Anda di halaman 1dari 3

Prosedur Percobaan

Kelompok 4 Kimia Lingkungan

1. Pengukuran pH sampel air.


Pengukuran pH sampel air dilakukan menggunakan pH meter. Sebelum
digunakan, pH meter dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan larutan buffer pH
4, 7, dan 10. Elektroda pH meter kemudian dibilas dengan akuades dan
dikeringkan dengan tisu. Elektroda langsung dicelupkan ke dalam masingmasing sampel air melalui mulut botol, ditunggu hingga jarum penunjuk /
menunjukkan angka yang konstan. Nilai pH kemudian dicatat.
2. Pengukuran DO
Pengukuran DO dilakukan menggnakan DO meter. Alat DO meter dimasukkan ke
sampel air lalu dicatat angka yang ditunjukkan.
3. Pengukuran Asiditas
Pengukuran dilkukan dengan cara titrasi. Dengan cara kerja seperti berikut.
a. Diambil 10 mL sampel air dengan pipet volume masukkan ke dalam labu
erlenmeyer 250 mL
b. Tambahkan 5 tetes indikator phenolphtalein
c. Titrasi dengan larutan standar NaOH + 0,1 N sampai berwarna merah muda,
catat volume pemakaian NaOH, misalnya p mL.
d. Lalu tambahkan 5 tetes indikator metil jingga.
e. Titrasi kembali dengan larutan standar HCl + 0,1 N sampai terjadi perubahan
warna menjadi jingga merah. Catat volume pemakaian HCl, misalnya q mL.
f. Hitung ppm H+/CO2/HCO3-.
g. Lakukan pengerjaan 1-6 secara duplo.
CO2(g) + OH-(aq)
HCO3-(aq)
HCO3-(aq) + H+(aq)
CO2(g) + H2O(l)
Atau
1)
Menyiapkan 2 labu erlenmeyer
2)
Mengambil air sampel menggunakan gelas ukur sebanyak 100 ml, kemudian
dituangkan ke dalam labu erlenmeyer, masing-masing labu di isi 100 ml air
sampel. Beri label A dan B.
3)
Ke dalam labu A ditambahkan 3 tetes indikator MO 0,2%. Mengamati
perubahan warna. Jika warna air sampel menjadi kuning, artinya asiditas MO
bernilai negatif, hentikan sampai disitu. Apabila warna air sampel berubah
menjadi orange, artinya asiditas MO bernilai positif, lanjutkan titrasi. Pada
pemeriksaan ini menunjukkkan warna kuning sehingga tidak di lanjutkan titrasi.
4)
Ke dalam labu B ditambahkan 3 tetes indikator PP. Lakukan penggojokan
sampai warna berubah. Amati perubahan warna yang terjadi
5)
Air sampel tidak mengalami perubahan warna, artinya asiditas PP nya bernilai
positif, kemudian lanjutkan titrasi dengan NaOH 0,1 N
6)
Melakukan titrasi
7)
Mengulangi pemeriksaan sampel sekali lagi, sehingga di dapatkan 2 volume
titrasi

4. Pengukuran Alkalinitas
Penentuan alkalinitas sampel air dilakukan menggunakan metoda titrasi.
Sebanyak 10 mL sampel air dipipet menggunakan pipet volum kemudian
dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 mL. Ke dalam sampel air diteteskan
3 tetes indikator fenolftalein. Bila air berubah menjadi berwarna merah muda,
maka sampel dititrasi dengan larutan HCl hingga bening. Volume titran pada
titik akhir titrasi dicatat. Titrasi dilakukan duplo untuk masing-masing sampel.
Dan apabila tidak terjadi
perubahan
warna,
maka
tidak
ada
PP
alkalinitas. Kemudian mengambil larutan MO (Metil Orange) untuk merubah
warna jadi kuning. Setelah itu, titrasi dengan larutan HCl agar warna
kuning berubah menjadi warna orange. Kemudian hitung larutan HCl yang
digunakan (M).
Air dengan kandungan kalsium karbonat lebih dari 100 ppm disebut sebagai
alkalin, sedangkan air dengan kandungan kurang dari 100 ppm disebut sebagai
lunak atau tingkat alkalinitas sedang. Pada umumnya lingkungan yang baik bagi
kehidupan ikan adalah dengan nilai alkalinitas diatas 20 ppm (Lesmana, 2005).

5. Pengukuran Salinitas
Pengukuran salinitas menggunakan konduktometer. Sebelum digunakan,
konduktometer dikalibrasi terlebih dahulu menggunakan larutan KCl 0,02 M.
Kemudian bilas dengan aquades dan keringkan dengan tisu. Lalu sampel diukur
hantaran nya dengan konduktometer. Catat angka yan ditunjukkan alat.

t = Temperatur
6. Pengukuran Suspended Solids
Contoh uji yang telah homogen disaring dengan kertas saring yang telah
ditimbang. Residu yang tertahan pada saringan dikeringkan sampai mencapai
berat konstan pada suhu 103C sampai dengan 105C. Kenaikan berat

saringan mewakili padatan tersuspensi total (TSS). Jika padatan tersuspensi


menghambat saringan dan memperlama penyaringan, diameter pori-pori
saringan perlu diperbesar atau mengurangi volume contoh uji. Untuk
memperoleh estimasi TSS, dihitung perbedaan antara padatan terlarut total
dan padatan total.
TSS (mg/L) = (A-B) X 1000 / V
Dengan pengertian
A = berat kertas saring + residu kering (mg)
B = berat kertas saring (mg)
V = volume contoh (mL)