Anda di halaman 1dari 15

Difteri

Difteri adalah penyakit akut yang mengancam nyawa yang disebabkan Corynebacterium
diphtheria, terutama menyerang tonsil, faring,laring, hidung, adakalanya menyerang selaput
lendir

atau

kulit

serta

kadang-kadang

konjungtiva

atau

vagina.

Corynebacterium

diphtheriaea adalah organisme yang minimal melakukan invasive, secara umum jarang
memasuki aliran darah, tetapi berkembang local pada membrane mukosa atau pada jaringan yang
rusak dan menghasilkan exotoxin yang paten, yang tersebar keseluruh tubuh melalui aliran darah
dan system limpatik.
Cara penularan adalah melalui kontak dengan penderita atau carrier; jarang sekali penularan
melalui peralatan yang tercemar oleh discharge dari lesi penderita difteri. Penyakit ini ditandai
dengan adanya membrane semu di tonsil dan sekitarnya.
Tindakan pemberantasan yang efektif adalah dengan melakukan imunisasi aktif secara luas
(massal) dengan Diphtheria Toxoid (DT). Imunisasi dilakukan pada waktu bayi dengan vaksin
yang mengandung diphtheria toxoid, tetanus toxoid, antigen acellular pertussis: (DTaP, yang
digunakan di Amerika Serikat) atau vaksin yang mengandung whole cell pertussis (DTP).

BAB I
PENDAHULUAN EPIDEMIOLOGI DIFTERI

Difteria masih merupakan penyakit endemic dibanyak negara di dunia. Pada awal tahun
1980-an terjadi peningkatan insidensi kasus difteria pada negara bekas Uni Soviet karena
kekacauan program imunisasi, dan pada tahun 1990-an masih terjadi epidemic yang besar di
Rusia dan Ukraina. Pada tahun 2000-an epidemic difteria masih terjadi dan menjalar ke negaranegara tetangga.1
Sebelum era vaksinasi, difteria merupakan penyakit yang sering menyebabkan kematian.
Namun sejak mulai diadakannya program imunisasi DPT(di Indonesia pada tahun 1974), maka
kasus dan kematian akibat difteria berkurang sangat banyak. Angaka mortalitas berkisar 5-10%,
sedangkan angka kematian di Indonesia menurut laporan Parwati S. Basuki yang didapatkan dari
rumah sakit di kota Jakarta(RSCM), Bandung(RSHS), Makasar(RSWS), Senmarang(RSK), dan
Palembang(RSMH) rata-rata sebesar 15%.1
Difteria adalah penyakit yang jarang terjadi, biasanya menyerang remaja dan orang
dewasa. Di Amerika Serikat selama tahun 1980-1996 terdapat 71% kasus yang menyerang usia
kurang dari 14 tahun. Pada tahun 1994 terdapat lebih dari 39.000 kasus difteria dengan kematian
1100 kasus (CFR= 2,82%), sebagian besar menyerang usia lebih dari 15 tahun. Di Ekuador,
Amerika Selatan, pada tahun 1993-1994 terjadi ledakan kasus sebedsar 200 kasus, yang 50%-nya
adalah anak berusia 15 tahun atau lebih.1 Dari tahun 1980 sampai 2010, 55 kasus difteri
dilaporkan CDC Nasional dilaporkan Penyakit Surveillance System. Sebagian besar kasus (77%)
menyerang usia 15 tahun dan lebih ,empat dari lima kasus fatal terjadi di kalangan anak-anak
yang tidak divaksinasi, kasus fatal yang kelima adalah seorang laki-laki, dalam 75 tahun
kembali ke Amerika Serikat dari negara dengan penyakit endemic. 9 Difteri tetap endemik di
banyak bagian dunia berkembang, termasuk beberapa negara Karibia dan Amerika Latin, Eropa
Timur, Asia Tenggara, dan Afrika. 9Dari wabah ini mayoritas kasus telah terjadi di kalangan

