P. 1
Serial Tafsir - Tafsir Surah Al-Fath

Serial Tafsir - Tafsir Surah Al-Fath

|Views: 1,797|Likes:
Dipublikasikan oleh Nailul
Keutamaan perjanjian Hudhaibiyyah, Langkah-langkah strategis harakah-Islamiyyah pada masa Nabi SAW menjelang Mihwar-Daulah
Keutamaan perjanjian Hudhaibiyyah, Langkah-langkah strategis harakah-Islamiyyah pada masa Nabi SAW menjelang Mihwar-Daulah

More info:

Published by: Nailul on Mar 01, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/13/2013

pdf

text

original

al-ikhwan.

net











Serial Tafsir
TAFSIR
SURAH AL-FATH
Langkah Langkah Langkah Langkah- -- -Langkah Strategis Harakah Langkah Strategis Harakah Langkah Strategis Harakah Langkah Strategis Harakah- -- -Islamiyyah Pada Masa Islamiyyah Pada Masa Islamiyyah Pada Masa Islamiyyah Pada Masa
Nabi SAW Menjelang Mihwar Nabi SAW Menjelang Mihwar Nabi SAW Menjelang Mihwar Nabi SAW Menjelang Mihwar- -- -Daulah Daulah Daulah Daulah
















ABi abdullaah


al-ikhwan.net
KEUTAMAAN PERJANJIAN HUDHAIBIYYAH


1. '-=-- = Yang dimaksud dengan Fath dalam ayat ini yaitu Hudhaibiyyah (nota
kesepahaman perdamaian kaum muslimin dengan kaum musyrikin Quraisy). ALLAH
SWT menjanjikan kemenangan yang lebih besar lagi setelahnya, yaitu Fathul Makkah.
Berkata Imam Az-Zuhri, "Tidak ada kemenangan yang lebih besar dari tercapainya
Shulhu (perdamaian) Hudhaibiyyah, dan kemenangan dalam ayat ini disebutkan dalam
bentuk fi'il-madhi (menunjukkan wajib/pasti atasnya)."
2. 4- :-·-- = Bahwa jihadmu di Hudhaibiyyah tersebut, wahai Muhammad SAW, (yang di
kemudian hari akan menyebabkan peristiwa Fathu Makkah) itu menyebabkan turunnya
maghfirah dan pahala yang besar bagi kalian. Ayat ini juga menjadi dalil bahwa jihad
menjadi wasilah turunnya ampunan ALLAH SWT [1]. Dan ada juga syawahid atas hadits
ini [2].
3. :='- '-و م--- '- = Secara balaghah, ayat ini menunjukkan bahwa antara keduanya ada
banyak tingkatan dosa-dosa manusia, yang keseluruhannya akan diampuni semuanya oleh
ALLAH SWT. Ayat ini juga menjadi dalil adanya ke-ma'shum-an di kalangan para Nabi
AS, yaitu pengampunan semua dosa, baik besar maupun kecil. Dan penyebutan dosa Nabi
SAW di sini sebagian mufassir menafsirkannya sebagai pahala para Al-Abrar dan
kekurangan dari para muqarrabin (bukan sebagaimana dosa-dosa kita) [3].
4. ª--·- ---و = Yaitu disempurnakan ni'matNYA, melalui pengampunan dosa-dosamu,
wahai Muhammad, serta akan tingginya bendera Islam di bawah kakimu kelak, sehingga
berkumpulnya dunia (kekuasaan politik) dan akhirat (ibadah mahdhah) pada dirimu
(wahai Muhammad).
5. '=ا:~ 4--+- = Yaitu tegaknya kemenangan di atas jalan yang lurus, juga tegaknya
agama ini (yaitu Dinul Islam), penyampaian risalahNYA, dan tegaknya semua syi'ar-syi'ar
Islam tersebut. Imam Az-Zamakhsyari menyatakan bahwa jihad mendatangkan 4 manfaat,
yakni : 1) Turunnya maghfirah, 2) Disempurnakan ni'mat ALLAH SWT, 3) Diberi
hidayah ke jalan yang lurus, 4) Pertolongan ALLAH SWT dan kemenangan.
6. =ا ك:~-- = Yaitu pertolongan dan kemenangan yang tiada kekalahan lagi setelahnya
dan kemuliaan yang tiada kehinaan lagi setelahnya, maka pribadi Nabi SAW disifati
dengan kemenangan besar menunjukkan lil-mubalaghah (berlebihan). Yaitu tersebarnya
Islam dan penaklukan bangsa-bangsa dari Timur sampai ke Barat yang belum pernah
diberikan kepada Nabi AS yang mana pun sebelumnya.
***



