Anda di halaman 1dari 16

BAB I

STATUS PASIEN
I. ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. J

Umur

: 63 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta, kuli bangunan

Alamat

: Jl Puspowarno Tengah IX no 8 Semarang

No. CM

: 115244

Ruang

: Anggrek 9.3

Tanggal Masuk

: 29 Juli 2015

B. Keluhan utama
Benjolan di kantong pelir kanan
C. Riwayat penyakit sekarang
Pasien datang ke Poli bedah umum RSUD Tugurejo Semarang
pukul 10.00 WIB dengan keluhan ada benjolan di kantong pelir kanan.
Benjolan dirasakan sejak kurang lebih 6 bulan yang lalu. Awalnya
benjolan terdapat di lipat paha sebelah kanan, namun makin lama benjolan
semakin membesar bahkan sampai masuk ke kantung pelir sebelah kanan.
Benjolan dapat masuk kembali apabila didorong dengan tangan dan
muncul apabila dibuat batuk, mengejan atau angkat-angkat barang berat.
Benjolan makin lama terasa nyeri. Aktivitas sehari- hari sebagai kuli
bangunan, sering mengangkat berat. Tidak didapatkan riwayat trauma pada
daerah buah zakar, lipat paha maupun perut sebelumnya. Tidak ada
keluhan mual, muntah dan demam. Buang air kecil dan buang air besar
seperti biasa, tidak ada keluhan.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat keluhan serupa
Riwayat alergi

: disangkal
: disangkal
1

Riwayat penyakit darah tinggi


: disangkal
Riwayat penyakit kencing manis : disangkal
Riwayat operasi disangkal
: disangkal
E. Riwayat penyakit keluarga
Di dalam keluarga tidak ada yang mengalami hal yang serupa.
F. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Biaya pengobatan menggunakan
BPJS NON PBI.
II. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Kesadaran compos mentis, GCS E4M6V5 = 15
2. Status Gizi
BB: 50 kg
TB: 160 cm
Kesan : gizi cukup
3. Tanda Vital
Tensi
: 130/80mmHg
Nadi
: 84x/menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup
Respiratory rate
: 20x/menit
Suhu
: 36,7 C (peraxiller)
4. Kulit
Ikterik (-), petekie (-), turgor cukup, kulit hiperemis (-)
5. Kepala
Bentuk mesochepal, rambut warna hitam
6. Mata
Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (-/-), pupil isokor (3mm/3mm),
reflek cahaya (+/+) normal
7. Telinga
Sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-), gangguan fungsi
pendengaran (-/-)
8. Hidung
Napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), epistaksis (-/-)
9. Mulut
Sianosis (-), gusi berdarah (-), coated tongue (-)
Tenggorokan : T1-T1, faring hiperemis (-)
10. Leher
Simetris, pembesaran tiroid (-), pembesaran limfonodi (-)
11. Thoraks
Bentuk normochest, simetris, retraksi intercostal (-), pernafasan
thorakoabdominal, sela iga melebar (-), pembesaran KGB axilla (-/-)
Cor
Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak

Palpasi

: Ictus cordis kuat angkat di ICS V, 2 cm ke medial linea

midclavicularis sinistra.

Perkusi
Batas jantung kanan atas SIC II linea parasternalis dextra
Batas jantung kanan bawah SIC IV linea parasternalis dextra
Batas jantung kiri atas SIC II linea parasternalis sinistra.
Batas jantung kiri bawah SIC IV linea media clavicularis sinistra.
Kesan
: konfigurasi jantung normal
Auskultasi
: Bunyi jantung I-II murni, intensitas normalreguler,
bising (-)

Pulmo
Depan
Inspeksi
Palpasi

: Simetris statis dinamis, retraksi (-)


: Simetris, ICS melebar (-), tidak ada yang tertinggal
Sterm fremitus kanan = kiri
Perkusi
: Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), ronki basah
kasar(-/-), ronki basah halus (-/-)
Belakang:
Inspeksi
Palpasi

: Simetris statis dinamis, retraksi (-)


