Anda di halaman 1dari 2

Disclaimer : I do not own Vocaloid

Warning : Shonen-ai

(ACUTE REVERSE)

Dalam 14 tahun hidupku, aku belum pernah merasa seposesif ini. Rasa ingin memiliki ini hanya
aku bagi dengan saudara perempuanku dan aku tidak pernah merasakan perasaan ini terhadap
seseorang seperti yang aku rasakan saat ini. Aku ingin memilikinya seorang. Aku hanya ingin dia
memandangku. Aku ingin HANYA AKU yang dapat mencium harum lavender dari rambut ungu
panjangnya. Dan aku ingin hanya aku yang dapat merasakan bibir yang kerap membuat
jantungku melompat saat namaku disebutnya.
Oh, salahkah aku merasakan semua hal itu?
Lagipula, kami sudah lama bersama. Wajar kan jika aku menumbuhkan benih cinta yang amat
posesif ini terhadapnya? Walau aku tahu, ia tidak memandangku seperti aku memandangnya.
Aku tidak berarti baginya?
Ne, Gakku-niiapakah kau menyukaiku?
Dan mata yang bertahtakan sapphire itu memandangku dengan lembut menyertai senyum hangat
dari wajahnya. Tentu saja aku menyukaimu, Len. Aku sangat menyukai kalian berdua.
Heh, tentu saja. Jelas kan? Ia tidak pernah memandangku serius. Dimatanya, Kamui Gakupo, aku
tidak pernah lebih dari seorang adik, tidak lebih dari Rin, kembaran perempuanku. Namun
entah kenapa, aku tidak pernah bisa berhenti menyukainya. Ia seperti opium, memabukkan dan
membuatku tagih akan sentuhannya di tubuhku, suara seraknya di telingaku, dan hangatnya
pandangan batu sapphir kembarnya.
Len ia kembali membiskkan suara seksinya ke telingaku. Membuat semburat-semburat
merah menari-nari di atas pipiku. Dan yang lebih membuatku terkejut lagi, aku merasakan
lembutnya bibir itu di pipiku. IA MENCIUMKU!!!
Oh, Kami-samaa-apa yang terjadi? Jantungkuberdetak sangat kencang!
Len,
I-iya? ujarku gugup dan ia malah membalas kegugupanku dengan senyumnya.

Otanjoubi Omedeto, ore no kawaii Len.


(Selamat ulang tahun, Lenku yang manis)
Kata-kata itu rasanya seperti peluru yang telak menembus kesadaranku dan keringat dinginku
mulai bercucuran seiring dengan semakin meranumnya wajahku. Aku kemudian terduduk dari
posisiku yang sebelumnya terbaring di dadanya. Oh, merasakan napasnya yang kini
menghembus rambutku yang senada dengan matahari musim panas.
Ia meletakkan dagunya di atas kepalaku dan merangkulku dari belakang. Aku merasakan kini ia
sedang menenggelamkan wajahnya di rambutku dan ia berbisik pelan.
Suki da.
ehuso?
Kini ia mengangkat wajahku menghadap wajahnya. Mata itusapphire kembar itu kini
memancarkan kesungguhan dan mata itu tak kunjung lepas menjelajahi tiap sudut wajahku. Oh
tidak, pasti sekarang ia akan mentertawakan wajahku yang sudah semerah apel!
Hontou yo. Dare yori mo. Len ga daisuki.
Potongan kata-katanya kini membuat degup jantungku tak terkontrol. Napasku turun naik tak
karuan. Apalagi