Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kehidupan manusia selalu berisiko mengalamai luka. Luka yang terjadi dapat
diakibatkan dari tindakan kesengajaan seperti operasi bedah dan dapat juga
diakibatkan dari tindakan yang tidak sengaja atau disebut juga sebagai kecelakaan.
Kecelakaan yang menyebabkan luka dapat berupa luka gigit, luka lecet, luka iris,
luka memar, dan luka bakar. Luka adalah suatu cedera pada kulit yang
menyebabkan keutuhan jaringan terputus sebagian atau seluruhnya. Keadaan luka
dapat disebabkan oleh trauma benda tajam dan tumpul, perubahan suhu, zat kimia,
ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan.
Penyembuhan luka terkait dengan regenerasi sel sampai fungsi organ tubuh
kembali pulih. Idealnya luka yang sembuh kembali normal secara struktur anatomi,
fungsi dan penampilan. Perawatan luka dimulai dengan mendiagnosa apakah luka
tersebut bersih, atau apakah ada tanda klinik yang memperlihatkan masalah
infeksi. Infeksi luka sering berakibat tidak fatal, tetapi dapat menimbulkan cacat
pada kulit. Penanganan luka yang tepat dan cepat dapat mencegah jaringan kulit
yang terluka dari risiko infeksi. Infeksi mikroorganisme dapat terjadi pada area luka,
karena penularan mikroorganisme didasarkan pada tindakan semua orang yang
berhubungan dengan sentuhan dan udara, serta melalui benda hidup atau benda
mati yang telah terkontaminasi. Faktor lain yang mendasari terinfeksinya luka pada
kulit, karena tubuh manusia merupakan sumber infeksi, seperti contoh pada orang
dewasa diperkirakan mengandung lebih dari 25.000 mikroorganisme per cm persegi
kulit, 250 milyar mikroorganisme di dalam mulut mereka, dan 2,5 trilyun di kolon
bagian bawah.
Tindakan pertama yang harus diperhatikan pada pencegahan infeksi
terhadap luka adalah keadaan aseptis, yaitu dengan menggunakan obat yang
berkhasiat sebagai antiseptik. Antiseptik adalah obat yang digunakan untuk
membunuh pertumbuhan mikroorganisme, biasanya digunakan pada jaringan kulit.
Syarat suatu sediaan antiseptik yaitu dapat digunakan untuk menghilangkan
mikroorganisme tanpa menyebabkan rusaknya atau teriritasinya kulit atau selaput
lendir. Banyak bahan kimia yang memenuhi syarat sebagai antiseptik. Berdasarkan
sifat kimia, antiseptik digolongkan dalam golongan fenol, alkohol, aldehid asam,
halogen, peroksidan dan logam berat.
Tinctura iodium merupakan salah satu antiseptik kulit tertua yang pernah
digunakan, tetapi mempunyai efek samping yang dapat mengiritasi kulit dan
memiliki insiden alergi yang cukup tinggi. Penggunaan iodium mulai populer

kembali pada dasawarsa terakhir, dengan dibuktikannya bahwa iodium dapat


mengikat komponen polivinilpirolidin untuk mendapat aksi antibakteri yang baik.
Kompleks iodofor yang terbentuk memiliki frekuensi reaksi alergi dari tinctura
iodium yang rendah, sehingga apabila lapisan iodofor tetap dibiarkan pada kulit,
pengeluaran iodium yang lambat tetap berlangsung untuk beberapa jam. Kompleks
dari iodium dengan polivinilpirolidon membentuk zat aktif povidon iodine yang
sering digunakan oleh masyarakat sampai saat ini pada terapi obat luka dan
berkhasiat sebagai antiseptik.
Sediaan obat cair dengan zak aktif povidon iodine banyak beredar di pasaran,
seperti di apotek, toko obat maupun swalayan. Kadar povidon iodine yang terdapat
pada sediaan tersebut yang sering digunakan sebagai antiseptik adalah 10%.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang menjadi perumusan masalah dalam praktek
ini adalah membuat obat kumur dengan kandungan zat aktif povidone iodine 1%.

Tujuan
Praktek ini bertujuan untuk memenuhi laporan jurnal Praktek Teknologi Sediaan
Semi Solid.

