Anda di halaman 1dari 21

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Universitas Islam Majapahit

Page 1

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

BAB I
PENDAHULUAN

Manajemen asset dan liabilitas adalah suatu usaha untuk mengoptimalkan struktur neraca
bank sedemikian rupa agar diperoleh laba maksimal sekaligus membatasi resiko menjadi sekecil
mungkin.

Manajemen

aktiva

dan

pasiva

disebut

pula

dengan

Asset

and Liability

Management (ALMA). Kedua sisi neraca, dimana sisi pasiva yang menggambarkan sumber dana
dan sisi aktiva yang menggambarkan penggunaan dana harus dikelola secara efisien, efektif,
produktif secara optimal.
Organisasi Manajemen Asset dan Liabilitas (ALMA) terdiri dari Asset Liability Commite
(ALCO) dan ALCO Support Group (ASG). Anggota ALCO terdiri dari pimpinan unit kerja
operasional dan unit kerja yang berhubungan dengan tugas ALMA. Sedang anggota ASG terdiri
dari sekelompok manajer/staf propesional yang bertugas membantu ALCO. Secara spesifik
ALCO berfungsi sebagai berikut:
1. Mereview laporan tentang risiko likuiditas, risiko pasar, dan manajemen permodalan.
2. Mengidentifikasi isu-isu dalam manajemen neraca yang dapat mempengaruhi kinerja bank.
3. Untuk melakukan review atas strategi penetapan ekspektasi dana pihak ketiga dan
ekspektasi keuntungan dari sisi pembiayaan.
4. Untuk melakukan review atas rencana kontijensi bank.

BAB II
PEMBAHASAN

Universitas Islam Majapahit

Page 2

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

A. PENGERTIAN MANAJEMEN ASET DAN LIABILITAS/ASSET AND LIABILITY


MANAJEMENT (ALMA)
Asset adalah sebuah sumber daya yang dimiliki atau dikendalikan oleh perusahaan
sebagai akibat dari peristiwa masa lalu dan dari mana beberapa manfaat ekonomi masa depan (s)
dapat diharapkan mengalir ke perusahaan. Kepemilikan aset itu sendiri adalah tidak berwujud.
Namun, aset yang dimiliki dapat berwujud atau tidak berwujud "(International Valuation
Standard 2003.
Manajemen Aset didefinisikan menjadi sebuah proses pengelolaan segala sesuatu baik
berwujud dan tidak berwujud yang memiliki nilai ekonomik, dan mampu mendorong tercapainya
tujuan dari individu dan organisasi. Melalui proses manajemen yaitu POLC planning, organizing,
leading dan controling agar dapat dimanfaatkan atau dapat mengurangi biaya (cost) secara
effisien dan effektif.Manajemen Liabilitas yaitu kemampuan bank dalam menyediakan dana
yang cukup untuk memenuhi semua kewajibannya maupun komitmen yang telah dikeluarkan
kepada nasabah.
Penggelolaan atas Reserve Requirement (RR) atau Primary Reserve (PR) atau Giro Wajib
Minimum (GWM) sesuai dengan ketentuan BI dan secandary Reserve (SR). Risiko yang dapat
timbul dalam Manajemen liabilitas yaitu risiko pendanaan dan risiko bunga.
B. RUANG LINGKUP ALMA
ALMA adalah manejemen struktur neraca bank dengan tujuan untuk mengoptimalkan
pendapatan dan meminimalkan biaya dalam batas-batas risiko tertentu. Risiko-risiko ALMA
dalam suatu bank pada umumnya berupa:
a. Financing risk, yaitu debitur akan memenuhi kewajibannya (keterlambatan angsuran atau
pelunasan) tepat pada waktunya. Risiko kredit dapat menimbulkan risiko likuiditas.
b. Liquidity risk, yaitu risiko bahwa bank tidak dapat memenuhi kewajibannya pada waktunya
atau hanya dapat memenuhi kewajiban melalui pinjaman darurat (bagi hasil yang tinggi) dan
atau menjual aktivanya dengan harga yang rendah.
c. Pricing risk, yaitu risiko kerugian dengan akibat perubahan tingkat bagi hasil, menentukan
bentuk penurunan margin dari penanaman atau kerugian sebagai akibat menurunnya nilai
aktiva. Risiko ini sebagai akibat Net Interest Margin (NII) atau tidak terpenuhinya likuiditas,
atau terjadinya gap karena tidak tepatnya perhitngan pricing atas asset dan liabilitas.
d. Foreign exchange risk, yaitu risiko kerugian sebagai akibat perubahan tingkat kurs terhadap
open position karena adanya pergerakan kurs yang merugikan.
e. Gap risk, yaitu risiko kerugian dari ketidakseimbangan interest rate maturity karena adanya
pergerkan tingkat bunga yang merugikan.
Universitas Islam Majapahit

Page 3

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

f. Kontinjen risk, yaitu risiko yang timbul sebagai akibat transaksi kontinjen, contohnya bank
garansi dan kontrak valuta asing berjangka.
Risiko likuiditas adalah risiko yang ada diperbankan yang biasanya timbul dari cara bank
mengelola primary dan secondary rerserve serta pendanaannya sehari-hari. Risiko yang ada
dalam pengelolaan Primary rerserve dapat berupa:

Reserve yang dikelola terlalu tinggi dari yang dibutuhkan.


Reserve requirement tidak dapat dipenuhi sehingga berakibat dikenakan pinalti atau sanksi

oleh bank indonesia serta timbulnya masalah bagi bank sendiri.


