Anda di halaman 1dari 20

BAB III

KOMPONEN STRUKTUR GEDUNG

3.1. Struktur Gedung Bagian Atas


Struktur atas suatu gedung adalah seluruh bagian struktur gedung yang
berada di atas muka tanah (SNI 2002). Struktur atas ini terdiri atas kolom, pelat,
balok,dinding geser dan tangga, yang masing-masing mempunyai peran yang
sangat penting.
3.2. Komponen-Komponen Struktur Gedung Bagian Atas
3.2.1. Kolom
Kolom merupakan suatu elemen struktur tekan yang memegang
peranan penting dari suatu bangunan, sehingga keruntuhan pada suatu
kolom erupakan lokasi kritis yang dapat menyebabkan runtuhnya (collapse)
lantai yang bersangkutan dan juga runtuh total (total collapse) seluruh
struktur (Sudarmoko, 1996). Fungsi kolom adalah sebagai penerus beban
seluruh bangunan ke pondasi. Bila diumpamakan, kolom itu seperti rangka
tubuh manusia yang memastikan sebuah bangunan berdiri. Kolom termasuk
struktur utama untuk meneruskan berat bangunan dan beban lain seperti
beban hidup (manusia dan barang-barang), serta beban hembusan angin.
Kolom berfungsi sangat penting, agar bangunan tidak mudah roboh.
SK SNI T-15-1991-03 mendefinisikan kolom adalah komponen
struktur bangunan yang tugas utamanya menyangga beban aksial tekan
vertikal dengan bagian tinggi yang tidak ditopang paling tidak tiga kali
dimensi lateral.

Struktur dalam kolom dibuat dari besi dan beton. Keduanya


merupakan gabungan antara material yang tahan tarikan dan tekanan. Besi
adalah material yang tahan tarikan, sedangkan beton adalah material yang
tahan tekanan. Gabungan kedua material ini dalam struktur beton
memungkinkan kolom atau bagian struktural lain seperti sloof dan balok bisa
menahan gaya tekan dan gaya tarik pada bangunan.

Gambar 3.1 Kolom Beserta Penulagan dan Perencanaan Bekisting

Prinsip Desain Kolom


Elemen struktur kolom yang mempunyai nilai perbandingan
antara panjang dan dimensi penampang melintangnya relatif kecil
disebut kolom pendek. Kapasitas pikul-beban kolom pendek tidak
tergantung pada panjang kolom dan bila mengalami beban
berlebihan, maka kolom pendek pada umumnya akan gagal karena
hancurnya material. Dengan demikian, kapasitas pikul-beban batas
tergantung pada kekuatan material yang digunakan. Semakin
panjang suatu elemen tekan, proporsi relatif elemen akan berubah
hingga mencapai keadaan yang disebut elemen langsing. Perilaku
elemen langsing sangat berbeda dengan elemen tekan pendek.
Perilaku elemen tekan panjang terhadap beban tekan adalah apabila
bebannya kecil, elemen masih dapat mempertahankan bentuk
liniernya, begitu pula apabila bebannya bertambah. Pada saat beban
mencapai nilai tertentu, elemen tersebut tiba-tiba tidak stabil, dan
berubah bentuk menjadi seperti tergambar.

Hal inilah yang dibuat fenomena tekuk (buckling) apabila


suatu elemen struktur (dalam hal ini adalah kolom) telah menekuk,
maka kolom tersebut tidak mempunyai kemampuan lagi untuk
menerima beban tambahan. Sedikit saja penambahan beban akan
menyebabkan elemen struktur tersebut runtuh. Dengan demikian,
kapasitas pikul-beban untuk elemen struktur kolom itu adalah besar

beban yang menyebabkan kolom tersebut mengalami tekuk awal.


Struktur yang sudah mengalami tekuk tidak mempunyai kemampuan
layan lagi. Fenomena tekuk adalah suatu ragam kegagalan yang
diakibatkan oleh ketidakstabilan suatu elemen struktur yang
dipengaruhi oleh aksi beban. Kegagalan yang diakibatkan oleh
ketidakstabilan dapat terjadi pada berbagai material. Pada saat
tekuk terjadi, taraf gaya internal bisa sangat rendah. Fenomena
tekuk berkaitan dengan kekakuan elemen struktur. Suatu elemen
yang mempunyai kekakukan kecil lebih mudah mengalami tekuk
dibandingkan dengan yang mempunyai kekakuan besar. Semakin
panjang suatu elemen struktur, semakin kecil kekakuannya.
Banyak faktor yang mempengaruhi beban tekuk (Pcr) pada
suatu elemen struktur tekan panjang. Faktor-faktor tersebut adalah
sebagai berikut :
1. Panjang Kolom
Pada umumnya, kapasitas pikul-beban kolom berbanding terbalik
dengan kuadrat panjang elemennya. Selain itu, faktor lain yang
menentukan besar beban tekuk adalah yang berhubungan dengan
karakteristik kekakuan elemen struktur (jenis material, bentuk, dan
ukuran penampang).
2. Kekakuan
Kekakuan elemen struktur sangat dipengaruhi oleh banyaknya
material dan distribusinya. Pada elemen struktur persegi panjang,
elemen struktur akan selalu menekuk pada arah seperti yang

