Anda di halaman 1dari 25

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SAHID JAKARTA

Diajukan untuk melengkapi syarat kelengkapan


MAKALAH TUGAS UAS
”PEMBENTUKAN IMAGE DALAM KEGIATAN
KOMUNIKASI PEMASARAN POLITIK”

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN


ORMAS NASIONAL DEMOKRAT
ATAS PARTAI DEMOKRAT

Nama / NPM : M. Eric Harramain 200822320003


Jurusan : Magister Ilmu Komunikasi
Mata Kuliah : Management Pencitraan
Dosen : Prof. Dr. Harsono Suwardi, MA
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SAHID JAKARTA
2010

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ............................................................................ ii

DAFTAR TABEL ……………...……….………………………… iii

DAFTAR GAMBAR ……………...……….……………………… iv

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………… v

1 PENCITRAAN ………………………………...................... 1
1.1. Membangun Identitas Merek ................................... 1
1.2. Komponen Identitas Merek ...................................... 1
1.3. Syarat Memilih Identitas Merek …………..…............ 5
2 POLITIK …………………………………………….………... 8
2.1. Definisi Komunikasi Politik ……………….…............ 8
2.2. Unsur Komunikasi Politik ……………….................... 9
2.3. Partai Politik & Ormas …………….…………............ 11
3 PENJELASAN ……………………………………………... 12
3.1. Data - Data .............................................................. 13
3.2. Ormas Nasional Demokrat ...................................... 14
3.3. Partai Demokrat …………..…………....................... 15
3.4. Persepsi Publik terkait Pembentukan Ormas
Nasional Demokrat Atas Partai Demokrat ………… 16
DAFTAR PUSTAKA ……………..……………………………... 18

LAMPIRAN ………………………………………………………. 19

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 2/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
DAFTAR TABEL

No. Halaman

1. Data: Ormas Nasional Demokrat & Partai Demokrat ...... 13

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 3/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
DAFTAR GAMBAR

No. Halaman

1. Komponen Identitas Merek (Brand) atau Diri (Personal) 2


2. Unsur Pembentuk Komunikasi Politik …...................... 9
3. Logo Ormas Nasional Demokrat ……………………….. 14
4. Logo Partai Demokrat ……………………………………. 15

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 4/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
DAFTAR LAMPIRAN

No. Halaman

1. Surat Pernyataan Orisinalitas Karya Ilmiah (M. Eric H)........ 19

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 5/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
1. PENCITRAAN
Dalam proses pemasaran (marketing) salah satu strategi yang
digunakan untuk membangun suatu pencitraan adalah strategi identitas
merek. Pencitraan suatu merek (brand) atau diri (personal) dapat
digunakan sebagai perekat hubungan persepsi antara partai politik
dengan khalayaknya. Proses pencitraan suatu merek (brand) atau diri
(personal) harus dilakukan secara hati – hati, jika salah strategi dalam
pencitraan akan membawa kejatuhan dari partai politik tersebut.
Melihat pentingnya arti citra diri, maka dalam makalah ini, penulis
berusaha menyajikan penjelasan mengenai sub-bab mengenai pencitraan,
dikaitkan dengan politik, dan study kasus terbaru di tahun 2010 ini.

1.1. MEMBANGUN IDENTITAS MEREK


Identitas sering diartikan sebagai suatu ciri yang melekat pada
suatu objek dimana hal tersebut menjadi pembeda dengan objek yang
lain. Bagi suatu merek (brand) atau diri (personal), dimana dengan
identitas yang khas dan spesifik akan memudahkan dalam
mengidentifikasi sebuah merek atau personal diantara yang lainnya.
Manfaat dari sebuah identitas merek (brand) atau diri (personal)
adalah untuk merefleksikan keyakinan, tujuan – tujuan, karakter, serta
semangat sebuah merek sehingga pemosisian yang kompetitif dapat
terpatri di benak khalayak. Jika kondisi ini telah terealisasi dengan baik,
biasanya identitas dapat dijadikan sebagai “benteng” bagi merek (brand)
atau diri (personal) dalam banyak hal lainnya.

1.2. KOMPONEN IDENTITAS MEREK


Identitas suatu merek (brand) atau diri (personal) biasanya tidak
bisa berdiri sendiri, melainkan terdiri dari beberapa komponen yang saling

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 6/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
terkait dan saling mendukung. Tujuannya satu, yaitu bagaimana
mengukuhkan merek (brand) atau diri (personal) di mata khalayaknya.
Menurut Sadat (2009: 49), dimana beberapa komponen identitas
merek (brand) atau diri (personal) digambarkan sebagai berikut:

Nama
Logo & Design
Warna
Slogan & Tagline Identitas
Endorser Merek Merek
Karakter
Situs Web & URL

Gambar 1. Komponen Identitas merek (brand) atau diri (personal)

