Anda di halaman 1dari 2

CJ Feed Indonesia

Kepiting sebagai Komoditas Andalan

Baik kepiting bakau maupun rajungan adalah komoditas ekspor yang sangat menjanjikan. Berdasarkan data yang
tersedia di Departemen Kelautan dan Perikanan, permintaan kepiting dan rajungan dari pengusaha restoran sea food
Amerika Serikat saja mencapai 450 ton setiap bulan. Jumlah tersebut belum dapat dipenuhi karena keterbatasan hasil
tangkapan di alam dan produksi budidaya yang masih sangat minim.
KEBUTUHAN KEPITING DUNIA Sebuah perusahaan di Tarakan yang menjadi pengumpul sekaligus eksportir kepiting
mengaku hanya sanggup mengirim 20 ton kepiting per bulan ke Korea, padahal permintaan mencapai 80 ton per bulan
(Kaltim Post Cyber News, 27 April 2007). Kepiting tersebut diekspor dalam bentuk segar/hidup, beku, maupun dalam
kaleng. Di luar negeri, kepiting merupakan menu restoran yang cukup bergengsi. Dan pada musim-musim tertentu harga
kepiting melonjak karena permintaan yang juga meningkat terutama pada perayaan-perayaan penting seperti imlek dan
lain-lain. Pada saat-saat tersebut harga kepiting hidup di tingkat pedagang pengumpul dapat mencapai Rp.100.000,- per
kg yang pada hari biasa hanya Rp.40.000,- untuk grade CB (betina besar berisi/bertelur, ukuran > 200 g/ekor) dan
Rp.30.000,- untuk LB (jantan besar berisi, ukuran > 500g- 1000g/ekor). Kepiting lunak/soka harganya dua kali lipat lebih
tinggi. Di luar negeri, harga kepiting bakau grade CB dapat mencapai 8.40 U$ - 9.70 U$ per kg sedangkan LB dihargai
6.10 U$ - 9.00 U$ per kg. Ukuran >1000g (Super crab) harganya 10.5 U$ per kg. Mengapa kepiting banyak diminati?
ternyata daging kepiting, tidak saja lezat tetapi juga menyehatkan. Daging kepiting mengandung nutrisi penting bagi
kehidupan dan kesehatan. Meskipun mengandung kholesterol, makanan ini rendah kandungan lemak jenuh, merupakan
sumber Niacin, Folate, dan Potassium yang baik, dan merupakan sumber protein, Vitamin B12, Phosphorous, Zinc,
Copper, dan Selenium yang sangat baik. Selenium diyakini berperan dalam mencegah kanker dan pengrusakan
kromosom, juga meningkatkan daya tahan terhadap infeksi virus dan bakteri. Selain itu, Fisheries Research and
Development Corporation di Australia melaporkan bahwa dalam 100 gram daging kepiting bakau mengandung 22 mg
Omega-3 (EPA), 58 mg Omega-3 (DHA), dan 15 mg Omega-6 (AA) yang begitu penting untuk pertumbuhan dan
kecerdasan anak. Bahkan kandungan asam lemak penting ini pada rajungan lebih tinggi lagi. Dalam 100 gram daging
rajungan mengandung 137 mg Omega-3 (EPA), 90 mg Omega-3 (DHA), dan 86 mg Omega-6 (AA). Untuk kepiting
lunak/soka, selain tidak repot memakannya karena kulitnya tidak perlu disisihkan, nilai nutrisinya juga lebih tinggi,
terutama kandungan chitosan dan karotenoid yang biasanya banyak terdapat pada kulit semuanya dapat dimakan.
Bukan hanya dagingnya yang mempunyai nilai komersil, kulitnyapun dapat ditukar dengan dollar. Kulit kepiting diekspor
dalam bentuk kering sebagai sumber chitin, chitosan dan karotenoid yang dimanfaatkan oleh berbagai industri sebagai
bahan baku obat, kosmetik, pangan, dan lain-lain. Bahan-bahan tersebut memegang peran sebagai anti virus dan anti
bakteri dan juga digunakan sebagai obat untuk meringankan dan mengobati luka bakar. Selain itu, dapat juga digunakan
sebagai bahan pengawet makanan yang murah dan aman. POTENSI KEPITING INDONESIA Indonesia dikenal sebagai
negara bahari dan kepulauan terbesar di dunia dengan luas perairan laut termasuk zona ekonomi eksklusif Indonesia
(ZEEI) sekitar 5.8 juta kilometer persegi atau 75% dari total wilayah Indonesia. Wilayah laut tersebut ditaburi lebih dari
17.500 pulau dan dikelilingi garis pantai sepanjang 81.000 km yang merupakan terpanjang di dunia setelah Kanada. Di
sepanjang pantai tersebut, yang potensil sebagai lahan tambak ± 1.2 juta Ha. Yang digunakan sebagai tambak udang
baru 300.000 Ha. (Dahuri, 2005). Sisanya masih tidur. Artinya, peluang membangunkan potensi tambak tidur tersebut
untuk budidaya kepiting masih terbuka lebar. Kepiting dapat ditemukan di sepanjang pantai Indonesia. Ada dua jenis
kepiting yang memiliki nilai komersil, yakni kepiting bakau dan rajungan. Di dunia, kepiting bakau sendiri terdiri atas 4
spesies dan keempatnya ditemukan di Indonesia, yakni: kepiting bakau merah (Scylla olivacea) atau di dunia
internasional dikenal dengan nama “red/orange mud crab”, kepiting bakau hijau (S.serrata) yang dikenal
sebagai “giant mud crab” karena ukurannya yang dapat mencapai 2-3 kg per ekor, S. tranquebarica
(Kepiting bakau ungu) juga dapat mencapai ukuran besar dan S. paramamosain (kepiting bakau putih). Di Indonesia,
spesies rajungan yang terkenal dan memiliki nilai ekspor adalah Portunus pelagicus, juga dikenal sebagai Swimming
Crab. Potensi kepiting bakau yang melimpah di negeri kita ini, terlihat ketika penulis berkunjung ke salah satu
pendaratan ikan di Malili (Kabupaten Luwu Timur) sebagai salah satu rangkaian kegiatan mencari sumber induk kepiting
bermutu. Hanya dalam hitungan menit, ratusan kepiting dari berbagai spesies dan ukuran didaratkan disana. Ternyata,
pengumpul kepiting dari Makassar telah menunggu dan segera mensortir kepiting layak ekspor, sisanya (Grade
BS/rejected live mud crab) dijual kepada pedagang lokal. Menurut pengelola pendaratan ikan tersebut, setiap harinya
didaratkan sekitar 800-1000 kg kepiting dan langsung habis terjual. Hal yang sama juga terjadi di Sumatera, Kalimantan,
Jawa, dan Papua. TEKNOLOGI YANG MENDUKUNG Bila ingin menjadikan kepiting sebagai komoditas andalan maka
penangkapan dari alam saja tidaklah cukup. Bahkan penangkapan yang berlebihan dapat mengancam kelestarian
hewan ini. Karena itu, budidaya adalah pilihan yang tepat. Ada beberapa teknologi yang mendukung kegiatan budidaya
tersebut, yakni: pembenihan, pembesaran, penggemukan, produksi kepiting bertelur, dan produksi kepiting lunak/soka.
Pembibitan kepiting dilakukan di hatchery sebagaimana udang. Hatchery sebaiknya dibangun di daerah dekat pantai,
berpasir, banyak tumbuh karang sehingga dengan mudah mendapatkan air bersih melalui pemompaan sehingga lebih
ekonomis. Diusahakan jauh dari muara sungai atau arus tempat aliran air tawar yang dapat menurunkan salinitas, bebas
limbah, baik limbah industri, pertanian, maupun rumah tangga. Untuk kebutuhan pembenihan rajungan, induk yang
digunakan berukuran minimal 200 g per ekor, sehat, bersih, organ tubuh lengkap, dan sudah mulai matang gonad.
Sedangkan untuk pembenihan kepiting bakau, ukuran induk yang digunakan lebih besar, sebaiknya beratnya minimal
500 g. Kurang lebih 2 minggu pemeliharaan biasanya kepiting sudah bertelur dan 9-12 hari kemudian telur-telur akan
menetas. Jumlah larva untuk sekali peneluran dapat mencapai jutaan ekor. Pada hari ke 50-60, kepiting/rajungan sudah
mencapai fase kepiting muda dan sudah siap di tebar di tambak. Pembesaran umumnya dilakukan di dalam tambak baik
dengan maupun tanpa pagar bambu atau waring, juga dapat ditumpangsarikan dengan rumput laut. Penggemukan dan
produksi kepiting bertelur dilakukan dalam kurungan yang terbuat dari bambu atau dalam keramba apung, dan kepiting
http://cjfeed.co.id Copyright 2007 by CJFeed Indonesia Generated: 16 December, 2008, 17:34
CJ Feed Indonesia