Manfaat Praktek
Manfaat dilakukan Praktek
iodine ini diharapkan:

Teknologi Sediaan Semi Solid dengan materi povidon

1. Dapat menambah ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penulis tentang


pembuatan obat kumur povidone iodine.
2. Dapat meningkatkan ilmu pengetahauan yang sudah dipelajari.
3. Dapat mengetahui kadar Povididone Iodine yang terkandung dalam sediaan
obat luka cair yang beredar di masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Pengertian Povidon Iodine


Povidon Iodine adalah suatu iodofor dari pembentukan kompleks antara
iodium dengan polivinilpirolidon. Polivinilpirolidon berperan sebagai pembawa
molekul memiliki berat molekul rata-rata lebih kurang 40.000. Menurut Farmakope
edisi IV (1995) larutan povidon iodine mengandung tidak kurang dari 85% dan tidak
lebih dari 120% Iodum dari jumlah yang tertera pada etiket, serta dapat
mengandung sedikit etanol. Kandungan etanol (jika ada) antara 90% dan 110% dari
jumlah yang tertera pada etiket.

Sejarah Penggunaan Povidon Iodine


Tinctura iodium merupakan salah satu antiseptik kulit tertua yang pernah
digunakan, tetapi mempunyai efek samping yang dapat mengiritasi kulit dan
memiliki insiden alergi yang cukup tinggi. Penggunaan iodium mulai populer
kembali pada dasawarsa terakhir, dengan dibuktikannya bahwa iodium dapat
mengikat komponen polivinilpirolidin untuk mendapat aksi antibakteri yang baik.
Kompleks iodofor yang terbentuk memiliki frekuensi reaksi alergi dari tinctura
iodium yang rendah, sehingga apabila lapisan iodofor tetap dibiarkan pada kulit,
pengeluaran iodium yang lambat tetap berlangsung untuk beberapa jam.

Sifat Povidon Iodine


Larut dalam air dan larutan etanol (95%) P, praktis tidak larut dalam
kloroform , dalam eter P, dalam karbontetraklorida P, dalam aseton P dan dalam
heksana P. Larutan povidon iodum mempunyai pH antara 1,5 dan 6,5.

Farmakodinamik dan Farmakokinetik dari Povidon Iodine


Povidon-iodine berangsur-angsur melepaskan iodium yang akan berkerja
sebagai antiseptik yang berspektrum luas. Zat aktif ini bersifat bakteriostatik
dengan kadar 640 g/ml dan bersifat bakterisid pada kadar 960 g/ml.
Mycobacterium tuberculosis bersifat resisten terhadap bahan ini. Povidon iodine
memiliki toksisitas rendah pada jaringan, tetapi detergen dalam larutan
pembersihnya dapat meningkatkan toksisitasnya. Povidon iodine 10% mengandung
1% iodium yang mampu membunuh bakteri dalam 1 menit dan membunuh spora
dalam waktu 15 menit.
Mekanisme kerja povidon iodine dimulai setelah kontak langsung dengan
jaringan maka elemen iodine akan dilepaskan secara perlahan-lahan dengan
aktifitas menghambat metabolisme enzim bakteri sehingga mengganggu
multiplikasi bakteri yang mengakibatkan bakteri menjadi lemah. Iodine dalam
jumlah kecil diserap masuk ke dalam aliran darah, sehingga menyebabkan efek
sistemik dengan akibat shock dan anoksia jaringan. Penggunaan iodine harus
dengan diencerkan terlebih dahulu, hal ini karena iodine dalam konsentrasi tinggi
dapat menyebabkan iritasi kulit. Penggunaan iodine yang berlebihan dapat
menghambat proses granulasi luka. Povidon iodine yang biasanya digunakan dalam
perawatan luka hanya 10%. Hasil suatu penelitian menyatakan bahwa semakin
tinggi konsentrasi iodine yang digunakan semakin mempercepat fase penyembuhan
luka.