al-ikhwan.net
Kesimpulan

Perjanjian Hudhaibiyyah ini menghasilkan banyak manfaat bagi kaum mu'minin, yakni :
1. Pengakuan dari kaum musyrikin atas eksistensi kaum muslimin dalam masalah politik
dan hubungan internasional yang seimbang dan setara, saling menghormati dan
menghargai hak serta kewajiban masing-masing.
2. Pemisahan kaum beriman dari orang-orang munafik, dari keraguan mereka yang terus-
menerus, dan penyelisihan mereka kepada kebijakan qiyadah tertinggi (yaitu Nabi SAW).
3. Perdamaian antara kaum muslimin dengan orang-orang musyrikin, yang di kemudian
hari memberikan maslahat yang amat besar, yaitu lebih dapat mengajak mereka kepada
Al-Islam, menyusun kekuatan kaum muslimin, sehingga pada akhirnya mampu
mengalahkan kekuasaan politik mereka (kaum musyrik).
4. Ujian bagi kaum muslimin terkait ketaatan mereka kepada qiyadah dan ketsiqahan
mereka kepada janji ALLAH SWT dan kebenaran manhaj dakwah Nabi SAW.
5. Keutamaan Nabi SAW, pujian ALLAH SWT kepada beliau, dan tingginya derajat
beliau SAW di sisi ALLAH SWT.
6. Tidak terpisahnya urusan agama dan politik, semuanya adalah urusan ALLAH SWT,
dan wajibnya orang beriman untuk memperhatikan serta mengikuti semuanya, sebagai
tanda kebenaran dan totalitas keimanannya kepada manhaj RasuluLLAH SAW.
7. Urutan tegaknya Daulah Islamiyyah, dimulai dengan pembinaan keimanan, lalu jihad,
lalu siyasah (politik), yang memberikan hasil, yaitu datangnya kemenangan yang hakiki,
yakni ad-diin (keagamaan) dan ad-daulah (politik dan pemerintahan).









al-ikhwan.net
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS HARAKAH ISLAMIYYAH
PADA MASA NABI SAW MENJELANG MIHWAR-DAULAH

1) Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata,
2) supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang
akan datang serta menyempurnakan nikmatNya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan
yang lurus,
3) dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).
4) Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu'min supaya
keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan
kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi
Maha Bijaksana,
5) supaya Dia memasukkan orang-orang mu'min laki-laki dan perempuan ke dalam surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia
menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah keberuntungan yang
besar di sisi Allah,
6) dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-
orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap
Allah. Mereka akan mendapat giliran (kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai
dan mengutuk mereka serta menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka
Jahannam) itulah sejahat-jahat tempat kembali.
7) Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi
Maha Bijaksana. [4].
***
Sabab-Nuzul Surah
Dari Abu Ishaq, dari Al-Barra' RA berkata, "Kalian menganggap Al-Fath (kemenangan
dalam ayat ini, pen) ialah Fathu-Makkah, memang Fathu-Makkah termasuk kemenangan,
namun kami (para sahabat RA, pen) menganggap Al-Fath adalah Bay'atur-Ridhwan, yaitu
Hari Hudhaibiyyah." [5].
Berkata Imam Ibnu Hajar dalam syarah-nya terhadap hadits ini, "Keberangkatan nabi
SAW dari Madinah adalah pada hari Senin awal bulan Dzulqa'dah tahun ke-6 Hijrah,
beliau keluar dengan tujuan umrah tapi dihalangi oleh kaum musyrikin untuk sampai ke
Makkah, maka terjadilah perjanjian damai bahwa mereka akan masuk Makkah di tahun
berikutnya." [6].

al-ikhwan.net
Menambahkan Imam Al-'Ayni Al-Hanafi dalam syarah-nya pula atas hadits ini bahwa
jumlah kaum muslimin yang ikut saat itu antara 1400 sampai 1600 orang, dan ikut serta
pula banyak sahabiyyah, di antaranya seperti Ummu Salamah RA [7]. Sementara Al-
Kasymiry menyebutkan dalam syarah-nya bahwa jumlah mereka ada 1400 orang [8].
Jadi jelaslah bagi kita bahwa makna Al-Fath dalam ayat ini adalah Shulhu-Hudhaibiyyah,
bukan Fathu-Makkah sebagaimana dikira oleh sebagian orang. Lalu adakah ayat atau
hadits yang mengisyaratkan tentang Fathu-Makkah? Ada, yaitu ayat "Idza Ja'a
nashruLLAAHi wal fath" dan hadits Nabi SAW, "La hijrata ba'dal Fath (tidak ada hijrah
setelah Fath Makkah, pen)" [9]. Maka hendaklah kita tidak salah dalam hal ini,
waLLAAHu a'lam.
***
Salah Satu Bentuk Kemenangan yang Dijanjikan Ada yang Berupa Harta Dunia
(Fathu-Khaibar)

Salah satu bentuk nashrun minaLLAAH dalam jihad bagi para mujahid, selain ampunan
ALLAH SWT dan Jannah kelak, adalah juga harta dan perhiasan dunia bagi orang yang
berjihad. Jadi, jangan pula ada pemahaman ekstrem yang melarang menikmati harta dan
perhiasan duniawi bagi mujahid, sepanjang ia halal dan thayyib serta tidak berlebih-
lebihan, maka hal tersebut tidak boleh dicela dan hukumnya tidaklah mengapa,
berdasarkan hadits berikut :
Dari Majma' bin Jariyyah Al-Anshari RA berkata, Kami menyaksikan perjanjian
Hudhaibiyyah bersama Nabi SAW, maka saat kami pergi darinya turun QS. Al-Fath : 1-2,
maka bertanya seseorang, "Ya RasuluLLAH, apakah itu berarti kemenangan?" Beliau
SAW menjawab, "Ya, demi Dzat yang diriku berada di tanganNYA." Lalu Majma'
berkata, "Lalu setelah itu Khaibar dibagikan kepada Ahli Hudhaibiyyah (yang ikut
berjihad), saat itu ada 1500 orang yang di antaranya 300 penunggang Kuda, maka Nabi
SAW membaginya menjadi 18 bagian." [10].
***
Tidak Terpisahnya Antara Urusan Politik dengan Ibadah, dengan Turunnya
Syari'at Shalat-Khauf di Tengah-Tengah Peperangan
Nabi SAW menunaikan shalat Khauf (shalat di tengah-tengah pertempuran) bersama para
shahabatnya di daerah Asfan [11], yaitu ketika beliau SAW mengetahui posisi kaum
musyrikin di bawah pimpinan Khalid bin Walid sudah amat dekat dengan mereka [12].
Dalam kitab Al-Imta', ada tambahan sebagai berikut [13] :
Saat pasukan Khalid sampai ke dekat posisi kaum muslimin, maka ia menempati posisi
antara kaum muslimin dan arah Kiblat. Saat datang waktu shalat Dzuhur, maka seluruh
kaum muslimin melakukan shalat berjama'ah di belakang Nabi SAW. Setelah selesai