(1) Nama
Ada sebuah ungkapan dalam Sadat (2009), dimana “Nama tidaklah
mengubah realitas, tapi dapat mengubah citra”. Pada sebuah merek
(brand) atau diri (personal), nama jelas merupakan sesuatu yang
sangat penting karena menjadi bagian dari identitas yang ingin kita
bangun. Nama juga menjadi pengukuhan atas sebuah eksistensi dari
suatu produk dan citra diri seseorang, yang membedakannya dengan
produk atau citra diri orang lain.
(2) Logo & Design
Logo atau lambang digunakan sebagai penggambaran sesuatu, yang
bertujuan untuk menyampaikan sejumlah makna yang ditujukan
kepada khalayaknya. Logo atau simbol atau lambang digunakan dalam
partai politik untuk mengidentifikasikan organisasi, partai, dan profesi
orang – orang di dalamnya. Melalui design logo yang menarik, sebuah
organisasi dapat membangun berbagai asosiasi yang dapat memberi
kesan kepada khalayak pemilihnya dalam proses komunikasi.
(3) Warna

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 7/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Pemilihan warna tertentu bagi sebuah partai politik atau ormas
dilakukan karena warna dianggap mampu mewakili sejarah atau spirit
tertentu. Pemilihan warna bukan semata asal pilih, melainkan sebagai
perlambang pesan atau kesan yang ingin dicitrakan. Bagi sebuah
merek (brand) atau diri (personal), penggunaan warna khusus
bertujuan untuk mengukuhkan identitas mereka. Pengunaan warna
juga memiliki kemampuan impresi yang cepat dan kuat pada otak
manusia dalam proses mengenali.
Menurut Sadat (2009: 58 – 59), pemilihan warna dapat memberikan
impresi tertentu di benak khalayak, diantaranya:
• Merah : Agresif, penakluk, dominan dan vital (hidup).
• Kuning : Kejayaan, mewakili sifat cahaya, kegemilangan
Dalam mencapai tujuan.
• Hijau : Keseimbangan, keselarasan, ketenangan, daya baru
• Biru : Mengesankan kedalaman, modern, sifat yang tidak
terhingga, ketegasan, harapan, dan kemapanan dari
sebuah cita-cita serta semangat dan kebudayaan
baru yang maju dan beretika intelek.
• Hitam : Gelap, lambang untuk sifat gulita &
kegelapan.
• Putih : Terang, cahaya, kesucian, dan bersih.
• Abu – abu : Netral, tidak adanya sifat atau kehidupan
spesifik,
ambiguitas.
(4) Slogan & Tagline
Sebuah tagline bisa saja dijadikan sebagai slogan bagi sebuah merek
(brand) atau diri (personal). Tagline biasanya dirumuskan secara
mendalam untuk mengkomunikasikan pemosisian sebuah merek
(brand) atau diri (personal). Penempatan tagline biasanya
berdampingan dengan logo merek (brand) atau diri (personal).

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 8/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Sementara slogan sering digunakan untuk iklan yang bertujuan untuk
membangkitkan ingatan atau kesadaran khalayak terhadap merek
(brand) atau diri (personal) secara cepat. Sebuah slogan bisa diartikan
sebagai ”kesimpulan” dari janji merek (brand) atau diri (personal)
kepada khalayak, oleh sebab itu slogan sebaiknya dibuat agar mudah
diingat dan diucapkan.
(5) Endorser Merek
Dalam perspektif pemasaran, endorser sebuah merek (brand) atau diri
(personal) lazim disebut juga sebagai tokoh ikon. Para tokoh ini
(endorser) biasanya dipilih karena kecakapan, dan cukup dikenal luas
oleh masyarakat, seperti: artis, atlet berprestasi, pejabat, atau tokoh
masyarakat, tujuannya adalah agar efek ketokohan mereka akan
”menular” pada merek (brand) atau diri (personal) yang diiklankan.
Efektivitas penggunaan endorser sebagai penganjur merek (brand)
atau diri (personal) telah banyak dimanfaatkan oleh merek terkenal.
Pemilihan ikon tentu saja dilakukan dengan berbagai pertimbangan,
misalnya kesesuaian personalitas merek (brand) atau diri (personal)
dengan karakter merek. Dalam sebuah teori personalitas merek (brand
personality theory), keberadaan endorser sangat penting dalam
mempertegas pemosisian merek di mata khalayak. Para tokoh ikon ini
bisa saja mewakili karakter seperti intelek, berwibawa, tegas,
bertenaga, modern, menyenangkan, bersih dari korupsi, bersih dari
catatan buruk di masa lalu, humoris, muda, berprestasi, dan lain
sebagainya. Tanpa karakter yang sesuai, sebuah merek atau partai
akan kehilangan ruhnya.
(6) Karakter
Untuk memudahkan proses komunikasi, maka biasanya beberapa
organisasi atau partai politik akan mengkaitkan dengan sebuah
karakteristik tertentu. Bentuk karakteristik bisa sangat beragam, antara
lain: orang, kartun, hewan, atau kombinasi unik lainnya. Secara umum,
menurut Sadat (2009: 71) berikut ini beberapa hal yang perlu dijadikan

