Anda di halaman 1dari 5

Tittle: Surga Terlarang

Fandom: Original Fic


Genre: Angst/Romance
Rating: T/15+
Disclaimer: Plot dan tokohnya, semua punya Luna!
Summary: Aku ada di sini karena hukuman.... Hukumanku karena telah membuang Tuha
n dan mengecap rasa manis surga terlarang. “Menurutmu, hukuman apa yang lebih be
rat dari neraka?”

Aku selalu berpikir dan bertanya-tanya, apakah...ini sebuah hukuman untukku?


Dari balik pohon di tengah taman aku mengintip bak pasir yang sering digunakan a
nak-anak untuk bermain. Anak-anak yang bermain membuat istana pasir atau bermain
papan seluncur tertawa dengan riangnya, membuatku yang melihatnya menjadi iri.
Bahagianya...dulu aku juga seperti itu. Ketika masih anak-anak, aku bermain tanp
a beban dan tidak perlu memikirkan bermacam-macam hal yang memuakkan.
Aku sangat sedih ketika memikirkan bahwa waktuku tak bisa kembali. Andaikan saja
bisa, aku ingin kembali ke masa itu. Namun...itu tak mungkin bisa...karena ini
adalah hukuman dari Yang Maha Kuasa. Karena aku telah melakukan dosa besar yang
tak bisa diampuni.
Kalau kupikirkan kembali, aku memang orang yang sangat keterlaluan. Meskipun sud
ah tahu bahwa hal itu tabu untuk dilakukan, tetap saja kulakukan. Meskipun dalam
pelajaran agama di sekolah, ataupun disebutkan dalam kitab suci bahwa hukumnya
adalah haram, terlarang, dosa besar yang tidak terampuni, tetap saja aku nekad.
Benar...ini semua adalah hukuman karena aku mengidamkan surga terlarang. Karena
selama ini aku hidup dalam kehampaan dan kesendirian, sekalinya aku menemukan pe
gangan hidup, tak bisa kulepaskan lagi. Namun ternyata, hal itu adalah sebuah su
rga yang dipenuhi dengan apel terlarang.
Setiap saat, kapan saja dan di mana saja, aku selalu mengecap rasa dari apel ter
larang itu. Terkadang terasa manis, terkadang pahit. Namun semanis atau sepahit
apa pun rasa dari apel terlarang, aku tetap serasa berada di surga. Membahagiaka
n, seakan tak ada kesedihan apa pun di dunia ini meskipun aku tahu itu adalah ha
l yang tidak termaafkan.
Aku telah melupakan keberadaan Yang Maha Kuasa dan membuang diriku ke dalam surg
a terlarang. Kuberikan jiwa dan ragaku sebagai ganti dari kebahagiaan semu yang
kurasakan. Namun seiring dengan itu...aku pun telah melupakan betapa berkuasanya
Yang Maha Kuasa atas mekhluk-makhluk-Nya. Aku telah lupa untuk apa sebenarnya s
urga terlarang diciptakan.
Surga terlarang diciptakan...untuk menguji hati dan iman manusia terhadap sang P
encipta.
Aku makhluk yang lemah. Baru kusadari hal itu ketika aku telah kehilangan segala
nya. Aku kehilangan surga dan apel-apel terlarangku.
Dari puncak kebahagiaan surga terlarang yang gemerlapan, aku serasa dijatuhkan k
e dasar neraka penderitaan. Aku telah dikalahkan oleh nafsu dan sisi gelap dalam
diriku. Aku tergiur oleh kebahagiaan semu dari surga terlarang. Kepedihan mengh
ujam dada, bagaikan merobek-robek hatiku.
Namun...mau menyesal sekarang pun sudah terlambat. Menyesal...?
Aku...meskipun telah diberi hukuman yang begitu menyedihkan dari Yang Maha Kuasa
..., tak pernah sekalipun menyesaliya. Selama ini aku telah menjadi seorang pend
osa yang bahagia. Perasaan dan hatiku bahkan tidak tergerak untuk bertaubat sete
lah menjalani seluruh hukuman itu. Sudah terlambat untuk kembali ke jalan-Nya. S
udah terlambat karena aku terlanjur menjadi seorang pendosa yang menjadi budak d
ari surga terlarang.
Kemudian...akhirnya Yang Maha Kuasa memberikan hukuman yang bahkan lebih pedih d
ari kematian kepada pendosa yang tidak mau bertaubat kepada-Nya seperti diriku i
ni. Siksaan abadi yang sama menyakitkanya, tidak, mungkin lebih menyakitkan dari
siksaan neraka.
Menurutmu...hukuman apa yang lebih menyedihkan dari siksaan neraka?
“Kakak,” panggil seseorang.
Aku menoleh ke arah orang itu. Ternyata seorang anak lelaki yang masih kecil. Mu
ngkin baru berumur lima atau enam tahun. Ia mencengkeram jas hitam panjang yang
kukenakan.
“Kakak sedang apa di tempat seperti ini sendirian?” tanyanya.
