Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

MISSED ABORTION
Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kepanitraan Klinik
Stase Obstetri dan Ginekologi di Rumah Sakit Tugurejo Semarang

Pembimbing :
dr. Diana H, SpOG

Di susun Oleh :
EKO BUDHIARTI
H2A010014

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2015
1

BAB I
PENDAHULUAN
Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sampai saat ini janin yang terkecil,
yang dilaporkan dapat hidup diluar kandungan, mempunyai berat badan 297 gram
waktu lahir. Akan tetapi, karena jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat
badan dibawah 500 gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai
pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari
20 minggu. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan.
Abortus buatan ialah pengakhiran kehamilan sebelum 20 minggu akibat tindakan.
Abortus terapeutik ialah abortus buatan yang dilakukan atas indikasi medik.
Diperkirakan frekuensi abortus spontan berkisar 10-15%.
Missed abortion merupakan salah satu bagian dari abortus spontan. Missed
abortion yaitu keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-20, tetapi
tertanam di dalam rahim selama beberapa minggu (8 minggu atau lebih) setelah
janin mati (tidak dikeluarkan). Penyebab dari missed abortion belum diketahui
secara pasti namun diduga salah satunya karena ada pengaruh dari hormone
progesteron. Progesteron merupakan suatu hormon yang diproduksi di dalam
ovarium, disekresikan oleh korpus luteum. Hormon ini adalah hormon utama
selama kehamilan yang digunakan untuk implantasi. Kekurangan progesterone
dapat sangat berpengaruh pada seseorang, antara lain terganggunya siklus
menstruasi, tidak terjadinya ovulasi; meningkatnya stress dan rasa tidak nyaman
selama kehamilan, terutama pada trimester I; keringnya mukosa vagina;
meningkatkan risiko keguguran. Peyebab dari kekurangan progesterone sendiri
antara lain adalah stress, diet, kontrasepsi, dan lingkungan.
Untuk memantau kemajuan kehamilan dan memastikan kesehatan ibu dan
tumbuh kembang janin diperlukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal care
[ANC]) yang rutin dilakukan. Jadwal kunjungan ANC sebaiknya dilakukan 4 kali
selama kehamilan yaitu satu kali pada trimester pertama (sebelum 14 minggu),
satu kali pada trimester ke dua (antara minggu 14-28), dan dua kali pada trimester
2

ke tiga (antara minggu 28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36). Pelayanan
standar pada ANC adalah 7T, a) (Timbang) berat badan, b) Ukur (Tekanan)
darah, c) Ukur (Tinggi) fundus uteri, d) Pemberian imunisasi (Tetanus Toxoid), e)
Pemberian Tablet zat besi, minimum 90 tablet selama kehamilan, f) Tes terhadap
penyakit menular sexual, g) Temu wicara dalam rangka persiapan rujukan.

BAB II
KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Pekerjaan
Pendidikan Terakhir
Alamat

: Ny. MR
: 40 tahun
: Perempuan
: Islam
: wiraswasta
: SMA
: Jalan Ringintelu RT 04 RW 01 Kel. Kalipancur

Tanggal masuk
No. CM
Biaya pengobatan

Kec. Ngaliyan, Semarang


: Selasa, 6 januari 2015 (pukul 10.30 wib)
: 163956
: BPJS non PBI

Nama Suami

: Tn. H

Umur

: 45 th

Alamat

: Jalan Ringintelu RT 04 RW 01 Kel. Kalipancur

Agama

Kec. Ngaliyan, Semarang


: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Pendidikan Terakhir

: SMA

II. ANAMNESIS

Anamnesa dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 6 januari 2015

pukul 10.30 WIB.


Keluhan utama :
Keluar darah dari jalan lahir.

