa Bandar

Lampung

3. Pemberi Tugas : Dinas PU Provinsi Lampung

4. Kontraktor Pelaksana : PT. Nenggala Tama Raya

5. Konsultan Pengawas : CV. Jaim dan Rekan

6. Konsultan Perencana : CV. Jaim dan Rekan

7. Nilai Kontrak : Rp. 1.828.646.000,00

8. Waktu Pelaksanaan : 180 hari kalender

(15 Mei 2009 – 10 November 2009)

9. Masa Pemeliharaan : 194 hari kalender

10. Sumber Dana : APBD DPA – SKPD Tahun Anggaran 2009

11. Luas Bangunan : 1.367,701 m²

12. Sifat Tender : Pelelangan Terbuka

13. Nomor Kontrak : 001/KTR-F/DPU/APBD/III.09/2009

14. Uang Muka : 20 %

15. Uang Jaminan : 5%

16. Jenis Kontrak : Lump Sum

17. Cara Pembayaran : Termjin

18. Denda Keterlambatan: 1/1000 s.d maksimum 5 %


B. Data Struktur Proyek

1. Luas Bangunan
6

Luas bangunan pada Proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU

Rajabasa (Tahap I) adalah 5.124 m². Gedung yang dibangun terdiri dari 4

lantai, tiap lantai memiliki luas 1.281 m2.

2. Elevasi Bangunan

Lantai 1 : ± 0,00 m

Lantai 2 : + 4,60 m

Lantai 3 : + 9,20 m

Lantai 4 : + 13,80 m

3. Pondasi Tiang Pancang

Spesifikasi pondasi tiang pancang yang digunakan pada proyek ini :

• Bentuk pondasi : Lingkaran

• Diameter luar : 35 cm

• Diameter dalam : 20 cm

• Kedalaman pondasi : 800 cm

• Tulangan utama : 8 ∅ 8 mm

• Sengkang : ∅ 4 mm

• Mutu beton : K-600

1. Pondasi Pile Cap

Pondasi pile cap terletak di atas pondasi tiang pancang, dimana kedua

pondasi tersebut saling mengait satu sama lain. Pondasi pile cap sendiri

memiliki dimensi p x l x t, yaitu 2 x 2 x 0,5m. Tulangan utama pada

pondasi pile cap ini berupa baja ulir D 22 mm dan tulangan sengkang

digunakan baja polos Ø 16 mm. Sedangkan pengecoran dilakukan

menggunakan ready mix dengan mutu beton K-300.


5

2. Sloof

Ukuran sloof pada proyek ini adalah 30 x 60 cm. Tulangan utama sloof

berupa baja polos Ø 19 mm dan Ø 16 mm, sedangkan untuk sengkang

digunakan tulangan baja polos Ø 10 mm dengan jarak antar sengkang 150

mm. Pengecoran dilakukan menggunakan ready mix dengan mutu beton

K-300.

3. Pedestal

Ukuran pedestal yang digunakan dalam bangunan ini adalah 50 x 50 cm.

Tulangan utama yang digunakan adalah baja ulir D 22 mm sedangkan

pada sengkang digunakan tulangan polos dengan Ø 12 mm dan jarak antar

sengkang 150 mm. Pengecoran dilakukan menggunakan ready mix

dengan mutu beton K-300.

A. Fasilitas Proyek

Pada pelaksanan Proyek Pembagunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa

(Tahap I) ini, kontraktor menyediakan fasilitas untuk menunjang kelancaran

proyek tersebut, baik dalam proses pelaksanaan pekerjaan, maupun

pengawasan. Fasilitas tersebut diantaranya :

1. Directie Keet (Kantor Direksi)

Kantor direksi merupakan bangunan kantor yang berfungsi sebagai tempat

melakukan rencana kerja dan evaluasi hasil kerja di lapangan.

2. Gudang Material

Gudang material berfungsi sebagai tempat penyimpanan material dan

peralatan kerja yang terletak di sebelah directie keet.