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 9/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
sebagai acuan perhatian dalam mengembangkan sebuah karakter
bagi sebuah merek (brand) atau diri (personal), yaitu:
• Mampu memberikan impresi yang kuat, sehingga mudah diingat.
• Memiliki kejelasan (clarity), sehingga mampu bertahan lama di
benak khalayaknya.
• Memiliki sifat keaslian (orisinality), karakter yang dipilih adalah
proses yang tumbuh dari keyakinan yang terdalam. Diciptakan
sendiri, bukan PLAGIAT, sehingga benar – benar mampu
terintenalisasikan dengan merek (brand) atau diri (personal).
• Memiliki ketepatan, artinya karakter yang dipilih benar – benar
dapat mewakili merek (brand) atau diri (personal).
• Berbeda, artinya karakter harus mampu menjadi pembeda yang
kontras dengan yang lainnya.
• Bernilai positif, sebuah karakter harus memiliki asosiasi positif,
tidak berbenturan dengan pandangan dan kepercayaan khalayak.
Karakter – karakter tersebut dimaksudkan agara karakter yang
dipilih mampu menjembatani merek dengan cara berfikir khalayaknya.
(7) Situs Web & URL
Kehadiran internet secara radikal merevolusi berbagai proses
komunikasi yang dilakukan sebelumnya, termasuk komunikasi yang
dilakukan partai politik melalui Uniform Resource Locators (URL) atau
nama domain (domain name) di dalam dunia maya sangat penting
untuk mendeteksi lokasi situs Web dari sebuah merek (brand) atau diri
(personal). Saat mengunjungi situs pencari seperti www.google.com
dengan mengetik URL tertentu pada kotak pencari (search), maka kita
akan dimudahkan menemukan nama merek (brand) atau diri
(personal) secara spesifik di halaman situs tertentu. Dalam kasus yang
akan dibahas penulis pada makalah kali ini, URL yang dimiliki
beberapa merek atau partai politik terkenal bahkan tidak jarang dibajak
oleh pihak – pihak tertentu, yang tujuannya memanfaatkan keuntungan

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 10/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
dari popularitas partai politik terkenal itu. Sebagai contoh Partai
Demokrat yang diplagiatisme oleh kedok ”ormas” Nasional Demokrat.

1.3. SYARAT MEMILIH IDENTITAS MEREK


Identitas yang dipilih oleh sebuah merek (brand) atau diri (personal)
idealnya memiliki makna dan asosiasi – asosiasi yang dapat digunakan
dalam berbagai keadaan. Hal ini diperlukan untuk memudahkan sebuah
merek (brand) atau diri (personal) jika ingin memperluas pasar, segmen,
bahkan melintas etnis an wilayah geografis. Berikut ini beberapa kriteria
syarat pemilihan identitas merek, diantaranya:
• Mudah diingat (mark-ing)
merek (brand) atau diri (personal) yang berhasil adalah merek
(brand) atau diri (personal) yang dapat diingat dengan mudah oleh
khalayak dalam jangka yang panjang. Ingatan khalayak terhaap
identitas yang dimiliki merek (brand) atau diri (personal), tentu saja
akan menambah ekuitas.
• Menarik perhatian
Logo yang dipilih harus memiliki unsur menarik perhatian (eye
catching), memiliki daya tarik visual, sehingga walaupun berada
diantara kerumunan partai politik, logo tersebut mampu menarik
perhatian khalayak secara dominan dibandingkan dengan bentuk
yang lain. Perlu diingat, logo yang terbukti sukses, biasanya akan di
PLAGIAT oleh Ormas atau partai politik lain, guna mendongkrak
kepopuleran partainya, walau tidak ada jaminan, PLAGIAT itu untuk
sukses kedepannya.
• Berbeda
Salah satu kunci utama keberhasilan sebuah merek (brand) atau
diri (personal) adalah karena kemampuan untuk tampil berbeda,
bukan sebagai pengekor atau Plagiatisme. Menjadi berbeda berarti
menciptakan kategori tertentu di benak khalayak, sehingga sebuah
merek (brand) atau diri (personal) akan terhindar dari komoditisasi.

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 11/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Menciptakan perbedaan basanya tidaklah mudah, maka diperlukan
strategi dan proses yang tidak singkat. Sehingga dalam poin ini,
sebuah merek (brand) atau diri (personal) yang memplagiat, secara
tidak sadar, mereka sudah mendeklarasikan kegagalan atas
kesuksesan di awal kemunculannya.