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir . dua bulan
yang lalu pasien mengalami flek-flek dan mulai keluar darah banyak pada
hari jumat setelah pasien minum jamu pelancar menstruasi. Pasien telat
haid dari bulan juli 2014. Pasien sebelumnya tidak mengetahui Kalau
4

hamil, perut pasien tidak terasa membesar dan tidak ada keluhan. Nyeri
perut (-). pasien baru mengetahui hamil setelah periksa di poli kandungan

RSUD tugurejo dan didapatkan janin dalam kandungan sudah tidak ada.
Riwayat jatuh disangkal.
Riwayat aktifitas berat disangkal.
Riwayat haid :
Menarche pada usia 12 tahun
Lama haid : 7 hari
Nyeri Haid : tidak ada.
HPHT : lupa
HPL

:-

Riwayat nikah :
Pasien menikah 1 kali dengan suami yang sekarang selama 12 tahun
Riwayat obstetri : G4P3A0
1. 2004, Laki-laki, berat badan lahir 3100 gram, lahir spontan, ditolong
oleh bidan, cukup bulan, usia anak sekarang 11 tahun, sehat.
2. 2010, Perempuan, berat badan lahir 2700 gram, lahir spontan, ditolong
oleh dr.Sp.OG, letak sungsang,cukup bulan, usia anak sekarang 5
tahun, sehat.
3. 2012, Laki-laki, berat badan lahir 2900 gram, lahir spontan, ditolong

oleh bidan, usia anak sekarang 3 tahun, sehat.


Riwayat ANC : Riwayat KB :
Pasien tidak menggunakan KB.
Riwayat penyakit dahulu :
-

Riwayat penyakit asma

: disangkal.

Riwayat penyakit hipertensi

: disangkal

Riwayat penyakit diabetes mellitus

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat operasi diabdomen

: disangkal

Riwayat penggunaan obat-obatan dan jamu

seringkali minum jamu setiap akan datang bulan)

Riwayat Penyakit Keluarga


5

diakui

(pasien

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat diabetes mellitus

: diakui (ayah pasien)

Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat Asma

: disangkal

Riwayat Alergi

: disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi


-

Pasien dan suami bekerja sebagai wiraswasta. Ibu tinggal bersama


suami dan 3 orang anak. Biaya pengobatan ditanggung BPJS non PBI.

III.

Kesan ekonomi : cukup

Riwayat Pribadi
-

Merokok

: disangkal

Minum Alkohol : disangkal

Minum jamu

: disangkal

PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum : baik, composmentis

Vital sign

TD

: 100/70 mmHg

Nadi

: 60x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup

RR

: 20 x/ menit

Suhu

: 36 0C

BB

: 50 kg

TB

: 155 cm

BMI

: 20,81 kg/m2

Kesan

: status gizi baik (normoweight)

Status internus :
-

Kepala : bentuk mesocephal

Mata : konjunctiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), reflex


cahaya (+/+), pupil bulat isokor (3 mm / 3 mm).

Telinga : normotia, discharge (-/-), massa (-/-)

Hidung : simetris, napas cuping hidung (-), sekret (-/-), darah (-/-),
septum di tengah, concha hiperemis (-/-).

Mulut : sianosis (-), bibir pucat (-), lidah kotor (-), karies gigi (-),
faring hiperemis (-), tonsil (T1/T1).

Leher : pembesaran kelenjar thyroid (-), kelenjar getah bening


membesar (-)

Thoraks :
Cor :
Inspeksi
Palpasi

: ictus cordis tidak terlihat


: ictus cordis teraba di ICS IV linea midclavicularis

sinistra, nyeri tekan (-)


Perkusi
: konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan
Pulmo :
Inspeksi
: statis, dinamis, retraksi (-)
Palpasi
: stem fremitus kanan = kiri
Perkusi
: sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, suara tambahan -/-

Abdomen :
Inspeksi
Auskultasi
Perkusi
Palpasi

: datar, striae gravidarum (-)


: Bising usus (+) normal
: Timpani, pekak sisi (-), pekak alih (-)
: TFU sulit diraba, Hepar/ Lien tak teraba, nyeri tekan

(-)
-

Ekstremitas
Edema
Akral dingin
Refleks fisiologis
Refleks patologis

Superior
-/-/+N/+N
-/-

Status Gynekologi
-

VT

: fluksus (-), fluor (-)

Inferior
-/-/+N/+N
-/-

IV.