C. MANAJEMEN LIKUIDITAS
Likuiditas ialah kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup utuk
memenuhi kewajibanya setiap saat. Dalam kewajiban di atas termasuk penarikan yang tidak
dapat diduga seperti commitment loan maupun penarikan penarikan tidak terduga lainya.[3]
Beberapa pakar perbankan memberikan beberapa macam pengertian dari manajemen
likuiditas. Duane B Graddy memberikan definisi manajemen likuiditas melibatkan perkiraan
dana oleh masyarakat dan penyediaan cadangan untuk memenuhi semua kebutuhan. Sedangkan
Oliver G wood menyatakan manajemen likuiditas melibatkan perkiraan kebutuhan dan
penyediaan kas secara terus-menerus baik kebutuhan jangka pendek atau musiman maupun
kebutuhan jangka panjang.
Dalam hal ini bank sangat panting dalam mengelola likuiditas dengan baik,dikarenakan
untuk memperkecil resiko likuiditas yang disebabkan oleh adanya kekurangan dana dalam
memenuhi kewajibanya. Pada dasarnya keberhasilan bank dalam manajemen likuiditas ,dapat
diketahui dari:
a. kemampuan dalam memprediksi kebutuhan dana di waktu yang akan datang
b. kemampuan untuk memenuhi permintaan akan cash dengan menukarkan harta lancarnya
c. kemampuan memperoleh cash secara mudah dengan biaya yang sedikit
d. kemampuan pendataan pergerakan cash indan cash outdana (cash flow)
e. kemampuan untuk memenuhi kewajiban tanpa harus mencairkan aktiva tetap apapun
kedalan cash
Ada empat macam teori likuiditas perbankan yang dikenal, yaitu sebagai berikut:
1. Commecial Loan Theory; teori ini beranggapan bahwa bank hanya boleh memberikan
pinjaman dengan surat jangka pendek yang dapat dicairkan dengan sendirinya (self
liquidating).
Universitas Islam Majapahit

Page 4

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

2.

Shiftability Theory; teori ini beranggapan bahwa likuiditas sebuah bank tergantung pada
kemampuan bank memindahkan aktivanya kepada kepada orang lain dengan harga yang

dapat diramalkan.
3. Anticipated Income Theory; yaitu semua dana yang dialokasi atau setiap uapaya
mengalokasikan dana ditujukan pada sektor yang feasible dan layak yang akan
menguntungkan bagi bank.
4. The liability Management Theory; teori ini dinyatakan bagaiman bank dapat mengelola
pasivanya sedemikian rupa sehingga pasiva itu dapat menjadi sumber likuditas.[6]
Sejak dulu dunia perbankan memerlukan likuiditas dan likuiditas sendiri menjadi salah
satu faktor penting dalam pengelolaan dananya dan Resiko likuiditas adalah salah satu resiko
yang mendasar dalam dunia perbankan.Kemungkinan kerugian terjadi karena keharusan
menjual aset atau mengumpulkan dana dalam waktu singkat untuk menghadapi situasi
tertentu.dan diperlukan juga likuiditas yang cukup papbila bank ingin memenuhi pemintaan
kredit yangtidak terduga dari nasabah.Penolakan akan suatu permintaan kredit mungkin akan
mengakibatkan kehilangan nasabah yang akan menyimpan uangnya atau bahkan kehilangan
calon nasabah yang prima.
Sulit untuk mengatakan berapakah tingkat likuiditas yang ideal(seimbang) untuk suatu
bank. Untuk mempertahankan tingkat likuiditas yang seimbang , sedapat mungkin biaya dana
yang tinggi yang dibutuhkan ntuk mempertahankan tingkat likuiditas yang seimbang harus
dibuat seminimal mungkin dengan pengelolaan spread yang baik. Laporan perencanaan
likuiditas juga dapat membantu pengelola dana untuk membuat biaya dana seminimum
mungkin. Dengan melihat laporan perencanaan likuiditas ini ank dapat mengindikasi adanya
kelebihan dan sampai seberapa besar dana itu lebih.
Sesungguhnya konsep likuiditas adalah konsep yang sederhana hanya saja sulit unruk
menentukan berapakah yang betul betul sesuai untuk masing masing bank dengan kondisi bank
yang berbeda beda.
Secara singkat pengaturan likuiditas adalah:
a. Kemampuan bank untuk menaikan sejumlah tertentu dan kas yang ada,
b. Pada ongkos tertentu
Universitas Islam Majapahit

Page 5

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

c. Dalam waktu yang singkat dan tepat


Semakin banyak dana yang dihimpun oleh bank dalam waktu tertentu maka bank akan
semakin likuid, semakin rendah ongkos yang dibutuhkan untuk menambah dana dalam waktu
tertentu maka aset tersebut akan semakin likuid. Dan jumlah uang kas yang bertambah
seharusnya juga disesuaikan dengan kebutuhan akan uang kas tersebut
Bank mempunyai beberapa alternatif untuk mencapai likuiditas
menyediakan uang kas yang cukup
mengkonventir aset kedalam uang kas
meminjam dari bank lain
Dalam pengaturan likuiditas jangka pendek mungkin masih sulit untuk dpastikan
berapakah tingkat likuiditas bank yang ideal, dikarenakan dalam bisnis pebankan bank
dihadapkan kepada ketidakpastian (uncertainty).Berapa dan kapan nasabah akan mengambil
ataupun menyetor uang tidak dapat diketahui,oleh karena itu di perlukan perencanaan likuiditas.
Likuiditas jangka pendek dapat diambil dari contoh beberapa kejadian yaitu hal hal
yang bersifat musiman,bank bank yang lokasinya dekat dengan daerah pertanian akan
mengalami lebih banyak setoran dana pada saat musim panen.dana ini akan menumpuk apabila
tidak direncanakan alokasinya.Dan sebaliknya para petani akan membutuhkan uang pada waktu
musim menanam untuk membeli bibit,pupuk obat hama dan sebagainya.
Dalam memelihara likuiditas sendiri sangat terkait dengan tujuan likuiditas.dalam
menetapkan strategi apa yang akan di ambil sangat tergantung pada skill manajer likuiditas yang
ada bagaimana mempertimbangkan kondisi likuiditas pasar dan kebutukan likuiditas bank, baik
dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Faktor-faktor tersebut diatas akan menjadi
panduan apakah tidak akan mengambil sikap agresif,berhati hati atau konservatif dalam
manajemen likuiditasnya,yang tercermin dari limit dan target likuididas yang di tetapkan.
D. MANAJEMEN INVESTASI
Investement dalam pengertian perusahaan (bank) adalah aktivitas bank untuk
menggunakan dana yang dimilikinya, membeli harga tetap yang mempunya nilai jangka
panjang,atau membeli surat berharga jangka panjang (1 sampai 10 tahun).[7] Investasi disebut
Universitas Islam Majapahit