Kegunaan dari Povidon Iodine


Povidone iodine merupakan agen antimikroba yang efektif dalam desinfeksi
dan pembersihan kulit baik pra- maupun pascaoperasi, dalam penatalaksanaan luka
traumatik yang kotor pada pasien rawat jalan dan untuk mengurangi sepsis luka
pada luka bakar.
Menurut Dr. Henny Lukmanto (1986) zat aktif povidon iodine mempunyai indikasi
sebagai berikut:
1. Untuk mensuci hamakan kulit, selaput lendir (termasuk vagina) pada operasi
dan suntik.
2. Untuk membunuh kuman agar mencegah infeksi dan
penyembuhan luka (pada sebelum dan sesudah operasi).
3. Untuk mengompres luka-luka yang terinfeksi atau nanah.

mempercepat

4. Untuk pengobatan pertama pada kecelakaan darurat terhadap luka, lecet


maupun luka koyak.
5. Untuk mencegah infeksi dan penularan di rumah sakit atau praktek dokter.
6. Untuk mencegah infeksi pada kulit karena jamur dan kuman-kuman.
7. Untuk mengobati luka bakar derajat I, II dan III.
8. Tindakan pre operatif dan post operatif.
Manfaat povidon iodine berdasarkan kadarnya, yaitu:
Povidon iodine 10% untuk mengobati bermacam-macam luka.
Povidon iodine 7,5% sebagai sabun cair antiseptik untuk mandi, gatal-gatal di kulit,
membersihkan kulit dan tangan sebelum melakukan operasai, membersihkan kulit
yang akan dioperasi.
Povidon iodine 1% mempunyai indikasi untuk peradangan dan infeksi mulut,
tenggorokan, gigi, gusi lidah sariawan, pencegahan infeksi pada pembedahan luka
dan pencabutan gigi.

Efek Samping dari Penggunaan Povidon Iodine


Povidon Iodine harus hati-hati bila digunakan pada permukaan kulit rusak
yang luas (misalnya luka bakar), karena iodium dapat diresorpsi dan meningkatkan
kadarnya dalam serum sehingga dapat menimbulkan asidosis, neutropenia dan
hipotirosis. Toksisitas dari povidon iodine dapat terjadi apabila zat ini masuk ke
traktus gastro intestinal yang menyebabkan korosif.

Keuntungan dan Kerugian Penggunaan Povidon Iodine


Keuntungan dari zat aktif povidone iodine sebagai antiseptik yaitu tidak
merangsang, mudah dicuci karena larut dalam air dan stabil karena tidak menguap.
Penggunannya yang berulang kali akan mengendap sehingga efeknya bertahan
lama (Tjay dan Raharjadja, 2007). Keuntungan lainnya yaitu povidon iodine akan
tetap aktif pada luka yang terdapat darah, nanah, serum dan jaringan neukrotik.
Warna coklat dan baunya merupakan sifat obat ini yang kurang menguntungkan

Antiseptik
Pengertian Antiseptik

Antiseptik adalah zat-zat yang membunuh atau mencegah pertumbuhan


mikroorganisme. Istilah ini terutama digunakan untuk sediaan yang dipakai pada
jaringan hidup (Rahardjo, 2008). Antiseptik ialah obat yang dapat meniadakan atau
mencegah keadaan sepsis (Gunawan, 2007). Kata antiseptik berasal dari bahasa
yunani, yaitu sepsis = busuk (Tjay dan Rahardja, 2007).

Sifat-sifat Antiseptik
Sifat antiseptik yang ideal adalah:
1. Efektivitas germisid tinggi.
2. Bersifat letal terhadap mikroorganisme.
3. Kerjanya cepat dan tahan lama.
4. Spektrum sempit terhadap infeksi mikroorganisme yang sensitif.
5. Tegangan permukaan yang rendah untuk pemakaian topikal.
6. Indeks terapi tinggi.
7. Tidak memberikan efek sistemik bila diberikan secara topikal.
8. Tidak merangsang terjadinya alergi.
9. Tidak diabsorpsi.
10.(Rahardjo, 2008)
11.Menurut Morison (2003) menyatakan karakteristik antiseptik yang ideal
adalah:
12.Membunuh mikroorganisme.
13.Tetap efektif terhadap berbagai macam pengenceran.
14.Non-toksik terhadap jaringan tubuh manusia.
15.Tidak mudah menimbulkan reaksi sensitivitas, baik lokal maupun sistemik.
16.Bereaksi secara cepat.
17.Bekerja secara efisien, meski terdapat bahan-bahan organik.
18.Tidak mahal.