V/U/V

: tidak ditemukan kelainan

Portio

: sebesar jempol kaki, posterior, lunak

OUE

: tertutup

Cavum douglas

: tidak ditemukan kelainan

Parametrium adnexa

: tidak ditemukan kelainan

PEMERIKSAAN PENUNJANG :
USG:
-

Tampak uterus ukuran 10,52 x 7,22 x 9,28 cm, kontur dan tekstur dalam

batas normal.
Tampak janin I intrauterine FM (-), FHM (-), FHR (-), CRL 11 W 1 d

V. DIAGNOSIS
G4P3A0, 40 tahun
Hamil 11 minggu
Missed Abortion
VI.

PENATALAKSANAAN
a. Sikap :
- Pertahankan dan tingkatkan KU
- Diet biasa
- Rencana Program kuretase tanggal 8 januari 2015
- Ijin tindakan (informed consent)
8

VII.

Konsul anestesi
Pengawasan KU, TV
b. Pengobatan pasca kuretase
Infus RL 20 tpm
Amoxicillin 3x500 mg
Asam mefenamat 3x500 mg
Vit Bc/C/Sf tablet 1x1
Diet biasa
Pengawasan KU, TV, BAK, BAB

PERJALANAN PENYAKIT
Tanggal /

Perjalanan penyakit

jam
Selasa

Keluhan :

06-01-2015

Pasien datang ke poli kandungan

10.30

RSUD tugurejo dengan keluhan

Pengobatan
-

Infus RL 20 tpm
misoprostol tablet

2x1
Di anjurkan ibu

untuk istirahat
Diet biasa
Rencana kuretase

tanggal 08-01-2015
Pengawasan KU,

keluar darah dari jalan lahir.


KU : baik, composmentis
TV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 60 x/mnt
Frek. napas : 20 x/mnt
Suhu : 360C
Mata : conj. palpebra anemis -/Thorax : cor/pulmo dbn
Abdomen : datar, nyeri tekan (-),
nyeri perut (-), TFU tidak teraba.
Ekstremitas superior, inferior :
edema (-/-)
Fluxus : (-)
Fluor : (-)
V/u/v : tak ada kelainan
Portio : Ukuran jempol kaki
Cut
: ukuran telur bebek
AP
: tak ada kelainan
CD
: tak ada kelainan
BAK : (+)
BAB : (+)

Diagnosis :
G4P3A0, 40 tahun.
9

TV, fluxus, fluor,


BAK, BAB

Hamil 11 minggu
Missed Abortion
Rabu

Keluhan : keluar darah dari jalan

07-01-2015

lahir berkurang
KU : baik, composmentis
TV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 80 x/mnt
Frek. napas : 20 x/mnt
Suhu : 370C
Mata : conj. palpebra anemis -/Thorax : cor/pulmo dbn
Abdomen : datar, nyeri tekan (-),

06.00

Terapi lanjut

nyeri perut (-)


Ekstremitas superior, inferior :
edema (-/-)
Fluxus : (-)
Fluor : (-)
V/u/v : tak ada kelainan
Portio : ukuran jempol kaki
Cut
: ukuran telur bebek
AP
: tak ada kelainan
CD
: tak ada kelainan
BAK : (+)
BAB : (+)
Diagnosis :
G4P3A0, 40 tahun.
Hamil 11 minggu.
Missed Abortion
Kamis
11-02-2012
12.00

Keluhan : tidak ada keluhan


KU : baik, composmentis
TV : TD : 100/70 mmHg
Nadi : 70 x/mnt
Frek. napas : 24 x/mnt
Suhu : 370C
Mata : conj. palpebra anemis -/Thorax : cor/pulmo dbn
Abdomen : datar, nyeri tekan (-),
nyeri perut (-)
10

Infuse RL 20 tpm

(habisaff)
Amoxicillin

3x500mg
Asam mefenamat

3x500mg
Vitamin BC/C/SF

2x1
pengawasan KU, TV,

Ekstremitas superior, inferior :

BAK, BAB.

edema (-/-)
Fluxus : (-)
Fluor : (-)
V/u/v : tak ada kelainan
Portio : ukuran jempol kaki
Cut
: ukuran telur bebek
AP
: tak ada kelainan
CD
: tak ada kelainan
BAK : (+)
BAB : (+)
Diagnosis :
P3A1, 40 tahun
Pasca curetase a/i missed abortion
VIII. LAPORAN OPERASI
Diagnosis Pre operatif
Diagnosis Post operatif