al-ikhwan.net
mereka kembali menempati posisinya, maka berkatalah Khalid dalam hatinya, "Sungguh
mereka tadi lalai. Jika kita serang tadi, niscaya mereka akan dapat dikalahkan."
Saat tiba waktu shalat Ashar, karena bagi kaum muslimin shalat lebih mereka cintai dari
nyawa mereka dan anak-anak mereka, maka mereka semua bersiap akan shalat, lalu
datanglah Jibril membawa ayat [14] sehingga mereka melakukan shalat dengan aturan
shalat Khauf. Melihat perubahan cara tersebut, berkatalah Khalid dalam hatinya, "Tahulah
aku bahwa orang-orang ini ada pembelanya, karena siapakah yang memberi tahu orang-
orang ini tentang taktik yang aku baru rencanakan dalam hatiku untuk menyergap mereka
saat mereka lalai?"
***

Sebelum Terjadinya Hudhaibiyah, Nabi SAW Bersabda : Siap Menerima Rencana
Orang-Orang Musyrik Apabila Masih ada Pengagungan ALLAH SWT di
Dalamnya.

Ada sebagian orang yang menganggap strategi mengalah dan berkompromi dengan kaum
musyrikin hanya terjadi saat Nabi SAW di Makkah saja dan telah di-mansukh saat Nabi
SAW telah hijrah dan mulai memiliki sedikit kekuasaan di Madinah. Hal ini tertolak oleh
beberapa dalil, di antaranya sikap kompromistis Nabi SAW dengan kaum musyrikin
Makkah di bawah ini, yang kemudian berakhir dengan terjadinya kompromi Hudhaibiyah
yang juga merupakan fakta koalisi kaum muslimin dengan beberapa Kabilah Musyrikin
[15], seperti Bani Najjar dan sebagainya, sebagai berikut :
Dari Mushawwir bin Makhramah dan Marwan berkata : Nabi SAW keluar saat
Hudhaibiyah hingga sampai di suatu jalan, beliau SAW bersabda, "Khalid bin Walid ada
di Ghanim di barisan terdepan Quraisy, maka ambillah jalan kanan." Maka demi ALLAH,
Khalid tidak menyadari keberadaan mereka sampai mereka dikejutkan oleh debu hitam
beterbangan dari pasukan Nabi SAW yang mengejar mata-mata Quraisy, sehingga sampai
di jalan bukit. Tiba-tiba Unta beliau SAW itu menderum (mogok), maka orang-orang pun
berkata, "Hall..!! Hall..!! (bunyi yang diucapkan orang Arab jika Unta tidak mau berjalan,
pen)," lalu mereka berkata, "Qaswa (nama Unta Nabi SAW, pen) menderum (mogok)!"
Maka Nabi SAW bersabda, "Qaswa tidak menderum dan itu bukan kebiasaannya, tetapi
ada yang menahannya di sini, yaitu Dzat yang menahan Gajah Abrahah dari Rumah itu
(baituLLAAH). DEMI ALLAH! TIDAKLAH MEREKA MEMINTA SEBUAH
RENCANA KEPADAKU YANG MANA MASIH MENGAGUNGKAN HAK ALLAH
PADANYA KECUALI PASTI AKAN AKU BERIKAN KEPADA MEREKA." Lalu
Nabi SAW menyentak Untanya dan Qaswa langsung bangkit. [16].
***
Menggunakan Cara dan Sarana Sesuai dengan Orang/Kelompok yang Dihadapi

Nabi SAW tidak bersikap kaku dalam melakukan lobi-lobi dan teknik berdiplomasi
dengan lawan politiknya, yaitu kaum kuffar Quraisy, melainkan beliau SAW

