Anda di halaman 1dari 40

Case Report

Deny Isaria Sitinjak (0761050163)


Ana Hendriana (0861050107)
Samuel Panjaitan (0861050120)
Meilisa Italin Hutasoit
(0861050125)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi
Universitas Kristen Indonesia 2013

BLOCK PLEXUS
BRACHIALIS

Deny Isaria Sitinjak 07-163


Samuel Panjaitan 08-120

PENDAHULUAN
Sekarang ini banyak jenis jenis operasi
yang bisa dilakukan dengan anestesi regional
dengan berbagai pertimbangan yang lebih
menguntungkan.
Anestesi
Regional
merupakan penggunaan obat analgetik lokal
untuk menghambat hantaran saraf sensorik,
sehingga impuls nyeri dari suatu bagian tubuh
diblokir untuk sementara (reversible), fungsi
motorik dapat terpengaruh sebagian atau
seluruhnya dan dalam keadaan penderita
tetap sadar.

TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Plexus Brachialis

Intersclene
block

Axillary block

Pembagian
Block
Plexus
Brachialis

Infraclavicular
block

Supraclavicula
r block

Interscalene Block
Indikasi

Pembedahan pada bahu atau daerah


sekitar bahu. blok terjadi pada trunkus
anterior dan medialis.

Teknik

Obat yang digunakan


Onset

Anesthesia

(min)

(hrs)

5-10

1.5

2.0

10-20

2-3

2-4

5-15

2.5-4

3-6

10-20

2.5-3

2-5

5-15

3-6

5-8

0.5% Ropivacaine

15-20

6-8

8-12

0.75% Ropivacaine

5-15

8-10

12-18

0.5% Bupivacaine (+ epi)

20-30

8-10

16-18

3% 2-Chloroprocaine (+HCO3 +
epinephrine)
1.5% Mepivacaine (+HCO3)
1.5% Mepivacaine (+HCO3 +
epinephrine)
2% Lidocaine (+ HCO3)
2% Lidocaine (+ HCO3 +
epinephrine)

Analgesia (hrs)

Komplikasi
Hematoma
Infection
Vascular puncture
Nerve Injury
Horners syndrome
Diafragmic
paralysis

Supraclavicular Block
Indikasi

Pembedahan pada siku, lengan bawah


dan tangan. Blok terjadi pada daerah
trunkus distal proksimal.

Teknik

Komplikasi
Blok ini biasanya susah dilakukan pada
pasien yang menderita obesitas, namun
jarang
ditemui
komplikasi.
Kejadian
pneumotoraks pasca pemasangan blok
sangat jarang ditemui, 0.5-6% dan semakin
berkurang
dengan
bertambahnya
pengalaman dari ahli anestesi.

Infraclavicular Block
Indikasi

Memberikan efek anestesi pada daerah


lengan dan tangan. Anestesi terjadi pada
daerah
kordis
dan
mempunyai
keuntungan untuk menghindari terjadinya
pneumothoraks,
dan
disaat
yang
bersamaan memberikan blokade pada
musculocutaneus dan nervus aksilaris.

Teknik

Komplikasi
Komplikasi yang sering ditemukan
adalah kesulitan yang terjadi karena tidak
teraba nya vaskular. Salahnya arah dalam
memasukkan jarum bisa menimbulkan
pneumotoraks. Infeksi dan hematoma
juga dapat timbul.

Axillary Block
Indikasi

Paling sering digunakan, karena mudah, dapat


diandalkan dan aman. Blokade terjadi didaerah
nervus terminal. Untuk pembedahan didaerah
siku, lengan bawah dan tangan.

Teknik

Obat yang digunakan


Onset
(min)

Anesthesia
(hrs)

Analgesia (hrs)

1.5% Mepivacaine (+ HCO3; +


epinephrine)

5-15

2.5-4

3-6

2% Lidocaine (+ HCO3 +
epinephrine)

5-15

3-6

5-8

0.5% Ropivacaine

15-20

6-8

8-12

Komplikasi

Infection

Hematoma

Vascular
puncture

Nerve
injury

Hipoglikemia Durante Op
Ana Hendriana
(0861050107)
Meilisa Italin Hutasoit
(0861050125)
Kepaniteraan Klinik Ilmu Anestesi
Universitas Kristen Indonesia 2013

Hipoglikemia
Hipoglikemia

adalah kadar glukosa


darah yang rendah ( GDS < 80 mg/dL)
Hipoglikemia durante op adalah suatu
penurunan abnormal kadar gula darah atau
kondisi ketidaknormalan kadar glukosa
serum yang rendah selama operasi.

Etiologi
a)

Dosis insulin yang berlebihan


b) Penderita mendapat insulin dan puasa
pada saat pre op
c) Penderita dengan insufisiensi ginjal
atau gagal ginjal yang mendapat obat
hipoglikemi oral seperti sulfonyl urea
d) Penderita usia lanjut terutama yang
mendapat obat hipoglikemia oral kerja
lama seperti klorpropamide
e) Penderita dengan penyakit hati kronis

o
l
io

s
f
o
t
a
gi
P

Gejala dan tanda hipoglikemia

Pada umumnya disebabkan oleh 2 hal, yaitu gejala


karena berkurangnya asupan glukosa oleh otak,
dan gejala karena pelepasan epinefrin.