: Simetris, ICS melebar (-), tidak ada yang tertinggal
Sterm fremitus kanan = kiri
Perkusi
: Sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : Suara dasar vesikuler (+/+), Wheezing (-/-), ronki basah
kasar(-/-), ronki basah halus (-/-)
12. Abdomen
Inspeksi
: Simetris,datar
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Perkusi
: Timpani seluruh lapang abdomen, pekak sisi (-),
pekak alih (-)
Palpasi
: Supel, nyeri tekan inguinal dekstra (+), Hepar dan lien
tidak teraba
13. Genitourinaria
Ulkus (-), sekret (-), tanda-tanda radang (-)
14. Punggung
Kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-), nyeri ketok costovertebra (-)
15. Ekstremitas
Keterangan

Superior

Inferior

Akral dingin
Edema
Capilary refill
Kekuatan

(-/-)
(-/-)
<2
555/555

(-/-)
(-/-)
<2
555/555

Status Lokalis : Scrotalis dextra

Inspeksi
:
Tampak benjolan sebesar telur ayam, tidak berwarna merah, tidak tegang.
Palpasi
:
Teraba testis 2 buah, benjolan terpisah dari testis, nyeri tekan (-), kenyal,
dapat dikembalikan, tes transiluminasi (-).
Auskultasi : Bising Usus (+)
Tes Khusus : Finger test (+) teraba pada ujung jari, Zienman test (+) teraba

pada ujung jari telunjuk


III. DIAGNOSIS BANDING
Hernia Scrotalis Dextra Reponibel
Hidrokel
Varicocel
Orchitis
Tumor testis
IV. DIAGNOSIS
Hernia Scrotalis Dextra Reponibel
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium :

Darah Rutin
Leukosit
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit

Kimia Klinik
Glukosa sewaktu
Ureum
Creatinin

Hasil

Nilai Normal

9.33 10^3/ul
4.63 10^6/ul
14.40 gr/dl
44.00 %
398 10^3/ ul

3.8-10.6 10^3/ul
4.4-5.9 10^6/ul
13.2-17.3 gr/dl
40-52 %
150-440 10^3/ ul

95 mg/dl
27.0
1.04

<125
10.0 50.0
0.70 1.10

Kalium
Natrium
Chlorida
Albumin
Clotting Time
Bleeding Time

VI.

4.50
136
107
3.8
3 : 00
1: 00

3.5 5.0
135 145
95.0-105
3.2 5.2
3-5 (menit:detik)
1-3 (menit:detik)

INITIAL PLAN
Hernia Scrotalis Dextra Reponibel
IP.Dx : S : Anamnesis sistem
O:IP.Tx : Operasi hernioraphy elektif
IP.Mx :
Monitoring keadaan umum.
Monitoring tanda vital.
Monitoring hasil pemeriksaan penunjang.
IP.Ex :
Memberi penjelasan kepada pasien dan keluarganya tentang

penyakit..
Memberi penjelasan mengenai tindakan yang dilakukan
VII. PROGNOSIS
Ad vitam
: ad bonam
Ad fungsionam
: ad bonam
Ad sanam
: ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

I. ANATOMI
5

Gambar. Anatomi Dinding Abdomen


Kanalis inguinalis dibatasi di kraniolateral oleh annulus inguinalis
internus yang merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan
aponeurosis m. transverses abdominis. Di medial bawah, di atas tuberkulum
pubikum, kanal ini dibatasi oleh annulus inguinalis eksternus, yaitu bagian
terbuka dari aponeurosis m. oblikus eksternus. Atapnya adalah aponeurosis
m. oblikus eksternus, dan dasarnya adalah ligamentum inguinale. Kanalis
ini berisi funiculus spermaticus pada laki-laki dan ligamentum rotundum
pada perempuan.1

Gambar . Kanalis inguinalis


Hernia inguinalis indirek disebut juga hernia inguinalis lateralis,
karena keluar melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari
pembuluh epigastrika inferior, kemudian hernia masuk ke dalam kanalis
inguinalis dan bila cukup panjang keluar di annulus inguinalis eksternus.
Jika berlanjut, tonjolan akan sampai ke skrotum dan disebut hernia skrotalis.

Kantong hernia terletak di dalam m.kremaster, anteromedial terhadap vas


deferens dan struktur lain dalam funiculus spermaticus.1
Sementara itu hernia inguinalis direk atau disebut juga medial
menonjol langsung ke depan melalui trigonum hasselbach. Daerah yang
dibatasi ligamentum inguinal di inferior, a/v. epigastrika inferior di lateral
dan tepi otot rektus di bagian medial. Dasar segitiga hasselbach ini dibentuk
oleh fascial transversal yang diperkuat oleh aponeurosis m. transverses
abdominis yang kadang-kadang tidak sempurna, sehingga potensial untuk
menjadi lemah. Karena hernia medialis ini tidak melalui kanalis umumnya
tidak mengalami strangulasi karena cincinnya cenderung longgar.