3. Los Kerja
6

Los kerja yaitu suatu areal yang digunakan untuk melakukan suatu

pekerjaan seperti perakitan tulangan, pembengkokan tulangan,

pemotongan tulangan, dan lain-lain.

4. Listrik dan Air

Sumber listrik berasal dari jaringan PLN. Listrik merupakan sarana

penting dalam membantu pelaksanaan proyek. Air yang digunakan

diambil dari sumber air di sekitar proyek.

A. Fungsi dan Fasilitas Bangunan

Gedung yang akan dibangun terdiri dari empat lantai, masing- masing lantai

memiliki fungsi yang berbeda.

1. Lantai pertama akan digunakan sebagai kantor staff Bina Program dan

Tata Usaha.

2. Lantai kedua akan digunakan sebagai kantor staff Cipta Karya.

3. Lantai ketiga akan digunakan sebagai kantor staff Bina Marga.

4. Lantai keempat akan digunakan sebagai kantor staff Pengairan.

Bangunan ini akan dilengkapi beberapa fasilitas, seperti :

• Jaringan listrik

• Jaringan telepon

• Jaringan air bersih dan air kotor

• Air conditioning (AC)

• Tangga utama

• Tangga darurat

• Lift
5

A. Manajemen Proyek

Manajemen proyek adalah kegiatan atau usaha yang ditujukan untuk mencapai

sasaran yang telah didefinisikan dengan jelas, seefisien, dan seefektif mungkin

(Kustiani, 2001).

Manajemen dalam konteks pembangunan mempunyai fungsi untuk

menciptakan motivasi orang agar bekerja dengan baik dan mengarahkan

sumberdaya agar berjalan sesuai jalur yang ditentukan untuk mencapai sasaran

yang telah ditetapkan.

Dalam merealisasikan suatu proyek ada beberapa tahapan kegiatan yang saling

berkaitan, antara lain :

1. Studi Kelayakan (Feasibility Study)

Tujuan dari tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa

proyek konstruksi yang diusulkannya layak untuk dilaksanakan, baik dari

aspek perencanaan, aspek ekonomi (biaya dan sumber pendanaan) dan

aspek lingkungan. Sebelum dibuat rencana detail proyek-proyek

konstruksi, dipelajari terlebih dahulu apakah proyek tersebut akan

memberi manfaat baik secara komersial maupun non-komersial.

Hasil dari studi kelayakan merupakan informasi yang sangat bermanfaat

untuk menilai apakah proyek layak dibangun dan dapat

dipertanggungjawabkan serta untuk mempermudah dalam pengambilan

keputusan. Selain itu juga merupakan pegangan bagi lembaga keuangan

atau pemberi pinjaman untuk mengucurkan dana pembiayaan proyek.

Studi kelayakan harus berisikan pernyataan yang jelas mengenai :

a. Lingkup dan Tujuan Proyek


6

Lingkup proyek adalah batasan-batasan pekerjaan pembangunan suatu

proyek. Tujuan studi kelayakan adalah untuk menilai manfaat

dikemudian hari dari suatu investasi baik dari segi ekonomi maupun

non-ekonomi.

b. Aspek Ekonomi

Aspek ekonomi ditinjau untuk mengetahui manfaat pembangunan

proyek dikemudian hari dari segi ekonomi, bahwa keuntungan yang

didapat dari proyek tersebut akan lebih besar dari modal yang

diinvestasikan.

c. Analisa Keuangan

Analisa keuangan adalah mengenai pendanaan, antara lain mengenai

bagaimana struktur pembiayaan yang paling menguntungkan, berapa

keuntungan yang akan diperoleh dan perbandingannya dengan

beberapa alternatif lain, dan lain-lain.

d. Aspek Teknis dan Teknologi

Aspek teknis mengkaji antara lain, fasilitas yang akan dibangun

berikut tipenya, jenis teknologi yang dipakai, peralatan yang

digunakan, persediaan material setempat, sumberdaya manusia yang

tersedia, dan lokasi proyek.

e. Aspek Sosial dan Lingkungan Hidup

Dampak terhadap lingkungan hidup dan sosial harus dikaji untuk

mengetahui secara dini pengaruh-pengaruh negatif yang mungkin

terjadi di kemudian hari. Kemungkinan pencemaran lingkungan

sebagai dampak berdirinya proyek harus diteliti dampaknya terhadap


6

masyarakat serta kemungkinan terburuk yang dapat terjadi apabila cara

penanggulangannya kurang efektif.