remaja dan orang dewasa, bukan anak-anak. Karena, banyak dari remaja dan orang dewasa
belum menerima vaksinasi rutin anak atau dosis booster toksoid difteri. 9
Di Indonesia, dari data lima rumah sakit di Jakarta, Bandung, Makassar, Semarang, dan
Palembang, Parwati S.Basuki melaporkan angka yang berbeda. Selama tahun 1991-1996, dari
473 pasien difteria, terdapat 45% usia balita, 27% usia kurang dari 1 tahun, 24% usia 5-9 tahun,
dan 4% usia diatas 10 tahun. Berdasarkan suatu KLB difteria di kota Semarang pada tahun 2003,
dilaporakan bahwa dari 33 pasien sebanyak 46% berusia 15-44 tahun serta 30% berusia 5-14
tahun.1 Khusus provinsi Sumatera Selatan, selama tahun 2003-2009 penemuan kasus difteri
cenderung terjadi penurunan, kasus terbanyak pada tahun 2007 (12 kasus) dan terendah pada
tahun 2003 (2 kasus), meskipun demikian Sumatera Selatan merupakan provinsi terbesar kedua
untuk kasus difteri pada tahun 2008.10
Meskipun difteri sekarang dilaporkan hanya jarang di Amerika Serikat, di era prevaccine,
penyakit ini adalah salah satu penyebab paling umum dari penyakit dan kematian pada anakanak.9

BAB II
PEMBAHASAN EPIDEMIOLOGI DIFTERI
1.

Definisi
Difteria adalah suatu penyakit bakteri akut terutama menyerang tonsil, faring,laring,

hidung, adakalanyamenyerang selaput lendir atau kulit serta kadang-kadang konjungtiva atau
vagina. Timbulnya lesi yang khas disebabkan oleh cytotoxin spesifik yang dilepas oleh bakteri.
Lesi nampak sebagai suatu membran asimetrik keabu-abuan yang dikelilingi dengan daerah
inflamasi. Tenggorokan

terasa

sakit,

sekalipun

pada

difteria

faucial

atau

pada

difteri faringotonsiler diikuti dengan kelenjar limfe yang membesar dan melunak. Pada kasuskasus yang berat dan sedang ditandai dengan pembengkakan dan oedema di leher dengan
pembentukan membran pada trachea secara ektensif dan dapat terjadi obstruksi jalan napas.6
Difteri hidung biasanya ringan dan kronis dengan satu rongga hidung tersumbat dan
terjadi ekskorisasi (ledes). Infeksi subklinis (atau kolonisasi ) merupakan kasus terbanyak.
Toksin dapat menyebabkan myocarditis dengan heart block dan kegagalan jantung kongestif
yang progresif,timbul satu minggu setelah gejala klinis difteri. 5 Bentuk lesi pada difteri kulit
bermacam-macam dan tidak dapat dibedakan dari lesi penyakit kulit yang lain, bisa seperti atau
merupakan bagian dari impetigo.(Kadun,2006)

2.

Penyebab
Penyebab penyakit difteri adalah Corynebacterium diphtheriae. Berbentuk batang gram

positif, tidak berspora, bercampak atau kapsul. Infeksi oleh kuman sifatnya tidak invasive, tetapi
kuman dapat mengeluarkan toxin, yaitu exotoxin. Exotoxin yang diproduksi oleh bakteri
merupakan suatu protein yang tidak tahan terhadap panas dan cahaya. Bakteri dapat
memproduksi toksin bila terinfeksi oleh bakteriofag yang mengandung toksigen.Toxin difteri ini,

karena mempunyai efek patoligik meyebabkan orang jadi sakit. Ada tiga type variants
dari Corynebacterium diphtheriae ini yaitu : type mitis, type intermedius dan type
gravis.Corynebacterium diphtheriae dapat dikalsifikasikan dengan cara bacteriophage lysis
menjadi 19 tipe. Tipe 1-3 termasuk tipe mitis, tipe 4-6 termasuk tipe intermedius, tipe 7
termasuk tipe gravis yang tidak ganas, sedangkan tipe-tipe lainnya termasuk tipe gravis yang
virulen.Corynebacterium diphtheriae ini dalam bentuk satu atau dua varian yang tidak ganas
dapat ditemukan pada tenggorokan manusia, pada selaput mukosa.1,2,5
Organisme ini terlokalisasi di tenggorokan yang meradang bila bakteri ini tumbuh
dan mengeluarkan eksotoksin yang ampuh. Sel jaringan mati, bersama dengan leukosit, eritosit,
dan bakteri membentuk eksudat berwarna kelabu suram yang disebut pseudomembran pada
faring. Di dalam pseudomembran, bakteri berkembang serta menghasilkan racun. Jika
pseudomembran ini meluas sampai ke trakea, maka saluran nafas akan tersumbat dan si
penderita akan kesulitan bernafas. Sebelum era vaksinasi, racun yang dihasilkan oleh kuman ini
sering meyebabkan penyakit yang serius, bahkan dapat menimbulkan kematian. Tapi sejak
vaksin difteri ditemukan dan imunisasi terhadap difteri digalakkan, jumlah kasus penyakit dan
kematian akibat kuman difteri menurun dengan drastis.4

