Anda di halaman 1dari 4

Bungkusan Kacang

Di sini, Mulyadi duduk di teras, ya di sini di Stasiun Kereta Api Gambir.


Malam bertambah malam, kian lekat hitam legam. Namun ini Jakarta, sekali lagi ini
Jakarta. Malam bak siang. Matahari berganti lampu-lampu neon, terang benderang
dimana-mana. Ibu kota negara Indonesia bermandikan cahaya, tetapi tidak semua.
Tempat tinggal Mulyadi tetap kelam bila malam menjelang, tetap kumuh dan
berwarna kusam. Hanya segelintir lampu sentir atau lilin yang menyala dan bila
waktunyatidur tinggalah cinta yang menyala-nyla, selain itu mati kutu. Kalau api
yang menyala, bahaya. Penduduk disitu bilang: Rumah kami rawan kebakaran sebab
konstruksinya kardus dan pelastik, interiornya pun begitu. Seperti seni instalasi, bisa
dibuka kapan saja dan dipindah secepat kilat bila ada petugas kampret. Kalaupun
tergusur, diusir, dibangun lagi disitu. Tidak terlalu susah, bahan mudah didapat.
Kardus bekas, pelastik bekas. Rumahnya dekat pembuangan sampah. Sungguh
mengasyikan, baunya sengit menyenangkan, tak sebiasa membau parfum. Mereka
terbiasa tergusur, apalagi terusir.
“Habis mau kemana lagi, kami tidak punya tanah, air, apalagi rumah?”
“Lho. Ape lu kagak kenal ame yang namenye Sumpeh Pemude 1928, ape
sumpeh tuh udah jadi sampeh?” terdengar suara berbisik di kuping Mulyadi seperti
malaikat membela kebenaran sejarah. “Mestinye lu nuntu, hak lu Goblok!”
“Nuntut? Nuntut gundulmu.”
Pasti malaikat ini baru diterima kerja, mungkin sedang di-training. Sama saja,
malaikat juga ada yang bodoh seperti aku. Biasa, pikirnya.
Dia masih di teras seperti tadi memeluk lutut, membayangkan yang bukan-
bukan tidur di ranjang, pake kasur busa. Penghangat ruangan, pelayan, istrinya
bersolek di depan meja, anaknya Tini, Toni tidur dikamar sendiri, minuman dan
makanan komplit di kulkas. Dia tidak usah memikirkan besok makan apa, tidur
dimana, hujan atau banjir, menikmati hidup empuk, kekayaan, kekuasaan, dan
kebesaran Tuhan.
“Jo, Karjo! Tolong cuci BMW merah, nanti siang aku sidang di gedung MPR
DPR lho.”
“Pak, sarapan sama apa, pak? Ibu nanti pergi arisan lho ke tempat Ibu Mentri,
mungkin pulangnya agak terlambat. Katanya , bapak sekarang diangkat menjadi
mentri?”
“Yah, Ayah pake Mercy biru saja ya. Toni mau pake BMW merahnya ya?”
“Mercy biru kan mau dipake ibumu. Kemarin kan baru beli motor Herly.
Kenapa nggak pake itu saja?”
“Ah, lagi males.”
“Ya udah nanti ibu pake Kijang saja.”
“Tini kemana bu, dari tadi bapak nggak lihat.”
“Dia kan sekarang ikut Body language atau aerobic ya, ibu lupa.”
“Toni tahu, paling ngeceng di mal pak.”
“Besok beli saja alat-alatnya itu, jangan sampe dia kena pengaruh teman-
temannya yang tidak waras. Mabuk obat terlarang. Bapak kan dapat proyek lagi, jadi
belilah keperluan Tini itu, biar nggak usah keluar. Kalau perlu private di rumah.”
“Bang, permisi bang.” Tukang ngepel mengelap bersih lantai di sekitar
Mulyadi dan lamunan kotornya. Dia menjadi bimbang, pikirannya berperang atau
tetap tinggal di teras yang kini telah bersih. Dia malu pada tukang ngepel, karena
punya pikiran kotor. Ia ingin sekali meminjam lap pelnya, untuk membersihkan