Pada Proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I)

ini tidak dilakukan studi kelayakan terlebih dahulu, karena gedung yang

akan dibangun bersifat pelayanan terhadap masyarakat. Studi kelayakan

dilakukan pada pembangunan yang bersifat bisnis.

1. Perencanaan

Pada tahap ini konsultan perencana memulai perencanaan yang

disesuaikan dengan alokasi dana yang tersedia untuk melengkapi

penjelasan proyek dan menentukan tata letak, rancangan, metode

konstruksi, dan taksiran biaya agar mendapatkan persetujuan dari pihak

berwenang yang terlibat. Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :

a. Program kerja

b. Penelitian dan pengukuran

c. Penentuan jenis konstruksi yang akan dipakai

d. Perhitungan struktur bangunan

e. Metode pelaksanaan

1. Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)

Tujuan dari tahap ini adalah untuk menunjuk kontraktor sebagai pelaksana

atau sejumlah sub-kontraktor yang melaksanakan konstruksi di lapangan.

2. Pelaksanaan Konstruksi

Tujuan dari tahap pelaksanaan adalah untuk mewujudkan bangunan yang

dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan

perencana, dalam batasan biaya dan waktu yang telah disepakati, dan
6

dengan mutu yang telah disyaratkan. Karena dalam tahap ini terdiri dari

sejumlah kegiatan yang saling berkaitan, maka kegagalan satu kegiatan

dapat merusak keseluruhan waktu pelaksanaan, untuk itu harus dibuat

rencana pelaksanaan yang cermat.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah merencanakan,

mengendalikan dan mengkoordinasi, baik jadwal waktu pelaksanaan,

organisasi lapangan, tenaga kerja, peralatan dan material.

3. Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan

Pada tahap ini dilakukan pengecekan prasarana proyek dan penjelasan

serta penggunaan prasarana yang ada. Selain itu juga pelaksana dapat

menjamin bangunan yang telah dilaksanakan sesuai dengan yang

direncanakan.

Masa pemeliharaan yang diberikan kepada PT. Nenggala Tama Raya

untuk memperbaiki kekurangan dan kerusakan adalah 194 hari kalender

terhitung sejak tanggal selesainya pekerjaan atau serah terima pertama dari

kontraktor kepada pemilik proyek. Dalam jangka waktu tersebut

kontraktor masih bertanggung jawab terhadap kerusakan ataupun

kekurangan akibat tidak baiknya pekerjaan dengan biaya kontraktor.

Tahapan kegiatan proyek dijelaskan melalui flowchart pada gambar 2.

Perencanaan
Study
Pelaksanaan
Pemeliharaa
Non
Pelelangan
Teknis
Teknis
Kelayakan
n

Pemeliharaan
Pelaksanaan
6

Gambar 2. Flow Chart Tahapan Kegiatan Proyek

A. Pelelangan (berdasarkan Keppres No. 80 tahun 2003)

Pelelangan adalah suatu sistem pemilihan yang ditawarkan oleh pemilik

proyek atau wakilnya kepada kontraktor untuk mengadakan penawaran biaya

pekerjaan secara tertulis. Tujuan dari pelelangan adalah memilih kontraktor

yang memenuhi syarat dalam pelaksanaan pembangunan suatu proyek yang

dilelangkan, sesuai dengan persyaratan dokumen pelelangan yang ditentukan

dengan harga paling ekonomis.

Secara umum pelelangan terbagi atas 4 jenis, yaitu :

1. Pelelangan Umum/Terbuka

Merupakan pelelangan yang diumumkan secara terbuka, melalui media

massa dan papan pengumuman yang resmi sehingga masyarakat/dunia

usaha yang berminat dan memenuhi kualifikasi dapat mengikutinya.