: G4P3A0, 40 tahun. Hamil 11 minggu


Missed Abortion
: P3A1, 40 tahun
Pasca curetase
Missed Abortion

Jaringan yang diexisi / insisi : sisa abortus


Nama/Macam operasi

: Kuretase

Tanggal Operasi

: 8 januari 2015 (15.30 wib)

Lama Operasi

: 10 menit

Langkah-langkah operasi

1. Penderita tidur dengan posisi lithotomi di meja gynekologi dalam GA


(General Anestesi)
2. Asepsis dan antisepsis daerah tindakan dan sekitarnya
3. Pasang duk steril kecuali pada daerah tindakan
4. Kosongkan vesika urinaria
5. Pasang spekulum sims posterior lalu speculum sims anterior
6. Asepsis antisepsis portio dan sekitarnya
7. Jepit portio dengan tenakulum pada arah jam 12
8. Lepas spekulum sims anterior
9. Dilakukan sondase 8 cm AF
10. Dilakukan kuretase dengan sendok kuretase terbesar secara sistematis
searah jarum jam sampai dengan bersih
11. Keluar jaringan 10 cc
12. Lepas tenakulum lalu speculum sims posterior
11

13. Perdarahan (-)


14. Hitung alat lengkap
15. Tindakan selesai

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
A. ABORTUS
1. DEFINISI
Pengguguran kandungan atau aborsi atau abortus menurut:
a. Medis : abortus adalah berakhirnya kehamilan melalui cara apapun
sebelum janin mampu bertahan hidup pada usia kehamilan sebelum 20
minggu didasarkan pada tanggal hari pertama haid normal terakhir
atau berat janin kurang dari 500 gram ( Obstetri Williams, 2006).
b. Kamus Besar Bahasa Indonesia : terjadi keguguran janin, melakukan
abortus (dengan sengaja karena tidak menginginkan bakal bayi yang
dikandung itu).
c. Keguguran adalah pegeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat
hidup di luar kandungan (Rustam Muchtar, 1998).
d. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi
sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Sampai saat ini janin
yang terkecil, yang dilaporkan dapat hidup di luar kandungan,
mempunyai berat badan 297 gram waktu lahir. Akan tetapi, karena
jarangnya janin yang dilahirkan dengan berat badan di bawah 500
gram dapat hidup terus, maka abortus ditentukan sebagai pengakhiran
kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau kurang dari
20 minggu (Sarwono, 2005).
2. ETIOLOGI
12

Penyebab abortus dapat dibagi menjadi 3 faktor yaitu:


a. Faktor janin
Faktor janin penyebab keguguran adalah kelainan genetik, dan ini
terjadi pada 50%-60% kasus keguguran.
b. Faktor ibu:
1. Kelainan endokrin (hormonal) misalnya kekurangan tiroid,
kencing manis.
2. Faktor kekebalan (imunologi), misalnya pada penyakit lupus, Anti
phospholipid syndrome.
3. Infeksi, diduga akibat beberapa virus seperti cacar air, campak
jerman, toksoplasma , herpes, klamidia.
4. Kelemahan otot leher rahim
5. Kelainan bentuk rahim.
c. Faktor Ayah: kelainan kromosom dan infeksi sperma diduga dapat
menyebabkan abortus.
Selain 3 faktor di atas, faktor penyebab lain dari kehamilan abortus
adalah:
a. Faktor genetic.
Sekitar 5 % abortus terjadi karena faktor genetik. Paling sering
ditemukannya kromosom trisomi dengan trisomi 16.
b. Faktor anatomi
Faktor anatomi kogenital dan didapat pernah dilaporkan timbul pada
10-15 % wanita dengan abortus spontan yang rekuren.
1.
Lesi anatomi kogenital yaitu kelainan duktus Mullerian
(uterus bersepta). Duktus mullerian biasanya ditemukan pada
keguguran trimester kedua.
2.
Kelainan kogenital arteri uterina yang membahayakan
aliran darah endometrium.
Kelainan yang didapat

3.

misalnya

adhesi

intrauterin

(synechia), leimioma, dan endometriosis.


