Anda di halaman 1dari 9

BAB II

IDE DAN PELUANG KEWIRAUSAHAAN

Pendahuluan
Salah satu faktor penting untuk menjadi seorang wirausaha yang sukses
adalah harus mengembangkan ide-ide kreatif serta cermat melihat peluang yang
ada. Sehingga, kedua hal tersebut menjadi sangat penting dalam menjadi
entrepreneur yang handal.
Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa sebagai calon wirausaha
diharapkan dapat mengembangkan ide-ide mereka dalam berwirausaha dan
mampu memanfaatkan peluang yang ada.
2.1 Ide dan Peluang Kewirausahaan
Menurut Zimmerer kreativitas sering muncul dalam bentuk ide-ide untuk
menghasilkan barang dan jasa-jasa baru. Ide itu sendiri bukan peluang dan tidak
akan muncul jika wirausaha tidak mengadakan evaluasi dan pengamatan secara
terus menerus. Bagaimana ide bisa menjadi peluang ? Ada beberapa cara antara
lain :
a.

Ide dapat dilakukan melalui perubahan cara-cara memuaskan pelanggan

b.

Ide dapat dihasilkan dalam bentuk produk/jasa baru

c.

Ide dapat dihasilkan dalam modifikasi cara melakukan pekerjaaan


Banyak wirausaha sukses bukan atas ide sendiri, tetapi dari hasil
mengamati ide orang lain, lalu dijadikan suatu peluang. Peluang dalam memasuki
dunia usaha dapat diperoleh dari berbagai sumber. Tentunya, alternatif yang
dipilih tergantung dari situasi dan kondisi.
Menurut Rhenald Kasali, dkk (2002) untuk mendapatkan ide usaha yang
potensial dan cocok dengan jiwa Anda, maka enterpreneur harus memulainya
dengan menjawab pertanyaan berikut:
1) Apa yang paling anda senangi?

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

2) Apakah kegemaran atau hobby Anda?


3) Produk atau proses apa yang paling Anda ketahui?
4) Adakah yang Anda akan lakukan ketika sedang menganggur?
5) Apakah

tujuan

terpenting

Anda

dalam

bisnis

sendiri?

Apakah

mendapatkan keuntungan, kebebasan, atau yang lainnya?


Ide dapat menjadi peluang apabila wirausaha bersedia melakukan evaluasi
terhadap peluang secara terus-menerus melalui proses penciptaan sesuatu yang baru
dan berbeda, mengamati peluang, menganalisis proses secara mendalam, dan
memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi. Untuk memperoleh peluang,
wirausaha harus memiliki berbagai kemampuan dan pengetahuan, seperti
kemampuan menghasilkan produk atau jasa, menghasilkan nilai tambah, merintis
usaha, melakukan proses atau teknik, atau mengembangkan organisasi baru.
Seorang wirausaha tidak akan berhasil apabila tidak memiliki pengetahuan,
kemampuan, dan kemauan. Ada kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan dan
pengetahuan tidak akan membuat seseorang menjadi wirausaha yang sukses.
Sebaliknya, memiliki pengetahuan dan kemampuan tetapi tidak disertai kemauan
tidak akan membuat wirausaha mencapai kesuksesan. Beberapa pengetahuan yang
harus dimiliki wirausaha adalah:
1) Pengetahuan mengenai usaha yang akan dimasuki/dirintis dan
lingkungan usaha yang ada,
2) Pengetahuan tentang peran dan tanggung jawab,
3) Pengetahuan tentang manajemen dan organisasi bisnis.
Sedangkan keterampilan yang harus dimiliki wirausaha di antaranya:
1) Keterampilan
2)
3)
4)
5)

konseptual

dalam

mengatur

strategi

dan

wirausaha

dapat

memperhitungkan risiko,
Keterampilan kreatif dalam menciptakan nilai tambah,
Keterampilan dalam memimpin dan mengelola,
Keterampilan berkomunikasi dan berinteraksi, dan
Keterampilan teknik usaha yang akan dilakukan.
Menurut

