Anda di halaman 1dari 5

Jawaban Ujian Tengah Semester

Komunikasi Sosial Dan Pembangunan Tahun 2009

Dosen : Rachmat Baihaky, MA

1. Menurut Analisa Saya dalam melihat permasalahan pemberdayaan

teknologi komunikasi di Negara-negara dunia ketiga adalah dari

catatan sejarah dapat kita lihat dan pelajari bahwa setiap kemajuan

teknologi akan membawa pengaruh yang dominan bagi perkembangan

masyarakat. Perkembangan teknologi ini selalu membawa pengaruh di

bidang ekonomi, politik sosial dan militer. Oleh karena itu,

perkembangan teknologi terutama di bidang komunikasi perlu dipelajari

dan dicari jalan ke luar yang tepat bagi kehidupan umat manusia.

Bagi negara-negara dunia ketiga, perlu lebih cermat dalam

menanggapi perkembangan teknologi informasi. Sebab tanpa

pengamatan yang cermat maka kemajuan teknologi informasi ini dapat

berakibat timbulnya jurang perbedaan yang semakin melebar dan

berlanjut pada timbulnya perpecahan.

Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi di negara-

negara maju maupun di negara berkembang dapat menjadi dilema.

Oleh karena hal ini dapat mengganggu pola-pola pembangunan dan

mempengaruhi lingkungan sosio-kultural. Sulit untuk menyangkal

masuknya revolusi informasi yang dengan cepat masuk di segala

bidang.

Kendala terberat yang dihadapi terutama oleh negara-negara

berkembang adalah tenaga kerja. Dengan masuknya revolusi informasi


maka lapangan kerja bagi penduduk semakin sempit. Timbul

pengangguran di mana-mana. Hal ini tentu saja akan berpengaruh di

bidang-bidang yang lain.

Menurut Nasution (2000), Revolusi komunikasi dan informasi

yang melanda dunia membawa implikasi positif dan negatif. Implikasi

ini pada gilirannya akan berakibat atau berdampak pada bidang sosial,

ekonomi, dan politik.

1. Dalam bidang politik, perkembangan teknologi komunikasi

mempercepat proses integrasi nasional. Implikasi yang perlu

disadari adalah adanya pengaruh komunikasi dan informasi dunia

yang melanda generasi muda.

2. Dalam bidang ekonomi, perkembangan teknologi komunikasi telah

mendorong pertumbuhan ekonomi yang pesat di samping

dampak yang positif dan negatif.

3. Dalam bidang sosial, perkembangan teknologi komunikasi telah

mendorong lahirnya kembali nasionalisme kebudayaan.

Namun, dari kesemuanya ini implikasi yang tidak positif juga

muncul dari kemajuan teknologi komunikasi di masyarakat. Dan

kesemuanya harus dikendalikan agar tidak semakin meluas dan

menghancurkan norma-norma budaya bangsa.

Kemudian Sutadi (2008) menjelaskan beberapa solusi

pembangunan yang harus dilaksanakan oleh negara-negara dunia

ketiga adalah :

 Teknologi informasi harus dimanfaatkan secara maksimal untuk

melakukan analisis, networking dan koordinasi.


 Diakui atau tidak, teknologi informasi banyak berperan

memungkinkan terciptanya pemerintahan yang transparan, anti

KKN dan lebih dekat dengan rakyatnya.

 Pemerintah dapat memainkan peranan penting dalam

menentukan pemanfaatan dan perkembangan teknologi

informasi.

 Teknologi informasi diharapkan berperan besar dalam

pembangunan demokrasi bangsa disebabkan karena biaya

implementasi yang murah, penyajian informasi yang cepat,

jangkauan yang luas serta bebas sensor yang memungkinkan

informasi yang diterima bersifat transparan.

 Pemanfaatan teknologi informasi ini perlu dilihat apakah hal ini

juga dapat membawa perbaikan di lain bidang seperti moral,

kebudayaan dan kehidupan keagamaan.


2. Jika Jakarta dianalogikan sebagai negara maju sedangkan daerah-

daerah tertinggal sebagai negara ketiga menurut Wijayanto (2009)

Jika di lihat dari aspek kesamaannya adalah penerapan paradigma

pembangunan yang mempunyai karakter: vertical top-down (pola

pembangunan ditransferkan begitu saja dari negara donor kepada

negara penerima bantuan), bertumpu pada investasi modal asing, dan

dijalankan sesuai dengan program dan rencana proyek negara-negara

maju, dan diterapkannya teori trickle-down effect atau efek tetesan ke

bawah, yang asumsinya: manfaat program-program intervensi sosial di

negara-negara Dunia Ketiga akan menetes ke bawah kepada setiap

orang, mulai dari mereka yang berada dalam kelompok-kelompok

sosial ekonomi paling atas yang pertama-tama mengakses pesan-

pesan kemajuan atas dukungan kemampuan ekonomi mereka, dan

selanjutnya diteruskan kepada mereka yang berada dalam kelompok-

kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah (Jahi, 1993:75; Nasution,

1988). Sehingga daerah-daerah tertinggal di Indonesia masih sangat

bergantung dengan daerah sentral seperti Jakarta.

Untuk Membangun masyarakat ” modern ” bagi masyarakat

tertinggal di indonesia, selanjutnya menurut Wijayanto (2009) pada

tahun 1976 Everett M. Rogers memproklamasikan usangnya

Paradigma Lama Komunikasi Pembangunan, yang segera disusul

pemunculan tesis-tesis baru tentang perombakan komunikasi

pembangunan. Untuk itu dibutuhkan strategi pembangunan yang lebih

mandiri dan adil bagi masyarakat lapisan bawah secara

terdesentralisasi yang sama sekali berbeda dengan model “top-down”


(Oepen, 1988:2). Seirama dengan itu, pemikir pembangunan

Indonesia, Soedjatmoko (1987), menyatakan bahwa yang seharusnya

menjadi prioritas perhatian dalam penyusunan kebijakan

pembangunan sebagai kasus untuk Negara dalam hal ini Indonesia

adalah kemampuan untuk berkembang baik secara sosial, ekonomis

maupun politis, di semua tingkat dan dalam semua komponen

masyarakat, sehingga memungkinkan bangsa yang bersangkutan

untuk mengurangi kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan, lalu

“survive” di tengah-tengah dunia yang tidak stabil, rumit dan makin

tunduk pada persaingan. Pembangunan harus tidak sebagai sesuatu

yang diperbuat lewat kegiatan dan ketrampilan yang diperoleh

melainkan sebagai sesuatu yang berlangsung sebagai proses belajar.

Maka dimulailah era paradigma baru komunikasi dalam pembangunan

di Indonesia, yang lebih berciri partisipatif-horisontal.