Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Idea atau ide dasar adalah awal mula satu tatanan pemikiran yang pada ujung paling
akhirnya berupa tindakan nyata. Dalam masyarakat yang menegara atas dasar commitment
para pendiri Republik ini, ide yang dijadikan acuan brsama adalah terbentuknya masyarakat
yang berazaskan kekeluargaan dengan atribut tata laku sebagaimana berlaku pada umumnya
diantara masyarakat timur.
Paternalistik, gotong royong, mendahulukan kepentingan bersama, adalah diantara
atribut lainnya yang menjadi ciri khas masyarakat timur tadi. Apabila selanjutnya ide dasar
harus dijadikan acuan masyarakat bangsa dalam bertatalaku, maka dapat dikatakan bahwa ia
telah berubah dari satu ide menjadi pandangan hidup yang operasional; dan apabila
pandangan hidup tadi diberikan kerangka ilmiah dan dikodifikasikan secara jelas maka
terbentuklah satu falsafah bangsa.
Kemudian dari itu, apabila falsafah bangsa dijadikan landasan negara maka ia akan
mewujud sebagai satu ideologi negara. Untuk Indonesia, pandangan hidup berbangsa,
falsafah bangsa, maupun ideologi negara semua diberi nama yang sama, yaitu Pancasila.
Bagi bangsa/negara lain tidaklah demikian halnya, masing-masing mempunyai nama yang
berbeda-beda sehingga mengurangi kerancuan.
Tidak semua negara memiliki ideologi negara karena ia memang bukanlah salah satu
syarat untuk berdirinya satu negara. Akan tetapi bagi negara yang memiliki ideologi, ia
selalu menjadi acuan bagi seluruh sistem yang ada maupun tata-laku masyarakatnya.
Kalau disimak benar maka ideologi negara kita bukanlah berupa satu uraian ilmiah
yang panjang akan tetapi lebih merupakan patok-patok yang membatasi koridor diantara
mana dinamika masyarakat kita sangat diharapkan berada diantaranya. Apabila dilihat dari
segi itu maka dapat juga ditafsirkan bahwa kelima sila tersebut lebih berupa sebagai uraian
cita-cita nasional daripada satu rangkuman pemikiran atau falsafah secara rinci dan ilmiah.
Sebagai satu kumpulan cita-cita ia harus dikejar dan diupayakan agar secara bertahap dapat
diwujudkan. Misalnya saja Sila Persatuan Indonesia, keadaan kita saat ini memang amat jauh
dari cita-cita itu, akan tetapi tidak berarti bahwa hal tersebut tidak dapat diwujudkan
dikemudian hari, entah kapan. Itulah cita-cita, yang pencapaiannya merupakan satu never
ending goal.
Dalam rangka pencapaian cita-cita tersebut diatas kita sekalian seluruh bangsa
dihadapkan pada berbagai jenis kendala, pluralisme masyarakatnya, konfigurasi geografis
maupun keadaan dinamika lingkungan strategis yang dampaknya tidak mungkin diabaikan.
Oleh karena itu berbagai prasyarat harus dipenuhi agar perjalanan pencapaian cita-cita
itu terjamin. Prasyarat semacam itu disebut geo-politik, yang bagi kita dirumuskan secara
singkat dalam bentuk Wawasan Nusantara.
Pada intinya Wawasan Nusantara mengisyaratkan perwujudan kesatuan politik,
ekonomi, sosial-budaya dan hankam sebagai satu prasyarat seutuhnya. Makna
sesungguhnya akan pentingnya inti sari geoppolitik kita itu amat terasa pada saat menjelang
maupun setelah berakhirnya Orde Baru dimana seakan-akan segala bentuk kesatuan (dan juga
persatuan) ditenggelamkan dibawah emosi kesukuan, keagamaan maupun kepolitikan.
Bahkan seolah-olah negara kesatuan pun akan ditelan habis oleh emosi tersebut.
Apakah kita lalai melaksanakan nation and character building sehingga kefahaman
tentang kebangsaan dan negara bangsa dikalangan generasi muda sama sekali tidak ada
bekasnya.
Ataukah sistem pendidikan kita telah mencair, dan yang tinggal hanyalah sekadar
sistem pengajaran saja (dan itupun dalam kondisi yang memerlukan perhatian besar).
Apapun juga penyebabnya atas kejadian-kejadian saat itu, nyatanya bangsa dan
negara kita telah terpuruk dalam pergaulan antar bangsa dan terkesan tentang adanya
kemerosotan etik dan moral yang ditandai antara lain oleh saling membunuh sesama anak
bangsa.
Keterpurukan ini menandakan bahwa apabila prasyarat geo-politik tidak terpenuhi
maka janganlah diharapkan cita-cita proklamasi akan tercapai.
Apabila kita telusuri lebih jauh lagi maka dapatlah difahami bahwa setelah prasyarat
dipenuhi maka diperlukan satu metode umum atau strategi guna mewujudkan cita-cita diatas.
Metode tersebut dinamakan geo-strategi, yaitu satu strategi dalam memanfaatkan kondisi
lingkungan didalam upaya mewujudkan tujuan politik (cita-cita nasional).
Sedangkan upayanya itu sendiri akan terwujud sebagai program-program di dalam
pembangunan nasional. Bagan berikut menunjukan tatanan dan sekaligus tataran pemikiran
yang ada mulai dari ide tentang kekeluargaan dan kebersamaan hingga metode pelaksanaan
pembangunan.