Zimmerer, ide-ide

yang

berasal

dari

menciptakan peluang untuk memenuhi kebutuhan riil pasar. Ide-ide itu

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

menciptakan nilai potensial di pasar sekaligus menjadi peluang usaha. Dalam


mengevaluasi ide untuk mencipatakan nilai-nilai potensial, wirausaha perlu
mengidentifikasi dan mengevaluasi semua resiko yang mungkin terjadi dengan
cara :
1) Pengurangan kemungkinan resiko melalui strategi yang proaktif.
2) Penyebaran resiko pada aspek yang paling mungkin.
3) Pengelolaan resiko yang mendatangkan nilai atau manfaat.
Ada tiga resiko yang dapat dievaluasi, yaitu resiko pasar atau resiko
persaingan, Resiko financial, dan Resiko teknik.
2.2 Sumber-sumber Peluang Potensial
Untuk menuangkan ide potensial menjadi produk dan jasa riil, maka perlu
melakukan proses penjaringan ide atau disebut proses screeming. Adapun langkah
dalam penjaringan ide dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Menciptakan produk baru yang berbeda.
Ketika ide dimunculkan secara nyata, misalnya dalam bentuk barang dan jasa
baru, maka produk dan jasa tersebut harus berbeda dengan produk dan jasa
yang ada di pasar. Produk atau jasa tersebut harus memberikan nilai tambah
bagi konsumen. Agar barang itu memberikan nilai guna bagi konsumen, maka
wirausaha perlu memahami perilaku konsumen. Wirausaha perlu melihat apa
yang menjadi produknya dengan produk yang sama yang dibuat pesaing.
Misalnya, apakah produk itu lebih efisien dibandingkan dengan produk yang
sudah ada? Atau apakah produk itu lebih berkualitas dibangdingkan produk
lain? Pertanyaan-pertanyaan itu perlu dijawab untuk menciptakan suatu
peluang.
b. Mengamati pintu peluang.
Wirausaha harus mengamati potensi-potensi yang dimilki pesaing, misalnya
kemungkinan

pesaing

mengembangkan

produk

baru,

pengalaman

keberhasilan dalam mengembang produk baru, dukungan keuangan dan


keunggulan-keunggulan yang dimiliki pesaing di pasar. Kemampuan pesaing

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

untuk mempertahankan posisi pasar dapat dievaluasi dengan mengamati


kekuatan dan kelemahan pesaing.
Menurut Zimmerer (1996) ada beberapa keadaan yang dapat menjadi peluang,
yaitu:
1) Produk baru harus segera di pasarkan dalam jangka relatif singkat
2) Penggunaan teknik produksi harus dipertimbangkan dengan baik,
sehingga memberikan efisiensi.
3) Pesaing tidak

begitu

agresif dalam mengembangkan strategi

produknya.
4) Pesaing tidak memiliki teknologi canggih.
5) Perusahaan baru memiliki kemampuan dan sumber-sumber dalam
mengembangkan produknya.
c. Menganalisis produk & proses secara mendalam.
Analisis ini sangat penting untuk mengetahui apakah jumlah dan kualitas yang
dihasilkan memadai atau tidak. Berapa biaya yang dikeluarkan untuk
membuat produk tersebut? Apakah biaya yang dikeluarkan lebih efisien dari
pesaing?
d. Menaksir biaya awal.
Yaitu biaya awal yang dikeluarkan oleh usaha baru.Darimana sumbernya dan
untuk apa digunakan? Berapa biaya yang dikeluarkan untuk operasi, untuk
perluasan dan untuk biaya lainnya.
e. Memperhitungkan resiko.
Misalnya resiko teknik, resiko financial dan resiko pesaing.Resiko teknik
berhubungan dengan proses pengembangan produk yang cocok dengan yang
diharapkan atau menyangkut obyek penentu apakah ide secara aktual dapat
ditransformasikan menjadi produk yang siap dipasarkan dan karakteristiknya.
Resiko financial adalah resiko yang timbul akibat ketidakcukupan dana baik
dalam pengembangan produk baru maupun dalam menciptakan dan
mempertahankan perusahaan untuk mendukung biaya produk baru. Sedangkan

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

resiko

pesaing

adalah

kemampuan

dan

kesediaan

pesaing

untuk

mempertahankan posisinya di pasar.