2. Pelelangan Terbatas

Merupakan pelelangan yang diikuti oleh rekanan yang terbatas dengan

menyebarkan undangan kepada rekanan yang dianggap mampu. Biasanya


6

kontraktor yang telah diundang adalah kontraktor-kontraktor yang telah

memiliki reputasi baik dalam melaksanakan pekerjaan di lapangan.

3. Penunjukan Langsung

Pemilik proyek langsung menunjuk kontraktor tertentu sebagai pelaksana

proyek. Beberapa hal yang menyebabakan diadakannya penunjukan

langsung adalah :

a. Keterbatasan waktu pelaksanaan proyek karena sifatnya mendadak atau

sebagai pekerjaan lanjutan, dimana pemilik proyek menilai kontraktor

telah melakukan sebelumnya dengan hasil yang memuaskan.

b. Kepercayaan terhadap suatu kontraktor karena kemampuan dalam

bidangnya telah terbukti.

1. Dilaksanakan Sendiri (Swakelola)

Cara ini digunakan bila dalam pelaksanaan seluruh proyek ditangani atau

dikendalikan sendiri oleh pemilik proyek/pemberi tugas. Dalam

pengerjan suatu proyek, pemilik proyek dapat merangkap sebagai

perencana sekaligus pelaksana (kontraktor).

Pada proyek Proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap

I) ini, jenis pelelangan yang digunakan adalah jenis pelelangan terbuka.

Pengumuman pelelangan diumumkan melalui surat kabar dan di Kantor Dinas

PU Rajabasa. Kemudian dibuka pendaftaran bagi perusahaan-perusahaan

yang ingin melaksanakan proyek tersebut. Setiap perusahaan membuat

penawaran yang berisi tentang estimasi biaya dan kelengkapan administrasi

lainnya.
6

Pelelangan diadakan di Kantor Dinas PU Rajabasa berdasarkan tanggal dan

waktu yang ditetapkan oleh pemilik proyek. Pemenang lelang berdasarkan

pada kualifikasi, persyaratan teknis kontraktor, dan penawaran yang realistis.

Pemenang lelang diumumkan di Kantor Dinas PU Rajabasa.

A. Sistem Kontrak

Kontrak merupakan perjanjian atau persetujuan antara dua pihak atau lebih

secara sukarela dan mengikatkan diri mereka masing-masing dalam

persetujuan yang dianggap sebagai hukum yang harus ditaati dan dipenuhi.

Fungsi kontrak adalah sebagai landasan pokok hubungan kerja, hak,

kewajiban, dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat (Kustiani,

2001).

Secara garis besar kontrak terdiri dari :

1. Kontrak dengan Harga Satuan (Unit Price Contract)

Kontraktor selaku pelaksana, hanya menawarkan harga satuan pekerjaan

kepada pemilik proyek. Hal ini karena volume pekerjaan atau yang biasa

disebut Bill of Quantity (BQ) telah dihitung sebelumnya oleh konsultan

perencana dan dicantumkan dalam dokumen tender. Meskipun volume

pekerjaan telah dihitung oleh konsultan perencana, pihak kontraktor bisa

meneliti ulang perhitungan volume pekerjaan.

Dengan kontrak sistem Unit Price, resiko fluktuasi biaya di proyek

ditanggung bersama secara proporsional oleh pemilik proyek dan

kontraktor. Fluktuasi biaya akibat penambahan volume pekerjaan menjadi

tanggung jawab pemilik proyek sedangkan fluktuasi biaya akibat kenaikan


6

harga bahan, upah kerja, dan ongkos peralatan menjadi resiko kontraktor.

Dalam kontrak sistem ini, peranan konsultan supervisi atau quantity

surveyor sangat penting, karena mereka diharapkan bisa membuat

penilaian yang jujur dan obyektif

2. Kontrak dengan Harga Tetap (Lump Sum Fixed Price Contract)

Biasa dikenal dengan istilah kontrak borongan, dimana seluruh harga

kontrak dianggap tetap, pemilik proyek tidak mengakui adanya fluktuasi

biaya konstruksi di proyek. Maka bila terjadi fluktuasi biaya selama

proses kontruksi berlangsung, sepenuhnya menjadi resiko kontraktor.