Geo-strategi Indonesia dirumuskan dalam bentuk Ketahanan Nasional yang unsur-
unsur utamanya terdiri dari kualita keuletan dan kualita kekuatan/ketangguhan.
Keuletan sesungguhnya merupakan satu kualita integratif yang menunjukan adanya
kebersamaan diantara sesama komponen yang dijiwai oleh semangat kekeluargaan. Keuletan
diperlukan dalam menghadapi tantangan/tekanan dari luar yang harus dihadapi secara elastis
konsisten dan berlanjut.
Tanpa adanya kualita keuletan maka jaringan sosial masyarakat akan retak, atau
bahkan putus, apabila dihadapkan pada tantangan/tekanan yang berkepanjangan. memerlukan
keuletan masyarakat agar tidak terjadi hal-hal yang mengakibatkan perpecahan dalam
masyarakat karena masyarakat memiliki “kelenturan” yang mampu meng-absorbir tekanan
kesulitan ekonomi.
Memang, keuletan masyarakat dapat diandaikan dalam bahasa mekanika seolah-olah
sebagai koefisien kelenturan pegas, yang sudah barang tentu memiliki ambang batas, diatas
mana tekanan dari luar tidak lagi dapat ditahan dan pegaspun akan kehilangan kelenturannya
dan patah.
Sebaliknya, unsur kekuatan/ketangguhan merupakan kemampuan untuk tumbuh dan
berkembang dari masyarakt bangsa ke arah tata kehidupan yang lebih baik dikemudian hari.
Semakin tinggi kualita/ketangguhan maka semakin besar pula tekanan yang dapat ditahan
dan dilawan tanpa adanya kualita ini masyarakat akan stagnan, dan apabila hal ini terjadi
maka lama kelamaan akan mundur dimakan waktu.
Kekuatan atau ketangguhan untuk berkembang merupakan kualita kemampuan yang
harus memiliki setiap masyarakat bangsa, sebab kebutuhan dan kepentingan meningkat setiap
saat sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk maupun tingkat kesejahteraannya.
Tiap generasi anak bangsa mengharapkan, dan ini sangat wajar, bahwa kehidupannya
dikemudian hari lebih baik dari generasi diatasnya. Ini adalah sikap positif terhadap
kemampuan bangsa secara keseluruhan karena dengan demikian tiap generasi termotivasi
secara positif untuk mengembangkan dirinya sejalan dengan tuntutannya sendiri. Pemenuhan
kebutuhan itu merupakan bagian dari penciptaan rasa aman dan keamanan (sekuriti) bangsa.
Namun demikian dalam pencapaian cita-cita itu satu masyarakat bangsa tidak berada dalam
ruang hampa, melainkan berada ditengah-tengah masyarakat kawasan (atau sub-kawasan)
disekitarnya. Karena itu pencapaian cita-cita harus didasarkan atas pertimbangan lingkungan,
apalagi dalam zaman global yang tanpa batas ini.
Selain dari itu perlu juga disadari bahwa peningkatan keamanan, dari sisi militer,
untuk pengamanan satu bangsa pada dasarnya dapat meningkatkan rasa tidak aman (in-
security feeling) dari bangsa sekitarnya sehingga kesadaran ruang amat diperlukan.
Singkatnya dalam upaya pembangunan nasional, geopolitik dan geostrategi harus
dijadikan pedoman yang tidak boleh sekali-kali dilupakan, tidak hanya oleh para perencana
saja akan tetapi oleh kita sekalian seluruh anak bangsa.
BAB II
GEOSTRATEGI INDONESIA

A. Definisi Geostrategi
Geostrategi berasal dari kata geografi dan strategi. Geografi
merujuk kepada ruang hidup nasional, wadah atau tempat hidupnya
bangsa dan negara Indonesia. Strategi diartikan sebagai ilmu dan seni
menggunakan semua sumber daya bangsa untuk melaksanakan
kebijaksanaan tertentu dalam keadaan perang maupun damai. Bangsa
Indonesia memandang geostrategi sebagai strategi dalam memanfaatkan
keadaan atau konstelasi geografi negara Indonesia untuk menentukan
kebijakan, tujuan dan sarana-sarana guna mewujudkan cita-cita
proklamasi dan tujuan nasional bangsa Indonesia
Pada awalnya geostrategi diartikan sebagai geopolitik untuk kepentingan militer atau
perang. Di Indonesia, geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita
proklamasi, sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,
melalui proses pembangunan nasional. Karena tujuan itulah maka ia menjadi doktrin
pembangunan dan diberi nama Ketahanan Nasional. Geostrategi Indonesia memberikan
arahan tentang bagaimana membuat strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan
yang lebih baik, lebih aman, dan sebagainya.

B. Peran Geostrategi Indonesia


Geostrategi Indonesia berawal dari kesadaran bahwa bangsa dan negara ini
mengandung sekian banyak anasir-anasir pemecah belah yang setiap saat dapat meledak dan
mencabik-cabik persatuan dan kesatuan bangsa. Dalam era kepemimpinan B.J. Habibie
dapat disaksikan dengan jelas bagaimana hal itu terjadi beserta akibatnya. Tidak hanya itu
saja, tatkala bangsa kita lemah karena sedang berada dalam suasana tercabik-cabik maka
serentak pulalah harga diri dan kehormatan dengan mudah menjadi bahan tertawaan di forum
internasional. Disitulah ketidakberdayaan kita menjadi tontonan masyarakat internasional,
yang sekaligus, apabila kita sekalian sadar, seharusnya menjadi pelajaran berharga.
