Anda di halaman 1dari 1

Menuntut Keadilan Ujian Nasional

Selama tiga hari berturut-turut, Selasa 22 April sampai dengan Kamis 24 April tahun 2008 ini
dilaksanakan Ujian Nasional (Unas) SMA dan MA secara serentak di seluruh wilayah Indonesia.
Berapa jumlah peserta Unas SMA dan madrasah aliyah (MA) tahun ini? Entahlah angka pastinya, yang
pasti lebih dari satu juta siswa SMA dan MA tahun ini berpartisipasi mengikuti “upacara akademik” akhir
tahun. Itu berarti Unas SMA dan MA menentukan nasib lebih dari satu juta manusia Indonesia.
Menurut amanat Pasal 15 UU Sisdiknas, pendidikan umum merupakan pendidikan yang
mengutamakan perluasan pengetahuan yang diperlukan peserta didik untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang yang lebih tinggi. Dalam konteks pendidikan menengah, lulusan SMA dan MA dipersiapkan
untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.
Apabila kita cermati pelaksanaan Unas pada tahun yang sudah-sudah terdapat variasi yang signifikan
dalam hal “keketatan” dalam pengawasan ujian; maksudnya banyak daerah yang melakukan pengawasan
ujian dengan ketat akan tetapi banyak pula daerah yang kurang ketat dalam pengawasan ujian. Hal ini
disebabkan masing-masing daerah, konon, memiliki kebijakan (tersembunyi) tersendiri dalam
pelaksanaan Unas.
Perbedaan dalam keketatan pe-ngawasan ujian tersebut bahkan menurun sampai ke sekolah;
maksudnya ada sekolah yang disiplin dan ketat dalam pengawasan ujian namun ada pula sekolah yang
kurang disiplin dan longgar dalam pengawasan ujian. Perbedaan perilaku pengawasan ujian ini sudah
barang tentu berdampak secara signifikan terhadap psikologi dan perilaku siswa yang nota bene sebagai
peserta Unas; yang ujung-ujungnya berpengaruh pada tingkat kelulusan.
Dalam skala daerah, konon ada daerah tertentu yang membentuk tim sukses guna membantu
meluluskan siswa, sementara banyak daerah yang berlaku apa adanya tanpa ada upaya untuk membantu
meluluskan siswa de-ngan cara yang ”aneh-aneh”.
Kalau tim sukses di tingkat sekolah kiranya telah menjadi rahasia umum; maksudnya masyarakat
banyak yang tahu kalau di berbagai sekolah dibentuk tim sukses yang bekerja secara negatif dalam
menjalankan Unas. Sudah tentu banyak pula sekolah yang sama sekali tidak memberlakukan tim sukses
yang negatif tersebut.

Kasihanilah Mendiknas
Meskipun bukan berlatar belakang akademik pendidikan murni namun banyak orang menyatakan
bahwa Bambang Sudibyo selaku menteri pendidikan secara serius ingin meningkatkan mutu pendidikan
nasional. Dibentuknya Tim Independen dari perguruan tinggi, Tim Pemantau, Tim Pengawas, dsb, untuk
menjalankan Unas dengan tertib (dan adil) merupakan langkah Mendiknas yang perlu diapresiasi. Ini
merupakan upaya keras Bambang selaku Mendiknas untuk meningkatkan kualitas pendidikan nasional
melalui mekanisme Unas.
Sayang, upaya keras Mendiknas tersebut seringkali tidak diimbangi dengan penuh kesungguhan oleh
banyak orang di lapangan alias sekolah; termasuk oknum guru, kepala sekolah dan bahkan petugas dinas
pendidikan di berbagai tempat. Dibentuknya tim sukses yang bekerja secara negatif dan tidak sehat dalam
menjalankan Unas, misalnya mengerjakan materi soal ujian dan mendistribusikannya pada saat yang tidak
tepat, merupakan bukti nyata tentang ketidaksungguhan dalam mengimbangi upaya keras menteri
pendidikan nasional.
Demi peningkatan mutu pendidikan nasional maka Mendiknas harus bertindak tegas; kalau ada guru
dan kepala sekolah yang terbukti melakukan kesalahan dalam Unas maka harus dikenai sanksi yang
terukur. Pak Bam-bang harus berani “membersihkan” oknum guru dan kepala sekolah yang bermain