lunak dipelihara dalam keranjang secara individu. Ukuran keramba dapat dimodifikasi, tergantung pada target produksi,
kemampuan dan permodalan. Keramba diberi pelampung pada setiap sisinya, kemudian dapat diletakkan dalam
tambak, saluran pemasukan air, atau daerah pinggiran sungai. Pemilihan spesies dan teknik budidaya perlu dilakukan
dengan cermat agar usaha ini lebih menguntungkan. Untuk tujuan produksi daging, budidaya sebaiknya di arahkan ke
kultur monoseks jantan terutama spesies S. serrata dan S. transquebarica (kepiting bakau hijau dan ungu/hitam) karena
lebih cepat besar sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ukuran ekspor lebih singkat. Untuk produksi kepiting
bertelur, sebaiknya menggunakan spesies S. olivacea (kepiting bakau merah/orange) karena lebih cepat bertelur. Untuk
produksi kepiting lunak/soka kepiting yang dijadikan bahan baku dapat dari semua spesies dengan ukuran lebar karapas
5-7 cm. Setelah molting atau berganti kulit, ukuran kepiting akan bertambah sekitar 30%. Sumber: Dr Yushinta Fujaya
Muskar, Dosen Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Unhas

http://cjfeed.co.id Copyright 2007 by CJFeed Indonesia Generated: 16 December, 2008, 17:34