Apabila dikehendaki agar hal itu tidak akan terulang lagi, maka jangan sekali-kali
memberi peluang pada anasir-anasir pemecah belah untuk berkesempatan mencabik-cabik
persatuan dan kesatuan nasional. Sentimen SARA yang membabi buta harus ditiadakan,
yang mayoritas harus berlapang dada sedangkan minoritas haruslah bersikap proporsional
tanpa harus mengurut dada. Sekali lagi terbukti bahwa pemimpin yang kuat dan disegani
serta mengenal betul watak dari bangsa Indonesia amatlah diperlukan.
Dilain pihak masyarakat perlu menjadi arif serta pandai menahan diri dalam
menghadapi provokasi maupun rongrongan/iming-iming melalu money politics. Atas dasar
adanya ancaman yang laten, terutama dalam bentuk SARA, maka geostrategi Indonesia
sebagai doktrin pembangunan mengandung metode pembentukan keuletan dan pembentukan
ketangguhan bangsa dan negara. Kedua kualita yang harus dibangun dan dimanfaatkan
secara konsisten itu tidaklah hanya ditujukan kepada individu warga bangsa akan tetapi juga
kepada sistem, lembaga dan lingkungan.
Masyarakat bangsa berikut segala prasarananya harus terus dibina keuletannya agar
mampu memperlihatkan stamina dalam penangkalan terhadap anasir-anasir pemecah belah
bangsa dan negara. Dapat diantisipasikan bahwa hanya anasir-anasir tersebut bersifat laten
atau hadir sepanjang masa, maka aspek atau kualita keuletan haruslah dikedepankan.
Pembinaannyapun perlu berlanjut agar setiap generasi yang muncul faham akan pentingnya
kedua kualita tersebut.
Kita dapat saksikan bersama bahwa tiap generasi baru merupakan lahan yang subur
bagi upaya-upaya yang tidak sejalan dengan visi kebangsaan, dan ini tidak hanya terjadi di
Indoensia saja. Kemajuan yang bersifat kebendaan, apalagi yang datang dari luar, saat ini
lebih memiliki daya tarik terhadap generasi muda dibandingkan dengan hal-hal yang sifatnya
falsafah dan konsepsional.
Dilain pihak masyarakat harus dibina ketangguhan/kekuatannya agar secara aktif serta
efektif mampu menghadapi bahaya/ancaman yang sifatnya laten tadi. Setidak-tidaknya
secara bergotong-royong dalam lingkungannya masing-masing mampu menangkal
ancaman/bahaya laten itu.
Ketangguhan/kekuatan antara lain dapat berupa keberanian dari massa masyarakat
menghadapi apa saja yang mereka anggap dapat berpotensi sebagai anasir pemecah belah
bangsa. Ini tentu memerlukan kebersamaan dan kekompakan agar lebih efektif sebagai
kekuatan penangkalan.

C. Integrasi Bangsa
Integrasi bangsa adalah pemaduan berbagai unsur kekuatan bangsa ke dalam satu jiwa
kebangsaan dengan aspirasi berbangsa dan bernegara yang sejalan dengan ketentuan
konstitusi. Proses integrasi bangsa adalah unik bagi tiap masyarakat bangsa yang sangat
tergantung pada sejarah serta ciri budayanya.
Bagi masyarakat bangsa yang majemuk tetapi homogen, seperti Amerika, proses
integrasi dilaksanakan dengan metode melting pot. Mengapa demikian, karena pada
masyarakat Amerika tidak ada satupun kelompok masyarakat yang “berhak” mengklaim satu
wilayahpun sebagai tempat tinggal nenek moyang mereka, terkecuali suku Indian, karena
hampir semuanya berasal dari keturunan imigran.
Tidaklah mengherankan apabila sebagai akibat tidak adanya ikatan historis maupun
psikologis kepada wilayah maka sentimen “kedaerahan” atau “kewilayahan” tidak terjadi.
Hal yang menguntungkan ini membuat setiap warga negara Amerika, apapun juga asal
keturunannya dapat ditempa menjadi satu dalam satu kancah apapun dan dimanapun.
Memang seorang Gubernur satu negara bagian harus dipilih diantara warga negara
bagian itu akan tetap tidak harus dipilih diantara mereka yang dilahirkan dinegara bagian
yang bersangkutan. Disini sama sekali telah ada sentimen kedaerahan tersangkut.
Lain halnya dengan Indonesia yang masyarakatnya majemuk tetapi heterogen, metode
melting pot tidak dapat dilakukan. Tiap suku memiliki kaitan historis dan psikologis dengan
daerah tempat tinggal nenek moyangnya. Daerah pulau Bali seakan-akan menjadi “milik”
orang Bali dan bukan “milik” warga pulau Bali karena itu hanya orang Bali saja yang dapat
dicalonkan menjadi Gubernur Bali.
Logika lanjutannya adalah bahwa hanya orang Bali saja yang bisa dan mampu
memahami budaya, adat istiadat maupun agama di daerah itu. Metode melting pot kadang-
kadang juga tidak dapat diterapkan hanya pada tataran antara propinsi saja, akan tetapi
kadang-kadang antara Kabupaten di dalam satu propinsi juga sukar.