Sehingga kontraktor mau tidak mau, harus bisa bekerja dengan

mengendalikan biaya dan waktu pelaksanaan secara efektif dan efisien.

Pekerjaan di bawah kontrak ini memerlukan gambar kerja, dan spesifikasi

yang jelas sehingga interpretasi kedua belah pihak tidak bias. Pemilik

akan membayar sejumlah uang yang telah disepakati kepada kontraktor

untuk menyelesaikan suatu proyek sesuai dengan rencana dan spesifikasi-

spesifikasi yang telah dibuat oleh konsultan perencana. Biasanya pemilik

akan membayar sebagian dari jumlah uang tersebut kepada kontraktor

pada waktu yang telah ditentukan, tergantung dari nilai pekerjaan yang

telah diselesaikan.

3. Kontrak dengan Harga Tidak Tetap (Negotiated Cost Plus Fee)

Pada proyek ini pemilik akan membayar biaya yang ditentukan untuk

membangun proyek tersebut kepada kontraktor, meliputi biaya tenaga

kerja, biaya bahan dan material, biaya subkontraktor dan biaya

peminjaman peralatan pekerjaan. Dan juga akan membayar biaya

tambahan kepada kontraktor berupa biaya manajemen, pajak-pajak, dan


6

asuransi. Imbalan yang diberikan oleh pemilik proyek kepada kontraktor

dengan jumlah tetap atau berdasarkan prosentase nilai proyek. Pemilik

proyek juga harus menanggung resiko apabila terjadi fluktuasi biaya

proyek, sehingga kontraktor kurang sungguh-sungguh melakukan

pengendalian biaya dan waktu pelaksanaan secara efektif dan efisien.

4. Putar Kunci (Turn Keys Contract)

Pada kontrak jenis ini, mulai dari peninjauan proyek, pelaksanaan dan

penyediaan dananya diatur oleh kontraktor. Pemilik akan membayar

semua biaya pembangunan proyek kepada kontraktor sesuai dengan

perjanjian yang ada setelah proyek selesai ditambah dengan masa

pemeliharaan. Jika pihak pemilik proyek menghendaki diadakan

perubahan terhadap bangunan maka biaya yang berhubungan dengan hal

tersebut diperhitungkan sebagai biaya tambah-kurang. Demikian juga

apabila dalam pelaksanaan kontraktor melakukan perubahan, maka akan

diperhitungkan pula sebagai biaya tambah-kurang.

Pada proyek Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I) ini

menggunakan kontrak Lump Sump Fixed Price Contract. Namun jika terjadi

perubahan volume pekerjaan yang disebabkan oleh pemilik proyek, maka

biaya akan berubah sesuai dengan perubahan volume pekerjaan dengan

berdasar pada harga satuan yang diajukan kontraktor. Perubahan itu termasuk

dalam pekerjaan tambah atau kurang yang menjadi tanggung jawab pemilik

proyek.

A. Sistem Pembayaran

Sistem pembayaran yang umumnya digunakan dalam suatu kontrak adalah:


5

1. Sistem Pembayaran Progress

Pemilik proyek akan melakukan pembayaran kepada kontraktor

sesuai dengan volume pekerjaan yang telah dilaksanakan kontraktor tiap

batas waktu yang telah disepakati.

2. Sistem Pembayaran Bulanan

Pemilik akan membayar sejumlah uang yang telah disetujui kepada

kontraktor selama selang waktu yang telah ditetapkan yaitu selama satu

bulan, dimana besarnya bayaran tergantung dari bobot volume pekerjaan

yang telah diselesaikan. Kontraktor biasanya mengeluarkan rincian biaya

yang telah dikeluarkan selama satu bulan atau selang beberapa hari sesuai

dengan perjanjian kontrak.

3. Sistem Pembayaran Penuh

Pemilik akan membayar kepada kontraktor setelah volume

pekerjaan fisik total dilaksanakan oleh kontraktor.

