Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Diabetes

melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau keduanya (Purnamasari, 2009).
Diabetes melitus merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di
seluruh dunia prevalensi globalnya adalah

sekitar 8 % pada tahun 2011 dan

diperkirakan akan meningkat menjadi 10 % pada tahun 2030. Hampir 80 % dari


penderita diabetes tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti
Asia dan Pasifik timur (WHO, 2014).
Tahun 2011, Cina merupakan negara dengan jumlah penderita DM terbesar
yaitu 90,0 juta ( 9 % dari populasi ), diikuti oleh India 61,3 juta (8 % dari populasi )
dan Bangladesh 8,4 juta (10 % dari populasi ). Namun, sebagian besar pemerintah
dan perencana kesehatan masyarakat tidak menyadari prevalensi

diabetes dan

pradiabetes saat ini, potensi kenaikan prevalensi di masa depan dan komplikasi serius
yang berhubungan dengan DM. Akibatnya, pengetahuan tentang prevalensi diabetes
dan pradiabetes dan faktor risiko terkait dapat meningkatkan kesadaran penyakit dan
menyebabkan kebijakan dan strategi baru untuk pencegahan dan manajemen.(WHO,
2014 )
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi
Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi
penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan
menduduki ranking ke2 yaitu 14,7% dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking
ke-6 yaitu 5,8% (Kemenkes, 2010).
Pasal 22 ayat (1) Undang-undang Nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) menyebutkan manfaat dari program Jaminan

Kesehatan Nasional (JKN) mencakuo pelayanan kesehatan perseorangan yang


bersifat promotif dan preventif. Manfaatnya mencakup skrining kesehatan yang
diberikan secara selektif untuk mendeteksi risiko penyakit tertentu termasuk penyakit
diabetes melitus (DM) tipe 2. (Idris, 2014)
Peran promosi kesehatan dalam pengendalian penyakit tidak menular cukup
besar terutama dalam upaya memberdayakan masyarakat untuk ber-perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) yang terkait dengan faktor risiko bersama penyebab
penyakit tidak menular. Dari 10 indikato PHBS di Rumah Tangga tida diantaranya
merupakan pencegahan faktor risiko bersama PTM yaitu Aktivitas fisik, konsumsi
sayur dan buah serta tidak merokok. (Randangan Operasional PTM, 2010)
Mengingat bahwa DM akan memberikan dampak terhadap kualitas sumber
daya manusia dan penigkatan biaya kesehatan yang cukup besar, maka senua pihak,
baik masyarakat maupun pemerintah, sudah seharusnya ikut serrta dalam usaha
penanggulan DM, khususnya dalam upaya pencegahan.
1.2.

Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui kepentinagan

pencegahan bagi seorang dokter.


1.3.

Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada penulis dan

pembaca khususnya dokter agar dapat lebih mengetahui dan memahami tentang
pencegahan diabetes.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DIABETES MELITUS
2.1.1 DEFINISI

Diabetes

melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan

karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin
atau keduanya (Purnamasari, 2009).
2.1.2 EPIDEMIOLOGI
Diabetes melitus merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di
seluruh dunia prevalensi globalnya adalah

sekitar 8 % pada tahun 2011 dan

diperkirakan akan meningkat menjadi 10 % pada tahun 2030. Hampir 80 % dari


penderita diabetes tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti
Asia dan Pasifik timur (WHO, 2014).
Tahun 2011, Cina merupakan negara dengan jumlah penderita DM terbesar
yaitu 90,0 juta ( 9 % dari populasi ), diikuti oleh India 61,3 juta (8 % dari populasi )
dan Bangladesh 8,4 juta (10 % dari populasi ). Namun, sebagian besar pemerintah
dan perencana kesehatan masyarakat tidak menyadari prevalensi