Penggunaan Antiseptik
Tujuan penggunaan antiseptika pada kulit adalah untuk membasmi mikroorganisme
yang kebetulan berada di permukaan kulit, tetapi tidak memperbanyak diri di
tempat itu dan pada umumnya akan mati sendiri (transient flora). Penggunaan yang
lebih penting adalah untuk membasmi resident flora, yakni jasad-jasad renik yang
merupakan penghuni alamiah di kulit dan terutama terdiri dari mikrokok pathogen,
seperti Staphylococus epidermis, Corynebacteria, Propionibacteri dan kadangkadang Staphylococus aureus. Flora permanen ini terdapat pada lokasi yang lebih
dalam dan lebih sukar dihilangkan daripada flora transien (Tjay dan Rahardja,
2007).
Antiseptika dapat bersifat toksik bagi jaringan, menghambat penyembuhan luka
dan menimbulkan sensitasi. Antiseptika juga sukar mendifusi ke dalam kulit, karena
terendap oleh protein dan khasiatnya sering kali ditiadakan atau dikurangi oleh
cairan tubuh. Beberapa zat tidak tepat digunakan pada luka yang terbuka, karena
bersifat toksik dan merangsang bagi sel (Tjay dan Rahardja, 2007).

Khasiat Antiseptik
Pada umumnya desinfektansia memiliki khasiat bakterisid dengan spektrum kerja
luas, yang meliputi bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, virus dan fungi. Banyak
faktor yang mempengaruhi khasiat antiseptik, yaitu sebagai berikut:
Spektrum kerja.
Konsentrasi.
Kebersihan permukaan yang akan didesinfeksi.
Waktu exposure.
pH dan suhu.
Zat pelarut.
(Tjay dan Rahardja, 2007)

Mekanisme Kerja Antiseptik


Desinfektansia bekerja berdasarkan berbagai proses kimiawi atau fisika dengan
tujuan guna meniadakan risiko transmisi dari jasad renik. Prose-proses adalah:
Denaturasi protein mikroorganisme.

Pengendapan protein dalam protoplasma.


Oksidasi protein.
Mengganggu sistem dan proses enzim.
Modifikasi dinding sel atau membran sitoplasma.
(Tjay dan Rahardja, 2007)

Penggolongan
Desinfektansia dapat digolongkan dalam beberapa kelompok, yaitu:
Senyawa
halogen:
povidon
iod,
iodoform,
Ca-hipoklorit,
Na-hipoklorit,
tosilkloramida, klorheksidin, kliokinol, heksaklorofen, triklokarben, klorksilenol dan
triklosan.
Derivat fenol: fenol, kresol, resorsinol dan timol.
Zat-zat dengan aktivitas permukaan: cetrimida, cetylpiridinium, benzalkonium dan
dequalinium.
Senyawa alkohol, aldehid dan asam: etanol, dan isopropanol, formaldehid dan
glutaral, asam asetat dan borat.
Senyawa logam: merkuri klorida, fenil-merkunitrat dan merbromin, perak nitrat dan
silverdiazin, seng oksida.
Oksidansia: hidrogen peroksida, seng peroksida, Na-perborat, kalium permanganat
dan kalium klorat.

Lainnya: heksetidin dan heksamidin, nitrofural, belerang, ichtammon, etilenoksida,


oksikinolin (superol) dan acriflavin
(Tjay dan Rahardja, 2007)

Analisa Kuantitatif
Pengertian
Analisa kuantitatif berkaitan dengan penetapan berapa banyak suatu zat tertentu
yang terkandung dalam suatu sampel. Zat yang ditetapkan tersebut sering kali
dinyatakan sebagai konstituen atau analit, menyusun sebagian kecil atau sebagian

besar sampel yang dianalisis (Day and Underwood, 1999). Jumlah banyak sedikitnya
sampel, serta jumlah relatif konstituen penyusun sampel adalah karakteristik
penting metode analisis kuantitatif. Metode-metode ini dapat diklasifikasikan
sebagai makro, semimikro dan mikro tergantung pada banyak sedikitnya sampel.
Suatu sampel makro adalah sampel yang beratnya lebih besar dari 0,100 g,
semimikro antara 0,1000,010 g, sedangkan yang kurang dari 0,010 g adalah
sampel mikro. Umumnya, sampel antara 0,01-0,001 g disebut sampel mikro,
sedangkan yang kurang dari 0,001 g disebut sampel submikro atau sampel
ultramikro (1g= 10 ^(-6) g ) (Khopkar, 2003). Suatu zat atau analit yang
dianalisa menyusun lebih dari sekitar 1% dari sampel, maka analit ini dianggap
sebagai konstituen utama. Zat itu dianggap konstituen minor jika jumlahnya
berkisar antara 0,01% hingga 1% dari sampel dan jika zat itu kurang dari 0,01%
dianggap sebagai konstituen perunut (Day and Underwood, 1999).