Gejala-gejala tersebut ialah :


I. Gejala hipoglikemia pada sistem saraf otonom :
Banyak berkeringat, walau dalam udara dingin
Rasa lapar
Parestesia pada bibir dan jari-jari
Pucat
Palpitasi
Tremor halus

Gejala dan tanda hipoglikemia


II. Gejala hipoglikemik pada sistem saraf pusat:
Penglihatan kabur dan diplopia
Sakit kepala
Gerakan-gerakan yang bersifat spastik, terutapa pada tungkai
bawah
Reaksi yang lambat, seperti ketika berkendara atau mengikuti
kegiatan atketik
Sering menguap
III. Perubahan psikis karena hipoglikemia:
Depresi dan irritable
Rasa ngantuk pada jam-jam bangun tetapi tidak dapat tidur
pada saat tidur
Ketidak mampuan berkonsentrasidalam memecahkan masalah
IV. Gejala hipoglikemik pada sistem muskular:
Rasa lelah dan mudah capai pada kegiatan fisik

Klasifkasi

Glukometer

Penatalaksanaan

Case Report
IDENTITAS
Nama: Ny. R
Umur : 65 th
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Kristen
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status
: Menikah
KELUHAN UTAMA : Rasa sedikit tebal
pada jari tengah, telunjuk, dan ibu jari
tangan kanan.

Case Report
RIWAYAT PENYAKIT :
Pasien mengeluh kesemutan di telapak tangan kanan dan kiri
yang dirasakan sejak 1 bulan yang lalu dan lebih terasa pada
tangan kiri. Kesemutan terutama dirasakan pada sisi dalam jari
tengah,telunjuk, dan ibu jari. Kesemutan bersifat hilang timbul
dan dirasakan terutama pada malam hari dan berkurang bila
dikebas-kebaskan.
Pasien mengeluh rasa sedikit tebal pada jari tengah, telunjuk,
dan ibu jari. Keluhan muncul bersamaan dengan rasa
kesemutan. Pasien juga mengaku terdapat nyeri di pergelangan
tangan yang tidak menjalar. Nyeri dirasakan 3 hari yang lalu.
Nyeri berkurang bila pergelangan tangan dipijat atau dikibaskibaskan. Pasien tidak pernah memeriksakan keluhan tersebut
sebelumnya. Oleh pasien tangan yang sakit masih tetap
digunakan untuk melakukan aktifitas sehari - hari.

Pasien menyangkal riwayat bengkak dan


panas di pergelangan tangan. Pasien juga
menyangkal riwayat jatuh menumpu pada
tangan. Pasien juga menyangkal kebiasaan
tidur menumpu pada pergelangan tangan.
Pasien menyangkal riwayat kelemahan anggota
gerak. Pasien menyangkal riwayat kesulitan
dalam memegang botol atau benda-benda
berbentuk sejenis.

Case Report
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :
Riwayat Diabetes (+), sejak 10 tahun
yang lalu terkontrol dengan insulin
Riwayat Hipertensi disangkal
Riwayat Asma disangkal
Riwayat Alergi disangkal
Riwayat trauma disangkal
RIWAYAT
Riwayat
Riwayat
Riwayat
Riwayat

PENYAKIT KELUARGA :
Diabetes (+) ayah pasien
Hipertensi disangkal
asma disangkal
Alergi disangkal

Case Report
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan

umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran
: Compos mentis
Tekanan darah
: 130/80 mmHg
Nadi
: 74x/menit
RR
: 20 x/menit
Suhu
: 36,5 C
Berat Badan
: 55kg
Tinggi badan
: 150 cm
Pemakaian gigi palsu
: Disangkal

Case Report
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Hemoglobin

: 15,4 g/dl
Hematokrit : 45,2 %
Leukosit : 6,9 rb/uL
Trombosit : 265.000
Laju Endap Darah : 20 mm/jam
Eritrosit : 4,88 jt/ml
Masa perdarahan : 1,30 menit
Masa pembekuan : 14 menit
Natrium : 144 mmol/L
Kalium : 4,6 mmol/L
Chlorida : 105 mmol/L
GDP : 101 mg/dl
GDS : 65 mg/dl
ASA 3
Terapi Pre-anestesi : Puasa 6 jam pre-operatif
Infus : RL II D5 I

Case Report
INTRAOPERATIF
Tindakan Operasi : Pembebasan nervus medianus sinistra
Jenis Anestesi : Regional Anestesi
Teknik Anestesi
: Plexus Brachialis Block (Axillary Block)
Posisi : Supine
Anestesi dengan : 0,75 % ropivacaine
Respirasi
: Spontan dengan O2 3lpm
Keseimbangan cairan
:
input : - pre op : D5 : 300ml
- durante op : D5 I : 200 ml
Durante op: TD : 70/40mmHG
Nadi : 130 kali/menit
Respirasi : 16 kali/menit
Delirium
cek GDS : 30 mg/dl
- D40 bolus 20 ml
- D5 : 200ml
Perdarahan 5 ml
Tekanan Darah : - Pasien masuk dengan tekanan darah 150/80 mmHg
- Setelah induksi, tekanan darah berkisar 120/70 mmHg hingga operasi
Denyut Jantung : 90 kali/menit
RR : 16 kali/menit

Case Report
POST OPERATIF
Pasien masuk ruang pemulihan
Observasi tanda- tanda vital dalam batas normal
SpO2 : 100 %
Kesadaran: compos mentis
TD : 140/90 mmHg
Nadi : 82x/min
Periksa gula darah sewaktu GDS : 115 mg/dl
Bila kesakitan injeksi ketorolac 30 mg IV
Bila mual dan muntah injeksi ondansetron 4mg iv
Antibiotika dan obat-obatan lain sesuai dengan dokter
bedah
Infus RL II : D5 I