• Memiliki makna
Dalam mendesain sebuah identitas merek (brand) atau diri
(personal) biasanya berdasarkan makna tertentu yang dimiliki.
• Mengundang kesukaan
Beberapa komponen identitas yang dipilih hendaknya mengundang
kesukaan bagi yang melihatnya. Efek kesukaan yang timbul
sebagai respon dari identitas yang dipilih tentu saja akan menjadi
keunggulan tersendiri bagi merek (brand) atau diri (personal).
• Fleksibel
Fleksibilitas terkait dengan konteks di mana sebuah merek (brand)
atau diri (personal) berada. Hal ini menjadi sangat penting jika
sebuah merek (brand) atau diri (personal) akan memperluas
asosiasi atau lingkup wilayah geografisnya. Hal ini terjadi karena
setiap komunitas atau individu memiliki kultur masing – masing.
Fleksibilitas sangat membantu sebuah partai politik dalam
memasarkan produknya dengan menggunakan merek (brand) atau
diri (personal) yang mereka miliki, tanpa harus membangun merek
(brand) atau diri (personal) baru yang tentu saja membutuhkan
waktu dan biaya yang tidak sedikit.
• Proteksi
Proteksi menjadi unsur yang sangat penting untuk melindungi
merek (brand) atau diri (personal) dari serangan pesaing, termasuk
proteksi dari para imitator (plagiator) yang baru – baru ini mulai
menunjukkan diri, guna memanfaatkan situasi dan kondisi. Dengan

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 12/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
demikian unsur proteksi harus dipikirkan dalam perspektif yang luas
dan berjangka panjang.
Makalah ini menyoroti dan mengkritisi apa yang sedang terjadi
dibalik dibentuknya sebuah ormas bentukan Partai Golkar
”Nasional Demokrat” yang terkesan sebagai bentuk PLAGIATISME
atas Partai Demokrat, disaat partai ini sedang mengalami sedikit
masalah terkait kasus Bank Century. Dan sudah sepantasnya
Partai Demokrat untuk terus mengamati gerak langkah ormas ini,
dengan cara memproteksi Partai Demokrat, sehingga jika
kedepannya terbukti ada Plagiatisme, maka Partai Demokrat
mampu untuk membawa hal ini ke ranah hukum peradilan.

2. POLITIK
Konsep politik menurut Dahlan (1999) dalam Cangara (2009: 35),
adalah suatu bidang disiplin yang menelaah perilaku dan kegiatan
komunikasi yang bersifat politik.
Sebelum kita masuk mengenai komunikasi politik, ada baiknya kita
melihat kilas balik singkat mengenai sejarah ”politik” yang kelam dan jauh
dari demokrasi seutuhnya di Indonesia, dimana dalam kehidupan sehari –
hari kita telah mengenal istilah ”politik” sebagai segala sesuatu yang
dilaksanakan atas dasar kepentingan kelompok atau kekuasaan. Proses
pengangkatan dan pencopotan jabatan seseorang kepala kantor misalnya
kadang dilakukan atas pertimbangan politik. Konflik yang terjadi dengan
memicu pertarungan antar etnis atau agama, juga bisa disebabkan oleh
politik. Di Indonesia ketika rezim Soeharto masih terus berkuasa ketika itu,
banyak orang trauma jika dianggap berindikasi partai politik tertentu, tetapi
merasa aman jika ia mengaku sebagai ”orang Golkar”. Banyak kantor –
kantor baik pemerintah maupun swasta ketika itu, dimana seorang
karyawan akan sulit sekali memperoleh promosi jabatan jika ia diketahui
sebagai pendukung salah satu partai di luar GOLKAR (Golongan Karya).

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 13/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
2.1. DEFINISI KOMUNIKASI POLITIK
Menurut Meadow dan Nimmo dalam Cangara (2009: 35), dimana
definisi komunikasi politik menurut Meadow memberi tekanan bahwa
simbol – simbol atau pesan yang disampaikan itu secara signifikan
dibentuk atau memiliki konsekuensi terhadap sistem politik. Tetapi Nimmo
kembali mengutip Meadow dalam bukunya, dimana hanya memberikan
tekanan pada pengaturan umat manusia yang dilakukan di bawah kondisi
konflik (under the condition of conflict).
Menurut McNair (2003) dalam Cangara (2009), dimana komunikasi
politik murni membicarakan tentang alokasi sumber daya publik yang
memiliki nilai, petugas yang memiliki kewenangan untuk memberi
kekuasaan dan keputusan dalam pembuatan undang – undang atau
peraturan, baik itu legislatif atau eksekutif, serta sanksi – sanksi, baik
berupa hadiah (reward) dan hukuman (punishment).
Menurut Doris Graber (1981) dalam Cangara (2009), komunikasi
politik tidak hanya sebatas retorika kekuasaan semata, tetapi juga
mencakup simbol – simbol bahasa, seperti bahasa tubuh serta tindakan –
tindakan politik, seperti: baikot, protes, unjuk rasa dan demonstrasi.
Secara umum definisi komunikasi politik adalah suatu proses
komunikasi yang berimplikasi atau memiliki konsekuensi terhadap aktivitas
politik. Dan untuk membedakan antar tiap disiplin dalam studi ilmu
komunikasi, terletak pada sifat dan isi pesannya.