Gambar . Bagian Dalam Regio Inguinal


II. HERNIA
A. Definisi
Hernia merupakan protrusi atau penonjolan isi suatu rongga
melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan (fascia
dan muskulo aponeurotik) yang memberi jalan keluar pada alat tubuh
selain yang biasa melalui dinding tersebut. Hernia terdiri atas 3 hal :
cincin, kantong dan isi hernia.

Hernia Scrotalis adalah hernia yang keluar dari rongga peritonium


melalui anulus inguinalis internus yang terletak lateral dari pembuluh
epigastrika inferior kemudian hernia masuk dari anulus ke dalam kanalis
dan jika panjang menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternum dan
sampai ke scrotum. 1,2
B. Klasifikasi
Berdasarkan terjadinya, hernia terbagi atas :
1) Kongenital
Kanalis inguinalis normal pada fetus : Pada bulan ke-8 kehamilan terjadi
desensus testis, yaitu masuknya testis dari abdomen ke scrotum melalui canalis
inguinalis, sehingga terjadi penarikan peritoneum ke daerah scrotum, dan
terjadi penonjolan (prosesus vaginalis peritonei). Pada bayi yang sudah lahir
akan mengalami obliterasi sehingga isi perut tidak dapat masuk melalui kanal.
Karena testis kiri turun lebih dahulu daripada kanan, maka kanalis inguinalis
kanan lebih sering terbuka. Pada keadaan normal, kanalis inguinalis menutup
pada usia 2 tahun. Bila prosesus terbuka terus (tidak mengalami obliterasi)
menyebabkan terjadinya hernia inguinalis lateralis kongenital.
2) Acquired/ didapat
Disebabkan oleh :
Adanya prosesuss vaginalis yang terbuka
Adanya annulus inguinalis inetrnus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui
kantong dan isi hernia
Dapat juga disebabkan oleh peninggian tekanan intra abdomen yang kronik
(batuk kronik, hipertrofi prostat, konstipasi, ascites) yang akan mendorong
isi hernia ke annulus inguinalis internus
Kelemahan dinding otot perut yang disebabkan oleh usia, atau kerusakan
n.illioinguinalis dan n. illiofemoralis setelah appendiktomi
Berdasarkan sifatnya, hernia terbagi atas :
1) Reponibel
Bila isi kantung bisa direposisi kembali bila berbaring atau didorong dengan
tangan.
2) Ireponibel
Bila isi kantung tidak bisa direposisi kembali. Biasanya hernia ireponibel
disebabkan oleh perlekatan isi kantong pada peritoneum kantong hernia, yang
8

disebut hernia akreta. Tidak ada keluhan nyeri atau tanda sumbatan usus. Bila
terjadi gangguan pada pasase usus yang terjepit hernia yang ireponibel, maka
disebut hernia inkarserata. Sementara bila hernia tersebut mengakibatkan
gangguan vaskularisasi maka disebut hernia strangulata.1
C. Etiologi.
Hernia scrotalis dapat terjadi akibat anomali kongenital atau sebab lain
yang didapat (akuistik). Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak
pada lelaki dibanding perempuan. Hal ini mungkin karena annulus inguinalis
eksternus pada pria lebih besar dibanding wanita. Selain itu juga karena
perjalanan embriologisnya di mana testis pada pria turun dari rongga abdomen
melalui kanalis inguinalis. Seringkali kanalis tidak menutup sempurna
setelahnya. Berbagai faktor penyebab berperan pada pembentukan pintu masuk
hernia pada annulus internus yang cukup lebar sehingga bisa dimasuki oleh
kantong dan isi hernia. Selain itu diperlukan juga faktor yang bisa mendorong
isi hernia melalui pintu yang sudah terbuka cukup lebar itu. 1,3,4,5
Ada tiga mekanisme yang seharusnya bisa mencegah terjadinya hernia
inguinalis. Yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, adanya struktur m.
ablikus internus yangmenutup annulus internus ketika berkontraksi, dan fascia
transversa yang menutup trigonum hasselbach yang umumnya hampir tidak
berotot. Gangguan pada mekanisme ini bisa menyebabkan terjadinya hernia.1
Faktor yang dipandang berperan kausal adalah adanya prosesus vaginalis
yang terbuka, peninggian tekanan intra abdomen lebih lanjut, dan kelemahan
otot dinding perut karena usia. Akibatnya isi intra abdomen keluar melalui
celah tersebut, jika kantung hernia inguinalis lateralis mencapai scrotum
disebut hernia scrotalis.1,3
Tekanan intraabdomen yang tinggi secara kronik seperti batuk kronik,
mengedan saat miksi atau defekasi (missal karena hipertrofi prostat atau
konstipasi), ascites, obesitas atau mengangkat beban berat sering mendahului
hernia inguinalis.1,6