diabetes dan

pradiabetes saat ini, potensi kenaikan prevalensi di masa depan dan komplikasi serius
yang berhubungan dengan DM. Akibatnya, pengetahuan tentang prevalensi diabetes
dan pradiabetes dan faktor risiko terkait dapat meningkatkan kesadaran penyakit dan
menyebabkan kebijakan dan strategi baru untuk pencegahan dan manajemen.(WHO,
2014 )
Secara epidemiologi, diperkirakan bahwa pada tahun 2030 prevalensi
Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Diabetes Care, 2004).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, diperoleh bahwa proporsi
penyebab kematian akibat DM pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan
menduduki ranking ke2 yaitu 14,7% dan daerah pedesaan, DM menduduki ranking
ke-6 yaitu 5,8% (Kemenkes, 2010).
Berdasarkan hasil Riskesdas 2007 prevalensi nasional DM berdasarkan
pemeriksaan gula darah pada penduduk usia >15 tahun diperkotaan 5,7%. Prevalensi
nasional Obesitas umum pada penduduk usia >= 15 tahun sebesar 10.3% dan
sebanyak 12 provinsi memiliki prevalensi diatas nasional, prevalensi nasional

Obesitas sentral pada penduduk Usia >= 15 tahun sebesar 18,8 % dan sebanyak 17
provinsi memiliki prevalensi diatas nasional. Sedangkan prevalensi TGT (Toleransi
Glukosa Terganggu) pada penduduk usia >15 tahun di perkotaan adalah 10.2% dan
sebanyak 13 provinsi mempunyai prevalensi diatas prevalensi nasional. Prevalensi
kurang makan buah dan sayur sebesar 93,6%, dan prevalensi kurang aktifitas fisik
pada penduduk >10 tahun

sebesar 48,2%. Disebutkan pula bahwa prevalensi

merokok setiap hari pada penduduk >10 tahun sebesar 23,7% dan prevalensi minum
beralkohol dalam satu bulan terakhir adalah 4,6% % (Kemenkes, 2010).
2.1.3 FAKTOR RISIKO (PERKENI, 2011)
Faktor risiko yang tidak bisa dimodifikasi :
a. Ras dan etnik
b. Riwayat keluarga dengan diabetes (anak penyandang diabetes)
c. Umur.Risiko untuk menderita intoleransi glukosa meningkat seiring
dengan meningkatnya usia. Usia > 45 tahun harus dilakukan pemeriksaan
d.

DM.
Riwayat melahirkan bayi dengan BB lahir bayi >4000 gram atau riwayat
pernah menderita DM gestasional (DMG). Riwayat lahir dengan berat

badan rendah, kurang dari 2,5 kg.


e. Bayi yang lahir dengan BB rendah mempunyai risiko yang lebih tinggi
dibanding dengan bayi lahir dengan BB normal.
Faktor risiko yang bisa dimodifikasi :
a. Berat badan lebih (IMT > 23 kg/m2).
b.

Kurangnya aktivitas isik.

c.

Hipertensi (> 140/90 mmHg).

d. Dislipidemia (HDL < 35 mg/dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL)
e.

Diet tak sehat (unhealthy diet). Diet dengan tinggi gula dan rendah serat
akan meningkatkan risiko menderita prediabetes/ intoleransi glukosa dan
DM tipe 2.

Faktor lain yang terkait dengan risiko diabetes :


a.

Penderita Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) atau keadaan klinis lain


yang terkait dengan resistensi insulin

b. Penderita sindrom metabolik memiliki riwayat toleransi glukosa terganggu


(TGT) atau glukosa darah puasa terganggu (GDPT) sebelumnya. Memiliki
riwayat penyakit kardiovaskular, seperti stroke, PJK, atau PAD
(Peripheral Arterial Diseases).
2.1.4 KLASIFIKASI
I

Klasifikasi Diabetes Melitus (ADA, 2009)


Diabetes Melitus tipe 1 (IDDM)
Destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin absolut melalui proses

II

imunolgi atau secara idiopatik.