2.2. UNSUR KOMUNIKASI POLITIK


Hampir serupa dengan disiplin ilmu komunikasi lainnya, dimana
komunikasi politik menurut Nimmo (1978); Mansfield dan weaver (1982)
dalam Cangara (2009: 37), sebagai body of knowledge juga terdiri atas
berbagai unsur, diantaranya:

Efek
Komunikator Pesan Media Target
Komunikator
Politik Politik Politik Politik
Politik

Umpan
Balik
PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN Lingkungan14/25
ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT
MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Gambar 2. Unsur Pembentuk Komunikasi Politik

• Komunikator Politik
Komunikasi politik tidak semata terkait dengan partai politik, namun
juga lembaga pemerintahan baik legislatif dan eksekutif. Seorang
komunikator politik adalah perorangan atau kelompok orang yang
mampu memberikan informasi mengenai hal – hal yang mengandung
makna atau bobot politik, contohnya: Presiden, Menteri, Anggota DPR,
MPR, KPU, Gubernur, Bupati atau Walikota, politisi, fungsionaris partai
politik, dan kelompok – kelompok penekan dalam masyarakat yang
bisa mempengaruhi jalannya pemerintahan.
• Pesan Politik
Pesan politik adalah pernyataan yang disampaikan baik verbal
maupun non verbal, baik tertulis maupun tidak tertulis, yang isinya
mengandung bobot politik.
Contohnya: Undang – undang pemilu, pidato politik, pernyataan politik,
debat kandidat, perang urat syaraf (psywar), makna logo, warna
bendera partai, bahasa tubuh tokoh (body language) partai politik.
• Saluran atau Media Politik
Media politik merupakan alat atau sarana yang digunakan oleh
komunikator politik guna menyampaikan pesan politiknya. Contohnya:
Media elektronik (TV, radio, internet, film), media cetak (koran,
majalah, buku), media format kecil (brosur, selebaran, stiker), media
luar ruang (baliho, spanduk, reklame), electronic board (bendera, pin,
logo, kaos, iklan mobil, kalender, gantungan kunci, payung, dll), dan
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk membangun citra politik
(political image building).

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 15/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
• Sasaran atau Target Politik
Sasaran aalah anggota masyarakat yang diharapkan akan
memberikan dukungannya sebagai pemberi suara (voters) kepada
partai atau kandidat yang mereka dapat percayai dalam pemilihan
umum.

• Pengaruh atau Efek Komunikasi Politik


Diharapkan terciptanya pemahaman terhadap sistem pemerintahan
dan partai politik, dimana hasil akhirnya bermuara pada pemberian
suara (vote) atas partai politik tersebut.

2.3. PARTAI POLITIK & ORMAS


Definisi Partai Politik menurut Undang – undang No. 31 tahun 2002
Republik Indonesia dalam Cangara (2009: 209), dinyatakan partai politik
adalaha organisasi politik yang dibentuk oleh sekelompok warga negara
Republik Indonesia secara sukarela atas dasar persamaan kehendak dan
cita – cita untuk memperjuangkan kepentingan anggota, masyarakat,
bangsa, dan negara melalui pemilihan umum.
Dari pengertian partai politik tadi diatas, ada tiga prinsip dasar dari
partai politik, diantaranya adalah:
• Partai sebagai koalisi.
• Partai sebagai organisasi
• Partai sebagai pembuat kebijakan (policy making)

Dari ketiga prinsip dasar partai politik diatas, dapat kita jabarkan
perbedaan antara partai politik, gerakan (movement), dan kelompok
penekan (pressure group), dimana penjelasan singkatnya sebagai berikut:
• Partai Politik adalah wadah atau institusi kumpulan koalisi ormas
dari berbagai kepentingan untuk membangun kekuatan mayoritas,
dimana di dalamnya menjadi wadah perjuangan, yang

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 16/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
merepresentasikan dari sejumlah orang atau kelompok, serta turut
memberi pengaruh dalam pengambilan keputusan di pemerintahan, di
mana kader partai tersebut menuduki posisi melalui kolegitas partai.
Contohnya: Partai Demokrat (Partai Pemenang Pemilu 2009, 61%
pemilih nasional).
• Gerakan adalah kelompok atau golongan yang ingin mengadakan
perubahan, atau menciptakan suatu lembaga baru dengan memakai
cara – cara politik. Contohnya: Ormas ”Nasional Demokrat” bentukan
dewan penasihat Partai Golkar, Surya Paloh.
• Kelompok Penekan (pressure group) biasanya disebut juga
sebagai kelompok kepentingan, yang memperjuangkan kepentingan
dan berusaha memberi pengaruh terhadap kekuatan politik yang ada
di parlemen untuk mendapatkan keputusan yang menguntungkan dan
menghindari keputusan yang merugikan. Kelompok penekan, baik
kelompok, golongan, ataupun partai ini, biasanya tidak berada di
parlemen atau bisa disebut juga sebagai ”barisan sakit hati” karena
tidak mendapatkan kue pemerintahan. Contohnya: PDIP, Partai
Hanura, Partai Gerindra, dan Ormas Nasional demokrat (berpotensi
juga menjadi kelompok penekan di masa mendatang).