D. Patofisiologi

Pada keadaan relaksasi otot dinding perut, bagian yang membatasi annulus
intenus turut kendur. Pada keadaan ini tekanan intraabdomen tidak tinggi dan
kanalis inguinalis berjalan lebih vertikal. Sebaliknya jika otot dinding perut
berkontraksi, kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan annulus
inguinalis tertutup sehingga mencegah masuknya usus ke dalam kanalis
inguinalis. Tetapi dalam keadaan prosesus vaginalis yang terbuka, peninggian
tekanan di dalam rongga perut dan kelemahan otot dinding perut karena usia
dapat membentuk pintu masuk hernia pada annulus internus yang cukup lebar.
Sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Di samping itu diperlukan
pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah
terbuka cukup lebar tersebut.1,7
Bila cincin hernia sempit, kurang elastik atau lebih kaku maka akan terjadi
jepitan yang menyebabkan gangguan perfusi jaringan isi hernia. Pada
permulaan terjadi bendungan vena sehingga terjadi oedem organ atau struktur
di dalam hernia dan transudasi ke dalam kantong hernia. Timbulnya oedem
menyebabkan jepitan pada cincin hernia makin bertambah sehingga akhirnya
peredaran darah jaringan terganggu. Isi hernia menjadi nekrosis dan kantong
hernia akan berisi transudat berupa cairan serosanguinus.1
E. Manifestasi klinis
Gejala dan tanda klinis banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia. Pada
hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan di lipat paha
sampai ke scrotum yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau
mengedan, dan menghilang waktu berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai,
bila ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau para umbilical berupa
nyeri visceral karena regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus
halus masuk ke dalam kantong hernia. Nyeri yang disertai mual atau muntah,
afflatus dan tidak BAB baru timbul kalau terjadi inkarserasi karena ileus atau
strangulasi karena nekrosis atau gangren.
F. Diagnosis
1) Anamnesis
Pada hernia reponibel keluhan satu-satunya adalah adanya benjolan
di lipat paha sampai ke skrotum yang muncul waktu berdiri, batuk, bersin,
10

mengangkat benda berat atau mengedan, dan menghilang saat berbaring.


Pasien sering mengatakan sebagai turun berok, burut atau kelingsir.
Keluhan nyeri jarang dijumpai; kalau ada biasanya dirasakan di daerah
epigastrium atau paraumbilikal berupa nyeri visceral karena regangan pada
mesenterium sewaktu satu segmen usus halus masuk ke dalam kantong.
Nyeri yang disertai mual dan muntah baru muncul kalau terjadi inkarserata
karena ileus atau strangulasi karena nekrosis.1,2,6
2) Pemeriksaan Fisik
Pada inspeksi, saat pasien diminta mengedan dalam posisi berdiri
dapat dilihat hernia inguinalis lateralis muncul sebagai penonjolan di regio
inguinalis yang berjalan dari lateral atas ke medial bawah. Hernia scrotalis
terjadi apabila penonjolan dari hernia inguinalis lateralis berlanjut sampai
ke scrotum. Perlu diperhatikan keadaan asimetri pada kedua sisi lipat paha,
skrotum atau labia dalam posisi berdiri dan berbaring. Pasien lalu diminta
mengedan atau batuk sehingga adanya benjolan yang asimetri dapat
dilihat.1,2,4
Pada palpasi, dilakukan saat ada benjolan hernia, diraba
konsistensinya, dan dicoba mendorong apakah dapat direposisi. Bila
hernia dapat direposisi, berarti hernia scrotalis reponibel, sementara jika
tidak dapat direposisi, berarti hernia scrotalis ireponibel. Kalau kantong
hernia berisi organ, palpasi mungkin meraba usus, omentum (seperti karet)
atau ovarium. Diagnosis pasti hernia umumnya sudah bisa dilakukan
dengan pemeriksaan klinis yang teliti.1,2