2.3 Analsis SWOT dalam melihat peluang
Banyak pengusaha yang mengawali usahanya dalam situasi yang serba sulit,
menghadapi kondisi yang tidak pasti atau bahkan sering menemukan jalan buntu,
dan akhirnya frustrasi atau hanya menunggu saja dan tidak melakukan apa pun
Meskipun memiliki uang yang cukup banyak sebagai modal awal usaha atau
modal kerja belum tentu bisa memberikan jaminan akan suksesnya suatu usaha.
Terlebih jika moda yang dimiliki pas-pasan, bahkan mungkin tidak punya modal
sama sekali. Hal ini tenti akan membuat kondisi semakin sulit. Dalam kondisi
seperti itu, apa yang harus kita lakukan? Berusaha mewujudkan impian menjadi
orang sukses tanpa persiapan yang matang, hasilnya menjadi tidak jelas.
Kerugian besar yang dapat menghabiskan modal yang dimiliki, sebenarnya
dapat dihindari atau paling tidak dapat ditekan sekecil mungkin jika kita bisa
memilih usaha yang benar-benar tepat, sesuai dengan kondisi dan kemampuan
kita, yaitu usaha yang kita sukai atau kita mempunyai kompetensi dalam bidang
usaha tersebut.
Salah satu alat untuk mengukur semua hal yang mungkin dan tidak mungkin
dilakukan oleh usahawan sebagai penilaian awal dan pemberian informasi
penting, yaitu menggunakan analisis terhadap kelemahan, kekuatan, peluang, dan
ancaman (strength, weaknesses, opportunities, and threats) atau yang lebih
dikenal dengan sebutan analisis SWOT. Berikut adalah cara sederhana yang dapat
dilakukan dalam menerapkan analisis SWOT:
a. Kekuatan (Strength)
Melihat kekuatan yang dimiliki seperti lokasi, sumber-sumber bahan baku yang
mudah didapat, mudah dijangkau oleh konsumen atau pelanggan, dan kekuatan
lainnya yang dapat dimanfaatkan. Contoh: lokasi di dekat kampus atau mal
dapat dikembangkan menjadi kos-kosan, warnet, rental komputer, dan masih
banyak lagi.

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

b. Kelemahan (weaknesses)
Melihat kelemahan yang dimiliki agar kita tidak memaksakan diri melakukan
usaha yang sebenarnya tidak dapat dilakukan karena kita memiliki kekurangan
tertentu. Contoh: sebaiknya jangan membuka usaha rental komputer, tetapi
tidak mengetahui sama sekali keterampilan dalam mengoperasikan komputer.
c. Peluang (opportunities)
Melihat peluang yang dapat dimanfaatkan dan memberikan keuntungan.
Contoh: membuka usaha fotokopi di lingkungan dekat kampus, membuka
usaha kantin di lingkungan perkantoran, dan lain-lain.
d. Ancaman (threats)
Melihat ancaman terhadap usaha-usaha yang berisiko tinggi, memiliki siklus
hidup yang pendek, dan tidak terukur. Terlebih lagi jika pesaing-pesaing kita
memiliki kemampuan yang lebih baik dari kita. Contoh: investasi saham, di
mana kita tidak memiliki cukup ilmu tentangnya atau bermain di pasar yang
pelakunya sudah sangat banyak.
2.4. Bekal Pengetahuan dan Kompetensi Kewirausahaan
Menjadi seorang wirausaha sukses tentu saja harus memiliki kompetensi
dalam menghadapi risiko dan tantangan. Pada umumnya mereka memiliki
kompetensi, yang diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
individu yang langsung berpengaruh pada hasil, karena wirausaha adalah orang
yang selalu berorientasi pada hasil. Pengetahuan dan keterampilan tidaklah cukup,
wirausaha harus memiliki sikap, motivasi, dan komitmen terhadap pekerjaan yang
sedang dihadapinyaHasil suvey Lambing (2000) menunjukkan bahwa kebanyakan
responden menjadi wirausaha karena didasari pengalaman yang membuatnya
memiliki jiwa dan watak kewirausahaan.