3. PENJELASAN
Pada bab ini, sesuai dengan tema makalah management
pencitraan, ”Persepsi Publik Terkait Pembentukan Ormas Nasional
Demokrat Atas Partai Demokrat”. Penulis memposisikan diri sebagai
bagian dari masyarakat mayoritas atau lebis spesifik sebagai bagian dari
pemilih Partai Demokrat, melihat fenomena pembentukan sebuah ormas
yang tidak ada hubungannya dengan struktur Partai Demokrat,
management Partai Demokrat, dan anggota Partai Demokrat, yang
ternyata di awal kemunculannya memiliki banyak kemiripan terkait dengan
Partai Demokrat. Ada apa dibalik semua ini?, Apakah ini sebagai unsur
kesengajaan di dalam politik?, yang mana demi upaya mencari massa,

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 17/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
maka kelompok orang dari beragam partai politik ”barisan sakit hati”
membentuk suatu ormas yang notabene ”terlihat” cukup mirip atas
penampilan fisik dan kemasan awal kemunculannya di tengah
masyarakat.
Penulis akan berusaha mengidentifikasi secara singkat, mulai dari
kemunculannya sampai kondisi yang berkembang, sampai saat makalah
ini ditulis (hari Rabu, 24 Februari 2010).
3.1. DATA - DATA
Berikut ini beberapa data - data terkait kemunculan Ormas
Nasional Demokrat atas Partai Demokrat.

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 18/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Identitas Merek Brand I Brand II

(logo)

Nama Ormas Nasional Demokrat Partai Demokrat


Warna Biru - Kuning Biru – Merah - Putih
Slogan & Tagline Gerakan Perubahan Indonesia Bisa !
Surya Paloh Susilo Bambang Yudhoyono
Endorser Merek
Sri Sultan hamengkubuwono X (SBY)
• Impresi & Clarity
• Impresi & Clarity
yang jelas
(belum jelas)
(SBY Presidenku)
• Orisinalitas (Asli)
Karakter • Orisinalitas (Plagiat)
• Berbeda
• Mengekor
• Karakter kuat &
• Karakter belum jelas
santun
• Nilai positif (belum jelas)
• Nilai positif (simpatik)
Latar Belakang Ormas Bentukan Partai Golkar Partai Demokrat

Situs Web & URL http://www.nasionaldemokrat.org http://www.demokrat.or.id/

(pemosisian)
3 Prinsip Dasar
Gerakan
• Partai
&
Politik Partai Politik
Berpotensi sebagai
• Gerakan
(Kelompok Penekan)
• Kelompok
Penekan

Tabel 1. Data: Ormas Nasional Demokrat & Partai Demokrat

3.2. ORMAS NASIONAL DEMOKRAT


Dalam situs okezone.com (2010.a), Nasional
demokrat merupakan ormas yang
dideklarasikan oleh Surya Paloh dan

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 19/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
beberapa tokoh lintas budaya dan politik. Ormas Nasional demokrat dalam
kemunculannya bukan sekedar gerakan moral dan sosial, yang
menyuarakan suara rakyat yang selama ini tidak terdengar oleh partai
politik atau pemerintah.
Dalam Inilah.com (2010), Salah seorang deklarator di gerakan Nasional
Demokrat, yang sekaligus sebagai mantan ketua umum PP
Muhamadiyah, Syafii Ma’arif mengatakan, beliau hanya diminta sebagai
deklarator saja, namun tidak berminat untuk bergabung menjadi anggota
ormas tersebut, dikarenakan dianggap Nasional Demokrat tidak penting.
Ma’arif terlibat dalam deklarasi tersebut hanya sebatas senoir citizen.
Dalam situs Indonesiamatters.com (2010), Ormas Nasional
Demokrat merupakan sebuah pergerakan manuver politik baru yang
masih misterius dipimpin oleh Surya Paloh.
Dalam situs Mediaindonesia.com (2010), Effendi Gazali
mengatakan, kemunculan organisasi massa (ormas) Nasional Demokrat
yang dimotori Surya Paloh, dan Sultan Hamengku Buwono XI diharapkan
bisa menjadi dikotomi antara nasional demokrat dengan neolib demokrat.
Dalam artikel situs okezone.com yang lain (2010.b) tertanggal 22
Februari 2010, dimana menyoroti pandangan miring masyarakat sejak
kemunculannya, Inisiator nasional demokrat cabang Sulawesi Selatan -
Ilham Arief Sirajuddin buka suara dengan mengatakan, Nasional
Demokrat tidak akan menantang pemerintah. Namun Ilham mengatakan,
bahwa tidak menutup kemungkinan Nasional demokrat akan menjadi
partai politik.
3.3. PARTAI DEMOKRAT
Partai demokrat adalah sebuah partai politik
yang didirikan pada 9 September 2001. dan
disahkan paa 27 Agustus 2003. Pendirian
partai ini erat kaitannya dengan niat untuk
membawa Susilo Bambang Yudhoyono,
yang kala itu menjadi Menteri Koordinator