G. Komplikasi
Komplilkasi hernia bergantung pada keadaan yang dialami oleh isi
hernia. Isi hernia dapat tertahan dalam kantong hernia pada kasus
ireponibel; ini dapat terjadi kalau isi terlalu besar, atau terjadi perlekatan.
Dalam kasus ini tidak ada gejala klinis. Dapat pula terjadi isi hernia
tercekik oleh cincin hernia sehingga terjadistrangulasi yang menimbulkan
gejala obstruksi sederhana. Sumbatan dapat terjadi parsial atau total seperti

11

pada hernia richter. Bila cincin hernia sempit, kurang elastis atau
kaku,sering terjadi jepitan parsial. Jepitan cincin hernia akan menyebabkan
gangguan perfusi ke jaringan isi hernia. Pada permulaan terjadi bendungan
vena sehingga terjadi udem organ atau struktur didalam hernia. Timbulnya
udem mengakibatkan jepitan semakin bertambah sehingga suplai darah
terhambat. Akibatnya jaringan isi akan nekrosis dan hernia akan berisi
cairan transudat serosanguinis. Bila isi jaringan adalah usus, bisa terjadi
perforasi yang menimbulkan abses lokal, fistel, hingga peritonitis.1,4
Gambaran klinis hernia inkarserata yang mengandung usus dimulai
dengan gambaran obstruksi usus dengan gangguan keseimbangan cairan,
elektrolit dan asam basa. Bila telah strangulasi, bisa terjadi toksik akibat
gangrene dan gambaran menjadi sangat serius. Penderita akan mengeluh
nyeri hebat di tempat hernia dan akan menetap karena rangsang
peroitoneal. Pada pemeriksaan lokal ditemukan benjolan yang tidak dapat
dimasukkan kembali disertai nyeri tekan dan dapat ditemukan tanda
peritonitis atau abses lokal. Dalam hal ini hernia strangulata merupakan
kegawatdaruratan dan butuh penanganan segera.1
H. Penatalaksanaan
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi
dan pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi
hernia yang telah direposisi. Reposisi dilakukan secara bimanual. Tangan
kiri memegang isi hernia dan membentuk corong, tangan kanan
mendorongnya ke arah cincin hernia dengan sedikit tekanan perlahan yang
tetap sampai terjadi reposisi.1
Pada anak-anak reposisi spontan lebih sering terjadi dan gangguan
vitalitas lebih jarang dibanding orang dewasa. Hal ini disebabkan cincin
hernia yang lebih elastis pada anak-anak. Reposisi dilakukan dengan
menidurkan anak dengan pemberian sedative dan kompres es di atas
hernia. Bila usaha reposisi ini berhasil, anak disiapkan operasi hari
berikutnya. Bila tidak berhasil, operasi segera. Pemakaian penyangga
hanya bertujuan menahan hernia yang telah direposisi dan tidak pernah
menyembuhkan, sehingga harus dipakai seumur hidup. Ini tidak

12

dianjurkan karena merusak kulit dan tonus otot di daerah yang tertekan
sedangkan strangulasi tetap mengancam. Yang penting diperhatikan untuk
memperoleh keberhasilan terapi maka factor-faktor yang meningkatkan
tekanan intra abdomen juga harus dicari dan diperbaiki. Misalnya batuk
kronis, prostat, tumor, ascites, dan lain-lain. Dan defek yang ada
direkonstruksi. Langkah operatif adalah pengobatan satu-satunya yang
rasional. Indikasi operasi sudah ada sejak diagnosa ditegakkan. Prinsip
dasar operasi terdiri dari herniotomi dan hernioplasti.2
Herniotomi adalah membebaskan kantong hernia sampai ke
lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit ikat setinggi mungkin lalu
dipotong. Hernioplasti ialah melakukan tindakan memperkecil annulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding posterior kanalis inguinalis.
Hernioplasti lebih penting dalam mencegah terjadinya residif. Dikenal
berbagai metode hernioplasti seperti memperkecil annulus inguinalis
internus

dengan

jahitan

terputus,

menutup

dan

memperkuat

fasiatransversa, dan menjahitkan pertemuan antara m. oblikus internus


abdominis dan m. transverses internus abdominis (conjoint tendon) ke
ligamentum inguinale poupart menurut Bassini, atau menjahitkan fasia
transversa, m. transverses abdominis, m. oblikusinternus abdominis ke
ligamentum cooper menurut McVay.1

