Anda di halaman 1dari 3

MAKALAH EKOKINETIKA (MERKURI)

Tugas Mata Kuliah Toksikologi Lingkungan Kerja


Oleh Widya Yopita (113050030)
Ekokinetika
Ekokinetika adalah pergerakan zat racun di dalam ekosistem
Ekokinetika Merkuri
Merkuri atau air raksa (Hg) merupakan golongan logam berat dengan
nomor atom 80 dan berat atom 200,6. Unsur golongan logam transisi ini berwarna
keperakan yang berbentuk cair dalam suhu kamar, serta mudah menguap. Merkuri
digunakan pada berbagai aplikasi seperti amalgam gigi, sebagai fungisida, dan
beberapa penggunaan industri termasuk untuk proses penambangan emas.
Bentuk racun dari air raksa pada proses masuk pada tubuh manusia adalah
methyl mercury (CH3Hg+ dan CH3-Hg-CH3) dan garam organik, partikel mercuric
khlor (HgCl2). Methyl mercury dapat dibentuk oleh bakteri pada endapan dan air
yang bersifat asam. Ion merkuri anorganik adalah bersifat racun akut. Keracunan
kronis oleh merkuri dapat terjadi akibat kontak kulit, makanan, minuman, dan
pernapasan. Toksisitas kronis berupa gangguan sistem pencernaan dan sistem
syaraf atau gingivitis. Akumulasi Hg dalam tubuh dapat menyebabkan tremor,
parkinson, gangguan lensa mata berwarna abu-abu, serta anemia ringan,
dilanjutkan dengan gangguan susunan syaraf yang sangat peka terhadap Hg
dengan gejala pertama adalah parestesia, ataksia, disartria, ketulian, dan akhirnya
kematian. Garam merkuri anorganik bisa mengakibatkan presipitasi protein,
merusak mukosa saluran pencernaan, merusak membran ginjal maupun membran
filter glomerulus. Keracunan metil merkuri pernah terjadi di Jepang, dikenal
sebagai Minamata yang mengakibatkan kematian pada 110 orang.
Keracunan mercury kronik dapat terjadi karena adanya akumulasi dari zat
tersebut di dalam tubuh makhluk hidup. Sebagai salah satu contoh aplikasi
merkuri

yang digunakan sebagai bahan tambalan gigi dapat menyebabkan

akumulasi, baik akumulasi langsung di dalam tubuh pasien yang menambal gigi

maupun akumulasi tidak langsung di lingkungan sekitar yang akan menjadi jalan
masuk merkuri ke tubuh manusia.
Toksisitas pada amalgam dapat terjadi karena pelepasan merkuri.
Pelepasan merkuri dari amalgam ini dapat terjadi melalui evaporasi, menguap
langsung terhisap masuk ke dalam paru-paru, dan disolusi, menguap kemudian
karena proses oksidasi larut dalam cairan mulut masuk ke daJam saluran
pencemaan. Pengunyahan, penyikatan gigi, dan minum cairan panas dapat
meningkatkan pelepasan merkuri dari amalgam. Risiko utama pemaparan merkuri
adalah meJaJui inhalasi dimana merkuri mudah menguap pada suhu kamar. Makin
tinggi temperatur makin cepat penguapan merkuri. Toksisitas merkuri ini bisa pula
terjadi karena terakumulasi.
Akumulasi merkuri ini bermula ketika dokter gigi membuka kapsul yang
mengandung merkuri. Sebagian zat tersebut akan secara langsung menguap ke
lingkungan, sebagiannya lagi akan masuk ke dalam proses penambalan gigi dan
sisa/cangkang kapsul yang mengandung merkuri akan di buang. Jika dokter
tersebut melakukan pengelolaan limbah dengan benar, maka cangkang tersebut
akan masuk ke pengolahan limbah B3, akan tetapi jika tidak maka cangkang
kapsul tersebut akan dibuang begitu saja di landfill dan akan mencemari tanah.
Pada merkuri yang masuk ke dalam proses penambalan gigi maka akan
ada merkuri yang tertanam pada gigi pasien, tertelan dan masuk kedalam alat
pembersihan sisa tambalan. Jumlah merkuri yang tertelan mungkin saja belum
akan menyebabkan dapak negative dalam waktu dekat, akan tetapi zat tersebut
akan terus berakumulasi di dalam tubuh manusia dan tidak dapat di keluarkan.
Merkuri yang masuk ke dalam alat pembersih tersebut nantinya akan tercuci dan
masuk kedalam badan perairan dan terakumulasi di endapan perairan. Akan terjadi
bioakumalasi did ala perairan tersebut terhadap zat merkuri ini yang jika dalam
jumlah tertentu dapat menyebabkan berbagai macam penyekit bahkan kematian
terhadap akhluk hidup.
Penanggulangan pencemaran merkuri dalarn praktik dokter gigi dapat
dimulai dari penyimpanan merkuri yang baik, penyediaan merkuri yang tepat dan
penanganan pasien yang benar.