diilustrasikan

pada

di

bawah

bagian

(a).

Namun

bentuk

berpenampang simetris (misalnya bujursangkar atau lingkaran) tidak


mempunyai arah tekuk khusus seperti penampang segiempat.
Ukuran distribusi material (bentuk dan ukuran penampang) dalam
hal ini pada umumnya dapat dinyatakan dengan momen inersia (I).

3. Kondisi ujung elemen struktur


Apabila

ujung-ujung

kolom

bebas

berotasi,

kolom

tersebut

mempunyai kemampuan pikul-beban lebih kecil dibandingkan


dengan kolom sama yang ujung-ujungnya dijepit. Adanya tahanan
ujung menambah kekakuan sehingga juga meningkatkan kestabilan
yang mencegah tekuk. Mengekang (menggunakan bracing) suatu
kolom pada suatu arah juga meningkatkan kekakuan. Fenomena
tekuk

pada

umumnya

menyebabkan

terjadinya

pengurangan

kapasitas pikul-beban elemen tekan. Beban maksimum yang dapat


dipikul kolom pendek ditentukan oleh hancurnya material, bukan
tekuk.

Untuk kolom pada bangunan sederhana bentuk kolom ada


dua jenis yaitu kolom utama dan kolom praktis.
a. Kolom Utama
Yang dimaksud dengan kolom utama adalah kolom yang fungsi
utamanya menyanggah beban utama yang berada diatasnya. Untuk
rumah tinggal disarankan jarak kolom utama adalah 3.5 m, agar

dimensi balok untuk menompang lantai tidak tidak begitubesar, dan


apabila jarak antara kolom dibuat lebih dari 3.5 meter, maka struktur
bangunan harus dihitung. Sedangkan dimensi kolom utama untuk
bangunan rumah tinggal lantai 2 biasanya dipakai ukuran 20/20,
dengan tulangan pokok 8 d12 mm, danbegel d 8-10cm ( 8 d 12
maksudnya jumlah besi beton diameter 12mm 8 buah, 8 10
cmmaksudnya begel diameter 8 dengan jarak 10 cm).
b. Kolom Praktis
Adalah kolom yang berpungsi membantu kolom utama dan juga
sebagai pengikat dinding agardinding stabil, jarak kolom maksimum
3,5

meter,atau

pada

pertemuan

pasangan

bata,

(sudutsudut).Dimensi kolom praktis 15/15 dengantulangan beton 4 d


10 begel d 8-20.

Dalam buku struktur beton bertulang (Istimawan dipohusodo,


1994) ada tiga jenis kolom beton bertulang yaitu :
1.

Kolom menggunakan pengikat sengkang lateral. Kolom ini


merupakan kolom beton yang ditulangi dengan batang tulangan
pokok memanjang, yang pada jarak spasi tertentu diikat dengan
pengikat sengkang ke arah lateral. Tulangan ini berfungsi untuk
memegang tulangan pokok memanjang agar tetap kokoh pada
tempatnya. Terlihat dalam gambar 1.

2. Kolom menggunakan pengikat spiral. Bentuknya sama dengan


yang pertama hanya saja sebagai pengikat tulangan pokok
memanjang adalah tulangan spiral yang dililitkan keliling membentuk
heliks menerus di sepanjang kolom. Fungsi dari tulangan spiral
adalah memberi kemampuan kolom untuk menyerap deformasi
cukup besar sebelum runtuh, sehingga mampu mencegah terjadinya
kehancuran seluruh struktur sebelum proses redistribusi momen dan
tegangan terwujud. Seperti pada gambar 1.(b).
3. Struktur kolom komposit seperti

tampak

pada

gambar

1.