al-ikhwan.net
menggunakan berbagai sarana dan cara yang sesuai dengan tokoh yang akan dihadapinya
(apakah latar-belakangnya tentara, informal leader, pengusaha, dan sebagainya) dengan
tujuan mengoptimalkan diplomasi politik yang dilakukannya dengan kaum musyrikin
tersebut, dalilnya sebagai berikut [17] :
Saat Nabi SAW di Hudhaibiyah, Quraisy mengirim Urwah bin Mas'ud untuk berdiplomasi
dengan Nabi SAW. Tiap kali ia berbicara dengan Nabi SAW, tangannya berusaha
memegang janggut Nabi SAW, namun tiap kali itu pula Mughirah bin Syu'bah RA
memukul tangan tersebut dengan gagang pedang sambil berkata, "Jauhkan tanganmu dari
wajah RasuluLLAH SAW!" Demikianlah terjadi berkali-kali, maka Urwah pun mulai
memperhatikan semua sahabat Nabi SAW dan berkata, "Demi ALLAH! Tidaklah ia
berdahak kecuali selalu jatuh pada telapak tangan seseorang dari mereka dan mereka
menggosokkannya ke wajah atau kulitnya. Apabila ia memerintah, mereka segera berlari
mengerjakannya. Jika berwudhu, maka seolah-olah mereka hampir berbunuhan mendapat
sisa wudhunya. Jika ia berbicara, mereka semua diam mendengarkan dan mereka tidak
berani lama memandang kepadanya." Maka ia pun pulang dan berkata pada kaumnya,
"Hai kaumku! Demi ALLAH, aku telah menjadi duta bagi para Raja, Kaisar, Kisra, dan
Najasyi. Tapi demi ALLAH, aku belum pernah melihat seorang Raja pun yang dimuliakan
oleh para pengikutnya seperti sahabat Muhammad kepadanya. Dan sungguh, ia telah
menawarkan pada kalian usul yang baik, maka terimalah!" [18].
Seseorang dari Bani Kinanah berangkat untuk menggantikannya berdiplomasi, maka Nabi
SAW bersabda, "Ia adalah si Fulan, dan ia adalah orang yang sangat menghormati Unta
untuk Kurban, maka giringlah unta-unta kita ke hadapannya." Lalu saat ia datang, para
sahabat menyambutnya sambil menggiring unta-unta mereka sambil ber-talbiyyah.
Melihat itu, orang tersebut langsung kembali sambil berkata ke pasukannya,
"SubhanaLLAAH! Tidak sepantasnya mereka dilarang memasuki BaituLLAAH! Aku
melihat unta-unta telah ditandai dan diberi nama (untuk Qurban). Karena itu, menurutku
mereka tidak boleh dilarang masuk Ka'bah! [19].
***

Digantinya Penulisan Basmalah Menurut Al-Qur'an dan Penyebutan Rasulullah
dengan Penulisan Menurut Tradisi Musyrikin
Klimaks dari sikap kompromi Nabi SAW dalam diplomasi dengan kaum musyrikin
tersebut, adalah kesediaan beliau SAW mengorbankan beberapa masalah yang mungkin
oleh sebagian orang dianggap prinsip dan bahkan merupakan masalah 'aqidiyyah, seperti
penggantian kata 'BismiLLAAHir Rahmaanir Rahiim' dengan bismiLLAAH versi mereka,
yaitu 'BismikaLLAAHumma' dan kalimat 'Muhammad RasuluLLAAH' dengan penolakan
mereka terhadap kerasulan Nabi SAW, sehingga menjadi hanya 'Muhammad bin
AbduLLAAH' saja. Namun Nabi SAW tetap menerima perjanjian tersebut, sebagai
berikut [20] :
Ma'mar berkata, Az-Zuhry berkata dalam sebuah hadits, Maka Suhail bin Amr datang lalu
berkata, "Berikan kertas, tulislah antara kami dan kalian sebuah perjanjian." Maka Nabi

al-ikhwan.net
SAW memanggil penulis, lalu bersabda, "Tulislah BismiLLAAHir Rahmanir Rahim."
Suhail menyela, Adapun Ar-Rahman, maka demi ALLAH, aku tidak mengetahuinya!
Maka tulis saja, "BismikaLLAAHumma, sebagaimana kami menulis!" Maka Nabi SAW
bersabda, "Tulislah bismikaLLAAHumma. Ini yang diputuskan oleh Muhammad
RasuluLLAH." Maka Suhail menyela lagi, "Demi ALLAH! Kalau sekiranya kami tahu
engkau adalah RasuluLLAH, maka kami tidak akan menghalangimu ke baituLLAAH dan
tidak memerangimu! Maka tulis saja Muhammad bin AbdiLLAAH." Maka nabi SAW
bersabda, "Demi ALLAH, sesungguhnya aku ini adalah RasuluLLAH sekalipun kalian
mendustakanku. Baiklah, tulislah Muhammad bin AbdiLLAAH." Maka Az-Zuhry
berkata, "Semua itu disebabkan sabda sebelumnya : DEMI ALLAH! TIDAKLAH
MEREKA MEMINTA SEBUAH RENCANA KEPADAKU YANG MANA MASIH
MENGAGUNGKAN HAK ALLAH PADANYA KECUALI PASTI AKAN AKU
BERIKAN KEPADA MEREKA."
***