Sangat boleh jadi ini adalah warisan zaman penjajahan dahulu yang kita sekalian alpa
menanganinya. Pada zaman Belanda tapak kultur, satu suku bangsa dijadikan propinsi,
sedangkan tapak sub kultur dijadikan karesidenan.
Demikian politik devide et impera diterapkan menjadi geopolitik kolonial untuk
menciptakan sentimen kedaerahan dan apabila memungkinkan didorong menjadi gesekan
antar masyarakat pada wilayah sub kultur atau kultur.
Sayangnya geopolitik kolonial ini diwarisi, diteruskan dan malah diperberat lagi,
misalnya Propinsi Sunda Kecil dimekarkan lagi Propinsi NTT dan NTB, kemudian
dimekarkan lagi menjadi NTT, NTB dan Bali. Kini Maluku menjadi dua propinsi di Irian
Jaya menjadi tiga propinsi; dan apalagi dikemudian hari.
Alasan yang digunakan adalah efisiensi manajerial dikaitkan dengan luas wilayah.
Disini jelas nampak bahwa aspek geopolitik tidak diperhatikan, oleh karena itu pemekaran
wilayah administratif pemerintahan akan sekaligus merupakan empat penyamaian bibit
pertentangan sosial.
Kalau pendekatan melting pot tidak dapat diterapkan maka selayaknyalah kita
kembali pada ide kesatuan yang diletakkan oleh para pendiri Republik ini, yaitu pendekatan
kekeluargaan yang disublimasikan menjadi azas kekeluargaan dan bahkan dalam negara
kekeluargaan. Inilah sesungguhnya merupakan turunan (derivative) dari
harmoni/keseimbangan.
Didalam satu keluarga maka kepentingan keluarga harus mendahului atau
didahulukan daripada kepentingan anggota keluarga sebagai individu. Kepentingan nasional
harus didahulukan dari kepentingan propinsi; dan pada gilirannya kepentingannya propinsi
didahulukan ketimbang kepentingan Kabupaten. Demikian seterusnya secara berjenjang
yang pada ujungnya terbawah berupa kepentingan individu yang harus disubkoordinasikan
pada kepentingan umum. Itulah idealnya.
Dalam masyarakat heterogen dan majemuk yang berazaskan kekeluargaan, kualita
keuletan diwujudkan dalam bentuk kait mengait secara integratif (bukan secara agregratif)
menjadi jaringan kepentingan yang hierarkhis dan berjenjang. Dengan demikian
mengupayakan terwujudnya jaringan integratif (dalam semangat gotong-royong) secara
berjenjang dan berhierarkhi berskala nasional adalah geostrategi Indonesia untuk
mewujudkan dan sekaligus mempertahankan integrasi bangsa. Sedangkan kualita
ketangguhan/kekuatan diwujudkan melalui perkuatan dari tiap entity atau pelaku integrasi
bangsa.
Hal itu diwujudkan melalui pendekatan kekuasaan (dan distribusi kekuasaan) yang
terkandung dalam geopolitik, yaitu yang berupa desentralisasi dan dikonsentrasi secara penuh
dan konsekuen. Bilamana perkuatan ini dilaksanakan secara bersungguh-sungguh dan
konsisten, ada kemungkinan tidak perlu terburu-buru mengadakan pemekaran wilayah
administratif.
Dalam era globalisasi ini muncullah tantangan baru yang lebih “soft” atau “canggih”
yang berupa dengungan ilmiah bahwa negara bangsa atau nation state seperti Indonesia
sudah tidak memadai lagi, dan harus diganti dengan bentuk lain, misalnya berupa negara
suku (ethnic state), negara kepentingan (corporate state), negara agama (religious state), dan
sebagainya.
Dalam alur pikir demikian itu, pemisahan Timor Timur dari Indonesia adalah normal
dan bukan malapetaka karena adanya kepentingan yang berbeda; demikian juga seandainya
terjadi pemisahan lainnya dimasa mendatang. Satu pertanyaan yang perlu dipikirkan
jawabannya adalah: “Apakah masuknya alur pikir diatas ke Indonesia sekadar merupakan
konsekuensi globalisasi ataukah merupakan subversi yang terencana global?”
Geostrategi Indonesia adalah metode yang harus digunakan dalam pencarian jawaban
atas pertanyaan diatas. Sebab, bentuk-bentuk negara sebagai alternatif negara-bangsa
mempunyai konsekuensi ruang, kekuasaan maupun budaya yang berbeda.
Apapun jawabannya, berbagai bentuk negara yang tidak sejalan dengan kesepakatan
para pendiri Republik merupakan pengingkaran terhadap komitmen bersama yang sekaligus
menjadi ciri jatidiri bangsa. Disitulah diperlukan keuletan bangsa.

D. Disintegrasi Bangsa
Secara harfiah disintegrasi bangsa bermakna hilangnya kaitan integratif antar unsur-
unsur kekuatan bangsa, sehingga hubungan menjadi longgar dan pada gilirannya azas
kekeluargaan ditinggalkan. Selama periode antara menjelang Pemilu 1999 hingga selesainya
Sidang Umum MPR merupakan periode di mana para elit politik mendemonstrasikan secara
vulgar cara-cara menyulut disintegrasi bangsa.
Bila dilihat dari segi geopolitik dan geostrategi maka anasir disintegrasi dapat
dibedakan antara anasir luar dan dalam negeri.