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 20/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
bidang Politik dan Keamanan di bawah Presiden Megawati, menjadi
presiden. Karena hal inilah, Partai Demokrat terkait kuat dengan figur
(endorser) Yudhoyono.
Di awal kemunculan dan mengikuti pemilihan umum tahun 2004,
Partai Demokrat meraih suara sebanyak 7,45 % (8.455.225 pemilih) dan
memperoleh 57 kursi di DPR RI. Walau perwakilan DPR menempati
peringkat ke 5, namun kepopuleran SBY mampu menjadikan tokoh Partai
ini sebagai orang nomor 1 di Indonesia (Presiden RI pertama yang dipilih
secara langsung oleh rakyatnya).
Dari hasil pemilu 2009 lalu, Partai Demokrat menjadi pemenang
mutlak, baik di legislatif, sebanyak 148 kursi (26,4 %) di DPR RI, dengan
perolehan suara sebanyak 21.703.137 pemilih se-Indonesia. Dan di
pemerintahan Partai Demokrat menempatkan kembali Endorsernya
sebagai Orang Nomor 1 di Indonesia, (60 % pemilih) sebagai Presiden
Republik Indonesia yang akan memimpin kembali kabinetnya jilid dua.
Menjelang 100 hari kepemimpinan Presiden Susilo Bambang
Yuhoyono, bersama koalisi partai-partai pendukung pemerintah adalah
Partai Demokrat (PD), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Amanat
Nasional (PAN), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Golkar (PG), pemerintah
dihadapkan dengan skandal kasus bank Century yang berdampak
sistemik tidaklah tepat, yang kemudian menyeret Wakil Presiden,
Boediono, dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani untuk diadili terkait kasus
Centrury tersebut.
3.4. PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN ORMAS
NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT
Belum lepas perhatian masyarakat yang mengikuti kasus Century
ini, ternyata Surya Paloh, seorang dewan penasehat Partai Golkar
memprakarsai pembentukan manuver politik dengan melahirkan Ormas
Nasional Demokrat, seolah-olah ”memanfaatkan kesempatan dalam
kesempitan” , dimana dari pemilihan nama, bentuk logo, pemilihan warna

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 21/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
lambang, bentuk pencitraan yang dilakukan hampir mirip atau terkesan
”Plagiatisme” dari Partai Demokrat.
Hal ini dipersepsikan di mata publik, khususnya 60% pemilih
Presiden SBY dan Partai Demokrat, publik menjadi: menjadi geram,
marah, kecewa bahkan memandang miring atas pencitraan awal yang
dilakukan oleh Ormas yang bernama Nasional Demokrat, bahkan opini
publik di situs pertemanan facebook, dan milis di URL tertentu, ramai
membicarakan hal ini, dimana mayoritas menyalahkan dan akan
mengamati manuver apa lagi yang akan dilakukan oleh Ormas Nasional
Demokrat di masa depan.
Seperti pada sub bab 1.3: Syarat Memilih Identitas Merek, terkait
pencitraan kepada khalayaknya. Dimana Nama, Logo yang dipilih
haruslah menarik perhatian masyarakat, walau Perlu diingat, nama, logo
yang terbukti sukses, biasanya akan di PLAGIAT oleh Ormas atau partai
politik lain, guna mendongkrak kepopuleran partainya, walau tidak ada
jaminan, PLAGIAT itu untuk sukses kedepannya. Khalayak kini bisa
mempersepsikan bahwa ormas ini hanya ingin mendompleng kepopuleran
atas Partai Demokrat.
Syarat yang lain adalah berani berbeda, karena salah satu kunci
utama keberhasilan sebuah merek (brand) atau diri (personal) adalah
karena kemampuan untuk tampil berbeda, bukan sebagai pengekor atau
Plagiatisme. Menjadi berbeda berarti menciptakan kategori tertentu di
benak khalayak, sehingga sebuah merek (brand) atau diri (personal) akan
terhindar dari komoditisasi.
Menciptakan partai atau ormas yang berbeda biasanya tidaklah
mudah, maka diperlukan strategi dan proses yang tidak singkat. Sehingga
dalam poin ini, sebuah ormas atau calon partai politik yang memplagiat
atau ”terkesan” meniru, secara tidak sadar, mereka sudah
mendeklarasikan kegagalan atas kesuksesan di awal kemunculannya.
Mereka secara sadar atau tidak sadar sama sekali, telah membuat
persepsi publik yang tingkat kepercayaan kepada pemerintah masih cukup