Diabetes Melitus tipe 2 (NIDDM)
Predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif

III

Predominan gangguan sekresi insulin bersama resistesi insulin


Diabetes tipe lain
1. Defek genetik fungsi sel beta
2. Defek genetik kerja insulin
3. Penyakit eksokrin pakreas
4. Karena obat/ zat kimia
5. Infeksi
6. Sebab imunologi yang jarang : antibodi insulin

IV

7. Sindroma genetik lain yang berkaitan dengan DM (Klinefelter, sindrom Turner)


Diabetes Kehamilan
Intoleransi glukosa yang timbul atau terdeteksi pada kehamilan pertama dan gangguan
toleransi glukosa setelah terminasi kehamilan.
Tabel 1 Klasfikasi Diabetes (PERKENI, 2011)

2.1.5 DIAGNOSIS

Kecurigaan adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM,


antara lain (PERKENI, 2011) :
a. Keluhan klasik DM berupa : poliuria, polifagia, dan penurunan berat badan
yang tidak dijelaskan sebabnya.
b. Keluhan lain dapat berupa : lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur dan
disfungsi ereksi pada laki-laki serta pruritus vulva pada perempuan.
Selain dengan keluhan, diagnosa DM harus ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan kadar glukosa darah dengan cara enzimatik dengan bahan darah plasma
vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena ataupun kapiler sesuai
kondisi dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai
pembakuan WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat
dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler (Purnamasari,
2009)
Kriteria Diagnostik Diabetes Mellitus (PERKENI, 2011)
1. Gejala klasik DM + Glukosa plasma sewaktu > 200mg/dL
2. Gejala klasik DM + Glukosa plasma puasa > 126 mg/dL
3. Glukosa plasma 2 jam pada TTGO (Test Toleransi Glukosa Oral) > 200 mg/dL
menggunakan beban glukosa 75 g anhidrus yang dilarutkan dalam air
Tabel 2 Kriteria Diagnostik Diabetes Mellitus
Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring dan Diagnosis DM

Kadar glukosa

Plasma vena

(mg/dl)
Bukan DM
< 100

darah sewaktu

Darah kapiler

<90

90-199

200

(mg/dl)
Kadar glukosa

Plasma vena

< 100

100-125

126

darah puasa

Darah kapiler

<90

90-99

100

Belum pasti DM
100-199

DM
200

(mg/dl)

Tabel 3 Kadar Glukosa Darah Sewaktu dan Puasa Sebagai Patokan Penyaring
dan Diagnosis DM (PERKENI, 2011)
2.1.6 PENATALAKSANAAN
2.1.6.1 NON FARMAKOLOGIS
Tujuan penatalaksanaan secara umum menurut PERKENI (2011) adalah
meningkatkan kualitas hidup penderita Diabetes. Penatalaksanaan dikenal dengan
empat pilar penatalaksanaan diabetes melitus, yang meliputi : edukasi, terapi gizi
medis, latihan jasmani dan pengelolaan farmakologis. Pengelolaan DM dimulai
dengan pengaturan makan dan latihan jasmani selama beberapa waktu (2-4 minggu).
Apabila kadar glukosa darah belum mencapai sasaran, dilakukan intervensi
farmakologis dengan obat hipoglikemik oral (OHO) dan atau suntikan insulin.
Pada keadaan tertentu, OHO dapat segera diberikan secara tunggal atau
langsung kombinasi, sesuai indikasi. Dalam keadaan dekompensasi metabolik berat,
misalnya ketoasidosis, stres berat, berat badan yang menurun dengan cepat, adanya
ketonuria, insulin dapat segera diberikan. Pengetahuan tentang pemantauan mandiri,
tanda dan gejala hipoglikemia dan cara mengatasinya harus diberikan kepada pasien,
sedangkan pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri, setelah
mendapat pelatihan khusus (PERKENI, 2011).
a. Edukasi
Diabetes Melitus umumnya terjadi pada saat pola gaya hidup dan perilaku
telah terbentuk dengan kokoh. Keberhasilan pengelolaan diabetes mandiri
membutuhkan partisipasi aktif penderita, keluarga dan masyarakat. Tim
kesehatan harus mendampingi penderita dalam menuju perubahan perilaku.
Untuk mencapai keberhasilan perubahan perilaku, dibutuhkan edukasi yang
komprehensif pengembangan ketrampilan dan motivasi. Edukasi secara
individual dan pendekatan berdasarkan penyelesaian masalah merupakan inti
perubahan perilaku yang berhasil. Perubahan perilaku hampir sama dengan