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

Dari hasil survey tersebut diperoleh kesimpulan bahwa jiwa dan watak
kewirausahaan dipengaruhi oleh keterampilan, kemampuan atau kompetensi.
Kompetensi itu sendiri dipengaruhi pengetahuan dan pengalaman.
Menurut Casson (1982), yang dikutip Suryana ada beberapa kemampuan
yang harus dimiliki, yaitu :
1. Self knowledge, memiliki pengetahuan tetang usaha yang akan dilakukannya
atau ditekuninya.
2. Imagination, yaitu memiliki imajinasi, ide, dan persfektif serta tidak
mengandalkan keberhasilannya dimasa lalu.
3. Practical

knowledge,

yaitu

memiliki

pengetahuan

praktis

misalnya

pengetahuan teknik, desain, pemrosesan, pembukuan, administrasi dan


pemasaran.
4. Search skill, yaitu kemampuan untuk menemukan, berkreasi dan berimajinasi.
5. Foresight, yaitu berpandangan jauh ke depan.
6. Computation skill, yaitu kemampuan berhitung dan kemampuan memprediksi
keadaan masa yang akan datang.
7. Communication skill, yaitu kemampuan untuk berkomunikasi, bergaul dan
berhubungan dengan orang lain.
Menurut Dan & Bradstreet Business Credit Service (1993) yang dikutip
Suryana, ada 10 kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang wirausaha, yaitu :
1. Knowing your business, yaitu mengetahui usaha apa yang akan dilakukan.
Misalnya, seseorang yang akan membuka bisnis perhotelan, maka ia harus
memiliki pengetahuan perhotelan.
2. Knowing the basic business management, yaitu mengetahui pengetahuan
dasar-dasar

manajemen

untuk

mengelolah

bisnis.

Misalnya,

cara

merencanakan usaha, mengorganisasikan, memimpin, dan mengendalikan


perusahaan. Dengan pengetahuan manajemen yang baik, maka akan tercapai
tujuan perusahaan secara efisien dan efektif.

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

3. Having the prover attitude, artinya seorang entrepreneur harus sungguhsungguh menjalankan bisnisnya, tidak setengah hati. Jadi, ia harus bersikap
sebagai pedagang, industriawan, pengusaha, eksekutif.
4. Having adequate capital, artinya entrepreneur harus mempunya modal yang
cukup, tidak hanya berupa uang atau dana, tetapi juga non-materi atau sikap
mental. Kepercayaan, kejujuran, dan ketugahan hati merupakan bagian dari
sikap mental yang juga berpengaruh pada keberhasilan suatu bisnis.
5. Managing

finance

effectively,

artinya

entrepreneur

harus

memiliki

kemampuan mengelolah keuangan secara efisien dan efektif, mencari sumber


dana yang efisien dan menggunakannya secara tepat.
6. Managing time efficiently, entrepreneur harus mampu mengatur waktu
seefisien mungkin, sehingga setiap kegiatan yang dilakukan selalu terjadwal.
7. Managing people, entrepreneur harus mampu merencanakan berapa jumlah
kebutuhan karyawan, mengarahkan pada bidang pekerjaan yang telah
ditentukan, memotivasi karyawan untuk meningkatkan semangat kerjanya,
serta mengendalikan/mengevaluasi karyawan dalam pencapaian tujuan
perusahaan.
8. Satisfying customer by providing high quality product, artinya entrepreneur
harus memberikan kvv, entrepreneur harus dapat bersaing dengan perusahaan
lain dengan menggunakan strategi tertentu. Diantaranya dengan menggunakan
analisis SWOT, yang meliputi Strength (kekuatan), Weakness (kelemahan),
Opportunity (peluang), dan Threat (ancaman).
9. Copying with regulation and paperwork, artinya entrepreneur harus membuat
aturan atau pedoman kerja yang jelas untuk meningkatkan kedisiplinan
karyawan.
2.3 Penutup
Kesimpulan
Ide dan peluang merupakan dua unsur penting dalam kewirausahaan. Agar
ide dapat menjadi peluang, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan,
yaitu Menciptakan produk baru yang berbeda, mengamati pintu peluang,

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

menganalisis produk & proses secara mendalam, menaksir biaya awal dan
memperhitungkan resiko.
Soal-Soal

Bab 2. Ide dan Peluang Kewirausahaan

Anda mungkin juga menyukai