Dikorbankannya Sebagian Hak Kaum Muslimin Demi Maslahat yang Lebih Besar
Bagi Jama’ah di Kemudian Hari
Bahkan konsekuensi dari kompromi yang dilakukan oleh Nabi SAW dengan musyrikin
Quraisy adalah terhapusnya hak pada sebagian kaum muslimin, demi maslahat yang jauh
lebih besar di kemudian hari, yang mungkin bagi sebagian orang yang berfikir pendek
maslahat tersebut dianggap hanya bersifat spekulatif, tidak pasti, dan mengorbankan hal
yang sudah qath'iy dalam ahkam-syari'ah, sebagai berikut [21] :
Setelah ditulisnya nota-kesepahaman tersebut, bersabda nabi SAW, "Hendaklah kalian
membiarkan kami ke baituLLAAH sehingga kami bisa Thawaf padanya?" Maka Suhail
menjawab, "Demi ALLAH! Janganlah sampai orang-orang Arab mengatakan kami
mendapat tekanan, tetapi datanglah tahun depan saja. Maka ditulislah hal tersebut." Suhail
lalu menambahkan, "Dan hendaklah tidak ada yang datang dari kami kepadamu, sekalipun
ia dalam agamamu melainkan harus engkau kembalikan pada kami!" Maka kaum
muslimin berseru, "SUBHANALLAAH! BAGAIMANA MUNGKIN MEREKA
DIKEMBALIKAN PADA ORANG MUSYRIK PADAHAL MEREKA DATANG
SEBAGAI MUSLIM?!" Pada saat itu, masuklah Abu Jandal (anaknya Suhail) melompat-
lompat dalam keadaan dirantai. Ia telah keluar hijrah dari Makkah, maka ia
menghempaskan dirinya di hadapan kaum muslimin. Lalu Suhail berkata, "Ya
Muhammad! Ini adalah yang pertama aku tuntut darimu supaya dikembalikan pada kami."
Abu Jandal berkata, "Duhai segenap kaum muslimin! Apakah aku akan dikembalikan lagi
kepada kaum musyrik, padahal aku telah datang dalam keadaan muslim?! Tidakkah kalian
perhatikan apa yang aku dapatkan dari penyiksaan mereka. Dan ia telah disiksa dengan
penyiksaan yang berat di jalan ALLAH SWT."
***


al-ikhwan.net
Dampak Shulhu-Hudhaibiyah Terhadap Ke-Tsiqah-an di Kalangan A'dha, Bahkan
di Kalangan Sebagian Qiyadah
Langkah-langkah yang ditempuh oleh qiyadah, yaitu nabi SAW, saat itu dianggap sangat
kontroversial oleh kaum muslimin, bahkan oleh sebagian qiyadahnya yang selevel Umar
bin Khattab RA, sehingga ia tidak bisa menerima sikap qiyadah-'ulya dan bertanya kepada
qiyadah yang lain, yaitu Ash-Shiddiq RA, dan Ash-Shiddiq-lah yang menegur Umar RA
agar tetap memegang teguh ra'yul qiyadah 'ulya, yaitu Nabi SAW, sebagai berikut :
Sahl bin Hanif berkata, "Tuduhlah diri-diri kalian, sungguh aku telah melihat kami pada
perjanjian Hudhaibiyah (perjanjian antara Nabi SAW dengan Kaum Musyrikin), sekiranya
kami melihat akan ada pertempuran pasti kami akan berperang." Maka Umar RA datang
dan berkata, "Bukankah kita berada dalam kebenaran dan mereka dalam kebathilan?"
Jawab Nabi SAW, "Benar." Tanya Umar RA, "Bukankah korban-korban dari kita masuk
ke Jannah dan korban-korban dari mereka masuk ke Naar?" Jawab beliau SAW, "Benar."
Lalu kata Umar RA, "Lalu mengapa kita memberikan kehinaan pada agama kita (dengan
berdamai dengan mereka), sehingga kita pulang padahal ALLAH belum memberikan
keputusan?" Jawab Nabi SAW, "Wahai Ibnul Khattab, sesungguhnya aku adalah
RasuluLLAH dan DIA tidak akan pernah menyia-nyiakan aku selamanya." Lalu Umar RA
pun kembali dalam keadaan kesal dan ia tidak bisa bersabar, sehingga ia pergi menemui
Abubakar RA seraya berkata, "Wahai Abubakar, bukankah kita berada dalam kebenaran
dan mereka dalam kebathilan?" Jawab Abubakar RA, "Wahai Ibnul Khattab,
sesungguhnya beliau adalah utusan ALLAH dan ALLAAH tidak akan menyia-nyiakan
beliau selamanya." Lalu turunlah surat ini. [22].
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dengan tambahan, "Lalu turunlah Ayat Al-
Qur'an (Al-Fath) kepada Nabi SAW, lalu beliau SAW mengutus orang kepada Umar RA
dan membacakan kepadanya. Lalu Umar RA berkata, "Wahai RasuluLLAH, apakah itu
berarti kemenangan?" Jawab beliau SAW, "Ya." Maka Umar RA menjadi tenang. [23].
Peristiwa perdamaian dengan kaum musyrikin dan mengalahnya kaum mu'minin dalam
banyak point-point perjanjian ini, apalagi juga dengan gagalnya umrah mereka ini
demikian mengguncangkan, sehingga sampai saat Nabi SAW memerintahkan untuk
melakukan tahallul (mencukur rambut ba'da Thawaf dan Sa'i) sampai 3 kali, mereka diam
dan tidak segera melaksanakannya, sehingga Nabi SAW meminta pendapat istrinya,
Ummu Salamah, yang menasihati beliau SAW agar memulai menyembelih dan bercukur,
sehingga mereka semua mengikuti beliau SAW [24].
***
Munculnya Kelompok yang Berbeda Ijtihad
Hal lainnya yang merupakan pelajaran dari peristiwa Hudhaibiyah adalah munculnya
kelompok kaum muslimin yang tidak siap dengan kebijakan operasional mainstream
harakah Islamiyyah. Kemudian mereka membentuk kelompok sendiri (sempalan), namun

al-ikhwan.net
mereka masih loyal dengan qiyadah-'ulya, yaitu Nabi SAW. Perbedaan yang terjadi hanya
karena tekanan kondisi yang mereka alami belaka, sebagai berikut [25] :