Aku tersenyum kecil, kemudian berjongkok agar anak iu tak perlu mendongak untuk
bicara denganku. Kuelus-elus kepala anak berambut cokelat yang lembut itu.
“Kakak sedang memperhatikan perubahan,” jawabku.
“Perubahan?” tanyanya tak mengerti.
“Iya. Kakak terus memperhatikan perubahan tempat ini dari sini. Dari waktu kakak
,” jelasku, “kau tahu, dulu tempat ini adalah medan perang. Kakak terus memperha
tikanya sampai menjadi tempat bermain kalian, anak-anak.”
“Kata mama perang sudah lama berlalu, kenapa Kakak harus terus memperhatikan tem
pat ini begitu lama?” tanya anak itu lagi.
“Karena itu hukuman untuk kakak,” kataku, “kakak harus tetap di sini dan melihat
perubahan tempat ini dari waktu kakak.”
“Rein tidak mengerti,” kata anak itu.
“Tak apa, memang lebih baik kalau kau tidak mengerti,” komentarku sambil tertawa
kecil.
“Eh, apa Kakak akan terus di sini?” tanyanya kemudian.
“Iya,” jawabku.
“Sampai kapan pun?”
“Sampai kapan pun.”
“Kalau begitu...Kakak mau jadi teman Rein?” pinta anak itu dengan polosnya.
Aku tertegun menatap anak itu.
Teman? Aku? Si pendosa yang bahkan tidak diampuni oleh Yang Maha Kuasa. Aku yang
menjadi budak surga terlarang dan lebih kotor dari apa pun. Aku yang begini men
jijikannya berteman dengan anak lelaki kecil yang sangat manis dan masih polos b
agaikan malaikat yang turun dari langit ini?
“Rein!”
Tiba-tiba terdengar suara seorang wanita memanggil anak lelaki kecil itu.
Aku tersentak kaget dan belum sempat menjawab keinginan anak itu. Anak itu menol
eh ke arah wanita itu seraya melambaikan tangan.
“Mama!” panggilnya dengan wajah ceria.
Rein segera berlari ke arah ibunya dan memeluknya.
“Sedang apa Rein di balik pohon itu?’ tanya ibunya ingin tahu.
“Rein sedang ngobrol sama kakak,” jawab Rein sambil tersenyum.
“Kakak?” tanya ibunya tak paham.
“Iya, kakak cowok cakep berambut hitam dan pakai jas hitam panjang. Dia selalu m
elihat kami dari balik pohon dengan wajah sedih dan kesepian, makanya Rein ajak
ngobrol,” jelas Rein seraya menunjuk ke arahku yang berdiri di bawah pohon itu.
“Dasar Rein, ternyata teman khayalan, ya?” komentar ibunya seraya menghela nafas
.
“Kakak bukan teman khayalan!” tegas Rein kesal.
“Iya, iya,” kata ibunya seraya tersenyum salah tingkah, “nah, karena sekarang su
dah sore, Rein pulang ke rumah, ya? Kakak khayalan juga bilang begitu,” bujuk ib
unya.
Rein mengangguk pelan dengan wajah sedikit sedih karena ibunya tidak mempercayai
ucapanya yang sungguh-sungguh.
“Ayo, pamit sama kakak khayalan,” kata ibunya.
“Padahal kakak bukan teman khayalan,” gerutu Rein dengan wajah cemberut sambil b
erlari lagi menuju tempatku.
“Kakak, kenapa mama tak bisa melihat Kakak?” tanya Rein dengan wajah sebal.
“Ng...mungkin karena Kakak teman khayalan?” tanyaku dengan senyum sedih.
“Kakak bukan teman khayalan. Kakak kan, temanku. Besok aku akan kesini lagi mene
mui Kakak. Kakak jangan ke mana-mana, ya!” pintanya seraya tersenyum.
Air mataku hampir menetes. Aku benar-benar hampir melupakan betapa lembutnya hat
i manusia. Apalagi hati anak-anak yang masih suci dan belum mempunyai dosa.
“Iya...,” bisiku sambil tersenyum menahan tangis.
“Sampai besok, Kakak,” kata Rein seraya melambaikan tangan padaku saat pulang be
rsama ibunya.
Aku juga melambaikan tangan padanya. Kemudian setelah Rein tak terlihat lagi aku
mulai menangis. Tangis haru dan kebahagiaan. Apa aku akan mendapatkan kembali s
urgaku?
Namun, aku telah melupakan sesuatu. Aku bahkan tak menyadarinya sampai hari itu
datang. Di tengah sedikit kebahagiaan yang akhirnya bisa kudapatkan, hari-hari b
erlalu dengan damai.
Meskipun hari-hari itu kulalui dengan senyum dan tawa, di sudut hatiku ada kehaw
atiran yang aneh. Aku terus merasa cemas akan sesuatu yang tidak pasti.
Hari demi hari pun berlalu. Waktu berganti bulan dan tahun. Dalam beberapa tahun
terakhir, Rein tak pernah sekalipun melupakan diriku. Setiap hari, setidaknya s
ekali dalam sehari, ia pasti datang menjengukku di bawah pohon itu.
