Anda di halaman 1dari 5

Konfirmasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu konfirmasi positif dan

konfirmasinegatif.
Pada konfirmasi positif auditor mengirimkan surat yang isinya
memintatanggapan kepada pihak ketiga terkait, pihak yang dimintakan
konfirmasi tersebutdiharuskan menjawab (membalas) apakah setuju atau
tidak dengan jumlah yangtercantum dalam surat yang dikirimkan auditor.
Konfirmasi positif biasanyadigunakan dalam keadaan:
1.
saldo utang/piutang klien per pelanggan/kreditur relatif besar
2.
jumlah pelanggan/kreditur sedikit
3.
pengendalian intern klien (agak)lemah
4.
waktu audit cukup panjang.
Sedangkan pada konfirmasi negatif, surat yang dikirimkan auditor
hanyadibalas pihak yang dimintakan konfirmasi apabila jumlah yang
tercantum dalamsurat yang dikirimkan auditor tersebut tidak disetujui oleh
pihak ketiga tersebut. Apabila pihak ketiga setuju dengan jumlah yang
tercantum dalam surat yangdikirimkan auditor, maka pihak ketiga tersebut
tidak perlu membalas surat yangdikirimkan tersebut. Biasanya dalam
konfirmasi negatif, surat yang dikirimkan auditor diberi batas waktu. Jika
pihak terkait yang dikirimi surat tidak memberikan jawabanatas konfirmasi
tersebut sampai pada waktu yang ditetapkan maka pihak yangdimintakan
konfirmasi tersebut dianggap setuju.
Konfirmasi negatif umumnyadigunakan auditor apabila :
1.
saldo utang/piutang klien per pelanggan/kreditur relatif kecil
2.
jumlah pelanggan/kreditur banyak
3.
pengendalian intern klien (cukup)kuat
4.
waktu audit cukup singkat.
VOUCHING DAN TRACING
A.Vouching
Vouching adalah kegiatan yang dilakukan untuk memeriksa kebenaran
ataukeabsahan suatu bukti yang mendukung transaksi. Kegiatan ini meliputi
memilihcatatan yang ada pada catatan akuntansi serta memperoleh dan
menyelidikidokumen yang mendasari catatan tersebut untuk menentukan
keabsahan danketelitian transaksi yang dicatat. Dengan vouching , arah
pengujian berlawanandengan tracing. Penelusuran dimulai dari catatan ke
dolumen.
Vouching digunakan untuk mendeteksi apakah catatan akuntansi
klienketinggian (overstatement). Selain itu, vouching juga digunakan untuk
menguji asersimanajemen mengenai keberadaan (existence), penilaian
(valuation), hak dankewajiban (rights and obilgation), penyajian dan
pengungkapan (presentation and disclosure). Namun, vouching juga
memiliki kelemahan. Pengujian asersi mengenaikelengkapan

( completeness) melalui vouching lebih sulit dilakukan karena


pengujiankelengkapan mengharuskan auditor untuk mencari bukti item yang
tidak tercatat.
Verifikasi adalah sebuah istilah yang digunakan dalam arti umum untuk
memeriksa ketelitian perkalian, penjumlahan pembukuan, kepemilikan,
dankeberadaannya.
Adapun tujuan dari vouching dan verifikasi untuk memastikanbahwa:
1.
Bukti tersebut telah disetujui oleh pejabat yang berwenang dan terkait
2.
Bukti tersebut dari sesuai dengan tujuannya
3.
Jumlah yang tertera di dalam bukti adalah benar dan sesuai
dengantransaksi
4.
Pencatatan dilakukan secara benar
5.
Kepemilikan dan keberadaannya sah
B.Tracing
Tracing adalah suatu kegiatan yang merupakan kebalikan dari vouching.
Arah kegiatan tracing adalah mengikuti dokumen sumber hingga ke
pencatatannyadalam catatan akuntansi. Adapun pelaksanaan dari tracing
adalah dengan pertama-tama auditor melakukan penyeleksian dokumen
sumber, seperti faktur penjualanatau laporan pengiriman, kemudian auditor
melakukan penelusuran dokumensumber tersebut melalui sistem akuntansi
ke pencatatan akhir dalam catatanakuntansi, seperti jurnal dan buku besar.
Karena arah pengujian tracing berlawanan dengan vouching, tracing dapat
digunakan untuk menguji asersi manajemen mengenai kelengkapan
(completeness).Tracing juga dapat digunakan auditor untuk menguji asersi
manajemen mengenaipenilaian (valuation) serta penyajian dan
pengungkapan ( presentation and disclosure).
ASERSI
Keberadaan atau keterjadian (existence or occurrence).
Kelengkapan (completeness).
Hak dan kewajiban (right and obligation).
Penilaian (valuation) atau alokasi.
Penyajian dan pengungkapan (presentation and disclosure)
01 Asersi tentang keberadaan atau keterjadian berhubungan dengan apakah
aktiva atau utang entitas ada pada tanggal tertentu dan apakah transaksi
yang dicatat telah terjadi selama periode tertentu. Sebagai contoh,
manajemen membuat asersi bahwa sediaan produk jadi yang tercantum
dalam neraca adalah tersedia untuk dijual. Begitu pula, manajemen
membuat asersi bahwa penjualan dalam laporan laba-rugi menunjukkan
pertukaran barang atau jasa dengan kas atau aktiva bentuk lain (misalnya
piutang) dengan pelanggan.