Page 6

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

juga sebagai komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainya yang dilakukan di masa
datang.[8] Atau dalam pengertian lain, investasi merupakan pengeluaran modal unut pembelian
aset (asset) fisik seperti pabrik, mesin, peralatan, dan persediaan, yaitu investasi fisik atau riil.[9]
Dalam bukunya, Ahmad Ifham Sholihin menyatakan bahwa investasi merupakan
penanaman modal, biasanya dalam jangka panjang untuk pengadaan aktiva tetap atau pembelian
saham-saham dan surat berharga lain untuk memperoleh keuntungan (investment).[10]
Tujuan bank dalam membeli surat berharga ada dua macam, yaitu:
a) Untuk menambah likuiditas bank
b) Untuk menambah income bank
Meskipun saat ini alokasi dana bank yang paling besar adalah untuk pemberian kredit,
tetapi ada beberapa persen dana yang dialokasikan pada surat surat berharga yang meliputi surat
berharga yang meliputi surat berharga jangka panjang, menengah dan jangka pendek. Surat
berharga sendiri dapat digunakan untuk menutup kekurangan likuiditas apabila terlalu banyak
nasabah ingin menarik depositonya dikarenakan surat berharga ini dapat di jual dengan cepat
tanpa mengalami kerugianyang berati dan dana yang di peroleh dapat dipakai untuk enutup arus
deposito yang mengalir keluar.
Faktor faktor yang mempengaruhi keputusan investasi
jangka waktu
bagi hasil
Pajak
mudah dipasarkan atau tidak
kualitas dan keamanan
harapan di masa mendatang
Diversifikasi
E. MANAJEMEN GAP (MISMATCH)
1. Pengertian
Manajemen gap juga diartikan sebagai sebuah strategi untuk memaksimumkan net
income margin melalui siklus bagi hasil[11]. Sedangkan dalam konvensional manajemen
gap diartikan sebagai upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (Gap)
antara asset dan liabities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal

Universitas Islam Majapahit

Page 7

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

jumlah dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara ketiganya
(kesenjangan tercampur atau mix match)[12].
Gap adalah perbedaan antara Rate Sensitive

Assets (RSA)

danRate

Sensitive

Liabilities (RSL). RSA adalah aktiva yang dapat berubah dikarenakan :


Tanggal jatuh waktu aktiva yang bersangkutan, contoh: surat-surat berharga dan pinjaman
yang tingkat bagi hasilnya tertentu/tetap, seperti sukuk ijarah.
Tanggal jatuh waktu peninjauan bagi hasilnya, contoh: surat-surat berharga yang tingkat
bagi hasilnya mengambang (tidak tentu tingkat untung dan ruginya) v RSL adalah pasiva
yang imbal hasilnya dapat berubah
Tanggal jatuh waktu pasiva yang bersangkutan, contoh : deposito berjangka.
Tanggal tertentu sesuai perjanjian, contoh dana yang interestnya dikaitkan dengan
SIBOR/LIBOR
Tanggal tertentu menurut bank, contoh jasa giro v GAP : RSA-RSL
Positif Gap adalah ketika RSA lebih besar dibandingkan RSL dalam suatu periode
tertentu. Sebaliknya negatif gap apabila RSA dan RSL tidak dikelola dengan baik, maka
dapat mengakibatkan turunnya pendapatan bank (Net Interest Income). Oleh karena itu,
managemen gap mengusahakan peraturan struktur RSA dan RSl berdasarkan jatuh waktu
bagi hasilnya dengan tujuan:
a. Menghindari kerugian dari gejolak tingkat bagi hasil yang berlaku di pasar.
b. Mengusahakan pendapatan dalam batas risiko tertentu.
c. Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas.
Dalam neraca bank hampir selalu terjadi ketidakseimbangan antara sumber daya di sisi
liabilities dengan penggunaan dana di sisi asset. Adapun tujuan dari manajemen gap
adalah[13] :

Menghindari kerugian akibat dari gejolak tingkat bunga.