Merupakan komponen struktur tekan yang diperkuat pada arah


memanjang dengan gelagar baja profil atau pipa, dengan atau tanpa
diberi batang tulangan pokok memanjang

Gambar 3.2 Jenis-Jenis Kolom

3.2.2. Balok

Gambar 3.3 Balok

Balok juga merupakan salah satu pekerjaan beton bertulang. Balok


merupakan bagian struktur yang digunakan sebagai dudukan lantai dan
pengikat kolom lantai atas. Fungsinyaadalah sebagai rangka penguat
horizontal bangunan akan beban-beban.
Persyaratan balok menurut PBBI 1971.N.I 2 hal. 91 sebagai berikut :
a. Lebar badan balok tidak boleh diambil kurang dari 1/50 kali bentang
bersih. Tinggi balok harus dipilih sedemikian rupa hingga dengan lebar
badan yang dipilih.
b. Untuk semua jenis baja tulangan, diameter (diameter pengenal) batang
tulangan untuk balok tidak boleh diambil kurang dari 12 mm. Sedapat
mungkin harus dihindarkan pemasangan tulangan balok dalam lebih
dari 2 lapis, kecuali pada keadaan-keadaan khusus.
c. Tulangan tarik harus disebar merata didaerah tarik maksimum dari
penampang.
d. Pada balok-balok yang lebih tinggi dari 90 cm pada bidang-bidang
sampingnya harus dipasang tulangan samping dengan luas minimum
10% dari luas tulangan tarik pokok. Diameter batang tulangan tersebut
tidak boleh diambil kurang dari 8 mm pada jenis baja lunak dan 6 mm
pada jenis baja keras.
e. Pada balok senantiasa harus dipasang sengkang. Jarak sengkang tidak
boleh diambil lebih dari 30 cm, sedangkan dibagian balok sengkangsengkang bekerja sebagai tulangan geser. Atau jarak sengkang tersebut
tidak boleh diambil lebih dari 2/3 dari tinggi balok. Diameter batang
sengkang tidak boleh diambil kurang dari 6 mm pada jenis baja lunak
dan 5 mm pada jenis baja keras.

3.2.3. Plat Lantai


Plat lantai adalah lantai yang tidak terletak di atas tanah langsung,
jadi merupakan lantai tingkat. Plat lantai ini didukung oleh balok-balok yang
bertumpu pada kolom-kolom bangunan.
Ketebalan plat lantai ditentukan oleh :
a.

Besar lendutan yang diijinkan

b.

Lebar bentangan atau jarak antara balok-balok pendukung

c.

Bahan konstruksi dan plat lantai

Berdasarkan aksi strukturalnya, pelat dibedakan menjadi empat


(Szilard, 1974)
a. Pelat kaku
Pelat kaku merupakan pelat tipis yang memilikki ketegaran lentur
(flexural rigidity), dan memikul beban dengan aksi dua dimensi,
terutama dengan momen dalam (lentur dan puntir) dan gaya geser
transversal, yang umumnya sama dengan balok. Pelat yang
dimaksud dalam bidang teknik adalah pelat kaku, kecuali jika
dinyatakan lain.
b. Membran
Membran merupakan pelat tipis tanpa ketegaran lentur dan memikul
beban lateral dengan gaya geser aksial dan gaya geser terpusat.
Aksi pemikul beban ini dapat didekati dengan jaringan kabel yang
tegang karena ketebalannya yang sangat tipis membuat daya tahan
momennya dapat diabaikan.

c. Pelat flexibel
Pelat flexibel merupakan gabungan pelat kaku dan membran dan
memikul beban luar dengan gabungan aksi momen dalam, gaya
geser transversal dan gaya geser terpusat, serta gaya aksial.
Struktur ini sering dipakai dalam industri ruang angkasa karena
perbandingan berat dengan bebannya menguntungkan.
d. Pelat tebal
Pelat tebal merupakan pelat yang kondisi tegangan dalamnya
menyerupai kondisi kontinu tiga dimensi
Bahan untuk Plat lantai dapat dibuat dari :
a. Plat Lantai Kayu
Ukuran Lebar papan umumnya 20-30cm. Tebal papan ukuran 23cm, dengan jarak balok-balok pendukung antara 60-80cm.
Ukuran balok berkisar antara 8/12, 8/14, 10/14. Untuk bentangan
3-3,5cm. Balok-balok kayu ini dapat diletakkan diatas pasangan
bata 1 batu atau ditopang oleh balok beton. Bahan kayu yang
dipaki harus mempunyai berat jenis antara 0,6-0,8 (t/m3) atau
dari jenis kayu kelas II.
Keuntungannya :
1. Harga relative murah, berarti biaya bangunan rendah
2. Mudah dikerjakan, berarti pekerjaan lebih cepat selesai
3. Beratnya ringan, berarti menghemat ukuran fondasi
Kerugiannya :

1. Hanya boleh untuk konstruksi bangunan sederhana dengan beban


ringan ringan
2. Bukan peredam suara yang baik
3. Sifat bahan permeable ( rembes air ), jadi tidak dapat dibuat
KM/WC di lantai atas
4. Mudah terbakar, jadi tidak dapat membuat dapur dilantai atas
5. Tidak dapat dipasang keramik
6. Dapat dimakan bubuk atau serangga, berarti keawetan bahan
terbatas
7. Mudah rusak oleh pengaruh cuaca yang berubah-ubah.