13

Gambar. Herniotomi dan Hernioplasti


Kelemahan teknik Bassini dan teknik variasi lain adalah adanya
regangan berlebihan dari otot-otot yang dijahit. Karena itu dipopulerkan
metode penggunaan prosthesis mesh untuk memperkuat fasia transversalis
yang menjadi dasar kanalis inguinalis, tanpa menjahit otot-otot ke inguinal.
Pada bedah darurat, misalnya sudah terjadi komplikasi, prinsipnya sama
dengan yang elektif. Cincin hernia dicari dan dipotong. Usus halus dinilai
apakah vital atau tidak. Bila vital direposisi, bila tidak dilakukan reseksi dan
anastomosis.1,2
I. Prognosis
Prognosis untuk perbaikan dengan diagnosis dan penatalaksanaan
yang tepat hernia umumnya baik. Prognosis tergantung pada jenis dan
ukuran hernia juga pada kemampuan untuk mengurangi faktor risiko yang
berkaitan dengan perkembangan hernia.

BAB III

14

PEMBAHASAN
Penegakan

diagnosis

hernia

scrotalis

reponible

dextra

didapatkan

berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik seperti inspeksi, palpasi, auskultasi


serta finger test serta pemeriksaan penunjang yang diperlukan maupun tindakan
operasi. Berdasarkan autoanamnesis dari Tn.J datang dengan keluhan ada
benjolan di kantong pelir kanan sejak kurang lebih 6 bulan sebelum masuk rumah
sakit. Benjolan berbentuk lonjong, dengan permukaan yang rata dan warna sama
seperti warna kulit sekitarnya dengan konsistensi lunak. Benjolan dapat digerakan.
Menurut OS ukuran benjolan berubah-ubah, jika OS sedang batuk atau mengedan,
maka benjolan akan keluar dan semakin membesar, dan bila OS sedangberbaring,
maka ukuran benjolan mengecil. OS tidak pernah mengalami trauma pada daerah
buah zakar, lipat paha maupun perut sebelumnya.
Keluhan batuk lama disangkal pasien namun pasien sering angkat barang
berat karena bekerja sebagai kuli bangunan di mana ini akan meningkatkan
tekanan intra abdomen dan menjadi salah satu faktor predisposisi terjadinya
hernia. Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien juga mendukung diagnosis
hernia scrotalis reponible dextra di mana pada daerah inguinal kanan ditemukan
benjolan dari inguinal kanan ke scrotum, berbentuk lonjong di mana ini
menandakan hernia inguinalis lateralis. Benjolan juga kenyal, mobile dan finger
test teraba benjolan di ujung jari pemeriksa. Warna kulit sama dengan warna kulit
di sekitarnya. Dari pemeriksaan penunjang tidak ditemukan adanya kelainan
sehingga diagnosis hernia scrotalis dextra reponible bisa ditegakkan dan dapat
dilakukan penanganan berupa operasi hernioraphy. Prognosis pasien ini baik.

DAFTAR PUSTAKA

15

1. Sjamsuhidajat, R. dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed.2. 2004.

Jakarta : EGC
2. Mansjoer, Arif, dkk. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2. Ed.3. 2000. Jakarta :
Media Aesculapius FKUI
3. Grace, Pierce A. dan Borley, Neil R. At A Glance : Ilmu Bedah. Ed.3. 2006.
Jakarta : Erlangga Medical Series.
4. Inguinal

Hernia. Wikipedia the free encyclopedia.


http://en.wikipedia.org/wiki/Inguinal_hernia

Available

from

5. Inguinal Hernia. National Digestive Disease Information Clearinghouse.

Available from http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/inguinalhernia.


6. Balentine, Jerry R. dan Stoppler, Melissa Conrad. Hernia. eMedicine Health.

Available from http://www.emedicinehealth.com/hernia/article_em.htm


7. She Warts, Seymour I, Intisari Prinsip-prinsip Ilmu Bedah, Alih Bahasa
Laniyati Celal, editor Linda Chandranata Jakarta, EGC, 2000, hal 509-515

16