3. Triad Epidemiologi Difteria


3.1. Host
Manusia

adalah

inang

atau

host

alamiah

satu-satunya

bagi

Corynebacterium

dhiptheriae. Terjadinya penyakit dan kematian yang tertinggi ialah pada anak anak berusia 2
sampai

tahun.

Pada

3.2. Agent

Corynebacterium diphtheria

orang

dewasa, difteri

terjadi

dengan

frekuensi

rendah. 2

sumber :http://febbyhapsari.wordpress.com/2011/03/20/difteri-sebagai-contoh-food-and-waterborne-disease/

3.3. Environment
Penyakit ini dijumpai pada daerah padat penduduk dengan tingkat sanitasi rendah. Oleh karena
itu, menjaga kebersihan diri sangatlah penting, karena berperan dalam menunjang kesehatan kita.
Lingkungan buruk merupakan sumber dan penularan penyakit.

4.

Cara Penularan
Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun

sebagai carier . Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi
atau kontak dengan carier. Caranya melalui pernafasan atau droplet infection. Masa inkubasi
penyakit difteri ini 2 5 hari, masa penularan penderita 2-4minggu sejak masa inkubasi,
sedangkan masa penularan carier bisa sampai 6 bulan. Penyakit difteri yang diserang terutama
saluran pernafasan bagian atas. 3
Ciri khas dari penyakit ini ialah pembekakan di daerah tenggorokan, yang berupa reaksi
radang lokal, dimana pembuluh-pembuluh darah melebar mengeluarkan sel darah putih sedang
sel-sel

epitel

disitu

rusak,

lalu

terbentuklah

disitu

membaran

putih

keabu-

abuan(psedomembrane). Membran ini sukar diangkat dan mudah berdarah. Di bawah membran

ini bersarang kuman difteri dan kuman-kuman ini mengeluarkan exotoxin yang memberikan
gejala-gejala yang lebih berat dan Kelenjer getah bening yang berada disekitarnya akan
mengalami hiperplasia dan mengandung toksin. Eksotoksin dapat mengenai jantung dapat
menyebabkan miyocarditisct toksik atau mengenai jaringan perifer sehingga timbul paralisis
terutama pada otot-otot pernafasan. Toksini ini juga dapat menimbulkan nekrosis fokal pada hati
dan ginjal, malahan dapat timbul nefritis interstisial. Penderita yang paling berat didapatkan pada
difterifauncial dan faringea karena terjadi penyumbatan membran pada laring dan trakea
sehingga saluran nafas ada obstruksi dan terjadi gagal napas, gagal jantung yang bisa
mengakibatkan kematian, ini akibat komplikasi yang seriing pada bronkopneumoni.3

Sumber :

http://obatpropolis.com/penyakit-difteri

5. Masa Inkubasi dan Klinis


Masa inkubasi difteri adalah 2-5 hari (berkisar, 1-10 hari). Penyakit ini dapat melibatkan hampir
semua membrane mukosa. Gambaran klinik tergantung pada lokasi anatomi yang dikenai.
Beberapa tipe difteri berdasarkan lokasi anatomi adalah :