1. Anasir Luar
Sejak runtuhnya Uni Soviet, Barat muncul sebagai pemenang ideologi dan sekaligus
merasa sebagai pemenang “budaya”. Dalam suasana ephoria semacam itu muncullah
keyakinan dalam masyarakat Barat bahwa nilai-nilai yang mereka anut adalah superior dan
harus dipaksakan ke seluruh jagat raya dengan rumusan bahwa sistem nilai yang mereka anut
memiliki kebenaran dan karenanya juga validitas universal. Sebagai contoh salah satu tujuan
strategi Amerika Serikat di kawasan Asia Pasifik adalah mendorong dan mendukung proses
demokratisasi (tentu saja demokratisasi sesuai dengan yang berlaku di sana).
Ini adalah bagian dari dokumen Pentagon yang logikanya hanya berwarna militer.
Sudah barang tentu tujuan itu dapat dijabarkan menjadi tindakan nyata dalam bentuk terbuka
maupun tertutup (subversi) dengan menghalalkan segala cara, dan yang paling murah dan
kecil resiko fisiknya adalah melalui uang.
Tindakan terbuka antara lain memberikan bantuan peningkatan kualitas SDM
Indonesia, khususnya generasi muda, melalui penyediaan informasi secara luas dan terbuka,
bantuan pendidikan di luar negeri, pertukaran siswa, tenaga professional, dan sebagainya.
Upaya terbuka ini dengan sangat mudah ditumpangi dengan muatan kebebasan berfikir dan
mengemukakan pendapat, supremasi budaya Barat, dan sebagainya.
Bahkan pertukaran misi kebudayaanpun dapat dijadikan wahana yang baik untuk
maksud tersebut; apalagi film atau sinetron. Sedangkan tindakan tertutup, antara lain bisa
berupa pengadudombaan antar kekuatan dalam masyarakat, mempengaruhi pemilihan pejabat
penting (apalagi jabatan Presiden), perumusan kebijaksanaan dan sebagainya.
Usaha merekapun mendapat dukungan berbagai peluang dalam melancarkan tindakan
subversi, antara lain adanya bibit pertentangan yang multi dimensional di dalam negeri,
adanya kebiasaan korupsi dan money politics, dan sebagainya, serta ditambah lagi dengan
adanya kenyataan bahwa aparat intelegen serta TNI sedang terus dihujat sehingga tumpul
sekali.
Pertanyaan lanjutannya adalah : “Apakah Indonesia akan selalu menjadi sasaran
intervensi dan subversi asing?” Jawabnya “ya”, karena beberapa hal:
a. Secara geopolitik, Indonesia “menduduki” Sea Lines of Communication (SLOC) atau
alur pelayaran vital diantara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia, sehingga Indonesia
harus dibuat pro-Barat dan sekurang-kurangnya akomodatif terhadap kepentingan barat.
Terlebih lagi diantara 7 (tujuh) selat strategis dunia, 4 (empat) berada dalam wilayah
kedaulatan Indonesia. Tentu, menurut pandangan geopolitik Alfred Thayer Mahan
Indonesia memiliki bargaining power yang kuat berupa checke-points dalam
pengendalian lalu lintas laut yang melewati SLOC.
b. Dalam suasana kecemasan pihak Barat terhadap perkembangan Islam yang dashyat,
mereka melihat Indonesia merupakan negara yang moderat. Karena itu ada kepentingan
menjaga Indonesia, agar tetap moderat dan bersahabat. Untuk itu harus dilakukan
berbagai bentuk subversi.
c. Potensi Indonesia sebagai penjuru Asean (atau memiliki Power Position di Asia
Tenggara), dengan luas wilayah ½ (setengah) dari seluruh wilayah Asia Tenggara.
“Memegang” Indonesia berarti “memegang” Asean dan ini merupakan aset politik yang
luar biasa dalam rangka membendung pengaruh Cina yang oleh pihak Barat
dipersepsikan sebagai ancaman masa depan.
Karena itulah kita sekalian tidak boleh naif, dengan mengganggap bahwa dalam
pemilihan Presiden tidak akan ada intervensi dari pihak luar. Indonesia terlalu “berharga”
untuk dibiarkan jatuh ke dalam lingkaran sphere of influence yang tidak/kurang bersahabat
dengan Barat.

A. Strategi Geostrategi
Dalam menghadapi anasir-anasir luar perlu disusun satu geostrategi dengan
memperhatikan adanya kenyataan bahwa dunia telah saling terkait satu sama lain dengan
derajat transparansi yang semakin tinggi. Geostrategi itu juga dilandasi dengan kesadaran
bahwa Ketahanan Nasional saja tidaklah cukup untuk menjamin rasa aman rakyat maupun
kelangsungan pembangunan nasional, apabila tidak didukung oleh Ketahanan Regional. Atas
dasar itu maka geostrategi Indonesia secara stereoskopis berbentuk sebagai satu Kerucut
Ketahanan.
Kerucut Ketahanan pada dasarnya merupakan satu arsitektur kerjasama, yang pada
bidang dasarnya adalah visualisasi kerjasama spasial sedangkan pada bidang vertikalnya
adalah visualisasi dari kerjasama struktural yang terproyeksikan secara kawasan. Kerucut
Ketahanan harus dibina secara bersama-sama agar manfaatnya dapat terwujud yaitu berupa
“penyangga” atau “selubung” bagi Ketahanan Nasional kita. Arsitektur demikian ini adalah
representasi dari kesadaran ruang yang harus terus dihidupkan agar dapat menjadi acuan visi
politik luar negeri, termasuk politik perekonomian dan politik pertahanan.