Mengusahakan pendapatan yang maksimal dalam batas risiko tertentu.
Menunjang kebutuhan manajemen likuiditas.
Mengelola risiko serendah mungkin.
Menyusun struktur neraca yang dapat meningkatkan kinerja dengan tingkat suku bunga

yang wajar.
2. Pengukuran Gap
Pengukuran besarnya gap antara sisi aktiva dengan sisi pasiva diukur dengan
menggunakan interest maturity ladder, yaitu berupa suatu tabel yang disusun dari aset dan
liabilities yang dikelompokkan menurut periode peninjauan bagi hasilnya. Besarnya gap

Universitas Islam Majapahit

Page 8

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau kerugian yang akan timbul dari
perubahan tingkat bagi hasil tersebut. Besarnya gap dapat berubah membesar atau mengecil
karena transaksi-transaksi yang dilakukan.
Profil Period

Asset

Liabilities

GAP

Kumulatif

s.d 1 minggu

10.000

8.000

2.000

2.000

8-30 Hari

6.500

9.000

{2500}

{500}

1-3 bulan

7.000

5.000

2.000

1.500

3-6 bulan

12.000

10.000

1.500

3.000

6-12 bulan

8.500

9.500

(1.000}

2.000

12 bulan keatas

8.000

8.000

2.000

Berdasarkan contoh diatas, gap untuk periode s.d 1 minggu positif sebesar 2.000
juta artinya RSA > RSL pada periode ini. Dalam kondisi tingkat bagi hasil yang diterima
bank menurun lebih cepat dari bagi hasil yang diberikan pada nasabah, sebaliknya apabila
tingkat bagi hasil yang diterima bank meningkat maka bank akan meraih keuntungan karena
pendapatan meningkat lebih cepat dari bagian bagi hasil yang diberikan pada nasabah.
Dengan demikian, besarnya gap akan menentukan besarnya potensi keuntungan atau
kerugian yang timbul dari perubahan tingkat bagi hasil tersebut.
Besarnya gap dapat berubah karena transaksi yang dilakukan, misalnya : jika bank
menarik dana berupa deposito berjangka 1 tahun kemudian ditanamkan pada pinjaman bagi
hasil tetap dengan jangka waktu 30 hari. Maka gap untuk periode 6-12 bulan akan berkurang
dan gap untuk periode 8hari-1 bulan akan bertambah.

Universitas Islam Majapahit

Page 9

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

3. Strategi Gap
Terkait manajemen bank serta arahnya, gap biasanya ditentukan positif atau negatif
tergantung pada 3 hal, yaitu :
Prakiraan perkembangan bagi hasil
Tingkat manajemen terkait prakiraan tersebut
Hasrat bank untuk mengambil risiko jika tindakan yang diambil salah.
Selain 3 hal tersebut, hal yang harus diperhatikan selanjutnya adalah posisi dan likuiditas
bank. Strategi negatif gap yang ditetapkan sebagai antisipasi terhadap turunnya tingkat bagi
hasil akan mengurangi likuiditas bank karena jatuh tempo assets akan lebih panjang daripada
jatuh tempo liabilitiesnya.
Hal yang perlu diperhatikan juga bahwa adanya beberapa kesulitan dan masalah yang
menyertai pelaksanaan strategi gap diantaranya adalah :
a. Benar bahwa imbal balik(margin) dapat kita perkirakan bila kita dapat memprediksi porsi
bagi hasil yang sudah sejak awal di tentukan. Tetapi bila bank salah memprediksi maka
peningkatan gap dapat menurunkan margin tersebut.
b. Harus ada prakiraan jangka waktu yang tepat untuk mengubah besarnya gap dan siklus
bagi hasil harus dalam durasi yang tepat pula.
Agar strategi gap suatu bank dapat lebih efektif, maka yang harus dilakukan adalah dengan
melakukan manajemen pricing yang sesuai dan terdapat infrastruktur yang dapat memberikan
informasi data RSA dan RSL dengan cepat, tepat dan kontinu untuk keperluan analisis.
Dengan demikian, profesionalnya bank dalam ALMA, maka penggunaan gap management
sofware untuk melakukan analisis dan scenario interest rate akan menjaid hal yang umum.
4. Pengaruh Strategi Gap terhadap Pendapatan
Dalam menentukan strategi gap senantiasa dipertimbagkan risiko yang akan dihadapi yakni
dengan menetapkan target/ limit risiko sampai pada tingkat tertentu yang dapat diterima.

F. MANAJEMEN PRINCING
1. Pengertian
Manajemen princing adalah suatu kegiatan manajemen untuk menentukan tingkat bagi hasil
dari produk-produk yang ditawarkan bank, baik disisi assets maupun liabilities. Tujuan
Universitas Islam Majapahit

Page 10

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

utama dari manajemenprincing tersebut adalah untuk mendukung strategi dan taktis ALMA
bank dalam mencapai tujuan-tujuan operasional lainnya dan mencapai tujuan penghasilan
bank.
2. Faktor yang mempengaruhi Manajemen Pricing
Keputusan ataupun kebijakan pricing biasanya dipengaruhi beberapa faktor dibawah ini,
yaitu:
Faktor-faktor pasar, seperti tingkat bagi hasil di pasar sekarang dan yang diharapkan
serta tekanan persaingan dan pricing pesaing.
Faktor ALMA, seperti tujuan manajemen gap, tujuan manajemenearning dan risiko
mata uang.
Faktor operasional bank, seperti tujuan strategi
Faktor kebijakan BI dan Pemerintah
Selain hal-hal di atas, hal-hal yang dapat menjadi pertimbanganpricing secara umum,
faktor-faktor yang harus dipertimbangkan oleh suatu bank dibedakan antara pinjaman dan
simpanan. Untuk pinjaman, faktor-faktor tersebut adalah cost of fund, premi risiko, biaya
pelayanan, termsuk biaya overhead dan personel, margin kentungan, struktur target
maturity, pricing yield curve simpanan berjangka dan cadangan wajib likuiditas.
3. Konsep Market Fund Rates, Marginal Cost of Funds, Average Cost of Funds dan
Blended Marginal Cost of Funds.
Market fund rates adalah tingkat bagi hasil yang menjadi salah satu dasar penetapan
keputusan pricing. Market fund rates juga menjadi suatu komponen yang penting guna
menganalisi prifitabilitas suatu bank. Apabila suatu pinjaman menghasilkan risk adjusted
return lebih tingi darimarket fund rates, maka pinjaman tersebut dipertimbangkan sebagai
yang menguntungkan atas dasar market fund. Sementara itu, apabila biaya simpanan lebih
kecil dari market funds rates maka simpanan itu dipertimbangkan sebagai yang
menguntungkan atas dasar market funds.Kemudian penggunaan market fund rates ini juga
akan memudahkan bank membedakan margin keuntungan/kerugian yang diakibatkan oleh
operasional/produk bank atau keputusan ALMA.
Margin cost of funds merupakan perhitungan biaya tambahan dana/simpanan guna
melakukan tambahan dana pemberian pinjaman atau penanaman aktiva lainnya. Pada saat
ini, tingkat bagi hasil antar bank di Indonesia dianggap mewakili marginal cost of funds dan