02 Asersi tentang kelengkapan berhubungan dengan apakah semua


transaksi dan akun yang seharusnya disajikan dalam laporan keuangan telah
dicantumkan di dalamnya. Sebagai contoh, manajemen membuat asersi
bahwa seluruh pembelian barang dan jasa dicatat dan dicantumkan dalam
laporan keuangan. Demikian pula, manajemen membuat asersi bahwa utang
usaha di neraca telah mencakup semua kewajiban entitas.
03 Asersi tentang hak dan kewajiban berhubungan dengan apakah aktiva
merupakan hak entitas dan utang merupakan kewajiban perusahaan pada
tanggal tertentu. Sebagai contoh manajemen membuat asersi bahwa jumlah
sewa guna usaha (leased) yang dikapitalisasi dineraca mencerminkan nilai
pemerolehan hak entitas atas kekayaan yang disewa-guna-usahakan
(leased) dan utang sewa guna usaha yang bersangkutan mencerminkan
suatu kewajiban entitas.
04 Asersi tentang penilaian atau alokasi berhubungan dengan apakah
komponen- komponen aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya sudah
dicantumkan dalam laporan keuangan pada jumlah yang semestinya.
Sebagai contoh, manajemen membuat asersi bahwa aktiva tetap dicatat
berdasarkan harga pemerolehannya dan pemerolehan semacam itu secara
sistematik dialokasikan ke dalam periode-periode akuntansi yang
semestinya. Demikian pula manajemen membuat asersi bahwa piutang
usaha yang tercantum di neraca dinyatakan berdasarkan nilai bersih yang
dapat direalisasikan.
05 Asersi tentang penyajian dan pengungkapan berhubungan dengan
apakah komponen-komponen tertentu laporan keuangan diklasifikasikan,
dijelaskan, dan diungkapkan semestinya. Misalnya, manajemen membuat
asersi bahwa kewajiban-kewajiban yang diklasifikasikan sebagai utang
jangka panjang di neraca tidak akan jatuh tempo dalam waktu satu tahun.
Demikian pula, manajemen membuat asersi bahwa jumlah yang disajikan
sebagai pos luar biasa dalam laporan laba-rugi diklasifikasikan dan
diungkapkan semestinya.
Opini audit
a. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian (Unqualified Opinion)
Dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, auditor menyatakan bahwa
laporan keuanganmenyajikan secara wajar dalam semua hal yang material
sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia.Laporan audit
dengan pendapat wajar tanpa pengecualian diterbitkan oleh auditor
jikakondisi berikut ini terpenuhi :1. Semua laporan neraca, laporan laba-rugi,
laporan perubahan ekuitas, dan laporan aruskas terdapat dalam laporan
keuangan.2. Dalam pelaksanaan perikatan, seluruh standar umum dapat
dipenuhi oleh auditor.3. Bukti cukup dapat dikumpulkan oleh auditor, dan