Ketahanan tingkat regional, dimana unsur para pelakunya merupakan negara-negara
berdaulat hanya bisa terwujud apabila terdapat saling percaya, saling menghormati yang
diwujudkan dalam bentuk kerjasama se-erat-eratnya atas dasar manfaat bersama.
Kebersamaan yang multi-dimensional ini meliputi bidang politik, ekonomi, kebudayaan dan
keamanan. Mengingat luasnya ruang yang ada maka arsitektur kerjasama diwujudkan secara
tiga dimensional sebagai berikut :
a. Spasial
Secara spasial, ruang kepentingan dibagi menjadi Kawasan Strategis Utama,
Kawasan Strategis pertama, Kawasan Strategis kedua dan ketiga. Masing-masing
kawasan strategis memiliki dampak yang berbeda terhadap Ketahanan Nasional kita.
Adalah Asean / Asia Tenggara (Kawasan A) yang kita anggap memiliki dampak
paling langsung seandainya terjadi apa-apa di dalam kawasan tersebut. Oleh karenanya,
kepentingan kita amat vital untuk menciptakan kebersamaan dalam kawasan ini. Karena
itu seyogyanyalah kawasan Asean atau proses Asean pada umumnya dijadikan “corner
stone“ dari politik Luar Negeri Indonesia. Demikianlah seterusnya dengan kawasan-
kawasan berikutnya yaitu B dan C yang memiliki tingkat kesegeraan dari dampak yang
timbul di masing-masing kawasan terhadap Indonesia.
b. Fungsional
Secara fungsional/vertikal, ruang kepentingan dibagi menjadi ruang kerjasama
yang saling mendukung dengan ruang kerjasama sub-regional (misalnya Asean) dan
pada gilirannya juga harus saling mendukung dengan ruang kerjasama regional
(misalnya APEC, ARF dan sebagainya). Kita mengetahui bahwa tiap anggota Asean
menjalin kerjasama bilateral dengan banyak negara ataupun secara multilateral. Akan
tetapi, mengingat tiap anggota Asean mematuhi traktat Asean dan TAC, maka diharap
atau bahkan dapat diasumsikan bahwa berbagai kerjasama yang dilakukan tidak
merugikan Asean ; dan bahkan memperkokoh posisi Asean. Demikian juga pada
gilirannya tiap anggota Asean juga menjadi anggota ARF maupun APEC, maka
diharapkan kedua forum dalam cakupan ruang yang berbeda luasnya itu dapat saling
menunjang dan menambah kredibilitas Asean.
Apabila pembentukan kerucut ketahanan merupakan geostrategi Indonesia
didalam menangkal anasir-anasir luar, maka didalamnya harus dilandasi oleh saling
percaya dan saling menghargai tadi. Untuk itu, Ketahanan Regional pada arsitektur
kerucut pada dasarnya memiliki unsur-unsur sebagai berikut :
1) Ketahanan Nasional
Tiap negara di dalam kerucut perlu diupayakan se-optimal mungkin, agar
dapat memberikan kontribusi positif pada kawasannya. Asumsinya adalah bahwa
hanya dengan Ketahanan Nasional yang baik sajalah satu negara akan dapat
memberikan peran yang bermakna pada kawasan. Sebaliknya, apabila in-stabilitas
politik dan ekonomi terus mengguncang satu negara mana mungkin negara
bersangkutan menyisakan waktu untuk menopang kepentingan kawasan.
2) Komitmen Asosiasi
Komitmen terhadap asosiasi negara sekawasan haruslah utuh dan konsisten
(misalnya sesuai TAC) agar dengan demikian kepentingan bersama (misalnya saja
Asean) tidak disubordinasikan pada kepentingan lainnya (misalnya saja kepentingan
FPDA). Komitmen terhadap Asean akan menguat apabila organisasi ini dapat
memberikan manfaat bagi anggotanya ; setidak-tidaknya mampu memberikan
exposure internasional yang bergengsi. Sebaliknya apabila kemanfaatan rendah
(seperti SAARC) maka jangan diharapkan terwujud komitmen yang solid. Disini
nampak bahwa manakala komitmen bagus dari seluruh anggota asosiasi, maka
kawasan yang bersangkutan tidak akan kondusif bagi persemaian anasir-anasir negatif
bagi tiap negara anggota.
3) Kualitas Interaksi
Kualitas Intraksi antar anggota asosiasi yang komponen-komponennya adalah tingkat
kerjasama (dalam arti kualitasnya) dan kemauan untuk mengakomodasikan
kepentingan negara anggota lainnya di dalam kebijaksanaan nasional. Terutama yang
terakhir ini, ia hanya dapat terwujud apabila sudah terjalin rasa saling percaya.
Sebagai contoh : kepentingan Singapura untuk menjamin keselamatan penerbangan
dari dan ke Singapura telah diakomodasikan oleh Indonesia dalam bentuk pemberian
delagasi atas sebagian FIR Indonesia. Selain saling percaya, kualitas interaksi juga
menunjukkan adanya komitmen yang kuat.
