Anda di halaman 1dari 2

PERDAGANGAN KARBON DAN PRODUK HASIL HUTAN INDONESIA:

ASPEK KELEMBAGAAN PASAR KARBON


Oleh:
Inna Sri Supina Adi

ABSTRAKSI

Hasil penelitian ini adalah upaya pemanfaatan informasi yang diperoleh dari model hasil
penelitian tahun pertama, kemudian untuk mengukur kondisi eksisting masyarakat,
digunakan metode analytical hierarchy process dengan skala Saaty. Potensi wilayah
diukur dengan menggunakan model pengukuran nilai perusahaan yang diadopsi dari
ilmu ekonomi manajerial. Hasil yang diperoleh adalah kelembagaan skema Mekanisme
Pembangunan Bersih dari Tokyo Protocol ataupun non-Tokyo telah matang dan
teradopsi, namun akan berakhir pada tahun 2012. Skema REDD yang diusulkan
Indonesia dapat diadopsi untuk skema mitigasi emisi karbon. Secara kelembagaan,
Indonesia telah memiliki seperangkat peraturan dan hukum untuk dapat berkecimpung
pada pasar karbon skema REDD. Namun demikian, hasil penelitian menunjukkan
diperlukan suatu solusi untuk masalah status kepemilikan lahan, teknologi pengukuran
kandungan karbon dan harga karbon.
Potensi lahan mekanisme pembangunan bersih (MPB) kabupaten Pulang Pisau
seluas 328200.47 hektar dengan potensi investasi sebesar US$ 7220410.34. Dengan
skema REDD adalah seluas 685059.97 hektar, dengan potensi penyerapan karbon
sebesar 34115986.51 tc, senilai US$750.55 juta pada tahun 2007. Potensi additionality
karbon dari hutan yang terawat di Kabupaten Pulang Pisau sebesar 131587808.12 tc,
senilai US$ 2895 juta pada tahun 2030.
Potensi lahan mekanisme pembangunan bersih (MPB) Kabupaten Pesisir seluas
134004 hektar dengan potensi nilai MPB sebesar US$ 2,948,088 dan Kabupaten
Merangin seluas 278966.94 hektar dengan potensi investasi yang sebesar US$
2948088. Dengan skema REDD, hutan Kabupaten Pesisir Selatan seluas 430244.02
hektar, dengan potensi penyerapan karbon sebesar 152846769.6 tc, senilai US$
3362.63 juta pada tahun 2007 dan potensi additionality karbon dari hutan yang terawat
di Kabupaten Pesisir Selatan pada tahun 2030 adalah sebesar 18957607998 tc, senilai
US$ 2895 juta. Berdasarkan skema REDD, luas hutan Kabupaten Merangin, seluas
436478.23 hektar, dengan potensi penyerapan karbon sebesar 54503909.54 tc, senilai
US$1199 juta pada tahun 2007 dan potensi additionality mencapai 5529432938 tc pada
tahun 2030, senilai US$ 5529 juta. Hasil penelitian ini merekomendasi pengadopsian
model pengukuran nilai perusahaan untuk mengukur nilai kandungan karbon dalam
hutan dan memprioritaskan masalah status kepemilikan lahan (land tenure)

Kata kunci: Perubahan Iklim, Perdagangan Karbon, Carbon Accounting, Potensi


Investasi Wilayah