proses edukasi yang memerlukan penilaian, perencanaan, implementasi,


dokumentasi dan evaluasi (PERKENI, 2011).
b. Terapi Gizi Medis
Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang
dalam hal karbohidrat, protein, lemak, sesuai dengan kecukupan gizi baik
sebagai berikut (PERKENI, 2011):

Karbohidrat : 45 65% total asupan energi

Protein : 10 20% total asupan energi

Lemak : 20 25 % kebutuhan kalori

Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan, status gizi, umur, stres akut,
dan kegiatan jasmani untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal.
Jumlah kalori yang diperlukan dihitung dari berat badan ideal dikali
kebutuhan kalori basal (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25 Kkal/kg BB
untuk wanita). Kemudian ditambah dengan kebutuhan kalori untuk aktifitas,
koreksi status gizi, dan kalori yang diperlukan untuk menghadapi stres akut
sesuai dengan kebutuhan. Pada dasarnya kebutuhan kalori pada diabetes tidak
berbeda dengan non diabetes yaitu harus dapat memenuhi kebutuhan untuk
aktifitas baik fisik maupun psikis dan untuk mempertahankan berat badan
supaya mendekati ideal (PERKENI, 2011).
c. Latihan Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani secara teratur (3-4 kali
seminggu selama kurang lebih 30 menit), merupakan salah satu pilar dalam
pengelolaan DM tipe 2. Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar,
menggunakan tangga, berkebun harus tetap dilakukan Konsensus Pengelolaan
dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia 2006. Latihan jasmani
selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat badan dan
memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan memperbaiki kendali glukosa
darah. Latihan jasmani yang dianjurkan berupa latihan jasmani yang bersifat
aerobik seperti : jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang. Latihan

jasmani sebaiknya disesuaikan dengan umur dan status kesegaran jasmani.


Untuk mereka yang relatif sehat, intensitas latihan jasmani bisa ditingkatkan,
sementara yang sudah mendapat komplikasi DM dapat dikurangi. Hindarkan
kebiasaan hidup yang kurang gerak atau bermalas-malasan (PERKENI, 2011).
2.1.5.6 FARMAKOLOGIS
Sarana pengelolaan farmakologis diabetes mellitus dapat berupa Obat
Hipoglikemik Oral (OHO). Berdasarkan cara kerjanya, OHO dibagi menjadi 4
golongan, antara lain (Soegondo,2007) :
A. Pemicu sekresi insulin (insulin secretagogue) : sulfonilurea dan glinid
1. Sulfonilurea

Obat golongan ini mempunyai efek utama meningkatkan sekresi


insulin oleh sel beta pankreas, dan merupakan pilihan utama untuk
pasien dengan berat badan normal dan kurang, namun masih boleh
diberikan kepada pasien dengan berat badan lebih. Untuk menghindari
hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaaan seperti orang
tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit
kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja
panjang.
2. Glinid

Glinid merupakan obat yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea,


dengan penekanan pada meningkatkan sekresi insulin fase pertama.
Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu: Repaglinid (derivat asam
benzoat) dan Nateglinid (derivat fenilalanin). Obat ini diabsorpsi
dengan cepat setelah pemberian secara oral dan diekskresi secara cepat
melalui hati.
B. Penambah sensitivitas terhadap insulin : tiazolidindion
Tiazolidindion

(rosiglitazon

dan

pioglitazon)

berikatan

pada

Peroxisome Proliferator Activated Receptor Gamma (PPAR-), suatu reseptor

inti di sel otot dan sel lemak. Golongan ini mempunyai efek menurunkan
resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa,
sehingga

meningkatkan

ambilan

glukosa

di

perifer.