4) Kemampuan Adaptasi
Kemampuan adaptasi dari asosiasi terhadap fluktuasi maupun arus perkembangan
lingkungan. Sesungguhnya hal ini merupakan indikator terhadap kualitas
kebersamaan yang telah terjalin.

1. Anasir Dalam
Modernisasi disegala bidang ternyata telah memperlebar irisan pemilahan (social
cleavage) ditengah-tengah masyarakat; sesuatu yang selalu menjadi kekhawatiran dan obsesi
para pendiri Republik. Mulai dari pemilihan bahasa nasional, yang bukan berasal dari bahasa
daerah suku yang mayoritas dapat merupakan unsur integratif karena tidak lagi suku bangsa
ini. Kita harus selalu ingat dan waspada bahwa bangsa kita menegara adalah berkat
kesepakatan, karena itu tidaklah tepat apabila demi kemajuan demokrasi (agar mendapatkan
pujian dari luar negara) semua kesepakatan diabaikan.
Kerawanan yang melekat pada diri bangsa setiap saat dapat mengemuka menjadi
unsur disintegratif yang mematikan, mereka antara lain adalah:
a. Ketimpangan pertumbuhan antara Indonesia bagian barat dengan pertumbuhan bagian
timur; dan juga antara Jawa dengan luar Jawa. Sesungguhnya hal ini bukan merupakan
kesengajaan pemerintah (sejak zaman kolonial) akan tetapi dapat dipersepsikan secara
keliru bahwa ada unsur kesengajaan dari pihak Pusat untuk menelantarkan daerah-daerah
yang kurang maju. Lebih buruk lagi, ketimpangan yang terjadi diinterpretasikan sebagai
ketidakadilan pemerintah Pusat. Bukankah hal ini pernah memicu berbagai jenis
pemberontakan bersenjata dimasa lalu? Apa yang terjadi di Aceh, Maluku dan Irian Jaya
adalah merupakan pengulangan dari yang pernah terjadi, atau dapat juga dikatakan
bahwa Pusat tidak pernah belajar dari kesalahan masa lalunya. Padahal kalau dilihat
secara jernih, faktor curah hujan yang lebih banyak, tanah yang lebih subur, tersedianya
tenaga terampil yang cukup mendorong Indonesia bagian barat lebih mudah
berkembang. Sedangkan untuk masalah pemasaran, jumlah penduduk yang besar
merupakan sesuatu hal yang mendorong kegiatan perekonomian yang lebih cepat dari di
timur; belum lagi sistem sirkulasi yang baik untuk distribusi dalam negeri maupun untuk
eksport. Akan tetapi memang harus diakui bahwa kenyataan-kenyataan semacam ini
akan selalu terbenam dibawah timbunan kemarahan terhadap pemerintah pusat apalagi
kalau dicampuri oleh kehadiran para provokator seperti di Ambon dan tempat-tempat
lainnya. Rasa tentang adanya ketidakadilan (belum tentu seluruhnya benar) ditangan
para petualang poitik dapat memicu konflik SARA yang memang merupakan social
clearage bangsa kita.
2) Mencairnya perekat kesatuan dan persatuan bangsa dibawah tekanan globalisasi dan
modernisasi yang lebih mengedepankan hal-hal yang bersifat kasat mata.
Kemajuan yang antara lain ditandai oleh GNP, Income per capita, produktivitas dalam
ton/jam atau ton/luas tanah, dan sebagainya, tidaklah mudah untuk memompakan hal-hal
yang sifatnya mental ideologis. Terlebih lagi dengan tingkah laku para remaja yang
sangat menggandrungi budaya global, maka masa depan wawasan kebangsaan sebagai
perekat sosial kelihatannya tidak terlalu menggembirakan; apalagi kalau dikaitkan
dengan adanya kenyataan bahwa lembaga pendidikan hanya menyuguhkan pengajaran
saja. Keadaan semacam ini membuka peluang yang amat luas bagi kemerosotan
kedaulatan bangsa didalam menghadapi tantangan mendatang yang antara lain berbentuk
individualisme yang sangat diametral dengan azas kekeluargaan. Tidaklah terlalu
mengherankan bahwa rasa dilibas oleh logika dalam kaitannya dengan Pancasil, antara
dengan mengatakan bahwa ideologi bukanlah merupakan salah satu syarat bagi
berdirinya satu negara karena itu buat apa dipertahankan, apalagi dikeramatkan. Itulah
kira-kira argumentasi dari generasi mendatang yang hidup dalam dunia tanpa batas.
3) Primordialisme sebagai strategi politik dengan tujuan untuk menekan lawan atau
pemaksaan kehendak. Ini adalah pemanfaatan secara licik kerawan bangsa yang amat
mengkhawatirkan oleh kelompok politik yang tidak yakin bahwa tujuan politiknya dapat
tercapai, apapun penyebabnya.
Pada saat kampanye pemilu tiba atau pada saat menjelang dan selama sidang umum
MPR maka terjadilah tontonan yang berupa pemanfaatan kelompok-kelompok
primordial sebagai pressure group dengan berbagai caranya. Ditingkat daerah terjadi hal
yang sama pada saat pemilihan kepala daerah, terutama ditingkat satu. Apabila kejadian
semacam ini berlangsung lama atau dalam frekuensi yang semakin meninggi maka irisan
pemilahan sosial dapat berubah menjadi jurang lebar yang menghalangi persatuan dan
kesatuan bangsa.