Universitas Islam Majapahit

Page 11

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

seringkali menjadi bahan pertimbangan market fund rates pada sebagian besar bank-bank,
hal ini adalah karena :
Pasar uang di Indonesia telah berkembang dalam tahun-tahun terakhir, baik pelaku
maupun volume usaha.
Pertumbuhan sebagian besar bank-bank dilakukan dengan menggunakan dana antar
bank.
Pricing assets dan liabilities mencerminkan biaya sumber dana antarbank.
Sementara itu, average cost of funds adalah suatu perhitungan historis dari simpanan yang
sudah ada di bank. Penggunaan konsep ini untuk pricing assets dan liabilities. Bank kurang
tepat karena tidak mencerminkan biaya sebenarnya dari biaya pendanaan dan menunjukkan
ketidakakuratan dan kerancuan dalam mengukur profitabilitas produk yang sebenarnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan blended marginal cost of funds adalah suatu perhitungan
untuk jenis pinjaman tertentu. Sumber dana pinjaman tersebut hanya sebagian kecil yang
merupakan dana bank sendiri seperti pinjaman yang mendapat bantuan KLBI.
4.

Pricing Pinjaman yang Diberikan


Fungsi dari adanya pricing pinjaman ini adalah minimal untuk dapat menutupi semua yang
berkaitan dengan biaya pinjaman sehingga pihak bank mendapati pengembalian yang
memadai. Di sisi lain pricingpinjaman juga berfungsi untuk mrncapai target pangsa pasar,
penetrasi sektor ekonomi dan pertumbuhan aktiva serta kualitasnya disamping mencapai
manajemen gap.

Berikut adalah beberapa metode pricing pinjaman :


Marginal cost of funds yang dihitung secara tetap untuk menentukan kapan perubahan
dari base rate suatu pinjaman dan besar base bagi hasil tersebut.
Premi risiko industri, mencerminkan risiko yang terdapat dalam industri tertentu, dapat
berubah apabila kondisi industri tersebut berubah.
Premi risiko perusahaan, antisipasi terhadap tingkat penghapusan pinjaman yang lebih
tinggi.
Biaya pelayanan, seperti biaya SDM dan overhead
Margin keuntungan, disesuaikan untuk menghadapi situasi persaingan atau mencapai
tujuan-tujuan strategis.
5. Pricing Deposito Berjangka
Universitas Islam Majapahit

Page 12

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Tujuan adanya pricing deposito berjangka tidak jauh berbeda dengan tujuan adanya pricing
pinjaman yaitu untuk mendapatkan keuntungan produk dengan meningkatkan jumlah dana
yang lebih murah dibandingkan dengan market funds rates dan mendukung pemenuhan
target likuiditas dengan menyediakan dana yang sesuai dengan struktur jangka waktu yang
sesuai. Adapun beberapa komponen yang mempengaruhi adanya biaya dari simpanan
berjangka, sebagai berikut :
Bagian bagi hasil yang dibayarkan kepada deposan berkaitan dengan jumlah simpanan
maupun bagi hasil nominal.
Biaya cadangan wajib likuiditas
Biaya pelayanan, seperti biaya SDM dan overhead
Margin Keuntungan, yang termasuk target penghasilan sumber dana di pasar.

Dalam hal ini agar pendanaan stabil sebaiknya bank melakukan diversifikasi bagi hasil
dengan menarik deposan kecil dan deposan yang kurang sensitif terhadap perhitungan bagi
hasil.

G. MANAJEMEN DANA
Manajemen dana merupakan suatu proses bagaimana suatu bank mengelola dananya,
artinya adalah bagaimana bank menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan pemupukan
sumber dana, baik pemupukan dari masyarakat atau dari modal sendiri di samping kebijakan
yang berkaitan dengan pengalokasian atau penempatan dana sedemikian rupa sehingga dapat
mencapai tingkat pendapatan yang optimal serta sesuai dengan peraturan yang ditetapan bank
sentral.
Manajemen dana mencakup semua kegiatan bank yang dapat dilihat dalam pos-pos sisi
aktiva maupun pasiva. Di sisi lain, seberapa banyak dana berhasil dihimpun dan sebaerapa baik
dalam pengalokasian dana serta produk bank lainnya sangat dipengaruhi oleh kemampuan dan
strategi pasar yang dianut oleh suatu bank, yaitu terkait dengan Strategi Pemasaran yang
ditetapkan dan Rencana Strategi Pemasaran.

Universitas Islam Majapahit

Page 13

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Secara spesifik usaha banka di atas dapat dipengaruhi oleh faktor ekstren dan intern dengan
rincian sebagai berikut:
Faktor Intern

Faktor Ekstern
a.
b.
c.
d.
e.