Sistem pembayaran yang digunakan pada Proyek Pembangunan Gedung

Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I) adalah pembayaran dengan sistem

Progress per 1 bulan.

A. Struktur Organisasi Proyek

Struktur organisasi proyek merupakan suatu cara penyusunan atau bagan yang

membuat gambaran tentang pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek dan

menunjuk kedudukan, pembagian tugas, wewenang dan tanggung jawab

dalam proyek tersebut agar kegiatan lapangan dapat berjalan dengan efektif

dan efisien.
5

Prinsip dasar manajemen yang harus diperhatikan dalam struktur organisasi

kerja adalah :

1. Jalur instruksi harus langsung dan sependek mungkin.

2. Uraian pekerjaan untuk masing-masig personil harus jelas dan

terperinci.

3. Masing-masing personil memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan

wewenang yang diberikan untuk mengambil keputusan sesuai dengan

jabatannya.

4. Iklim kerja harus dibina agar kerja sama dapat berjalan dengan baik.

Adapun unsur-unsur organisasi proyek terdiri dari:

1. Pemilik Proyek (Owner)

Pemilik proyek adalah instansi pemerintah / perorangan / perusahaan yang

memiliki dan membiayai pembangunan suatu proyek. Owner pada proyek

Pembangunan Gedung Kantor Dinas PU Rajabasa (Tahap I) ini adalah

Pemda Prov. Lampung, yang dilaksanakan oleh tim pelaksana

pembangunan proyek yang dibentuk oleh pihak owner.

2. Konsultan Perencana

Konsultan perencana adalah suatu badan hukum atau perseorangan yang

ditunjuk oleh pemilik proyek untuk merencanakan suatu konstruksi

bangunan. Pada proyek ini sebagai konsultan perencana adalah CV. Jaim

dan Rekan.

Tugas dan tanggung jawab konsultan perencana adalah:

a. Merencanakan bangunan berupa perencanaan, perhitungan dan gambar

rencana.
5

b. Memberikan rekomendasi pekerjaan atas perbaikan atau usulan-usulan

aktifitas lain pada pelaksanaan konstruksi.

c. Melakukan peninjauan secara berkala ke lapangan untuk mengetahui

kesesuaian pelaksanaan proyek dengan perencanaan dan spesifikasi

teknis yang ada.

1. Konsultan Pengawas

Konsultan pengawas adalah suatu badan hukum atau perseorangan yang

ditunjuk pemilik proyek untuk memonitor pekerjaan kontraktor berikut

subkontraknya agar persyaratan pelaksanaan pekerjaan dan hasil pekerjaan

di lapangan sesuai dengan spesifikasi dalam bestek dan gambar bestek.

Konsultan pengawas pada proyek ini adalah CV. Jaim dan Rekan.

Tugas dan wewenang konsultan pengawas adalah:

a. Memberikan penjelasan pekerjaan dan mengawasi jalannya pekerjaan

proyek.

b. Mengambil keputusan mengenai hal-hal yang terjadi di lapangan

sejauh tidak menyimpang dari dokumen yang ada.

c. Membuat laporan harian, mingguan dan bulanan mengenai

pelaksanaan pekerjaan proyek berdasarkan laporan kontraktor

pelaksana, yang kemudian diserahkan kapada pihak owner.

d. Membuat laporan tentang kemajuan proyek, pekerjaan tambahan dan

berita acara penyerahan pekerjaan, yang diserahkan kepada pihak

owner.
5

e. Memberikan teguran kepada pelaksana lapangan bila pekerjaan yang

dilakukan menyalahi aturan yang ada.

f. Meneliti, menyetujui atau menolak bahan dan contoh material serta

peralatan yang diajukan pelaksana lapangan jika tidak sesuai dengan

yang disyaratkan.

1. Kontraktor

Kontraktor adalah suatu badan atau perorangan yang diberi kepercayaan

oleh pemilik untuk mengkoordinasi semua kegiatan pekerjaan di lapangan,

dan memastikan bahwa pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai dengan

persyaratan dalam spesifikasi, berjalan sesuai dengan program kerja yang

digariskan dalam jangka waktu dan biaya yang telah ditentukan.