Tiazolidindion

dikontraindikasikan pada pasien dengan gagal jantung klas I-IV karena dapat
memperberat edema/retensi cairan dan juga pada gangguan faal hati. Pada
pasien yang menggunakan tiazolidindion perlu dilakukan pemantauan faal
hati secara berkala
C. Penghambat glukoneogenesis (metformin)
Obat ini mempunyai efek utama mengurangi produksi glukosa hati
(glukoneogenesis), di samping juga memperbaiki ambilan glukosa perifer.
Terutama

dipakai

pada

penyandang

diabetes

gemuk.

Metformin

dikontraindikasikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal (serum


kreatinin > 1,5 mg/dL) dan hati, serta pasien-pasien dengan kecenderungan
hipoksemia (misalnya penyakit serebro- vaskular, sepsis, renjatan, gagal
jantung). Metformin dapat memberikan efek samping mual. Untuk
mengurangi keluhan tersebut dapat diberikan pada saat atau sesudah makan
D. Penghambat absorpsi glukosa : penghambat glukosidase alfa
Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi glukosa di usus halus,
sehingga mempunyai efek menurunkan kadar glukosa darah sesudah makan.
Acarbose tidak menimbulkan efek samping hipoglikemia. Efek samping yang
paling sering ditemukan ialah kembung dan flatulens.
2.1.7 KOMPLIKASI
Komplikasi akut pada diabetes mellitus antara lain (Boedisantoso R, 2007):
a. Hipoglikemia
Hipoglikemia adalah keadaan klinik gangguan saraf yang disebabkan
penurunan glukosa darah < 60 mg/dl. Gejala hipoglikemia terdiri dari gejala
adrinergic (berdebar, banyak keringat, gemetar, rasa lapar) dan gejala

10

neuroglikopenik (pusing, gelisah, kesadaran menurun sampai koma).


Penyebab tersering hipoglikemia adalah akibat obat hipoglikemia oral
golongan

sulfonilurea,

khususnya

klorpropamida

dan

glibenklamida.

Penyebab tersering lainnya antara lain : makan kurang dari aturan yang
ditentukan, berat badan turun, sesudah olahraga, sesudah melahirkan dan lainlain.
b. Ketoasidosis Diabetik
ketoasidosis diabetik (KAD) merupakan defisiensi insulin berat dan akut dari
suatu perjalanan penyakit DM yang ditandai dengan trias hiperglikemia,
asidosi dan ketosis. Timbulnya KAD merupakan ancaman kematian pada
pasien DM.
c. Hiperglikemia Non Ketotik
Hiperosmolar Hiperglikemik Non Ketotik ditandai dengan hiperglikemia,
hiperosmolar tanpa disertai adanya ketosis. Gejala klinis utama adalah
dehidrasi berat, hiperglikemia berat dan sering kali gangguan neurologis
dengan atau tanpa adanya ketosis.
Akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol dan meninggi terus menerus
yang dikarenakan tidak dikelola dengan baik mengakibatkan adanya pertumbuhan sel
dan juga kematian sel yang tidak normal. Perubahan dasar itu terjadi pada endotel
pembuluh darah, sel otot pembuluh darah maupun pada sel masingeal ginjal,
semuanya menyebabkan perubahan pada pertumbuhan dan kematian sel yang
akhirnya akan menjadi komplikasi vaskular DM. Struktur pembuluh darah, saraf dan
struktur lainnya akan menjadi rusak. Zat kompleks yang terdiri dari gula di dalam
dinding pembuluh darah menyebabkan pembuluh darah menebal dan mengalami
kebocoran. Akibat penebalan ini maka aliran darah akan berkurang, terutama menuju
kulit dan saraf. Akibat mekanisme di atas akan menyebabkan beberapa komplikasi
antara lain (Waspadji, 2009) :
a. Retinopati