Analisis Titrimetri
Istilah analisis titrimetri mengacu pada analisis kimia kuantitatif yang dilakukan
dengan menetapkan volume suatu larutan yang konsentrasinya diketahui dengan
tepat, yang diperlukan untuk bereaksi secara kuantitatif dengan larutan dari zat
yang akan ditetapkan. Larutan dengan konsentrasi yangt diketahui tepat itu,
disebut larutan standar. Bobot zat yang hendak ditetapkan, dihitung dari volume
larutan standar yang digunakan dan hukum-hukum stoikiometri yang diketahui
(Basset, 1994).
Larutan standar biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret. Proses
penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titrasi, dan zat
yang akan ditetapkan, dititrasi. Titik disaat reaksi itu tepat lengkap, disebut titik
ekuivalen (setara) atau titik-akhir teoritis (titik akhir stoikiometri). Lengkapnya
titrasi harus terdeteksi oleh suatu perubahan, yang tak akan salah dilihat oleh mata,
yang dihasilkan oleh larutan standar itu sendiri, atau lebih lazimnya lagi, oleh
penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indikator. Setelah
reaksi antara zat dan larutan standar praktis lengkap, indikator harus memberi
perubahan yang terlihat jelas (suatu perubahan warna atau pembentukan keruhan)
dalam cairan yang sedang dititrasi. Indikator dan kondisi-kondisi eksperimen harus
dipilih sedemikian, sehingga perbedaan antara titik akhir terlihat dan titik ekuivalen,
adalah sekecil mungkin (Basset, 1999).
Analisis volumetri tidak pernah digunakan lagi, tetapi sekarang telah menggunakan
analisis titrimetri, karena analisis titrimetri dianggap lebih baik dalam menunjukkan
hasil proses titrasi, sedangkan analisis volumetri dapat dikacaukan dengan
pengukuran-pengukuran volume, seperti yang melibatkan gas-gas. Reagensia
dengan konsentrasi yang diketahui itu, disebut titran dan zat yang sedang dititrasi
disebut titrand (Basset, 1999).

Syarat yang digunakan dalam analisis titrimetri, suatu reaksi harus memenuhi
kondisi-kondisi berikut:
Harus ada suatu reaksi sederhana, yang dapat dinyatakan dengan suatu persamaan
kimia, zat yang akan ditetapkan harus bereaksi lengkap dengan reagensia dalam
keseimbangan stoikiometrik atau ekuivalen.
Reaksi harus praktis berlangsung dalam sekejap dan pada beberapa keadaan,
penambahan suatu katalis akan menaikkan kecepatan reaksi itu.
Harus ada perubahan yang menyolok dalam energi bebas, yang menimbulkan
perubahan dalam beberapa sifat fisika atau kimia larutan pada titik ekuivalen.
Harus tersedia suatu indikator, yang oleh perubahan sifat-sifat fisika (warna atau
pembentukan endapan), harus dengan tajam menetapkan titik akhir titrasi.
(Basset, 1999)
Metode titrasi lazimnya dapat dipakai untuk ketelitian yang tinggi (1 bagian dalam
1000, misalnya ketelitian dalam penimbangan yang biasanya adalah 0,1-0,2 mg).
Metode-metode ini memerlukan peralatan yang lebih sederhana, dan umumnya
cepat dikerjakan, pemisahan yang menjemukkan dan sukar, sering dapat dihindari.
Instrumen yang diperlukan untuk analisis titrimetri, (1) bejana-bejana pengukur
yang dikalibrasi, termasuk buret, pipet, dan labu volumetri, (2) zat-zat dengan
kemurnian yang diketahui, untuk penyiapan larutan-larutan standar, (3) indikator
visual untuk mendeteksi lengkapnya reaksi (Basset, 1999).

Penggolongan Reaksi
Reaksi yang digunakan dalam analisis titrimetri dapat dibagi dalam dua golongan
utama:
Reaksi dalam yang mana tak terjadi perubahan keadaan oksidasi, reaksi ini
bergantung pada bersenyawanya ion-ion.
Reaksi osidasi reduksi yang melibatkan suatu keadaan oksidasi atau dengan kata
lain pemindahan elektron.
Kedua tipe reaksi ini dibagi menjadi empat golongan utama:
Reaksi penetralan, atau asidimetri dan alkalimetri. Reaksi ini melibatkan titrasi basa
bebas, atau basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam
lemah, dengan suatu asam standar (asidimetri), dan titrasi asam bebas, atau asam
yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah, dengan suatu
basa standar (alkalimetri). Reaksi-reaksi ini melibatkan bersenyawanya ion
hydrogen dan ion hidroksida untuk membentuk air.