Maka ia (perawi) berkata, Abu Jandal bin Suhail kemudian lepas dari para penawannya,
lalu ia bertemu dengan Abu Bashir (tokoh muslim lainnya yang ditawan oleh Quraisy dan
juga meloloskan diri, pen), maka tidaklah orang Quraisy yang masuk Islam dan melarikan
diri kecuali menemui Abu Bashir hingga terbentuklah sebuah kelompok besar (sekitar 70
orang [26]). Maka demi ALLAH, tidaklah mereka mendengar adanya kafilah Quraisy
yang ke luar ke Syam kecuali mereka hadang dan dibunuhnya lalu diambil hartanya. Maka
orang-orang Quraisy menyurati Nabi SAW dan bersumpah dengan nama ALLAH dan
menyambung silaturrahim yang isinya agar orang-orang Quraisy yang datang kepadanya
dijamin keamanannya serta memasukkan Abu Bashir dan teman-temannya kembali ke
Madinah [27].
***

Salah Satu Poin Perjanjian Hudhaibiyah adalah Ditandatanganinya Pakta
Perdamaian dengan Kelompok Musyrikin Penentang, serta Dicapainya Pakta-
Koalisi dengan Musyrikin yang Netral
Salah satu hasil yang fenomenal dari peristiwa Hudhaibiyah adalah terjadinya pakta
kesefahaman (MOU) antara harakah Islamiyyah di masa tersebut dengan dua kelompok
non-muslim yang berbeda secara diametral. Yang pertama adalah pakta perdamaian antara
harakah Islamiyyah dengan kelompok penentang, yaitu kafir Quraisy. Dan yang kedua
adalah dengan pakta koalisi dengan kelompok musyrikin yang netral, di antaranya dengan
Bani Khuza'ah, sebagai berikut :
Di antara nota kesepahaman tersebut adalah menghentikan peperangan selama 10 tahun,
selama masa itu tidak boleh ada peperangan. Lalu siapa pun orang Quraisy yang
menyeberang kepada Nabi SAW tanpa seizin walinya, harus dikembalikan pada Quraisy.
Sebaliknya, jika ada pihak muslimin yang menyeberang ke Quraisy, maka tidak akan
dikembalikan. Kedua pihak tidak boleh menyembunyikan niat jahat [28], tidak boleh
melakukan pencurian, dan tidak boleh berkhianat [29]. Siapa pun yang mau berkoalisi
pada pihak Muhammad SAW dipersilakan, dan siapa pun yang mau berkoalisi dengan
pihak Quraisy juga dipersilakan. Maka Bani Khuza'ah berkoalisi dengan Nabi SAW,
sementara Bani Bakr berkoalisi dengan Quraisy [30]. Tahun itu Nabi SAW tidak boleh
umrah dan memasuki Makkah, melainkan baru dibolehkan pada tahun depannya, tapi
tidak boleh membawa senjata dan tidak boleh lebih dari 3 hari saja [31].
***

Globalisasi Islam ke Seluruh Penjuru Dunia
Hal lainnya yang merupakan perkembangan harakah Islamiyyah adalah dimulainya
komunikasi Harakah Islamiyyah dengan berbagai negara di dunia, yang dicirikan dengan
dikirimnya para delegasi harakah ke berbagai negara untuk melakukan diplomasi dan