1. Difteria Hidung
Gejalanya paling ringan dan jarang terjadi ( hanya 2% ). Mula-mula hanya tampak pilek, tetapi
kemudian sekret yang keluar tercampur darah sedikit yang berasal dari pseudomembran.
Penyebaran pseudomembran dapat pula mencapai laring dan faring. Penderita diobati seperti
penderita lainnya seperti anti toksin dan terapi antibiotic. Bilatidak diobati akan berlangsung
mingguan

dan

merupakan

sumber

utama penularan.6

2. Difteria Faring dan Tonsil

Paling sering dijumpai (kurang lebih 75%). Gejala mungkin ringan. Hanya berupa radang pada
selaput lender dan tidak membentuk pseudomembran sedangkan diagnosis dapat dibuat atas
dasar hasil biakan yang positif. Dapat sembuh sendiri dan memberikan imunitas pada penderita.
Pada penyakit yang lebih berat, mulainya seperti radang akut tenggorok dengan suhu yang tidak
terlalu tinggi, dapat ditemukan pada pseudomembran yang mula-mula hanya berupa bercak putih
keabu-abuan yang cepat meluas ke nasofaring atau ke laring. Napas berbau dan timbul
pembengkakan kelenjar regional sehingga leher tampak seperti leher sapi (bull neck).
Brennernan dan Mc Quarne (1956) menyatakan bahwa setiap bercak keputihan diluar tonsil
dapat dianggap sebagai difteria, sedangkan Herdarshee menegaskan lebih lanjut bahwa setiap
membrane yang menutupi dinding posterior faring atau menutupi seluruh permukaan tonsil baik
satu

maupun

kedua

sisi

dapat

dinggap

sebagai

difteria. 6

Dapat terjadi salah menelan dan suara serak serta stidor insprasi walaupun belum terjadi
sumbatan faring. Hal ini disebabakan oleh paresis palatum mole. Pada pemeriksaan darah dapat
terjadi penurunan kadar hemoglobin dan leukositisis, polimofonukleus, penurunan jumlah
eritrosit dan kadar albumin, sedangakan pada urin mungkin dapat ditemukan albuminaria
ringan.6

3. Difteria Laring dan Trakea

Dengan gejala tidak bisa bersuara, sesak, nafas berbunyi, demam sangat tinggi sampai 40 derajat
celsius, sangat lemah, kulit tampak kebiruan, pembengkakan kelenjar leher. Difteri jenis ini
merupakan difteri paling berat karena bisa mengancam nyawa penderita akibat gagal nafas. 5
Lebih sering sebagai penjalaran difteria faring dan tonsil ( 3 kali lebih banyak ) daripada primer
mengenai laring. Gejala gangguan napas berupa suara serak dan stidor inspirasi jelas dan berat
dapat timbul sesak napas hebat, sinosis dan tampak retraksi suprastemal serta epigastrium.
Pembesaran kelenjar regional akan menyebabkan bull neck ( leher sapi ). Pada pemeriksaan
laring tampak kemerahan, sembab, banyak secret dan permukaan ditutupi oleh pseudomembran.
Bila anak terlihat sesak dan payah sekali maka harus segera ditolong dengan tindakan
trakeostomi

sebagai

pertolongan

pertama.6

4. Difteria Cutaneous ( kulit )

Gejala berupa luka mirip sariawan pada kulit dan vagina dengan pembentukan membran
diatasnya. Namun tidak seperti sariawan yang sangat nyeri, pada difteri, luka yang terjadi
cenderung tidak terasa apa apa.5 Di Amerika Serikat, difteri kutaneus sering dikaitkan dengan
orang-orang tunawisma. Merupakan keadaan yang jarang sekali terjadi. Tan Eng Tie (1965 )
mendapatkan 30% infeksi kulit yang diperiksanya mengandung kuman difteria. Dapat pula
timbul di daerah konjungtiva, vagina dan umbilicus.6

6.

Klasifikasi

Biasanya pembagian dibuat menurut tempat atau lokalisasi jaringan yang terkena
infeksi.Pembagian berdasarkan berat ringannya penyakit juga diajukan oleh Beach, dkk (1950)
sebagai berikut :

1. Infeksi Ringan: bila pseudomembran hanya terdapat pada mukosa hidung dengan gejala hanya
nyeri menelan.6
2. Infeksi sedang : bila pseudomembran telah menyerang sampai faring (dindingbelakang rongga
mulut) sampai menimbulkan pembengkakan pada laring.6

3.Infeksi

berat bila terjadi sumbatan nafas yang berat disertai dengan gejalakomplikasi

sepertimiokarditis (radang otot jantung),paralisis (kelemahananggota gerak) dan nefritis (radang


ginjal).6

7.

