Anda di halaman 1dari 8

Kau menghilang, tinggalkan bintang

 Dan kau muncul di tengah pertikaian

 Kau jauh, namun tetap tersenyum, walau tak bercahya tak apalah
 Dan kau sentuh aku saat tersadar bahwa kau tak ada

 Ingin gapai semua, menjadi sempurna


 Lalu menyendiri dalam cinta

 Apa arti kebahagiaan… … … ?!


 Tak ada yang dapat menyeret tawa canda ke surga selain kasih sayang seorang yang tercinta

 Atau bagaimana membekukan neraka… … … ?!


 Hanya dengan satu tetes air mata kecewa

 Maka biar aku terbang diantaranya


 Menggenggam bahagia dikanan dan kecewa dikiri
 Agar dapat kubuat surga dalam neraka dan neraka dalam surga

o Sesuatu melingkar erat diotak, menyeret segalanya


o Arus semakin cepat, alam berputar dalam kebencian
o Memuntahkan kata maki pada bunga sekitar… …

o Hadirmu malah makin menyebalkan !!


o Menusuk pandangan suci masa depan
o Hingga tak layak kusembunyikan hatimu

o Kumohon ubah wujudmu jadi bidadari


o Agar dapat kuciptakan puisi istana kahyangan
o Yang ‘kan terselip dalam mantera – mantera cinta

o Jangan teruskan permainan ini


o Kisah ini sudah berakhir
o Walau tak terbahagiakan
o Cukuplah sekuntum bunga untuk disimpan

o Dan tersenyumlah untuk esok yang indah… … …


 Dalam kepingan yang kau hamburkan terselip sebuah senyum yang tak sengaja terjatuh
 Setelah sekian lama baru kau ingat pernah ada rasa yang membara
 Sedangkan waktu telah lama termenung
 Dan tak kan lagi ada kata sedih

 Apa maumu wahai perempuan… … ?!


 Memetik bunga yang mekar dengan kasar
 Hingga mencabut seluruh akar yang terpendam dalam kenangan
 Dan seluruh musim menangis karena kau

 Lalu kubuat secarik sapa mesra


 Diterpa angin hati yang kokoh
 Tiba – tiba kau menangis tersedu
 Memukul benci dadaku,
 Memeluk marah tubuhku,
 Dan mencium pasrah cintaku… … …

• Jerit angin menggema di sore ini


• Parau suara bumi memendam maksud
• Hati sedih pun sirna, kini tawa halus merayap
• Menjejali rerumputan muda dan terbahak bersama

• Entah apa yang kau maksud wahai wanita ?


• Bibirmu bergerak ikuti irama hati
• Tapi dimana suaramu… … ?!
• Mana kata cintamu yang bungkam hatiku ?
• Seakan kau ingin memelukku…
• Namun ku belum rasakan hangat yang kau punya

• Sudahlah… pergilah kau


• Kau hanya ingin membasuh kasih
• Tapi kau enggan mencebur dalam kecewa
• Dan sekarat bersama bahagia

o Dimana cintaku…
o Berlari mengejar langit biru
o Tersenyum pada bukit dikiri dan melambai pada nyiur yang patah
 Dimana sayangku…
 Ucapkan rindu disela dua dunia yang pecah
 Dan rentangkan tangan memeluk surga

 Dimana kasihku…
 Memadu khayalan bersama debur ombak
 Dan terlelap memeluk gelap

 Dimana hidupku, dimana bahagiaku… ?


 Memekikku memanggil bidadari
 Meraungku haturkan doa
 Menangisku kepalkan tinju
 Hingga menyepiku dengan bijak
 Dan menulis harapan yang terpijak

o Merisaukan jejak langkah kepergian


o Yang mengerat ubin – ubin merah jambu
o Akankah kembali membiru… …

o Letak posisi hati begitu jauh tergapai


o Memandang dengan sipit sinar silau matahari
o Kemudian menghilang; yang ada hanya udara

o Dimana para wanita; dengan cinta yang menggairah dan semolek lembayung
o Teruntukmu segala gundah dan puisi indah

o Adakah lagu bahagia yang iringi pergiku


o Atau tangis cemburu saat ku kecup bibir perawan

o Semua untukku adalah hitam


o Dan hitam tercipta hanyalah untukku
o Karena hitam awal dan akhir dari hidupku

 Satu lagi puisi tentang putri


 Yang menghilang dalam hayal terlampau tinggi
 Meninggalkanku dalam gemuruh awan kelabu

 Satu lagi senyum buat mahadewi


 Yang bersinar dengan jubah valentine
 Tersenyum layaknya aprodhite

 Satu lagi tatap mesra buat sahabatku


 Yang kini menyodok cinta terlalu kebawah
 Walau dulu pernah menarik, mendekap bersama

 Satu lagi harapan buat temanku


 Yang semakin cantik bila menjauh
 Yang semakin merindu bila dengar suaramu
 Yang semakin gerah cintaku bila bertemu

 Satu yang terakhir… ku masih mimpikanmu… …

• Memandang langit, menembus hayal


• Diantara semilir angin memilih kata
• Yang pantas terucap ‘tuk gabarkan pesona
• Yang lebih indah dari cahaya yang muncul dibalik awan

o Bersama hujan merajut kenangan


o Yang berantakan memenuhi diamku
o Jadikan sebuah pakaian cinta yang hangat
o Yang bungkus senyum saat sendirian

 Pelangi menyapaku saat berteduh dari amarah


 Merdu suaranya memporak porandakan sedihku
 Hingga tak satu pun jejak kecewa yang membekas