Rein yang dulu masih sangat kecil itu kini beranjak menjadi siswa SMA yang tampa
n dan gagah.
“Aku datang,” sapanya seraya tersenyum padaku dengan ramah.
“Selamat datang,” balasku seraya tersenyum juga.
Kami membicarakan banyak hal dari kegiatan Rein sehari-hari di sekolah sampai se
mua hobi dan kesukaanya. Rein anak yang sangat baik, ia selalu menjaga perasaank
u agar tak merasa kesepian. Wajahnya yang ceria dan senyumnya yang lembut membua
t hatiku terasa hangat.
“Rein, sudah lama aku tidak melihatmu bersama teman-temanmu,” kataku.
Rein hanya tersenyum dan tak mengatakan apa-apa.
“Rein...?”
Ada yang aneh. Kenapa ia tak seperti biasanya? Tatapan matanya tampak kosong, ta
k ada kehidupan. Terlebih lagi...aku baru sadar, kenapa sejak dua tahun lalu ia
tidak berubah? Seragam SMA-nya juga tak pernah ganti meski musim berubah.
“Rein...ada apa denganmu?” tanyaku dengan wajah sedih, “kalau kuingat-ingat, sej
ak dua tahun lalu kau tidak pernah terlihat bersama orang lain.”
“Ah, itu...karena aku sudah tidak terlihat,” katanya.
Apa?
Aku menatap Rein dengan tatapan tak mengerti sekaligus merasa was-was.
“Kau sudah lupa?” tanyanya, “dua tahun yang lalu, di depan matamu...aku dibunuh,
dan mayatku...terkubur di bawah kakimu.”
Aku sangat shok mendengarnya. Aku tak tahu harus bereaksi bagaimana. Apa aku sed
ang bermimpi?
“Kau tidak melakukan apa-apa ketika hal itu terjadi, tapi aku tidak menyalahkanm
u. Kau bilang sedang dalam masa hukuman, karena itu aku mengerti jika tak ada ya
ng bisa kau lakukan dengan tubuh seperti itu,” katanya seraya tersenyum.
Air mataku tiba-tiba mengalir dari pelupuk mata.
Benar juga...waktu itu Rein dibunuh di depan mataku. Namun aku tak melakukan apa
-apa. Aku tak bisa apa-apa melihat orang yang kusayangi terbunuh di depan mataku
.
“Lalu...kenapa kau masih ada di sini?” tanyaku tak mengerti, “kenapa kau tidak m
eninggalkanku?”
Rein tidak menjawabnya. Ia hanya tersenyum sedih seraya memandangiku yang sedang
menangis. Rein mengulurkan tanganya padaku dan memelukku. Tubuhnya terasa dingi
n, dingin sekali. Bukan tangan hangat yang biasanya kusentuh.
Bukan tangan...makhluk yang hidup.
“Kenapa...?” tanyaku, “kenapa...?”
Terulang lagi. Kejadian yang sama ketika surga terlarang dan apel terlarang diam
bil dariku. Waktuku kembali merenggut kebahagiaan yang susah payah kudapatkan.
“Tugasku sudah selesai,” kata Rein, “aku sudah tak bisa di sini karena kau sudah
menyadarinya. Namun...aku ingin kau ingat, kau tidak sendirian. Akan ada orang
lain yang melihatmu dan menjadi kekuatanmu yang berikutnya.”
Rein tersenyum lembut padaku.
Jangan pergi...! jangan ambil dia dariku...! Jangan bawa dia...!!
“Reeeeeiiiin!!” teriakku histeris ketika perlahan-lahan tubuh Rein memudar dan m
enghilang di depan mataku.
Ini hukumanku.... Inilah hukuman abadi yang lebih menyakitkan dari neraka. Waktu
yang terhenti. Waktuku yang berhenti. Meskipun dunia di sekitarku berubah, aku
tidak akan pernah berubah. Selalu...selalu...melihat orang-orang yang kusayangi
menghilang di depan mataku. Tak akan pernah berakhir...selamanya....
Surga terlarang...adalah tempat yang akan memberikan kebahagiaan sesaat dengan p
enderitaan abadi sebagai bayaranya. Namun, aku masih...tak bisa menyerah untuk b
erharap.
Sampai akhir...selama waktuku masih berhenti. Aku ingin mengecap rasanya sekali
lagi. Apel terlarang dari dalam surga terlarang....
* * *
“Manusia itu...memang makhluk yang paling menyedihkan.”
“Benar...makhluk yang paling menyedihkan.”
Namun karena ada manusialah, dunia ini jadi lebih menarik....

Selesai
A/N: Luna juga mengaku kalau Luna lagi emo waktu bikin ini. Cerita super menyedi
hkan pertama waktu Luna berpikir tentang hukuman apa yang paling mengerikan bagi
manusia, tentang kematian, dan tentang keabadian. Emang bukan karya yang ceria,
tapi waktu Luna baca ulang, entah kenapa Luna selalu nangis. TT_TT Ini juga kar
ya orisinil Luna waktu SMA. Gimana menurut kalian? Mohon berikan feed backnya...
.
With Love,
Lunaryu