Kondisi Perekonomian
Kegiatan dan Kondisi Pemerintah
Kondisi atau perkembangan Pasar uang dan pasar modal
Kebijakan pemerintah
Peraturan bank Indonesia

a.
b.
c.
d.
e.
f.

Produk bank
Kebijakan bagi hasil
Kualitas layanan
Suasana kantor bank
Lokasi kantor
Reputasi Bank

H. MANAJEMEN SUMBER DANA


Sumber dana yang terliat pada sisi pasiva neraca adalah suatu proses di mana bank
berusaha mengembangkan sumber-sumber dana yang nontradisional melalui pinjaman di pasar
uang atau dengan menerbitkan instrumen utang untuk digunakan secara menguntungkan
terutama untuk memenuhi alokasi yang produktif.
Sumber dana bank yang terbesar berasal dari dana masyarakaat di samping sumber dana
lainnya yang berasal dari pinjaman dan model sendiri. Sumber dana pihak ketiga seperti giro,
tabungan, dan deposito lazim juga disebut sebagai sumber dana tradisional.
Keberhasilan bank dalam menghimpun dana atau mobilisasi dana sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, antara lain kepercayaan masyarakat, ekspektasi, keamanan, ketepatan
waktu pengembalian, pelayanan yang cepat, dan pengelolaan dana.
Berikut akan dikemukakan dana menurut sumbernya, yaitu sebagai berikut:
1. Penghimpunan Dana
a. Giro-Wadiah dan Qard; merupakan produk penghimpunan dana di mana nasabah dapat
melakukan penarikan setiap saat dan dapat terus melakukan penarikan sampai maksimum
sebesar dana qard yang telah disepakati
b. Tabungan dan Giro Automatic transfer-Mudharabah dan Wadiah; merupakan kombinasi
antara tabungan dan giro (2 rekening dalam 1 produk), dimana setiap rekening dapat
pindah secara otomatis apabila rekening yang lain membutuhkan dana yang lebih.
c. Deposito; terbagi menjadi enam, yaitu:

Universitas Islam Majapahit

Page 14

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Deposito Mudharabah Muqayadah (Murabahah); yaitu solusi investasi jangka pendek


dan jangka menengah untuk memperoleh hasil investasi dan kegiatan penyaluran dana
yang menggunakan akad murabahah.
Deposito-Mudharabah Muqayyadah (Komoditi Murabahah); yaitu produk depositi
yang akan disalurkan untuk kegiatan jual dan beli komoditas (misalnya logam) pada
pasar global dengan prinsip transaksi murabahah.
Depositi dan Reksadana-Mudharabah; merupakan kombinasi keuntungan dari produk
deposito dan reksadana.
Deposito-Musyarakah; merupakan produk penghimpunan dana yang hanya dapat
ditarik/dicairkan pada periode tertentu sesuai kesepakatan nasabah dengan bank, dan
dan yang akan dikelola oleh bank tidak 100% milik nasabah, namun ada yang
merupakan dana dari bank itu sendiri.
Deposito Untestricted Recurring Invesment-Mudharabah; adalah produk investasi di
mana bank menginvestasikan dana nasabah secara berulang pada beberapa instrumen
yang memberikan keuntungan kompetitif, dan keuntungan akan dikreditkan ke
rekening nasabah pada saat jatuh tempo.
Deposito-Wakalah bil Ujrah; yaitu produk jasa di mana bank memberikan jasa sebagai
agen investasi. Nasabah menginvestasikan dananya dalam jumlah beser dengan
keinginan khusus, misalnya jangka waktu, tingkat pengembalian (return).
2. Penyaluran dana
CAR Financing al-Ijara Thumma al Bai (AITAB)
Home Financing Bai Bithaman Ajil (BBA)
Home Financing-Musyarakah Mutanaqisah
Islamic Card-Bai al-Inah
Islamic Card-Tawaruq
Personal Financing-Bai Al Inah
Personal Financing-Murabahah
Personal Financing-Tawaruq
Agriculture Implements Invesment-Shirkatul Mel, Ijarah, Bai
Micro Industries Invesment-Shirkatul Melk, Ijarah, Bai
Islamic Overdraft (Cash Line Facility)-BBA dan Bai al Inah
Cash Line Facility-Bai Bithaman Ajil
Revolving Financing-Bai Bithaman Ajil (BBA)
Revolving Financing-Mudharabah
Term Financing and Variable Rate-Bai Bithaman Ajil (BBA)
Industrial Hire Purchase-alIjarah Thumma al Bai
Hire Purchase-Shirkatul Melk
Universitas Islam Majapahit

Page 15

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Unsecured Bisiness Financing-Tawaruq