Pencegahan

1. Isolasi Penderita
Penderita difteria harus di isolasi dan baru dapat dipulangkan setelah pemeriksaan sediaan
langsung menunjukkan tidak terdapat lagi Corynebacterium Diphtheriae 6

2. Imunisasi
Pencegahan dilakukan dengan memberikan imunisasi DPT (difteria, pertusis, dan tetanus) pada
bayi, dan vaksin DT (difteria, tetanus) pada anak-anak usia sekolah dasar.1,6

3.Pencarian

dan

kemudian

mengobati

karier

difteria

Dilakukan dengan uji Schick, yaitu bila hasil uji negatif (mungkin penderita karier pernah
mendapat imunisasi), maka harus diiakukan hapusan tenggorok. Jika ternyata ditemukan C.
diphtheriae, penderita harus diobati dan bila perlu dilakukan tonsilektomi.6

8.

Pengobatan 8

Tujuan pengobatan penderita difteria adalah menginaktivasi toksin yang belum terikat

secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal, mengeliminasi C.
diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan penyulit difteria.
1.

Pengobatan Umum

Pasien diisolasi sampai masa akut terlampaui dan biakan hapusan tenggorok negatif 2 kali
berturut-turut. Pada umumnya pasien tetap diisolasi selama 2-3 minggu. Istirahat tirah baring
selama kurang lebih 2-3 minggu,pemberian cairan serta diet yang adekuat. Khusus pada difteria
laring dijaga agar nafas tetap bebas serta dijaga kelembaban udara dengan menggunakan
humidifier.

2.Pengobatan Khusus
-Antitoksin

Anti

Diptheriar

Serum

(ADS)

Antitoksin harus diberikan segera setelah dibuat diagnosis difteria. Dengan pemberian antitoksin
pada hari pertama, angka kematian pada penderita kurang dari 1%. Namun dengan penundaan
lebih dari hari ke-6 menyebabkan angka kematian ini bisa meningkat sampai 30%.Sebelum
pemberian

ADS

harus

dilakukan

uji

kulit

atau

uji

mata

terlebih

dahulu.

-Antibiotik
Antibiotik diberikan bukan sebagai pengganti antitoksin, melainkan untuk membunuh bakteri
dan menghentikan produksi toksin. Pengobatan untuk difteria digunakan eritromisin , Penisilin,
kristal

aqueous

pensilin

G,

atau

Penisilin

prokain.

-Kortikosteroid
Dianjurkan pemberian kortikosteroid pada kasus difteria yang disertai gejala.

3.Pengobatan Penyulit
Pengobatan terutama ditujukan untuk menjaga agar hemodinamika tetap baik. Penyulit yang
disebabkan oleh toksin umumnya reversibel. Bila tampak kegelisahan, iritabilitas serta gangguan
pernafasan yang progresif merupakan indikasi tindakan trakeostomi.

4.Pengobatan Kontak
Pada anak yang kontak dengan pasien sebaiknya diisolasi sampai tindakan berikut terlaksana,
yaitu biakan hidung dan tenggorok serta gejala klinis diikuti setiap hari sampai masa tunas
terlampaui, pemeriksaan serologi dan observasi harian. Anak yang telah mendapat imunisasi
dasar diberikan booster toksoid difteria.

5.Pengobatan Karier
Karier adalah mereka yang tidak menunjukkan keluhan, mempunyai uji Schick negatif tetapi
mengandung basil difteria dalam nasofaringnya. Pengobatan yang dapat diberikan adalah
penisilin 100 mg/kgBB/hari oral/suntikan, atau eritromisin40 mg/kgBB/hari selama satu minggu.
Mungkin diperlukan tindakan tonsilektomi / adenoidektomi.

BAB III
Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan

Difteri adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria, oleh
karena itu penyakitnya diberi nama serupa dengan kuman penyebabnya.