Gambar 3.4 Plat Lantai Kayu


b. Plat Lantai Beton
Dipasang tulangan baja pada kedua arah, tulangan silang, untuk
menahan momen tarik dan lenturan. Untuk mendapatkan
hubungan jepit-jepit, tulangan plat lantai harus dikaitkan kuat
pada tulangan balok penumpu. Perencanaan dan hitungan plat

lantai dan beton bertulang, harus mengikuti persyaratan yang


tercantum dalam buku SNI I Beton 1991.
Beberapa persyaratan tersebut antara lain :
1. Plat lantai harus mempunyai tebal sekurang-kurangnya 12cm,
sedangkan untuk plat atap sekurangkurangnya7cm
2. Harus diberi tulangan silang dengan diameter minimum 8mm dari
baja lunak atau baja sedang
3. Pada plat lantai yang tebalnya > 25cm harus dipasang tulangan
rangkap atas bawah
4. Jarak tulangan pokok yang sejajar tidak kurang dari 2,5cm dan
tidak lebih dari 20cm atau dua kalitebal plat lantai, dipilih yang
terkecil
5. Semua tulangan plat harus terbungkus lapisan beton setebal
minimum 1cm, untuk melindungi bajadari karat, korosi atau
kebakaran
6. Bahan beton untuk plat harus dibuat dari campuran 1semen :
2pasir : 3kerikil + air, bila untuk lapiskedap air dibuat dari
campuran 1semen : 1 pasir : 2 kerikil + air secukupnya.

Gambar 3.4 Perencanaan Plat Lantai Beton

Plat-lantai beton dapat dibuat menerus/menjadi satu dengan plat


luifel dengan balok penumpu sebagai pembatasnya.
c. Plat Lantai Yumen ( Kayu Semen )
Plat lantai kayu semen ini dibuat dari potongan kayu apa saja
dan kecil-kecil yang kemudian dicampur semenyang berukuran
90cm x 80cm. plat lantai yumen ini masih jarang digunakan
karena termasuk bahan bangunan yang baru dan yumen ini
buatan dari Pabrik Semen Gresik.

Cara Pemasangan Yumen :


Sebelum dipasangi yumen, dack yang akan dibuat dipasangi
kayu bangkirai 5/7 dengan panjang yangsudah diatur dengan

jarak 40cm. Kayu yang berjejer tersebut ditumpangi ring balk dan
dicor, setelah itu lembaran yumen dipasang berjejer rapat diatas
kayu tersebut lalu dibaut. Kemudian diatas yumen baru diberi
rabat beton (1pc : 2ps : 3kr), setelah kering dipasang keramik,
kalau dilihat dari bawah, kayu tersebut tampak seperti utuh.
Untuk itu kayu tersebut bisa dipakai sebagai kayu ekspos (bisa
dipolitur).

3.2.4. Tangga
Tangga merupakan suatu komponen struktur yang terdiri dari plat,
bordes dan anak tangga yang menghubungkan satu lantai dengan lantai di
atasnya. Tangga mempunyai bermacam-macam tipe, yaitu tangga dengan
bentangan arah horizontal, tangga dengan bentangan ke arah memanjang,
tangga terjepit sebelah (Cantilever Stairs) atau ditumpu oleh balok tengah.,
tangga spiral (Helical Stairs), dan tangga melayang (Free Standing Stairs).
Bagian-Bagian struktur tangga :
a. Ibu Tangga

Bagian konstruksi pokok yang berfungsi mendukung anak tangga.


Ibu tangga dapat merupakan

konstruksi yang menjadi satu dengan

rangka bangunannya.