Pada proyek ini yang bertindak sebagai kontraktor adalah PT. Nenggala

Tama Raya.

Tugas dan wewenang Kontraktor adalah:

a. Melaksanakan pekerjaan konstruksi sesuai dengan gambar kerja.

b. Mengusulkan dan meminta persetujuan dari konsultan perencana dan

pemilik proyek, melalui konsultan pengawas untuk melakukan

modifikasi atau perubahan terhadap rancangan awal apabila dianggap

hasil dari perubahan tersebut lebih baik.

c. Menyediakan peralatan, bahan serta tenaga kerja yang diperlukan

untuk pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

d. Menyusun laporan harian, mingguan dan bulanan yang kemudian

disahkan oleh pihak konsultan pengawas.

e. Menyerahkan hasil pekerjaan kepada pemberi tugas dan pertanggung

jawaban apabila ada kekurangan atau kerusakan pekerjaan selama


6

masa perawatan. Pelaksana lapangan akan memberi tenggang waktu

untuk pekerjaan perbaikan dalam periode partanggungjawaban

kerusakan pekerjaan.

Keterangan :
Garis Komando
Garis Koordinasi

Gambar 3. Struktur Organisasi Proyek Pembangunan Gedung Kantor


Dinas PU (Tahap I)

A. Struktur Organisasi Kontraktor

1. Manager Teknik

Manager teknik adalah orang yang mewakili pihak kontraktor yang

bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan proyek agar proyek tersebut

dapat selesai sesuai dengan batas waktu dan biaya yang telah

direncanakan.

Wewenang dan tanggung jawab manajer proyek antara lain :

a. Mengadakan konsultasi dengan pemilik proyek mengenai

perkembangan pelaksanaan maupun permasalahan teknis.

b. Bertanggung jawab atas berlangsungnya kegiatan proyek.

c. Mengatur rencana pekerjaan dan anggaran selama pelaksanaan proyek.

d. Menerima laporan dari manajer lapangan mengenai masalah-masalah

yang dihadapai selama pelaksanaan dan membuat solusinya.

e. Mengkoordinasi dan memimpin seluruh kegiatan proyek.


5

1. Site Manager (Manajer Lapangan)

Manajer lapangan adalah orang bertugas mengatur, mengawasi

pelaksanaan proyek sesuai kontruksi dan spesifikasi yang telah ditetapkan.

Tugas pengawas lapangan adalah :

a. Mengadakan pengawasan dan mengecek pelaksanaan pekerjaan

proyek sesuai dengan rencana gambar dan spesifikasi teknik.

b. Mengatasi masalah-masalah mengenai pelaksanaan teknis dan

kelancaran proyek di lapangan.

c. Bekerja sama dengan konsultan untuk mengadakan pengecekan mutu

dan volume pekerjaan.

d. Melaporkan kesulitan-kesulitan yang terjadi dalam pelaksanaan dan

dirundingkan dengan manajer proyek.

e. Membuat laporan tentang kemajuan pekerjaan.

1. Logistik

Logistik berkaitan dengan penyediaan suatu bahan dan peralatan serta

kebutuhan material di proyek. Tugas bagian logistik adalah :

a. Bertanggung jawab terhadap sirkulasi barang dan peralatan.

b. Mencatat inventarisasi barang dan alat.

c. Mengecek dan mencatat material yang masuk sesuai pesanan.

d. Membuat laporan logistik untuk dilaporkan kepada manajer lapangan.

1. Mandor

Mandor adalah orang yang mengatur dan mengawasi para pekerja agar

kegiatan proyek dapat berjalan dengan lancar. Tugas mandor antara lain :

a. Mengatur pekerja agar pekerjaan dapat dilaksanakan dengan benar.


5

b. Meminta keterangan kepada manajer lapangan tentang hal yang tidak

diketahui selama pelaksanaan.

c. Mengepalai dan mengawasi aktifitas pekerja.

Keterangan :

Garis Komando

Gambar 4. Struktur Organisasi Kontraktor Pembangunan Gedung Kantor


Dinas PU (Tahap I)