Working Capital and Term Financing
Export Credit Refinancing-Bai Dayn
Export Credit Refinancing-Murabahah
Export Credit Refinancing-Murabahah dan Bai Dayn
Export Financing-Musyarakah
Forward Rate Agreement-Murabahah
Islamic Profit Rate Swap-Murabahah
Islamic Treasury Instrument-Salam Paralel
Sukuk Invesment-Wakalah bil Ujrah
Pembiayaan dengan Penjaminan semua akad pembiayaan Syariah
Share Financing Murabahah (Trading)
Share Financing Murabahah (Invesment)
I. TANTANGAN BANK SYARIAH DARI SISI ALMA
Tantangan yang banyak dihadapi oleh bank syariah pada saat ini adalah komposisi
terbesar dari DPK(dana pihak ketiga) yang mana bersumber dari deposito yang memiliki
ekspektasi keuntungan bagi hasil yang lebih tinggi dari 2 produk liabilitas lainnya. Hal ini terjadi
dikarenakan beberapa hal dibawah ini yaitu :
1. Tantangan teknologi.
Pada dasarnya bank syariah telah memiliki jaringan dan sistem teknologi yang memadai
namun agar bank syariah dapat terus bersaing dengan bank konvensional yang mana telah
memiliki keunggulan dari berbagai segi diantaranya : dari sisi jaringan ATM yang luas,
internet banking,dan merchant untuk transaksi dipusat perbelanjaan serta dengan
memberikan bonus dan hadiah atas jumlah saldo DPK. Hal ini berdampak pada lebih
tingginya minat nasabah untuk menggunakan pilihannya dibank konvensional baik untuk
menabung maupun dalam bentuk giro sehingga jumlah dana investasi meningkat dan
mendorong permodalan yang ada. Oleh karena itulah bank syariah perlu meningkatkan
jaringan dan sistem teknoliginya agar dapat terus memperbaiki dan meningkatkan pelayanan
sehingga dapat meningkatkan minat nasabah untuk menjatuhkan pilihannya dibank syariah.
2. Masalah likuiditas
Menjaga Likuiditas atau ketersedian dana pihak ketiga amatlah penting bagi sebuah bank
baik konvensional maupun syariah, hal ini dikarenankan likuiditas atau DPK adalah nyawa
bagi sistem intermediasi suatu perbankan. Bank syariah harus mencari sumber pendanaan
yang memadai agar dapat terus menjalankan peranannya. Pilihannya adalah pada bentuk
deposito yang memiliki tingkat ekspektasi bagi hasil yang lebih tinggi.DPK pada bank

Universitas Islam Majapahit

Page 16

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

syariah memiliki nkecenderungan bahwa deposito memiliki porsi yang lebih besar, sehingga
bank syariah dihadapkan pada pilihan ekspekyasi bagi hasil DPK yang lebih tinggi.
3. Rationale market
Tidak dapat dipungkiri bahwasannya banyak dari nasabah perbankan adalah rationale
market yaitu nasabah yang berfikir secara rasional akan sebuah tindakan perbankan yang
mereka akan pilih, apakah dapat memberikan return atau nilai tambah (lebih) dari apa yang
mereka investasikan.oleh kerfenanyan tingkat kompetitif dari sebuah bank syariah harus
dapat ditingkatkan dengan lebih baik lagi.
4. Larangan perbankan syariah dipasar derivatif.
Tidak dibolehkannya bank syariah melakukan transaksi atau berbisnis dipasar derivatif
akan mempengaruhi tingkat pendapatan bank tersebut, karena bank hanya memperoleh
pendapatan dari pertumbuhan pembiayaan dan pendapatan jasa lainnya (fee based income).
Berbeda dengan bank konvensional yang memiliki portofolio dipasar tersebut.
J. SOLUSI DALAM PENGELOLAAN ALMA
Dalam menghadapi tantangan tantangan bank syariah dalam pengelolaannya terdapat beberapa
alternatif solusi, diantaranya adalah:
1. Meningkatkan segmentasi DPK
Dalam usaha meningkatkan segmentasi DPK, perbankan syariah dapat melakukan
peningkatan terhadap beberapa bidang misalnya peningkatan standarisasi pelayanan,sistem
dan jaringan teknologi, aksesibilitas ysng mudah, cepat dan aman, serta meningkatkan
jaingan baik dari sisi kantor maupun virtual office (internet banking,dll).
2. Penguatan segmentasi korporasi untuk meningkatkan pendapatan.
Segmentasi korporasi merupakan satu segmen yang baik untuk dibidik oleh bank syariah,
dimana segmentasi korporsi dapat ditingkatkan melalui optimalisasi giro yang aman dan
memiliki aksesibilitas tinggi terhadap korporasi, sehingga mengahasilkan ekspektasi bagi
hasil yang rendah tetapi jumlah yang didapatkan dari sisi DPK lebih besar.
3. Peningkatan fee based income
Fee based income atau pendapatan berbasis jasa layanan tidak termaksuk yang
dibagihasilkan ke nasabah DPK oleh karena itu bank syariah dapat menunkan ekspektasi
keuntungan dari sisi pembiayaan dan mentrasformasikan dalam bentuk fee besad incom.
4. Peningkatan peranan regulator
Perlunya peningkatan peran regulator dalam menggunakan jasa keuangan dari perbankan
syariah,sehingga peranan bank syariah dapat lebih meningkat lagi. Hal ini dikarenakan danadana pemerintah maupun BUMN dapat menjadi sumber DPK yang potensial pada
Universitas Islam Majapahit

Page 17

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

perbankan syariah, regulator juga dapat menjadi solusi atas kebutuhan sistem permodalan
bagi bank syariah.
5. Peningkatan sistem akuntabilitas
Peningkatan sistem akuntabilitas pada bank syariah dapat dilakukan dengan beberapa cara
diantaranya : peningkatan SDM yang memiliki kompetensi dan perbankan syariah secara
baik, penerapan manajemen resiko yang komperhensif, sistem laporan yang informatif dan
bertanggung jawab,sistem audit syariah dan bisnis yang berintegritas,sosialisasi yang merata
kepada setiap masyarakat dll.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Universitas Islam Majapahit