c. Faktor endokrin:
1. Faktor endokrin berpotensial menyebabkan aborsi pada sekitar 1020 % kasus.
2. Insufisiensi fase luteal ( fungsi corpus luteum yang abnormal
dengan tidak cukupnya produksi progesteron).
3. Hipotiroidisme, hipoprolakt inemia, diabetes

dan

sindrom

polikistik ovarium merupakan faktor kontribusi pada keguguran.


d. Faktor infeksi
13

Infeksi termasuk infeksi yang diakibatkan oleh TORC (Toksoplasma,


Rubella, Cytomegalovirus) dan malaria.
e. Faktor imunologi
Terdapat antibodikardiolipid yang mengakibatkan pembekuan darah
dibelakang ari-ari sehingga mengakibatkan kematian janin karena
kurangnya aliran darah dari ari-ari tersebut.
f. Penyakit-penyakit kronis yang melemahkan
Pada awal kehamilan, penyakit-penyakit kronis yang melemahkan
keadaan ibu, misalnya penyakit tuberkulosis atau karsinomatosis
jarang menyebabkan abortus; sebaliknya pasien penyakit tersebut
sering meninggal dunia tanpa melahirkan.
g. Faktor Nutrisi
Malnutrisi umum yang sangat berat memiliki kemungkinan paling
besar menjadi predisposisi abortus. Meskipun demikian, belum
ditemukan bukti yang menyatakan bahwa defisisensi salah satu/
semua nutrien dalam makanan merupakan suatu penyebab abortus
yang penting.
h. Obat-obat rekreasional dan toksin lingkungan.
Peranan penggunaan obat-obatan rekreasional tertentu yang dianggap
teratogenik harus dicari dari anamnesa seperti tembakau dan alkohol,
yang berperan karena jika ada mungkin hal ini merupakan salah satu
yang berperan.
i. Faktor psikologis.
Dibukt ikan bahwa ada hubungan antara abortus yang berulang
dengan keadaan mental akan tetapi belum dapat dijelaskan sebabnya.
Yang peka terhadap terjadinya abortus ialah wanita yang belum
matang secara emosional dan sangat penting dalam menyelamatkan
kehamilan. Usaha-usaha dokter untuk mendapat kepercayaan pasien,
dan menerangkan segala sesuatu kepadanya, sangat membantu.
3. PATOGENESIS
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh
bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua.
Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat perdarahan subdesidua
tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali proses
14

abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau cacat
yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis
cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri atau di canalis servicalis.
Perdarahan pervaginam terjadi saat proses pengeluaran hasil konsepsi.
Pada kehamilan 8 14 minggu, mekanisme diatas juga terjadi atau
diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan
pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam
cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis
atau masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering
menyebabkan perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan
minggu ke 14 22, Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan
keluarnya plasenta beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta
masih tertinggal dalam uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi
uterus dan terjadi perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan
umumnya tidak terlalu banyak namun rasa nyeri lebih menonjol. Dari
penjelasan di

atas jelas bahwa abortus ditandai dengan adanya

perdarahan uterus dan nyeri dengan intensitas beragam (Prawirohardjo,


2002).
4. KLASIFIKASI
Abortus dapat dibagi atas dua golongan yaitu:
Menurut terjadinya dibedakan atas:
a. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa
disengaja atau dengan tidak didahului faktor-faktor mekanis atau
medisinalis, semata-mata disebabkan oleh faktor-faktor alamiah.
b. Abortus provokatus (induksi abortus) adalah abortus yang disengaja
tanpa indikasi medis, baik dengan memakai obat-obatan maupun
dengan alat-alat.
Abortus ini terbagi lagi menjadi:
1.
Abortus medisinalis (abortus therapeutica) yaitu abortus
karena tindakan kita sendiri, dengan alasan bila kehamilan
dilanjutkan, dapat membahayakan jiwa ibu (berdasarkan indikasi

15

medis). Biasanya perlu mendapat persetujuan 2 sampai 3 tim


dokter ahli.
Abortus kriminalis yaitu abortus yang terjadi oleh karena

2.