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 22/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
tinggi saat ini, sekitar 75 %, menjadikan ormas ini menjadi bernilai negatif
dan menimbulkan kecurigaan di tengah masyarakat. Ada apa dengan
”Barisan Sakit Hati” yang dipimpin Surya Paloh ini?, Kenapa Memplagiat
Partai Demokrat?, Apakah Partai Golkar besutan Abu Rizal Bakrie
(Pemilik Stasiun Berita – TVOne) sudah tidak bisa memberikan ruang
kepada Surya paloh (Pemilik Stasiun TV berita – Metro TV)?, seperti kita
tahu perseteruan antara Bakrie dan Surya Paloh, dalam perang Opini di
tiap masing – masing TV mereka.
Demikian makalah saya (penulis) mengenai persepsi publik terkait
pembentukan Ormas Nasional Demokrat atas Partai Demokrat, belum
banyak yang bisa saya sajikan, karena sampai penulisan makalah ini (hari
Rabu, 24 Februari 2010), data mengenai ormas Nasional Demokrat masih
sangat terbatas, kita bersama-sama akan melihat, dan menyaksikan
perkembangan, serta manuver politik apa yang nantinya akan dilakukan
Ormas besutan Surya Paloh ini, apakah akan menjadi ancaman bagi
Partai Demokrat di tahun 2014 mendatang?.

DAFTAR PUSTAKA
BUKU :
Cangara, Hafied. 2009. Komunikasi Politik: Konsep, Teori, dan Strategi.
Edisi Pertama. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada – Rajawali Pers.

Sadat, Andi M. 2009. Brand Belief: Strategi Membangun Merek Berbasis


Keyakinan. Jakarta: Salemba Empat.

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 23/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
SUMBER INTERNET:
Indonesiamatters.com. 2010. Surya Paloh & Nasional Demokrat. Melalui
http://www.indonesiamatters.com/8228/nasional-demokrat/html
[04/02/2010]

Inilah.com. 2010. Syafii Maarif: Nasional Demokrat Tak Penting!. Diketik


oleh: Irvan Ali Fauzi. Melalui
http://www.inilah.com/news/read/2010/02/01/318771/syafii-maarif-
nasional-demokrat-tak-penting/html [01/02/2010]

Mediaindonesia.com. 2010. Nasional Demokrat Gerakan Perubahan


untuk Rakyat. Melalui
http://www.mediaindonesia.com/read/2010/02/02 /
120628/18/1/Nasional-Demokrat-Gerakan-Perubahan-untuk-
Rakyat.html [02/02/2010]

Okezone.com. 2010.a. Nasional Demokrat Bukan Partai Politik. Diketik


oleh: Ajat M. Fajar. Melalui http://news.okezone.com /read/2010 /
02/01/339/299391/nasional-demokrat-bukan-partai-politik.html
[01/02/2010]

Okezone.com. 2010.b. Nasional Demokrat Bisa Melawan Pemerintah.


Diketik oleh: Andy Aisyah. Melalui http://news. okezone.com/read /
2010/02/22/340/305864/340/nasional-demokrat-bisa-melawan-
pemerintah.html [22/02/2010]

Lampiran 1. SURAT PERNYATAAN ORISINALITAS KARYA ILMIAH

Saya yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : M. Eric Harramain


NIM : 200822320003
Program Studi : Magister Ilmu Komunikasi
TA/ Semester : 2008-2009 Periode II / dua

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 24/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN
Judul karya : PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN
ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS
PARTAI DEMOKRAT.

Dengan penuh kesadaran menyatakan bahwa :


1. Karya tulis / Makalah / Paper yang kami serahkan adalah benar
- benar merupakan hasil karya intelektual yang orisinil.
2. Karya tulis / Makalah / Paper yang dihasilkan ini telah
mempergunakan sumber ilmiah dengan tata cara pengutipan
sumber yang benar sebagaimana berlaku dikalangan ilmiah
3. Jika dikemudian hari terdapat kekeliruan, kesalahan, dan
ditemukan praktek penjiplakan disengaja ataupun tidak, maka
karya ilmiah tersebut dapat dibatalkan sepihak oleh pihak
program dan segala konsekuensinya sepenuhnya menjadi
tanggung jawab siswa yang bersangkutan.

Jakarta, 24 Februari 2010


Yang membuat karya ilmiah,

(M. Eric Harramain)

PERSEPSI PUBLIK TERKAIT PEMBENTUKAN 25/25

ORMAS NASIONAL DEMOKRAT ATAS PARTAI DEMOKRAT


MANAGEMENT PENCITRAAN – M. ERIC HARRAMAIN