• Alam menangis tersedu, wajahnya suram membelakangi kaca


• Seakan lari dari kodrat bahwa esok hari pasti terjadi
• Dan saat dia telah berani memalingkan wajahnya
• Maka esok hari akan menghilang dari kenyataan
o Kan kuambil bintang saat tanganku bisa menahannya
o Karna ku tau sesuatu yang indah tak kan sempurna
o Ada sesuatu didalamnya yang bakar bahagiamu
o Dan meneteskan airmata kekecewaan

 Ku lukis semua tentangmu dikertas putih


 Kini kertas itu berisi noda – noda hitam penaku… …
 Dan tak seindah dulu sebelum hitam menginjak putih sucimu

 Coba tersenyum pada dahan yang meliuk – liuk


 Keteraturan irama angin menampilkan ketukan terbaik dari sebuah keseimbangan alami
 Namun semunya pecah saat ku mendekat… …
 Aku tak mengerti mengapa selalu buyarkan pesona teman
 Dengan sederet nafsu gila yang dirasuki cinta
 … … dan menghitamkan seluruh tawa canda… … …

o Ingat bersama denganmu merangkai suasana


o Hingga terbit matahari baru disiang yang sama
o Dengan hangat sinar yang memendam maksud
o Tuk membelai mesra sisi cinta yang terpendam
o Ternyata dua matahari sekaligus terlalu membara
o Membakar perlahan kulit perasaan yang sensitif
o Dan musnahlah semua terang,
o Kini membeku, menggigil dalam gelap yang dingin
 Menekan keras ujung pena, coba hamparkan kata
 Awalnya penaku dipenuhi arwah bahagia
 Banyak makna yang ingin disampaikan pada malam
 Tapi entah kenapa kertas mengerut dan menghitam
 Menghindari ujung pena yang kian mendekat
 Karna kertas putih menolak kebohongan yang indah
 Walau dewi pun terlena baca pesona bahagia
 Namun nyatanya aku masih mendekap di sel kekecewaan
 Yang nampak berkilauan dari jauh… … …

• Aku Lihat kau!


• Bercahya penuh gairah
• Air muka yang beriak-riak.
• Mempesona

• Seiring gemulai tarianmu kutulis secarik senyum…


• Yang melantun dibawah kasih mentari
• Dengan semua takjub pandangan pertama
• Terisi sebuah cinta

• Waktu berdetak… lama dada bergejolak


• Tapi tak ada kata yang terucap
• Hanya diam meraja
• Kadang jiwa tergenggam, kadang juga melayang untukmu
• Hingga satu waktu disiang yang jemu
• Sesuatu menggeliat, melingkar erat hati
• Memecah diamku, ingin lakukan semua asa yang terpendam
• Akhirnya meledak
• Meletus pusaka bahagia mimpi
• Muncrat kesisi tidur raksasa yang terasing
• Dan kuterbaring lemah tak berdaya
• Sedang kau masih terus berjaya…

 Masihkah ada bunga harum yang mekar


 Dengan putik-putik indah beterbangan riang
 Bermandi matahari
 Tak ingin pergi

 Takjub melihat ajaibnya pesona


 Jadi terlupa untuk berkata
 Seolah dipaku mati oleh desing waktu
 Saat terjaga semuanya telah tiada
 Bingung menoleh kesamping…
 Mencari sisa kesempurnaan yang mungkin sempat tertinggal
 Tapi yang ada hanya suara alam bergemuruh

 Dan ku menangis dengan mata menghitam


 Memohon pada waktu untuk kembali…

o Saat semua tidur dan dibuai makhluk kehampaan


o Jiwa kita, jiwaku bernafas
o Ingin dicium pagi…

o Ia mengolah campuran hamparan bahagia dan hempasan tangis yang bertebaran dipelupuk mata
o Dengan taburan harapan yang tampak begitu nyata bagi terang yang lugu,
o Jiwa tersenyum dan berbisik pelan…
o Sepelan hembus nafas sang penidur

o Diiringi musik malam yang anggun, menampilkan pesona surgawi terindah…


o Seindah apa yang bisa di impikan manusia
o Saat itulah semuanya mengikuti irama hati sang pencipta,
o Alur yang tercipta tak dapat dipungkiri, walau sedetik sudah cukup mengganti seluruh bahagia

o Dan butir-butir embun pagi mengakhiri perjamuan keindahan,


o Dan memulai hari dengan harapan dan senyum mentari…

 Percaya padamu sampai mati!


 Sumpah hanya kata-katamu yang terdengar

 Alunan sepinya malam dan bisik rintik hujan tak hasilkan sesuatu yang berarti…
 Hanya menambah pekat hati yang terdalam

 Benarkah cerita yang kau ucapkan?!


 Atau hanya kiasan dari caramu menolak…
 Begitu lembut mempesona, menikam perlahan…
 Dan sakit… sakit sekali!!

 Besok bertemu denganmu,


 Menyita waktu yang sia-sia
 Berharap menerima satu senyum,
 Walau apapun maknanya…

 Lalu berpapasan, menyenggol lengan, menyetrum rasa


 Ingin berbalik, menabrak cintamu dan memeluk…

 Memandang dari jauh gerak gerikmu, wajah itu…


 Pasti sakit rasanya terasing dari lengan yang biasanya kugandeng
 Tapi kau hanya diam dan bicara tak tentu
 Dan segalanya makin tak tentu setelah kubalas cuekmu dengan sombongku… …