Reasi pembentukan kompleks. Reaksi ini bergantung pada bersenyawanya ion-ion,


yang bukan ion hydrogen atau ion hidroksida, untuk membentuk suatu ion atau
senyawa yang dapat larut dan sedikit terdisosiasi, seperti pada titrasi larutan suatu
saianida dengan perak nitrat atau titrasi ion klorida dengan larutan merkurium (II)
nitrat.
Reaksi pengendapan. Reaksi bergantung pada bersenyawanya ion-ion untuk
membentuk sebuah endapan sederhana seperti pada ion perak dengan suatu
larutan klorida. Tak terjadi perubahan keadaan oksidasi.
Reaksi oksidasi-reduksi. Reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi atau
pemindahan elektron antara zat-zat yang bereaksi. Larutan standarnya adalah zat
pengoksid ataupun zat pereduksi. Zat pengoksid yang utama adalah kalium
permanganat, kalium dikromat, serium (IV) sulfat, iod, kalium iodat dan kalium
bromat. Zat pereduksi yang sering digunakan adalah senyawa besi (II) dan timah
(II), natrium tiosulfat, arsen (III) oksida, merkurium (I) nitrat, vanadium (II) klorida
atau sulfat, kromium (II) klorida atu sulfat, dan titanium (III) klorida atau sulfa.
(Basset, 1994)

Larutan Standar atau Larutan Baku


Suatu larutan standar adalah larutan yang mengandung reagensia dengan bobot
yang diketahui dalam suatu volume tertentu larutan. Konsentrasi dinyatakan dalam
molaritas (yaitu, jumlah mol per liter) dan normalitas (yaitu jumlah ekuivalen per
liter) (Basset, 1994).
Larutan baku primer berfungsi untuk membakukan atau untuk memastikan
konsentrasi larutan tertentu. Larutan baku sekunder merupakan larutan yang
kebakuannya (kepastian molaritasnya) ditetapkan langsung terhadap larutan baku
primer. larutan tersebut yang bersifat stabil dapat digunakan untuk menetapkan
konsentrasi larutan lain atau kadar suatu cuplikan (Mulyono, 2006).
Zat baku standar primer harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Zat harus mudah diperoleh, mudah dimurnikan, mudah dikeringkan (sebaiknya
pada 110^0-120^0C).
Zat tak boleh higroskopis, tak pula dioksidasi oleh udara, atau dipengaruhi oleh
karbon dioksida.
Jumlah total zat-zat pengotor, umumnya tak boleh melebihi 0,01-0,02%.
Zat harus mempunyai ekuivalen yang tinggi, sehingga sesatan kesetimbangan
dapat diabaikan.

Zat harus mudah larut pada kondisi-kondisi dalam mana ia digunakan.


Reaksi dengan larutan standar itu harus stoikiometri dan praktis sekejap.
(Basset, 1994)

Titrasi Redoks
Titrasi-titrasi redoks berdasarkan pada perpindahan elektron antara titran dengan
analit. Jenis titrasi ini biasanya menggunakan potensiometri untuk mendeteksi titik
akhir, meskipun demikian penggunaan indikator yang dapat berubah warnanya
dengan adanya kelebihan titran juga sering digunakan (Rohman, 2007).
Istilah oksidasi mengacu pada setiap perubahan kimia dimana terjadi kenaikan
bilangan oksidasi. Berarti proses oksidasi disertai dengan hilangnya elektron
sedangkan reduksi digunakan untuk setiap penurunan bilangan oksidasi. Berarti
proses oksidasi disertai dengan hilangnya elektron sedangkan reduksi memperoleh
elektron. Oksidator adalah senyawa dimana atom yang terkandung mengalami
penurunan bilangan oksidasi. Sebaliknya reduktor, atom yang terkandung
mengalami kenaikan bilangan oksidasi. Oksidasi-reduksi harus selalu berlangsung
bersama dan saling mengkompensasi satu sama lain. Istilah oksidator-reduktor
mengacu kepada suatu senyawa, tidak kepada atomnya saja. Jika suatu reagen
berperan baik sebagai reduktor dan oksidator, maka dikatakan zat tersebut
mengalami autooksidasi atau disproporsionasi (Khopkar, 2003).
Titrasi yang melibatkan iodium dapat dilakukan dengan dua cara yaitu titrasi
langsung (iodimetri) dan titrasi tidak langsung (iodometri) (Rohman, 2007). Metode
titrasi iodium langsung (iodimetri) mengacu kepada titrasi dengan suatu larutan iod
standar. Metode titrasi iodium tak langsung (iodometri) adalah berkenaan dengan
titrasi dari iod yang dibebaskan dalam reaksi kimia (Bassett, 1994).