al-ikhwan.net
penyampaian misi Islam. Dan hendaklah diingat bahwa ini semua dilakukan oleh harakah
Islam saat sebelum terjadinya Fathu Makkah, yaitu sebagai berikut [32] :
Pengiriman delegasi, yaitu Amr bin Umayyah Adh-Dhamri RA, ke Najasyi, Raja
Habasyah, pada akhir tahun ke-6 Hijrah atau dalam riwayat lain di bulan Muharram tahun
ke-7 Hijrah. Pengiriman Hathib bin Abi Baltha'ah RA ke Juraij bin Matta yang bergelar
Muqauqis, Raja Iskandaria Mesir. Pengiriman AbduLLAAH bin Hudzafah As-Sahmi RA
ke Kisra', Raja Persia, pada tahun ke-6 atau ke-7 Hijrah. Pengiriman Dhihyah bin
Khulaifah Al-Kalby RA ke Kaisar (Hiraclius), Raja Byzantium Romawi Timur.
Pengiriman Al-A'la bin Hadhrami RA ke Mundzir bin Sawa', Raja Bahrain. Pengiriman
Salith bin Amr Al-Amiri RA ke Haudzah bin Ali, Raja Yamamah. Pengiriman Syuja' bin
Wahb Al-Khuzaimah RA ke Al-Harits bin Abi Syammar Al-Ghassani, Raja Damsyik.
Dan pengiriman Amr bin 'Ash ke Jaifar dan Abd Al-Jalandi, penguasa Omman.
***
Terjadinya Kemenangan Besar Harakah Islamiyyah yaitu Fathu-Makkah
Hal terakhir setelah pakta perdamaian dan koalisi tersebut adalah memberikan kesempatan
kepada harakah Islamiyyah untuk menyebarkan dakwah, melakukan konsolidasi internal,
menarik simpati publik, menyibakkan citra tidak baik yang disematkan oleh para musuh,
membangun harmoni dengan berbagai lapisan masyarakat, membuka diplomasi dengan
berbagai negara, sehingga pada akhirnya mampu eksis mengalahkan penindasan, korupsi,
kesewenang-kesewenangan, kediktatoran, kemiskinan, kebejatan moral, untuk memimpin
dunia di dalam kedamaian dan kasih sayang Islam.
Bahkan kepada para musuh pun, sang pemimpin tertinggi harakah, yaitu Nabi SAW,
bersabda, "Kami akan bersabar dan kami tidak akan menghukum kalian." [33]. Atau juga
sebagaimana sabdanya, "Makkah adalah tanah haram, tidak boleh lagi terjadi peperangan
setelah itu." [34]. Atau juga sabdanya, "Setelah penaklukan Makkah, tidak boleh lagi ada
seorang Quraisy yang dibunuh sampai Hari Kiamat." [35].
Dan perlu dicamkan bahwa peristiwa Fathu Makkah yang luar biasa besar ini terjadi
karena Nabi SAW membela mitra koalisinya, yaitu Bani Khuza'ah (yang musyrik) yang
telah dizhalimi oleh Bani Bakr (salah satu mitra koalisi kafir Quraisy) [36]. Kejadian
selengkapnya saat detik-detik bersejarah penaklukan Makkah tersebut adalah sebagai
berikut :
Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, "Sesungguhnya Nabi SAW keluar pada
bulan Ramadhan dari Madinah bersama 10.000 pasukannya, kejadian tersebut terjadi 8,5
tahun dari kedatangannya ke Madinah." [37]. Dalam hadits lainnya disebutkan, "Saat
pasukan kaum muslimin bergerak, maka Nabi SAW memerintahkan Al-Abbas RA agar
mengajak Abu Sufyan melihat di tempat lewatnya para pasukan (untuk melihat betapa
besar kekuatan harakah Islamiyyah saat itu, pen). Tiba-tiba lewatlah suatu kelompok
besar, maka tanya Abu Sufyan, "Wahai Abbas, siapakah mereka ini?" Jawab Abbas, "Ini

al-ikhwan.net
adalah kabilah Bani Ghiffar." Maka jawab Abu Sufyan, "Apa masalahku dengan Bani
Ghiffar?" Lalu lewatlah pasukan besar yang lain, ia bertanya lagi, "Wahai Abbas, siapakah
mereka ini?" Jawab Abbas, "Ini adalah kabilah Juhainah." Demikianlah lewat pula Bani
Sa'd bin Hudzaim, sampai lewatlah suatu pasukan yang demikian menakjubkannya. Kata
Abu Sufyan, "Lalu siapakah mereka ini?" Jawab Abbas, "Ini adalah kaum Anshar yang
dipimpin oleh Sa'd bin Ubadah, lihatlah benderanya." Lalu lewatlah suatu kelompok yang
paling mengesankan, namun paling sedikit jumlahnya. Di antara mereka nampak
RasuluLLAH SAW bersama para shahabatnya, bendera Nabi SAW dipegang oleh Az-
Zubair bin Awwam RA." [38].
Berkata Abubakar Ash-Shiddiq RA, "Tidak ada satupun kemenangan dalam Islam yang
lebih besar dari kemenangan Hudhaibiyah. Akan tetapi manusia waktu itu berfikir singkat
hingga tidak mengetahui rencana Muhammad SAW dengan RABB-nya. Orang terlalu
tergesa-gesa, sedangkan ALLAH SWT tidak pernah tergesa-gesa, hingga segala sesuatu
mencapai targetnya." [39].
Komentar Imam Az-Zuhri, "Tidak pernah ada kemenangan dalam Islam melebihi
kemenangan dalam pakta Hudhaibiyah, karena peperangan hanya akan menyebabkan
pergesekan antara manusia. Akan tetapi setelah terjadinya pakta kesefahaman, maka
perang pun mereda dan manusia merasa aman terhadap sesamanya. Lalu mereka bisa
berunding dan bertemu, maka tidak seorang pun yang mengerti suatu pembicaraan. Lalu ia
diajak berdiskusi tentang Islam kecuali ia pun masuk ke dalamnya. Sesungguhnya hanya
dalam 2 tahun itu, sejumlah besar orang telah masuk Islam sebanyak jumlah seluruh orang
Islam sebelumnya, atau bahkan lebih banyak lagi." [40].
Bi-IdzniLLAAH, faliLLAAHil hamdu wal minah



