tindakan tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi


medis dan biasanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi oleh
tenaga tradisional.
Pembagian abortus secara klinis adalah sebagai berikut :
1. Abortus Iminens merupakan tingkat permulaan dan ancaman
terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri
masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.
2. Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam
ditandai dengan serviks telah mendatar dan ostium uteri telah
membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri
dan dalam proses pengeluaran.
3. Abortus Inkompletus adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar
dari kavum uteri dan masih ada yang tertinggal.
4. Abortus Kompletus adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari
kavum uteri pada kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat
janin kurang dari 500 gram.
5. Missed Abortion adalah abortus yang ditandai dengan embrio atau
fetus telah meninggal dalam kehamilan sebelum kehamilan 20
minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam
kandungan.
6. Abortus Habitualis ialah abortus spontan yang terjadi 3 kali atau
lebih berturut-turut.
7. Abortus Infeksious ialah abortus yang disertai infeksi pada alat
genitalia.
8. Abortus Terapeutik adalah abortus dengan induksi medis
B. MISSED ABORTION
1. DEFINISI
Missed abortion (Abortus tertunda) yaitu keadaan dimana janin telah mati
sebelum minggu ke-20, tetapi tertanam di dalam rahim selama beberapa
minggu (8 minggu atau lebih) setelah janin mati (Fadlun, 2012). Saat
16

terjadi kematian janin kadang kadang ada perdarahan per vaginam


sedikit sehingga menimbulkan gambaran abortus iminens. Selanjutnya
rahim tidak membesar bahkan mengecil karena absorpsi air ketuban dan
maserasi janin. Perdarahan dengan kehamilan muda disertai dengan hasil
konsepsi telah mati hingga 8 minggu lebih, dengan gejala dijumpai
amenore, perdarahan sedikit yang berulang pada permulaanya serta
selama observasi fundus tidak bertambah tinggi malahan tambah rendah,
kalau tadinya ada gejala kehamilan belakang menghilang diiringi dengan
reaksi yang menjadi negative pada 2 3 minggu sesudah fetus mati,
servik masih tertutup dan ada darah sedikit, sekali-kali pasien merasa
perutnya kosong.
2. ETIOLOGI
a. Tidak diketahui, tetapi diduga pengaruh hormone progesterone
b. Pemakaian hormone progesterone pada abortus iminens mungkin juga
dapat menyebabkan missed abortion
c. Penurunanan kadar fibrinogen dalam darah sudah mulai turun
d. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi, biasanya menyebabkan abortus
pada kehamilan sebelum usia 8 minggu
e. Kelainan pada plasenta karena hipertensi menahun
f. Faktor maternal seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan
g. Kelainan traktus genitalia seperti incompetensi servix (untuk abortus
pada tri smester kedua), miomam uteri, dan kelainan bawaan uterus
3. FAKTOR PREDISPOSISI
Sama dengan etiologi abortus secara umum yaitu:
a. Kelaianan pertumbuhan hasil konsepsi, biasa menyebabkan abortus
pada kehamilan sebelum usia 8 minggu. Faktor yang menyebabkan
kelainan ini adalah
1. Kelainan kromosom, terutama trisomi autosom dan monosomi X
2. Lingkungan sekitar tempat implantasi kurang sempurna
3. Pengaruh teratogen akibat radiasi, virus, obat-obatan, tembakau
atau alkohol.
b. Kelainan pada plasenta, misalnya endarteritis vili korialis karena
hipertensi menahun.
c. Faktor maternal, seperti pneumonia, tifus, anemia berat, keracunan
dan toksoplasmosis
17