auditor telah melaksanakan perikatan sedemikian rupa sehingga


memungkinkan untuk melaksanakan tiga standar pekerjaan lapangan.4.
Laporan keuangan disajikan sesuai dengan prinsip akuntansi berterima
umum diIndonesia.5. Tidak ada keadaan yang mengharuskan auditor untuk
menambah paragraf penjelasatau modifikasi kata-kata dalam laporan audit.
b. Pendapat Wajar Tanpa Pengecualian dengan Bahasa Penjelas
(UnqualifiedOpinion with Explanatory Language)
Dalam keadaan tertentu, auditor menambahkan suatu paragraf penjelas
(atau bahasa penjelas yang lain) dalam laporan audit, meskipun tidak
mempengaruhi pendapat wajar tanpa pengecualian atas laporan keuangan
keuangan auditan. Paragraf penjelasdicantumkan setelah paragraf
pendapat.Keadaan yang menjadi penyebab utama ditambahkannya suatu
paragraf penjelas ataumodifikasi kata-kata dalam laporan audit baku
adalah:1. Ketidakkonsistenan penerapan prinsip akuntansi berterima
umum.2. Keraguan besar tentang kelangsungan hidup entitas.3. Auditor
setuju dengan suatu penyimpangan dari prinsip akuntansi yang
dikeluarkanoleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan.4. Penekanan atas
suatu hal5. Laporan audit yang melibatkan auditor lain.
c. Pendapat Wajar dengan Pengecualian (Qualified Opinion)
Pendapat wajar dengan pengecualian diberikan apabila auditee menyajikan
secara wajar laporan keuangan, dalam semua hal yang material sesuai
dengan prinsip akuntansi berterima umum di Indonesia, kecuali untuk
dampak hal-hal yang dikecualikan.Pendapat wajar dengan pengecualian
dinyatakan dalam keadaan :1. Tidak adanya bukti kompeten yang cukup
atau adanya pembatasan terhadap lingkupaudit.2. Auditor yakin bahwa
laporan keuangan berisi penyimpangan dari prinsip akuntansi berterima
umum di Indonesia, yang berdampak material, dan ia berkesimpulan
untuk tidak menyatakan pendapat tidak wajar.
d. Pendapat Tidak Wajar (Adverse Opinion)
Pendapat tidak wajar diberikan oleh auditor apabila laporan keuangan
auditee tidak menyajikan secara wajar laporan keuangan sesuai dengan
prinsip akuntansi berterimaumum.
e. Tidak Memberikan Pendapat (Disclaimer of Opinion)
Auditor menyatakan tidak memberikan pendapat jika ia tidak melaksanakan
audit yangauditor memberikan pendapat atas laporan keuangan. Pendapat
ini juga diberikan apabilaia dalam kondisi tidak independen dalam
hubungannya dengan klien

Biaya dan beban


Letak perbedaan biaya dan beban tampak dalam penyusunan laporan
keuangan. Beban akan masuk ke dalam penyusunan laporan laba-rugi,
dimana termasuk pengeluaran yang sudah terpakai, tak memberi manfaat
dimasa depan dan periodenya kurang dari satu tahun. Jumlah rupiah yang
harus dikeluarkan tidak begitu besar, bahkan relatif kecil bila dibandingkan
biaya.
Salah satu contoh beban, toko mebel harus membayar bunga pinjaman uang
di bank BCA. Toko wajib melakukannya karena telah menerima manfaat
peminjaman uang dari bank yang masuk sebagai aktiva. Akan tetapi,
pembayaran bunga pinjaman tidak ada sangkut pautnya dalam penambahan
aktiva, sehingga masuk ke dalam pengeluaran atau kewajiban.
Letak di Laporan Keuangan :
Biaya, di neraca (Belum terpakai, biaya-biaya yang dianggap akan memberi
manfaat dimasa yang akan datang, berupa aktiva) Misal : Sewa Dibayar
Dimuka
Beban, di laporan laba-rugi (Pengeluaran/Biaya yang telah terpakai dan tidak
dapat memberikan manfaat lagi dimasa yang akan datang) Misal : Beban
Sewa
Periode Akuntansi :
Biaya periodenya lebih dari satu tahun, merupakan pengeluaran
modal (capital expenditure)
Beban periodenya kurang dari satu tahun, merupakan pengeluaran
pendapatan (revenue expenditure)
Kasus : Pada awal bulan tanggal 2 Januari 2009, PT. ABC membayar uang
sewa kantor sebesar Rp. 800.000 untuk dua bulan dimuka.
Pengeluaran (cost) ini merupakan suatu "aktiva" yang berupa "hak untuk
menempati kantor selama dua bulan." Setiap hari berlalu dalam bulan
tersebut sebagian dari masa pakai harta tadi telah terpakai dan menjadi
beban (expense). Pada tanggal 31 Januari 2009 separuhnya telah terpakai
sebesar Rp. 400.000 dan harus diperlakukan sebagai beban.
Ayat Jurnalnya :
Beban Sewa
400.000
Sewa Dibayar Dimuka
400.000
Perkiraan sewa dibayar dimuka sekarang mempunyai saldo Rp. 400.000
yang mencerminkan pembayaran dimuka untuk selama satu bulan. Perkiraan
beban sewa mencerminkan pengeluaran Rp. 400.000 untuk bulan tersebut.

Anda mungkin juga menyukai