Titrasi Iodometri
Iodometri merupakan titrasi tidak langsung dan digunakan untuk menetapkan
senyawa-senyawa yang mempunyai potensial oksidasi yang lebih besar daripada
sistem iodium iodida atau senyawa-senyawa yang bersifat oksidator (Rohman,
2007).
Larutan standar yang sering digunakan dalam titrasi iodometri adalah natrium
thiosulfat. Garam ini biasanya berbentuk sebagai pentahidrat Na2S2O3.5H2O.
Larutan natrium thiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama (Day & Underwood,
1981). Larutan tiosulfat distandarisasi terlebih dahulu terhadap Kalium bikromat
(K2Cr2O7). Sampel pada titrasi iodometri bersifat oksidator yang direduksi dengan

kalium iodida berlebihan dan akan menghasilkan iodium yang selanjutnya dititrasi
dengan larutan baku natrium tiosulfat. Banyaknya volume natrium tiosulfat yang
digunakan sebagai titran setara dengan iodium yang dihasilkan dan setara dengan
banyaknya sampel (Rohman, 2007).
Suatu larutan dari iod dalam larutan iodida, berwarna kuning sampai coklat kuat.
Satu tetes larutan iod 0,1 N menimbulkan warna kuning pucat yang terlihat pada
100 cm3 air, sehingga iod dapat berfungsi sebagai indikator sendiri, tetapi pada
titrasi iodometri biasanya menggunakan penambahan indikator kanji/amilum. Iodida
pada konsentrasi <10-5 M dapat dengan mudah ditekan oleh amilum. Sensitivitas
warnanya tergantung pada pelarut yang digunakan. Kompleks iodium-amilum
mempunyai kelarutan kecil dalam air sehingga biasanya indikator kanji
ditambahkan pada titik akhir reaksi (Khopkar, 2003). Kanji tidak boleh ditambahkan
sebelum tepat titik akhir dicapai, karena pada faktanya warna iod yang memudar
merupakan tanda mendekati titik akhir titrasi, tetapi jika kanji ditambahkan ketika
konsentrasi iod tinggi, sedikit iod mungkin akan terabsorpsi ke dalam bahan pada
titik akhir sekalipun. Kanji bereaksi dengan iod, dengan adanya iodida, membentuk
suatu kompleks yang berwarna biru kuat, yang akan terlihat pada konsentrasikonsentrasi iod sangat rendah. Titik akhir titrasi akan dicapai setelah penambahan
larutan natrium tiosulfat, yaitu apabila larutan sampel mulai menjadi tidak berwarna
(Basset, 1994). Keunggulan indikator kanji adalah: Harga murah. Mudah didapat.
Mudah dibuat. Keburukan-keburukan indikator kanji adalah sebagai berikut: Bersifat
tak dapat larut dalam air dingin. Ketidak-stabilan suspensinya dalam air. Dengan iod
memberi suatu kompleks yang tak dapat larut dalam air. Kadang-kadang terdapat
titik akhir yang hanyut yang menyolok bila larutan encer. Dua sumber sesatan yang
penting dalam titrasi yang melibatkan iod adalah kehilangan iod yang disebakan
oleh sifatnya yang mudah menguapmya dan larutan Iodida yang asam dioksidasi
oleh oksigen dari udara (Basset, 1994).