d. Kelainan traktus genetalia seperti inkompetensi serviks (untuk abortus


pada trimester
e. kedua) retroversi uteri, mioma uteri dan kelainan bawaan uterus.
4. PATOFISIOLOGI
Mekanisme awal terjadinya abortus adalah lepasnya sebagian atau seluruh
bagian embrio akibat adanya perdarahan minimal pada desidua.
Kegagalan fungsi plasenta yang terjadi akibat perdarahan subdesidua
tersebut menyebabkan terjadinya kontraksi uterus dan mengawali proses
abortus. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu, embrio rusak atau cacat
yang masih terbungkus dengan sebagian desidua dan villi chorialis
cenderung dikeluarkan secara in toto, meskipun sebagian dari hasil
konsepsi masih tertahan dalam cavum uteri
atau di canalis servicalis. Perdarahan pervaginam terjadi saat proses
pengeluaran hasil konsepsi.
Pada kehamilan 8 14 minggu, mekanisme diatas juga terjadi atau
diawali dengan pecahnya selaput ketuban lebih dulu dan diikuti dengan
pengeluaran janin yang cacat namun plasenta masih tertinggal dalam
cavum uteri. Plasenta mungkin sudah berada dalam kanalis servikalis atau
masih melekat pada dinding cavum uteri. Jenis ini sering menyebabkan
perdarahan pervaginam yang banyak. Pada kehamilan minggu ke 14 22,
Janin biasanya sudah dikeluarkan dan diikuti dengan keluarnya plasenta
beberapa saat kemudian. Kadang-kadang plasenta masih tertinggal dalam
uterus sehingga menyebabkan gangguan kontraksi uterus dan terjadi
perdarahan pervaginam yang banyak. Perdarahan umumnya tidak terlalu
banyak namun rasa nyeri lebih menonjol. Dari penjelasan diatas jelas
bahwa abortus ditandai dengan adanya perdarahan uterus dan nyeri
dengan intensitas beragam (Prawirohardjo, 2002).
Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.
Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak di dalamnya benda
kecil tanpa bentuk yang jelas (blighted ovum), mungkin pula janin telah
mati lama (missed abortion), yaitu retensi hasil konsepsi 4-8 minggu
setelah kematian janin. Pertumbuhan uterus berhenti kemudian tegresi.
18

Denyut jantung janin tidak berdenyut pada auskulatasi ketika diperkirakan


berdasarkan tanggal. Tidak terasa ada gerakan janin lagi. Apabila mudigah
yang mati tidak dikeluarkan dalam waktu singkat, maka ia dapat diliputi
oleh lapisan bekuan darah. Isi uterus dinamakan mola krueta. Bentuk ini
menjadi mola karnosa apabila pigmen darah telah diserap dan dalam
sisanya terjadi organisasi, sehingga semuanya tampak seperti daging.
Bentuk lain adalah mola tuberose, dalam hal ini amnion tampak
berbenjol-benjol karena terjadi hematoma antara amnion dan korion.
Pada janin yang telah mati dan tidak dikeluarkan dapat terjadi proses
mumifikasi yaitu janin mengering dan karena cairan amnion menjadi
berkurang akibat diserap, ia menjadi agak gepeng (fetus kompresus).
Dalam tingkat lebih lanjut ia menjadi tipis seperti kertas perkamen (fetus
papiaesus). Kemungkinan lain janin mati yang tidak segera dikeluarkan
ialah terjadinya maserasi, yaitu kulit terkelupas, tengkorang menjadi
lembek, perut membesar karena terisi cairan dan seluruh janin berwarna
kemerah-merahan.
5. MANIFESTASI KLINIS
Penderita missed abortion biasanya tidak merasakan keluhan apapun
kecuali merasakan pertumbuhan kehamilannya tidak seperti yang
diharapkan. Bila kehamilan di atas 14 minggu sampai 20 minggu
penderita justru merasakan rahimnya semakin mengecil dengan tanda
tanda kehamilan sekunder pada payudara mulai menghilang (payudara
mengecil kembali). Kadangkala missed abortion juga diawali dengan
abortus iminens yang kemudian merasa sembuh, tetapi pertumbuhan janin
terhenti. Pada pemeriksaan dalam, serviks tertutup dan ada darah sedikit
(Mochtar, 1998).
Pada pemeriksaan tes urin kehamilan biasanya negative setelah 2-3
minggu dari terhentinya pertumbuhan kehamilan. Pada pemeriksaan USG
akan didapatkan uterus yang mengecil, kantong gestasi yang mengecil,
dan bentuknya tidak beraturan disertai gambaran fetus yang tidak ada
tanda tanda kehidupan. Bila missed abortion berlangsung lebih dari 4
minggu harus diperhatikan kemungkinan terjadinya gangguan pembekuan
19