11

Terjadinya gangguan aliran pembuluh darah sehingga mengakibatkan terjadi


penyumbatan kapiler. Semua kelainan tersebut akan menyebabkan kelainan
mikrovaskular. Selanjutnya sel retina akan berespon dengan meningkatnya
ekspresi faktor pertumbuhan endotel vaskular yang selanjutnya akan terbentuk
neovaskularisasi pembuluh darah yang menyebabkan glaukoma. Hal inilah
yang menyebabkan kebutaan.
b. Nefropati
Hal-hal yang dapat terjadi antara lain : peningkatan tekanan glomerular dan
disertai dengan meningkatnya matriks ektraseluler akan menyebabkan
terjadinya penebalan membran basal yang akan menyebabkan berkurangnya
area filtrasi dan kemudian terjadi perubahan selanjutnya yang mengarah
terjadinya glomerulosklerosis. Gejala-gejala yang akan timbul dimulai dengan
mikroalbuminuria dna kemudian berkembang menjadi proteinuria secara
klinis selanjutnya akan terjadi penurunan fungsi laju filtrasi glomerular dan
berakhir dengan gagal ginjal.

c. Neuropati
Yang paling sering dan paling penting gejala yang timbul berupa hilangnya
sensasi distal atau seperti kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri dan lebih
terasa sakit dimalam hari.
d. Penyakit jantung koroner
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar
zat berlemak dalam darah meningkat, sehingga mempercepat aterosklerosis
(penimbunan plak lemak di dalam pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6
kali lebih sering terjadi pada penderita DM. Akibat aterosklerosis akan
menyebabkan penyumbatan dan kemudian menjadi penyakit jantung koroner.
e. Penyakit pembuluh darah kapiler

12

Mengenali dan mengelola berbagai faktor risiko terkait terjadinya kaki


diabetes dan ulkus diabetes merupakan hal yang paling sering pada penyakit
pembuluh darah perifer yang dikarenakan penurunan suplai darah di kaki.
2.2 Program Pencegahan Diabetes Melitus
A. Pencegahan Primer (PERKENI, 2011)
Pencegahan primer adalah upaya yang ditujukan pada kelompok yang
memiliki faktor risiko, yakni mereka yang belum terkena, tetapi berpotensi untuk
mendapat DM dan kelompok intoleransi glukosa.
Materi pencegahan primer terdiri dari tindakan penyuluhan dan pengeloaan
yang ditujukan untuk kelompok masyarakat yang mempunyai risiko tinggi dan
intoleransi glukosa.
Materi penyuluhan meliputi antara lain:
1. Program penurunan berat badan.
Pada seseorang yang mempunyai risiko diabetes dan mempunyai berat
badan lebih, penurunan berat badan merupakan cara utama untuk
menurunkan risiko terkena DM tipe 2 atau intoleransi glukosa. Beberapa
penelitian menunjukkan penurunan berat badan 5-10% dapat mencegah
atau memperlambat munculnya DM tipe 2.
2. Diet sehat.
Dianjurkan diberikan pada setiap orang yang mempunyai risiko. Jumlah
asupan kalori ditujukan untuk mencapai berat badan ideal. Karbohidrat
kompleks merupakan pilihan dan diberikan secara terbagi dan seimbang
sehingga tidak menimbulkan puncak (peak) glukosa darah yang tinggi
setelah makan. Mengandung sedikit lemak jenuh, dan tinggi serat larut.
3. Latihan jasmani. Latihan jasmani teratur dapat memperbaiki kendali
glukosa darah, mempertahankan atau menurunkan berat badan, serta dapat
meningkatkan kadar kolesterol HDL. Latihan jasmani yang dianjurkan:
Dikerjakan sedikitnya selama 150 menit/minggu dengan latihan aerobik
sedang (mencapai 50-70% denyut