Sumber penularan penyakit difteri ini adalah manusia, baik sebagai penderita maupun
sebagai carier. Cara penularannya yaitu melalui kontak dengan penderita pada masa inkubasi
atau kontak dengan carier. Caranya melalui pernafasan atau droplet infection dan difteri kulit
yang mencemari tanah sekitarnya.

Menurut lokasi gejala difteria dibagi menjadi 3 yaitu, difteri hidung, difteri faring, difteri
laring dan difteri kutaneus.

Masa inkubasi penyakit difteri ini 2 5 hari, masa penularan penderita 2-4 minggu sejak
masa inkubasi, sedangkan masa penularancarier bisa sampai 6 bulan.
Gejala

klinis

penyakit
lebih

difteri

ini

dari

adalah

a.

Panas

b.

Adapsedomembrane

c.

Sakit

d.

Leher membengkak seperti leher sapi (bullneck), disebabkan karena pembengkakakn

bisa

38

dipharynx,larynx

C
atau

tonsil

waktu

menelan

kelenjar leher

Menurut tingkat keparahannya, penyakit ini dibagi menjadi 3 tingkat yaitu: Infeksi
ringan, Infeksi sedang dan Infeksi berat

Pencegahan

difteri

dilakukan

dengan

cara,

yaitu

:a.

Isolasi

penderita

b. Imunisasi, dengan memberikan imunisasi DPT pada bayi dan vaksin DT pada anak usia
sekolah
c.

dasar

Pencegahan dan kemudian mengobati karier difteria


Pengobatan

difteria

dilakukan

untuk

menginaktivasi toksin

yang

belum

terikat secepatnya, mencegah dan mengusahakan agar penyulit yang terjadi minimal,
mengeliminasi C. diptheriae untuk mencegah penularan serta mengobati infeksi penyerta dan
penyulit difteria.a. Pengobatan

umum

b. Pengobatan khusus, yaitu dengan memberikan antitoksin (Anti Diptheriar Serum ), antibiotic
dan

kortikosteroid

c.

Pengobatan

penyulit

d.

Pengobatan

kontak

e.

Pengobatan

karier

2. Saran

Difteri adalah suatu penyakit infeksi yang bisa mengakibatkan miokarditis untuk itu mencegah
penyebaran infeksi merupakan tindakan yang harus dilakukan, untuk itu petugas kesehatan
(perawat) harus tahu hal itu dan keluarga harus sensitif terhadap keadaan anak jika mengidap
difteri.

Daftar Pustaka
1

Widoyono.2005.Penyakit Tropis Epidemiologi Penularan dan Pemberantasannya.Erlanggga:

Jakarta.

Iskandar,Nurbaiti,dkk.editor;Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok.Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia.2000.Hal 177-178.

Asuhan

Keperawatan

Difteri.2010, diakses

darihttp://www.scribd.com/doc/13758759/DIFTERI

Hastomo.2008.Makalah Tentang Penyakit Menular Difteri.Politeknik Kesehatan Yogyakarta,

diakses darihttp://www.scribd.com/doc/22270094/difteri

Article

Source

All

About

Difteri

,diakses

darihttp://www.scribd.com/doc/13758759/DIFTERI

Arifin,Zaenal,dkk.2010.Makalah

Difteri.Stikes

Dharma

Karawang,

diakses

darihttp://www.scribd.com/doc/27499427/Disususun-Oleh-Kelompok-

II
7

CDC.DiphtheriaEpidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases.Edisi 12.2011,

diakses dari http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/dip.html

Buescher, E Stephen. 2007.Di pht heri a in Nelson Textbook of

Pediatrics 18th
Chapter 186. USA: Saunders
Anonim. 2010.Dift eria pada Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis
Hal 312-21.
Jakarta: Badan Penerbit IDAI
9

CDC.Diphtheria.Edisi

5.2011,

diakses

dari http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/surv-

manual/chpt01-dip.html

10

ProfilKesehatan

Provinsi

Sumatera

Selatan.2010,

diakses

darihttp://www.depkes.go.id/downloads/profil_kesehatan_prov_kab/profil_kes_sumsel_2010.pdf

Anda mungkin juga menyukai