Jenis-jenis tangga menurut strukturnya :


a. Tangga Plat
Tangga dengan faktor pendukung berupa plat (biasanya
berupa plat beton bertulang). Diatas tangga plat tangga yang miring
ini terdapat anak tangga.
b. Tangga Balok

Tangga dengan struktur pendukung berupa balok (dapat


berupa balok beton bertulang, kayu atau baja profil)
c. Tangga kantilever
Anak-anak tangga berupa kantilever yang terjepit salah
satu ujungnya di dalam dinding atau balok.
Persyaratan pembuatan tangga adalah sebagai berikut :
1. Lebar tangga dan bordes memenuhi kebutuhan
2. Panjang tangga cukup, sehingga dapat memberikan aantrede
optrede yang proporsional, aman dan nyaman.
3. Sandaran yang cukup kuat dan aman
4. Memenuhi persyaratan struktural.

3.2.5. Dinding Geser


Dinding Geser (shear wall) adalah suatu struktur balok kantilever
tipis yang langsing vertikal, untuk digunakan menahan gaya lateral.
Biasanya dinding geser berbentuk persegi panjang, Box core suatu tangga,
elevator atau shaft lainnya. Dan biasanya diletakkan di sekeliling lift, tangga

atau shaft guna menahan beban lateral tanpa mengganggu penyusunan


ruang dalam bangunan.
Usaha untuk memonolitkan antara profil dengan beton pada struktur
dinding geser, diberikan kabel pada dinding yang berupa baja mutu tinggi.
Dengan pemberian profil sebagai tambahan untuk pengaku dalam
menahan

gaya

memberikan

lateral.

hasil

Dinding

kapasitas

geser

yang

jauh

dengan
lebih

penambahan
besar

profil

dibandingkan

penampang dinding geser biasa dengan selisih beda 100% yang bisa
dilihat pada diagram interaksi momen (Mn) dan beban axial(Pn). Perbedaan
tersebut didapat dengan menarik garis linear pada diagram tersebut.
Didapat momen pada dinding geser tanpa profil sebesar Mn = 25000 KNm,
sedangkan momen pada dinding geser dengan profil sebesar Mn =50000
KNm.

Dengan adanya dinding geser yang kaku pada bangunan, sebagian


besar beban gempa akan terserap oleh dinding geser tersebut. Menurut
Tata Cara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung, SNI 032847-2006 (Purwono et al., 2007), perencanaan geser pada dinding
structural untuk bangunan tahan gempa didasarkan pada besarnya gaya
dalam yang terjadi akibat beban gempa. Namun, dalam prakteknya masih
terdapat keraguan akan keandalan hasil desain dinding geser berdasarkan
konsep ini. Hal ini menyebab kan masih disyaratkannya konsep desain
kapasitas untuk perencanaan dinding geser dalam berbagai proyek gedung
tinggi di Indonesia. Menurut konsep desain kapasitas, kuat geser dinding

didesain berdasarkan momen maksimum yang paling mungkin terjadi di


dasar dinding.

Dalam prakteknya dinding geser selalu dihubungkan dengan system


rangka pemikul momen pada gedung. Dinding struktural yang umum
digunakan pada gedung tinggi adalah dinding geser kantilever dan dinding
geser berangkai. Berdasarkan SNI 03-1726-2002 (BSN, 2002), dinding
geser beton bertulang kantilever adalah suatu subsistem struktur gedung
yang fungsi utamanya adalah untuk memikul beban geser akibat pengaruh
gempa rencana. Kerusakan pada dinding ini hanya boleh terjadi akibat
momen lentur (bukan akibat gaya geser), melalui pembentukkan sendi
plastis di dasar dinding.

Penempatan dinding geser ada 2 macam :


1. Dinding geser sebagai dinding tunggal
2. Dinding geser yang disusun membentuk core (inti).

Jenis dinding geser berdasarkan variasi susunan dinding geser


dalam denah dibagi atas :
1.

Dinding geser sebagai dinding eksterior

2.

Dinding geser sebagai dinding interior

3.

Dinding geser simetri

4.

Dinding geser asimetri

5.

Dinding geser penuh selebar bangunan

6.

Dinding geser hanya sebagian dari lebar bangunan

3.2.6. Atap
Atap adalah bagaian paling atas dari suatu bangunan, yang
melilndungi gedung dan penghuninya secara fisik maupun metafisik
Permasalahan atap tergantung pada luasnya ruang yang harus
dilindungi, bentuk dan konstruksi yang dipilih, dan lapisan penutupnya. Di
daerah tropis atap merupakan salah satu bagian terpenting. Struktur atap
terbagi menjadi rangka atap dan penopang rangka atap. Rangka atap
berfungsi menahan beban dari bahan penutup. Penopang rangka atap
adalah balok kayu / baja yang disusun membentuk segitiga,disebut dengan
istilah kuda-kuda.