Anda di halaman 1dari 1

Definisi Metafora berdasarkan para Ahli

1. Metafora adalah simile (perumpamaan) yang diungkapkan dengan kata-kata like, as,
resemble (seperti, bak, bagai) yang mengalami proses ellipsis atau dilesapkan. Metafora
berkaitan dengan substitusi atau transfer. Metafora dapat dipahami dalam konteks
gerakan (transferensi), baik dari genus ke spesies (umum ke khusus) ataupun dari spesies
ke spesies , atau berdasar analogi langsung. Metafora juga merupakan ragam bahasa
puitis. Kemudian metafora adalah ragam bahasa dekoratif dan berbeda dari keseharian
yang sederhana.
(Aristoteles)
2. Metafora adalah semacam analogi yang membandingkan dua hal secara langsung, tetapi
dalam bentul yang singkat : bunga bangsa, buaya darat, buah hati, cindera mata, dan
sebagainya.
Metafora sebagai perbandingan langsung tidak menggunakan kata : seperti, bak, bagai,
bagaikan dan sebagainya.
Metafora tidak selalu harus menduduki fungsi predikat, tetapi dapat juga menduduki
fungsi lain seperti subyek, obyek, dan sebagainya.
(Gerys Keraf)
3. Metafora merupakan pengalihan dari suatu hal ke dalam hal lain serta memahami dan
mengartikan suatu hal dengan menggunakan istilah yang lain
(Lakoff dan Johnson)
4. Metafora merupakan gaya bahasa yang menggunakan suatu hal atau konsep untuk
menyatakan hal atau konsep yang lainnya dikarenakan adanya kemiripan dari kedua hal
atau konsep tersebut
(Momiyama )
5. Metafora merupakan gaya bahasa yang digunakan untuk mengumpamakan sesuatu hal
(misalnya A) dengan hal lain (misalnya B), karena adanya kemiripan atau kesamaannya.
(Dedi Sutedi)
6. Metafora adalah pemakaian kata atau ungkapan lain untuk objek atau konsep lain
berdasarkan kias atau persamaan.
(Kridalaksana)
7. Metafora lebih dari 2000 tahun dipelajar dalam mata pelajaran yang dikenal dengan
retorika dan di dalamnya metafora dikategorisasikan dengan menggunakan sistematika :
A adalah B, misalnya Achilles is a Lion.
(Evans & Green)
8.

Metafora dapat diformulasi dengan S is P. S dalam hal ini adalah ranah sumber
kemudian disandingkap dengan P sebagai perbandingan. Akan tetapi S is P harus
diinterpretasikan maknanya secara pragmatis menjadi S is R. Dalam hal ini, R merupakan
interpretasi mitra tutur terhadap makna dari P yang bergantung pada penutur. Makna yang
menjadi pusat perhatian adalah makna tuturan yang dikomunikasikan. Makna yang dikaji
secara metaforis adalah makna yang sesuai dengan kehendak penutur.
(Searle)