al-ikhwan.net
CATATAN KAKI

[1] Bahkan diriwayatkan oleh Syaikhan, Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Anas RA :
Turun pada Nabi SAW ayat ini, maka beliau SAW bersabda, "Sungguh turun suatu ayat
untukku yang lebih kucintai dari dunia dan seisinya. Maka mereka berkata : Sungguh telah
turun ayat yang menjelaskan tentang ni'mat ALLAH SWT padamu, maka bagaimana
kami, ya RasuluLLAH? Maka turunlah ayat ت'--:--او ó---:--ا J= ---
[2] Berkata Ibnu Abbas RA, "Saat turun ayat --- Vو ¸- J·-- '- يردأ '-و , maka berkata
orang-orang Yahudi : Bagaimana kita akan mengikuti laki-laki yang ia sendiri tidak
mengetahui apa yang akan dilakukan ALLAH pada dirinya?! Maka ALLAH SWT
menurunkan ayat ini.
[3] Ada hadits shahih riwayat Muslim dan Ahmad dari Aisyah RA : Adalah Nabi SAW
jika shalat berdiri sampai pecah-pecah kakinya, maka berkatalah Aisyah RA, "Wahai
RasuluLLAH! Masihkan anda berbuat begini padahal ALLAH SWT sudah mengampuni
semua dosa anda yang terdahulu maupun akan datang?!" Jawab beliau SAW, "Wahai
Aisyah, tidakkah pantas aku menjadi hamba yang pandai bersyukur?!"
[4] QS. Al-Fath, 48/1-7.
[5] HR. Bukhari, kitab Al-Maghazi, Bab Ghazwah Al-Hudhaibiyyah, XIV/38.
[6] Fathul-Bari, XI/474.
[7] 'Umdatul-Qari, XXV/500.
[8] Faydhul-Bari, VI/168.
[9] Riwayat Sai'd bin Manshur dari Asy-Sya'biy, di-shahih-kan oleh Imam Ibnu Hajar
dalam Al-Fath, XI/478.
[10] Ibnu Jarir, XXVI/71; Al-Hakim, II/459, ia berkata : Shahih sesuai syarat Muslim.
Adz-Dzahaby mengomentarinya : Muslim tidak meriwayatkan bagi Majma' dan tidak pula
bagi bapaknya, namun keduanya adalah tsiqah.
[11] HR. Abu Daud, Kitabu Shalah, halaman 215, haditsnya shahih (lihat Al-Mustadrak,
III/338; Sunan Al-Kubra, III/257; Tafsir Ibnu Katsir, I/548; Al-Ishabah, VII/294). Ibnu
Hajar menyebut secara pasti bahwa hal ini terjadi di Hudhaibiyyah (Al-Fath, VII/423).
[12] Ini berdasarkan pendapat yang menyatakan perang Dzatu Riqa' setelah perang
Khaibar dan inilah yang lebih shahih. WaLLAAHu a'lam.

al-ikhwan.net
[13] Imta'ul-Asma', Al-Muqrizi, I/380.
[14] QS. An-Nisa’, IV/102
[15] Untuk kajian lebih mendalam mengenai dalil-dalil hal ini, silakan baca tulisan saya
yang lain di website (al-ikhwan.net) ini.
[16] HR. Bukhari, VI/275; Lihat syarah-nya dalam Al-Fath, V/329 hadits no. 2731.
[17] Ibid.
[18] Al-Fath, hadits no. 2731 dan 2732; Musnad Ahmad, IV/324.
[19] Ibid.
[20] Ibid.
[21] Riwayat ini disebutkan secara musnid-muttashil dalam Shahih Bukhari, Kitab Al-
Maghazi, Bab Ghazwah Hudhaibiyah, XIV/72; sementara sisanya dalam Al-Fath,
VIII/283.
[22] HR. Bukhari, di beberapa tempat dalam shahih-nya: X/77, XI/315 dan XVI/142 .
[23] HR. Muslim, II/141; Ahmad, III/486; Ibnu Jarir, XXVI/70 .
[24] HR. Bukhari, VI/275.
[25] HR. Ahmad, IV/331; Ibnu Jarir, XXVI/101; AbduRRAZZAQ, V/342.
[26] Al-Muqrizi, Imta'ul Asma', I/304.
[27] Ibid.
[28] Ibnul Atsir, An-Nihayah fi Gharibil Hadits, III/327.
[29] Ibid, II/392 dan III/380.
[30] Sirah Ibnu Hisyam, II/394; Al-Maghazi Al-Waqidi, II/789; Tarikh At-Thabari, IV/45;
Al-Amwal Az-Zanjawaih, I/401.
[31] HR. Ahmad, IV/325 dari riwayat Ibnu Ishaq dengan sanad hasan. Lihat Sirah Ibnu
Hisyam, III/308, ia menyatakan mendengar sendiri riwayat ini.
[32] Al-Muqrizi, Imta'ul Asma', I/304; Tarikh At-Thabari, II/288; Sirah Ibnu Hisyam,
IV/279; Thabaqat Ibnu Sa'd, I/258; Siyar A'lami Nubala' Adz-Dzahabi, X/400.

al-ikhwan.net
[33] HR. Ahmad, V/135; Tirmidzi, IV/361-362.
[34] HR. Tirmidzi, III/83, ia berkata : Hasan Shahih; Ahmad, III/412 dengan sanad yang
hasan.
[35] HR. Muslim, II/98; Ahmad, III/412 dengan sanad shahih.
[36] Al-Bidayah wan Nihayah Ibnu Katsir, Mu'jam Ash-Shaghir At-Thabrani, II/73;
Musnad Abu Ya'la, IV/400.
[37] HR. Bukhari, Kitab Al-Maghazi, Fathu Makkah fi Ramadhan, hadits no. 4276.
[38] Ibid, no. 4280.
[39] Al-Muqrizi, Imta'ul Asma', I/296.
[40] Ibnu Hisyam, Sirah An-Nabawiyyah, II/322.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->