Dengan memahami anasir-anasir dalam dan luar negeri seperti diuraikan diatas, maka
hal yang paling jelek bagi Indonesia adalah apabila anasir dalam ditumpangi oleh anasir luar.
Ada semacam kecurigaan bahwa hal itu bisa terjadi setiap saat apabila kondisi didalam negeri
diwarnai oleh konflik politik berkepanjangan, dan rule of law tidak berjalan. Memahami itu
semua maka diperlukan satu strategi pembinaan masyarakat.
Strategi
Untuk mewujudkan pembinaan keuletan dan ketangguhan bangsa didalam
menghadapi tuntutan dan tantangan masa depan perlu disusun strategi sebagai berikut:
a. Jalur Pembinaan
1) Strategi pembinaan setiap individu, dimaksudkan untuk membentuk manusia
Indonesia seutuhnya yang berwawasan nasional, dilaksanakan dengan strategi 4
(empat) jalur, yaitu:
a) Jalur pembinaan keluarga, ditujukan untuk menjangkau para pemuda dan
remaja dalam menghayati norma-norma moralita bangsa didalam suasana
lingkungan keluarga.
Upaya ini diharapkan agar sejak awal dapat menanamkan masalah
kebangsaan, rasa kebangsaan serta kerukunan hidup berkeluarga dan
bermasyarakat.
b) Jalur pembinaan pendidikan, ditujukan untuk secara formal membina
keuletan dan ketangguhan yang diselaraskan dengan tingkat serta
perkembangan daya pikir serta pemikiran anak didik.
c) Jalur pembinaan lingkungan kerja ditujukan untuk menjangkau lapisan
masyarakat yang berada pada tingkatan umur kerja. Dengan
menggunakan pendekatan persuasif dan promotif terhadap pimpinan
lingkungan kerja secara tepat diharapkan jalur ini akan paling efektif.
Disini terdapat kesempatan untuk menjangkau secara luas setiap kepala
keluarga; sehingga keberhasilan pada jalur ini akan membantu jalur
pembinaan keluarga.
d) Jalur pembinaan lingkungan pergaulan, dimaksudkan untuk menjangkau
lapisan masyarakat yang tidak terjangkau melalui ketiga jalur pembinaan
lainnya.
2) Strategi pembinaan masyarakat dimaksudkan untuk mengendalikan agar
perkembangan masyarakat dan pergeserannya tidak menyimpang dari moralita
bangsa serta kondusif bagi terlaksanakannya kebijaksanaan pokok.
Strategi pembinaan 2 (dua) jalur mencakup:
a) Jalur pembinaan langsung, ditujukan untuk memperoleh hasil langsung
secara lebih cepat dengan menggunakan/melalui perangkat organisasi
pemerintahan, organisasi kemasyarakatan yang ada. Peranan pemerintah
sangat aktif dan besar dalam rangka pencapaian hasil segera. Metode
yang digunakan antara lain berupa tatap muka, pemerataan, pengaturan,
perijinan dan kewenangan-kewenangan lain yang dimiliki pemerintah.
b) Jalur pembinaan tidak langsung, ditujukan untuk merangsang dan
menumbuh-kembangkan kesadaran masyarakat. Penumbuhan motivasi
ini dilaksanakan melalui media massa, tokoh-tokoh pimpinan informasi,
ormas serta orpol dan sebagainya.
3) Strategi Pembinaan Kelembagaan
Pembinaan kelembgaan dimaksudkan untuk menciptakan kelancaran
pembangunan nasional dan dengan demikian juga pemantapan dan peningkatan
Ketahanan Nasional.
Keberhasilan pembangunan nasional hanya mungkin diwujudkan manakala
lembaga-lembaga yang terlibat dalam pembangunan nasional yang terancam
secara komprehensif integral.
Strategi pembinaan kelembagaan ditempuh melalui 2 (dua) jalur yaitu:
a) Jalur pembinaan perangkat lembaga, ditujukan untuk meningkatkan
kemampuan setiap lembaga yang terlibat dalam proses pembangunan
pada semua aspek berbangsa dan bernegara.
Termasuk didalamnya adalah pengembangan kelengkapan personil,
keahlian personil, mekanisme kerja dan memantapkan koordinasi vertikal,
horizontal dan diagonal.
Pemantapan peranan tiap lembaga juga mendapatkan prioritas
pembinaannya agar terwujud semua mata rantai lembaga yang utuh.
b) Jalur pembinaan kemampuan manajerial, ditujukan untuk meningkatkan
kemampuan manajerial tiap pejabat pemerintah maupun swasta di dalam
bidang pekerjaan masing-masing.
Khusus untuk sektor swasta pembinaan kemampuan manajerial ini juga
ditujukan untuk menumbuhkan kewiraswataan dikalangan masyarakat.
4) Strategi Pembinaan Lingkungan
Pembinaan lingkungan dimaksudkan untuk menciptakan lingkungan yang
kondusif terhadap pembangunan nasional maupun terhadap kehidupan
masyarakat.
Strategi pembinaan 2 (dua) jalur meliputi:
a) Jalur pembinaan dampak positif dari lingkungan guna menciptakan dan
memperbesar peluang-peluang yang bermanfaat bagi upaya pembangunan
maupun bagi kehidupan dan penghidupan masyarakat.
b) Jalur penggalangan dampak negatif dari lingkungan untuk menekan
akibat dari dampak negatif tersebut agar tetap berada dibawah ambang
toleransi keamanan dan pengamanan.