jantung

maksimal), atau 90

13

menit/minggu dengan latihan aerobik berat (mencapai denyut jantung


>70% maksimal). Latihan jasmani dibagi menjadi 3-4 x aktivitas/minggu.
4. Menghentikan merokok. Merokok merupakan salah satu risiko timbulnya
gangguan kardiovaskular. Meskipun merokok tidak berkaitan langsung
dengan timbulnya intoleransi glukosa, tetapi merokok dapat memperberat
komplikasi kardiovaskular dari intoleransi glukosa dan DM tipe 2.
B. Pencegahan Sekunder (PERKENI, 2011)
Pencegahan sekunder adalah upaya mencegah atau menghambat timbulnya
penyulit pada pasien yang telah menderitaDM. Dilakukan dengan pemberian
pengobatan yang cukup dan tindakan deteksi dini penyulit sejak awal pengelolaan
penyakit DM. Dalam upaya pencegahan sekunder program penyuluhan memegang
peran penting untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam menjalani program
pengobatan dan dalam menuju perilaku sehat. Untuk pencegahan sekunder ditujukan
terutama pada pasien baru.
Penyuluhan dilakukan sejak pertemuan pertama dan perlu selalu diulang pada
setiap kesempatan pertemuan berikutnya. Salah satu penyulit DM yang sering terjadi
adalah penyakit kardiovaskular, yang merupakan penyebab utama kematian pada
penyandang diabetes. Selain pengobatan terhadap tingginya kadar glukosa darah,
pengendalian berat badan, tekanan darah, proil lipid dalam darah serta pemberian
antiplatelet dapat menurunkan risiko timbulnya kelainan kardiovaskular pada
penyandang diabetes.
C. Pencegahan Tersier (PERKENI, 2011)
Pencegahan tersier ditujukan pada kelompok penyandang diabetes yang telah
mengalami penyulit dalam upaya mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
Upaya rehabilitasi pada pasien dilakukan sedini mungkin, sebelum kecacatan
menetap. Sebagai contoh aspirin dosis
rendah (80-325 mg/hari) dapat diberikan secara rutin bagi penyandang diabetes yang
sudah mempunyai penyulit makro angiopati.

14

Pada upaya pencegahan tersier tetap dilakukan penyuluhan pada pasien dan
keluarga. Materi penyuluhan termasuk upaya rehabilitasi yang dapat dilakukan untuk
mencapai kualitas hidup yang optimal. Pencegahan tersier memerlukan pelayanan
kesehatan holistik dan terintegrasi antar disiplin yang terkait, terutama di rumah sakit
rujukan. Kolaborasi yang baik antar para ahli di berbagai disiplin (jantung dan ginjal,
mata, bedah ortopedi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi medis, gizi, podiatris,
dll.) sangat diperlukan dalam menunjang keberhasilan pencegahan tersier.
2.2.1 Program Pencegahan Diabetes Melitus di Asia dan Indonesia
Penurunan berat badan sebesar 5-10% disertai dengan latihan jasmani teratur
mampu mengurangi risiko timbulnya DM tipe 2 sebesar 58%. Sedangkan
penggunaan obat (seperti metformin, tiazolidindion, acarbose) hanya mampu
menurunkan risiko sebesar 31%.
Pada dasarnya program pencegahan diabetes sama untuk srtiap negara.
Namun, setiap negara memiliki tujuan mofisaksi gaya hidup yang berbeda (Ambady,
2012).
a. Indian diabetes prevention program
o Pengaturan berat badan
o Mengurang konsumsi karbohidrat dan lemak
o