kotoran yang ada di kepalanya.
“Tuhan, sekarang saya tidak tahan haus dan lapar. Apakah Kau tidak lagi
berpihak kepadaku? Kau berpaling dariku atau Aku yang telah berpaling dari-Mu?
Sungguh aku malu lho, tidak tahu. Engkau Mahatahu.”
Tukang ngepel masih bediri disitu, menatapnya iba. Dia pergi, menyelinap
dikerumunan orang yang antri membeli karcis. Mulyadi tambah terpukul, dia ingin
menjerit kelangit protes pada Tuhan dan berteriak pada penguasa.
“Apakah mereka itu semua buta Tuhan atau telah Kau butakan? Apa mereka
tidak dengar perut kami bernyanyi keroncongan dari sejak lama. Apakah mereka tuli,
Yuhan, atau telah Kau tulikan?”
Tiba-tiba tukang ngepel menghampirinya dengan memberikan bungkusan
dalam kertas.
“Bang, saya punya sedikit makanan. Lumayan ganjel perut”, dia mengerti,
tukang ngepel it mengerti apa yang sedang Ia rasakan.
“Terima kasih, semoga Tuhan membalasnya yang layak,” dia memanggutkan
kepala. Tukang pel pun begitu, lalu pergi. Isi bungkusan itu kacang godok. Dia jadi
ingat istri dan kedua anaknya Tini, Toni. Dia tidak berani memakannya, ini pasti
untuk anak dan istri, bukan miliknya sendiri, pikirnya. Iseng-iseng dia buka
bungkusan itu, sekedar ingin tahu kertas pembungkus kacang itu. Dia kaget, ternyata
bungkus kacang itu Surat Kelakuan Baik. Dia bertambah kaget, disana tertulis jelas
huruf besar dan tebal. Nama yang sama dengan namanya Mulyadi, Ia merasa seperti
dalam film. Tempat tanggal lahir Sleman, 30 September 1965, Bangsa Indonesia,
Agama tidak jelas karena ketikannya kabur, Pekerjaan kosong, alamat, nomor KTP,
rumus sidik jari, Nama orangtua semuanya tidak jelas ketikannya kabur. Surat
keterangan ini diberikan untuk keperluan: Melamar pekerjaan di Jakarta.
“Dia masih mending punya Surat Kelakuan Baik. Aku boro-boro, KTP saja
tidak punya. Sial! Apa surat ini punya tukang ngepel tadi ya? Ah mungkin dia sudah
tidak membutuhkannya, dia sudah kerja.”
“Pak Mul! Pak!” terdengar suara berteriak memanggil namanya. Dia menoleh
ke arah datangnya suara. Tukijan tetangganya, tamn seprofesi itu datang tergopoh-
gopoh.
“Pak Mul, sejak siang tadi kami mencari-cari Bapak.”
“Ada apa Jan, Aku kok dicari-cari? Biasanya juga tidak ada yang nyari?”
“Pokoknya Bapak cepat pulang! Penting!”
“Aku tak kuat berjalan, Jan.” Mendadak kaki dan tangan Mulyadi tidak
berfungsi, lemas.
“Kita naik bemo saja. Ayo cepat!”
Di dalam becak penasaran Mulyadi kian memuncak.
“Sebetulnya ada apa, Jan?”
“Tadi siang Toni dan Tini muntah darah, katanya sih keracunan! Entah kena
peluru nyasar tentara…...”
Sejak itu Mulyadi tidak ingat apa-apa. Dia sadar telah berada di Bangsal
rumah sakit dengan slang infus menembus urat tangan. Dia tidak dapat bergerak
sedikit pun. Tukijan masih di sampingnya seperti di dalam bemo. Di berbisik:
“Istri Bapak masih pingsan, Tini dan Toni telah di kuburkan dan uang Bapak
aku pakai bayar bemo. Ini kacang godoknya.” Tukijan memberikan bungkusannya.
“Jan, tolong sampaikan pesan buat tentara, senjata itu bukan untuk
membunuh rakyatnya yang tidak berdosa….. tanyakan pada mereka, dari mana biaya
untuk beli senjata itu?”

Adhi Prabowo
X3