Page 18

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Manajemen Aset didefinisikan menjadi sebuah proses pengelolaan segala sesuatu


baik berwujud dan tidak berwujud yang memiliki nilai ekonomik, dan mampu mendorong
tercapainya tujuan dari individu dan organisasi. Sedangkan Manajemen Liabilitas yaitu
kemampuan bank dalam menyediakan dana yang cukup untuk memenuhi semua
kewajibannya maupun komitmen yang telah dikeluarkan kepada nasabah. Risiko-risiko
ALMA dalam suatu bank pada umumnya berupa Financing risk, Liquidity risk, Pricing risk,
Foreign exchange risk, Gap risk, dan Kontinjen risk.
Likuiditas ialah kemampuan manajemen bank dalam menyediakan dana yang cukup
utuk memenuhi kewajibanya setiap saat.dalam kewajiban di atas termasuk penarikan yang
tidak dapat diduga seperti commitment loan maupun penarikan penarikan tidak terduga
lainya.Ada empat macam teori likuiditas perbankan yang dikenal, yaitu sebagai berikut:
Commecial Loan Theory, Shiftability Theory, Anticipated Income Theory, The
liability Management Theory. Bank mempunyai beberapa alternatif untuk mencapai likuiditas
yaitu menyediakan uang kas yang cukup, mengkonventir aset kedalam uang kas, meminjam
dari bank lain.
Investement dalam pengertian perusahaan (bank) adalah aktivitas bank untuk
menggunakan dana yang dimilikinya, membeli harga tetap yang mempunya nilai jangka
panjang,atau membeli surat berharga jangka panjang (1 sampai 10 tahun). Faktor faktor yang
mempengaruhi keputusan investasi yaitu jangka waktu bagi hasil, pajak, mudah dipasarkan
atau tidak, kualitas dan keamanan, harapan di masa mendatang, dan Diversifikasi.
Manajemen gap juga diartikan sebagai sebuah strategi untuk memaksimumkan net
income margin melalui siklus bagi hasil. Sedangkan dalam konvensional manajemen gap
diartikan sebagai upaya-upaya untuk mengelola dan mengendalikan kesenjangan (Gap) antara
asset dan liabities pada suatu periode yang sama, meliputi kesenjangan dalam hal jumlah
dana, suku bunga, saat jatuh tempo (maturity) atau perpaduan antara ketiganya (kesenjangan
tercampur atau mix match).
Manajemen princing adalah suatu kegiatan manajemen untuk menentukan tingkat
bagi hasil dari produk-produk yang ditawarkan bank, baik disisi assets maupun liabilities.
Tujuan utama dari manajemenprincing tersebut adalah untuk mendukung strategi dan taktis
ALMA bank dalam mencapai tujuan-tujuan operasional lainnya dan mencapai tujuan
penghasilan bank. Keputusan ataupun kebijakan pricing biasanya dipengaruhi beberapa faktor

Universitas Islam Majapahit

Page 19

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

dibawah ini, yaitu Faktor-faktor pasar, Faktor ALMA, Faktor operasional bank, Faktor
kebijakan BI dan Pemerintah
Manajemen dana merupakan suatu proses bagaimana suatu bank mengelola dananya,
artinya adalah bagaimana bank menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan pemupukan
sumber dana, baik pemupukan dari masyarakat atau dari modal sendiri di samping kebijakan
yang berkaitan dengan pengalokasian atau penempatan dana sedemikian rupa sehingga dapat
mencapai tingkat pendapatan yang optimal serta sesuai dengan peraturan yang ditetapan bank
sentral.
Secara spesifik usaha bank di atas dapat dipengaruhi oleh faktor ekstren dan intern.
Faktor Ekstern yaitu Kondisi Perekonomian, Kegiatan dan Kondisi Pemerintah, Kondisi atau
perkembangan Pasar uang dan pasar modal, Kebijakan pemerintah, Peraturan bank Indonesia.
Sedangkan faktor intern yaitu Produk bank, Kebijakan bagi hasil, Kualitas layanan, Suasana
kantor bank, Lokasi kantor, Reputasi Bank.
Sumber dana yang terliat pada sisi pasiva neraca adalah suatu proses di mana bank
berusaha mengembangkan sumber-sumber dana yang nontradisional melalui pinjaman di
pasar uang atau dengan menerbitkan instrumen utang untuk digunakan secara menguntungkan
terutama untuk memenuhi alokasi yang produktif.
Tantangan bank syariah dari sisi alma antara lain Tantangan teknologi, Masalah
likuiditas, Rationale market, Larangan perbankan syariah dipasar derivatif. Dalam
menghadapi tantangan tantangan bank syariah dalam pengelolaannya terdapat beberapa
alternatif solusi, diantaranya adalah Meningkatkan segmentasi DPK, Penguatan segmentasi
korporasi untuk meningkatkan pendapatan, Peningkatan fee based incom, Peningkatan
peranan regulator, Peningkatan sistem akuntabilitas
B. REFERENSI
Anggota Ikapi. 2010. Portofolio dan Investasi. Kanisius. Yogyakarta.
Ifham Sholihin, Ahmad. 2010. Buku Pintar Ekonomi Syariah. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Imaduddin, Ahmad. September 2010. Manajemen Asset dan Liabilitas Dalam Perbankan
Syariah. Jurnalekonomi islam al-infaq vol 1 no 1. Fakultas Agama Islam Universitas Ibn
Khaldun Bogor.

Universitas Islam Majapahit

Page 20

MANAJEMEN ASSET DAN LIABILITAS

Leon, Leon. Dkk. 2007.Manajemen Aktiva Pasiva Bank Nondevisa.PT. Grafindo. Jakarta.
Rivai, Veithzal; Arviyan Arifin. 2010. Islamic Banking: Sebuah Teori, Konsep, dan
Aplikasi. Bumi Aksara. Jakarta.
Widjajanta, Bambang. Dkk. 2007. Mengasah Kemampuan Ekonomi. Citra Praya. Bandung.
http://duniamanajemenku.blogspot.com/2009/02/manajemen-aset-dan-liabilitas-alma.html
http://irfanmnugraha.blogspot.com/2012/02/definisi-manajemen-aset.html

Universitas Islam Majapahit

Page 21