Olahraga 30 menit

b. Da qing (China)
o Menurunkan dan pengaturan berat badan
o Makanan sehat
o Olah raga
c. Diabetes Prevention Program Outcomes Study

15

Pengaturan kalori dan pengaturan berat badan

d. Japannase Diabetes Prevention Program


o BMI <= 22kg/m2 dengan olahraga 30-40 menit per hari
e. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Panduan PROLANIS, 2014)
o PROLANIS adalah suatu sistem pelayanan kesehatan dan
pendekatan proaktif yang dilaksanakan secara terintegrasi yang
melibatkan Peserta, Fasilitas Kesehatan dan BPJS Kesehatan
dalam rangka pemeliharaan kesehatan bagi peserta BPJS
Kesehatan yang menderita penyakit kronis untuk mencapai
kualitas hidup yang optimal dengan biaya pelayanan kesehatan
yang efektif dan efisien. Tujuan

Mendorong peserta

penyandang penyakit kronis mencapai kualitas hidup optimal


dengan indikator 75% peserta terdaftar yang berkunjung ke
Faskes

Tingkat

Pertama

memiliki

hasil

baik

pada

pemeriksaan spesifik terhadap penyakit DM Tipe 2 dan


Hipertensi sesuai Panduan Klinis terkait sehingga dapat
mencegah timbulnya komplikasi penyakit.
o Aktifitas PROLANIS
1. Konsultasi Medis Peserta Prolanis :
jadwal konsultasi disepakati bersama antara peserta
dengan Faskes Pengelola
2. Edukasi Kelompok Peserta Prolanis
Edukasi Klub Risti (Klub Prolanis) adalah kegiatan untuk
meningkatkan

pengetahuan

kesehatan

dalam

upaya

memulihkan penyakit dan mencegah timbulnya kembali

16

penyakit serta meningkatkan status kesehatan bagi peserta


PROLANIS
3. Reminder melalui SMS Gateway
Reminder adalah kegiatan untuk memotivasi peserta untuk
melakukan kunjungan rutin kepada Faskes Pengelola
melalui pengingatan jadwal konsultasi ke Faskes Pengelola
tersebut
4. Home Visit
Home Visit adalah kegiatan pelayanan kunjungan ke rumah
Peserta PROLANIS untuk pemberian informasi/edukasi
kesehatan diri dan lingkungan bagi peserta PROLANIS dan
keluarga
DAFTAR PUSTAKA
Akter, S. Rahman , MM. Abe, SK. dan Sultana, P. 2014. Prevalence of diabetes and
prediabetes and their risk factors among Bangladeshi adults: a nationwide
survey.Bulletin WHO.
Ambady, R. Snehalat, C. Shetty AS. Nandhita A. 2012. Review Article Primary
Prevention of Type 2 diabetes in Sourh Asian challenge and the way forward.
DiabeticMedicine.
Ambady, R. Snehalat, C. Shetty AS. Nandhita A. 2012. Trends in Prevalence of
diabetes in Asian Countries. Worl Journal of Diabetes.
Badan Penyelenggara

Jaminan Nasional .2014 Panduan Praktis PROLANIS

(Program Pengelolaan Penyakit Kronis). Jakarta.


Idris, Fachmi. 2014. Pengintegrasian Program Preventif Penyakit Diabetes Melitus
Tipe 2 PT Askes (Persero) ke Badan Penyelenggara Jaminan Nasional. J
Indon Med Assoc.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Tahun 2030 Prevalensi Diabetes
Melitus Di Indonesia Mencapai 21,3 Juta Orang. Jakarta.

17

Purnamasari D. 2009. Diagnosis dan Klasifikasi Diabete Melitus. Dalam Buku Ajar
Ilmu Penyakit Dalam. Edisi Lima. Interna Publishing. Jakarta. 1880-83.

18