darah oleh karena hipofibrinogenemia sehingga perlu diperiksa koagulasi


sebelum tindakan evakuasi dan kuretase.
6. KOMPLIKASI
Pada retensi janin mati yang sudah lama terutama pada kehamilan yang
telah mencapai trimester kedua plasenta dapat melekat erat pada dinding
uterus sehingga sangat sulit untuk dilakukan kuretase, dan juga terjadi
gangguan pembekuan darah. Akan terjadi perdarahan gusi, hidung atau
dari tempat terjadinya trauma. Gangguan pembekuan tersebut disebabkan
oleh koagulopati konsumtif dan terjadi hipofibrionogenemia sehingga
pemerksaan studi koagulasi perlu dilakukan pada missed abortion.
7. DIAGNOSIS
Pemeriksaan diagnostic pada missed abortion adalah :
a. Hitung darah lengkap : dapat berupa peningkatan sel darah putih,
punurunan Hb dan hematokrit
b. Titer Gonadotropin Kronik manusia (HCL) menurun pada kehamilan
ektopik, meningkat pada molahidatidosa
c. Kadar estrogen dan progesterone menurun pada aborsi spontan
d. Ultra Sonografi memastikan adanya janin
8. PENATALAKSANAAN
Pengelolaan missed abortion perlu diutarakan kepada pasien dan
keluarganya secara baik karena risiko tindakan operasi dan kuretase ini
dapat menimbulkan komplikasi perdarahan atau tidak bersihnya
evakuasi/kuretase dalam sekali tindakan. Faktor mental penderita perlu
diperhatikan, karena penderita umumnya merasa gelisah setelah tahu
kehamilannya tidak tumbuh atau mati. Pada umur kehamilan kurang dari
12 minggu tindakan evakuasi dapat dilakukan secara langsung dengan
melalukan dilatasi dan kuretase bila serviks uterus memungkinkan. Bila
umur kehamilan di atas 12 minggu atau kurang dari 20 minggu dengan
keadaan serviks uterus yang masih kaku dianjurkan untuk melakukan
induksi terlebih dahulu untuk mengeluarkan janin atau mematangkan
kanalis servikalis. Beberapa cara dapat dilakukan antara lain dengan
pemberian infuse intravena cairan oksitosin dimulai dari dosis 10 unit
dalam 500 cc dekstrose 5% tetesan 20 tetes permenit dan dapat diulangi
20

sampai total oksitosin 50 unit dengan tetesan dipertahankan untuk


mencegah terjadinya retensi cairan tubuh. Jika tidak berhasil, penderita
diistirahatkan satu hari dan kemudian induksi diulangi biasanya maksimal
3 kali. Setelah janin atau jaringan konsepsi berhasil keluar dengan induksi
ini dilanjutkan dengan tindakan kuretase sebersih mungkin. Pada decade
belakangan ini banyak tulisan yang telah menggunakan prostaglandin atau
sintetisnya untuk melakukan induksi pada missed abortion. Salah satu
cara yang banyak disebutkan adalah dengan pemberian misoprostol secara
sublingual sebanyak 400mg yang dapat diulangi 2 kali dengan jarak enam
jam. Dengan obat ini akan terjadi pengeluaran hasil konsepsi atau terjadi
pembukaan ostium serviks sehingga tindakan evakuasi dan kuretase dapat
dikerjakan untuk mengosongkan kavum uteri. Kemungkinan penyulit
pada tindakan missed abortion ini lebih besar mengingat jaringan plasenta
yang menempel pada dinding uterus biasanya sudah lebih kuat. Apabila
terdapat hipofibrinogenemia perlu disiapkan transfusi darah segar atau
fibrinogen. Pasca tindakan kalau perlu dilakukan pemberian infuse
intravena cairan oksitosin dan pemberian antibiotika.
a.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Gilstrap III LC,
Wenstrom KD. Uterine Leiomyomas. In : Williams Obstetrics. 22nd edition.
Mc Graw-Hill. New York : 2005.
2. Bagian obstetric dan ginekologi FK UNPAD. Abortus dlam: Obstetric
patologi. Bandung. p: 7-17
3. Medical mini notes. Abortus dalam obstetric. 2014. p: 61-3
4. Manuaba, IBG. Pengantar kuliah obstetri. Jakarta : EGC.2007.

22