BAB III
PEMBAHASAN
3.1. Desain Penelitian
Jenis penelitian bersifat eksperimental untuk mengetahui kadar povidon iodine dari
sediaan obat luka cair dengan metode iodometri.
3.2. Waktu dan Tempat
3.2.1. Waktu Penelitian ini direncanakan akan dilakukan pada bulan Maret 2012.
3.2.2. Tempat Penelitian ini direncanakan akan dilakukan di Laboratorium Jurusan
Farmasi Poltekkes Kemenkes Aceh.
3.3. Alat dan Bahan
3.3.1. Alat Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini adalah corong, beaker glass,
gelas arloji, timbangan digital, gelas ukur, labu takar, labu erlenmeyer, pipet tetes,
pipet volume, ball pipet, buret, batang pengaduk, spatula, statif, dan klem buret.
3.3.2. Bahan Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah larutan
povidon iodine, aquadest, natrium tiosulfat, natrium bikarbonat, kalium bikromat,
kalium iodida, asam klorida, dan larutan kanji.
3.4 Cara Kerja Penelitian Pembuatan Reagensia Pembuatan air bebas
karbondioksida 1000 mL. Dimasukkan aquadest sebanyak 1000 mL ke dalam labu
erlenmeyer. Dipanaskan sampai mendidih, kemudian tutup labu erlenmeyer dengan
kapas. Dibiarkam mendidih selama 15 menit. Didiamkan sampai dingin. (Depkes,
1979) Pembuatan larutan natrium tiosulfat 0,1 N 1000 mL Ditimbang 26 g natrium
tiosulfat P. Dicampurkan dengan 200 mg natrium bikarbonat. Dilarutkan dalam air
bebas karbondioksida sampai 1000 mL. Dikocok sampai larut. (Depkes, 1979)
Pembuatan larutan kanji P 100 mL Ditimbang 500 mg pati P. Digerus dengan 5 mL
air sampai larut. Ditambahkan dengan air sedikit demi sedikit hingga 100 mL sambil
terus diaduk sampai larut. Dididihkan selama beberapa menit. Didiamkan sampai
dingin. Disaring. (Depkes, 1979)
3.4.2 Pembakuan larutan baku natrium tiosulfat 0,1 N Ditimbang seksama 210 mg
kalium bikromat P yang sebelumnya telah dikeringkan pada suhu 120^0C
selama 4 jam. Dilarutkan dalam 100 mL air dalam labu erlenmeyer dan ditutup
dengan plastik serta dikocok sampai larut. Ditambahkan dengan 3 g kalium iodida
P, dikocok sampai larut. Ditambahkan dengan 2 g natrium bikarbonat P, dikocok

sampai larut. Ditambahkan dengan 5 mL asam klorida P, dikocok sampai larut. Labu
ditutup kembali, didiamkan selama 10 menit. Dititrasi dengan larutan natrium
tiosulfat 0,1 N sampai terbentuk warna kuning tipis. Ditambahkan indikator kanji LP.
Titrasi dilanjutkan sampai perubahan warna dari warna biru menjadi bening. Hitung
normalitas larutan: 1 mL natrium tiosulfat 0,1 N setara dengan 4,903 mg kalium
bikromat Rumus: Normalitas = (Penimbangan Normalitas sebenarnya)/
(Kesetaraan Volume titrasi) (Depkes, 1979) Penetapan kadar larutan povidon
iodine Dipipet sebanyak 5 mL larutan sampel, dimasukkan ke dalam labu
erlenmeyer. Ditambahkan 200 mL air, diaduk sampai larut. Dititrasi dengan natrium
tiosulfat 0,1 N sampai terbentuk warna kuning tipis. Ditambahkan indikator kanji P
sebanyak 3 mL pada waktu mendekati titik akhir. Titrasi kembali dengan natrium
tiosulfat hingga terjadi perubahan warna dari warna biru menjadi bening. Hitung
penetapan kadar: 1 mL natrium tiosulfat 0,1 N setara dengan 12,69 mg I Rumus:
Kadar = (Volume Normalitas Kesetaraan)/(Penimbangan Konsentrasi) x 100%
(Depkes, 1979) Analisa Data Analisa data menggunakan uji laboratorium yang
dilakukan dengan 3 kali pengulangan, agar memperoleh hasil yang akurat.
Penyajian Data Data diolah manual disajikan secara tabular dan tekstular. Tabel 1.
Data hasil Pembakuan No. Penimbangan Volume Normalitas Normalitas Rata-rata
Tabel 2. Data hasil penetapan kadar No. Sampel Pengulangan Jumlah Rata-rata 1 2 3
1. Betadine 2. Povidin solution 3. Povidon iodine Generik

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Saran